Jangan Paksa Aku Jadi Dermawan

MEKKAH saja banjir, apalagi Balikpapan.

Kalimat ini dilontarkan Abdulloh, Ketua DPRD Kota Balikpapan pekan lalu.

Sekilas, tak ada yang salah dari pernyataan tersebut. Namun kemudian menjadi terdengar keliru dan tidak simpatik karena disampaikannya ketika kota di Kalimantan Timur yang pernah meraih predikat “The World’s Most Lovable City” dari WWF, dan “Indonesian Most Livable City” itu tengah dilanda banjir parah.

Banjir Balikpapan! Foto: Kaltim Tribun News

Keliru, sebab terdapat logical fallacy di dalamnya. Mengapa Abdulloh menjadikan Mekkah sebagai pembanding, dan mengesankan bahwa apa yang bisa terjadi di sana wajar pula terjadi di kota lain meskipun berada di benua, memiliki zona iklim, maupun lingkungan geografis yang tak sama?

Konteksnya tentu berbeda antara menempatkan Mekkah sebagai kota suci bagi umat muslim, dan sebagai salah satu kota besar dunia seperti yang lain. Oleh karena itu, walaupun sama-sama diterjang luapan air, penyebab serta penanganan banjir di Mekkah dan Balikpapan pasti tidak sama. Termasuk bentuk-bentuk tanggapan dan komentar warga setempat.

Tidak simpatik, sebab pernyataan tersebut dikeluarkan Abdulloh yang merupakan seorang pejabat negara/pimpinan para anggota legislatif/wakil rakyat kota Balikpapan mengenai prioritas antara anggaran penanganan banjir dan anggaran pembangunan gedung baru DPRD, kala banjir masih menggenangi beberapa kawasan di kota tersebut.

Sisi “positifnya”, setidaknya Abdulloh mengatakan pendapatnya secara jujur. Bukan malah bermanis bibir demi para warga Balikpapan yang jadi korban banjir, dan justru malah mengejar hal berbeda di belakang publik.

Di waktu yang hampir bersamaan, sebagian wilayah di negara bagian Texas, Amerika Serikat juga diporak-porandakan Badai Harvey, lalu dilumpuhkan oleh banjir besar yang lebih parah daripada di Balikpapan. Air belum lagi surut, muncul lagi masalah sosial baru di sana. Ketika seorang pemimpin gereja besar dan terkemuka, dituding kurang punya empati lantaran tidak tanggap membuka areal megachurch-nya menjadi tempat pengungsian para korban. Terlebih para lansia, wanita, dan anak-anak.

Mendapat tudingan sedemikian keras dan kontradiktif dengan reputasinya selama ini, Joel Osteen, sang pimpinan gereja langsung gelagapan memberi tanggapan.

Ada dua alasan yang disampaikannya. Pertama, ia menyebut gereja berkapasitas 16.500 orang itu juga rentan terancam dampak banjir, meskipun berada di kawasan yang relatif kering. Semestinya, tentu ada penjelasan teknis yang menyertai alasan tersebut.

Alasan kedua, dan yang kedengaran konyol hingga membangkitkan kekesalan masyarakat adalah, ia mengaku pihaknya tidak pernah diminta atau bahkan dikabari agar segera membuka pintu menampung para korban banjir. Pembelaan ini jelas tidak berarti sama sekali, sebab ada banyak tempat umum lain seperti rumah-rumah ibadah termasuk masjid yang langsung responsif menyediakan tempat berteduh sementara tanpa diminta oleh siapa pun.

Dari dua ilustrasi di atas, jangankan berbicara untuk lingkup sekota Balikpapan atau korban banjir Badai Harvey di Texas, keengganan untuk memberi dan berbagi juga terjadi di lingkup personal, antara kita dan orang atau makhluk lain. Hanya saja, kerap disalahpahami dan malah diperparah dengan stigma.

Selalu ada alasan dan latar belakang yang mendorong tindakan atau perbuatan seseorang. Selalu ada yang ingin dicapai, dirasakan, maupun diperoleh dari tindakan atau perbuatan tersebut. Alasan dan latar belakang itu yang berubah menjadi kehendak, membuat seseorang mau melakukannya atau tidak.

Di tingkat paling mendasar, seseorang bertindak atau berbuat sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya, dan karena itu lazimnya setiap orang cenderung melakukan hal-hal yang akan menyenangkan dirinya saja.

Begitu pula saat memberi dan berbagi. Sejak kecil kita sudah diajari, bahkan didoktrin tentang pentingnya bersikap murah hati, menjadi dermawan, berbagi dan membantu sesama. Beragam dalil pun ditanamkan. Mulai dari budi pekerti dan penjelasan-penjelasan mengenai tata krama berkehidupan sosial (“membantu, siapa tahu nanti perlu bantuan”, “jangan pelit”, nama baik), sampai menggunakan perspektif agama (“tuhan memerintahkan umatnya untuk membantu sesama”, bernilai ibadah dan konsep pahala-dosa-surga-neraka, kekuatan doa orang-orang yang dalam kesusahan). Semuanya bermuara pada anggapan bahwa mereka yang memberi dan berbagi adalah orang-orang baik. Sebaliknya, orang yang tidak mau memberi dan berbagi adalah orang-orang tercela.

