Meneruskan Cerita

Ini aneh: mendadak saya iri dengan teman-teman seumuran yang sudah mempunyai anak.

Padahal biasanya saya tidak pernah punya perasaan ini. Biological clock untuk memiliki keturunan langsung pun sudah berhenti sejak beberapa tahun lalu. Paling tidak berhenti untuk sementara. Belum ada lagi keinginan yang menggebu-gebu seperti waktu dulu. Jadi sekarang merasa biasa saja kalau harus berinteraksi dengan teman-teman dan anak-anak mereka.

Namun yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini sungguh berbeda. Tiba-tiba saja saya tersenyum kecut sendirian.

Apa penyebabnya?

Tak lain dan tak bukan adalah lagu tema “Beauty and the Beast”.

Iya. Lagu tema film Beauty and the Beast, yang dimulai dengan lirik “tale as old as time …” itu.
Yang dulu dinyanyikan dengan indah oleh Celine Dion dan Peabo Bryson, dan sekarang dinyanyikan ulang dengan versi “yaelah, gitu doang” oleh Ariana Grande dan John Legend.

Saya tidak berhenti mendengarkan dua lagu tersebut sepanjang akhir pekan kemarin. Termasuk juga beberapa tracks lainnya di album soundtrack film tersebut, baik versi dulu maupun sekarang.

Ingatan saya jadi melayang ke dua puluh enam tahun silam. Masih duduk di bangku sekolah. Namun pemberitaan cukup gencar soal film animasi Beauty and the Beast membuat saya penasaran. Saya pun nonton di bioskop terdekat. Saya hanya bisa berdecak kagum.

Kemudian hadir teknologi VCD hanya selang beberapa tahun kemudian. Saya sudah menginjak usia remaja tanggung. Saya menonton lagi film ini dari jasa persewaan video terdekat. Entah kenapa, saya menitikkan air mata saat menonton untuk kesekian kalinya. Masih terasa indah, masih terasa magical. Dan jadilah Beauty and the Beast satu-satunya film animasi Disney yang sampai membuat saya menangis, sampai sekarang.

(from youtube.com)

Fast forward to last year, saat promosi film versi anyar sudah dimulai, dan teaser berikut trailer sudah dirilis. Saya terkesiap. Tidak menyangka bahwa film versi baru ini adalah adaptasi murni film animasi ke dalam bentuk live action. Saya memang tidak banyak membaca tentang berita pembuatan film versi baru ini, karena saya pikir adaptasi murni dari cerita asli atau novelnya. Ternyata saya salah.

Jadi saya kaget, melihat cuplikan film sepanjang lebih kurang 2 menit, di mana tampilan adegannya persis sama dengan film animasi yang saya tonton dulu. Apa yang ditampilkan dengan gambar animasi, sekarang menjadi terlihat seperti nyata.

Seketika memori masa kecil melihat keajaiban di layar lebar datang lagi. Dan memori itu makin menjadi akhir pekan kemarin, saat mendengarkan lagu-lagunya kembali.

(from comingsoon.net)

Di situlah sedikit rasa iri muncul.

Saya hanya bisa membayangkan, teman-teman saya yang dulu menonton film animasi di layar lebar, sekarang bisa membawa anak-anak mereka menonton cerita apa yang dulu mereka juga tonton, dan menceritakan kembali pengalaman mereka. Setelah itu, mereka bisa berbagi pengalaman terbaru mereka seusai menonton versi yang baru ini.
Thus, an inexplicable joy of sharing something in common between parents and children finally happens. And you cannot ask for more than this.

Bukan, saya bukan sedang mempunyai rencana untuk punya anak. Paling tidak, tidak dalam waktu dekat. Saya sudah sangat bahagia menjadi paman untuk keponakan, baik keponakan biologis, maupun keponakan dari anak-anak beberapa teman. Sangat menikmati peran sebagai paman yang anak-anak ini bisa lari sejenak dari rutinitas keseharian bersama orang tua mereka.

Hanya saja, I just cannot help it. Ada rasa iri yang terbersit sedikit, ketika sadar ada kesempatan besar bagi beberapa orang, untuk bisa meneruskan memori menakjubkan mereka tentang the magic of cinema ke anak-anak mereka, lewat cerita yang sama, di saat yang sama.
Kesempatan yang langka.

