“Karena Hidup Tidak Selalu Semudah Pemikiranmu”

BEGITU katanya … setiap kali saya berceletuk, memberikan tanggapan kilat atas masalah orang lain yang sedang diceritakan ulang dalam lingkar-lingkar privat. Penekanan ulang pada “orang lain”, “diceritakan ulang”, dan “lingkar-lingkar privat”, karena saya tidak berani selancang itu, kok, asal merespons langsung kepada si empunya masalah, yang barangkali sedang atau telah mencoba jungkir balik sedemikian rupa untuk menyelesaikannya.

Adanya rasa simpati dan tenggang rasa–menghargai perasaan orang lain–menjadi mekanisme rem sosial bagi kita, untuk tidak asal tembak saat mengutarakan pendapat atau menyampaikan pernyataan mengenai keadaan orang lain. Tak peduli seberapa benar kita; seberapa yakin dan percaya dirinya kita atas kebenaran serta ketepatan pendapat yang kita utarakan. Sebab, seringkali, bukan semata-mata mana yang benar, dan yang salah, yang lebih berarti. Melainkan menyampaikan sesuatu yang tepat, dengan cara yang tepat, dan di waktu yang tepat pula. Sebelum telanjur mengucapkan yang bisa disesali kemudian, rasa simpati dan tenggang rasalah yang menjadi jaring pengaman.

Saya menyadari, dan terus belajar membenahi diri terkait yang satu ini. Keinginan dan dorongan untuk menanggapi (hampir) segalanya yang menarik perhatian (dan menggoda ego), meredup seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, dan bergesernya prioritas dalam hidup. So far, so good. Tanggapan-tanggapan sok pintar, arogan, kepedean setidaknya dikurung dalam ruang privat, hanya untuk konsumsi sendiri sebagai bumbu percakapan terbatas. Kendati beberapa di antaranya barangkali masih ada di sini, di blog Linimasa ini, sebagai arsip tulisan dari beberapa tahun lalu.

Ya udah, putusin aja…”

“Tinggalin aja lah kalau gitu…”

Mending pergi, sih… Ngapain bertahan di sana…”

Sudah tahu disakitin, kok, masih bertahan aja?”

Orang begitu masih bisa-bisanya dimaafin?”

“Enggak mikir apa, ya?”

Celetukan-celetukan di atas ini, contoh sederhananya.

Di posisi eksternal, sebagai pengamat, atau sebagai seseorang lain yang bisa melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda, respons-respons verbal tersebut bisa diutarakan seringan bulu ayam yang rontok dari kemoceng … dan dalam banyak kasus, memang menjadi pilihan tindakan paling logis bagi si empunya masalah.

Kemoceng.

Namun, seiring berjalannya waktu dan kian beranekanya pengalaman hidup yang telah kita jalani, ada satu “mantra” yang makin terasa kebenarannya, bahwa “kita tak akan benar-benar tahu keadaan orang lain.” Seyakin atau sepercaya dirinya kita dengan pemikiran kita sendiri, kita adalah kita, kita bukan orang lain, dan kita bukanlah seseorang yang saat ini sedang mengalami masalah tersebut dengan berbagai situasinya.

Jadi, cobalah dimulai dengan bersikap cukup tahu saja, dibarengi rasa simpati dan tenggang rasa. Barulah bersuara ketika diminta, dan bersuaralah lebih keras ketika telah diizinkan. Sebab apa pun kondisi yang sedang dialami orang lain, tidak menjadikan kita lebih mulia.

[]

3 thoughts on ““Karena Hidup Tidak Selalu Semudah Pemikiranmu”

    1. Kurang lebih seperti itu, cuma, katanya, lebih seru mengomentari masalah orang lain daripada fokus ke masalah yang dihadapi sendiri. 😅

      Terima kasih sudah mampir.

Leave a Reply