Ini tentang Uang

KETIKA berbicara soal bagaimana cara seseorang memberdayakan uang yang dimilikinya, secara sederhana setiap orang bisa dikelompokkan dalam dua kategori: penyimpan, dan pemutar. Hanya ada dua karena memberdayakan uang di sini tidak termasuk membelanjakannya untuk tujuan konsumsi.

Sesuai namanya, penyimpan akan mengumpulkan uang yang ia peroleh dan mendiamkannya secara sistematis maupun konvensional, hingga pada suatu saat ia perlukan dan diambil sebagian. Tujuan menyimpan uang tentu saja untuk menghimpunnya, menumpuknya, menjadikannya bertambah banyak dengan logika sederhana bahwa 1+1=2 dan seterusnya.

Mengapa harus disimpan sampai menjadi banyak? Untuk keperluan-keperluan. Tidak ada yang tahu seberapa besar pengeluaran darurat yang harus dipenuhi di masa depan. Hari esok pun sudah termasuk masa depan. Lebih baik berkelebihan meskipun akhirnya bingung mau diapakan, ketimbang mengalami kekurangan sangat dibutuhkan. ketok meja tiga kali

Untuk menjadi seorang penyimpan uang yang baik diperlukan ketekunan, ketelitian, kesabaran, sikap hemat, pengendalian diri, dan sikap tidak neko neko. Sebab sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Pun hemat pangkal kaya. Selain itu, juga sangat berhati-hati untuk setiap pengeluaran yang akan dilakukan. Terlebih uang dalam jumlah besar dan dengan alasan yang sekiranya tidak mendesak.

Bentuk pengelolaan keuangan yang identik dengan para penyimpan adalah tabungan, baik secara formal berupa rekening bank, atau yang sangat konvensional di celengan dan brangkas. Selain itu, juga berupa deposito, tabungan berencana dan berjangka dengan bunga dan skema pencairan yang berbeda dibanding rekening biasa), membeli tanah saja, membeli emas keping maupun perhiasan, membeli obligasi/sukuk/Surat Utang Negara kalau mampu, membeli reksadana khusus pasar uang dan/atau pendapatan tetap dengan peningkatan yang pasti meskipun kecil.

Berkebalikan dengan penyimpan uang, para pemutar justru memakai uangnya untuk kembali menghasilkan uang. Ada beragam caranya, dengan tingkat keberhasilan yang berbeda pula, dan baru bisa dibuktikan dalam jangka waktu tertentu. Pemakaian yang gagal mengakibatkan uang hilang. Apabila berhasil, uang yang dimiliki akan bertambah dengan logika 2×2=4 dan seterusnya.

Mengapa harus diputar? Ya… pada dasarnya juga supaya bertambah banyak, dengan mekanisme yang bisa berjalan sendiri. Idealnya seperti itu. Di sisi lain, proses kegagalan-keberhasilan menjadi semacam pengalaman berharga untuk masa depan. Mengingat perubahan akan selalu terjadi.

Dalam pengelolaannya, para pemutar akan memakai uangnya untuk membuka/menjalankan bisnis, atau membiayai bisnis baru sebagai modal. Bentuk investasi lain yang dilakukan untuk memutar uang juga termasuk bermain saham baik sebagai trader maupun investor dalam bursa terbuka, membeli reksadana saham, meminjamkan dan membungakannya (baca: jadi rentenir), membangun properti untuk dijual kembali nanti, dan sebagainya.

Terdapat beberapa kesamaan antara pemutar uang dengan para penyimpan. Beberapa di antaranya adalah ketekunan, kesabaran, dan pengendalian diri. Namun para pemutar uang harus punya keberanian mengambil risiko, punya kekuatan untuk menghadapi risiko yang muncul, sangat perhitungan, teliti, dan berhati-hati, serta jeli melihat situasi. Perbedaan lingkungan juga membuat para pemutar uang harus cepat dan tanggap merespons segala hal yang terjadi. Semua ini mendorong mereka untuk selalu aktif, selalu riuh dalam kehidupannya. Karena ibarat air, harus terus mengalir. Air yang menggenang akan menimbulkan banyak kerugian.

Dari dua kategori pemberdaya uang di atas, wajar jika muncul dualisme. Penyimpan uang bisa menganggap para pemutar sebagai orang-orang yang nekat. Akan tetapi bisa pengin juga ketambahan banyak uang seperti para pemutar ketika dapat zhuan (untung). Sementara para pemutar bisa menganggap penyimpan-penyimpan uang sebagai orang yang merugi dan penakut, namun diam-diam menyesali keputusannya yang salah dan membuatnya kehilangan banyak uang.

Keduanya memiliki preferensi masing-masing; kecocokan dan kenyamanan dalam memberdayakan uang. Tidak ada yang benar-benar terbaik, lantaran menyimpan atau memutar uang sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Menyimpan perlu waktu cukup lama. Memutar perlu kelancaran. Saat putaran tersendat, eksekusi rencana pun terhambat.

Kendati terbagi menjadi dua kategori, pada kenyataannya sedikit sekali yang melekat hanya pada satu polar ekstrem dengan menjadi penyimpan saja, maupun pemutar saja. Kebanyakan dari kita adalah penyimpan dan pemutar dengan kecenderungan lebih berat ke salah satu sisi.

Kita yang bekerja sebagai pegawai dan hidup dari gaji, tentu akan berusaha menyimpan sebagian dari penghasilan. Saat ada tawaran yang menarik dan memiliki perhitungan yang realistis, bukan mustahil kita akan memanfaatkan sebagian dari simpanan. Nah, besar kecilnya uang yang kita manfaatkan tergantung pada pertimbangan masing-masing. Ada yang masih takut-takut, ada pula yang percaya diri sekali.

Begitu pula para pemutar uang. Hasil yang mereka dapatkan tentu akan disimpan, sebagai pengaman sekaligus objek kepemilikan. Sebagian yang lain akan mereka putar kembali. Itu pun, semestinya, sudah dikurangi porsi yang untuk dikonsumsi sendiri. Dipakai belanja, jalan-jalan, jamuan makan untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat, dan kesenangan-kesenangan lainnya. Pastinya, tidak dihabiskan semua.

Saat peluang tersebut berhasil, yang takut-takut tadi pun sedikit menyesal karena tidak mendapatkan sebanyak orang lain. Di kesempatan berikutnya, ia dapat terdorong untuk memakai lebih banyak uang. Sayangnya, dalam banyak kasus, tidak sedikit yang tak mau mengukur kemampuan diri. Sehingga meminjam dan mempertaruhkan semua yang dimiliki.

Saat peluang tersebut gagal, yang takut-takut tadi pun masih bisa berceletuk dengan awalan: “Untung aku cuma blablabla” Sebab kerugian yang ia alami tidak sebanyak orang lain. Begitulah, high risk, high gain. Peluang yang besar pasti dibarengi risiko yang tak kecil pula.

Jangan lupa, kita sedang membicarakan soal pemberdayaan. Jadi, jangan dulu keburu memilih atau mencocok-cocokkan diri dengan kategori penyimpan atau pemutar jika kita terbiasa menghabiskan apa yang dipunyai. Sebab kalau enggak ada uangnya, apa yang mau disimpan, terlebih lagi diputar.

Sebanyak-banyaknya uang, pasti tidak cukup dan habis kalau selalu merasa kurang.

Sesedikit-sedikitnya uang, tetap ada yang bisa disisihkan, meskipun lima ribu perak doang.

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s