Satpam

Aku berjanji takkan pernah lagi pulang pagi

Seminggu bapak slalu tunggu kami sampai pagi
Ku…berjanji

Padamu…selalu

Tak akan…terulang

Kembali…janjiku

Lain hari…
Bapak yang baik hati jangan pergi malam ini

Siapa lagi yang slalu tunggu kami sampai pagi
Bukan maksud hati kami yang ingin pulang pagi

Maafkan kami karna cuma bisa bikin janji

– Klarinet

 

Salah satu sumbangan yang cukup berharga dari bank yang ada di negeri ini adalah bukan saja soal sumbangsihnya mengongkosi banyak pelaku usaha, kredit rumah, atau pinjeman konsumtip lainnya, melainkan melahirkan profesi lama yang menjadi baru. Apakah itu?

Satpam.

Lewat Bank, Satpam dijinakkan menjadi garda terdepan pelayanan bagi bank. Coba saja kamu perhatikan. Saat memasuki ruangan yang namanya bank, maka pria atau perempuan berseragam yang identik disebut satpam, menyambut kita dengan sumringah. Kita akan diberikan arahan untuk ambil tiket sesuai keperluan. Kita diberi tahu dimana kita antre. Kemana kita harus menuju. Formulir mana yang perlu kita isi. Satpam atau Satuan Pengamanan berubah fungsi menjadi Satuan Pelayanan.

Kudunya Asosiasi satpam protes. Gajinya minta dobel. Selain mengendus dan membaca karakter setiap pengunjung, ia juga kudu jaga senyum untuk melayani.

Lewat Bank, profesi ini menjalar kemana-mana.

Sekarang di setiap fasilitas publik ada satpamnya. Perumahan elit sampai perumahan biasa. Dulunya hansip dengan seragam ijo, sekarang? Hitam putih. Apartemen elit ndak mesti ada resepsionis. Tapi mesti ada satpamnya. Di Mal, semua tas yang diperiksa pakai satpam. Bahkan sekolahan anak SD, apalagi jika mau dinobatkan sebagai sekolah bergengsi, maka Pakebon, Tukang kebun berganti menjadi Satpam.

Negeri kita selain negeri maritim ternyata menjelma juga menjadi Negeri Satpam.

Menjadi satpam ndak lagi musti pakai kumis tebal. Pasang wajah menakutkan. Pentungan besar. Cara bertanya pun bukan bentuk pertanyaan yang mencurigakan. Bentuk komunikasinya menjadi melayani. Ndak perlu bawa brik-brikan. Satpam bisa dikoordinasikan via whatsapp grup. Satpam sekarang betah cukup dekat colokan. Jika lagi sepi dia rajin unggah video di tik-tok, atau main mobile legend.

Perubahan yang tanpa disadari ini membuat saya bertanya-tanya apakah ada sekolahnya, ketika semua sudut kota, segala pojok fasilitas publik banyak berjejer satpam?

Ternyata profesi Satpam belum ada sekolahnya. SMK Kejuruan Satpam belum pernah ada yang buka. Sekolah Tinggi Ilmu Satpam juga belum pernah saya dengar.

Menjadi satpam adalah profesi otodidak. Heterogen sekali sekolahannya. Asal berbadan sehat, kelakuan baik, komunikasi lumayan, kuat bawa pentungan, punya otot betis lumayan, dan sanggup berdiri terus menerus, maka kamu layak menjadi satpam. Apalagi jika punya nilai plus: Ganteng atau cakep. Lolos!

Satpam juga dianggap sebagai sebuah peluang yang menggiurkan bagi pelaku usaha. Dalam peta dunia kerja, satpam boleh pakai alih daya atau outsource karena dianggap bukan jabatan utama yang kudu diangkat sebagai pegawe tetep. Maka ongkos biaya satpam relatif murah. Apalagi jika satpam itu bisa juga ngerangkep jadi juru parkir, resepsionis dan angkut-angkut barang. Komplit!

Makanya di bulan puasa, Satpam di apartemen atau komplek perumahan bakalan gembira. Ada saja kiriman tajil buat berbuka, atau salam tempel sekadar beli pulsa dari penghuni. Syukur-syukur dapat bingkisan berupa sarung, uang THR, dan kue lebaran bertoples-toples.

Satpam terkadang lebih paham isu yang terjadi di dunia pergunjingan. Korek saja. Kilikitik dikit, semuanya tumpah ruah. “Bapak ini pelit. Nah, kalau Om ini royal nih Pak. Sekali bantuin markirin mobilnya, ane dikasih ceban!”. “Tante ini suka gonta ganti gandengan, Pak!” Oleh karenanya, perlakukanlah satpam sebaik-baiknya. Pencitraan kita terkadang terletak di balik pentungannya.

Buktikan saja sendiri. kalau sudah CS sama mas Satpam, tamu-tamu di komplek rumah kita terkadang ndak perlu nitip KTP. “Oh tamunya Bapak Roy. Silakan Pak.” Bahkan kita bisa menjadikan dia seperti locker sementara. Ada barang titipan belanjaan onlen atau go-send, bisa diterima olehnya. Asal ya itu tadi. Biaya pertemanan harus dijaga baik. Uang kopi beres. Uang pulsa ada.

Saya ndak yakin dinas tenaga kerja punya data seberapa banyak profesi satpam. Sama halnya saya ndak yakin apakah dinas tenaga kerja punya data seberapa banyak profesi sopir pribadi di negeri ini. Atau pekerja rumah tangga.

Putaran nafkah di sekitar mereka cukup lumayan. Banyak perut yang bertumpu padanya. Sayang-seribu sayang, keterwakilan satpam belum ada di Senayan sana. Saya pastikan, mantan satpam belum ada yang naik ikut pilkada maupun pemilu untuk jadi wakil rakyat. Jika saja mereka kompak, hal ini ndak mustahil bisa kesampaian.

Padahal kita butuh pola pikir mereka untuk menjadi wakil rakyat. Murah senyum, melayani, rendah hati dan yang paling utama: Ndak bakalan tidur saat bekerja.

Wahai Satpam-Satpam Indonesia, Bersatulah!

 

Salam anget,

RoySatpam

Advertisements

Pertengahan Puasa

(malam ke-15, Ramadan 1439 H)

Ramadan yang sibuk buat Andi.
Tepatnya Andi yang menyibukkan diri di bulan Ramadan ini.

Kesibukan yang seharusnya tak perlu terlalu menyita waktu. Apalagi proyek besar Andi di quarter pertama tahun ini telah berakhir. Namun Andi memilih untuk langsung terjun mempersiapkan proyek besar berikutnya, yang sebenarnya baru akan diadakan di quarter ketiga.

Andi perlu distraksi. Terlebih setelah buyarnya semua rencana yang sudah menari-nari di benaknya selama beberapa hari terakhir ini. Rencana yang dia buat untuk seseorang yang telah mengubah pola hidup dan rutinitas Andi selama beberapa minggu terakhir ini. Rencana yang tadinya dia buat dengan kata “bersama”, namun akhirnya, semua hanya tinggal rencana. Almost doesn’t count.

Demikian Andi mengingatkan dirinya sendiri setiap larut malam, sepulang kerja seusai tarawih. Rutinitas dari kantor ke masjid terdekat lalu ke kantor lagi sebelum pulang ke rumah cukup membuat Andi tak memperdulikan lagi, bahwa hanya ada suara televisi dan denting microwave yang menemaninya. Kalau ada hal yang perlu di-unload, cukup post sekilas cuitan di akun sosial medianya. Toh tak banyak pengikut atau “teman” ini, pikir Andi.

Namun malam ini ada yang terasa aneh.

Saat Andi membuka laptop untuk mulai bekerja sebelum sahur, Andi malah membuka akun email pribadinya. Sudah lebih dari seminggu tidak membuka akun ini, pikirnya.
Semua email dengan nama yang dia hindari belakangan ini, cukup dia centang lalu klik “Mark as Read”. Bisa dibaca kapan-kapan kalau sudah siap.
Lalu dia menelusuri lagi email-email lain. Beberapa email dari nama teman-teman dekatnya yang masih berkorespondensi tiap hari.
Andi buka salah satu email tersebut. Rencana pernikahan salah satu teman dalam beberapa bulan ke depan. Riuh rendah sepuluh orang ini saling membalas email untuk bertukar ide, itinerary, sampai konfirmasi kehadiran.

Andi tersenyum, kadang tertawa kecil membaca email-email itu. Tiba-tiba tak terasa air mata mengalir menetes di pipinya. Andi terkesiap. Buru-buru dia seka.

Buru-buru pula dia ketik balasan thread email itu, “I’m coming, y’all! And yeah, party of one, as usual.”

Lalu buru-buru dia tutup laptop itu. Andi menghela nafas panjang.

This is not the first time. But why tonight, God? Why? Andi terdiam, terpekur di kursinya. Tangannya mengatup, menutup mulutnya yang terdiam.