(from postercollector.co.uk)

Tentu saja saya bisa menunggu saat film baru ini hadir dalam format digital atau Blu-ray beberapa bulan lagi, lalu saya ajak keponakan saya untuk menonton, kalau bisa back-to-back atau berturut-turut dengan versi animasinya. Tentu saja, sensasinya akan berbeda dengan menonton di bioskop. Tapi masih lebih baik daripada tidak melakukannya, bukan?

Saat tulisan ini dibuat dan dinaikkan, saya belum menonton film Beauty and the Beast versi tahun 2017. Rencananya saya akan menonton di hari pertama tayang di bioskop bersama beberapa teman. Ada yang sudah berkeluarga, ada yang belum. Deg-degannya sudah mulai dari sekarang. Tapi saya yakin, bagaimanapun hasilnya, saya tetap menganggap Beauty and the Beast keluaran tahun 1991 adalah film animasi Disney terbaik.

(from filmquadposters.co.uk)

Buat teman-teman yang akan mengajak anak-anak menonton, selamat menonton.

Just enjoy the magic. Let the kids see the film with their big eyes in amazement. Pesan saya, jangan lupa buat berdiskusi setelah film dengan mereka.
Kenapa?
Karena saya yakin, both you and your kids will have plenty to discuss.

Oh, yes.

😉

Advertisements

Tebak-Tebak Oscar Si Buah Manggis, Eh Halo Manis …

So what’s the first Oscar in, ugh, President Trump’s time gonna be? Escapism wins!

Sebagian besar film yang dinominasikan adalah film-film yang mengajak kita lari dari dunia nyata sekarang. Seakan-akan semuanya ingin membawa kita pergi dari carut-marut suasana yang terjadi sejak dunia dipimpin orang yang tidak kompeten.

Lihat saja dari jajaran nominasi film terbaik: film musikal, film tentang usaha menerima jati diri lewat tampilan gambar yang cantik, tiga film dengan setting masa lalu (Perang Dunia II, Amerika di tahun 50-an, Amerika di tahun 60-an), komunikasi dengan alien, film tentang anak yang terpisah dari keluarga.
Dua film lain juga berkisah tentang glorifying the past: pencurian bank, dan pria yang terjebak di kehidupan masa lalu. Semuanya bernada escapism, baik itu yang ceria maupun yang suram.

So what does this tell us?

Sejarah mencatat bahwa pada jaman The Great Depression di akhir tahun 1920-an sampai awal tahun 1930-an, film-film musikal buatan dan keluaran MGM berjaya di pasaran. Tapi itu dulu, saat belum ada televisi atau media hiburan moving visual lainnya.

Sekarang? Bisa jadi sejarah terulang. Kabarnya genre musikal mulai merebak lagi, dengan rencana produksi beberapa film dalam 2-3 tahun ke depan. Sementara itu, film-film yang diangkat dari komik DC dan Marvel masih akan terus ada sampai 12 tahun ke depan.

Jackie (from theplaylist.net)
Jackie (from theplaylist.net)

Yang jelas, mau tidak mau, konten cerita akan semakin dikaitkan atau terkait dengan kondisi sosial politik dunia. Sepertinya tidak akan bisa terelakkan.

Paling tidak, dalam ajang Academy Awards dan penghargaan-penghargaan lain, acceptance speech dari peraih penghargaan akan bermuatan politis. Kalau bisa berisi protes.
Ini sudah terlihat dari Golden Globes, lalu Grammy Awards, dan ajang-ajang serupa berikutnya. Semoga para “seniman” ini tidak bosan untuk terus beropini.

Berbicara tentang opini, tentu saja prediksi ini adalah opini pribadi saya. Bagi kami yang terlalu suka mengamati film, terutama musim penghargaan film atau awards season yang selalu dimulai dari awal November sampai akhir Februari setiap tahunnya, tahun ini sepertinya less challenging. Kenapa? Karena banyak calon pemenang sepertinya sudah given, sudah written on the paper.

