Bicara Dengan Anak Gadisku

Sebelum jam 6.45 pagi aku harus sampai di depan sekolah Sekar. Rumah kami hanya berjarak sekitar 2 menit berkendara ke sekolahan. Jadi, mungkin saja kami bangun paling siang ketimbang kawan-kawannya. Sekitar 10 meter dari gerbang sekolah:

“Aku turun sini aja Om!”
“Loh, kenapa?”
“…ga apa-apa.”

Sekar seketika buka pintu mobil. Ia berlari masuk. Lalu bayangannya ditelan kerumunan anak lain ndak jauh dari tempat mobil kami berhenti.

Semua orangtua jadi amatir waktu berhadapan dengan remaja putri. Makhluk ini beda banget. Hidup mereka sudah cukup berat menghadapi permainan hormon. Perubahan fisiologi dan emosional juga mempengaruhi komunikasi dengan sekitarnya. Termasuk kita, orangtuanya.

Kita semua mau tau apakah anak kita benar-benar bahagia? Bisakah kita terlibat dalam hidupnya? Apa yang sebetulnya ia hadapi di sekolah? Gimana caranya menunjukkan minat kita soal kesehariannya tanpa divonis ganggu? Apa yang ia rasakan? Bagaimana ia menghadapi cinta?

Ini cuma sebagian pertanyaan dari orangtua soal anak gadisnya. Percayalah, cuma sebagian kecil. Masih ada jutaan pertanyaan lain yang belum terjawab. Setelah menerima perlakuan Sekar tadi, aku sadar, pertanyaan sesungguhnya adalah: “Gimana caranya supaya anak kita mau bicara tentang hidupnya?

Aku ndak segera ambil tindakan. Apalagi marah. Lagian, ndak ada yang salah. Mari kita sederhanakan keadaan: anak gadisku menyembunyikan perasaannya karena aku.

Pertama. Cari waktu yang pas. Kesalahan orangtua biasanya dimulai dengan mau tau sekarang juga. Padahal, etika berlaku baik untuk anak maupun orangtuanya. Kalau kita butuh waktu untuk menjelaskan soal perceraian. Anak juga butuh waktu kapan ia bisa mempercayai orangtuanya soal menstruasi. Ya, apapun yang terjadi dengan orangtuanya, anak juga mau tau sekarang juga! Kalau kita merasa “tapi, mereka belum paham…” Mereka juga berhak merasa “Mama ndak ngerti perasaan aku.

Dua. Curhat. Berceritalah. Keluh kesah kita biasanya meruntuhkan tembok komunikasi. Anak-anak akan merasa dibutuhkan dan sejajar dengan orangtuanya. Mereka mau diyakinkan kalau kita sama manusianya dengan mereka. Kita semua punya masalah yang belum terpecahkan. Dan kita pernah selamat dari rangkaian masalah sebelumnya. Ini bahan paling berharga untuk anak. Mereka mau tau, kenapa kita yang ditunjuk alam sebagai orangtuanya. Jawabannya gampang: “Papa-mama diusir dari rumah. Dikeluarkan dari sekolah karena pilih membesarkan kamu.

Tiga. Jangan menghakimi. Apapun yang sudah terjadi dengan anak kita, ndak akan berubah. Ini hukum alam. Menyalahkan mereka ndak pernah memecahkan masalah. Justru memperkeruh keadaan. Saat ia mau terbuka, menghakimi adalah tindakan paling bodoh yang orangtua lakukan untuk anaknya. Yang mereka butuhkan; masukkan kita untuk menghadapi kelanjutannya. Bagaimana menyusun prioritas dan strategi yang bagus supaya masalah yang sama mudah diatasi. Bukannya kita pernah hidup lebih lama dari mereka?

Empat. Jangan ikut campur. Berikan kepercayaan mereka untuk memecahkan masalahnya sendiri. Jangan salah. Seringnya orangtua yang harus belajar dari anak gadis kita dalam memecahkan masalah. Mereka lebih mampu beradaptasi atas perubahan jaman ketimbang generasi yang acara TV masa kecilnya cuma TVRI. Kepercayaan adalah modal berharga setelah berbagi. Ajari Wushu supaya ia bisa menghancurkan testikel laki-laki cabul yang diam-diam mengincarnya sepulang sekolah.

Aku butuh tiga hari untuk menemukan waktu yang pas. Sambil menikmati Salmon Lemon Miso di Restoran Umaku. Angin AC dan remang matahari dari luar menyejukkan suasana. Aku mulai duluan.

“Kak, Om Gendut kan bulet tuh ya dari lahir. Jadinya, suka diledek gitu di sekolah.”
“Diledek gimana Om?”
“Ya gitu. Om duduknya sendiri karena ndak cukup kalo berdua.Terus diejek-ejekin deh…”
“Om Gendut malu?”
“Tadinya iya. Tapi masa malu terus? Om ndak jadi kurus juga gara-gara malu.”
“Temen aku juga ada yang gendut. Richard.”
“Kakak ejek?”
“Engga. Olivia tuh yang suka ngejek.”
“Waktu itu di sekolahan. Om ndak malu kok diejekin Olivia.”
“Iya aku tau. Kakak yang ndak mau Om Gendut diejek.”
“Kakak malu?”
“Engga. Aku nanti MARAH!

image
Wusu. Sumber: Google

Mungkin udah saatnya berhenti les Wushu kali ya….

Iklan

5 thoughts on “Bicara Dengan Anak Gadisku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s