Meneruskan Cerita

Ini aneh: mendadak saya iri dengan teman-teman seumuran yang sudah mempunyai anak.

Padahal biasanya saya tidak pernah punya perasaan ini. Biological clock untuk memiliki keturunan langsung pun sudah berhenti sejak beberapa tahun lalu. Paling tidak berhenti untuk sementara. Belum ada lagi keinginan yang menggebu-gebu seperti waktu dulu. Jadi sekarang merasa biasa saja kalau harus berinteraksi dengan teman-teman dan anak-anak mereka.

Namun yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini sungguh berbeda. Tiba-tiba saja saya tersenyum kecut sendirian.

Apa penyebabnya?

Tak lain dan tak bukan adalah lagu tema “Beauty and the Beast”.

Iya. Lagu tema film Beauty and the Beast, yang dimulai dengan lirik “tale as old as time …” itu.
Yang dulu dinyanyikan dengan indah oleh Celine Dion dan Peabo Bryson, dan sekarang dinyanyikan ulang dengan versi “yaelah, gitu doang” oleh Ariana Grande dan John Legend.

Saya tidak berhenti mendengarkan dua lagu tersebut sepanjang akhir pekan kemarin. Termasuk juga beberapa tracks lainnya di album soundtrack film tersebut, baik versi dulu maupun sekarang.

Ingatan saya jadi melayang ke dua puluh enam tahun silam. Masih duduk di bangku sekolah. Namun pemberitaan cukup gencar soal film animasi Beauty and the Beast membuat saya penasaran. Saya pun nonton di bioskop terdekat. Saya hanya bisa berdecak kagum.

Kemudian hadir teknologi VCD hanya selang beberapa tahun kemudian. Saya sudah menginjak usia remaja tanggung. Saya menonton lagi film ini dari jasa persewaan video terdekat. Entah kenapa, saya menitikkan air mata saat menonton untuk kesekian kalinya. Masih terasa indah, masih terasa magical. Dan jadilah Beauty and the Beast satu-satunya film animasi Disney yang sampai membuat saya menangis, sampai sekarang.

(from youtube.com)

Fast forward to last year, saat promosi film versi anyar sudah dimulai, dan teaser berikut trailer sudah dirilis. Saya terkesiap. Tidak menyangka bahwa film versi baru ini adalah adaptasi murni film animasi ke dalam bentuk live action. Saya memang tidak banyak membaca tentang berita pembuatan film versi baru ini, karena saya pikir adaptasi murni dari cerita asli atau novelnya. Ternyata saya salah.

Jadi saya kaget, melihat cuplikan film sepanjang lebih kurang 2 menit, di mana tampilan adegannya persis sama dengan film animasi yang saya tonton dulu. Apa yang ditampilkan dengan gambar animasi, sekarang menjadi terlihat seperti nyata.

Seketika memori masa kecil melihat keajaiban di layar lebar datang lagi. Dan memori itu makin menjadi akhir pekan kemarin, saat mendengarkan lagu-lagunya kembali.

(from comingsoon.net)

Di situlah sedikit rasa iri muncul.

Saya hanya bisa membayangkan, teman-teman saya yang dulu menonton film animasi di layar lebar, sekarang bisa membawa anak-anak mereka menonton cerita apa yang dulu mereka juga tonton, dan menceritakan kembali pengalaman mereka. Setelah itu, mereka bisa berbagi pengalaman terbaru mereka seusai menonton versi yang baru ini.
Thus, an inexplicable joy of sharing something in common between parents and children finally happens. And you cannot ask for more than this.

Bukan, saya bukan sedang mempunyai rencana untuk punya anak. Paling tidak, tidak dalam waktu dekat. Saya sudah sangat bahagia menjadi paman untuk keponakan, baik keponakan biologis, maupun keponakan dari anak-anak beberapa teman. Sangat menikmati peran sebagai paman yang anak-anak ini bisa lari sejenak dari rutinitas keseharian bersama orang tua mereka.

Hanya saja, I just cannot help it. Ada rasa iri yang terbersit sedikit, ketika sadar ada kesempatan besar bagi beberapa orang, untuk bisa meneruskan memori menakjubkan mereka tentang the magic of cinema ke anak-anak mereka, lewat cerita yang sama, di saat yang sama.
Kesempatan yang langka.

(from postercollector.co.uk)

Tentu saja saya bisa menunggu saat film baru ini hadir dalam format digital atau Blu-ray beberapa bulan lagi, lalu saya ajak keponakan saya untuk menonton, kalau bisa back-to-back atau berturut-turut dengan versi animasinya. Tentu saja, sensasinya akan berbeda dengan menonton di bioskop. Tapi masih lebih baik daripada tidak melakukannya, bukan?

Saat tulisan ini dibuat dan dinaikkan, saya belum menonton film Beauty and the Beast versi tahun 2017. Rencananya saya akan menonton di hari pertama tayang di bioskop bersama beberapa teman. Ada yang sudah berkeluarga, ada yang belum. Deg-degannya sudah mulai dari sekarang. Tapi saya yakin, bagaimanapun hasilnya, saya tetap menganggap Beauty and the Beast keluaran tahun 1991 adalah film animasi Disney terbaik.

(from filmquadposters.co.uk)

Buat teman-teman yang akan mengajak anak-anak menonton, selamat menonton.

Just enjoy the magic. Let the kids see the film with their big eyes in amazement. Pesan saya, jangan lupa buat berdiskusi setelah film dengan mereka.
Kenapa?
Karena saya yakin, both you and your kids will have plenty to discuss.

Oh, yes.

😉

Iklan

20 thoughts on “Meneruskan Cerita

  1. alasan punya anak:
    1.siapa nanti yang urus kalo gue udah tua.
    2.melanjutkan garis keturunan.
    3.gak mau kesepian pas gue tua.
    4.harta gue mau gue kasih ke siapa.
    5.gak ada temen buat cerita and ngobrok beautu and the beast.
    oke sip.

    Suka

  2. Saya selalu berharap Beast stays as beast 🙂 Tapi siapalah saya, bukan sutradara..
    Lagunya juga lebih suka sama versi Celine Dion and Peabo Bryson. That line “Tale as old as time…” always softens my heart.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s