Terserah Saja

KAMU orang Buddha, kan?

Tebal muka dan telinga. Sepertinya kemampuan itu benar-benar diperlukan kaum Buddhis di Indonesia (atau dunia) saat ini. Ketika semua orang, more likely the narrow-minded ones, selalu bertanya tentang Ashin Wirathu dan status kebhikkhuannya secara berulang-ulang. Pertanyaan itu–beserta banyak turunannya–disampaikan dengan penuh semangat, seakan Ashin Wirathu adalah seorang bhikkhu yang bisa langsung ditemui di vihara terdekat.

Bicara punya bicara, sebelum terus membaca, perlu saya sampaikan bahwa piket Linimasa hari ini bukan merupakan sebuah apologia saya, yang kebetulan seorang Buddhis, dan kalau tidak salah juga kebetulan menjalankan mazhab Buddhisme yang sama dengan Ashin Wirathu.

Dari Google.

Dimunculkan pertama kali di sampul muka majalah Time edisi Juli 2013, wajah Ashin Wirathu dipasangkan dengan tajuk “The Face of Buddhist Terror”. Ia dituding sebagai promotor gagasan tertentu, yang kemudian berujung menjadi kebencian dan konflik Rohingya. Banyak orang di Indonesia yang lebih demen menyebutnya sebagai konflik antara kaum Buddha Myanmar dan warga Muslim Rohingya.

Dalam beberapa pekan terakhir, atau hampir dua tahun setelah pemberitaan Time, mendadak sampul depan majalah itu kembali seliweran di ranah maya. Utamanya di Facebook serta portal berita, dan dilekatkan pada sejumlah artikel tentang kekacauan di Myanmar, yang mengutip ulang pernyataan Ashin Wirathu dari pemberitaan resmi sebelumnya. Pada konteks ini, yang dimaksud pemberitaan resmi adalah ketika seorang jurnalis bertanya maupun melakukan konfirmasi langsung kepada Ashin Wirathu, bukan dengan metode lain.

Selebihnya, artikel-artikel tersebut juga tertaut dengan pemberitaan soal gelombang pengungsi (atau human trafficking?) asal Rohingya dan Bangladesh yang terombang-ambing di laut, dan ditolak sejumlah negara di Asia Tenggara, hingga akhirnya diterima dan ditampung warga Aceh. Tindakan baik dan mulia, yang seyogianya nanti tetap ditindaklanjuti secara bijaksana.

Dengan demikian, klop sudah penempatan plotnya.

  1. Banyak orang Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar, karena menghindari situasi buruk.
  2. Situasi buruk tersebut disebabkan oleh propaganda seorang bhikkhu bernama Ashin Wirathu.
  3. Orang Rohingya adalah muslim, sedangkan bhikkhu Ashin Wirathu adalah Buddhis.

Kesimpulan dapat ditarik dengan mudah, cukup lewat tiga poin di atas. Tak perlu berpayah-payah mengklarifikasinya lagi. Lalu, kesimpulan itu berkembang sedemikian rupa hingga menghasilkan ungkapan “kekejaman umat Buddha”, “orang Buddha teroris sebenarnya”, “teroris berkepala botak”, “pembantai berjubah cokelat”, dan seterusnya. Sampai-sampai melegitimasi sekelompok orang melakukan sejumlah tindakan di dalam negeri.

Okay, I won’t talk about this part any further.

Di kantor, para kolega mulai menyelipkan kata “Buddha” dalam pertanyaan-pertanyaannya kepada saya sejak beberapa pekan terakhir. Pertanyaan-pertanyaan itu saya jawab dengan sebagaimana mestinya, lantaran sudah kenal dengan mereka. Walaupun ujung-ujungnya, respons terakhir yang saya dengar adalah: “tapi bener loh, ngeri betul di sana.

Bagaimanapun juga, saya kok punya firasat kalau pertanyaan-pertanyaan sejenis, bahkan yang disampaikan dengan lebih kasar dan cenderung bukan bertujuan untuk mencari tahu, dialami para Buddhis lain. Lebih dari itu, tidak sedikit pula umat Buddhis yang ikut bingung.

Cuplikan
Ketika ditanya.

Terhadap ini semua, meskipun secara politis saya tidak sehaluan dengan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), the only government-affiliated-but-religiously-questionable Buddhist organization in Indonesia, namun saya tetap mengapresiasi pernyataan sikapnya secara institusional demi meredam potensi gejolak lebih lanjut.

“Seorang yang berpenampilan bhikkhu (Ashin Wirathu), penampilannya memang kepalanya tidak berambut dan berjubah. Tapi bukan jaminan representasi dari Buddhis. Jadi bukan konflik Buddha dengan Islam,” kata Wakil Ketua Walubi Suhadi Sendjaja kepada VIVA.co.id, Jumat (22/5).

Kendati masih ada beberapa bagian pesan yang berpotensi menyebabkan salah kaprah.

“Kita perlu katakan bahwa Buddha kami dengan Myanmar berbeda,” ujar Ketua Walubi, Arief Harsono di gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/5). Dikutip dari detikNews.

Pertanyaan saya, Buddhanya model apa? Kok beda?

Selain itu, padahal Konferensi Agung Saṅgha* Indonesia (KASI)** juga telah menegaskan sikap institusional atas konflik kemanusiaan di Myanmar, 2013 lalu. Namun barangkali gara-gara KASI bukan merupakan bagian dari Walubi, dan tidak terlalu dikenal pemerintah, jadi pernyataan sikap tersebut relatif kurang digubris publik. Menguap begitu saja.

Cuplikan
Ketika para bhikkhu dan bhiksu Indonesia, menyampaikan imbauan kepada “koleganya”.