Andi yang selalu memecut dirinya terlihat baik-baik saja saat bersama teman-teman terdekatnya, tak jarang merasa lelah juga merasa sendiri dan kesepian. Kadang dia tak habis pikir, why is it so easy for everyone to hook up? Sementara Andi selalu merasa, why is it hard for him?

And nope, I’m not gonna cry tonight. Not tonight, God. Andi masih mengatupkan tangannya sambil menutup matanya. But God, this is so hard. I’m tired of this.Ding!

Bukan bunyi microwave. Tapi bunyi ponsel. Pesan masuk dari Ali, ayah Andi.
Paling forward hadist, pikir Andi.
Buru-buru Andi buka.
Sesaat dia terhenyak melihat pesan yang cukup panjang dari ayahnya.

Lalu Andi tertawa kecil, sambil mengingat-ingat kejadian kurang dari 24 jam yang lalu. Kejadian yang membuat dia menaruh beberapa posts di akun media sosialnya.

Andi membalas, “Terima kasih, Ayah. You always know what to say at the right time.”

——————————————

(malam ke-15, Ramadan 1439 H)

Ramadan yang sibuk buat Ali.
Tepatnya Ali yang menyibukkan diri di Ramadan kali ini.

Tapi kesibukan Ali bukan sekedar kesibukan biasa.

Di saat rekan sejawatnya menghabiskan waktu di Ramadan bersama keluarga di rumah, Ali malah aktif belajar lagi. Dia habiskan waktu di perpustakaan kota terdekat, dan mendaftar kursus dasar-dasar informasi teknologi.
“Biar Ayah otaknya nggak tumpul”, demikian alasannya.

Konsekuensinya, Ali sering menghabiskan waktu dengan cucu-cucunya untuk bertanya hampir semua jenis aplikasi yang mereka gunakan. Awal-awalnya, mereka senang menghabiskan waktu bersama Ali. Namun lama-lama, mereka protes.

“Kakek kepo banget ah! Kenapa sih pengen tau Instastory segala? Facebook aja deh, Kek.”
“Ya Kakek kan pengen tau, itu bedanya apa Instastory sama Instagram biasa?”
“Ya semua yang ada story-nya itu cuma bisa kita lihat 24 jam setelah diupload pertama kali. Kalau foto-foto yang kita lihat di akun orang, itu bisa kita lihat terus, Kek.”
“Oh gitu.”
“Nggak cuma di Instagram. Facebook, WhatsApp juga ada story-nya. Fungsinya sama juga, cuma ada 24 jam aja.”
“Oh begitu. Nah, Kakek mau nanya lagi. Kalau upload itu apa?”
“Kakek, aaah!”

Ali tertawa menggoda cucu-cucunya. Meskipun hanya sesekali post di media sosial, namun Ali cukup rajin dan selektif memantau update media sosial. Termasuk akun anak-anak dan cucu-cucunya. Termasuk akun Andi.

Seperti malam ini. Saat Ali menutup bacaan kitab suci dan beranjak tidur, dia membuka lagi ponsel dan melihat beberapa update akun media sosial anak-anak dan cucu-cucunya. Foto-foto dan cuitan mereka membuatnya tersenyum.

Sampai saat Ali melihat beberapa update status di akun Andi.

Ali mengernyitkan kening. Matanya tak lepas dari sinar ponsel yang sedang dia tatap. Lalu dia menghela nafas panjang sambil dilepas kacamatanya.

I’m sorry, Ndi. Ali berujar dalam hati. But you know it’s never easy for you.

Ali mengenakan kacamatanya lagi. Dia membuka aplikasi pengiriman pesan, lalu dia mulai ketik pesan ke Andi.

“Assalamualaikum, Ndi. Apa kabarmu? Semoga puasamu berjalan lancar.”

Lalu Ali berhenti menulis. Dia berpikir sejenak. Dia teruskan.

“Selain puasa, sholat tarawih dan mengaji, jangan lupa juga terus berdoa. Insya Allah doa-doa kita di bulan Ramadan ini lebih mudah dikabulkan. Papa selalu doakan kamu. Tapi yang lebih penting, kamu jangan lupa untuk mendoakan orang-orang yang mungkin tidak sengaja sudah membuat kamu sedih. Papa percaya, mereka tidak pernah bermaksud membuat kamu sedih. Kita juga harus ingat, Ndi, bahwa saat kita memilih apapun dalam hidup, kita harus memikirkan yang terbaik untuk kita dulu. Bukan buat orang lain, bukan buat kita dan orang lain. Kalau mereka merasa kamu belum jadi yang terbaik buat mereka, ikhlaskan. Doakan bahwa mereka benar-benar bahagia dengan pilihannya. Lalu setelah itu kita berdoa dan berusaha lagi. Don’t give up. Memang tidak mudah. Tapi insya Allah, Papa yakin, saat kita bisa menerima, syukur-syukur bisa bahagia buat orang lain, jalan kita juga akan dimudahkan.”

I hope this is enough, pikir Ali. Lalu dia klik tanda kirim pesan.

Sepuluh menit kemudian, sebuah pesan masuk dari Andi.

Ali tersenyum.

Pada Akhirnya, Semua akan Lelah Membanding-bandingkan

FERLY, sebut saja demikian. 26 tahun usianya saat ini.

Dilihat dari feed Instagram dan foto-fotonya di Facebook, Ferly memiliki kehidupan yang tampak hampir sempurna. Tidak hanya yang menampilkan dirinya di tengah-tengah pesta, di lokasi-lokasi bergengsi penuh gaya, ada banyak foto lain yang menunjukkan bahwa karier Ferly sedang gemilang-gemilangnya.

Sesekali, ia membagikan posting-an inspirasional melalui akun LinkedIn. Berisi empat-lima paragraf komentar lugas mengenai isu-isu terkini yang berkaitan dengan bidang profesinya. Maklum saja, ia seorang manajer perusahaan FMCG terkemuka. Sudah cukup dikenal berwawasan luas dan cerdas, tepat bertindak, luwes bergaul, dan punya visi yang kuat. Semua itu membuat Ferly selalu jadi incaran perusahaan-perusahaan lain yang ingin “membajaknya”.

Kepribadian Ferly yang hangat dan bersahabat tidak hanya ditunjukkan kala berinteraksi dengan khalayak. Di mata para teman, terlebih keluarga, Ferly adalah seseorang yang sangat menyenangkan. Penuh perhatian, dan selalu punya tenaga yang cukup untuk mencurahkan luapan perhatian tersebut.

Membahas tentang Ferly, kurang lengkap bila belum berbicara tentang seleranya terhadap seni dan gaya.

Fisik Ferly memudahkannya dalam penampilan; bermacam model pakaian cocok dikenakannya. Elegan saat memberikan presentasi bisnis kepada mitra dan kolega, keren saat berbaur dalam pesta maupun aktivitas sosial lainnya. Ia juga memiliki kecintaan khusus pada seni kontemporer. Terlihat dari bagaimana caranya mengapresiasi lukisan dan kriya pahatan maupun logam dari seniman-seniman Indonesia. Ia tidak sok-sokan mengharamkan diri dari berswafoto di depan karya, tetapi juga memiliki referensi dan kedalaman argumentasi saat memberikan apresiasi. Apa dan bagaimana cara dia menjelaskan pandangan artistiknya, mengesima.

Kita cukupkan sampai di sini.


Tuhan itu adil.” Demikian ungkapan yang populer di pendengaran kita sejauh ini. Namun, maknanya ganda.

Bisa diutarakan sebagai bentuk kemakluman, bahwa tiada seseorang pun yang sempurna. Di balik segudang kelebihan, keutamaan, dan anugerah, ternyata tersimpan sejumlah ketidakberuntungan.

… atau sebenarnya malah menjadi tanda bahwa kita iri dan dengki terhadap yang bersangkutan. Diam-diam berharap ada satu atau dua kekurangan dan kondisi tidak beruntung yang terjadi pada seseorang tersebut. Tidak bisa benar-benar menerima keadaan diri sendiri, dengan kekurangan di sana sini.

Ah, pasti ada kurangnya kok. Kita belum tahu aja.


Demikianlah cara kerja jebakan pembandingan (comparison trap). Sesuatu yang menjauhkan kita dari rasa bersyukur, mengaburkan kita dari semua potensi dan kelebihan yang sebenarnya kita miliki, serta menciptakan ilusi jarak antara kita dengan kebahagiaan kita sendiri.

Bukan masalah si Ferly, apabila kehidupannya penuh dengan kebaikan, kualitas, anugerah, dan keberuntungan. Melainkan jadi masalah bagi orang-orang lain, yang mengeluhkan keadaan dirinya sendiri saat dibandingkan dengan kehidupan Ferly. Terlepas dari sesederhana dan sebersahaja apa pun Ferly ingin bersikap dalam menjalani kehidupannya, tetap bisa terlihat enviable, bikin iri dan kepingin juga.

Begitu pula sebaliknya, bukan keharusan bagi si Ferly untuk turut mengekspose kemalangan dan kekurangan yang ia alami. Bukan juga kewajiban orang-orang lain untuk turut dibebani dengan sekumpulan problemnya si Ferly. Jadi, tidak salah bila gambaran kehidupan Ferly yang dibagikannya ialah yang baik-baiknya saja. Penuh senyum dan tawa, yang indah-indah dan menyenangkan siapa pun pemirsanya.

