PERASAAN bangga ibarat pedang bermata dua. Salah-salah, bisa melukai diri sendiri.
Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Bisa mengubah sesuatu yang baik menjadi buruk, bahkan menjadikan sesuatu yang sudah buruk menjadi lebih buruk lagi. Seringkali tanpa disadari, tahu-tahu (bikin) mati.
Kondisi ini berlaku untuk semua hal dalam hidup kita, dan berpengaruh pada keadaan fisik maupun mental setiap orang. Sama-sama berbahaya. Katakanlah mulai dari apa yang kita makan, jumlah kandungan dalam tubuh kita, seberapa sering kita mengalami batuk pilek, sampai apa yang kita yakini dan menjadi sikap mental dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Salah satunya adalah “overpride”, rasa bangga berlebihan, yang dalam bahasa Indonesia lebih pas dipadankan dengan kata “angkuh”. Saking berlebihannya, sampai-sampai membutakan, menggerogoti dari dalam, dan mendorong pemiliknya untuk melakukan apa saja demi ilusi tersebut. Hal ini akan nyambung banget dengan tulisan beberapa pekan lalu, bahwa kesombongan dan keangkuhan adalah salah satu pemicu masalah-masalah kemanusiaan.
“Pride”, “kebanggaan”, seyogianya adalah sebuah sikap positif yang bisa memberikan semangat pada seseorang untuk melakukan dan mencapai sesuatu. Rasa bangga muncul lewat banyak alasan dan latar belakang. Masing-masing dari kamu pasti pernah merasa bangga terhadap sesuatu, dan hanya kamu yang tahu mengapa kamu bangga atas hal itu, atas nilai-nilai itu.
Ketika rasa bangga ini berlebihan, ego membesar. Perasaan senang yang muncul pun lebih individualistis; “pokoknya aku!” Bukan lagi sebuah kebahagiaan. Memberikan ruang untuk munculnya keangkuhan, dan sikap memandang rendah orang lain karena tidak memiliki hal membanggakan yang sama.
Selain itu, “overpride” bersifat keras sekaligus terlalu sensitif. Orang-orang merasa unggul atas hal yang mereka banggakan tersebut. Akan tetapi juga gampang merasa disinggung, merasa dinyinirin, merasa jadi sasaran serangan, alias gampang GR, merasa it’s all about them. Sedikit-sedikit merasa terluka, sedikit-sedikit merasa dicolek. Seperti salah satu adegan yang lazim dalam “Ketoprak Humor” sepuluh-dua puluh tahunan lalu, belum dipukuli tapi sudah teriak-teriak.
Dalam pelajaran Sosiologi di SMA, untuk pertama kalinya kita mendengar istilah “Primordialisme”, “Sauvinisme” (Chauvinism), serta “Fanatisme” sebagai fenomena sosial. Dalam pelajaran Sejarah di kelas lebih awal, kita mendapati ketiga istilah itu dalam konflik dan peperangan di masa lalu. Ketiganya merupakan bentuk-bentuk dari kebanggaan yang berlebihan. Semuanya overdosis. Terlebih lagi, SARA menjadi topik-topik paling klop untuk ini.
“Primordialisme” adalah etnisitas atau pandangan kesukuan yang berlebihan. Bukan lagi “aku bangga menjadi orang Cina“, tapi “Cina adalah suku paling unggul di dunia!”
“Sauvinisme” boleh dibilang merupakan nasionalisme yang berlebihan. Bukan lagi “aku bangga menjadi bangsa Indonesia“, tapi “Indonesia adalah bangsa paling mulia di dunia!”
Sedangkan “Fanatisme” adalah kepercayaan keagamaan maupun ideologis yang berlebihan, seringkali tanpa pemahaman lebih dalam. Bukan lagi “aku bangga menjadi seorang Buddhis“, tapi “Buddhisme adalah agama yang paling benar!”
Bisa dilihat sendiri apa kesamaan di antara ketiganya, dan kita langsung bisa merasa tidak nyaman hanya dengan membaca kalimat-kalimat berwarna merah di atas. Ya! “Overpride” dan keangkuhan itu memang tidak menyenangkan.
Setidaknya, sikap “overpride” ini tidak muncul begitu saja sebagai bawaan orok, melainkan dibentuk oleh lingkungan dalam bentuk indoktrinasi, dogmatisasi, penuh dengan ungkapan “pokoknya begini!“, sempitnya ruang untuk bertanya dan mengkritisi. Kemudian biasanya semakin diperparah dengan ketidaktahuan yang bebal, asal ikut, dan kedunguan. Terbiasa untuk tidak menggunakan common sense serta social sense, atau kalaupun ada namun tidak diasah, melainkan dikesampingkan sampai usang.
Sekarang, mari kita berlatih untuk mengetahui seberapa besar tingkat “overpride” atau keangkuhan yang kita miliki. Ingat ya, ini cuma latihan. Hanya contoh.

