Sayang, Kamu Terlalu Banyak Waktu Luang

Belakangan banyak yang bertanya, mengapa saya lebih banyak diamnya di Twitter. Termasuk gembong linimasa, Roy Sayur. Beliau mempertanyakan mengapa saya tak lagi aktif membuat kampanye di Twitter semacam Bolbal berabad silam. Dilengkapi dengan pertanyaan apakah karena akun Twitter saya sudah verified. Yang tentu tidak ada hubungannya, karena sekarang itu cuma soal mendaftar.

Yang lain mempertanyakan pilihan Pilkada saya. Saya memang lebih banyak diamnya sejak keriuhan di media sosial dimulai. Ada pula yang mempermasalahkan seolah saya terlalu berusaha jadi anak manis. Kurang vokal, kurang kencang dan cenderung apatis. Apa karena saya terikat dengan kandidat yang kurang terkenal di media sosial? Apa karena ada kerabat yang terlibat erat dengan salah satu kandidat? Bahkan ada mengira saya diam-diam menjadi timses!

Semua tuduhan itu saya telan saja. Karena jawaban yang sebenarnya, saya lagi sibuk.

Saya lagi sibuk mengajari Mbak Pargi memasak nasi ayam, yang setelah 6 bulan kursus intensif belum juga sukses. Saya lagi sibuk membantu biro iklan yang menuntut saya untuk lembur hampir setiap malam. Saya lagi sibuk berdagang tote bag di IG @mangkokayamid. Saya lagi sibuk mempersiapkan produk baru untuk Lebaran. Kejar-kejaran sama supplier. Mempelajari hal baru untuk selendang karena saya belum pernah bikin sebelumnya – seperti yang sudah saya tulis di tulisan sebelum ini.

Saya juga punya kewajiban mengurus Ibu saya yang sudah semakin tua. Membayar pajak yang buat Freelancer lebih berliku jalannya. Memperpanjang Paspor saya yang sudah mau habis dan ternyata tak lagi bisa online. Membuat rencana dengan Mbak Pargi yang kehamilannya sudah memasuki bulan ke sembilan. Mengatur dan memasak makanan, yang saya usahakan bawa dari rumah setiap hari.

Tapi itu semuanya alasan pencitraan. Karena alasan sesungguhnya saya lagi menemukan keseruan baru di Instagram, IG story. Selain saya bisa bermain-main dengan bentuk video, saya juga suka sifatnya yang hilang setelah 24 jam. Saya orangnya gak terlalu suka melihat-lihat masa lalu seperti yang disodorkan di Facebook dan Path secara berkala.

Di IG Story, saya jadi bisa belajar aplikasi-aplikasi baru untuk menjadikan feed IG Story saya lebih menarik. Saya pun bisa berkenalan dengan “teman-teman baru” yang sudah lebih lama aktif di IG Story. Maka selain WA dan Telegram, sekarang tambah IG Direct Message saya jadi lebih aktif. Karena itu pula saya pun baru menyadari betapa banyak kuota yang diperlukan untuk aktif di Instagram.

Maka ketika ada yang komplen soal postingan di media sosial. Atau ada yang mempertanyakan kesenyapan saya di media sosial. Atau omelan karena respon pendek-pendek akan perbincangan di WA dari saya. Saya hanya bisa menjawab “sayang, kamu terlalu banyak waktu luang”. Mengapa?

Di IG story saya menemukan banyak orang-orang yang sedang menikmati hidupnya. Tidak hanya jalan-jalan cantik loh, perjalanan ke kantor di busway ditambah sedikit headline pun bisa jadi feed yang menyenangkan untuk ditonton. Belum lagi pasangan-pasangan yang sedang kasmaran. Atau serunya profesi-profesi lain di luar yang saya geluti. Banyak pula yang menyajikan feed soal teknik berolah raga dan diet. Animasi dari aplikasi-aplikasi kekinian untuk filter wajah juga menjadi hiburan yang seru.

Semuanya membuat saya berpikir. Seandainya semua sibuk menjalankan hobinya. Semua jatuh cinta dan asik bercinta. Semua seru mengerjakan bisnis barunya. Menikmati masa muda dengan sepenuhnya. Sepertinya postingan di media sosialnya pun akan ikut menjadi menarik.

Tak ada waktu untuk terpancing lagi dengan judul berita online yang sensasional. Keseruan hidup juga membuat kita tak gampang tersinggung apalagi gila hormat di media sosial. Ini menjadi peringatan untuk saya sendiri. Setiap saya hendak posting nyinyir di media sosial, saya berkata kepada diri saya sendiri “sayang, kamu terlalu banyak waktu luang”.