Photo by Caleb George on Unsplash

Apakah kunci kebahagiaan dalam hidup?

Bagi banyak orang zaman sekarang adalah … uninstall Instagram, mute Twitter, dan menutup akun Facebook. Alias berusaha menghindarkan diri dari segala media yang secara terus menerus menyediakan gambaran baik nan indah orang-orang lain di luar sana. Sebab pada kenyataannya, kita belum tentu sanggup menerima semua gempuran tersebut. Tidak semua dari kita dibekali kebijaksanaan dan kemampuan untuk melihat segala sesuatu dengan sebagaimana mestinya, apalagi memanfaatkannya dengan maksimal.

Upaya membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain memang memiliki dua orientasi, ke atas, dan di bawah. Hanya saja, kita cenderung lebih memilih untuk terlena dengan semua yang ada di atas, serta sengaja mengabaikan pandangan kita ke bawah. Idealnya, semua bergantung pada bagaimana cara kita mengolah informasi yang diterima; dalam hal ini, informasi mengenai segala hal yang baik dalam hidup si orang lain tersebut. Motivasi untuk melakukan perbaikan diri, upaya untuk mencapai perkembangan dan kemajuan dalam hidup, muncul sebagai dampak positif dari perbandingan ke atas.

Berkebalikan dengan itu, dampak negatif dari perbandingan ke atas seringkali—dan utamanya—dipengaruhi pandangan serba kekurangan terhadap diri sendiri. Self-esteem yang rendah kerap disebut sebagai sebuah ramalan yang sahih, yang pasti akan jadi kenyataan. “Ramalan” tersebut dipatuhi dan diiyakan, self-fulfilling prophecies, sehingga segala kekurangan yang muncul dianggap sebagai sebuah kewajaran yang tak terhindarkan. Akan menjadi sangat berbahaya bila pandangan tersebut selalu diakomodasi, lantaran dapat mengantarkan seseorang kepada risiko mental. Di satu titik, hingga menuju ambang risiko depresi.

Lalu, harus bagaimana untuk menanganinya?

Bakal ada lusinan jawaban berbeda, dengan pendekatan yang beragam pula. Yang jelas, kuncinya adalah motivasi dan keinginan dari dalam diri. Benar-benar muncul dan berpengaruh mengubah semuanya secara drastis. Pandangan hidup, pandangan terhadap diri sendiri, tindakan dan sikap hidup menanggapi sesuatu.

Teorinya, terdapat berbagai faktor yang bisa menimbulkan dorongan dan keinginan berubah dari dalam diri setiap orang. Misalnya, ada yang sadar setelah memahami alasannya: “Kenapa aku begini, padahal aku bisa begitu?” yang memungkinkan terjadinya dialog dengan diri sendiri; ada yang baru tergerak atas desakan dan pengaruh dari seseorang; setelah adanya kejadian yang mengejutkan; dan masih banyak lagi.

Silakan cari dan temukan sendiri. Yang penting, jangan asal memasang-masangkan standar kebahagiaan maupun penderitaan. Kebahagiaan kita berbeda dengan kebahagiaan orang lain. Begitupun penderitaan kita tidak mesti sama dengan penderitaan orang lain.

[]

Biru Yang Membilu

Beberapa minggu lalu, saya menonton salah satu episode serial komedi “Black-ish”. Tidak seperti biasanya, serial komedi tentang keluarga African-American kelas menengah atas ini mengambil gaya penceritaan drama di episode tersebut.

Bertajuk “Blue Valentime”, yang merupakan permainan kata dari film Blue Valentine, episode serial ini memang dibuat dengan gaya persis seperti film tersebut. Buat yang belum pernah menonton, film Blue Valentine bercerita tentang sepasang suami istri (Ryan Gosling dan Michelle Williams) yang harus menjalani pahitnya perpisahan rumah tangga mereka, sembari mengingat-ingat kembali titik hidup yang pernah mereka jalani. Mulai dari menjadi sepasang kekasih yang dimabuk asmara, sampai menjadi suami istri yang bosan dengan satu sama lain.

Sementara serial “Black-ish” sendiri adalah gambaran ideal keluarga menengah atas kulit hitam Amerika Serikat yang mapan secara ekonomi, dan tak luput menanggapi isu-isu sosial yang ada di masyarakat. Setiap episode dibuat dengan gaya penceritaan yang ceria. Makanya, saya kaget ketika tiba-tiba Andre dan Rainbow, pasangan suami istri dalam serial ini, mendadak memutuskan untuk menelaah lagi perjalanan kehidupan mereka, dan apakah mereka masih bisa bertahan satu sama lain.

Serial “Black-ish” biasanya saya tonton sambil menyantap sarapan. Bisa dibayangkan betapa kacaunya sarapan dan perasaan saya setelah menonton episode yang berat tersebut. Dan meskipun ceritanya fiktif, tak urung jalan ceritanya membuat saya berpikir, betapa berat mempertahankan pernikahan. Buat mereka yang memilih tidak bercerai, betapa berat pengorbanan yang harus dikeluarkan.

Seorang teman yang sudah menikah cukup lama, pernah berujar seperti ini saat kami bertemu:

I still don’t get it, kenapa orang-orang kita, terutama keluarga besar, suka sekali menyuruh orang untuk menikah. Tapi nggak ada sama sekali satu pun dari mereka yang pernah bilang bahwa mempertahankan pernikahan itu beratnya luar biasa! Nggak ada sama sekali yang pernah kasih tips how to survive marriage and keep it last, bisanya cuman nyuruh doang. Kesel kan gue?! Apa jangan-jangan mereka cari temen seperjuangan yang sama-sama menderita ya? Jadi pas tau kita struggle to keep the marriage afloat, jangan-jangan mereka teriak dalam hati, “Welcome to the club!””

Kami tertawa mendengar teori itu. Namun saya mengakui, teori tersebut ada benarnya juga. Bahwa kita punya kecenderungan untuk menyuruh orang melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensi di belakangnya.

Setelah saya menonton episode serial di atas, sempat saya berpikir ulang tentang banyak hal seputar pernikahan. Saya belum menikah, dan belum ada rencana untuk menikah. Meskipun begitu, saya beruntung bisa lahir dan tumbuh di keluarga di mana ayah dan ibu saya masih bersama sampai sekarang. Tak urung sempat saya berpikir juga, bahwa betapa besar pengorbanan mereka, baik terhadap diri sendiri atau terhadap satu sama lain, untuk bisa bertahan dalam pernikahan sekian lama, berpuluh-puluh tahun lamanya.

Gairah pasti padam. Gairah bercinta, bermesraan, bercumbu satu sama lain, pasti akan hilang. Baik itu setelah tiga minggu, delapan bulan, tujuh tahun, atau mungkin satu dekade pertama. Yang datang setelah itu adalah negosiasi, tentang kebutuhan orang lain dalam hidup kita. Apakah benar kita tidak bisa hidup tanpa orang tersebut? Apakah benar kita sebenarnya bisa hidup tanpa orang tersebut?

Tulisan ini tidak memberikan jawaban, karena tidak ada jawaban yang sama untuk setiap orang. Dan memang kita akan selalu bertanya dan terus bertanya, karena pertanyaan-pertanyaan tentang cinta dan hati akan selalu membuat kita hidup.

Sebuah Ketidakjelasan

“ENGGAK adil, deh. Coba dipikir. Kita enggak minta diciptakan, dilahirkan ke dunia ini dengan segala kondisinya. Ada yang sempurna, ada yang tidak. Ada yang cakep, ada juga yang jelek dari sananya. Ada yang terlahir di lingkungan baik, ada juga yang terlahir di keluarga sengsara. Kita bisanya terima-terima doang. Cuma waktu kepingin ‘pergi’ dengan cara kita sendiri, malah dilarang. Dibilang dosa, dan masuk neraka.

Bagi mereka yang memegang teguh sejumlah pandangan, pemikiran di atas sangat berbahaya. Jangankan dipikirkan atau dibahas lebih lanjut, kemunculannya saja sudah harus diwaspadai. Alih-alih ditangani sebagaimana mestinya agar tidak menyisakan gelisah dan rasa penasaran yang mengganggu, narasi di atas harus dihindari, dibuang jauh-jauh, atau ditekan habis-habisan. Singkat kata, hal ini salah dan terlarang.

Di sisi lain, apakah memungkinkan jika pemikiran tersebut dijadikan titik tolak untuk berpikir, merenung, berdiskusi, dan bersepakat lebih jauh? Bukankah manusia diciptakan dengan anugerah akal budi serta kemampuan berpikir dan menimbang, yang sejatinya dapat diberdayakan semaksimal mungkin demi kebaikan, kesejahteraan jasmani dan batin, ketenteraman, serta kearifan dan kebijaksanaan.

