Ngalor dan Ngidul

Akhir tahun adalah saatnya untuk let loose. Hari-hari menjelang 31 Desember sepertinya sudah tidak banyak yang punya mood untuk bekerja serius. Apalagi banyak yang memanfaatkan seminggu sampai sepuluh hari terakhir di penghujung tahun untuk menghabiskan jatah cuti yang harus dipakai. Atau sekedar mengambil off days dari kesibukan sendiri.

Hari-hari libur di akhir tahun sering kita manfaatkan untuk catch up dengan teman dekat. Meskipun statusnya ‘dekat’, tapi karena aktivitas kita sehari-hari yang padat, biasanya malah jarang ketemu. Tanpa ada beban ‘reuni’ atau ‘kumpul keluarga’ selayaknya hari besar keagamaan, maka hari-hari setelah Natal dan sebelum tahun baru menjelang memang yang paling pas untuk bertemu lagi secara tatap muka langsung dengan teman-teman yang selama ini, paling banter, ngobrol lewat bahasa tulisan di grup WhatsApp.

Sebelum kocar-kacir karena liburan dengan keluarga masing-masing, pasangan masing-masing, atau kelompok pertemanan yang lain, saya menyempatkan berkumpul dengan beberapa teman yang sudah lama tidak bertemu langsung. Meskipun kami cukup sering bertukar pesan lewat WhatsApp, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi mendengarkan candaan, celetukan dan celotehan langsung teman-teman kita.

Apa saja yang diobrolkan? Well, siapa yang bisa mengatur? Namanya juga obrolan “ngalor ngidul”. Coba simak saja:

“Eh, tahun 2017 kayaknya berat ya?!”

“Eeem!” / “Banget, bok.” / “He eh.” / “Mayan.” / “Ya gitu deh.”

“Tapi ada yang akhirnya dilamar! Cieee …”

“Coba angkat cincinnya, coba …”

“Hahahaha. Apaan sih. Kayaknya udah pada pernah lihat juga.”

Enjoy the moment, dear. Kalau elo pas lagi riweh nyiapin urusan kawinan, apalagi sekarang udah makin deket sama hari H, take a look at that finger, and remind yourself the journey to get there.”

“Eh busyet, mak. Bijak bener. Kesambet apa?”

“Keselek biji.”

“Biji brondong?”

“Brondong popcorn abis ngemil dari nonton di bioskop. Ya kali.”

“Hahaha. Ya kalo ama brondong beneran juga gak papa.”

“Kagak ada brondong-brondongan. Udah cukup sekali aja ya.”

“Oh iya. Akhirnya udah resmi kan ya? Udah ketok palu? Udah ganti status jadi single lagi, bukan menikah?”

Done, done and done.”

Sorry, but how do you feel?”

I am fine. Really. Lega, bok. Eh maaf, bukan mau menakut-nakuti elo yang mau married ya.”

“Nyante aja.”

Thanks. Tapi ya gue lega, finally it’s over. Akhirnya gue bisa ngerasain apa yang orang-orang bilang, kalau living without loving kills you and everyone around you. Like, seriously. Kalau udah gak bisa connect, manalah bisa konak sepenuh hati?”

“Woooy!” / “Mulut, wooy!” / “Hahahaha, ancur!” / “Anjaaay!”

“Eh tapi beneran ini. Marriage is not easy. Not everybody is cut out for marriage. Dan yang penting jujurlah ama diri sendiri sebelum jujur ke orang lain.”

Hear, hear.

“Dan just because one marriage doesn’t work, doesn’t mean the other will fail as well. Just because mak bapak elo sukses berumah tangga puluhan tahun, doesn’t mean you as their kids can inherit that genetically. Dealing and living with others itu kan kemampuan, skill ya bok, yang harus kita asah dan praktekin. Manalah bisa itu keturunan genetik. Emang tompel di pantat?”

“Asli kalo elo bukan temen kita, gue udah turunin elo di pasar biar gabung ama preman.”

“Asyik dong. Preman jaman sekarang kan Oke Oce.”

