We Need Painkillers

me-why-am-l-always-cold-googles-web-md-youre-6996128
Sekarang saya punya kanal podcast kesayangan untuk didengar sambil lari lari ganteng; Doctor’s Farmacy. Dokter Hyman baru memulai podcast ini awal tahun 2018 dan dengan rutin setiap seminggu sekali menyajikan tamu yang kadang menarik kadang kurang, tetapi sekalinya menarik sering saya dengar lebih dari satu kali.

Mark Hyman dan teman-temannya ini adalah pengikut functional medicine yang memang sebagai sekumpulan yang memiliki profesi dokter dianggap pembelot, karena mereka menolak memberikan obat dari pharmaceutical ke pasien mereka. Menurut dr. Hyman, dokter seharusnya mengobati manusia, bukan mengobati penyakit. Kemudian penyakit itu juga umumnya tidak bisa diobati dan dilihat satu per satu secara terpisah, tetapi harus dipandang secara komprehensif dan diketahui sejatinya penyebabnya apa dan diperbaiki dari situ. Jadi intinya tidak seperti dunia kedokteran sekarang yang, contohnya jika Anda memiliki kolesterol tinggi, akan ada obatnya untuk itu, lalu tambahannya jika tekanan darah Anda tinggi juga ada obatnya dan seterusnya. Tetapi tidak dirunut kenapa pasien bisa memiliki keluhan seperti ini dan coba diperbaiki dari sumbernya. Menurut mereka juga kalau makanan itu jika dikonsumsi yang benar justu bisa jadi obat. Thus the channel name; “farm”acy not “pharmacy”. Permainan kata yang cukup pandai, bukan? Bukan? FINE.

Anyway.

Enggak pengin cerita soal ini intinya, tapi tentang salah satu kenyataan yang saya dengar dari satu episode dr. Hyman dengan dokter Aseem Malhotra yang satu aliran dengannya. Satu kalimat yang membuat saya manggut-manggut dan lalu agak menyambungkan dengan keadaan yang ada sekarang, di sekitar saya, mungkin juga di sekitar Anda, di sini dan mungkin di mana-mana.

Dr. Malhotra mengatakan kalau di dunia kedokteran, yang mereka butuhkan adalah “more humility and less hubris” alias lebih banyak kerendahan hati dan lebih sedikit keangkuhan. Beliau juga bercerita kalau salah satu dokter kenamaan yang jadi pengajar ketika dia masih menjadi mahasiswa kedokteran mengatakan bahwa, separuh ilmu yang mereka dapatkan di sekolah kedokteran ini akan menjadi salah dan atau ketinggalan zaman lima tahun ke depan, tetapi tidak ada yang pernah tahu setengah yang mana.

Karena itu sesungguhnya mengherankan kalau ada dokter yang dengan angkuhnya menganggap kedokteran itu ilmu pasti yang haram dipertanyakan, apalagi dibantah. Mungkin itu sebabnya banyak teman-teman kita yang memilih konsultasi ke Google MD daripada langsung ke dokter agar kurang lebih bisa mendiagnosa diri sendiri sebelum seolah terpaksa menerima mentah-mentah diagnosa dokter di rumah sakit dan terpaksa menebus resep yang tidak selalu kita ketahui juga obatnya apa.

Baru beberapa minggu lalu terjadi, seorang dokter membalut luka saya yang diakibatkan kecelakaan olahraga sambil bercerita dia baru pulang kerja sukarela dari Lombok merawat cedera korban gempa, kemudian memberikan saya resep painkiller (yang tadinya saya pikir setara Ponstan) tapi ternyata membuat saya setengah hari tak bisa bangun di kondisi bangun dan tidur (alias fly hampir seharian). Whyyyy yang luka hanya tulang kering saya, doook!

Sementara itu, di kutub ujung sana ada orang yang sampai kurang gizi karena setelah membaca referensi sana sini, menyimpulkan sendiri bahwa hampir semua makanan tak layak konsumsi dan atau akan menyebabkan penyakit, seperti yang diceritakan dr. Tan Shot Yen di sini. Mungkin jika semua dokter seperti Mark Hyman atau paling tidak banyak dari dokter seperti beliau, sebagai pasien kita akan semakin pandai dan tidak segan meminta rekomendasi, juga dr. Tan akan menjadi tidak terlalu grumpy? (Just kidding, dok!)

Anyway.

Kalau dilihat di bidang motivational speaker ya, seperti juga kasusnya di bidang kedokteran, dibutuhkan juga lebih banyak kerendahan hati dan lebih sedikit keangkuhan. Contohnya ketika diminta berbicara di sebuah forum kecil atau besar mungkin lebih banyak introspeksi dan mengakui kalau sepertinya semua orang akan bisa belajar dari semua orang, dan ilmu pembicara belum tentu lebih banyak dari audience, dan harus lebih banyak kerendahan hati untuk tidak membicarakan keberhasilan yang terjadinya sudah berpuluh tahun yang lalu dan belum ada contoh skenario terbaik yang terjadi lebih dekat dari 5 tahun yang lalu. Siapa sih yang jadi contoh itu? Enggak ada orangnya kok, hanya contoh karakter fiksi he he he.