Yang kadang membuat saya bingung, bagaimana orang bisa menjadi marah “hanya” karena postingan di media sosial. Kesal berhari-hari bahkan sampai bermusuhan dengan orang yang sering belum dikenalnya. Atau kecemasan yang disebar melalui WA Group, bikin orang panik. Belum lagi ditambah hembusan cerita akan kacaunya dan hancurnya negeri ini. Untuk kemudian kesal karena kepanikannya tak mendapat sambutan. Bukankah kita tidak bisa peduli pada semua hal yang terjadi di negara ini dan semua orang punya prioritasnya sendiri-sendiri.

Baru-baru ini, saya liburan singkat menonton Art Jog di Jogja. Perjalanan yang sudah saya set “santai aja gak mau pake plan”, ternyata membawa saya bertemu dengan teman lama dan baru. Membawa saya ke tempat-tempat yang belum tentu bisa dikunjungi lagi. Beberapa saya post di IG Story. Ya itu saja. Gak sempat posting di medsos lain. Bahkan sebenarnya, saya tak sempat membuka Twitter, Path dan Facebook.

Pembaca setia tulisan saya pasti sudah bisa menyimpulkan, bagaimana saya suka dan selalu tergugah dengan orang-orang yang “menghasilkan”. Berbuat dan menjadikan sesuatu. Mereka tak pernah gagal menginspirasi saya. Makanya segala cara selalu saya lakukan untuk membela kebebasan berekspresi.

Seperti @ikibaru yang beberpa hari lalu mengirimkan fotonya dari Badui dalam perjalanan bersama pacarnya:

Sepertinya ini adalah foto spekta yang akan saya kenang selamanya. Iseng saya kemudian mengecek statusnya  di media sosial. Hasilnya hening. Tak ada postingan apa-apa sama sekali. Kecuali di Instagram dan beberapa foto yang sama di Path. Dalam hati saya berkata “sayang, kamu pasti tidak punya banyak waktu luang”. Kamu terlalu sibuk dengan serunya duniamu dan cintamu.

Atau seperti Mbak Janti dengan akun IG @alterjiwo ini, sibuk mengisi kehidupannya dengan bercocok tanam organik di kediamannya di Jogja. Dia pun memulai Pasar Kamisan yang menjual hasil alam organik untuk dijual. Selain itu, dia sedang sibuk mempelajari beragam tipe penyembuhan alami non invasif di Ubud. Ditambah dia juga sedang jatuh cinta kepayang yang membuat hari-harinya sibuk.

Berbeda lagi dengan Mas @lululutfilabibi perancang busana pencinta lurik yang nyentrik ini. Dia sedang sibuk menghasilkan disain-disain baru untuk ditawarkan ke pembeli dari Jakarta yang khusus ke Jogja untuk membeli karyanya. Dia pun sedang cemas mempersiapkan pertunjukan seni di bulan Agustus mendatang.

Saya beruntung bisa berbincang lama dengannya. Nantikan dua minggu lagi, saya akan mencoba menuliskannya untuk pembaca linimasa. Keterarikan terbesar saya pada Lulu Lutfi Labibi juga berawal di Instagram. Saat dia memposting video Perjalanan yang merupakan koleksi terbarunya.

Lalu saya google dan menemukan video kolaborasinya dengan Indieguerillas di Art Jog 2015 yang berjudul Hypecyclus – Petruk Jadi Supermodel. Setelah menonton kedua ini saya berkata dalam hati, saya ingin menemui dan mengenalnya lebih jauh.

Coba lihat IG Story @bangbernard yang hampir setiap malam bermain dengan anjing-anjingnya yang lucu-lucu. Menggoda saya yang tak pernah terpikir untuk memelihara binatang apa pun. Sore menjelang malam, bisa dipastikan Bang Ben, panggilan akrabnya senyap di media sosial lainnya.

Atau akun IG @becktum milik Becky Tumewu yang aktif menyiarkan aktivitasnya sebagai MC, pengajar, ibu rumah tangga, berolahraga, dan lain-lain. Membuat saya yang menonton bersemangat menjalani hari-hari. Kepiawaiannya bercerita menjadikan feed-feed pendek sekali pun tetap enak ditonton. Tak jarang banyolan-banyolan khas metropolitan dilontarkan dengan luwesnya.

Beda lagi dengan akun IG @benzbara. Penulis idola remaja ini, belakangan sedang asik menggeluti kopi. Dia belajar menjadi barista. Dari satu cafe ke cafe lain yang tumbuh pesat di kota Jogja, Bara memberikan laporannya. Saking terbawanya, ketika saya di Jogja, saya berkonsultasi padanya ke mana membeli biji kopi yang baik di Jogja untuk saya bawa pulang.

