650 Kata

Kapan terakhir kali Anda langsung tertidur pulas, kala tubuh sudah menempel di atas kasur?

Kapan terakhir kali Anda bangun dengan nyaman, tanpa langsung deg-degan dengan setumpuk kegiatan yang harus dilakukan?

Kapan terakhir kali Anda tersenyum pada diri sendiri, di hadapan cermin?

Kapan terakhir kali Anda tanpa sengaja merasakan lembutnya embusan napas, yang menyentuh ujung lubang hidung?

Kapan terakhir kali Anda hidup, untuk hidup?

***

Teringat salah satu poin dalam tulisan Ko Glenn; “Enough is Enough”. Saat generasi pekerja masa kini, merasa tenggelam dalam keletihan dengan mudahnya. Berbanding terbalik dengan perjuangan keras orangtua mereka dan orangtuanya orangtua mereka, yang bisa jadi jauh lebih memprihatinkan ketimbang saat ini gara-gara politik sanering, dipaksa eksodus besar-besaran karena keadaan, dan berbagai keterbatasan lainnya. Naga-naganya, saya adalah salah satu dari kelas pekerja yang mudah berkeluh kesah itu. Digenjot sedikit, sudah angkat tangan. Tapi enggan kalau belum mapan.

***

Hidup?

Melelahkan memang, hidup di masa yang serba materialistis seperti saat ini. Ketika kontradiksi tersaji setiap hari. Pertentangan terus terjadi antara keinginan dan beban. Antara harapan dan kenyataan.

Ajaran-ajaran moralitas mendorong semua pengikutnya untuk selalu bersyukur, berterima kasih atas segala berkah dan anugerah hidup, memetik hikmah dan nilai moral dari setiap peristiwa, benar-benar menikmati proses yang terjadi, serta selalu berpikir dan bersikap tenang dalam segala situasi. Sementara tuntutan hidup modern mendorong semua orang untuk tidak mudah merasa puas, tak pernah bercokol dalam zona nyaman, mengejar eksistensi diri setinggi-tingginya, fokus pada hasil, mesti selalu tertantang untuk melakoni moto “hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini, dan seterusnya”, menetapkan target-target pembuktian kesuksesan hidup berdasarkan anggapan umum, serta berambisi untuk mencapainya.

Semua tuntutan itu menempatkan kemiskinan dan kebodohan sebagai salah satu momok menakutkan. Hantu Blawu yang meninggalkan coreng-moreng memalukan. Benar aja sih. Siapa yang mau miskin harta dan kecerdasan? Termasuk orang-orang kelompok pertama sekalipun. Yang selama ini selalu dibiasakan untuk tetap mampu menjalani hidup, apa pun keadaannya, dengan prinsip: “ndakpapa miskin atau bego, yang penting bahagia, cukup, mau usaha, ndak ngemis, ndak maling.” Sebuah sikap batin yang sejatinya kaya.

Ditimbang-timbang, sebenarnya tak ada yang salah dari cara pandang keduanya. Sama-sama berfaedah bagi kesejahteraan batin maupun jasmani. Kesalahan hanya terjadi apabila anggota kelompok pertama malas berusaha, berpangku tangan pada keadaan, menjadikan nasib sebagai alibi. Kemudian, kesalahan dilakukan orang-orang kelompok kedua bila menggunakan segala cara untuk melancarkan tujuannya. Mencederai kepatutan, tidak memberikan ruang hati untuk simpati sama sekali. Terkenal dengan celetukannya: “di dunia ini cuma ada dua keadaan: mengalahkan atau dikalahkan!”

Terserah Anda, ingin menjadi bagian dari kelompok pertama yang relatif tampak lebih adem ayem, atau menjadi bagian dari orang-orang yang cenderung gelisah mengejar keberhasilan. Barangkali ada yang tertantang berpindah, dari kelompok pertama menjadi kelompok kedua. Karena bekerja terlalu gontai. Ataupun ada yang tersadarkan untuk menjalani hidup yang lebih tenteram. Karena selalu tegang. Kendati pada kenyataannya, ada banyak orang yang hidupnya memang terkesan seimbang. Berkecukupan, namun tetap mampu selow berkehidupan. Apa rahasianya? Entahlah. Langsung tanya mereka saja.

Lalu, apa tujuan dari tulisan ini? Sejujurnya, saya ndak tahu pasti. Setiap orang punya kehidupannya masing-masing. Lengkap dengan daftar tanggung jawab dan hak yang semestinya tidak boleh diintervensi, apalagi dihakimi. Sebab semuanya dibarengi dengan konsekuensi.

Yang pasti, tulisan ini tidak dibuat seolah untuk menjadi pelepas dahaga di tengah gurun kekeringan, penyegar iman di tengah badai keraguan, penguat keyakinan di tengah kabut ketidakpastian. Ini hadir sebagai jeda dari hiruk pikuk hari Rabu Anda pekan ini, mengisi waktu saat berada di dalam kendaraan umum, pengalih pandangan dan perhatian dari segudang agenda kerja, estafet rapat dengan orang-orang asing, maupun setumpuk dokumen yang perlu Anda input dalam kolom-kolom Excel. Toh, setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, kan? Jadi agak kurang elok rasanya, bila tulisan ini dibuat untuk sok menasihati. Anda–yang baca, saya yakin juga sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir sendiri. Dan itu adalah satu-satunya fakta yang kerap Anda lupakan, dan dimanfaatkan para motivator. Hehehe…

***

Ke dermaga mencari peti,

Peti dibuka, isinya kedondong.

Jangan drama jalani hari,

Biar enak, senyum dulu dong.

[]

Iklan

2 thoughts on “650 Kata

  1. Ping-balik: 650 Kata | #tintakopi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s