Advertisements

Netflix, Quincy, dan Perbedaan Hikmah dalam Kehidupan

p15807992_v_v8_aa

Siapa sangka, cara menonton film pada akhirnya adalah berlangganan via internet. Bahkan sekelas bioskop yang menjadi tumpuan utama laris-tidaknya sebuah film dirilis harus mempercantik toilet dengan lampu sorot yang membuat kita para lelaki merasa 50% pipis dan setengahnya lagi merasa sedang konser tunggal. Juga mau ndak mau pengelola bioskop berjualan penganan ringan, kudapan dan pernak-perik film demi menambah pemasukan. Sebelum film dimulai, iklan juga bertaburan di layar perak. Sehingga bioskop bukan saja sebagai tempat pemutaran film, namun juga semi restoran, tempat hiburan, dan media iklan. Dulu, saat saya masih berseragam merah putih, nonton filem juga dapat dilakukan melalui pemutar vidio dalam ukuran betamax. Kemudian ada versi VHS. Saat saya bertandang ke rumah Pakdhe di Jakarta saya disuguhi film dalam format Laser Disk. Ini menarik karena jaman itu kalimat semacam “laser disk ndak bisa disensor“, adalah kalimat indah bagi telinga bocah lelaki nanggung yang sepadan dengan para pekerja yang mendengar kalimat “duit gajiannya uda masuk“.   Bagi saya yang menyukai penyewaan kaset vidio karena disana ada pahlawan jagoan seperti Gaban, Sarivan, dan Lion Man serta dimana sendal bertebaran di dekat keset welcome menandakan ada pemutaran film paling anyar di dalam rumah, maka munculnya netflix di era kekinian adalah suatu anugrah. Kita disuguhi semua film, termasuk kategori yang telah rapi ditata. Nonton sebentar, bosan, boleh pilih film lain. Bedakan dengan nonton bioskop. Bosan sedikit mau kemana? Juga bedakan dengan sewa kaset betamax. Bosan, harus tukar dan itu perlu jarak dan waktu tempuh. Zaman betamax, kalau kasetnya sudah dipinjam orang lain, kita kudu antre. Bedakan dengan era streaming. Mau yang nonton jutaan orang secara bersamaan, tak ada masalah. Selain kemudahan menonton dan kurasi film yang cukup mumpuni, Netflix juga menyajikan film dokumenter yang menakjubkan. Mana mungkin kita menonton film dokumenter di bioskop, kecuali film G30SPKI atau pada saat digelarnya festival film. Beberapa sajian film dalam layar internet juga diberikan oleh Viu dan beberapa situs indi yang memanjakan para penggemar drama korea, termasuk istri saya. namun tak ada film dokumenter disana. Bisa jadi ada, tapi jarang. Saya sungguh menikmati film dokumenter. Apalagi film dokumenter yang bercerita soal kehidupan pesohor namun dari kacamata lain. Kisah Nina Simone dalam film “What Happened, Miss Simone?” dari kacamata respon atas tindakan opresi negara atas perbedaan warna kulit di masanya. Hal ini sama-sekali tidak ditemui dalam kisah Quincy Jones dalam film “Quincy“. Nina Simone merasa hitam dan sadar atas kehitamannya dia banyak menderita dan menerima pil pahit. Hal ini berbeda dengan Quincy. Ia justru menaklukan perbedaan warna kulit. Ketiga istrinya adalah “white”. Satu perempuan Swedia dan dua lainnya warga Amerika. Rupanya bagi sesama kulit hitam pun perbedaan isu warna kulit tidak sama rata dirasa. Bahkan Quincy memimpin orkestra bagi Sinatra. Siapa sih kulit hitam yang senang orkestra? Mungkin banyak. Tapi siapa yang berhasil memimpin orkestra, dan menaklukan dunia musik Amerika? Inilah sejatinya persoalan hidup. Satu peristiwa besar sekalipun belum tentu dirasakan hal yang sama oleh setiap manusia. Gempa Bali, bagi yang tidur di hotel bintang lima di Surabaya, maka gempa itu adalah sekadar goyangan belaka. Gempa ini bisa jadi bahan perbincangan baginya saat kembali bekerja di Jakarta. Sedangkan bagi seorang pria yang tewas di Madura karena tertimpa rumahnya yang roboh, gempa Bali bukan hanya goyangan, tapi berhasil mencabut nyawanya. satu peritiwa, gempa, namun berbeda rasa. Banyak perspektif dalam setiap peristiwa. Inilah sejatinya kehidupan paralel yang sesungguhnya. Banyak kotak hikmah. Tinggal pilih mau pilih kotak yang mana. Bagi Rothschild, waktu krisis ekonomi adalah waktunya panen raya, karena pada saat itulah dirinya yang memiliki simpanan uang dan emas bisa dengan leluasa membeli properti dengan harga murah. Tapi bagi orang lain, krisis adalah hilangnya pekerjaan dan perubahan nasib ke arah yang lebih buruk. Sama halnya seperti macetnya kota Bandung. Bagi warga lokal, ada yang menganggapnya sebagai fenomena buruk dari serbuan warga Jakarta yang cari hiburan di Bandung. Bagi sebagian lain, macetnya Bandung yang diserbu warga Jakarta adalah kesempatan ekonomi untuk menawarkan sesuatu. Penginapan, makanan atau hal lain yang bernilai ekonomis. Tuhan itu satu, agama saja yang membuatnya berbeda. Sama halnya dengan peristiwa. Dia pun hanya satu, namun tinggal bagimana kita meresponnya. Kesempatan pun bisa jadi tidak akan datang dua kali, karena mungkin setiap hari datang. Namun, kitanya saja yang tak menyadari.