Menurut orang-orang yang agamais dan religius, pemikiran di atas dapat mengarahkan seseorang untuk mempertanyakan tuhan, rahasianya, dan kemahakuasaannya. Sikap yang berbahaya karena terkesan tidak hormat, bisa kualat dan diazab, mengarah pada dosa. Selain itu, meskipun kita telah jungkir balik menjalankannya, tetapi hidup dan kuasa kematian tetap merupakan milik tuhan. Menentangnya adalah sebuah kesalahan besar.

Menurut orang-orang yang patuh pada hukum positif, pemikiran di atas dianggap sudah mengarah pada tindak kriminal. Sejauh ini masih ada beberapa negara yang mengkategorikan perbuatan tersebut sebagai kejahatan, kendati ada pula yang sudah menempatkannya sebagai masalah psikologis dan sosial. Oleh karena itu, melalui prosedur dan pertimbangan legal yang cukup panjang, seseorang hanya bisa melakukannya atas keputusan persidangan. Itu pun harus dengan cara-cara manusiawi, bukan yang melibatkan rasa sakit.

Menurut orang-orang yang awam, yang hanya menjalani kehidupannya sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat, pemikiran di atas akan menimbulkan kesedihan. Bukan sesuatu yang pantas diberi perhatian, apalagi dituruti. Lantaran dalam kehidupan sosial, tindakan ini dapat menyebabkan munculnya perasaan kehilangan, serta membebani mereka yang ditinggalkan.

… dan masih ada beragam sudut pandang lainnya, dan berujung pada kesimpulan yang sama.

Dengan demikian, manusia tak akan pernah benar-benar berhak atas kehidupannya sendiri sampai kapan pun. Di balik segala kemampuan dan pengusahaan hidup, manusia hanya bisa menjalankannya saja. Hingga perjalanan hidup tersebut berakhir dengan sendirinya, karena faktor-faktor yang berada di luar kendali.

Bagaimana dengan ini?

Noel Conway. Assisted dying.

Ada perbedaan sangat mendasar antara orang-orang yang ingin melakukannya untuk menghindari hidup, dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena merasa telah mencapai dan memiliki segalanya dalam hidup. Termasuk memiliki umur sangat panjang, misalnya. Bosan hidup dalam arti sebenar-benarnya.

Perbedaan sangat mendasar pula antara orang-orang yang ingin melakukannya karena pengecut dan takut terhadap kenyataan hidup; dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena egois dan semau-maunya sendiri; juga dengan orang-orang yang ingin melakukannya karena mementingkan orang lain dan beralasan tidak ingin menimbulkan kesusahan lebih lama.

Dalam situasi-situasi tertentu, ini bukan lagi sekadar perkara benar dan salah, atau boleh dan tidak boleh. Melainkan jadi satu pertanyaan filosofis: “Mana yang lebih baik?”

Mampukah narasi dan diskusi meredam obsesi?

[]

Fitting In.

I always feel like I do not fit where I am. It’s like a very loud noise at the back of my mind “You don’t belong!”

Physically, I was always- and still, out of place. My skin colour was never the majority of wherever I’ve been. It always seems to be the “wrong” one. Not white enough, not dark enough, not pale enough, not yellow enough, etc.

My attire and my general look have been described as not according to what my sex would traditionally wore. Hence, my sexuality has also been brought to question by some during the course of my life and became a topic of mockery for some poorly raised kids back in my school days.

My demeanour also does not conform with the unspoken social regulations on where I used to live. I was raised by parents who was conventional enough in my early years to belittle younger human being as “you know nothing” or “kids should let the adults do the talking” and my thoughts and opinion being dismissed accordingly. Lucky enough at some point of life, a foreigner that was our neighbour broke through my parents and took me seriously. 20 years older than me, he would stop whatever he was doing and listen to what I was saying, probing more questions, challenging me to elaborate further in a language that I was not familiar with in my formative years. He proceed with addressing what I said, responding accordingly and continues to discuss further despite my lack of eloquence then. For a good 3 years, I was taken seriously as a human being with thoughts, ideas and opinion that should be judged by its merit, not by the size of my body or the time that I have walked the earth. My parents digress and, to a certain extent, let me be who I am in the family.

While this helped a lot in my confidence when communicating, it does not proof to be a benefit in me conforming socially. My way of saying what I think, expressing my opinion, challenging misconception or misperception by older generations have been a constant problem even to this day. My way of communicating has been deemed “lack of respect” and deserves a slap or two to teach me a lesson that I was in the wrong. And I was told I deserve no apologies for the physical hurt I suffered from the stinging words that I uttered.


Now that I am my own person, living outside home, making my own living, I know better to adjust accordingly. When it comes to work and money making responsibility, I know that I have to conform to the rules and regulations and certain social arrangements accordingly and I do that consciously and willingly since I have bills to pay and a lifestyle to finance.

But my personal relationship is a different matter altogether. I am no longer required nor willing to endure my time outside working hours. Few years ago I made a decision to cut off relationships that I qualify as hard work and to tell you the truth, my quality of life skyrocketed in a nick of time. I no longer commit my time regularly to people that I do not enjoy being with. I choose to spend my time alone or making effort to nurture other relationships that I enjoy being part of.
People that I do not have to restrain myself from.
People that knows who I am actually and get along with, instead of expecting me to be someone else.
People that I would go leaps and bounds for to ensure that the relationship is good.

But even with that being said and done, I realised that the ghost of my past still haunts me. Those boxes that I thought I have left behind, still dictates my general conduct unconsciously these days.

Do I approach first? Do I buy him a drink? Do I let him buy me a drink? Is it okay to express how I feel? Is it too much if I initiate contact? Who pays first? Who asked for second date?

What if my way of doing things disgust him?

Oh fuck it. Let’s just get it over and done with.

Thankfully, this message was not only read but also replied eventually.

Iman

Suzuki Ignis biru melesat zig-zag di antara beberapa mobil yang berjalan lambat karena macet. Bajingan kecil ini hampir seperti motor roda dua di ruas jalan berkapasitas empat baris. Mobil yang cocok dengan kebutuhan Iman yang harus segera sampai di kantor cabang utama tempatnya bekerja sebelum pegawainya bubar jalan habis makan siang. Ini mobil ke tiga Iman setelah dua sebelumnya ndak mampu mengimbangi kesibukannya.

Suzuki Ignis Biru pilihan Iman. Sumber: magiccars.gr

Iman hapal betul, tuntutannya ndak bakal diproses kantor pusat tanpa otorisasi kantor cabang utama. Kantor cabang utama ndak akan dengar tanpa restu kantor cabang pembantu. Dan cabang pembantu ogah repot kalau ndak disetujui pihak operasional kantornya. Perusahaan thogut ini pantas bubar, pikir Iman. Mau didengar saja berbelit-belit.

Iman sedang goyang. Pasalnya sekretaris baru bosnya pakai rok mini. Ndak bisa dibiarkan. Bukan hanya bisa mengotori pikirannya, tapi akan mengundang bencana di lingkungan kantor Iman. Laknat yang cuma Iman yang bisa mencegahnya. Bagian personalia diam saja. Kawan satu divisinya sering pergi ke luar kota. Tinggal Iman yang bisa diandalkan. Ia harus bertindak, sekarang juga!

Iman punya enam kualitas personal yang menakjubkan. Ia percaya diri, ndak suka menunggu, teguh pendirian, kompetitif, sukar didebat dan sensitif pada lingkungannya. Dosen kuliahnya dulu menjuluki Iman sebagai mahasiswa yang paling cemerlang dan keras kepala di antara kawan-kawan satu angkatan. Ndak salah kalau karir Iman meroket. Ia tumbuh jadi manajer pemasaran paling dipercaya setelah meraih gelar Master hanya dalam waktu satu tahun sejak kelulusan sarjana strata satu. Apapun yang ia jual, pasti ada yang beli. Laku keras. Ia sentuh kayu, kayu jadi emas. Sentuh emas, emas jadi berlian. Pencapaian luar biasa yang tak terbandingkan, bahkan oleh atasannya sendiri.

Kualitas setara Iman tentu saja jadi aset vital perusahaan. Ialah ujung tombak saat perusahaan mau memperluas pasarnya. Atau memperkenalkan produk baru, entah dibutuhkan maupun ndak oleh orang banyak. Tingkat kepercayaan pelanggan pada Iman sudah menembus batas nalar. Beberapa bahkan rela menggadaikan semua milik mereka. Sekarang ini, bualan imanpun akan diamini banyak pelanggan.

Suzuki Ignis biru sudah sampai di gerbang masuk. Satpam kantor cabang utama siap siaga tiap kali bajingan kecil ini datang. Ia tiup peluit keras-keras memanggil petugas valet yang berjarak sekitar lima puluh meter di dekat pilar lobby. Seketika petugas valet berhamburan menghampiri Suzuki Ignis biru. Iman keluar dengan wajah bertekuk menandakan tingkat kegentingan yang ndak bisa ditunda lagi. Melemparkan kunci ke salah satu petugas terdekat. Lalu masuk melalui pintu VIP tanpa mesin pemindai keamanan. Iman ndak punya waktu untuk memperhatikan bahwa petugas yang menerima lemparan kuncinya bukan petugas valet, melainkan petugas kebersihan yang baru saja selesai mengemasi sampah di lobby. Ia tercekat sesaat, sampai seseorang meraih kunci tersebut dari tangannya.

