Sometimes, Fear is Good

Salah satu alasan kenapa saya berhenti melakukan salah satu pekerjaan saya beberapa tahun lalu adalah karena saya merasa tidak takut lagi.
Saat itu, saya sudah melakukan pekerjaan tersebut selama beberapa tahun. Setiap tahun ada beberapa projects yang harus kami handled. Kenapa pakai kata “kami”, karena memang saya bekerja dalam sebuah tim.

Selama beberapa saat terakhir sebelum saya berhenti, memang ada keresahan yang melanda dalam diri. Mungkin memang sudah saatnya mengakhiri pekerjaan tersebut. Tetapi setelah dirunut lagi, saya sempat kaget terhadap cara berpikir saya.

Kekagetan ini saya sadari saat menghadapi klien atau calon klien. Setiap mendengar pitch project yang akan di-propose, alih-alih mendengarkan dengan baik, tapi otak saya langsung berputar dan keburu berasumsi seperti, “Oh, dengan budget segini, kita bisa nih, pakai cara seperti ini.” Atau, “Oh, maunya dikerjakan 6 bulan. Paling bisa seperti ini.”

Lama-lama saya merasa pekerjaan yang saya lakukan adalah copy-and-paste template dari apa yang sudah dilakukan. Tinggal mengganti label atau nama yang dicantumkan di proyek tersebut.

Saat itu saya merasa ada kegentingan. Terlebih karena pekerjaan saya menuntut kreatifitas tinggi yang membuat satu project berbeda dengan yang lain. Saat kita merasa template yang kita lakukan sudah pernah sukses, dan yang kita ingin lakukan adalah mengulangnya, maka sebaiknya kita take a pause terlebih dulu.

Lambat laun saya mengingat-ingat lagi, apa yang sempat menjadi pendorong saya melakukan pekerjaan saya. Di masa-masa awal melakukan pekerjaan ini, sempat ada rasa ketakutan tidak dapat melakukan pekerjaan dengan baik, sehingga mati-matian belajar, mencari semua informasi, mencari bala bantuan untuk bisa menyelesaikan project dengan hampir sempurna. Selalu ada anxiety atau rasa deg-degan saat project diluncurkan. Seperti ada butterfly in my stomach melalui proses pengerjaannya.

Saya sempat merindukan sensasi seperti itu, sebelum akhirnya saya sadar bahwa rasa itulah yang saya perlukan untuk terus termotivasi bekerja. Bahwa saya belum tahu banyak, meskipun sudah melakukan banyak. Bahwa masih ada rasa takut yang bisa mendorong saya untuk menutupi ketakutan itu dengan melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin.

600_461238573

Akhirnya saya memutuskan berhenti dari pekerjaan itu. Lalu saya kembali ke profesi lama yang pernah saya tekuni, namun karena sudah saya tinggalkan beberapa tahun, landscape atau suasana pekerjaannya berubah. Infrastruktur berubah, orang-orangnya berubah, dan banyak sekali ketertinggalan yang harus saya kejar. Mau tidak mau, saya harus belajar lagi. Bersamaan dengan masa pembelajaran ini, tak dinyana anxiety itu datang lagi, bersamaan dengan excitement menghadapi suasana baru.

Dalam beberapa situasi, ketakutan yang kita hadapi karena kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, ternyata bisa mendorong kita untuk jadi belajar dan bekerja ekstra keras (dan ekstra cermat). Sometimes, fear is good to drive us forward. Karena kita hanya bisa menaklukkan ketakutan kita saat kita dengan mencari tahu lebih banyak, apa yang sebenarnya membuat kita takut.

Selalu cari tantangan baru di pekerjaan yang kita lakukan. Lebih mudah memang di pekerjaan baru, tapi di pekerjaan lama pun, selalu cari hal baru yang membuat kita excited melakukannya. Not knowing what you’re about to do can be the most exciting thing you’ll ever do.

Selamat tahun baru.

Good Riddance

Terus terang saya kesulitan menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk judul tulisan kali ini. Padanan kata yang berupa satu idiom atau istilah, maksudnya. Kalau penjabaran arti istilahnya sih, ya bisa saja diartikan sebagai “rasa lega karena telah menghilangkan bagian buruk atau yang tidak diinginkan dalam hidup.”