“Amit-amit!”

“Tapi ngomong-ngomong Oke Oce ya, elo gak pada khawatir ya ama Asian Games?”

“Ini lagi, kenapa dah tau-tau kesambet ngomongin Asian Games?”

“Ya gue kan malu bok, kalo Asian Games ntar dianggep gagal. Kotanya kotor lah, macet lah, nggak aman lah.”

“Gue sih berusaha positive thinking lho ya, baru berusaha doang nih. Mungkin itu dianggep challenge ama Pemda biar ngeberesin kota karena ada event gede. Mungkin. Elo tau sendiri kan, gak di sini, gak di luar kota, kalau ada acara gede, atau pejabat dateng, baru deh dibenerin jalan, listrik, dan lain-lain.”

“Trus pas acaranya selesai, bakal dianggurin gitu? Jadi rusak lagi?”

It can happen. Kecuali ya ada acara serupa yang satu level.”

“Lelah ya gitu terus.”

“Ya kalau gak mau lelah sih, cari pemimpin yang bener lah.”

“Emang yang sekarang gak bener?”

“Ya menurut elo sendiri gimana? Eh tunggu. Maksud elo pemimpin yang mana nih?”

“Pemimpin hatiku.”

“Ah kepret!” / “Basi!” / “Kampret!” / “Huek cuh!”

“Hahahaha. Ya boleh dong ngarep. Masak udah satu dekade ngeliat kembang api tahun baru sendirian terus?”

“Ya mau di Ancol, Monas atau Times Square juga pasti banyak orang. Jangan kayak orang susah, deh.”

“Tapi elo hebat juga, tahan terus sendirian.”

“Ya kagak lah! Elo kira being single itu gampang?”

“Ya buktinya elo baik-baik aja.”

“Ya masak pas gue horny and lonely and horny in my loneliness gue koar-koar di WhatsApp grup, monyeeet?! Ya enggak lah.”

“Tapi elo gak depressed atau apa, gitu.”

“Gini. I don’t mind being single because it’s my choice. Beneran. Tapi ya gue juga manusia, bok. Most days I’m fine, but in some days, I’m not fine. Pas bagian yang gak baik-baik inilah yang berat.”

You know you’ve got us, right?

I know. Thank you.

“Kadang gue mikir, emang makin berumur, kita gak perlu banyak. At least itu yang gue rasakan. Elo tau kan gue bangkrut tahun ini?”

Wait, what?” / “Nyet! What happened?” / “Bok, jangan boong.” / “Sumpah?”

“Beneran, gue gak bohong. Mana mungkin gue bohong.”

What happened?”

“Intinya, rencana gue gak berjalan sesuai perkiraan. Pembayaran projects yang di-commissioned ke gue, atau yang gue commissioned ke orang, semuanya bermasalah. Like, semuanya.”

Tell me about it. Orang-orang pada sibuk saving instead of spending.”

“Kalau itu sih gak ngaruh buat gue. Oke, tapi intinya, I’m not doing well financially. But I know this is temporary. It will pass.”

How are you holding up?”

“Ternyata gue baik-baik saja. Gue banyak baca buku tahun ini. Gue ikut volunteer work. Dan ternyata, setelah elo gak punya banyak, elo jadi tahu apa yang sebenarnya elo perluin. And guess what? We don’t need much. We may want much, but what we need? Hardly much. Gue gak ikut Harbolnas, karena emang gak ada barang yang bener-bener gue perluin. And I feel fine. I am fine.”

So actually being bokek is liberating for you ya, bok.”

You can say that! Hahahaha!”

“Eh elo bisa ketawa. That is good. Beneran deh, makin hari kayak makin susah buat ketawa lepas. Ntar dikira makar lah, menyinggung perasaan orang lah.”

“Ya makanya the best laugh is when you laugh about yourselves, bukan?”

“Hahahaha, bener!”

“Mudah-mudahan tahun depan makin banyak yang bikin kita ketawa lepas ya.”

“Amiiin!”

Cheers, guys?”

Cheers!”

Advertisements

Leave a Reply