Tapi kata kuncinya tetap “sepertinya”.
Kami bukan members of Academy yang punya kekuasaan untuk vote the recipients.
Meskipun ikut miris juga dengan pergerakan militan dari fans salah satu film nominasi Best Picture yang ngotot calonnya menang (oh yes, awards campaign is as nasty as any political elections!), kita cuma bisa nyengir aja.

In the end, we can only hope the good ones win.

Dan inilah harapan saya:

Best PictureLa La Land

Best Director – Damien Chazelle (La La Land)

Best Lead Actor – Casey Affleck (Manchester by the Sea)

Best Lead Actress – Emma Stone (La La Land)

Best Supporting Actor – yang mengejutkan buat saya, seluruh nominator di kategori ini tidak ada yang benar-benar “nyantol” penampilannya di hati. Seperti ada yang kurang sedikit. Kalau ada sedikit yang cemerlang di atas rata-rata, justru Jeff Bridges dalam Hell or High Water. Tapi karena beliau sudah pernah mendapat Oscar, dan di musim kali ini tidak terlalu put that much effort to campaign, maka pilihan saya kembali ke yang paling obvious to win dari segi yang paling ‘ngotot’ kampanyenya: Mahershala Ali (Moonlight)

Best Supporting Actress – meskipun sebenarnya dia adalah pemeran utama, tapi baiklah, dia salah satu aktris terbaik masa kini. Viola Davis (Fences)

Best Adapted Screenplay – kategori paling berat buat saya, karena semua, SEMUA, unggulan naskahnya bekerja dengan sangat baik di masing-masing film. But in the end, only one can win. Barry Jenkins (Moonlight)

Best Original Screenplay – Kenneth Lonergan (Manchester by the Sea)

Best Editing – Joe Walker (Arrival)

Arrival (from orangemagazine.ph)
Arrival (from orangemagazine.ph)

Best Cinematography – Greig Fraser (Lion)

Best Costume Design – Madeline Fontaine (Jackie)

Best Production DesignLa La Land

Best Make Up and Hair StylingStar Trek Beyond

Best Visual EffectsThe Jungle Book

Best Original Score – Justin Hurwitz (La La Land)

Best Original Song – “City of Stars” (La La Land)

Best Sound EditingHacksaw Ridge

Best Sound MixingLa La Land

Best Foreign Language Film – kalau memang film yang saya jagokan ini menang, saya akan sangat bahagia. Bukan karena alasan politis. Tapi saat menonton, saya sampai ketakutan, karena tidak menyangka cerita filmnya akan sedemikian powerful, dengan gaya penceritaan bak film thriller. Film-film sebelumnya termasuk film terbaik yang pernah dibuat di abad ini. Saya pikir dia tidak mungkin mengulangi kesuksesannya. Namun dia membuktikan bahwa dia adalah salah satu master storytellers jenius yang pernah ada. Dia adalah Asghar Farhadi, dan filmnya adalah The Salesman (Iran).

The Salesman (from awardscircuit.com)
The Salesman (from awardscircuit.com)

Best Documentary Feature13th

Best Animated FeatureZootopia

Nah, kalau mau ikut taruhan Oscar, sebenarnya kuncinya ada di tiga kategori film pendek. Kenapa? Karena paling susah ditebak, soalnya jarang yang nonton! Jadi pertaruhan terbesar kita ada di tiga kategori berikut:

Best Live Action ShortThe Lady on the Train (La femme et le TGV)

Best Animated ShortPiper

Best Documentary Short – nah, kebetulan saya sudah menonton nominasi di kategori ini. Jadi, semoga Academy voters setuju juga dengan pilihan saya atas film yang paling susah dibuatnya, dari segi logistik dan keamanan, sekaligus yang paling punya the most magical moment of humankind yang terekam dengan baik di film: The White Helmets.

Selamat menebak, tapi yang paling penting, selamat menonton!

A good film a day keeps your heart intact.

[Revisi hari Minggu, 26 Februari 2017 – perubahan prediksi Best Original Screenplay dan Best Live Action Short]

Dipilih Sehingga Kita Tidak Pusing Memilih

Ada satu pertanyaan yang cukup sering saya tanyakan ke banyak orang. Memang bukan pertanyaan singkat, karena jawaban dari pertanyaannya akan memancing pertanyaan lain yang lebih “kompleks”.

Pertanyaan itu adalah, “Kamu suka nonton film di bioskop?”

