Menjelang akhir tahun, beragam bidang kehidupan yang berhubungan dengan gaya hidup mulai memberikan aba-aba dan panduan untuk tahun depan. Yang terdepan pastinya fashion, diikuti dengan kuliner, musik, film, acara TV, dan tentunya aktivitas digital dan internet. Secara garis besar semua seperti memberikan tanda-tanda yang mementingkan kemasan dan tampilan ketimbang isi atau konten.

Di dunia fashion misalnya, akan semakin sering kita temui pakaian dengan disain kekinian tapi mungkin kurang nyaman untuk dikenakan atau menggunakan bahan yang tak ramah tubuh. Musik, akan semakin bermunculan penyanyi yang mengutamakan atraksi panggung dan tampilan busana ketimbang suara yang memukau. Film yang mengepankan sensasi rasa dan keseruan ketimbang pesan. Makanan pun akan semakin banyak yang memiliki tampilan menarik ketimbang rasa yang otentik. Silakan temukan sendiri di sekitar kita. Ini tentunya bukan menyamaratakan, tapi berupa kecenderungan.

Kaum intelektual, berwawasan, berpengalaman pun belakangan lebih sering bersuara. Secara garis besar mengkritik keadaan ini. Bukan hal baru, toh ini semua sudah dimulai dari tahun 80’an dan semakin menguat di awal 200an. Sensasi yang terlihat untuk memanjakan mata tanpa perlu berpikir terlalu lama. Kalau perlu tidak usah berpikir sama sekali. Karena pikiran sudah terlalu penuh di pekerjaan. Mencari uang untuk bisa memenuhi hasrat mengikuti perkembangan trend.

Walau gerakan untuk melawan dan menuntut konten berbobot menggonggong, tetap saja generasi kemasan berlalu. Dari segi bisnis pun, generasi kemasan semakin menunjukkan kedigdayaannya. Memamerkan kekuasannya untuk mempengaruhi. Dan kekuatannya untuk menguasai.

“Duh bok, gak usah kebanyakan mikir, capung!” (capung = capek) atau “jangan kebanyakan dibahas kayak orang susah!” Semakin sering kita dengar. Sebagai ungkapan keinginan untuk menikmati hidup semaksimalnya. Perlahan namun pasti, sikap ini pun menyelinap ke sendi-sendi penting dan (tadinya) sakral di kehidupan. Seperti cinta dan pernikahan. Perlahan tak lagi sakral. “Gak usah susah, kalo gak cocok cari aja yang lain”. Pekerjaan? “Kurang cucok neik, capcus cari kerjaan lain banyak.” Agama, “aku sih ya percaya sama Tuhan tapi sering gak sreg sama ajaran agamaku.” Dan masih banyak lagi.

Janji di depan Tuhannya untuk tidak korupsi dan mengedepankan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, pun sudah sering dilanggar. Apalagi janji di depan Penghulu. Apalagi janji di depan boss. Apalagi janji di depan klien. Di depan teman. Di depan orang tua dan berujung melanggar janji di depan diri sendiri.

Sebelum 2016 dimulai, berhati-hatilah membuat resolusi. Bukankah kecenderungan untuk melanggar lebih besar ketimbang patuhnya? Lagian resolusi diri, hanya diri sendiri yang tau. Yang pake pengumuman dan undangan ke ribuan tamu saja sering dilanggar kan?

Tulisan ini pun tak hendak mengajak pembaca untuk mulai mencari konten dan isi. Apalagi berharap untuk setia pada janji. Apalah artinya deretan kata-kata dari penulis yang juga sering melanggar dan berpindah haluan sekena hati. Lebih kepada mengajak untuk mawas. Setidaknya, saat kita melakukannya kita sadar. Kita sedang memanjakan mata saja bukan otak apalagi batin. Kita sedang melanggar janji di hadapan Tuhan. Kita sedang berbohong kepada diri sendiri. Kita sedang mengedepankan pencitraan. Karena hanya dengan menjaga kesadaran dan mawas diri, setidaknya kita bisa menjaga diri jangan sampai terjerumus ke lembah yang terdalam bernama “halusinasi”.

Kondisi S.O.S masa kini sebagai akibat Style Over Substance.

maxresdefault-2

Posted in: @linimasa

8 thoughts on “S.O.S Leave a comment

Leave a Reply