(Susahnya Cari) 10++ Film Paling Berkesan Di Tahun 2017

The inevitable has happened.
Yang saya pikir tidak akan mungkin terjadi, akhirnya terjadi juga.
Apakah itu?

Saya jarang ke bioskop.
Oke, mungkin kata “jarang” di sini bukan berarti hampir tidak pernah. Mungkin yang lebih tepat, frekuensi pergi ke bioskop untuk menonton film berkurang cukup signifikan. Jumlah film yang saya tonton di bioskop berkurang sangat banyak. Untuk pertama kalinya, angkanya sedikit di bawah 100.

Sementara jumlah film, di luar serial televisi dan stand-up comedy, yang saya tonton di aplikasi streaming meningkat pesat. Jumlahnya tidak perlu saya sebutkan dengan pasti. Let’s just say, lebih sedikit dari 3 kali lipat angka untuk film yang ditonton di bioskop.

Saya masih mencintai aktivitas menonton film di bioskop. Masih belum ada yang bisa mengalahkan sensasi menonton film di layar lebar dengan kualitas gambar dan suara yang prima. Kita lebih bisa berkonsentrasi menonton di bioskop dengan baik ketimbang menonton di rumah. The social experience of filmgoing in cinema remains unbeatable.

Hanya saya, akhirnya saya punya non renewable source bernama waktu. Kalau harus memprioritaskan antara menonton good content at home dan mindless content at cinema, maka saya akan memilih yang pertama. Jujur saya akui, tawaran film di bioskop lokal tahun ini cukup underwhelming. Sementara film-film yang tidak tayang di bioskop kita namun diputar di aplikasi streaming, sebagian besar dari mereka overwhelmingly good, terutama dalam hal storytelling.

Maka untuk pertama kalinya juga, saya akan menggabungkan daftar film-film yang saya tonton di bioskop dan di aplikasi video streaming menjadi satu daftar singkat film-film yang paling berkesan saat ditonton di tahun 2017. Aturannya cukup simpel:
• film dirilis di bioskop lokal untuk pemutaran umum di tahun 2017 (saya exclude film-film yang diputar di festival film yang diadakan tahun ini)
• film dirilis untuk pertama kalinya di aplikasi video streaming legal yang ada di Indonesia (saya menggunakan Netflix, Amazon Prime Video, iflix, Hooq, dan pembelian berkala di Google Play dan iTunes Store Indonesa)

Ada beberapa film yang rasanya susah saya lepaskan dari kerangka “top 10” pendataan, karena mereka juga memberikan kesan yang mendalam saat ditonton. Yang saya lakukan adalah mencari kindred spirits dari film-film tersebut, dan menempatkan dalam angka yang sama.

Apa saja film-film itu? Ini dia:

• (sepuluh) • Istirahatlah Kata-Kata & Marlina the Murderer in Four Acts

Kiri: Istirahatlah Kata-Kata (source: pardo.ch)
Kanan: Marlina the Murderer in Four Acts (image: thejakartapost.com)

Dua film yang sekilas terasa jauh sekali paralelnya. Namun jika kita lihat lagi, film ini mempunyai banyak kesamaan. Sama-sama menampilkan karakter utama yang terjepit, meskipun mengkonfrontasi masalah mereka dengan cara yang berbeda-beda. Sama-sama memilih untuk banyak ‘diam’ dengan efektif. Tetapi yang saya suka dari kedua film yang sangat well-thought-of ini adalah, they both know what to shoot. Both films know how to frame their scenes. Setiap adegan yang direkam kamera nyaris tidak ada yang terbuang percuma, karena hampir semuanya efektif dalam bercerita. Two films at almost polar extremes, but two films that remain one of the best our cinema have ever made.

• (sembilan) • Whitney: Can I Be Me

Whitney: Can I Be Me (source: dogwoof.com)

Cukup banyak dokumenter musik yang saya tonton tahun ini, tapi yang membuat saya terhenyak hanya film ini. Sutradara Nick Broomfield memang mempunyai akses footage asli Whitney Houston yang mungkin bisa membuat iri pembuat film lain. Tapi di tangan pembuat film lain, mungkin film dokumenter ini tidak mempunyai emotional punch yang kuat, seperti yang ditampilkan film ini apa adanya, tanpa harus mengeksploitasi atau memanipulasi mereka yang diwawancarai. Sisi lain Whitney Houston, yang membuat hati kita mencelos, akhirnya bisa ditampilkan dengan utuh di sini. Documentary-wise, this is Whitney’s own “Amy.