Misalnya saja, ada kepala departemen tempat kita bekerja yang tidak disukai sebagian besar bawahannya. Tiba-tiba saja, beliau dipindah tugaskan ke kantor cabang yang lain di luar kota. Maka tentu saja sebagian besar pegawai tersebut akan bilang, “good riddance!”

Demikian juga pula kalau misalnya kita berhasil mengosongkan separuh isi lemari pakaian. Entah terinspirasi dari buku-buku Mary Kondo atau video-video tentang hidup minimalis, entah mau dijual di garage sale atau didonasikan ke lembaga-lembaga yang membutuhkan, melihat lemari kita punya space kosong lagi mau tak mau membuat kita sontak mengucapkan, “good riddance!”

Ungkapan ini memang paling pas diucapkan banyak orang di awal tahun. Saat new year’s resolution masih hangat-hangatnya. Saat kilas balik yang kita lakukan di akhir tahun lalu masih terasa bekasnya.

Tak heran kemarin tempat saya berolah raga dipadati banyak orang, lebih ramai dari biasanya. Rupanya banyak sekali yang tidak sabar ingin segera kembali mempunyai tubuh yang lebih fit setelah liburan panjang.
Tak heran juga ketika saya iseng melihat jumlah ‘teman’ di beberapa akun media sosial yang jadi berkurang. Rupanya mengurangi interaksi di media sosial sudah menjadi kesadaran banyak orang sekarang. Demikian pula dengan beberapa teman yang mendeklarasikan bahwa mereka menutup akun di beberapa platform media sosial, dan memilih untuk terkonsentrasi hanya di satu atau dua platform saja.
Tak heran juga ketika ada beberapa orang dekat yang memilih untuk mengurangi intensitas komunikasi dan memperlebar jarak. Tidak masalah, karena setiap pertemuan akan berujung perpisahan, baik yang kita ciptakan maupun yang tidak bisa kita elakkan.

Pada akhirnya semua yang kita buang dengan sengaja dan penuh kesadaran adalah “good riddance”.

Lalu apa yang Anda akan buang di awal tahun ini?

Ngalor dan Ngidul

Akhir tahun adalah saatnya untuk let loose. Hari-hari menjelang 31 Desember sepertinya sudah tidak banyak yang punya mood untuk bekerja serius. Apalagi banyak yang memanfaatkan seminggu sampai sepuluh hari terakhir di penghujung tahun untuk menghabiskan jatah cuti yang harus dipakai. Atau sekedar mengambil off days dari kesibukan sendiri.

Hari-hari libur di akhir tahun sering kita manfaatkan untuk catch up dengan teman dekat. Meskipun statusnya ‘dekat’, tapi karena aktivitas kita sehari-hari yang padat, biasanya malah jarang ketemu. Tanpa ada beban ‘reuni’ atau ‘kumpul keluarga’ selayaknya hari besar keagamaan, maka hari-hari setelah Natal dan sebelum tahun baru menjelang memang yang paling pas untuk bertemu lagi secara tatap muka langsung dengan teman-teman yang selama ini, paling banter, ngobrol lewat bahasa tulisan di grup WhatsApp.

Sebelum kocar-kacir karena liburan dengan keluarga masing-masing, pasangan masing-masing, atau kelompok pertemanan yang lain, saya menyempatkan berkumpul dengan beberapa teman yang sudah lama tidak bertemu langsung. Meskipun kami cukup sering bertukar pesan lewat WhatsApp, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi mendengarkan candaan, celetukan dan celotehan langsung teman-teman kita.

Apa saja yang diobrolkan? Well, siapa yang bisa mengatur? Namanya juga obrolan “ngalor ngidul”. Coba simak saja:

“Eh, tahun 2017 kayaknya berat ya?!”

“Eeem!” / “Banget, bok.” / “He eh.” / “Mayan.” / “Ya gitu deh.”

“Tapi ada yang akhirnya dilamar! Cieee …”

“Coba angkat cincinnya, coba …”

“Hahahaha. Apaan sih. Kayaknya udah pada pernah lihat juga.”

Enjoy the moment, dear. Kalau elo pas lagi riweh nyiapin urusan kawinan, apalagi sekarang udah makin deket sama hari H, take a look at that finger, and remind yourself the journey to get there.”

“Eh busyet, mak. Bijak bener. Kesambet apa?”

“Keselek biji.”

“Biji brondong?”

“Brondong popcorn abis ngemil dari nonton di bioskop. Ya kali.”