“Ayo cepet ngucap. Untung Pak Iman lagi buru-buru. Bisa kena marah kamu sembarangan pegang kuncinya…”
“Loh, wong Pak Iman sendiri yang salah lempar kok…”
“Udah diem kamu! Dikasih tau kok malah balik nyalahin Pak Iman. Dipecat kamu nanti.”

Iman memasuki salah satu dari enam elevator yang saling berhadapan tiga-tiga. Empat orang di belakangnya mengurungkan niat untuk naik satu tarikan dengan Iman. Mereka pilih menunggu elevator lain. Iman ndak pikir lama, ia tekan tombol 7 diikuti tombol tutup pintu meninggalkan keempat orang tadi saling berpandangan di hadapan elevator.

“Mbak Teges, saya mau melaporkan Cinta, sekretaris baru yang pakai rok pendek. Kalau bisa dikeluarkan segera. Hal seperti ini nggak bisa dibiarkan.”
“Pak Iman. Baru kemarin lusa lho kami memproses pak Sabar atas laporan bapak soal nyanyian Pak Sabar di toilet.”
“Ini beda!”
“Seminggu lalu pak Adil juga keluar karena Pak Iman keberatan sama lukisan beliau.”
“Gambar Palu Arit dilarang!”
“Mas Tentrem juga baru…”
“Sesat si Tentrem itu. Kejawen!”

Iman menandatangani laporannya dengan harapan Cinta segera angkat kaki seperti Sabar, Adil, Tentrem dan lainnya yang sudah berhasil ia singkirkan. Perusahaan tempat ia mengabdi haruslah bersih dari perilaku-perilaku meresahkan, ndak sesuai tatanan atau menyimpang. Ia tancap gas lagi sebelum macet semakin parah. Ndak sampai satu jam Iman sudah sampai di apartemennya. Menunggu cemas jawaban dari kantor pusat atas keluhannya barusan.

Baru saja Iman mau menghubungi Mbak Teges lagi menanyakan kelanjutan laporannya, sebuah e-mail berkedip di layar ponsel. Dari kantor pusat.

“Kepada YTH Iman,

Kalau betul kamu Iman yang sesungguhnya, apapun yang dilakukan orang lain di atas bumi ini tidak akan menggoyahkanmu. Perusahaan tidak membutuhkan Iman yang mudah luntur hanya karena nyanyian, lukisan, apalagi rok mini

Tabik,
Direktur Utama dan Satu-Satunya.

Catatan: Kembalikan Suzuki Ignis biru karena cicilannya belum lunas.

Tentang Desain

Mengetik sambil menonton Royal Wedding (demi content), tetapi tidak ingin menulis soal itu. Karena di womantalk.com sudah membahas banyak sekali soal Meghan Markle dan Prince Harry, kalau ingin update lengkap ke sana saja ya (shameless plug)!

Tadinya ingin bahas sesuatu yang serius juga tapi kok akhir-akhir ini banyakan kejadian yang membuat depresi daripada membuat gembira. Baru tadi pagi saja terbangun lalu langsung ingin menangis mendengar (lagi-lagi) ada penembakan di SMA di Amerika Serikat. Melirik Twitter, perdebatan tetap sama, antara yang langsung menuntut adanya pengendalian senjata dan yang menentang, tentunya. Tidak terlalu jauh dengan perdebatan yang terjadi di sini kurang lebih seminggu yang lalu. Agak seram enggak sih, semakin lama negara kita semakin menjadi cerminan negara yang ‘ntu?

Anyway…

Saya yakin ini yang diajarkan di sekolah desain hari pertama, bahwa desain itu gunanya untuk memecahkan masalah. Tetapi tampaknya banyak yang lupa, atau enggak ngeh dengan hal ini, karena itu kalau mendengar kata ‘desain’ pasti sebagian dari kita berpikir soal sesuatu yang indah dan agak eksesif seperti fascinator yang dipakai oleh tamu royal wedding .

fascinatorscropped

Saya pun baru paham benar kalimat ini sejak diceritakan oleh kakek anak saya yang memang dosen desain di sebuah institut terkemuka.

Baru-baru diingatkan lagi oleh sebuah produk dari Jepang.

Karena penulis ada seorang skincare enthusiast, sempat mencoba berbagai bentuk pembersih untuk double cleansing, akhirnya hati tertambat ke bentuk cleansing balm sebagai pembersih pertama. Merk yang digunakan tentu dari Korea Selatan, yang cukup mudah ditemukan di mana-mana.

animated

Tetapi ada yang mengganggu dengan produk balm ini (saya sudah mencoba beberapa brand), yaitu mengambil produknya dari dalam potnya harus dengan spatula, karena sulit dicolek dengan jari, kalaupun bisa, kurang higienis ya. Nah, biasanya spatulanya itu diletakkan di bawah tutup, di atas lapisan plastik, yang sungguh tak praktis, sering jatuh, akhirnya spatulanya biasanya saya letakkan saja di atas tutup produk ini.

animated (1)

Tapi kan sekali lagi, kurang higienis ya, dan rentan terkena debu dan zat lainnya yang bertebaran di udara. Sementara untuk mencucinya setiap kali mau mengambil produk untuk membersihkan muka, kok pe-er banget rasanya.

animated (2)

Tapi tidak saya pikirkan itu terlalu banyak, sampai ketika saya sedang mengunjungi Jepang, dan di salah satu drug store (yang tidak pernah saya lewati tanpa menghampiri) ternyata ada cleansing balm walau dari merk yang belum terlalu populer. Begitu yang lama habis, saya bukalah cleansing balm Jepun itu, dan lihatlah spatulanya!

animated (3)

animated (4)

Awalnya, saya kira spatula itu dilem di bawah tutup, sehingga begitu sekali diambil tidak akan bisa diletakkan di tempat yang sama, ternyata, bagian bawah tutup wadah dan ukuran spatula dibuat kompatibel sehingga spatula akan pas terpasang di sana ketika tidak sedang digunakan, dan tidak akan jatuh walau wadah ditutup kembali!

Sungguh pemecahan sederhana namun jitu terhadap masalah yang mungkin tak pernah dipertimbangkan oleh orang lain (kecuali pengguna cleansing balm seperti sisterhood of double cleansing), dengan desain yang tidak berlebihan tetapi tepat guna, dan membuat terharu dan sebagai pengguna merasa dihargai masalahnya.

Apa itu kurang contoh desain sebagai jalan keluar dari masalah yang kita miliki? Menurut saya proses seperti ini adalah underrated. Semua orang berlomba terlihat keren, tetapi jarang ada yang bertanya “bagaimana menyelesaikan masalah dengan keren?” Walhasil, desain menjadi sesuatu yang berlebihan, tanpa esensi.

Apakah Anda ada contoh lain? Mungkin bisa dibagikan di komentar, saya ingin membacanya!

Nafsu

Salah satu tujuan kemoterapi pada para survivor leukemia adalah menghambat dan menghilangkan sel kanker yang berada di dalam tubuh. Salah satu efek samping yang sering diderita adalah nihilnya jumlah leukosit dalam darah sehingga jumlahnya yang tadinya meningkat drastis menjadi tiada. Hal ini tentunya berakibat menurunnya kekebalan tubuh dan mempermudah infeksi karena tak ada autoimun yang melindungi tubuh dari serangan kuman, virus, bakteri sebangsanya. Juga jumlah trombosit yang berangsur turun sehingga pengentalan darah sulit dikendalikan dan pada gilirannya tubuh mudah pendarahan.

Sebut saja namanya Dee. Rekan kerja saya ini beberapa bulan yang lalu didiagnosis memiliki gejala leukemia dalam jaringan tubuhnya. Hingga minggu kemarin, Dee telah menjalani dua kali kemoterapi. Rambutnya rontok. Bobot tubuhnya turun drastis. Dari 60 kg, saat ini bobotnya 39kg. Untungnya Dee orang yang ceria. Penuh semangat dan pandai menghibur diri.

Ketika bicara soal leukosit atau sel darah putih, entah kenapa saya justru teringat dengan bulan suci Ramadan. Saya beranggapan bahwa leukosit ini serupa hawa nafsu dalam diri setiap manusia. Selalu ada, dan perlu. Kehadiranya wajib. Tak mungkin dihilangkan karena justru akan membahayakan. Namun jika sulit dikendalikan, juga akan menenggelamkan manusia dari kesehatan jiwa.

Puasa bukanlah cara untuk menghilangkan nafsu. Melainkan belajar untuk mengendalikannya. Puasa menjadi semacam kemoterapi bagi jiwa-jiwa manusia untuk menekannya menjadi seminimal mungkin, pada waktu tertentu saja.