salam anget,

QuincyRoy

Teman Yang Tak Selalu Ketemuan

Seberapa sering kita perlu bertemu dan berbicara dengan teman kita?

Pertanyaan di atas cukup mengusik pikiran saya sesekali dalam beberapa minggu terakhir ini. Dan ketika sedang berpikir tentang hal itu, mau tidak mau saya “terpaksa” jujur kepada diri sendiri, bahwa sudah jarang sekali saya bertemu dengan teman-teman saya.

Kalau sudah jarang bertemu, apa masih dianggap teman?

Pembahasan tentang teman dan pertemanan ini sudah cukup sering dibahas di situs Linimasa ini, oleh sebagian besar penulisnya. Silakan cari saja tulisan-tulisan dengan kata “teman”, “friends”, “sahabat”, atau “friendship” di sini.

Yang saya ingat, Leila pernah menulis soal kemampuan kita yang semakin ahli dalam membuat kompartemen pertemanan yang berbeda-beda. Artinya, kita bisa memilah jenis teman berdasarkan kemiripan minat. Ada teman yang sama-sama suka menonton film, teman-teman untuk berolahraga bareng, teman-teman untuk urusan wisata kuliner, dan lain-lain.

Saya sependapat dengan semakin mahirnya kita melakukan hal itu, seiring dengan seringnya frekuensi kita berinteraksi dengan berbagai macam jenis orang, dan tentunya, dengan semakin bertambahnya usia.

Saya juga sependapat dengan salah satu tulisan Dragono dulu, tentang semakin sedikitnya pertemanan baru yang kita buat seiring dengan usia kita yang semakin menua. Semakin selektif pula dalam menyaring orang yang bisa masuk dalam kehidupan kita.

Friendship-Girls-uhd-wallpapers

Demikian pula dengan urusan menyaring teman-teman lama yang terbentuk dari kesamaan latar belakang pendidikan atau pekerjaan. Tak semuanya tetap menjadi teman. Kalaupun masih berinteraksi, tak lebih sekedar basa-basi semata karena terpaksa masuk WhatsApp grup, terpaksa datang reuni, hadir di buka bersama, dan sejenisnya.

Ada kalanya beberapa teman lama kita masih menjadi teman sampai sekarang. Bahkan ada sebuah ungkapan yang dulu pernah saya temukan, yang mengatakan kalau kita sudah berteman lebih dari 7 tahun, kemungkinan besar dia atau mereka ini akan menjadi teman seumur hidup.

Toh buat saya, seperti layaknya jenis hubungan yang lain, it’s not about how long. It is always about how deep.

famous-friendship

Batasan atau arti pertemanan sendiri tentu berbeda-beda. Biasanya teman adalah orang atau orang-orang yang kita prioritaskan saat kita ingin berbagi, baik dalam duka atau suka.

Dan karena itulah maka tak urung saya merasa sedih, karena sering kali belum bisa being there untuk orang-orang yang saya anggap teman saat mereka sedang dalam keadaan yang kurang menguntungkan. Mungkin ini preferensi personal, hanya saja kadang diri ini merasa berkomunikasi lewat ponsel tidak cukup. Inginnya bertemu langsung, bertatap muka langsung, berbicara langsung. Tapi apa daya, we all have our lives to live.

Kalau sudah begitu, biasanya saya hanya akan menunggu. Menunggu sampai mereka mulai berbicara. Memberikan ruang dan waktu sendiri untuk teman kita juga bagian dari pertemanan.

Karena setelah melalui masa sendiri, akan lebih banyak cerita yang bisa dibagi saat ketemuan.

Pedestrian lawn area Jakarta

Dari Titik Singgah ke Titik Singgah Lain

ADALAH transit-oriented development (TOD), sebuah konsep perencanaan urban yang mendorong manusia—para warga sebuah kota—lebih bergerak ketika beranjak. Idealnya, alih-alih duduk sendirian dalam bilik yang sejuk dan lumayan lega tetapi berlangsung lebih dari dua jam, skema berdasarkan TOD akan berpotensi memangkas durasi perjalanan. Meski bakal diselingi aktivitas menunggu sambil duduk atau berdiri, berjalan kaki, maupun agak berlari.

