2016: Harapan dalam Keterbatasan

Sejak 7 tahun lalu setiap menjelang tahun baru, saya dan beberapa rekan yang punya kesenangan yang sama, selalu membuat kecenderungan untuk tahun yang baru. Kecenderungan atau tendency, perkiraan, atau kalau mau gampangnya kita sebut saja ramalan. Ramalan ini tidak menggunakan bola kristal, tapi dengan menggunakan kejadian atau hal-hal saat ini. Istilahnya “swing”. Tahun 2014 saya pernah menuliskannya untuk linimasa.com, silakan dibaca kalau ingin, terbagi dalam 3 bagian 1, 2, 3. Namanya juga perkiraan, ada yang benar terjadi, ada yang belum dan ada yang salah sama sekali.

Sedikit penjelasan yang dimaksud dengan “swing”. Seperti orang bermain ayunan dalam diagram ini:

255103_MAALE229_swingset

X adalah titik awal, Y titik terendah dan Z titik akhir, kemudian kembali ke titik Y, X dan seterusnya. Bayangkan sebuah trend berawal di titik X, kemudian akan mengalami titik jenuh (terendah) di titik Y. Ada yang bisa naik lagi ke titik Z, ada yang tidak. Tergantung tekanan (kondisi) saat di titik X. Kalau sampai ke titik Z bisa dipastikan akan kembali ke titik X. Perbedaannya, saat kembali ke titik X, tidak lagi di koordinat yang sama. Bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari titik X awal, tergantung dari kondisi (tekanan) di titik Z.

Gampangnya ya… Kita pakai contoh trend bersepeda. Kalau ingat sekitar 3-5 tahun lalu, saat semua orang menggandrungi bersepeda. Itu adalah titik awal (X). Tekanannya besar tercermin dengan terbentuknya komunitas-komunitas (pelaku), gerakan (misal: bike to work, dll.), pembangunan fisik (parkiran khusus sepeda) dan bisnis (jual beli sepeda dan perlengkapannya). Kemudian mengalami fase penurunan (titik Y). Perlahan seperti tak kedengaran lagi.

Sekarang trend bersepeda naik lagi di titik Z yang lebih tinggi dari titik awal (X). Tanda-tandanya adalah lebih seriusnya orang bersepeda. Pesepeda yang tak hanya untuk rekreasi, tapi juga olahraga bahkan olahraga ekstrim luar ruang (contoh: tour de singkarak, dll). Perlengkapan sepeda pun sekarang bisa dibilang lebih serius dan mahal dari saat titik awal (X). Bahkan banyak sepeda yang harganya lebih mahal dari harga motor. Nantinya, bisa dipastikan akan mengalami titik turun lagi (Y). Apakah akan naik ke titik X yang lebih tinggi, di sinilah diperlukan kejelian, rasa ingin tahu (kepo) dan kegemaran mengamati, diperlukan. Semakin  luas pengetahuannya, semakin maksimal perkiraannya. Semakin sering berlatih, semakin jitu “ramalannya”.

Jadi kalau ada yang bilang “trend akan berulang” itu ada benarnya. Bayangkan saja diagram ayunan di atas. Atau gambar seru yang saya comot bebas dari Google.

Young Boy on Rope Swing under Pohutukawa Tree at Sunset, Thames, Coromandel, North Island, New Zealand
Young Boy on Rope Swing under Pohutukawa Tree at Sunset, Thames, Coromandel, North Island, New Zealand

Gunanya lebih ke melayani kebutuhan klien-klien kami dalam menjalankan bisnisnya. Memberikan ide-ide yang sekiranya bisa berguna. Ada ide yang bisa dipakai langsung, ada yang dimodifikasi sesuai kondisi klien. Tak ada yang pasti tapi semoga bisa menginspirasi.

Tahun 2015 sepertinya bukan tahun yang baik untuk bisnis dan ekonomi. Pengetatan bahkan PHK mulai terasa sejak pertengahan tahun. “Aku kayaknya tahun ini B aja deh” kata seorang teman yang kemudian ditimpali “Aku malah kayaknya D aja sih…” oleh teman lainnya. Klien-klien sebisa mungkin menahan uang dan hasrat untuk ekspansi. Bisa terlihat juga dari lebih sedikitnya launching produk baru. Main aman, menjadi pilihan di tengah kondisi yang serba tidak menentu.