“Hahaha. Ya kalo ama brondong beneran juga gak papa.”

“Kagak ada brondong-brondongan. Udah cukup sekali aja ya.”

“Oh iya. Akhirnya udah resmi kan ya? Udah ketok palu? Udah ganti status jadi single lagi, bukan menikah?”

Done, done and done.”

Sorry, but how do you feel?”

I am fine. Really. Lega, bok. Eh maaf, bukan mau menakut-nakuti elo yang mau married ya.”

“Nyante aja.”

Thanks. Tapi ya gue lega, finally it’s over. Akhirnya gue bisa ngerasain apa yang orang-orang bilang, kalau living without loving kills you and everyone around you. Like, seriously. Kalau udah gak bisa connect, manalah bisa konak sepenuh hati?”

“Woooy!” / “Mulut, wooy!” / “Hahahaha, ancur!” / “Anjaaay!”

“Eh tapi beneran ini. Marriage is not easy. Not everybody is cut out for marriage. Dan yang penting jujurlah ama diri sendiri sebelum jujur ke orang lain.”

Hear, hear.

“Dan just because one marriage doesn’t work, doesn’t mean the other will fail as well. Just because mak bapak elo sukses berumah tangga puluhan tahun, doesn’t mean you as their kids can inherit that genetically. Dealing and living with others itu kan kemampuan, skill ya bok, yang harus kita asah dan praktekin. Manalah bisa itu keturunan genetik. Emang tompel di pantat?”

“Asli kalo elo bukan temen kita, gue udah turunin elo di pasar biar gabung ama preman.”

“Asyik dong. Preman jaman sekarang kan Oke Oce.”

“Amit-amit!”

“Tapi ngomong-ngomong Oke Oce ya, elo gak pada khawatir ya ama Asian Games?”

“Ini lagi, kenapa dah tau-tau kesambet ngomongin Asian Games?”

“Ya gue kan malu bok, kalo Asian Games ntar dianggep gagal. Kotanya kotor lah, macet lah, nggak aman lah.”

“Gue sih berusaha positive thinking lho ya, baru berusaha doang nih. Mungkin itu dianggep challenge ama Pemda biar ngeberesin kota karena ada event gede. Mungkin. Elo tau sendiri kan, gak di sini, gak di luar kota, kalau ada acara gede, atau pejabat dateng, baru deh dibenerin jalan, listrik, dan lain-lain.”

“Trus pas acaranya selesai, bakal dianggurin gitu? Jadi rusak lagi?”

It can happen. Kecuali ya ada acara serupa yang satu level.”

“Lelah ya gitu terus.”

“Ya kalau gak mau lelah sih, cari pemimpin yang bener lah.”

“Emang yang sekarang gak bener?”

“Ya menurut elo sendiri gimana? Eh tunggu. Maksud elo pemimpin yang mana nih?”

“Pemimpin hatiku.”

“Ah kepret!” / “Basi!” / “Kampret!” / “Huek cuh!”

“Hahahaha. Ya boleh dong ngarep. Masak udah satu dekade ngeliat kembang api tahun baru sendirian terus?”

“Ya mau di Ancol, Monas atau Times Square juga pasti banyak orang. Jangan kayak orang susah, deh.”

“Tapi elo hebat juga, tahan terus sendirian.”

“Ya kagak lah! Elo kira being single itu gampang?”

“Ya buktinya elo baik-baik aja.”

“Ya masak pas gue horny and lonely and horny in my loneliness gue koar-koar di WhatsApp grup, monyeeet?! Ya enggak lah.”

“Tapi elo gak depressed atau apa, gitu.”

“Gini. I don’t mind being single because it’s my choice. Beneran. Tapi ya gue juga manusia, bok. Most days I’m fine, but in some days, I’m not fine. Pas bagian yang gak baik-baik inilah yang berat.”

You know you’ve got us, right?

I know. Thank you.

“Kadang gue mikir, emang makin berumur, kita gak perlu banyak. At least itu yang gue rasakan. Elo tau kan gue bangkrut tahun ini?”

Wait, what?” / “Nyet! What happened?” / “Bok, jangan boong.” / “Sumpah?”

“Beneran, gue gak bohong. Mana mungkin gue bohong.”

What happened?”