Bagaimana jika sel darah putih tak ada? Infeksi menjadi jadi. Tubuh menjadi rentan terhadap serangan. Sama halnya dengan nafsu. Jika tak ada nafsu, hidup pun tak bergairah. Nafsu makan. Nafsu syahwat. Nafsu melanggengkan kelangsungan hidup manusia. Ia menjadi bergairah. Memiliki gairah untuk melakukan sesuatu dan menjalani hidup dengan dinamis.

Memang sepertinya ada yang janggal dari fenomena darah ini. Juga janggal dengan fenomena nafsu ini. Manusia dilahirkan dengan membawa fitrah memiliki ini tanpa kecuali. Adanya nafsu seolah-olah bukan berarti hal buruk. Nafsu itu perlu. Kita hanya dapat mencintai apa yang sudah diakaruniakan olehNya. Belum tentu yang buruk adalah buruk dan yang terlihat baik adalah baik. Bahkan ketika hal itu dianggap sebagai celaka. Sebagai adzab dalam pengertian tasawuf.

Haidar Bagir, saat menerangkan tafsir Muhamad Asad menulis demikian:

Alasannya mudah diduga. Dalam surah yang sama, Allah menyebut bentuk-bentuk siksa neraka tertentu sebagai âlâ’ berarti karunia (QS Al-Rahmân [55]: 36-37). Bagaimana mungkin ‘adzâb diidentikkan dengan nikmat? Dalam hal ini, sifat eksklusif rasional tafsir Asad rupanya telah menghalanginya untuk melihat kemungkinan makna lain. Dalam hal ini menurut kacamata metode takwil tasawuf. Ya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, persisnya dari sudut pandang “takwil kasih sayang” (hermeneutics of mercy) ala Ibn ‘Arabi, tak sulit untuk melihat sisi lain ‘adzâb sebagai nikmat yang lahir dari kasih sayang Allah. Bagaimana bisa?

Sebelum yang lain-lain, kata ‘adzâb berasal dari kata ‘a-dz-b, yang bisa membentuk kata ‘adzib, berarti “rasa manis yang menyegarkan”. Demikian pula kata nâr (neraka) memiliki akar kata yang sama dengan nûr (cahaya). Bedanya, nâr memiliki sifat panas-membakar. Tapi, sifat-dasarnya menerangi dan menunjukkan jalan yang benar.

Dengan kata lain, meski panas-membakar, siksa berfungsi untuk memberi petunjuk kepada orang-orang berdosa, untuk menyucikan mereka dari dosa-dosa mereka. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempersiapkan mereka kembali kepada-Nya, masuk surga-Nya. Itu sebabnya, siksaan—sebagaimana diungkap dalam ayat-ayat Surah Al-Rahmân yang dikutip sebelumnya—layak disebut sebagai nikmat.

Di bulan suci yang penuh kasih sayang ini, adalah kesempatan kita untuk belajar menahan. Bukan belajar untuk menghilangkan.

Sama seperti yang rekan saya yakini. Dee menganggap leukemia yang ada dalam tubuhnya adalah cobaan semata. Menjadikan dirinya lebih mawas diri. Menjadikan dirinya lebih mendekatkan diri pada yang Maha Suci.

“Karena luka adalah tempat di mana Cahaya memasukimu”

     -Rumi-

Selamat menunaikan ibadah pengendalian hawa nafsu. Menundukkan diri kepada kepatuhan semata karena dan kepada-Nya.

salam anget,

roy

Agama dan Budaya: Kesalehan dan Keindahan

MARAH dan tersinggung. Inilah yang—lazimnya—terjadi pada seseorang waktu merasa agamanya dijadikan bahan kelakar. Baik oleh umat seagama, apalagi oleh orang-orang dengan keyakinan berbeda.

Demikianlah yang dirasakan Piers Morgan, seorang jurnalis kesohor Inggris, dan sebagian jemaat Katolik di seluruh dunia terhadap penyelenggaraan Met Gala 2018, 7 Mei lalu. Pasalnya, mengangkat tajuk “Heavenly Bodies: Fashion and the Catholic Imagination”, acara fesyen yang dianggap setara dengan Oscars atau Super Bowl-nya dunia mode kali ini terpusat pada simbol-simbol Katolik.

Dalam artikel protesnya yang penuh sinisme, Morgan kurang lebih bilang begini: “Tema Met Gala tahun depan adalah Islam. Para tamu bisa mengenakan busana pendek dan menggoda sebagai ‘penghormatan’ kepada Nabi Muhammad, cara berpakaian muslim termasuk hijab dan burka, serta kepada Alquran. Sedangkan Met Gala 2020 akan bertema Yahudi. Para selebritas dan model akan berpose dengan mengenakan baju serta pernik Yahudi, termasuk berpakaian seperti rabi, juga memakai kipah.

Jewish man wearing kippah.

Foto: YouTube

Morgan tidak terima ikon-ikon Katolik yang selama ini identik dengan kekudusan, ekspresi kesalehan, altar dan liturgi, diremehkan sedemikian rupa menjadi sekadar aksesori maupun penghias busana para bintang tamu—yang belum tentu saleh, dan seringkali digambarkan sebagai bintang hidup keduniawian. Intinya, mereka dianggap jauh dari kepantasan untuk mengenakan benda-benda tersebut. Terlebih beberapa di antaranya dibuat menyerupai barang aslinya, seperti mitre atau tiara paus.

Rihanna in Met Gala 2018.

Foto: New York Times

Yang membuat hal ini tidak sesederhana kelihatannya, ialah pemilihan simbolisme Katolik sebagai tema Met Gala 2018 bukan sekadar iseng atau sengaja cari masalah. Berawal dari pertemuan Andrew Bolton, kurator di Costume Institute at the Metropolitan Museum of Art (Met), dengan Uskup Georg Gänswein, kepala urusan rumah tangga kepausan, Mei tahun lalu. Mereka membincangkan gereja sebagai inspirasi keindahan bagi para perancang busana selama berabad-abad. Hasil akhirnya, tak hanya mendapat izin, Vatikan malah bersedia meminjamkan sejumlah artefak untuk dipamerkan.

Some of Vatican's artifacts in Met Gala 2018.

Foto: Daily Mail

Informasi lebih lanjut tentang Met, tujuan Met Gala, serta hal-hal terkait lainnya, termasuk mengapa dukungan dari Vatikan dalam penyelenggaraannya tahun ini begitu penting, silakan Google sendiri. Sebab bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan Linimasa hari ini, melainkan melihat bagaimana kebanyakan orang, terutama yang beragama dan mengaku saleh, menyikapi “kolaborasi langit dan bumi” semacam ini.

Bagi Morgan dan sebagian umat Katolik dunia lainnya, hal ini tentu tidak dapat diterima. Hanya saja, tidak sedikit pula yang tergerak, terkagum-kagum, dan dibuat takjub dengan hasilnya. Termasuk dari masyarakat umum.

Agama, budaya, dan keindahan.
Bagaimana menempatkan ketiganya?
Tak bisakah ketiganya dipadukan?

Dalam kasus Met Gala 2018, para penentang beranggapan bahwa agama (Katolik) semestinya tidak dicampurkan dengan ragam budaya hasil buah pikir manusia (mode busana), terlepas dari keindahan (visual) yang dihasilkannya. Proses pencampuran dan hasil-hasilnya akan dianggap sebagai penghinaan atas keagungan agama, serta bertentangan dengan cultural appropriation atau kepatutan budaya. Kendati sejatinya, institusi dan segala tata kelola agama yang ada hingga saat ini, terbentuk lewat pemikiran dan tenaga manusia pula. Dimulai dari konsep struktur agama, sampai susunan dan kumpulan kitab suci, disinggahkan dalam benak manusia.

“The church and the Catholic imagination—the theme of this exhibit—are all about three things: truth, goodness and beauty. That’s why we’re into things such as art, culture, music, literature, and, yes, even fashion.”

Cardinal Timothy Dolan, pemimpin Keuskupan Agung New York di Met Gala 2018.

Anggapan seperti ini bisa terjadi dalam ajaran agama apa pun. Bukan hanya Katolik, para muslim, orang Kristen, Buddhis, umat Hindu, Khonghucu, serta agama-agama besar dunia lainnya akan punya kecenderungan menolak akulturasi agama dan budaya. Padahal bagaimanapun juga, setiap ajaran agama tak akan lepas dari keindahan, dan keindahan justru merupakan salah satu bentuk kekaguman dan kecintaan terhadap tuhan yang mahakarya.

Singkat kata, segala sesuatu yang indah berasal dari tuhan, mampu menimbulkan perasaan menyenangkan bagi manusia, dan oleh sebab itu juga pantas didedikasikan kembali. Khususnya di bidang-bidang yang tangible atau konkret. Misalnya seni pahat, seni lukis atau kaligrafi, arsitektur, musik dan tari, seni busana, serta lain sebagainya. Entah itu patung “Pieta” karya Michelangelo, ketika batu yang padat keras bisa dibuat terlihat seperti daging dan kulit sungguhan, desain Candi Borobudur maupun Angkor Wat yang sedemikian megah, sampai karangan dan gubahan manakib yang dinyanyikan secara massal dalam setiap gelaran haul mendiang ulama bersangkutan. Tidak ada satu pun dari buah karya orang-orang hebat tersebut yang tidak indah.