Kalau jawabannya “tidak”, maka biasanya saya akan lanjut bertanya, “Oh, kalau begitu, waktu luang biasanya diisi apa?” Bagi saya, tidak perlu mencari alasan mengapa orang tidak suka melakukan suatu hal.

Kalau jawabannya “ya”, maka biasanya saya akan melanjutkan dengan beberapa pertanyaan seperti:
– “biasanya dalam sebulan berapa kali nonton?”
– “film terakhir yang ditonton apa?”
– “paling sering nonton di mana?” (sumpah, ini bukan mau stalking!)
– “kalau nonton di bioskop sukanya nonton sendiri atau sama siapa?” (ini juga bukan kepo, tapi pure curiosity!)
Lalu pertanyaan yang akhir-akhir ini makin sering saya tanyakan:
– “kenapa suka nonton di bioskop?”

analyze

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja saya tanyakan dalam kapasitas informal, alias menanyakan dalam situasi yang santai, dan tidak dalam kapasitas survey resmi. Meskipun begitu, terutama untuk pertanyaan terakhir, saya menemukan jawaban-jawaban yang menarik.

Pada dasarnya, kebanyakan dari kita tidak suka sendiri. Kegiatan menonton di bioskop adalah cara menghabiskan waktu bersama orang lain, baik itu pacar, pasangan hidup, atau beramai-ramai bersama dengan teman dan keluarga. Lalu banyak juga yang bilang, kalau bioskop mempunyai kualitas layar dan tata suara yang jauh lebih baik dari apa yang kita punya di rumah. Menonton di layar lebar jauh lebih memuaskan daripada sekedar menonton di televisi, tablet atau bahkan layar ponsel.

Selain itu, ada satu jawaban yang cukup menggelitik. Beberapa orang mengatakan, bahwa kalau di bioskop, mereka sudah tahu akan menonton film apa, karena mereka berniat menonton film tersebut, tanpa harus terganggu dengan banyak pilihan lain. Kalaupun ada pilihan lain, paling 2-3 film lain. Pilihan yang sedikit justru membuat kelompok penonton ini fokus terhadap apa yang mereka mau tonton.

Jawaban ini cukup membuat saya terkesiap. Sedikit terkejut. Tetapi lantas memahami.

jack-russell-terrier-sunglasses-glasses-drink-tube-popcorn-humor-white-background

Seorang teman pernah bilang ke saya, “Waduh, di rumah itu banyak banget film belum ditonton. Jaman streaming video belum secepat dan segampang sekarang, kan suka download tuh. Itu aja belum semua ditonton. Pulang ke rumah, malah kadang bingung nonton apa. Di harddisk masih banyak film dan serial. Langganan streaming, malah gak ditonton.”

Saya bertanya, “Tapi nonton di bioskop?”

“Iya. Kadang melipir aja sambil nunggu macet kelar. Atau emang sengaja nonton film di bioskop. Kan jelas, filmnya apa. Gue gak perlu bingung milih atau mikir mau nonton apa. Udah, tinggal beli tiket, beli popcorn, duduk. Jelas.”

Dalam pembahasan lain yang semi serius, seorang teman lain pernah berkata bahwa untuk leisure items, banyak orang cenderung akan mengkonsumsi atau memilih apa yang sudah dipilihkan untuk mereka.
“People still prefer having their goods chosen and curated for them”, katanya.

Ini sedikit mengingatkan pengalaman teman saya waktu bekerja toko buku. Kata dia waktu itu, susah sekali menjual buku fiksi dibanding buku-buku petunjuk seperti restaurant guides, travel guides, dan sejenisnya.
Lalu teman lain yang dulu bekerja di perusahaan rekaman pernah juga berujar bahwa rata-rata penjualan album kompilasi seperti All Hits Collections dan sejenisnya masih lebih baik dari album solo.