“Intinya, rencana gue gak berjalan sesuai perkiraan. Pembayaran projects yang di-commissioned ke gue, atau yang gue commissioned ke orang, semuanya bermasalah. Like, semuanya.”

Tell me about it. Orang-orang pada sibuk saving instead of spending.”

“Kalau itu sih gak ngaruh buat gue. Oke, tapi intinya, I’m not doing well financially. But I know this is temporary. It will pass.”

How are you holding up?”

“Ternyata gue baik-baik saja. Gue banyak baca buku tahun ini. Gue ikut volunteer work. Dan ternyata, setelah elo gak punya banyak, elo jadi tahu apa yang sebenarnya elo perluin. And guess what? We don’t need much. We may want much, but what we need? Hardly much. Gue gak ikut Harbolnas, karena emang gak ada barang yang bener-bener gue perluin. And I feel fine. I am fine.”

So actually being bokek is liberating for you ya, bok.”

You can say that! Hahahaha!”

“Eh elo bisa ketawa. That is good. Beneran deh, makin hari kayak makin susah buat ketawa lepas. Ntar dikira makar lah, menyinggung perasaan orang lah.”

“Ya makanya the best laugh is when you laugh about yourselves, bukan?”

“Hahahaha, bener!”

“Mudah-mudahan tahun depan makin banyak yang bikin kita ketawa lepas ya.”

“Amiiin!”

Cheers, guys?”

Cheers!”

Satu Lagi

Mau curhat.

Emang selama ini enggak?

Pokoknya dengerin dulu.

Oke.

Banyakan bahasa Inggris-nya.

Sok atuh.

Go ahead dong ah.

Brisik.

Yeee.

Buruan.

Akhir-akhir ini sering muncul pertanyaan di kepala gue, whether I am relevant or not.

Maksudnya?

Hmmm … Gimana ya. Kurang lebih seperti ini. You know how the world has been lately, kan? How the world has been acting up crazy, to say the least. How we move towards conservatism and even extremism very fast.

Iya. Lalu?

Lalu ya, you know me. I am passionate about things that people hardly talk about these days. I love talking and writing about films in my own style. I love listening to music from the bygone era. I crave on articles about contemporary art. I love photography. I love books, fiction especially.
But whenever I look around, people seem to forget and steer themselves away from all of these. Suddenly people become political experts overnight. Sharing sensation, churning out opinion.

Dan gue baca lho.

twinkle-lights-for-new-years-eve

Ha? Dibaca semua?

Ya gak semua, tapi sebagian besar.

Yang bener?

Iya.

Gak elo unshare?

Enggak. Gue pengen tahu aja cara berpikir mereka, cara mereka menyampaikan pendapat. ‘Kan bisa keliatan dari cara mereka menulis, lalu membagi tulisan yang mereka ambil. Because we are all different from one another. Kalau gue cuma mau lihat yang sesuai sama minat gue, ntar dibilangnya living in a bubble lagi.

Tapi elo gak stress sendiri?

Ya emang sih, I risk my sanity kadang-kadang bacain status-status yang ‘kenceng’ di socmed gue. Hahaha.
Dan gak cuma sanity gue, tapi melihat orang-orang berlomba-lomba menyuarakan opini mereka soal agama dan politik yang panjang-panjang, membuat gue jadi mempertanyakan diri sendiri. Apa gue yang bodoh ya karena tidak paham dengan apa yang mereka tulis? And then you start second guessing yourself. If I could not participate in such conversation, am I starting to become irrelevant? Since I don’t know what or how to form an opinion about politics and religion and other so-called important matters deemed necessary untuk keberlangsungan hajat hidup masyarakat, whatever that is, do I matter?

482083nhixftp3b1

Whoa! Nyante, mas bro. Chill, dude. Dari kecil suka dangdut. Barusan nanya apa elo barusan?

Errr … Do I matter?

Of course, lah! I matter, you matter, we all matter. Gila kali elo. We matter because we come from our mother.

Timpuk ya!

Nyeahahaha. Ya masak elo ikut ngomong agama dan politik segala? Emang semua orang gak punya kapasitas masing-masing untuk hidup, apa? Dan buat hidup sendiri, emang semua orang harus ngelakuin sesuatu yang sama, apa? Kalo pake logika kayak gitu, ya semua orang jadi robot dong. Cara berpikirnya dibikin sama. Cara ngomongnya kudu sama. Sampe cara makan dan jenis kerjaannya pun sama. I don’t want to live in that world.

