La La Land Yang Begitu Personal (Sampai Membuat Diri Akhirnya Terakui)

Selayaknya ratusan, mungkin ribuan orang, yang kuat melek hari Sabtu lalu, saya bergegas menyaksikan film La La Land di bioskop terdekat. Pertunjukan midnight show, mulainya jam 12 malam kurang beberapa menit. Supaya tidak tertidur di dalam bioskop, saya minta Dragono menemani.

Ternyata banyak teman, kenalan dan relasi yang saya jumpai di bioskop tersebut. Semuanya sama-sama sudah tidak sabar menunggu film ini hadir di layar lebar. Semuanya sudah mengaku membekali diri dengan kopi sebelumnya, atau apapun yang bisa menahan kantuk.

Toh hampir semua bekal itu tidak berguna. Saat layar dibuka dengan tulisan dan logo Cinemascope yang mengawali film, sontak saya duduk tegap di kursi. Mata terpaku. Bibir mulai tersenyum.

Lalu kamera mulai bergerak menyusuri mobil-mobil yang berhenti di tengah kemacetan jalan bebas hambatan di Los Angeles. Hampir semua orang bersimbah keringat. Seorang perempuan membuka pintu mobil. Dia mulai bersenandung. Tiba-tiba semua orang mengikuti alunan nada yang didendangkan. Satu orang mulai menari. Diikuti yang lain. Dan adegan kemacetan tadi berubah menjadi adegan pembuka film yang menakjubkan, salah satu yang terbaik di film musikal abad ini sejak overture di Nine atau lagu “Good Morning, Baltimore” di Hairspray beberapa tahun silam.

Dan sepanjang 2 jam berikutnya, mata saya enggan beranjak sedetik pun dari layar bioskop. Melihat Emma Stone dan Ryan Gosling bertemu, bercinta, bernyanyi, berdansa, bertengkar, berpisah, berfantasi, semuanya tak luput membuat perasaan kita sebagai penonton ikut melambung tinggi. Kita benar-benar masuk ke dalam dunia fantasi yang diciptakan Damien Chazelle sebagai sutradara dengan penggarapan penuh detil teliti.

Di sini saya tidak akan mengulas film ini. Seperti biasa, saya ingin sekedar berbagi perasaan. Namun berbeda dengan sebelumnya, perasaan ini akan terdengar sangat personal.

Kenapa personal?
Karena saya memilih untuk tumbuh dengan film musikal.

Sepanjang film La La Land, tanpa harus mengurangi kenikmatan menonton, dan bahkan tanpa berpikir, tiba-tiba saja saya tersenyum riang, karena tahu dari film musikal apa saja saya pernah melihat adegan-adegan yang ada di film ini. Tanpa disengaja. Tanpa niat untuk berpikir. Ternyata sudah terpatri di memori.

landscape-1468420673-la-la-land-4

Damien Chazelle memang membuat La La Land sebagai homage atau penghormatan untuk film-film musikal di abad 20. Yang saya tidak menyangka, hanya dalam satu film, dia bisa melakukan tribute sekaligus untuk film-film musikal dari tahun 1930-an sampai 1970-an.

Kontrasnya warna yang didominasi warna pastel dan gerakan dinamisnya membuat saya menjerit, dalam hati, “Ini seperti film-filmnya Jacques Demy, yang The Umbrellas of Cherbourg dan The Young Girls of Rochefort!”

Lalu pertama kali Ryan dan Emma berdansa di pinggir jalan, gerakan mereka mengingatkan saya akan film-film hitam putih Fred Astaire dan Ginger Rogers, meskipun Ryan tidak mengenakan jas dan Emma tidak mengenakan gaun penuh hiasan. Toh kemiripannya tampak terasa secara kasat mata dan kasat memori.

Bagian John Legend mengingatkan sedikit era-era rock musical tahun 1970-an macam Tommy atau The Rose.

Langit biru dan lampu jalanan seolah diambil dari susuran jalan di film An American in Paris. Saya berharap Ryan Gosling bisa berdansa seperti Gene Kelly. Memang mustahil. Gene Kelly tetaplah the best dancing actor in the world who can exude elegance, grace and manliness at the same time.