Terlepas dari hal-hal di atas, saya juga pengin menyampaikan pandangan sebagai seorang Buddhis mazhab Theravada. Lebih semacam sikap pribadi sih, soalnya ndaktau apakah umat Buddhis Indonesia lainnya setuju atau tidak.

  1. “Apakah Ashin Wirathu benar-benar dalang dari kekacauan di Myanmar? Penyebab terjadinya kerusuhan, pembunuhan, perusakan dan pembakaran, serta pengusiran warga Rohingya?”

Sejauh ini baru ada satu fakta yang tak terbantahkan mengenai kondisi tersebut; saya, Anda, kami (sesama Buddhis), kita (sesama warga Indonesia) tidak sedang berada di Myanmar sebelum dan saat pertikaian terjadi. Setelah itu, barulah melangkah pada ihwal pemberitaan majalah Time. Apakah sudah dibaca? Atau hanya berpatokan pada foto? Foto-foto resmi, atau foto-foto yang dicuplik kembali? Foto-foto dengan caption asli dari sang fotografer, atau telah disunting?

  1. “Katakanlah Ashin Wirathu benar-benar penebar kebencian dan pemicu permusuhan secara gamblang, lalu bagaimana kamu memandangnya?”

Bila memang demikian adanya, maka dewan Saṅgha Myanmar harus bertindak mencopot status Ashin Wirathu dari kebhikkhuannya. Menjadikannya umat biasa. Karena tindakan penyebaran kebencian termasuk pelanggaran dalam tata tertib dan aturan kebhikkhuan, termasuk mencederai tujuan hidup pertapaannya. Setelah berstatus umat biasa, giliran pemerintah Myanmar menjalankan hukum positif yang berlaku. Hanya saja, ketegasan pemerintah setempat bisa diragukan. Sebab ada spekulasi yang menyebut pemerintah mendukung gagasan dan propaganda Ashin Wirathu.

Di sisi lain, Buddhisme tidak mendorong terjadinya pengkultusan kepada siapa pun dan apa pun. Kesalahan adalah kesalahan, baik dilakukan oleh orang biasa, orang penting, pemuka agama, maupun pelacur sekalipun. Umat Buddha juga diharuskan bersikap kritis. Sehingga jika Ashin Wirathu benar-benar bersalah, bukan malah dilindungi oleh para umat dan simpatisannya.

Ndak ada umat Buddha di Indonesia yang kenal, atau mungkin berguru pada Ashin Wirathu.

  1. “Kemudian, apa hubungan antara ajaran Buddhisme dengan kekacauan Rohingya?”

Apakah ada ajaran agama yang menganjurkan pembunuhan, atau penindasan terhadap orang lain? Kendatipun jawabannya sudah cukup gamblang, mengutip seorang teman; “Bigots will be bigots, Gon.” Tak mustahil para bigots berjumlah banyak. Tapi kebangetan kalau ada agama, yang umatnya bigots semua.

  1. “Terus, bagaimana sikap umat Buddha Indonesia? Apa yang harus dilakukan?”

Nah, ndak tahu. Setiap orang bisa mikir, maka itu berhak memiliki pemikiran masing-masing terlepas dari apa pun agamanya. Terserah saja. Ada yang menyebut umat Buddha adalah pecinta damai palsu, ada juga yang menyebut pelaku kekacauan di Myanmar tidak mewakili ajaran Buddhisme, ada pula yang bisa membedakan antara urusan politik dan ajaran agama.

Namun yang jauh lebih penting ketimbang pertanyaan di atas adalah penanganan para pengungsi. Mereka mau diperlakukan sebagai apa? Korban konflik agama atau konflik sosial-politik? Sentimennya berbeda, kan?

Apa pun tetek bengeknya, mereka adalah manusia yang tengah kesusahan dan perlu dibantu. Cuma agak konyol, saat sebagian warga Indonesia melancarkan kecaman terhadap sesamanya yang kebetulan beragama Buddha dan ikut-ikutan marah soal pengungsi Rohingya tanpa berbuat apa-apa, sementara pemerintah Myanmar masa bodoh. Dan apa saran terbaik Anda untuk pemerintah Indonesia?

  1. “Lalu menurutmu, apa yang sedang terjadi di Indonesia mengenai hal ini?”

Enggak tahu. Barangkali memang banyak orang doyan bikin dan terlibat dalam drama doang. Atau mungkin memang doyan memandang rendah orang lain yang berbeda latar belakangnya.

  1. (Mau nambah pertanyaan, silakan)

Kamu orang Buddha, kan?

Bukan. Aku orang gila, nyembah galon akwa.

[]

*) Saṅgha: sebutan untuk komunitas bhikkhu, bhiksu/bhiksuni, dan Lama Tibet secara global.

**) KASI: organisasi resmi para bhikkhu, bhiksu/bhiksuni tiga mazhab utama agama Buddha di Indonesia. Tidak berafiliasi dengan Walubi, dan tidak menjangkau ranah politik.

Iklan

7 thoughts on “Terserah Saja

  1. eta galon akwa muncul lagi.

    iya, sabar saja,
    seperti muslim dengan celana cungkringnya,
    atau yahudi dengan jualan mekdi nya

    manusia dengan segala batas pandangnya,
    dan dengan segala persepsinya.

    yakitabisaapaatuh

    Suka

  2. aku juga mau ngusir orang cina dan penganut budha di jakarta ah. biar pada ngungsi ke myanmar.

    apa lu apa lu apa lu!
    sudah china, budha lagi.

    hahaha.
    terima kasih Long. sebagai penganut scientology taat aku bersimpati atas pertanyaan-pertanyaan yang meng-corner-kan.

    sabar aja lah ya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s