Tapi elo tahu kan kalo we are shifting towards that possibility?

Eittsss … Not we. But some. Kalo kita sih, justru harus avoid the possibility.

rt-12-31-12

How?

By keep on living as you are. Keep reading books. If you like to dance, keep on dancing. Keep listening to good music. Keep writing. Keep watching good films. Keep appreciating arts and photography. Form an appreciative write up everytime you encounter these. Nobody has the right to tell you how to live your life. Nobody. Ih ternyata gue lancar juga ya ngomong bahasa Inggris. Bisa sepik-sepik abis ini.

Amit-amit.

Tapi bener kan apa yang gue bilang?

That sounds dreamy. Idyllic. Utopian. Far away.

Nah, makanya itu tugas kita supaya gak bikin hal-hal itu jadi dreamy, idyllic, dan sebagainya.

Like, how?

Jadiin kebiasaan. You keep doing what you do. You keep sharing what you’ve shared. You keep performing good deeds until it becomes good habit. It’s hard, but do not let the anger in social media ruins you. Read it, look at it, and remember to take a deep breath after you read such before you act. Sumpah asli ngomong terus-terusan nanggepin elo bikin gue jadi motivator karbitan abis ini.

Hihihi. Banyak tuh orang-orang yang lagi perlu dimotivasi. Elo jadi terkenal ntar.

Ogah. Cukup dikenal aja, gak sampe terkenal.

img_8547_2

Whatever.

Jadi udah curhatannya?

Kesimpulannya gimana?

Yeee … Dari tadi gak nyimak.

Susah konsen. I keep thinking of how crazy the past year is. Was.

Tapi elo dan gue akhirnya survive kan?

We do. Hmmm. Yeah. F***, we do survive this year!

Cheers to 2017, bro? Sis? Manggil elo gimana, sih?

Cheers to 2017, best friend!

Bagaimana Saya (Ingin Mengajak Kamu) Memandang Mereka

Tulisan ini adalah tulisan saya yang ke-10 di Linimasa. Hari Sabtu nanti, genap sudah kami semua bertujuh sudah menulis masing-masing sebanyak 10 kali di sini. Itu berarti sudah 10 minggu kita semua mempunyai kebiasaan baru: menyantap sarapan yang bukan sekedar makanan, tapi juga kata-kata, bualan, dan obrolan ngalor-ngidul setiap pagi.

Bagi petugas piket, sudah 10 minggu ini kami selalu panik dan was-was sehari menjelang tugas piket. Kadang selain bingung nulis apa, ternyata kendala lain bisa terjadi. Tukar jadwal piket pernah terjadi antara saya dan Farah Dompas karena modem saya rusak. Hari Selasa kemarin, Agun Wiriadisasra juga sempat panik karena hal yang sama. Sementara Roy Sayur pernah ketinggalan kabel laptop entah di mana.

Tapi kalau dilihat tulisan mereka, tidak terlihat kekhawatiran di atas. Apalagi tiga penulis mumpuni ini: Glenn Marsalim, Gandrasta Bangko, dan Dragono Halim. Kepiawaian mereka bertutur mengungkap hal yang abstrak sekalipun tak bisa dipungkiri lagi. Pengalaman mereka menulis di dunia nyata sudah acap kali terasah sempurna.

Sepuluh minggu, dan tak seharipun lewat tanpa rasa kagum yang berkurang terhadap mereka.

Sampai saat ini, saya tak tahu alasan apa Roy tiba-tiba mengajak saya bergabung di suatu hari Kamis di bulan Agustus.

Bak sosok Charlie dalam serial “Charlie’s Angels”, karena tidak ada satu pun dari kami yang pernah menjumpainya, Roy mengumpulkan kami dengan modal obrolan di whatsapp. Misi yang ditugaskan cuma satu: menulis. Bergantian setiap hari. Tanpa jeda.

Saat saya bertanya ke Roy tentang siapa saja yang sudah diajak, balasannya “Aku udah dapet Gandrasta, Glenn, Fa, Dragono dan Agun.” Perhatikan diksinya. “Dapet”. He owns. Singkat. Tanpa basa-basi. Seperti tulisannya yang cenderung maskulin. Kadang meledak-ledak saat bicara politik, tapi bisa juga merayu penuh misteri saat berbicara hal-hal yang luput dari pengamatan kita.