Tahun 2016 ini, sepertinya mulai banyak yang menyambutnya dengan lebih optimis. Harapan akan kondisi keuangan yang membaik, namun tetap waspada. Mulai akan spending, tapi tidak jor-joran. Karena untuk tetap diam saja, sepertinya bukan pilihan yang bijaksana juga. Demikian pula dengan kita, sebagai konsumen. Kita pun mulai ingin mencari-cari cara untuk tetap bisa lebih menikmati hidup di tengah kondisi yang kurang mendukung.

Mengerucut pada satu tema “harapan di tengah keterbatasan” menjadi pegangan kami. Bisa berbuat apa, dari apa yang sudah ada/dimiliki. Tentunya memerlukan ide dan kreativitas. Sepertinya tahun ini kita akan lebih banyak merayakan ide-ide baru yang memudahkan hidup. Atau sekedar memotivasi. Percikan-percikan semangat kecil di sana sini, lebih akan dihargai ketimbang percikan kembang api raksasa yang mempesona kemudian hilang seketika dimakan langit.

Beberapa ide yang berhasil kami kumpulkan, akan saya bagi di linimasa kali ini. Tentunya dengan banyak penyerderhanaan yang yang praktis-praktis saja.

Sehat Raga Sehat Kantong

Semakin banyak yang menyadari sakit tak hanya menguras kantong, tapi juga mengancam kenikmatan hidup. Makanya, gaya hidup sehat akan semakin berkembang di 2016. Tapi, kita akan semakin pandai dalam memilih jenis olahraga dan makanan yang kita konsumsi.

Misalnya, yang tadinya tiap bulan membayar donasi ke gym karena jarang datang, akan memilih olahraga yang lebih sesuai dengan pola hidupnya. Biasanya akan menjadi lebih fokus pada jenis olahraga yang diminatinya. Khusus yoga, lari, bootcamp, freeletics dan sebagainya yang komunitasnya mulai lebih banyak bermunculan di 2015. Selain dirasa lebih hemat, juga dirasa lebih bisa memacu untuk rajin berolaraga. Bahkan banyak club yang memberikan pelatihan secara gratis.

Memilih makanan sehat pun akan semakin fokus. Setelah mencoba beragam program diet dan catering sehat di 2015, tahun ini kita sudah lebih cerdas memilih mana program yang lebih cocok dengan tubuh dan pola hidup masing-masing. Bukan tidak mungkin, banyak yang mulai menyadari banyak makanan sehat yang ditawarkan sebenarnya bisa dan mudah untuk dibikin sendiri. Akan semakin banyak bermunculan kelas-kelas memasak makanan sehat yang ditawarkan.

Demikian pula dengan membeli perlengkapan olahraga. Yang tadinya jor-joran harus gaya saat berolahraga, akan menjadi lebih fokus dan memilih yang tahan lama. Buat pencinta olahraga pasti bisa merasakan sendiri harga-harga pakaian olahraga yang melonjak di tahun 2015. Pakai yang ada sajalah. Kalau belum perlu tidak perlu beli baru.

Jalan-Jalan Bertujuan

Seperti yang tertulis di Sok Tau Bagian 1 tahun 2015 menjadi tahun eksplorasi tempat-tempat yang tidak umum, non touristy destinations. Selain lebih seru, juga memberikan pemandangan baru di media sosial, terutamanya Instagram. Yang tadinya hanya berkunjung ke Roma saat di Itali, kini merambah ke Amalfi, Salerno dan lainnya. Di timeline Path saya bahkan ada yang berkunjung ke Dubrovnik di Croatia dan Bosnia. Tempat tujuan baru ini pun juga memberikan banyak kisah baru untuk dibagi.