Dari namanya saja, sudah cukup menggambarkan ide dasar konsep perencanaan urban ini; pembangunan yang berorientasi pada titik-titik singgah. Andaikan boleh sedikit filosofis, kita pergi dari dan pulang ke rumah. Sekolah, kampus, kantor, toko, tempat usaha, mal, tempat rapat, restoran dan kafe, tempat-tempat publik dan pusat keramaian lain, rumah ibadah, pemakaman, rumah sakit, serta lain-lainnya merupakan lokasi berkegiatan dalam kurun waktu tertentu. Bisa dianggap sebagai titik-titik singgah, dan untuk bisa sampai ke sana mesti melalui titik-titik singgah pula. Katakanlah halte, stasiun, terminal, atau areal parkir.

Pertanyaannya, maukah kita begitu? Bersediakah menjalani keseharian dengan gaya hidup TOD?

Belum tentu, atau malah tidak akan mau.

1. Kota kita bukan kota untuk para pejalan kaki, dan pengguna moda transportasi umum.

Dilematis seperti masalah telur dan ayam. Mana yang harus diadakan terlebih dahulu? Perubahan pola pikir dan kebiasaan para warga kota, ataukah situasi dan penataan kotanya sendiri?

Perencanaan urban berdasarkan konsep TOD tentu bertujuan untuk efisiensi, tanpa menghilangkan sebagian besar kenyamanan hidup. Waktu tempuh perjalanan bisa dihemat setidaknya hingga sekian puluh persen, begitu pula dengan tingkat kepadatan lalu lintasnya (efektivitas tergantung rencana, implementasi, dan modifikasi).

Dengan TOD, dari satu titik singgah ke titik singgah yang lain akan memakan waktu sekitar sepuluh hingga 45 menit. Baik dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun menggunakan moda transportasi umum. Sayangnya, jangankan Samarinda, Banjarmasin, Pekanbaru, Batam, Medan, dan kota-kota provinsi di luar pulau Jawa; Jakarta, Bandung, Semarang, atau Surabaya pun—tampaknya—belum bisa diacu ke prinsip-prinsip TOD sepenuhnya.

Di lima kota luar pulau Jawa di atas, jarak dari satu titik singgah ke titik singgah lain relatif lebih jauh. Pun begitu, sarana transportasi publik belum mampu diandalkan secara menyeluruh. Mau tidak mau, warga harus bergantung pada kendaraan pribadi, atau moda transportasi personal seperti taksi, ojek, mobil sewaan. Terlebih di waktu-waktu istirahat. Mau berjalan kaki? Sangat tidak mangkus sangkil. Kecuali sangat terpaksa.

Sementara itu, di empat kota besar pulau Jawa, kendala yang dihadapi kurang lebih sama. Moda transportasi umumnya memang sudah dikembangkan sedemikian rupa, hanya saja, sejauh ini, baru TransJakarta yang beroperasi 24 jam sehari. Kendati di atas pukul 10 malam, jumlah armada yang beroperasi tidak banyak.

Di sisi lain, belum banyak ruas jalan yang memiliki trotoar lebar dan nyaman. Baru sebatas di kawasan wisata dan area populer dalam kota, belum menyentuh pemukiman. Kegiatan berjalan kaki pun masih identik dengan ketidaknyamanan, walaupun hanya urusan ke minimarket di ujung gang untuk beli cemilan.

2. Kendaraan pribadi adalah perlambang kemakmuran dan kemapanan.

Tak ada yang salah dari pernyataan di atas. Setiap orang berhak membeli dan memiliki kendaraan pribadi, sebanyak atau semahal apa pun. Namun, jangan lupa bahwa kepemilikan kendaraan pribadi akan diikuti sejumlah konsekuensi. Mulai dari harga yang harus dibayar, segala jenis biaya yang timbul, lahan parkir pribadi yang seyogianya ada, risiko-risiko, termasuk potensi terjebak macet dan mengalami ketidaknyamanan emosional yang muncul saat itu.

Sebaliknya, justru keliru apabila beranggapan bahwa kepemilikan kendaraan sama dengan kualitas kehidupan seseorang. Hal tersebut memang dapat dijadikan parameter, tetapi bukanlah poin mutlak.

Commuter line train Jakarta

KRL terakhir, dengan mereka yang sudah lelah dan ingin pulang.

Sah-sah saja jikalau seseorang memiliki kendaraan pribadi, dan hanya digunakannya di akhir pekan atau hari libur lantaran malas terjebak macet dari dan ke kantor. Ketika keputusannya seperti itu, kendaraan pribadi tadi pun berubah fungsi dari aset menjadi kewajiban. Ya … setiap orang boleh punya pertimbangan berbeda-beda, sih. Lagi-lagi, sayangnya, suasana di dalam kendaraan umum—TransJakarta dan KRL—pada hari kerja pun tak selalu nyaman. Berdesak-desakan, juga selalu dihantui pencoleng dan perogoh.