Di bagian-bagian akhir film, saya seperti kelimpungan sendiri.
Nyaris terlewat, di adegan fantasi, ada adegan pertemuan di kafe dengan dominasi warna merah, yang membuat saya kembali menjerit dalam hati, “Ini persis waktu Gene Kelly dan Cyd Charrise di Singin’ in the Rain! Terus diulang lagi di The Band Wagon!”

Berlanjut adegan kecil saat Emma dan Ryan berjalan di antara potongan karton yang menjadi latar belakang mereka, saya pun tiba-tiba teringat, “Ini ada di A Star is Born yang Judy Garland! Ada juga di Funny Face-nya Audrey Hepburn!”

Lalu pertemuan Emma dan Ryan kembali, mengingatkan akan plot film Casablanca, dan tentu saja, The Umbrellas of Cherbourg lagi.

Begitu film selesai, lampu bioskop dinyalakan, saya tak kuasa untuk tepuk tangan. Tepuk tangan yang beberapa hari kemudian saya sadari, bahwa itu ditujukan untuk diri sendiri.

Entah kapan saya mulai suka menonton film musikal. Padahal waktu kecil, akses untuk menonton film ini susah sekali. Saya tidak lahir dan besar di kota yang akses hiburan filmnya lengkap. Kalaupun ada, sewa kaset Betamax lebih sering digunakan untuk menonton film Indonesia tahun 1970-an, film silat Hong Kong, atau James Bond.

Lalu saat VCD mulai marak, pelan-pelan saya mulai tertarik dengan film-film lama. Lama-lama, mulai mencari film musikal. Tak terasa saya lebih sering menonton film musikal dibanding yang lain. Semakin tak terbendung waktu akses film secara legal saya dapatkan waktu pindah ke negara lain selama beberapa waktu.

Sengaja saya pilih mata kuliah tentang film, walaupun itu bukan jurusan saya. Sengaja saya pilih membuat paper tentang analisa film musikal buatan tahun 1960-an. Padahal itu cuma alasan saja supaya bisa menghabiskan akhir pekan di perpustakaan. Sampai akhirnya analisa saya mengerucut pada West Side Story, My Fair Lady, dan Funny Girl.

Setelah selesai kuliah, di masa-masa belum mendapatkan pekerjaan, saya membagi waktu dengan cara: pagi adalah waktu mengirimkan lamaran kerja, siang pergi keluar kalau ada interview, kalau tidak ada, ke perpustakaan kota meminjam DVD film-film lama (sebagian besar musikal tahun 1930-an sampai 1950-an), kebanyakan musikal, lalu malam menonton film-film tersebut di rumah.

Ketika akhirnya bekerja, waktu mulai berkurang. Substitusinya? Membeli DVD dan blu-ray, atau mengunduh film-film lama, lalu ditonton kalau ada waktu. Meskipun frekuensinya jauh berkurang. Meskipun semakin banyak distraksi baru yang tak pernah ada atau terpikirkan sebelumnya.

Toh semuanya muncul kembali saat menyaksikan La La Land akhir minggu lalu. Film itu semacam memberikan justifikasi, bahwa pilihan yang saya buat untuk menonton dan menyukai film-film musikal lama, finally it pays off.

Selama dua puluh tahunan baru mulai menyukai genre ini membuat saya kadang merasa left out. Tidak banyak teman yang mempunyai kesamaan yang mirip. Pilihan yang aneh, itu komentar yang beberapa kali saya dengar.

Tapi paling tidak, di saat end credit La La Land selesai, saya tidak merasa sendiri.

Saat kita menonton film, yang kita rasakan dari film itu adalah pengalaman kita sendiri. Meskipun kita menontonnya beramai-ramai atau berdua. Filmgoing is always a subjective experience. Kadang kita tidak enak kalau kita suka sama yang kita tonton, sementara teman menonton kita tidak suka. Atau sebaliknya. But in the end, you cannot cheat yourself of what you like the most.

Dan di saat itulah, di saat kita akhirnya menemukan jawaban kenapa kita menyukai apa yang kita sukai selama ini, apalagi lewat sebuah film dan sebuah pengalaman menonton yang menyenangkan, that’s when you find the magic in movies.

Thank you, La La Land.
You make your audience really Someone in the Crowd in City of Stars.

Iklan

7 thoughts on “La La Land Yang Begitu Personal (Sampai Membuat Diri Akhirnya Terakui)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s