Setiap kali baca artikel berita seperti ini, entah siapa pun selebritis yang diberitakan atau agamanya, bawaannya pengin rolling eyes sambil berkomentar: “lah, terus kenapa kalau mereka pindah agama?” Apanya yang mesti dibanggakan sih dengan ketambahan satu umat yang kebetulan adalah bintang film atau orang penting di dunia hiburan? Gembar gembor seperti ini ngiklan banget. Seolah mengatakan “Si Anu saja sudah pindah agama, kamu kapan?” Agak konyol ya.
Di mata tuhan masing-masing, setiap umat adalah sama. Kan katanya yang membedakan adalah keimanan, ketakwaan, dan amal ibadahnya. Tidak ada yang bisa menjamin derajat spiritualitas seseorang.
Sebaliknya, kalau ada selebritis kalau pindah ke agama berbeda, kemurtadannya dihina habis-habisan. Bagaimanapun juga, titik akhirnya tetap menjadi hak prerogatif tuhan masing-masing agama.

Oke, awalnya saya ingin mengambil contoh selebritis Indonesia yang pindah menjadi beragama Buddha. Satu-satunya nama yang terlintas tentu saja Dewi “Dee” Lestari. Karena sedikit (baca: cuma satu) jadinya agak kurang signifikan untuk dijadikan objek latihan. Padahal dulu, beberapa tahun lalu, umat Buddha se-Indonesia ya juga heboh luar biasa. Hahaha! 😅
Contoh berikutnya.

Apa sih alasannya sampai harus menolak keberadaan rumah duka dan krematorium di balik tembok bangunan tebal? Ini pertanyaan sungguhan, karena dari berbagai artikel yang berseliweran di jagat maya, belum ada argumentasi solid atas penolakan itu selain; bertentangan dengan budaya warga setempat, meresahkan lingkungan sekitar, dan merusak kerukunan umat beragama yang terdengar enggak nyambung sama sekali. Sejauh apa pun krematorium itu berpindah, pasti akan terus muncul protes dengan tuntutan serupa. Makin lama kan lahan makin penuh, yang dulunya dirasa jauh lama kelamaan jadi lebih dekat.
Akan beda ceritanya kalau penolakan tersebut lantaran pengelolaan tidak ramah lingkungan, munculnya asap yang mengganggu, krematorium yang tidak higienis, maupun beragam latar belakang lain yang lebih terpampang nyata dan diiyakan oleh masyarakat penggunanya sekalipun.
Mana yang lebih mengganggu? Krematorium yang di situ-situ aja, atau iring-iringan mobil jenazah yang heboh dan ngebut, dan biasanya dibarengi konvoi motor-motor dengan pengendara tak berhelm yang klakson sana sini sambil teriak-teriakin mobil atau kendaraan lain untuk minggir, bahkan sampai gebuk-gebukin kendaraan yang sudah terdesak enggak bisa menepi atau ke mana-mana lagi. Seolah-olah kalau tidak pakai keriuhan seperti itu, jenazahnya bakal bangkit lagi dan jalan sendiri.

Contoh terakhir dan paling anyar.

Dari ketiga contoh di atas, bisa merasakan enggak sih seberapa kuat aura “overpride” yang dimunculkan? Seberapa banyak dari kamu yang merasa sangat tidak nyaman dengan narasi di atas? Ingat ya, ini soal kebanggaan berlebihan terhadap agama, suku dan tradisi, serta ras. Termasuk soal pribumi non-pribumi yang paling bikin geregetan. Coba dilihat…

Kurang pribumi apa cobak…?
#eh
#lho
#it’snotaboutyou,Gon
#wonggendheng
#yaudahlahya
[]

Tinggalkan Balasan ke Masbro Batalkan balasan