Dengan demikian, salah satu cara yang cukup masuk akal untuk dicoba demi gaya hidup ala TOD adalah membiasakan jalan kaki sebisa mungkin. Tak perlu jauh-jauh, semampunya saja. Maklum saja, udara Indonesia cenderung gerah dan panas. Mana ada yang betah berkeringat barang sedikit pun, khawatir terlihat dekil, tak wangi lagi, dan seterusnya. Belum banyak pula kantor-kantor yang menyediakan bilik mandi di kamar kecil, yang semestinya bisa mengakomodasi pegawai pesepeda. Belum lagi di kota-kota sarat tambang macam Samarinda, dengan jalanan berdebu yang bisa bikin kulit sarat daki.

Padahal, jujur saja, berjalan kaki itu romantis, lho. Menjadi terbiasa berjalan kaki di Jakarta dan mengamati-menikmati setiap momen yang ada di depan mata, membuat saya cukup nyaman berjalan kaki di luar kota. Termasuk di Samarinda, saat pulang kampung. Sensasi ini barangkali saja memang bukan untuk semua orang. 😊

3. Hidup sudah melelahkan, jangan sok ide!

Pemandangan yang lazim, sekawanan manusia berebut masuk ke bus TransJakarta dan KRL. Terkesan agak beringas, mereka berusaha mendapatkan tempat duduk atau setidaknya posisi yang nyaman sepanjang perjalanan. Buru-buru mereka naik, buru-buru pula mereka turun. Seolah-olah hanya itulah kesempatan mereka untuk melanjutkan hidup. Padahal, mereka pasti berhadapan dengan suasana yang sama keesokan harinya. Begitu lagi, dan lagi. Mungkin sampai mati.

Apakah urusan yang satu ini termasuk sebagai permasalahan hidup? Mungkin. Mungkin tidak.

Bagaimana bila justru kita sendiri yang menjadikannya sebuah masalah? Respons dan cara kita menanggapinyalah yang membuatnya terasa tidak menyenangkan, menambah beban kehidupan dengan sesuatu yang diada-adakan. Tanpa sadar, kita diperbudak oleh perasaan sendiri. Salah satu komponen kehidupan yang semestinya menjadi “milik kita”.

Tubuh lelah, alamiahnya memang begitu setelah berkegiatan. Hati lelah, siapa yang menyebabkannya? Kita sendiri, atau orang lain? Ataukah kita “mengizinkan” orang lain untuk bikin hati kita lelah? Manusia bisa jadi memang selemah itu.

Jadi terpikir. Apabila TOD adalah konsep perencanaan urban, dari satu titik singgah ke titik singgah lain, kita pun sebenarnya sedang berpindah-pindah dalam menjalani kehidupan ini. Dari satu momen singgah ke momen singgah lainnya … cuma, ada yang tersisa dan terus dibawa-bawa. Entah kenangan, kepahitan, kegembiraan, syahwat, atau kerinduan.

Memberatkan dan berusaha ingin ditinggalkan (baca: dilupakan), atau malah bikin kita kecanduan dan mencari-cari agar bisa menikmatinya kembali.

[]

Andai TTS Termasuk Ujian CPNS

“Kalo mau lulus ujian Bahasa Indonesia, banyakin isi TTS.”

Itulah pesan Bapak suatu kali ketika saya menghadapi ujian Bahasa Indonesia. Pesan yang hingga saat ini sering saya lakukan tiap Kamis dan Minggu. Maklum saja, pada hari-hari itu, beberapa media cetak seperti koran selalu menghadirkan TTS di satu halaman.

Mulanya, TTS atau yang sering biasa disebut Teka-Teki Silang hadir karena pada tahun 1913 sebuah perusahaan di Amerika Serikat membutuhkan permainan yang membuat karyawannya bahagia. Sebab, direktur itu menilai karyawannya banyak yang suntuk bahkan tidak fokus dalam menyelesaikan pekerjaan.

Arthur Wynne adalah pemuda brilian yang menciptakan permainan itu. Dia ditunjuk oleh direkturnya membuat permainan yang unik. Kemudian, ia merancang sebuah permainan. Permainan seperti teka-teki. Mengisi dalam beberapa kotak. Ada yang tersusun secara menurun dan ada yang mendatar. Dia berhasil membuat para karyawan bahagia. Lalu, permainan itu populer.

Akhirnya, salah satu media cetak ternama di Amerika Serikat, New York Times menduplikasikan permainan itu ke halaman khusus. Rubrik TTS. Mereka membuat tatanan baku. Minimal harus ada tiga huruf yang terisi pada kotak.

Seiring berjalannya waktu, tidak harus tiga. Bahkan, dua huruf pun boleh. Dan itu bisa kita lihat pada TTS di media cetak hari ini.

Mulanya, saya hanya melihat kesibukan Bapak menyelesaikan TTS saban Minggu siang. Mengisi dan menyusun kata demi kata agar bisa tersusun dengan baik. Saya pun nimbrung.

