Transfer Evolve Ide

Sebelum tulisan ini, setiap kali ada yang bertanya “bagaimana caranya mencari ide?” Selalu saya jawab dengan ogah-ogahan. Bukan apa-apa, tapi karena saya yakin tak semua orang mau melakukannya. Kasih aja jawaban klise macam perhatikan sekitar, observasi lingkunganmu, membaca buku, menonton film dan lain sebagainya. Yang bertanya tampak puas dengan jawaban saya. OK, saya memang bukan orang kreatif jenius. Tapi setiap hari pekerjaan saya menuntut untuk terus menerus menghasilkan ide. Mulai dari ide yang asal-asalan, sampai ide yang lebih asal-asalan lagi.

Tak berhenti sampai menghasilkan, karena ide di dunia periklanan berdasarkan pesanan, ide saya pun akan langsung dinilai oleh klien sebagai pemesan. Apakah cukup sesuai seperti yang mereka inginkan dan butuhkan. Lucu kah? Menarik kah? Komunikatif kah? Dan belakangan, stand out dan edgy kah? Sepertinya memang berbeda dengan ide kreatif di bidang lain. Apalagi kalau seniman. Yang tidak ada klien. Bisa berkarya sesuka hati. Paling-paling risikonya tidak ada yang menghargai karyanya. Atau idenya tidak laku. Lain hal kalau kemudian sudah ada kata “komersil” di belakangnya. Maka pasar akan menjadi kliennya. Penulis komersil, pelukis komersil, disainer komersil, … pekerja seks komersil? Mereka adalah seniman pertama di dunia yang menjawab kebutuhan pasar.

Satu-satunya cara yang selama ini saya lakukan, dan sepertinya lumayan berhasil untuk menyambung hidup saya, adalah dengan melatih diri saya melakukan dan mencoba hal-hal yang tidak saya sukai. Menonton film yang saya tidak suka. Makan makanan yang saya tidak suka. Membaca buku yang saya tidak suka. Melakukan kegiatan yang saya tidak suka. Dan segala hal lainnya yang kadang sebenarnya saya benci. Tak berhenti sampai di situ, saya pun berusaha untuk menyukainya. Sekuat tenaga dan upaya. Bahkan kadang saya berusaha untuk menggilainya. Sampai banyak yang mengira saya terobsesi pada hal tersebut.

Saya sebenarnya bukan orang yang terlalu suka pada hal-hal yang baru. Tapi di bidang saya, segala hal baru bisa menjadi penting untuk komunikasi pemasaran. Tak cukup mempelajari, saya pun harus mencoba melakukan dan merasakan sendiri hal-hal baru itu. Tujuannya sederhana, supaya kalau hal baru itu berkembang, saya paham bagaimana menggunakannya dalam berkomunikasi. Contohnya, kalau kamu mengikuti Path saya, bisa jadi mengira saya sedang kerajingan main Pokemon Go! Apakah saya suka? Belum tentu… Bahkan gak juga. Tapi saya memaksa diri saya untuk bermain sampai ketemu di mana nikmatnya bermain Pokemon Go! Hal-hal seru apa yang ada di Pokemon Go! Apa bahasa yang digunakan? Di mana komunitasnya? Siapa pemainnya? Apa nama-nama monsternya dan sebagainya.

Saya memaksa diri saya untuk menganalisa mengapa permainan ini menjadi begitu meraksasa. Dan yang terpenting, bagaimana permainan ini bisa digunakan untuk kepentingan periklanan. Apakah permainan ini akan terus berkembang atau mati tak lama lagi, bukan masalah. Ilmu periklanan adalah soal kekinian. Soal hari ini. Detik ini. Tapi seperti yang saya pernah tulis sebelum ini satu-satunya cara untuk menerawang ke masa depan adalah dengan membaca tanda-tanda hari ini. Bukan hanya membaca deng, tapi juga merasakan.

Kita pakai contoh Pokemon Go lagi deh, daripada pake Awkarin lagi buat bahan contoh, kalau hanya membaca sekilas maka orang akan berkesimpulan ini adalah permainan menangkap monster di berbagai lokasi nyata. Location based augmented reality. Kemudian ada yang mempertanyakan kenapa bisa booming seperti ini? Ada beragam teori yang berkembang. Saya malas menuliskannya. Cari dan baca aja sendiri ya… Karena saya boleh dan berhak punya teori saya sendiri. Teori awal saya adalah, karena permainan ini bisa dimainkan oleh orang dari rentang usia yang besar. Pikachu, tokoh sentral Pokemon lahir dan terkenal di tahun 1996. Kalau yang waktu itu masih kuliah berarti sekarang umurnya sekitar 40an. Kalau masih SMA sekitar 30 akhir dan seterusnya. Bayangkan kalau nama gamenya DragonoGO! kemungkinan besar yang akan main hanya pecinta game. Ada nostalgia yang tersimpan di PokemonGo! yang menjadikannya lebih istimewa. Teori ini saya simpan dalam hati, sampai suatu hari saya menemukan ini diagram ini