• (delapan) • The Lego Batman Movie

The Lego Batman Movie (source: BusinessInsider.com)

Masih ingat dengan film ini? Mungkin sebagian dari kita sudah lupa, karena memang film ini hadir di awal tahun, bukan di waktu yang lebih family-friendly, seperti tengah tahun saat liburan sekolah. Dan memang, hasil secara komersial di sini kurang menggembirakan. Toh film ini tetap membuat saya terbahak-bahak, sekaligus kaget. Kenapa kaget? Karena banyak lapisan cerita tentang the need to acknowledge and regard your enemies to live yang disampaikan dengan baik, lewat humor absurd, dan mudah dimengerti. An unexpected triumph.

• (tujuh) • A Death in the Gunj & Newton

Kiri: A Death in the Gunj (source: IndiaToday.in)
Kanan: Newton (source: rediff.com)

Tahun 2017 bukanlah tahun yang baik untuk film Hindi. Banyak film mainstream yang “gatot”, baik dari segi artistik maupun komersil. Dari sedikit yang berhasil lewat jebakan ini, ada dua yang sukses menghinggapi pikiran saya cukup lama setelah selesai menonton. A Death in the Gunj adalah film berbahasa Inggris tentang tragedi yang menimpa sebuah keluarga saat mereka berlibur di kota Gunj tahun 1979, lengkap dengan segala intrik coming of age beberapa karakternya. Newton bercerita tentang petugas pemilihan umum idealis yang harus mengumpulkan suara penduduk di daerah konflik. Keduanya sama-sama film “kecil” yang berbicara cukup lantang tentang the changing of society di dua era yang berbeda. Dan keduanya sama-sama menempatkan human and humanity right in front of and the centre of the story. Keduanya juga tidak terburu-buru dalam bercerita, sehingga leisure pace yang mereka ambil semakin membuat kita menyukai karakter-karakter yang ditampilkan.

• (enam) • Arrival

Arrival (source: FilmInquiry.com)

Meskipun Blade Runner 2049 lebih megah dalam segi visual efek dan sinematografi, nyatanya film karya Denis Villeneuve sebelumnya yang meninggalkan kesan paling dalam. Arrival hadir di awal tahun ini. Namun sensasinya masih terasa sampai di penghujung tahun. Sebuah film sci-fi yang tidak hanya membuat kita terkesima, tapi juga memikirkan dan mempertanyakan kembali konsep kemanusiaan yang selama ini kita yakini. Bonus point juga bahwa film ini, di antara sedikit film lainnya, yang membuat kita harus mencari bioskop dengan kualitas suara terbaik untuk menikmati setiap sensasi tata suara filmnya.

• (lima) • Our Souls at Night

Our Souls At Night (source: Aspekt.Nu)

Nobody makes film like this anymore. Dan di sinilah Netflix beserta pasukan aplikasi video streaming lain hadir untuk menyelamatkan jenis film drama dewasa seperti ini, yang masih ditunggu dan mempunyai pangsa pasar penonton yang setia menunggu. Mungkin terakhir kali kita bisa dibuat “klangenan” dengan romansa a la Our Souls at Night ini adalah saat Clint Eastwood bercumbu dengan Meryl Streep dalam Bridges of Madison County. Demikian pula dengan Jane Fonda dan Robert Redford yang mensahkan bahwa cinta bisa hadir kapan saja, di mana saja, dan bisa diusahakan. Film yang menawarkan cinta apa adanya, tanpa berlebihan. Ritesh Batra continues his winning streak after The Lunchbox, The Sense of an Ending, and now, this lovely work.

• (empat) • Posesif

Posesif (source: CNNIndonesia.com)

Film yang, kalau mengikuti istilah zaman now and then, totally caught me off guard. Saya tidak tahu banyak dan tidak mencari tahu tentang film ini sebelum menontonnya. Tetapi dengan metode yang sama, sering kali film yang saya tonton berakhir mengecewakan. Tidak untuk film ini. Meskipun ada beberapa bagian cerita dan karakterisasi yang, kalau mengikuti logika, bisa dirombak supaya bisa lebih proper (whatever that is), toh film ini masih tetap mencengangkan dalam konteks yang baik. Film ini unggul karena mengangkat isu yang nyaris terlewatkan secara kasat mata: kekerasan dalam hubungan asmara antar remaja. Teenage love story is a staple in storytelling, terutama di media hiburan kita. Namun sisi lain dari kisah kasih tersebut, tak banyak yang mau mengungkapkannya. Film ini hadir dengan konsep kuat, penampilan prima dari hampir seluruh pemerannya, dan pembuatan yang sangat baik. One of the best Indonesian films in recent memory.

