Written by

BAHASA itu cair, dan seringkali teramat cair sampai-sampai sukar untuk “digenggam” dalam pikiran, atau kadang ya, mbingungin aja, enggak mudah dipahami.

Seperti contoh di judul saja, dengan menambahkan akhiran -kan, sebuah konsep berubah. Sesuatu yg barangkali tengah kita gulati dalam hidup saat ini.

Menyerah dan menyerahkan bisa sama-sama diterima sebagai sesuatu yang bernada negatif. Ada pelepasan, keterpisahan, maupun kehilangan dalam keduanya. Tetapi menyerah berujung pada kekalahan, atau perasaan kalah. Sementara menyalahkan, belum tentu.

Menyerah

Sederhananya, ketika kita menginginkan sesuatu, kita berusaha, memperjuangkan, dan mengupayakan sekuat tenaga untuk bisa meraihnya, serta untuk mempertahankannya.

Upaya untuk bisa mendapatkan tentu tidak mudah, tetapi jauh lebih sulit untuk mempertahankan yang telah diperoleh.

Ada dorongan, tarikan, lemparan, dan lompatan untuk mendapatkan hal tersebut. Selanjutnya, kita akan tetap melakukan tindakan-tindakan tersebut, plus bertahan, diam tegar berusaha tidak goyah untuk mempertahankannya.

Menyerah berarti kita berhenti mendorong, menarik, melempar, dan melompat. Termasuk juga berhenti diam dari bertahan. Kita kehilangan, atau menjadi lepas dari yang sebelumnya diperjuangkan.

Tidak secara sukarela.

Tanpa keikhalasan, seringkali.

Menyerahkan

Berbeda dengan menyerah, ada keikhlasan yang mewarnai tindakan kita saat melepas atau terpisah dari sesuatu.

Kemampuan menyerahkan berarti kemampuan untuk berhenti di titik yang kita sepakati bersama diri sendiri.

“Di sini saja, ya.” Bukan “Aku sudah enggak kuat lagi.”

Dengan kepahitan hati yang mungkin masih bisa ditanggulangi, dibandingkan dengan “menyerah”.

Kita ambil salah satu contoh: Rokok. Secara alamiah, skenarionya akan menjadi seperti berikut ini.

Menyerah: Ketika seseorang yang tengah ingin berhenti merokok, atau belajar mengendalikan dirinya dari kecanduan rokok, tetapi kemudian tidak kuat, tidak sanggup, dan kembali menyentuh rokok. Ia kalah dalam pertarungannya sendiri. Bertarung melawan sisi dirinya yang masih mengidamkan batang berbungkus kertas berisi daun tembakau kering, filter busa, dan kapsul kecil penambah rasa yang mesti dipencet sampai bunyi “te’k!” supaya rasa tambahannya keluar dan siap dibakar dengan sempurna.

Menyerahkan: Ketika seorang perokok secara sadar dan sukarela menanamkan komitmen dalam dirinya sendiri bahwa “Aku sebaiknya melepas kebiasaan merokok ini.” Ada penyerahan di situ. Melepaskan, pelepasan yang dilakukan bukan oleh orang lain. Sama sekali tidak ada nuansa kekalahan dalam proses penyerahan tersebut, yang ada ialah permulaan dari sebuah upaya. Perjuangan.

Bisakah antara menyerah dan menyerahkan berbalik arah atau menjadi spiral tanpa ujung? Bisa banget.

Manusia selalu berubah dan sejatinya merupakan makhluk yang lemah, terhadap godaan dari dalam dan luar dirinya. Tetapi jangan lupa, menyerah meninggalkan perasaan kalah, menyerahkan cenderung meninggalkan perasaan lega.

Saat ini, kita tengah berada di fase yang mana?

Telah menyerah, atau berhasil menyerahkan?

[]

Tinggalkan komentar