Hai

(28 Mei 2015)

Sudah lima menit saya berdiri di kedai kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya, ada Kindle hadiah ulang tahun kemarin dalam genggaman. Saya meneruskan lagi membaca buku To Kill a Mockingbird, sebelum sekuelnya diriilis bulan Juli nanti.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca argumentasi Atticus Finch di buku ini. Saya menghela nafas. Antrian masih belum bergerak banyak.
Saya mendongakkan kepala.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Punggung itu terbalut dalam atasan biru tua sementara bawahannya warna abu-abu. Paduan yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Saya ragu, apa benar ini … dia?
Semakin ragu-ragu, ketika saya berusaha keras mengingat raut mukanya dulu. Dan ini aneh. Saya tidak bisa mengingat sama sekali. Kok bisa sih?
Saya coba ingat-ingat lagi acara ulang tahun saya beberapa tahun yang lampau. Waktu itu, pernah trip ke Taipei. Tapi itu sendiri. Sebelumnya pernah dibuatkan surprise party di Surabaya. Nah, yang bikin surprise party itu siapa? Mustinya dia sih. Tapi kenapa kok gak inget sama sekali ya?
Saya menundukkan kepala sebentar, agar kepala ini bisa mengarahkan pikiran untuk mendengarkan suaranya.
Latte, to go, extra shot, non-fat milk.
Saya mengangkat kepala sambil tersenyum.
Tidak salah lagi.
Terkesiap, saya kaget karena sadar saya bisa tersenyum saat ini.
Lebih kaget lagi, karena sekarang dia melihat saya tersenyum sambil berdiri memegang kopinya.
Lalu dia berkata, sambil tersenyum balik, “Hai.”
Saya jawab dengan senyuman lebar, sambil tersenyum, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)
(Photo by Nauval Yazid.)

(28 Mei 2012)

Sudah lima menit saya berdiri di kedai kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya, Blackberry saya sudah dalam keadaan fully charged. Saya membuka beberapa pesan yang tidak sempat terbaca waktu naik ojek tadi. Saya benci kalau sampai harus mati gaya ketika terjebak dalam antrian panjang dan, terus terang, tidak penting seperti ini.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca messages teman-teman, apalagi yang ramai berceloteh di groups. Astaga, orang-orang ini. Do they have a life?
Saya menghela nafas.
Antrian masih belum bergerak banyak.
Saya mendongakkan kepala.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, …
Ah, kenapa harus bertemu dia sekarang sih? Mana lagi acak-acakan begini pakaian saya.
Dan mengapa dia harus memakai atasan putih seperti itu sih?!
Wait a minute.
That looks familiar.
My goodness.

Itu kan baju pemberian saya dulu!
Kenapa dia tidak mengembalikan atasan putih itu? I mean, since I’ve returned every-single-thing that had been given to me … Good God. Some people have no bloody manner, indeed!
Tidak salah lagi. Ini pasti dia.
Saya menundukkan kepala sebentar, agar kepala ini bisa mengarahkan pikiran untuk mendengarkan suaranya. Lagi pula, terlalu pusing kepala ini memikirkan banyak hal.
Americano, mas. Take away.
Saya terperangah. Pandangan saya menerawang.
Ya Tuhan. Of all the times in the world, why now? Why bloody now?
Dan sekarang, dalam ketidaksiapan, tak sengaja mata kami bertemu.
Saya tidak tahu, harus tersenyum, atau harus berkata apa.
Buru-buru saya memalingkan muka.
Dia masih terpaku sesaat.
Tapi tak lama kemudian, dia pun memalingkan muka, meski terlihat aneh saat dia melakukannya.
Toh saya merasa lega, bahwa dia tidak mendengar saya berucap dalam bisikan lirih, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)
(Photo by Nauval Yazid.)

(28 Mei 2010)

Sudah lima menit saya berdiri di kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya sudah ada koran The Jakarta Post hari ini di sebelah tempat antrian. Tumben. Biasanya koran ini baru akan ada siang nanti.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca berita yang tersaji. Bahkan membaca tulisan sendiri di halaman 28 pun, yang keluar di depan mata hanya rangkaian benda-benda tak berbentuk.
Atau mungkin bukan sentuhan kopi yang saya cari? Mungkin bukan.
Dan membayangkan teori itu sendiri pun sudah membuat saya senyum sendiri. Tapi buru-buru saya mengeluarkan suara batuk kecil, supaya tidak dicurigai sebagai orang gila oleh orang-orang di dekat saya sekarang.
Lalu saya mengangkat kepala, melihat sekeliling kedai ini.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang belum pernah saya lihat sebelumnya, tapi intuisi mengatakan bahwa punggung ini adalah milik seseorang yang selama ini hanya saya lihat di foto yang dikirim lewat email.
Dia berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Apa benar ini dia?
Kaos kuning, celana jins biru tua. Persis seperti foto profile akun Twitternya. Dan bukankah ini juga persis seperti foto yang dia kirim semalam?
Hang on.
Saya keluarkan ponsel Nokia, lalu buru-buru saya ketik:
“Hey, sudah sampai? Kalo sudah, boleh minta tolong pesenin dulu, if you don’t mind? Cappuccino satu, minta susunya yang non-fat ya. Hehe. Thanks!”
Sent.
Kurang dari semenit kemudian, dia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Pemakai Nokia juga ternyata. Entah apa yang dia baca, tapi dia tersenyum.
Lantas dia memasukkan lagi ponsel itu.
Saya diam melihatnya.
Lalu saya teruskan membaca koran yang masih saya pegang. Saya menghela nafas.
Samar-samar terdengar suara, “Mas, cappuccino dua, satu pake susu non-fat, satunya lagi yang biasa. For here.”
Saya tidak bisa lagi menahan senyuman saya.
Buru-buru saya keluar dari antrian. Sekarang saya berdiri di belakangnya. Saya tepuk punggungnya di sebelah kanan pelan-pelan. Dia menoleh.
Dia tersenyum.
Saya tersenyum.
Seperti berebutan, kami saling menyapa, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)
(Photo by Nauval Yazid.)
Iklan

14 thoughts on “Hai

  1. Ping-balik: LINIMASASemata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s