Melihat saya yang sepertinya ingin mencoba mengisi TTS, Bapak langsung memberikan koran itu kepada saya. Memberikan satu kata. Kotak berjumlah lima. Dengan kotak ketiga berhuruf T.

Petunjuknya, tiga mendatar. MATA. Saya berpikir keras. Apa ini maksudnya? Lima huruf yang ada hubungannya dengan mata dan ada huruf T di kota ketiga.

Karena saat itu belum zaman bertanya kepada Mbah Google, saya mencoba mencari di tumpukan koran yang berada di meja. Ketika saya akan meraihnya, bapak menahan tangan saya.

“Gak boleh, kamu harus berpikir. Coba, kira-kira kata apa yang berhubungan dengan mata.”

Saya berpikir. Cukup lama. Wong, hampir lebih dari 15 menit. Dan hasilnya nihil. Saya pun tak bisa mengisi kotak itu.

Bapak hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Makanya banyak baca. Apa pun itu. Ga hanya baca koran atau buku. Ga semua yang ada di situ, bisa membantu kamu mengisi TTS. Bisa aja dari kertas di botol obat atau dari iklan di tiang listrik, kamu bisa menemukan kata yang jarang terdengar.”

Saya termenung. Hanya bisa menundukkan kepala. Kemudian, Bapak mengambil pulpen dan mengisi kotak yang saya pikirkan.

NETRA.

Brilian! Saya kagum sekaligus heran. Kok ya saya ndak kepikiran dengan kata itu. Dalam pikiran saya, mata berhubungan dengan bulu, lensa, atau kelopak. Ga pernah terpikir untuk menyebut kata netra.

Padahal netra dari kata tuna netra. Orang yang tidak bisa melihat. Dan itu identik dengan mata.

Semenjak itu, agar mahir dan menguasai banyak kata, saya selalu mencoba mengisi TTS. Walaupun tentu saja, kalo ada kata-kata yang tidak mengerti, saya akan bertanya kepada Bapak. Sebab, bagi saya, Bapak adalah kamus berjalan. Sepertinya segala kata pun, dia paham. Macam Ivan Lanin, kalo era sekarang.

Selain TTS di koran, kadang saya juga mengisi TTS di buku yang berkaver mbak-mbak seksi nan semlohay. Saya ga tahu sejak kapan buku TTS di Indonesia identik dengan kaver yang seperti itu.

Yang jelas, pertama kali membelinya di kios daerah Terban. Dekat dengan tempat saya melanjutkan pendidikan di esempe. Sayangnya, kios itu kini tutup. Sudah beralih menjadi ruko.

Waktu itu, harganya cukup murah. Dengan embel-embel “Berhadiah”, saya membeli dengan harapan tinggi. Mengisinya hingga tuntas kemudian dapat hadiah. Minimal sepeda. Saya sih berharap kalo TTS ini sepertinya lebih mudah daripada di koran.

Ternyata nggak juga. Susah, mylov~

Ada 10-15 TTS. Dan sebagian besar pertanyaannya berbeda. Saya kira seharusnya kita patut memberikan apresiasi tinggi kepada pembuat TTS ini.

Gak mudah lo membuat TTS. Menurut saya, pembuatnya harus memiliki cakrawala pengetahuan yang luas. Sebab, tak mudah membuat 20-30 pertanyaan. Mendatar dan menurun. Kemudian bisa jadi satu kesatuan.

Saya pun hanya dua kali dari puluhan buku dan koran untuk menyelesaikan sebuah TTS. Cukup menyedihkan. Dan mengisi TTS adalah pelajaran melelahkan.

Fakta itu bisa jadi benar untuk saya. Tapi tidak untuk Keira Knightley dalam film Imitation Game. Dia adalah salah satu orang dan satu-satunya wanita yang berhasil menyelesaikan tantangan dari Benedict Cumberbatch. Luar biasa, salah satu ujian untuk menjadi pendamping si Benedict adalah mengisi TTS! Film yang diadaptasi dari buku berjudul The Enigma: Alan Turing ini, saya kira sungguh brilian.

Dan saya selalu percaya, jika orang yang pandai mengisi TTS, pasti pintar bahasa Indonesia karena mampu menguasai banyak kata. Itu juga seperti yang Bapak katakan, “mampu mengisi TTS, maka mudah mengerjakan ujian Bahasa Indonesia.”

Selain itu, andai mengisi TTS adalah salah satu ujian dalam CPNS, barangkali tak banyak pemuda-pemudi Indonesia yang mau mendaftarkan diri jadi PNS~

Dan bisa jadi, yang diterima adalah orang-orang yang cakap, cakrawala pengetahuan luas, dan tepat dalam pengambilan keputusan.

Setujukah kalian jika TTS dimasukkan dalam ujian CPNS?

