Dipilih Sehingga Kita Tidak Pusing Memilih

Ada satu pertanyaan yang cukup sering saya tanyakan ke banyak orang. Memang bukan pertanyaan singkat, karena jawaban dari pertanyaannya akan memancing pertanyaan lain yang lebih “kompleks”.

Pertanyaan itu adalah, “Kamu suka nonton film di bioskop?”

Kalau jawabannya “tidak”, maka biasanya saya akan lanjut bertanya, “Oh, kalau begitu, waktu luang biasanya diisi apa?” Bagi saya, tidak perlu mencari alasan mengapa orang tidak suka melakukan suatu hal.

Kalau jawabannya “ya”, maka biasanya saya akan melanjutkan dengan beberapa pertanyaan seperti:
– “biasanya dalam sebulan berapa kali nonton?”
– “film terakhir yang ditonton apa?”
– “paling sering nonton di mana?” (sumpah, ini bukan mau stalking!)
– “kalau nonton di bioskop sukanya nonton sendiri atau sama siapa?” (ini juga bukan kepo, tapi pure curiosity!)
Lalu pertanyaan yang akhir-akhir ini makin sering saya tanyakan:
– “kenapa suka nonton di bioskop?”

analyze

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja saya tanyakan dalam kapasitas informal, alias menanyakan dalam situasi yang santai, dan tidak dalam kapasitas survey resmi. Meskipun begitu, terutama untuk pertanyaan terakhir, saya menemukan jawaban-jawaban yang menarik.

Pada dasarnya, kebanyakan dari kita tidak suka sendiri. Kegiatan menonton di bioskop adalah cara menghabiskan waktu bersama orang lain, baik itu pacar, pasangan hidup, atau beramai-ramai bersama dengan teman dan keluarga. Lalu banyak juga yang bilang, kalau bioskop mempunyai kualitas layar dan tata suara yang jauh lebih baik dari apa yang kita punya di rumah. Menonton di layar lebar jauh lebih memuaskan daripada sekedar menonton di televisi, tablet atau bahkan layar ponsel.

Selain itu, ada satu jawaban yang cukup menggelitik. Beberapa orang mengatakan, bahwa kalau di bioskop, mereka sudah tahu akan menonton film apa, karena mereka berniat menonton film tersebut, tanpa harus terganggu dengan banyak pilihan lain. Kalaupun ada pilihan lain, paling 2-3 film lain. Pilihan yang sedikit justru membuat kelompok penonton ini fokus terhadap apa yang mereka mau tonton.

Jawaban ini cukup membuat saya terkesiap. Sedikit terkejut. Tetapi lantas memahami.

jack-russell-terrier-sunglasses-glasses-drink-tube-popcorn-humor-white-background

Seorang teman pernah bilang ke saya, “Waduh, di rumah itu banyak banget film belum ditonton. Jaman streaming video belum secepat dan segampang sekarang, kan suka download tuh. Itu aja belum semua ditonton. Pulang ke rumah, malah kadang bingung nonton apa. Di harddisk masih banyak film dan serial. Langganan streaming, malah gak ditonton.”

Saya bertanya, “Tapi nonton di bioskop?”

“Iya. Kadang melipir aja sambil nunggu macet kelar. Atau emang sengaja nonton film di bioskop. Kan jelas, filmnya apa. Gue gak perlu bingung milih atau mikir mau nonton apa. Udah, tinggal beli tiket, beli popcorn, duduk. Jelas.”

Dalam pembahasan lain yang semi serius, seorang teman lain pernah berkata bahwa untuk leisure items, banyak orang cenderung akan mengkonsumsi atau memilih apa yang sudah dipilihkan untuk mereka.
“People still prefer having their goods chosen and curated for them”, katanya.

Ini sedikit mengingatkan pengalaman teman saya waktu bekerja toko buku. Kata dia waktu itu, susah sekali menjual buku fiksi dibanding buku-buku petunjuk seperti restaurant guides, travel guides, dan sejenisnya.
Lalu teman lain yang dulu bekerja di perusahaan rekaman pernah juga berujar bahwa rata-rata penjualan album kompilasi seperti All Hits Collections dan sejenisnya masih lebih baik dari album solo.

Sedikit banyak memang hal ini memberikan suntikan mood booster ketika saya harus mengkurasi film untuk festival. Bahwa ketika orang diberikan pilihan yang terbatas dalam waktu yang terbatas untuk mengakses pilihan tersebut, maka ada sense of urgency untuk menikmatinya, sebelum terlewat kesempatannya. Ya ini memang sekedar self assurance sih. Entah benar atau tidak, dan tergantung seberapa besar festival tersebut dikenal, tapi nyatanya memang saya melihat bahwa kegiatan festival film, festival musik dan festival-festival lain cenderung dipadati penonton. Terlebih kalau tempat pelaksanaan kegiatannya cukup nyaman, seperti bioskop.

movie-watching

Tempat yang nyaman, pilihan yang sudah tersaji, dan kita cukup menerima. What’s not to like? Mungkin ada yang protes, kenapa film tertentu tidak ditayangkan, diputar atau dirilis. Tapi jumlah yang protes biasanya tidak cukup banyak utnuk membuat orang berpaling sepenuhnya, karena bagaimanapun, frekuensi untuk menyerahkan pilihan kepada pihak lain ternyata masih cukup tinggi. Maka bioskop masih ada, walaupun streaming service makin mudah dijangkau. Maka orang masih punya paling tidak satu set televisi di rumah, walaupun akses internet nyala 24 jam. Maka restoran masih ada, meskipun jasa antar layan makanan makin banyak.

Karena kita manusia yang perlu melihat manusia lain untuk memastikan kita tidak sendiri. Meskipun kita memilih sendiri, tapi menikmati tontonan tidak dalam kesendirian akan memberikan pengalaman yang membuat kita ketagihan.
Tidak percaya?

Well, selamat menonton. 🙂

Iklan

7 thoughts on “Dipilih Sehingga Kita Tidak Pusing Memilih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s