Sedikit banyak memang hal ini memberikan suntikan mood booster ketika saya harus mengkurasi film untuk festival. Bahwa ketika orang diberikan pilihan yang terbatas dalam waktu yang terbatas untuk mengakses pilihan tersebut, maka ada sense of urgency untuk menikmatinya, sebelum terlewat kesempatannya. Ya ini memang sekedar self assurance sih. Entah benar atau tidak, dan tergantung seberapa besar festival tersebut dikenal, tapi nyatanya memang saya melihat bahwa kegiatan festival film, festival musik dan festival-festival lain cenderung dipadati penonton. Terlebih kalau tempat pelaksanaan kegiatannya cukup nyaman, seperti bioskop.

movie-watching

Tempat yang nyaman, pilihan yang sudah tersaji, dan kita cukup menerima. What’s not to like? Mungkin ada yang protes, kenapa film tertentu tidak ditayangkan, diputar atau dirilis. Tapi jumlah yang protes biasanya tidak cukup banyak utnuk membuat orang berpaling sepenuhnya, karena bagaimanapun, frekuensi untuk menyerahkan pilihan kepada pihak lain ternyata masih cukup tinggi. Maka bioskop masih ada, walaupun streaming service makin mudah dijangkau. Maka orang masih punya paling tidak satu set televisi di rumah, walaupun akses internet nyala 24 jam. Maka restoran masih ada, meskipun jasa antar layan makanan makin banyak.

Karena kita manusia yang perlu melihat manusia lain untuk memastikan kita tidak sendiri. Meskipun kita memilih sendiri, tapi menikmati tontonan tidak dalam kesendirian akan memberikan pengalaman yang membuat kita ketagihan.
Tidak percaya?

Well, selamat menonton. 🙂

10+ Film Paling Berkesan Ditonton di Bioskop Tahun 2015

Film tidak harus ditonton di bioskop. Saya setuju. Apalagi dengan kemajuan teknologi sekarang ini. Banyak film dengan kualitas baik hadir lewat media streaming video service. Bisa lewat Amazon, Netflix, dan beberapa situs lainnya. Dari dalam negeri pun sudah mulai muncul beberapa situs serupa.

Namun tidak ada, atau belum ada, yang bisa mengalahkan sensasi bioskop. Sebuah ruang besar yang gelap, dengan layar lebar yang membuat kita terpaku akan kedigdayaannya. Selama 2-3 jam pandangan kita terkonsentrasi apa yang kita lihat dan dengar di layar sebesar puluhan meter di depan. Ini belum termasuk proses keluar rumah, mengantri tiket dan makanan kecil, mengajak teman atau pacar, serta semua hal yang menjadi cinemagoing experience lengkap.

Setiap menjelang akhir tahun, saya selalu membuat daftar film-film yang saya tonton di bioskop dengan sensasi menonton yang mengesankan. Bukan, ini bukan daftar film “terbaik”. Ini daftar film-film yang saya tonton tahun ini dengan pengalaman menonton yang masih saya ingat sampai sekarang. Filmnya sendiri mungkin belum tentu dianggap banyak orang sebagai yang “terbaik”. Toh pengalaman menonton film itu pasti personal. Pengalaman satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Ada beberapa film di bawah ini yang saya tonton berdua, bertiga, atau beramai-ramai, lalu di akhir film ada yang menyeletuk “Filmnya nggak bagus menurutku, ah!” Sementara saya cukup tersenyum karena mengambil kesimpulan sebaliknya. You may watch a film together, but how the film speaks to you, that’s always personal.

Biasanya saya menulis daftar ini di blog pribadi saya dalam bahasa Inggris. Untuk pertama kalinya, saya menuliskannya di Linimasa, karena saya cinta kalian semua. Aaawww.

Dan dalam urutan abjad, maka 10+ film yang paling berkesan waktu saya menontonnya di bioskop tahun ini adalah:

a. 99 HOMES
Tanggal menonton: 22 Oktober

99 Homes
99 Homes

Dari menit-menit pertama, saya sudah tercekat. Sutradara film ini, Ramin Bahrani, banyak menggunakan extreme close up untuk memperlihatkan ekspresi muka Andrew Garfield dan Michael Shannon dengan dentuman musik perkusi dari komposer Antony Partos dan Matteo Zingales yang tak kunjung berhenti. Ini film drama, tentang seorang pria yang berjuang mati-matian agar tidak kehilangan rumah tempat tinggalnya. Alhasil, menonton ini di malam hari, di layar lebar membuat saya ikut merasa tegang. Ikut merasakan penderitaan karakter fiktif yang terkesan nyata. Diam-diam saya bertepuk tangan seusai pemutaran fllm ini.