Telpon Ibuku

20180919192251.159-2127057299

Beberapa hari yang lalu ibuku menelpon. Tentu saja lewat audio call milik Whatsapp. Intinya ibuku cerita jika ayahku penglihatannya mulai berkurang. Setelah diperiksa ke dokter mata ayahku harus lakukan operasi katarak. Itulah sebabnya ibuku menelpon. “Ayahmu takut. Katanya ada beberapa temannya  yang lensanya ndak pas sehingga usai operasi untuk melihat pun rasanya masih berkabut“. Aku baru tahu kalau setelah operasi mata ayah harus dipasangi lensa. “Kalau BPJS lensanya mungkin kurang bagus, jadi teman-teman ayah seperti itu“, lanjut ibuku. Sembari mendengarkan cerita ibu, aku berusaha mengingat-ingat berapa saldo tabunganku . Harusnya aku bertanya pada istriku, karena dia pasti hapal sisa tabungan kami. Karena aku ragu, maka aku mengurungkan niat untuk menawarkan ayah untuk operasi di Jakarta saja. Ini bukan soal lensa, atau BPJS, aku percaya ini soal keterampilan dokternya. Sayangnya untuk saat ini untuk ongkos ke jakarta, biaya dokter dan berobat jalannya aku ndak punya. Mungkin bukan tak punya. Ini soal ndak pasti saja. “Mas, masih dengerin Ibu ndak? Halo? Halo?“. “Iya bu“. Walau sebetulnya aku ndak tahu bicara apa pada beberapa kalimat terakhir yang Ibu ucapkan. “Nah, sekarang ibu mau cerita soal ibu sendiri. Akhir-akhir ini di bagian belakang betis ibu suka nyeri kenapa ya. Nyut-nyut-nyut begitu Mas. Ibu bingung mau ke dokter mana untuk periksa. Mau tanya pamanmu, dia dokter THT. Akhirnya Ibu datang ke Mbak Lely, itu lho anak Bu Edah, yang rumahnya dekat sekolahan kamu dulu.”. Kali ini aku berusaha konsentrasi dan ndak memikirkan soal berapa tabunganku. Ini soal Ibu, tanpa tabungan pun aku harus menanggapinya serius dan segera. “Nah waktu diperiksa, betis Ibu seperti kulit jeruk. Jendol di sana dan disini. Kata Mbak Lely ini lemak. Wah Ibu ndak percaya, kok lemak di betis. Bukan di pinggul, perut, atau bagian mana begitu yang biasanya jadi gudang lemak. Ibu kalau mau segera hilang nyerinya ditawari sedot lemak, Mas. Liposaksyen.“. Aku masih mendengarkan sembari mengingat-ingat bagaimana bentuk betis ibuku. Pasti ndak seindah Ken Dedes, Drupadi atau Heidi Klum. Tapi kenapa harus sedot lemak? “Mas, tapi Ibu ndak mau. Kata teman-teman pengajian Ibu juga sedot lemak itu bagian dari operasi plastik. Itu dosa. Ibu tahu. Makanya Ibu sekarang  sering minum lemon hangat“. “Buat apa Bu?”, tanyaku. “Lemon itu asam. Lemak nanti kan ikut larut.“, jawab ibuku penuh optimis. Saat hendak mengomentari soal kisah lemak, sedot lemak dan dosa ini, ibu kembali bicara. “Oh iya, bagaimana kabar anak-anakmu Mas? Ibu kangen. Kalau sudah selesai ujian, nanti kirim saja ke sini. Naik kereta saja. Sampai di Stasiun Cirebon, Ibu akan suruh Masmu untuk jemput. Gimana?”. Aku selalu berpikir apakah ini efek dari ndak bayar pulsa, sehingga ndak perlu menunggu waktu siaran Dunia Dalam Berita atau setelah subuh untuk menelpon anak-anaknya. Dan semua hal akan sempat dibicarakan tanpa resah dengan tagihan pulsa. “Bu, soal betis Ibu yang terasa sakit. Ibu rutinkan saja lagi berenangnya. Kan kemarin sudah dibelikan baju renang muslim. Dan bukannya di Ciperna setiap Selasa Jumat dibuka khusus untuk ibu-ibu saja? Nah mungkin dengan berenang betis Ibu membaik.” Ibuku agak hening sebentar. Apakah karena sebenarnya Ibuku ingin liposuction? Apakah ini kode keras supaya aku membayarinya biaya sedot lemak? Aku bingung dengan apa yang sebetulnya menjadi kemauan ibuku. “Ini sebetulnya mudah juga sih Mas. Kemarin Budhe Ita kirim serabi. Juga kemarinnya lagi kirim emping melinjo. Juga bawa bolu. Pokoknya kalau lagi ada pesanan apa, Ibu juga dikirimi. Ini mungkin yang bikin Ibu mudah gemuk.  Bikin lemak menumpuk. Nanti Ibu larang saja Mbakmu itu untuk kirim-kirim makanan. Ibu tahu katering buatannya enak. Tapi kalau dikirim terus, betis ibu jadi sakit. Ya sudah. Ibu mau sholat ashar dulu. Salam buat anak-anak dan Kiky. Oh ya, kamu laki-laki Mas. Sholatnya di masjid. Jangan lupa!