4d85544eab724d0e9b9426008e1addb4

Kalau ada yang suka buka-buka buku advertising dan marketing, menggunakan nostalgia adalah salah satu jalan pintas untuk memikat. Gak usah jauh-jauh liat aja sekitar kita. Ada banyak restoran yang menghadirkan makanan tempo dulu. Gaya berbusana retro, bahkan mundur ke era 20’s. Restorasi dan remake film Tiga Dara. Lanjutan dari film Ada Apa dengan Cinta. Bukan semata karena perasaan “yang dulu lebih baik”, tapi kadang sekedar menjadi anomali di tengah gerak yang semuanya ke depan. Tangan kita setiap hari sudah memegang alat yang membawa kita ke masa kini dan masa depan. Sesekali bernostalgia atau sekedar memenuhi rasa ingin tahu akan masa lalu, bisa menjadi terapi yang manis. Terapi? Nah ini wacana lain lagi, suatu saat akan saya tuliskan kalau ingat :)))

Di media sosial pasti kita banyak membaca tanggapan negatif mengenai PokemonGo! Yang menurut saya wajar-wajar saja. Karena seperti saya pun awalnya ya sinis. Mungkin bukan sinis tapi enggan dengan hal baru. Tapi kalau saya menuruti saja rasa enggan itu, maka bukan hanya saya akan kehilangan keseruan permainan ini, tapi juga ilmu. Iya, saya juga bisa belajar banyak dari Pokemon Go! Bukan, saya bukan gamer, tapi dari PokemonGo saya bisa mempelajari karakter dari setiap monster. Saya yakin bukan hal mudah untuk menghembuskan karakter hanya dengan tarikan gambar sederhana. Karena permainan ini pula, saya jadi tau kalau patung di depan monas adalah patung MH Thamrin. Lengkap dengan plakat ucapan di bawahnya. Kamu pernah dengan jam merek Edox? Ini adalah jam yang ada di perempatan Sarinah, Thamrin. Yang sampai sekarang masih berfungsi dan masih ada bisnisnya edox.ch

2016-07-31 17.30.532016-07-31 17.30.442016-07-31 17.21.47

Dan saya pun jadi tau bagaimana pada komunitas PokemonGo! di Minggu sore berkumpul di Monas. Mereka saling membagi ilmu dan tips. Yang namanya perkumpulan manusia adalah adalah kekuatan. Kita tidak ada yang bisa tau akan ke mana energi kolektif ini akan berkembang. Atau mati sama sekali.

Ini baru dari satu permainan dan saya sudah menghasilkan dua ide untuk iklan televisi. Tentunya tidak persis seperti PokemonGo, tapi diinspirasikan olehnya. Mudah-mudahan kalau sudah tayang bisa saya tambahkan di tulisan ini nantinya. Kesimpulan (sementara) yang atas pertanyaan bagaimana mencari ide yang bisa saya sampaikan adalah dengan mencoba beragam hal baru. Terutamanya yang tidak kita sukai. Karena kalau yang kita sukai saja secara otomatis kita akan melakukannya. Musuh utamanya adalah sikap sinis dan menolak bahkan sebelum mencobanya. Terus terang ini bukan hal yang mudah walau saya sudah mencoba melakukannya cukup lama. Ngomongnya aja gampang. Karena yang dilawan dalam hal ini adalah diri sendiri.

Di departemen kreatif pun saya lebih sering menemukan yang kehabisan ide. Kalau digali lebih dalam lagi, hal ini disebabkan karena keengganan untuk mencoba hal baru yang sudah keburu dicap tidak disukai. Terus menerus hanya melakukan yang kita suka akan menghasilkan kejenuhan. Saat Anda membaca tulisan ini, saya sedang melakukan hal yang belum pernah saya lakukan dan sepertinya tidak saya sukai: trail run. Ciremai Trail Run 2016 yang juga baru pertama kali diadakan. Saya selama ini ikutan race lari biasa. Apakah saya akan menyukainya? Kemungkinan besar saya akan mencoba untuk menyukainya. Apakah kemungkinan saya akan kerajingan dan melakukannya lagi? Ah itu urusan nanti saja lah…

Iklan

One thought on “Transfer Evolve Ide

  1. “…satu-satunya cara untuk menerawang ke masa depan adalah dengan membaca tanda-tanda hari ini. Bukan hanya membaca deng, tapi juga merasakan.” Ini ngena banget… 🙂 *dan juga lagu latar videonya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s