Charlie in Charlie's Angels
Charlie in Charlie’s Angels

Lalu bacalah tulisan Glenn. Dia cermat dalam mengobservasi. Kelihatan kalau dia punya pengalaman di hal menganalisa perilaku orang kebanyakan. Dia sudah makan asam garam kehidupan bertahun-tahun. Seperti Kapten Gerd Wiesler di film The Lives of Others yang punya daya sensorik tinggi, bahkan tahu bunyi derap langkah kaki siapa dari kejauhan, demikian pula Glenn dengan imajinasinya yang membumi. Pengamatannya kadang memang merefleksikan karakter Glenn sehari-hari. Lalu tinggal kita yang menebak-nebak: mana dari tulisan Glenn yang sebenarnya tentang dirinya sendiri?

The Lives of Others
The Lives of Others

Kelihaian Glenn tak heran membuat Gono (panggilan Dragono) mengidolakannya. Mirip seperti karakter Judy Garland di bagian-bagian awal film A Star is Born. Dan seperti karakter itu, Gono pun bersinar justru karena jati dirinya. Tulisan-tulisannya menenangkan. Tepat di tengah minggu, di hari Rabu, tulisan Gono laksana meditasi setelah melewati kerasnya awal pekan, dan sebelum jedang-jedung menikmati akhir pekan.

A Star is Born
A Star is Born

Dan di hari pertama di tiap pekan baru, Doni (panggilan saya ke Gandrasta) hadir dengan menggelegar. Tidak ada tulisan Doni yang tidak sensasional. They are larger than life. He is larger than life. Doni adalah Don Corleone di The Godfather: keras, tegas, kompleks dan penuh rasa cinta yang limpahannya mengejutkan. Romantis tak terkira. Emosi kita diterjunkan dengan bebas sekenanya dari cara bertuturnya. Kami ber-6 selalu bilang, “Semua orang menyukai tulisan Doni”.

The Godfather
The Godfather

Sementara Agun yang hadir sehari setelah Doni, selalu terkesan tampil nyantai. Relaxed. Padahal dia piawai meriset. Persis tipikal cool nerd macem Jesse Eisenberg di The Social Network. Tulisannya dihiasi data-data dari berbagai sumber, tanpa harus menjadi berat. Dan yang pasti menambah pengetahuan pembacanya. Sesuatu yang bisa jadi tidak disadari oleh Agun sendiri.

The Social Network
The Social Network

Justru yang sadar banget keberadaannya di sini, tentu saja, Fa. Satu perempuan di antara enam pria. Gak lengkap kalo gak ada Fa, ibarat gak ada Deepika Padukone di Happy New Year, maka filmnya membosankan setengah mati cuma ngeliatin Shah Rukh Khan dan perut 8 kotaknya. Tapi karena Fa gak bisa menari, maka dia bisanya bertutur dengan lancar. Tulisannya beragam. Semua pakai hati. Semua dipikirkan masak-masak. Semua tulisannya melalui proses peresapan berhari-hari. Semuanya terbaca kalau Anda baca sekali lagi.

Happy New Year
Happy New Year

Tentu saja, yang tidak terbaca di sini adalah Fa sudah melamar saya dua kali di celotehan grup whatsapp kami. Entah maunya apa perempuan satu-satunya ini.

Saya juga tidak tahu maunya penulis yang lain apa dengan linimasa ini. Masih tidak tahu, meskipun sebulan lagi akan ada tulisan ke-100.

Tapi saya tahu apa yang saya mau, yaitu terus menerus belajar dari mereka.

Seorang teman pernah menanyakan ke saya tentang linimasa. Jawaban saya waktu itu, “I feel lucky. I am standing in the shoulder of giants.

And when you stand along the best, you learn. Itulah yang saya pelajari dari mereka. Tulisan mereka. Alur pikir mereka. Pilihan kata mereka. Pikiran mereka. Hati mereka.

Kalau tulisan Roy beberapa minggu lalu lebih tentang selfie, maka tulisan ini lebih mirip foto mereka yang saya ambil diam-diam. Lalu saya kumpulkan. Dan jadilah gambar utuh bagaimana saya memandang mereka.

photo (1)

Dan apapun tulisan yang tersedia, berapapun jumlahnya, pastikan Anda tersenyum membacanya.

Karena semuanya ditulis pakai hati.