Sudah terlalu lama Donnie menunggu di lobby. Supir dan mobilnya ndak juga datang. Atau hilang. Persetan. Toh ndak ada pertemuan penting atau kegilaan Jakarta lainnya sore itu.

Angin senja bertumbukkan di celah dua menara Bursa Efek Jakarta. Menukik ke lobby Pacific Place. Membuat hembusan agak kencang. Lalu melilit leher Haryo. Menerbangkan YSL M7 hibrida hormon laki-laki menembus hidung Donnie yang berjarak ndak lebih dari 8 meter di sisi kanannya.

Donnie: “M7?”
Haryo: “Apa?…. Oh. Iya. Kok tau?”
Donnie: (tunjuk hidung)

Buat Donnie, Gaharu, testosteron dan matahari sore adalah undangan. Haryo ndak tahu sama sekali apa yang sudah ia mulai. Seperti angin tadi. Alam memecahkannya dengan cara diluar nalar. Supir mereka saling bertabrakan di basement. Buat Haryo, peristiwa ini bukan sekedar kebetulan.

Haryo: “itu nomorku. Setelah dari bengkel jangan lupa telpon ya?”
Donnie: “Got it. M7!”
Haryo: (hahaha) “Haryo!”
Donnie: “halo Haryo… Donnie.”

Tiga jam setelah mereka berpisah. Lewat pesan WhatsApp.

Haryo: “Donnie. Ada nomor rekening?”
Donnie: “ndak ada. Aku maunya cash!”
Haryo: (hahaha) “I like you.”
Donnie: “I know.”

image

Sehari setelah mereka berpisah. Lewat pesan WhatsApp.

Haryo: “udah ke bengkel?”
Donnie: “harus ke bengkel gitu?”
Haryo: “ya enggak sih. Tapi gimana gantinya?”
Donnie: “kamu di mana?”

Tiga hari setelah mereka berpisah. Dharmawangsa Hotel. Donnie menyisipkan jemarinya melewati rambut Haryo berulang kali. Masih terasa saat kemerahan senja membakar ujung-ujungnya dan menyuguhkan wangi caramel gaharu yang mengundang. Ia lalu mengangkatnya pelan-pelan. Menyibak sejejar leher kokoh bertahta bulu-bulu halus yang berbisik demi sebuah ciuman. Mereka terpejam sesingkat bibir Donnie menelisir tepat di aliran nadi leher Haryo. Mereka belum juga membuka pelupuk mata waktu seketika berhadapan, memastikan dada-dada mereka bersentuhan. Dalam keadaan lekat, Haryo menempellan dua jari kanannya di dagu Donnie, ia amati berlama-lama. Menyungging senyum lewat matanya. Donnie tempelkan telinga di dada Haryo seperti memastikan apakah jantung masih mengalunkan derapnya. Gemuruh degup jantung berlomba dengan birahi dan nafsu alamiah yang saling-silang. Bersusulan merengkuh, mengakibatkan nafas-nafas pendek tersengal. Mereka tenggelam dalam permainan raba-pejam-kecup dan desah.

Sentuhan lembut jemari telah melunturkan kain-kain jahit yang membebat tubuh erat. Kulit mereka kini berakraban satu sama lain. Saling berkenalan memberi sapaan dan berciuman antar pori. Beradu peluh. Bertukar asin. Bagai anyaman bambu liar saling menjalin kaki. Menyilangkan kepala. Mendekap tangan-tangan membentuk tautan tak terpisahkan. Peluh melelehkan sinar lampu ke sekujur tubuh keduanya. Membuat mereka gemerlapan. Serupa indahnya bintang kemukus yang melesat manja memberi semburat temaram membelah langit utara. Donnie merentangkan tubuh Haryo selangkah mundur untuk melihat lebih jelas. Haryo terkejut manis memohon tubuhnya dilekatkan kembali pada permukaan kulit angkasanya.

Mereka berbincang hanya lewat dengus, dan mengartikannya dengan dua badan mengejan. Pilinan tubuh merayap lamban memenuhi ruangan. Meneteskan keringat pada permadani yang mulai berkerut-kerut mengikuti irama. Sesekali mereka menyakiti punggung untuk menahan kepayang yang memburu di sela-sela hentakan badan. Donnie tak sadar merengkuh rambut Haryo berkali-kali, demi kenikmatan aroma yang ia dambakan. Waktu, sofa, meja, dan daun palem ruangan terpaku iri akan kesiap erangan mereka. Hembusan angin tercipta bak pusara diatas tubuh yang bergerak rampak semakin cepat. Beraturan dalam akselerasi memuncak mengalirkan nikmat pada pembuluh-pembuluh haus yang berdenyutan kencang. Sepanjang malan…

Mentari mulai menelisip diantara gerai vitrage jendela seakan tak mau ketinggalan menikmati apa yang terjadi di dalam. Panasnya yang liar mendidihkan aliran darah. Membuat siapapun terbangun.

Haryo: “I have wife. And two kids.”
Donnie: “I have heart. And a daughter.”
Haryo: “sekali aja ya. Aku nggak ingin kamu salah sangka. I’m not like that. Ok?”

Satu tahun setelah mereka berpisah. Lewat pesan WhatsApp.

Haryo: “Donnie. Aku sudah cerai.”
Haryo: “Donnie. It’s M7.”
Haryo: “Don…”
Donnie: I have heart. And a daughter.

Posted in: @linimasa

15 thoughts on “M7 Leave a comment

  1. Untung gw bacanya Minggu malem.

    Hai, Bang Bangko. Kalo ke Bali lagi boleh dong jumpa fans. Gw traktir Irish coffee deh di pinggir pantai Mertasari, Sanur. Boleh ya.

      1. Yah. Hayati sedih, Bang )=

        Tapi serius. Kalo ke Bali lagi & berkenan sebabi-duababi, atau sepitcher-duapitcher arak madu, boleh lah kontak gw ya, Bang (=

Leave a Reply