Sok Tau 2015 (Bag. 2)

4. NOT SO FULL-TIME EMPLOYEE

Kemacetan membuat seorang teman setiap hari menghabiskan 6 jam di perjalanan bolak balik kantor rumah. 6 jam kali 25 hari kerja, 150 jam sebulan. Yang berarti sekitar 225 hari kerja, terpakai di jalan. Entah dedikasi atau kegilaan. Yang pasti ini, semakin banyak yang menyadari untuk mengakhiri. Sejak 3 tahun lalu beragam cara dilakukan. Buka bisnis sendiri dan jadi freelancer adalah dua pilihan utama. Tapi tahun ini rupanya menjadi kembalinya mereka jadi karyawan kantoran lagi. Berat ya Cyin!

Tapi rupanya para bos dan pemilik perusahaan mulai menyadari ini juga. Jangan lupa, mereka juga harus melewati kemacetan yang semakin menggila. Siapa sih yang bisa tetap bersemangat kerja setelah 3 jam di kemacetan? Itu baru urusan pulang pergi kantor rumah. Belum kemacetan saat makan siang dan meeting di luar kantor. Hal ini disadari sebagai pemborosan uang dan waktu.

Beberapa tahun kemarin, mulai banyak co-working space bermunculan. Yang paling terkenal ada di Bali namanya HUBUD, di Jakarta namanya COMMA, di Bandung ada Bandung Digital Valey dan sebagainya. Apakah pengunjung semakin meningkat, tidak tahu. Yang pasti membuka pilihan untuk cara bekerja. Salah satunya adalah karyawan lepasan. Karyawan, tapi gak perlu ngantor setiap hari. Selama kerjaan selesai tepat waktu dan sesuai ekspektasi, beres! Bisa bekerja dari mana saja. Disertai deal-deal yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Misal, ada tunjangan yang dikurangi karena keleluasaan ini. Atau karyawan tersebut juga bisa cari sampingan selama bukan di perusahaan sejenis. Atur ajalah!

HUB

Sistem kerja seperti ini tentunya menuntut tanggung jawab dan kedisiplinan yang lebih tinggi. Biar bagaimana pun, tetap bekerja dalam sebuah tim. Yang saling berkepentingan satu sama lain. Dan kalau dikira bekerja di rumah itu enak, silakan coba aja. Cocok-cocokan lah… Yang pasti, kalau bekerja di cafe setiap hari, lebih baik ngantor setiap hari ketimbang bangkrut.

Potensi bisnis yang memudahkan kehidupan para pekerja yang mobile ini akan semakin semarak. Mulai dari delivery peralatan kantor, jasa kurir, internet cepat, penyedia tenaga hukum lepasan, konsultan finance dan sebagainya.

Tentunya tidak semua lapangan pekerjaan dan jabatan bisa memiliki kemewahan ini. Kalau pekerjaanmu belum bisa, balik lagi, coba dengar apa kata passionmu?

5. ENOUGH IS ENOUGH

Entah ada urusannya dengan gaya hidup sehat dan seimbang yang sedang booming, sekarang semakin sering ditemukan orang-orang yang tidak memiliki ambisi yang tinggi. “Gak perlu kaya lah, yang penting cukup!” kurang lebih begitu. Ada juga yang merasa perlu lebih banyak memberikan waktu untuk keluarga. Ketika ada tawaran posisi lebih tinggi dengan gaji yang tinggi, pertimbangan akan semakin banyak. Jauh dekat kantor. Jam kerja. KPI. Tidak lagi main asal ambil yang penting gaji gede, posisi mentereng. Bekerja kantoran dengan tekanan pekerjaan yang tinggi, disepakati bukan untuk semua orang.

Generasi Millenials yang disebut multi-tasking pun semakin menyadari bahwa kecerdasan dan kepandaian saja, ternyata tidak bisa menyelamatkan mereka di ranah korporasi. Satu persatu berguguran. Mulai dari sakit fisik, stress atau merasa tidak sesuai dengan “passion”.

Dilema. Antara keinginan untuk bekerja lebih santai dan seimbang dengan hasrat hedon dan ekesistensi, akan terus menjadi bentrokan yang menarik untuk diamati. Salah satunya jalan keluar adalah prinsip dasar ekonomi, mencari pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk hasil sebesar-besarnya. Ada yang cukup pandai dan berkah untuk mendapatkannya. Tentunya lebih banyak yang belum menemukannya. Semoga sukses!

126

Yang pasti, kebutuhan akan rileksasi semakin meningkat dan semakin muda pelanggannya. Pijat di Spa tentu sudah masa lalu. Beragam jenis terapi dan penyembuhan akan semakin banyak. Mulai dari menggunakan getaran, energi, dan dukungan alam semesta. Percaya gak percaya, karena ke tenaga medis tidak ditemukan gangguan penyakit apa pun. Pusat gangguan ada di pikiran dan jiwa. Kalau ingin mempelajarinya pun akan semakin banyak guru dan sekolah, di dalam maupun di luar negeri.

Bersiaplah mendengarkan kata-kata macam holistik, spiritual, keseimbangan, dan kearifan lokal di berbagai forum. Spiritpreneur? Holispreneur?

6. OVERSHARE IS OVER

Sejak media sosial tumbuh berkembang di tanah air kita tercinta ini, semua warga negara tampak meriah menyambutnya. Ada yang sinis tapi lebih banyak yang manis. Bagai masuk ke lahan bermain yang luas tak bertepi, semua beeksperimen dan bereksplorasi. Keyword pada saat itu adalah “SHARE”. Berbagilah di media sosial. Mimpimu, visimu, harapanmu, cita-citamu dan hidupmu. Karena universe (digital) akan mendukungmu. Dari sharing itu lah, sosial media pun mempertemukan orang-orang yang memiliki kesamaan.

Seperti biasa, kebablasan pun terjadi. Tenang, tak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Sharing alamat rumah, nama keluarga lengkap, no rekening bank, kartu kredit, harta kekayaan, selfie setelah ML, ukuran alat vital semua dengan mudah dicari di media sosial. Banyak tindakan kriminal terjadi dan media sosial disebut sebagai penyebabnya. Padahal, media sosial hanyalah media. Tempat. Semacam menyalahkan rumah saat pertengkaran suami istri di dalam rumah terjadi. Padahal penyebabnya adalah oversharing itu tadi. Bahasanya mungkin ‘bablas berbagi’.

overshare

Dua tahun belakangan ini, di banyak negara mulai mengkampanyekan “Stop Oversharing”. Ditujukan terutama untuk anak muda yang dianggap belum cukup bijak untuk memilah. Suara gerakan ini masih sayup walau perlahan makin keras terdengar. Diiringi kesadaran bahwa oversharing bisa merugikan diri sendiri, bukan tidak mungkin gerakan ini akan menjadi gerakan global berikutnya. Warna pitanya apa memang belum ditentukan.

Para pembicara, motivator, expert silakan bersiap-siap mempelajari materi ini. Tahun depan banyak panggilan! (Amin). Demikian pula untuk brand-brand yang ingin menungganginya, bisa mempersiapkan dan mengalokasikan budget dari sekarang. Dukungan dari pemerintah pun bisa dipastikan akan semakin memeriahkan kampanye ini.

Posted in: ringan

6 thoughts on “Sok Tau 2015 (Bag. 2) Leave a comment

  1. Berat ya, Cyin? he eh

    Solusi: 1. Cari kantor yang deket tempat tinggal 2. Cari kantor yang nyediain makan siang di kantor. 3. Cari kantor yang nyediain kegiatan yoga di kantor. Happy Ending 😄😄😄

Leave a Reply