Foto: Acehinfo

Semua pengajaran itu yang terbawa sampai dewasa. Sehingga ada yang mau memberi dan berbagi untuk tujuan tertentu. Ada yang merasa senang saat melakukannya—entah apa pun bentuk perasaan senang tersebut (merasa sudah menimbun pahala; merasa sudah melakukan sesuatu yang sangat penting bagi orang lain; mendapatan popularitas dan kemasyhuran; dan sebagainya), ada yang melakukannya dengan pamrih, ada yang melakukannya karena merasa iba dan kasihan, tetapi ada juga yang melakukannya benar-benar demi membantu sang penerima lantaran menganggap tindakan itulah yang sepatutnya dilakukan.

Sementara seseorang tidak akan mau memberi dan berbagi apabila: (1) tak terasa menyenangkan baginya, atau (2) tak bermanfaat apa-apa bagi diri dan kehidupannya.

Misalnya, kenapa kita jauh lebih mudah memberikan tip di kedai kopi, atau meninggalkan uang kembalian setelah bersantap di restoran, dibanding memberikan receh kepada pengamen? Ya sesederhana kita memang tidak mau saja.

Di kafe dan restoran, kita merasa puas atas sajian dan pelayanannya. Kita memberi karena senang. Sedangkan kepada pengamen, kita seringkali merasa terganggu dan memberikan receh agar mereka lekas beranjak. Kecuali jika nyanyiannya bagus.

Egois? Tentu saja! Selama masih ada “aku”, setiap orang pasti egois dengan kadar yang berbeda-beda. Mulai dari yang paling kasar dan vulgar, sampai yang paling halus. Toh ketika seseorang berbuat baik dan mengharapkan pahala, ia jelas-jelas menginginkan kebaikan bagi dirinya. Bukankah itu juga termasuk EGOis?

Lalu, di manakah keikhlasan berada? Tampaknya mustahil ada pada kita, tatkala masih terbelit dengan alasan dan latar belakang, kehendak, dan niat dalam melakukan sesuatu.

Kalau mau memberi, ya beri saja. Sesudah itu lupakan.

Bisa?

Pada akhirnya, peduli setan dengan niat dan alasan yang mendorong seseorang untuk memberi dan berbagi. Sebab yang terpenting, orang-orang yang kesusahan sudah mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Perut yang lapar menjadi kenyang, kulit tubuh tak lagi menggigil kedinginan, pikiran yang tadinya kalut dan putus asa pun akhirnya kembali dipenuhi harapan… dan bantuan yang telah diberikan, setidaknya masih bisa diumumkan dan dikenang. Sampai dibuatkan monumen peringatan.

Terus, kenapa kok tidak membahas Rohingya dan rencana aksi pengepungan Borobudur?

Males…

[]

Iklan

9 thoughts on “Jangan Paksa Aku Jadi Dermawan

  1. Mas Gono, kamu makan apa sih Mas?
    Atau rutinitas, aktivitas yg kamu lakukan sehari-hari apa? Aku penasaran, pemikiran yg kamu tuliskan itu sangat mencerahkan jiwa utk bisa direnungkan di kehidupan sehari-hari.
    Semoga segala yg baik, mulia dan bijak selalu dikuatkan dalam dirimu ya.
    Terima kasih banyak

    Suka

    1. Saya ya makan nasi, kadang-kadang makan angin juga. Hahaha!

      Terima kasih untuk semua harapan-harapan baiknya, semoga juga mendapatkan hal yang sama.
      Terima kasih sudah membaca, dan semoga bermanfaat ya. 🙂

      Suka

  2. “Kalau mau memberi (sedekah), ya beri saja. Sesudah itu lupakan! Tuhan bukan manajer keuangan kita.” (kalau ini mah nyinggung format sedekah yang imbalannya xxxxxxx kali).
    Tapi memang kita ndak bisa begitu saja menafikkan fakta, seringkali rejeki tiba-tiba menghampiri, yang mungkin (memang) karena doa baik dari yang pernah kita tolong.
    Btw, makasih tulisannya kak Gono.. Jadi penasaran apakah kamu seorang overthinker n deep loner, coz it’s always thoughtful. 🙂

    Suka

    1. Ada yang menyebutnya “…karena doa baik dari yang pernah kita tolong.” Kalau saya sih melihatnya alamiah, ada reaksi setelah aksi. 😀

      Overthinker and deep loner… Hmm…

      Terima kasih sudah membaca.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s