Borobudur.

Foto: Kata.co.id

Di sisi lain, sebagai hasil dari buah pikir manusia, tidak tertutup kemungkinan ada pula budaya-budaya yang bersifat negatif dan merusak, tetapi kemudian disangkutpautkan dengan label agama demi penerapan yang lebih luas. Karakteristiknya saja sudah bersifat merusak atau destruktif, lalu di mana letak keindahannya? Apanya yang menenteramkan hati, dan bisa dijadikan pendorong untuk memanjatkan puji syukur kepada tuhan?

Salah satu contohnya, seperti yang terjadi Minggu dan Senin kemarin. Pantaskah “budaya” penghancur seperti itu dikait-kaitkan dengan pemujaan kepada tuhan?

Tuhan pun ogah kali.

[]

“I Lived.”

“Nasib orang siapa yang tau? Kalau nanti kenapa-napa, memang sudah kehendak Tuhan kan?”

When I found out there was another bomb in Surabaya, I called my uncle. That was his response when I told him I worry.

Since yesterday, we have been confronted with the worse of humanity – people that think that they have the right to take lives based on their own judgement exists; and they are unfortunately thriving right under everyone’s nose. Silently. Stealthily. And then tragedy came out of nowhere when they decided to take matters into their own hand and exercise their own judgement towards the unassuming lives that are just going through the motion of life.

As a citizen of the country that has been victimized, I am left speechless. Anger, sadness, confusion, fear, frustration and helplessness all mixed into something that I am unable to express clearly. I found myself calling people that I am closed to and I hold dear. And when the line connects, I cannot even bring myself to say anything apart from the “hello” and “where are you?”

I thought about how do I, powerless and helpless as I am to do something that is immediate and tangible, responds to the fact that lives were lost – not naturally but in such a forced manner. And then, my uncle’s respond came along.

We have no control – who lives, who dies, who tells our story.

So what do I do with that knowledge? What’s my immediate respond?

I can only come up with clichéd one-liners. I am not that smart nor am I that deep. But in reality, these words are never done in its literal manner because… it’s cliché. So at least for my own benefit, I am just gonna do exactly those. And, should in the future I am proven wrong… at least I proved to myself that those damn one-liner does not work instead of staying paralysed in the state of confusion.

As you go through your days ahead, uncertainties of life will haunt you. It has always been there – but I won’t deny that recent incidents seem to amplify it. Do your best, anyway. Push through and don’t just go through the motion.

I’ll leave you with this song from OneRepublic that inspires me to do all those one-liners from “live your life to the fullest” to saying all those unwarranted “I love you”s.

I Lived – OneRepublic

Hope when you take that jump
You don’t fear the fall.
Hope when the water rises
You built a wall.

Hope when the crowd screams out
It’s screaming your name
Hope if everybody runs
You choose to stay

Hope that you fall in love
And it hurts so bad
The only way you can know
You give it all you have

And I hope that you don’t suffer
But take the pain
Hope when the moment comes you’ll say

I did it all
I did it all
I owned every second that this world could give
I saw so many places
The things that I did
Yeah, with every broken bone
I swear I lived

Hope that you spend your days
But they all add up
And when that sun goes down
Hope you raise your cup
Oh, oh

I wish that I could witness
All your joy
And all your pain
But until my moment comes
I’ll say

I did it all
I did it all
I owned every second that this world could give
I saw so many places
The things that I did
Yeah with every broken bone
I swear I lived

With every broken bone
I swear I lived
With every broken bone
I swear I

I… I did it all
I… I did it all
I owned every second that this world could give
I saw so many places
The things that I did
Yeah with every broken bone
I swear I lived

Kulkas

Sewaktu Alya Rohali dikirim menjadi peserta pengamat dalam ajang kontes kecantikan pada tahun 1996, seorang Bu Mentri yang ngurusi urusan peranan perempuan bernama Mien Sugandi, protes. Perempuan Indonesia ndak patut untuk berlenggak lenggok dengan pakaian serba minim dan memamerkan lekuk tubuhnya. Apalagi diperlombakan. Kira-kira begitu alasannya. Kala itu Ibu Mooryati Sudibyo selaku penyelenggara Putri Indonesia dan sekaligus ketua Yayasannya, mengutus Alya untuk menjadi Participating Observer. Ternyata Alya pun sempat mengenakan baju renang walau tak sempat berenang di kolam. Cekrek-cekrek! Bu Menteri makin berang.

Ajang kontes kecantikan bernama Miss Universe itu sejatinya adalah ajang dimana semua putri dari negara peserta dinilai tidak hanya kecantikan, namun juga keenceran otaknya dan perilakunya selama masa karantina.

Jadi jika menang pun, sang Juara bukan dinobatkan sebagai putri tercantik seluruh semesta alam, melainkan dianggap oleh para dewan juri sebagai putri yang kenes, ayu, berperilaku bae-bae, dan encer otaknya. Pun juaranya ndak dapet sertifikasi sebagai manusia cantik. Hanya sekadar juara. Itu tok.

Maria usianya 16 tahun. Perempuan mungil, lincah dan berkulit sawo matang ini suaranya melengking. Nada-nada yang dialunkannya senantiasa bikin takjub pendengar. Doremifasolasido yang dinyanyikan olehnya sangat mirip, bahkan lebih bagus dari penyanyi aselinya. Oleh karenanya, semua orang suka Maria. Dia juara Idola Indonesia 2018. Lagu yang pernah dinyanyikan Beyonce dia libas dengan mudah. Apalagi menyanyikan lagu Kecewa milik BCL. Jauh lebih bagus dari mbak Unge, nama sapaan BCL. Pokoknya boleh dikata, dibalik tubuhnya yang legam, ada kemuliaan suaranya. Maria, si Legam Mulia.

Walaupun dia juara, panitia Indonesian Idol ndak pernah menganggapnya sebagai sang pemilik suara paling hebat atau mengeluarkan sertifikat yang bilang Maria itu suaranya emas. Maria sang juara. Sudah begitu saja. Karena jika diukur murni suaranya Maria mungkin masih kalah dengan suara Abdul yang sungguh British atau sungguh Adam Levine. Atau suara Mas Kevin dari Jogja yang ngebas empuk. Namun ini adalah kontes idola. Ndak cuma suara, tapi juga cara menyanyikannya, bagaimana lagu dimaknai oleh penyanyi dan terpenting disukai penonton yang berhak mendukung penyanyi siapapun juga. Dari seluruh aspek itulah Maria dinobatkan sebagai idola terbaik.

Dalam dunia otomotif, pemegang rekor mobil tercepat telah bergeser dari Bugatti Veyron Super Sport kepada Hennessey Venom GT. Mobil besutan dari Amerika ini bisa mencapai kecepatan 454 km/jam. Nguuuueng. Kalau ada netizen mau pamer selfie saat mobil ini melaju, belum sempat ngeklik tombol kamera, mobilnya sudah lari duluan. Kecuali netizen bersabar hingga mobilnya parkir dan dengan leluasa netizen bisa foto-foto. Mumpung mobilnya lagi bobo.

Ini pun sama, penobatan sebagai mobil tercepat walau ukurannya jelas ndak ada sertifikasinya yang bilang mobil ini adalah mobil cepat. Dia hanya pemegang rekor. Sudah, itu saja.

Tapi namanya juga negara kita adalah negara keren. Negara maritim yang semua penduduknya berpendidikan tinggi. Semuanya pandai baca dan punya minat tinggi terhadap bacaan. Daya belinya juga oke punya. Masyarakatnya rukun damai tanpa pernah ribut. Apalagi bacok-bacokan. Semua diselesaikan dengan cara yang beradab, adiluhung dan mengutamakan musyawarah kekeluargaan. Polisinya jujur semua. Tentaranya abdi negara, bukan abdi pengusaha.

Maka kita ndak kaget jika ada lembaga yang punya wewenang mulia memberikan stempel sesuatu itu baik atau buruk, ganteng atau cantik, bahkan halal atau haram. Semua boleh diaku olehnya mengenai seluruh hal.

Hanya di Indonesia, negeri tercintah, yang bisa dan mau untuk susah payah mencari dalil dan ayat-ayat yang menegaskan bahwa makanan kucing itu halal. Apalagi sekadar kerudung. Sepanjang dipakai menurup aurat, dan memiliki sesuatu “hal yang spesifik”, maka ada kerudung yang juga halal. Ndak tanggung-tanggung, halalnya ndak cuma secara lisan. Namun dibuat sertifikatnya. Ini sah. Ini resmi. Makanan kucing halal dan kerudung halal.

Mas, sampeyan sudah tau,.. ndak cuma kerudung saja yang halal?“, tanya saya kepada teman ngerokok saya di suatu tempat dan waktu yang dirahasiakan.

“Iya saya paham Mas.”

Sampeyan juga tahu ada makanan kucing halal?