• (tiga) • Wind River

Wind River (source: NPR.org)

Another winning surprise. Taylor Sheridan, sutradara film ini, adalah penulis skenario film gacoan saya di Oscar tahun lalu, yaitu Hell or High Water. Film tentang pencurian bank yang bertutur secara efektif tentang karakter-karakternya. Namun dalam Wild River kali ini, Taylor ups his ante. Film thriller yang bercerita dengan efektif tentang the beast within humans yang mungkin terjadi di antara kita. Terasa berlebihan uraian psikologis singkat saya? Coba tonton saja film ini. The seemingly and deceivingly simple action whodunit mystery actually reveals much about crime and humanity. Film yang membuat kita merasa tegang sepanjang durasi ceritanya, dan salah satu yang terbaik yang pernah dibuat.

• (dua) • Coco

Coco (source: Pixar.wikia.com)

Film yang membuat saya menangis, dan rela saat airmata tumpah karena ceritanya yang luar biasa. Entah bagaimana bisa Pixar kembali sukses menerjemahkan konsep hidup yang terdengar sulit, menjadi sebuah tontonan yang menakjubkan. Seperti Inside Out yang sebenarnya mengenalkan anak-anak kepada isu kesehatan mental, maka Coco selangkah lebih berani menghadirkan konsep bahwa memaafkan adalah pilihan. Bahwa konsep “forgive and forget” yang selama ini diagung-agungkan orang dewasa, ternyata tak selamanya berbuah manis. Sebagai orang yang meyakini hal ini, Coco berhasil membuat saya trenyuh. Ditambah lagi dengan pencapaian efek visual yang semakin nyaris sempurna, dan lagu tema yang mengharukan, Coco termasuk film favorit Pixar saya sepanjang masa.

• (satu) La La Land

La La Land (source: The Hollywood Reporter)

This is it. Tidak ada film lain di tahun ini yang membuat saya terkesima, tertegun, terbuai dan terpaku sepanjang film, meskipun sudah berulang kali ditonton di layar lebar. Tidak ada film lain di tahun ini yang membuat saya tersenyum dan terharu di saat yang bersamaan, because of the magic. This is magical filmmaking at its best. Seperti yang pernah saya tulis di sini di awal tahun, La La Land terasa istimewa karena kedekatan saya dengan format filmnya. Tapi lepas dari itu, setelah saya menontonnya lagi di rumah, film ini masih terasa istimewa, karena keberhasilannya membawa kita lepas sejenak dari kepenatan dunia yang terlampau pekat akhir-akhir ini. And the film excels in being the right one at the right time. Film seperti La La Land tak akan hadir setiap tahun. Dan itu yang membuatnya semakin terasa istimewa.

Tunggu.

Masih ada lagi.

Dari 10+ film yang paling berkesan ditonton di tahun 2017, manakah yang menjadi film favorit saya tahun ini?

Sayangnya, film favorit saya tahun ini tidak ditemukan di bioskop lokal maupun aplikasi streaming legal di sini. Saya mendapatkannya lewat jalur tidak resmi, dan untuk kasus film ini, it’s worth doing the hassle.

Film favorit saya tahun ini adalah The Big Sick yang diangkat dari kisah nyata penulis skenarionya, komedian Kumail Nanjiani dan istrinya, Emily V. Gordon. Film komedi humanis yang terasa dekat dengan kita, karena menyentil hubungan kemanusiaaan yang sangat universal. Adegan favorit saya ada di bagian menjelang akhir film, saat Kumail akan pergi meninggalkan orang tuanya untuk pindah ke kota lain. Sang ayah menghampiri, sambil mengantarkan kotak makan siang untuk Kumail, karena ibu Kumail masih marah akan kepindahan Kumail, tetapi masih insists agar Kumail tidak lupa makan siang. Any mother and anyone with mother would surely laugh and be able to relate to that scene.

The Big Sick (source: AustinChronicle.com)

Apa film-film favorit Anda tahun ini?

Advertisements

24 thoughts on “(Susahnya Cari) 10++ Film Paling Berkesan Di Tahun 2017

  1. Pingback: #RekomendasiStreaming – Tontonan Libur Lebaran 2018 Yang Mencerahkan | linimasa

  2. Coco!
    Film yg mengandung bawang.
    mungkin karena gw selalu jd sentimental sama semua cerita yg berbau keluarga.
    Ga nyesel nonton di bigscreen 2x. Worth every penny. 🙂

  3. Akhir tahun lalu saya pernah komen di salah satu tulisan mas Nauval, bahwa saya pengen nonton film di bioskop lebih sering. Ternyata kesampaian. Semoga tahun depan lebih sering lagi.

  4. The Big Sick, Get Out sama It.
    Our Souls at Night ternyata bagus ya? Gw baca bukunya karena penasaran buku ini ditulis Kent Haruf menjelang akhir hidupnya.

    • It bagus juga ya. Horror yang well-made. Get Out juga.
      Our Souls at Night menurutku bagus. Pelaaan banget. Tapi justru alon-alon asal kelakon-nya ini yang bikin betah buat ditonton.

Leave a Reply