Bagaimana Saya (Ingin Mengajak Kamu) Memandang Mereka

Tulisan ini adalah tulisan saya yang ke-10 di Linimasa. Hari Sabtu nanti, genap sudah kami semua bertujuh sudah menulis masing-masing sebanyak 10 kali di sini. Itu berarti sudah 10 minggu kita semua mempunyai kebiasaan baru: menyantap sarapan yang bukan sekedar makanan, tapi juga kata-kata, bualan, dan obrolan ngalor-ngidul setiap pagi.

Bagi petugas piket, sudah 10 minggu ini kami selalu panik dan was-was sehari menjelang tugas piket. Kadang selain bingung nulis apa, ternyata kendala lain bisa terjadi. Tukar jadwal piket pernah terjadi antara saya dan Farah Dompas karena modem saya rusak. Hari Selasa kemarin, Agun Wiriadisasra juga sempat panik karena hal yang sama. Sementara Roy Sayur pernah ketinggalan kabel laptop entah di mana.

Tapi kalau dilihat tulisan mereka, tidak terlihat kekhawatiran di atas. Apalagi tiga penulis mumpuni ini: Glenn Marsalim, Gandrasta Bangko, dan Dragono Halim. Kepiawaian mereka bertutur mengungkap hal yang abstrak sekalipun tak bisa dipungkiri lagi. Pengalaman mereka menulis di dunia nyata sudah acap kali terasah sempurna.

Sepuluh minggu, dan tak seharipun lewat tanpa rasa kagum yang berkurang terhadap mereka.

Sampai saat ini, saya tak tahu alasan apa Roy tiba-tiba mengajak saya bergabung di suatu hari Kamis di bulan Agustus.

Bak sosok Charlie dalam serial “Charlie’s Angels”, karena tidak ada satu pun dari kami yang pernah menjumpainya, Roy mengumpulkan kami dengan modal obrolan di whatsapp. Misi yang ditugaskan cuma satu: menulis. Bergantian setiap hari. Tanpa jeda.

Saat saya bertanya ke Roy tentang siapa saja yang sudah diajak, balasannya “Aku udah dapet Gandrasta, Glenn, Fa, Dragono dan Agun.” Perhatikan diksinya. “Dapet”. He owns. Singkat. Tanpa basa-basi. Seperti tulisannya yang cenderung maskulin. Kadang meledak-ledak saat bicara politik, tapi bisa juga merayu penuh misteri saat berbicara hal-hal yang luput dari pengamatan kita.

Charlie in Charlie's Angels
Charlie in Charlie’s Angels

Lalu bacalah tulisan Glenn. Dia cermat dalam mengobservasi. Kelihatan kalau dia punya pengalaman di hal menganalisa perilaku orang kebanyakan. Dia sudah makan asam garam kehidupan bertahun-tahun. Seperti Kapten Gerd Wiesler di film The Lives of Others yang punya daya sensorik tinggi, bahkan tahu bunyi derap langkah kaki siapa dari kejauhan, demikian pula Glenn dengan imajinasinya yang membumi. Pengamatannya kadang memang merefleksikan karakter Glenn sehari-hari. Lalu tinggal kita yang menebak-nebak: mana dari tulisan Glenn yang sebenarnya tentang dirinya sendiri?

The Lives of Others
The Lives of Others

Kelihaian Glenn tak heran membuat Gono (panggilan Dragono) mengidolakannya. Mirip seperti karakter Judy Garland di bagian-bagian awal film A Star is Born. Dan seperti karakter itu, Gono pun bersinar justru karena jati dirinya. Tulisan-tulisannya menenangkan. Tepat di tengah minggu, di hari Rabu, tulisan Gono laksana meditasi setelah melewati kerasnya awal pekan, dan sebelum jedang-jedung menikmati akhir pekan.

A Star is Born
A Star is Born

Dan di hari pertama di tiap pekan baru, Doni (panggilan saya ke Gandrasta) hadir dengan menggelegar. Tidak ada tulisan Doni yang tidak sensasional. They are larger than life. He is larger than life. Doni adalah Don Corleone di The Godfather: keras, tegas, kompleks dan penuh rasa cinta yang limpahannya mengejutkan. Romantis tak terkira. Emosi kita diterjunkan dengan bebas sekenanya dari cara bertuturnya. Kami ber-6 selalu bilang, “Semua orang menyukai tulisan Doni”.

The Godfather
The Godfather

Sementara Agun yang hadir sehari setelah Doni, selalu terkesan tampil nyantai. Relaxed. Padahal dia piawai meriset. Persis tipikal cool nerd macem Jesse Eisenberg di The Social Network. Tulisannya dihiasi data-data dari berbagai sumber, tanpa harus menjadi berat. Dan yang pasti menambah pengetahuan pembacanya. Sesuatu yang bisa jadi tidak disadari oleh Agun sendiri.

The Social Network
The Social Network

Justru yang sadar banget keberadaannya di sini, tentu saja, Fa. Satu perempuan di antara enam pria. Gak lengkap kalo gak ada Fa, ibarat gak ada Deepika Padukone di Happy New Year, maka filmnya membosankan setengah mati cuma ngeliatin Shah Rukh Khan dan perut 8 kotaknya. Tapi karena Fa gak bisa menari, maka dia bisanya bertutur dengan lancar. Tulisannya beragam. Semua pakai hati. Semua dipikirkan masak-masak. Semua tulisannya melalui proses peresapan berhari-hari. Semuanya terbaca kalau Anda baca sekali lagi.

Happy New Year
Happy New Year

Tentu saja, yang tidak terbaca di sini adalah Fa sudah melamar saya dua kali di celotehan grup whatsapp kami. Entah maunya apa perempuan satu-satunya ini.

Saya juga tidak tahu maunya penulis yang lain apa dengan linimasa ini. Masih tidak tahu, meskipun sebulan lagi akan ada tulisan ke-100.

Tapi saya tahu apa yang saya mau, yaitu terus menerus belajar dari mereka.

Seorang teman pernah menanyakan ke saya tentang linimasa. Jawaban saya waktu itu, “I feel lucky. I am standing in the shoulder of giants.

And when you stand along the best, you learn. Itulah yang saya pelajari dari mereka. Tulisan mereka. Alur pikir mereka. Pilihan kata mereka. Pikiran mereka. Hati mereka.

Kalau tulisan Roy beberapa minggu lalu lebih tentang selfie, maka tulisan ini lebih mirip foto mereka yang saya ambil diam-diam. Lalu saya kumpulkan. Dan jadilah gambar utuh bagaimana saya memandang mereka.

photo (1)

Dan apapun tulisan yang tersedia, berapapun jumlahnya, pastikan Anda tersenyum membacanya.

Karena semuanya ditulis pakai hati.

Iklan

6 thoughts on “Bagaimana Saya (Ingin Mengajak Kamu) Memandang Mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s