Trend ini akan terus berkembang menjadi Berjalan-jalan dengan Tujuan. Tujuannya akan lebih fokus dengan minat masing-masing. Bagi yang senang makanan, akan mengadakan perjalanan khusus kuliner. Ada pula perjalanan khusus untuk beryoga, ikut race, nonton konser, mengunjungi museum, memburu kain nusantara, berziarah, mencari property atau merasakan tinggal bersama warga asli di setiap tempat yang dikunjungi.

Kalau ini benar terjadi, 2016 akan menjadi tahun yang lebih seru bagi saya yang lebih sering di rumahnya. Di media sosial nantinya akan lebih mudah untuk mencari hal-hal yang kita sukai dari seluruh penjuru dunia.

Sebenarnya bisa dibilang ini juga usaha untuk penghematan. Buat apa berjalan-jalan di tempat yang banyak museumnya kalau lebih suka fashion, misalnya. Atau menyatukan pengeluaran untuk jalan-jalan dan hobi.

Demokratisasi Fashion

Demokratisasi fashion, telah membuat semua gaya adalah trend terkini. Ini menguntungkan untuk para pecinta fashion untuk tidak lagi harus membeli pakaian terbaru demi mengikuti fashion. Akan banyak yang mulai membongkar lemari bajunya, dan mulai mencari ide-ide dari pakaian yang sudah ada. Tak perlu lagi takut kuno, karena sekarang bisa disebut bergaya retro. Tak perlu takut bergaya tabrak lari, karena sekarang bisa disebut Mix & Match. Rules were meant to be broken, especially when it comes to getting dressed.

Dari hal ini diperkirakan akan mulai trend menjual baju “vintage” dan barang-barang second. Sebenarnya sudah dimulai dari tas second yang semakin banyak diminati, diperkirakan akan merambah ke pakaian. Terutamanya yang bermerk. Para pecinta fashion mungkin mulai pengap juga melihat tumpukan pakaian koleksinya yang sudah lama tidak dipakai. Kalau bisa dicairkan, bisa beli fashion items baru kan?

Terdengar kabar burung yang bilang kalau adi busana (haute couture) yang selama ini sudah dilupakan, memberikan gejala untuk kembali. Saya pribadi tak ingin mencari tahu lebih lanjut karena merasa tidak relevan dengan saya. Kalau Anda tertarik, silakan cari tahu dan kabarkan kami kalau ada updated news ya 🙂

Galau di Kantor

Beratnya tahun 2015, membuat banyak tenaga kerja lepasan independen, memutuskan kembali menjadi karyawan kantoran. “Uang sekolah anak mahal, cyin!” Ujar seorang teman. Tapi belum lagi genap masa probation, mulai kembali mengeluh “bosen booo”. Apalagi kalau sudah mencicipi nikmatnya menjadi freelancer yang bisa mengontrol jam kerja sendiri.

Di awal tahun akan banyak karyawan kantoran yang mulai mencoba bidang atau kantor baru. Selain kejenuhan, banyak keputusan diambil mempertimbangkan faktor macet. Mulai tak rela menghabiskan 2-6 jam waktu di jalan. Mereka pun mulai mencari kantor yang dekat rumah, atau bahkan memulai bisnisnya sendiri. Bisnis-bisnis baru akan labih banyak bermunculan. Ini juga salah satu bentuk mencari peluang dari kondisi yang sudah ada.

Alhasil, akan terjadi seleksi alam di kantor. Karyawan yang menetap adalah yang benar membutuhkan pekerjaannya dan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Yang setengah hati akan beranjak memulai karir barunya.


Secara garis besar, mencari celah di tengah keterbatasan akan memaksa orang untuk lebih kreatif. Memutar otak lebih keras untuk memanfaatkan yang sudah ada dan memaksimalkan yang bisa diraih. Ini adalah keseruan yang bisa kita saksikan di 2016. Atau kenapa tidak, menjadi bagian dari keseruan itu.

kesempatan-dalam-kesempitan

Fainnama’al ‘usri yusro.. 
Sesungguhnya bersama dengan kesulitan, ada kemudahan…(Al-Insyirah:6-7)

Posted in: @linimasa

1 thought on “2016: Harapan dalam Keterbatasan Leave a comment

Tinggalkan Balasan