Akun IG @Dhiptadi punya cerita menarik. Kami sudah berteman cukup lama di IG. Saya mengenalnya saatnya followersnya masih ratusan saja. Ternyata dengan kemampuan dan konsistensi fotografinya, tak sampai setahun dia sudah berhasil mengumpulkan followers 11,6K. Bahkan saya pun baru mengetahui ternyata ada semacam “komunitas” Instagrammers yang suka foto-foto kopi di cafe.

Mereka baru sebagian kecil. Masih banyak lagi akun-akun yang menyajikan IG Story yang menarik. Menarik kalau dalam pemahaman saya, adalah yang menggerakkan saya untuk mencobanya. Menyemangati saya untuk hidup dan bekerja di kota yang terasa semakin sumpek ini. Menarik juga karena menstimulasi saya untuk menghasilkan postingan yang menarik juga.

Pasti banyak diantara kita yang mengira mereka bisa begini karena pekerjaan mereka begitu. Kenyataannya tidak juga. Bernard dan Dhiptadi adalah karyawan. Banyak yang mahasiswa, ibu rumah tangga dan sebaginya. Kuncinya ada di keberanian dan hasrat untuk mencoba hal-hal baru. Ditambah kejelian untuk melihat hal-hal kecil dan lumrah di sekitar kita kemudian mengangkatnya menjadi menarik. Ok, yang kedua ini memerlukan latihan.

Tak hanya membuka pintu rumah, mereka juga membuka pintu hati untuk berkenalan dengan orang baru. Pintu diri selalu mereka buka selebar-lebarnya untuk segala kesempatan. Melihat mereka semua saya semakin yakin, usaha untuk “mewarnai hidup” menjadi usaha yang pantas untuk dicoba di era kekisruhan media sosial ini. Menyibukkan diri dengan aktivitas seru bisa jadi penyemangat hidup.

Ini semua bukan untuk meninggalkan media sosial. Malah justru supaya postingan di berbagai media sosial kita jadi lebih menarik. Yuk coba bareng!

Iklan

21 thoughts on “Sayang, Kamu Terlalu Banyak Waktu Luang

  1. Dulu, kalau putar musik sambil rekam IG Stories, langsung otomatis jadi lagu latarnya. Sekarang sudah ga bisa lagi…

    Btw ya, ngomong soal menikmati hidup, kapan geng Linimasa liburan bareng? Ayo dong! 😀

    Suka

  2. Dan saya nggak tau harus ngomong apa, sampai bisa jadi bagian dari artikel di Linimasa.com.
    Dan saya nggak tau harus ngomong apa, karena kok saya baru sadar, kalau konten saya paling alay dibanding yang lainnya. Haha…
    Terima kasih, Ko Glenn!

    Disukai oleh 1 orang

  3. Baru pertama kali ini baca judulnya aja udah deg-degan. Jleb soalnya.
    Aku liat tuh instastory pas Koh Glenn ke Jogja. Tapi itu juga karena banyak waktu luang, sih. Hahaha.
    Makasih tulisannya, Koh. Jadi semangat memanfaatkan waktu luang biar ga luang-luang banget

    Disukai oleh 1 orang

  4. udah sebulan saya ga pegang ponsel, karena rusak. jadi saya cuma komunikasi lewat pc kalau ada waktu senggang.
    kebanyakan waktu saya habiskan di luar. menulis di buku catatan, membaca, mendengarkan lagu lewat iPod atau mp3. sering dimaki karena nggak bisa dihubungi, padahal cari saya mudah, kalau ndak perpustakaan, ya di kamar.

    hidup tidak dengan ponsel mengajarkan saya untuk menepati janji. saya sudah janjian ketemu di mana, jam berapa, saya tepati. meskipun mendadak ada urusan lain, yang tidak begitu urgent (meskipun ingin dateng), mau nggak mau saya harus tepati janji yang pertama. karena orangnya pasti sudah nunggu di sana.

    bukan berarti ponsel atau media sosial harus ditiadakan. tapi mungkin kita yang harus sudah sadar bagaimana caranya hadir secara utuh di detik dan menit yang sekarang ini sedang kita jalani.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Terima kasih udah berbagi pengalaman. Tapi di tulisan ini saya tidak sedang mengajak untuk menjauhi ponsel (dan media sosial) loh. Tetaplah aktif dengan ponsel dan media sosial tapi supaya feed jadi menarik, hidupilah kehidupan gitu :)))

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s