b. BAJRANGI BHAIJAAN / THE GOOD DINOSAUR
Tanggal menonton: 28 Juli / 12 Desember

Satu film drama Bollywood, satu film animasi dari Pixar. Keduanya terpaut beberapa bulan tanggal penayangannya. Namun keduanya memiliki kesamaan: menguras air mata.
Saya jarang menangis saat menonton di bioskop. Tetapi untuk kedua film ini, saya bisa mendengar isak tangis sendiri. Ya, saya sadar sekali ketika menonton keduanya, saya sedang dimanipulasi. Yang memanipulasi saya adalah cerita, musik, akting, dan semua yang membuat make-belief experience ini sangat berhasil. Resepnya sama, yaitu put an ordinary character in an extraordinary situation, especially journey, to unravel his or her true self. Di Bajrangi, karakter utama melibas nilai agama untuk menyelamatkan anak kecil. Di Good Dinosaur, karakter utama melibas ketakutan sendiri untuk menjadi dewasa. Jadilah the tearjerking moments of the year.

c. INSIDE OUT
Tanggal menonton: 22 Agustus

Banyak orang menangis nonton Inside Out ini. Tetapi saya tidak. Justru saya tercengang. Bagaimana mungkin menggambarkan perasaan dan emosi manusia dengan jelas? Sepanjang film saya bengong melongo. Film ini membuktikan sebuah pendapat yang sulit, yaitu suatu teori rumit akan berhasil apabila bisa diterangkan dengan bahasa mudah ke anak umur 6 tahun. Dan film ini sukses melakukannya, in an almost effortless manner.

d. LELAKI HARAPAN DUNIA
Tanggal menonton: 28 November

Lelaki Harapan Dunia
Lelaki Harapan Dunia

Tidak banyak film Malaysia yang saya tonton. Kalaupun sempat, biasanya film arthouse atau independen. Ketika tahu bahwa film ini diputar secara terbatas bulan lalu, saya bergegas menyempatkan. Dan sepanjang film saya tergelak terus. Cerita film mungkin akan sedikit mengingatkan kita pada bands of merry men with weird personalities seperti di film-film Wes Anderson atau Coen Brothers, namun dengan setting di sebuah desa terpencil di Malaysia, malah mengingatkan kita akan film-film Indonesia tahun 1970-an. Isu yang ditawarkan, seperti takhayul, konflik agama, dan lain-lain, terasa sangat dekat dengan kita. Salah satu film yang menyenangkan untuk ditonton ulang.

e. MAD MAX FURY ROAD
Tanggal menonton: 14 Mei

Tanggal di atas adalah tanggal pertama kali saya menonton film ini di bioskop. Setelah itu saya menyempatkan menonton lagi, dan lagi. Sensasi setiap menonton film ini setelah beberapa kali masih sama, “Whoa! What was that I just saw?” Tak cukup kata sifat yang bisa dengan pas menggambarkan keindahan film ini. It is the most exhilarating sensory visual experience in cinema this year.

f. PIKU
Tanggal menonton: 12 Mei

Piku
Piku

Tidak banyak film yang akan bertahan dalam ingatan kita. Dari yang sedikit itu, film Piku masih membekas di ingatan saya sampai sekarang. Saya masih tersenyum saat mengingat film ini. Cerita seorang anak perempuan yang sendirian merawat ayahnya yang unik, sementara sang anak juga pekerja kantoran, terasa nyata. Bahkan sampai ketika cerita harus bergulir menjadi cerita perjalanan dari Delhi ke Calcutta, drama yang tersaji masih terasa grounded on earth. Tidak dibuat-buat. Hampir setengah jam pertama film hanya memperlihatkan rumah dua karakter utama ini. Namun mata kita tidak dibuat bosan melihatnya. Saat saya menceritakan ini kepada seorang produser film, dia berkata, “Berarti sutradara film ini hebat. Dia tahu bagaimana menempatkan kamera dengan baik. Dia tidak sibuk dengan tata kamera yang berlebihan. Dia tahu kekuatan cerita ada di mana, dan bisa melihat tanpa harus mengintrusi.”
Banyak cerita yang bisa diambil dari film ini. Momen-momen kecil yang tersebar dari ujung sampai akhir film akan membuat kita tersenyum. Kalau boleh saya memilih satu saja film favorit sepanjang tahun 2015, mungkin film inilah yang menjadi pilihan saya.