Iya saya juga tahu Mas“.

Nah kalau kulkas halal, sampeyan sudah paham?”

Waduh, saya kok senang dengarnya! Bagaimana itu Mas, saya mau beli segera.

Teman saya rupanya mulai tergoda dan ingin segera memilikinya.

Lho Sampeyan kok ndak tau, ini keluaran terbaru Mas. Apa ndak aneh, kok kulkas pakai acara dihalalin segala“, seru saya dengan nada bangga karena berhasil lebih tahu duluan daripada teman saya ini.

“Ya ndak papa. Itu wajar Mas.”

Kok wajar? Yang ndak wajar itu yang bagaimana?“, tanya saya penasaran.

Mulai ndak wajar jika ada lembaga sertifikasi keislaman.

Maksud sampeyan?“, saya makin penasaran. Sungguh-sungguh penasaran.

Iya, saya akan kaget pingsan jika ada Kulkas bersertifikasi Islam.”

Bedanya apa itu Mas?“, saya bertanya dengan ndak sabar.

Teman saya menjawab dengan santai,

Kulkas Islam itu bukan kulkas dengan dua pintu, tapi kulkas dengan dua kalimat syahadat..“, sembari mematikan puntung rokok dan membuangnya ke pot bunga.

Memilih dan Menghapus Kenangan

SETELAH membaca surel yang diterima 21 April lalu, baru sadar kalau selama ini sudah memiliki dan mempergunakan layanan flickr selama lebih dari sebelas tahun. Sampai akhirnya muncul pengumuman bahwa media layanan penyimpanan, yang kemudian berubah menjadi semacam media sosial berbasis fotografi serius itu telah dibeli oleh SmugMug–baru pertama kali dengar nama itu–per April kemarin.

Dengan pengambilalihan layanan oleh SmugMug, semua pengguna lama flickr diberi pilihan untuk meneruskan atau menutup akunnya. Jika tidak ada respons apa pun, semua data pengguna flickr akan otomatis dipindahkan ke infrastruktur SmugMug efektif sejak 25 Mei mendatang.

Disebut sebagai media sosial berbasis fotografi serius, pengguna flickr bisa menyimpan dan menampilkan foto-fotonya dalam format terbesar sekalipun. Memberikan atribusi atau label pada foto-foto tersebut, apakah boleh diunduh dan dipergunakan secara umum non komersial di bawah kategori Creative Commons atau tidak, serta fitur-fitur lainnya. Berbeda dengan Instagram, semua foto yang diunggah ke flickr tidak mengalami (atau minim) kompresi. Juga disediakan dalam berbagai ukuran.

Nah, bukan sebagai seorang fotografer profesional, atau seseorang yang cenderung suka menimbun foto tanpa kejelasan manfaat dan tujuan, ditambah lagi tidak terlalu ingin menambah satu lagi perpanjangan identitas digital, saya memilih untuk segera menutup akun. Untungnya flickr menyediakan layanan mengunduh semua foto yang telah ada.

Dari total 758 foto yang telah diunggah ke akun flickr sejak pertama kali, ternyata hanya ada 93 foto yang ingin diambil kembali. Alasannya beragam.

Kenapa hanya 93?
Apakah sisanya tidak penting?
Enggak sayang sama sisanya?
Bagaimana cara memilihnya?

Banyak dari kita, atau bahkan hampir kita semua, selalu bisa punya masalah dengan masa lalu, bayang-bayang, atau kenangan yang menyertainya. Mustahil untuk dihilangkan, dan justru bisa muncul sewaktu-waktu untuk kembali memunculkan berbagai perasaan. Yang menyenangkan, terlebih yang tidak.

Andai saja, menghapus gambaran masa lalu dan perasaan yang menyertainya semudah memilih dan mengunduh foto-foto di akun flickr tadi, hidup kita saat ini barangkali bisa jauh lebih ringan dan terbebas dari residu emosional yang tidak perlu. Dengan segala pertimbangan, alasan, serta latar belakang, kita bisa menentukan mana saja kenangan yang akan dipertahankan, mana yang sepantasnya dibuang atau ditinggalkan.

Tak perlu sampai seperti orang yang baru putus dari pacarnya, yang kemudian buru-buru menghapus foto di semua media sambil dipeluk kesedihan dan penuh air mata.

Sayangnya, kita tidak memiliki kemewahan itu. Entah apa alasannya, bagi yang percaya, tuhan tidak menganugerahi manusia dengan kemampuan tersebut, berikut malah melengkapinya dengan aneka perasaan terusan.

Silakan dibayangkan, seberapa besar penyesalan Adam dan Hawa ketika mereka harus memulai hidup di dunia, setelah dibuang dari taman firdaus atas sebuah kesalahan bersama. Bisa dibayangkan Hawa berkata: “Tahu gitu, mending enggak usah (makan buah).” Malu, putus asa, dan sejenisnya.

Silakan ganti dan skenarionya dengan cerita kita masing-masing. Ada yang salah memilih seseorang, meninggalkan yang pasti untuk kegembiraan dan kesenangan sekejap; ada yang salah memilih pekerjaan, meninggalkan kantor lama dengan segala keterbatasannya demi gengsi dan reputasi; ada yang salah memilih nasihat, membuat diri jauh dari keluarga dan kemudian terlampau malu untuk pulang; dan lain sebagainya.

Yang pasti, inginnya kenangan-kenangan tersebut bisa ditanggalkan di belakang. Membuat kita bisa benar-benar fokus menjalani saat sekarang tanpa gangguan. Namun, sekali lagi sayangnya, manusia tidak seperkasa itu menghadapi masa lalunya sendiri.

Kalaupun ada orang-orang yang sedikit lebih tahan dengan apa pun yang pernah terjadi sebelumnya, bisa jadi dia memang sudah dingin hati, jauh dari ekspresi emosi dan membuatnya relatif susah didekati. Kita pasti pernah bertemu orang-orang yang seperti ini. Jika kita merasa tidak nyaman, tentu saja itu bukan salah mereka. Selalu ada penyebab di balik semua akibat.

Lantaran kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap hal tersebut, hanya ada dua cara untuk berdamai dengan perasaan diri sendiri, dan terus berusaha maksimal menjalani hidup.

Pertama, membiarkannya berlalu.

Mustahil bagi kita untuk menghilangkan kenangan, kecuali bila mengalami amnesia. Mau tidak mau, selalu ada peluang ketika kenangan tidak menyenangkan kembali muncul, dan menyerang kesadaran kita kapan saja, dan di mana saja. Ada yang sanggup menghadapinya dengan cara masing-masing, tetapi tidak sedikit pula yang terganggu suasana hatinya. Membuat mereka tidak bisa beraktivitas dengan maksimal, emosional dan mengganggu manusia lain di sekitarnya, sampai ke berbagai dampak buruk yang lain.

Membiarkannya berlalu bukan hal yang mudah. Perlu penguasaan perasaan, belajar menjadi indifferent atau bersikap netral, bukan apatis, bukan pula tidak acuh. Dengan bertindak “cukup tahu”, efek emosional yang muncul tidak semengguncangkan biasanya. Kita benar-benar menyadari saat ini, semua yang berlangsung, dan masa lalu adalah masa lalu. Sekadar bayangan, dan seharusnya tidak memberi dampak apa-apa, kecuali bila diladeni. Yang berarti, kita memutuskan berbuat sesuatu, menyikapinya dengan tindakan lain, yang bisa jadi menghasilkan dampak baru.

Kedua, menjadikannya pengalaman.

Sebagai makhluk, salah satu keunggulan manusia adalah potensi untuk memiliki kebijaksanaan. Menjadikan masa lalu sebagai sumber pengalaman dan pelajaran adalah salah satunya. Sama seperti di sekolah, mudah susahnya sebuah pelajaran tetap akan kita lalui sesuai jadwal. Kita hadapi, kita simak dan pahami. Tatkala ujian, barulah kita membuktikan kemampuan kita menjalankannya. Setelahnya, sudah. Begitu saja.

Analogi lainnya. Bagi yang gemar menulis blog pasti pernah merasa geli dengan tulisan sendiri dari beberapa tahun lalu. Menertawakan ide dan pemikiran pada saat itu, sudut pandang yang mungkin masih kekanak-kanakan dan dangkal. Kini, dengan kita yang ada di saat ini, semuanya bisa terlihat jelas sebagai sebuah alur perubahan. Kita yang dulu menjadi kita yang sekarang. Melihat proses pertumbuhan dari sudut pandang berbeda.

Begitu pula dengan 665 foto lainnya di akun flickr saya. Berbagai hasil jepretan yang tidak jelas maksud dan juntrungannya, akan tetapi terasa keren banget di saat itu. Setidaknya hari ini, saya sudah bisa memutuskan untuk meninggalkan, menghapus, dan merelakan 665 foto yang sudah dikumpulkan sejak lebih dari sepuluh tahun lewat.

Sepuluh tahun lalu.

Terus belajar berdamai dengan masa lalu, dan memperlakukan mereka sebagai mana mestinya.

[]