g. SPY
Tanggal menonton: 16 Mei

Film tentang mata-mata yang paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini justru film parodi dari genre tersebut. Melissa McCarthy is all game di film yang mengeksploitasi tidak hanya fisik, namun comic timing yang sempurna. Meskipun begitu, kejutan justru datang dari Jason Statham. Siapa sangka action star ini bisa melucu dengan tanpa beban? Saya tertawa terbahak-bahak menonton film ini, sampai harus meluangkan waktu untuk nonton lagi. The funniest film of the year by far.

h. STAR WARS: THE FORCE AWAKENS
Tanggal menonton: 19 Desember

Tentu saja tidak lengkap daftar ini tanpa mengikutsertakan film yang paling ditunggu-tunggu di paruh kedua dekade ini. Saya tidak perlu menerangkan lebih lanjut lagi. The hype is justified. The wait is over. The film is worth all praises. Mata saya terbelalak dan bibir langsung tersenyum begitu mendengar alunan musik John Williams menggelegar saat tulisan khas Star Wars terlihat naik dari bawah ke atas di layar lebar. Momen-momen seperti kembalinya Han Solo dan Chewbacca, helm yang dikenakan Rey pertama kali di padang pasir, sampai munculnya R2D2 kembali, membangkitkan sensasi nostalgia buat para penonton film-film Star Wars. Maybe the nostalgic feeling clouded our perception towards the film, but then, that’s part of the experience.

i. THE WALK
Tanggal menonton: 8 Oktober

The Walk
The Walk

Saya takut ketinggian. Saat menonton trailer film ini, langsung terbayang rasa mual. Waktu itu sempat berjanji, “Nggak akan nonton film ini di IMAX. Pasti muntah!” Tentu saja saya melanggar janji sendiri. Menyaksikan film ini di IMAX, tepat di tengah-tengah, membuat lutut saya bergetar keras selama 40 menit terakhir. Saat Joseph Gordon-Levitt mulai meniti tali yang menghubungkan kedua menara World Trade Centre, jantung ini terasa lemas sekali. Saya cuma bisa menghempaskan badan ke kursi. Kepala menunduk, sambil mata masih pelan-pelan mencuri pandang apa yang ada di layar. Bukan film horror, tapi ini film yang membuat seluruh badan lemah tak berdaya. Ditambah dengan ending film yang mengharukan, saat kita menyadari makna kata “forever”, lengkaplah The Walk menjadi salah satu film yang paling mendebarkan sepanjang tahun 2015.

j. WHIPLASH
Tanggal menonton: 14 Februari

Beruntunglah mereka yang menunggu film ini sampai hadir di bioskop. Dentuman drum dan band ensemble yang mengusung musik jazz sayang kalau hanya didengar di laptop atau layar televisi. Tentu saja akting JK Simmons juga terlihat lebih menacing di layar lebar, tetapi tata suara, editing dan musik film inilah yang membuat Whiplash menjadi the most musical experience in film of the year.

Inilah 10+ film dengan pengalaman yang berkesan waktu ditonton di bioskop sepanjang tahun 2015. Daftar ini, tentu saja, tidak mewakili daftar serupa yang mungkin saja dibuat oleh teman-teman penulis Linimasa lain. Jadi, kalau mau tahu apa film-film pilihan dari teman-teman penulis Linimasa lainnya, silakan tanya sendiri ya.

😉

Jangan Lupakan

Sebelum mulai menulis di linimasa.com ini, selalu ada “ritual” yang saya lakukan. Lebih tepatnya, kebiasaan. Maklum, tidak terlalu istimewa kegiatannya.

Saya akan menonton film. Film apapun. Bisa dari televisi, DVD, blu-ray, koleksi di harddisk. Film apa saja. Random choice. Siapa tahu dari pilihan film itu datang inspirasi tulisan. Maklum lagi, kami di sini menulis berdasarkan apa kata hati saat tenggat waktu datang.

Semalam di HBO ada film The Mexican. Ada Brad Pitt, Julia Roberts, dan almarhum James Gandolfini. Pikir-pikir, sudah lama tidak menonton film ini. Ponsel ditaruh jauh-jauh, supaya tidak terganggu pesan-pesan yang masuk.

Sudah 30 menit film berjalan. Saya masih menikmati jalinan cerita film. Setelah cerita mulai bergeser fokus ke Julia Roberts dan James Gandolfini, tiba-tiba entah dari mana, pikiran saya bergeser ke hal lain. Ujug-ujug, saya ingat, pertama kali menonton film ini bersama teman lama, Bang Reza, di Cineleisure Orchard, Singapore. Kayanya hari Minggu siang tahun 2001. “Kalo nggak salah”, pikir saya.

Cek laptop, cari file lama. Ubek-ubek, akhirnya saya tersenyum. Betul. Hari Minggu, 29 April 2001, kami menonton film ini di bioskop itu bersama dua teman lain.

Jauh sebelum IMDB lahir dan bisa beli laptop sendiri, saya punya kebiasaan menulis nonton film apa, tanggal berapa, sama siapa (sendirian atau nggak), dan di mana. Jaman dulu, pakai bolpen dan buku tulis. Sampai 2 tahun lalu, tulis di Excel. Baru tahun lalu, tulis di Notes di ponsel.

Kalau ada pepatah yang bilang “old habit dies hard”, dalam konteks ini saya membenarkan. Kebiasaan mencatat ini terbawa sampai sekarang. Sudah belasan tahun lamanya. Tidak ada yang berubah, kecuali judul film, tahun, dan teman menonton. Nothing changes except the change itself.

Also, there is nothing special about this habit. Hanya saja, buat saya rasanya menyenangkan ketika kepingan memori bisa hadir tanpa perlu diminta. Ketika usia merenta, kita berpegang pada kenangan yang tersisa.

Makanya, saya senyum saja, tanpa bereaksi atau berpartisipasi, saat melihat gambar-gambar meme film Finding Neverland. Ini film pertama yang saya tonton berdua dengan salah satu mantan pacar.

Alih-alih merasa seru nonton Pearl Harbor. Kalau ada film ini di TV, saya ketawa, ingat dulu nonton film ini rame-rame ber-10 dengan bawa roti, keju, dan sate. Nonton Mamma Mia! sambil nyanyi-nyanyi satu bioskop, dan melongok keheranan, “Bok, ini cowok-cowok pada bisa sing along lagu-lagunya ABBA semua!”

Demikian pula saat mengejar film Mystic River ke Malaysia karena main duluan, atau nonton He’s Just Not That Into You di bioskop berdua, beberapa hari sebelum putus.

Pas ‘kan? Pas bener.

Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com
Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com

Judul-judul film di atas tidak ada satu pun yang saya nilai 10 dari 10, 100 dari 100, 5 bintang dari 5 bintang. Tidak merasa perlu juga mengkoleksi film itu di rak, seperti juga film-film lain yang cukup ditonton sekali atau dua kali.

But sometimes, it’s not about the film itself. It’s how you watch the film.

Dalam kesendirian, saya menikmati sensasi menonton The End of the Affair yang dilanjutkan dengan berjalan di bawah hujan, persis seperti filmnya. Lega rasanya ketika bisa legal dan sah nonton film 21 tahun ke atas di bioskop seorang diri nonton Ralph Fiennes telanjang bulat di Sunshine. Mual-mual melihat kekerasan di film The Piano Teacher tanpa ada orang di sebelah yang bisa dipukuli. Dan merasa dewasa sekaligus jumawa sebagai anak SD ketika bisa sendirian saja membeli tiket nonton Dead Poets Society.

Film yang kita tonton, konser yang kita datangi, buku yang kita baca, tempat liburan yang kita kunjungi, beberapa hal yang membuat waktu kita terasa lebih hidup, memang selayaknya patut dikenang. Mungkin kalau kita rajin merekam, kita tidak perlu lagi minum ginkgo biloba atau obat-obat perangsang memori lainnya.

Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com
Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com

Apakah itu tujuan saya membuat catatan itu? Nggak juga. Seneng aja. Movies keep me alive, kok.

Dan mungkin, orang-orang ini sempat merasakannya.