Mengakui Rasa, Bukan Ratna

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang sakit. Agak aneh menulis kalimat barusan.
Mari kita ulang lagi.

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang dalam masa istirahat karena sedang sakit. Okay, that is somewhat better.

Mendadak di awal minggu ini, rasa sakit yang menyerang persendian di kaki saya muncul lagi. Ini penyakit tahunan yang sudah saya alami sekitar hampir satu dekade terakhir ini. Jadi memang kemunculannya, meskipun tidak pernah saya tunggu-tunggu, sudah tidak mengagetkan lagi. Dan selama tiga tahun terakhir, memang serangannya selalu muncul di bulan-bulan ini. Tahun 2016, munculnya pas pemilihan Presiden Amerika Serikat di awal November. Tahun lalu, maju lebih awal, di bulan September. Dan tahun 2018 ini, di minggu pertama bulan Oktober.

Oh, by the way, penyakitnya adalah asam urat. Tubuh saya mempunyai kadar asam urat di atas normal, yang kalau sudah mengkristal akan mengendap di persendian, menghasilkan sensasi ngilu dan nyeri luar biasa yang membuat saya tidak bisa bergerak.

Kalau sudah begitu, mengingat penyakitnya datang setiap tahun dalam periode yang nyaris teratur, apakah sudah mempersiapkan diri sebelumnya?
Jawabannya “ya” dan “tidak”.

Young woman sleeping in bed beside the window

Young woman lying in bed, looking towards through the window – black and white photo.

Sebisa mungkin saya memang menghindari makanan-makanan pemicu naiknya kadar asam urat. Kacang tanah sudah saya jauhi, lalu durian, emping dan kepiting sudah tidak pernah dikonsumsi lagi. Toh makanan hanya salah satu pemicu, bukan yang utama. Buktinya kejadian ini terjadi setelah saya lari dan olahraga selama 3 hari berturut-turut.

Selain persiapan di atas, jawaban “ya” muncul ketika kita mendengar apa yang dialami tubuh kita. Entah bagaimana saya menerangkan ini kepada anda, tapi kadang kita bisa merasakan apa yang tubuh kita alami, berikut perubahan-perubahannya, saat kita mau sakit.

Hari Minggu yang lalu, saat saya mulai merasakan gejala tidak beres, intuisi saya langsung mengatakan, “Here it comes. That time of the year.
Dari situ saya langsung beli obat-obat yang diperlukan. Beli tambahan air mineral, dan bahan makanan untuk seminggu ke depan. Ambil uang tunai yang cukup. Membuat “mini station” di dekat tempat istirahat, seperti pernah disarankan Glenn dulu, karena mobilitas saat sakit jadi jauh berkurang.

Favim.com-35077

Yang saya tidak siap, dan tidak pernah siap, adalah pekerjaan. Mendadak minggu ini banyak meetings dan acara yang harus dihadiri. Untuk meetings, mau tidak mau harus didelegasikan ke orang lain, atau dilakukan lewat email. Untuk acara-acara, mau tidak mau harus absen dari kehadiran. Mengerjakan hal-hal lain yang tetap membuat otak tidak berhenti berpikir, meskipun badan sedang istirahat.

Kalau dilihat dari pengalaman-pengalaman pribadi saat terkena serangan asam urat di tahun-tahun sebelumnya, memang agak dramatis. Hampir semuanya ended up di ruang unit gawat darurat. Pernah pingsan tahun lalu. Perlu waktu cukup lama untuk bisa jalan secara normal lagi.

Makanya, tahun ini, at the very moment waktu sudah merasa mau sakit, saya bertekad habis-habisan untuk sebisa mungkin tidak mengalami hal-hal parah seperti dulu. Walaupun cuma sekedar ke toilet atau dapur yang sangat dekat, saya berjalan dengan tongkat, supaya energi tidak banyak terbuang, karena masih harus memulihkan diri dalam waktu cepat. Memilah obat-obatan mana yang harus dikonsumsi segera, dan mana yang bisa dikurangi dosis pengkonsumsiannya. Minum lebih banyak air putih. Istirahat lebih lama.

Waktu tulisan ini dibuat, saya masih belum pulih 100%. Perasaan saya saja yang mengatakan kalau kondisi saya sudah mendingan. Tapi “mendingan” saja tidak cukup. Harus benar-benar pulih sebelum bisa beraktivitas secara normal lagi.

clipart-sleeping-bedrest-8

Dan percaya atau tidak, momen favorit saya waktu sakit ini adalah saat bangun tidur di pagi hari. Waktu beranjak tidur, penderita sakit seperti ini perlu waktu lama untuk terlelap, karena rasa ngilu dan nyeri yang masih ikut “melek”. Lalu saat bangun pertama kali, untuk mematikan suara alarm, kadang saya merasa takjub, karena rasa sakit di persendian seolah-olah hilang. Hanya ada rasa hampa di kaki saya. Lalu saya setengah terlelap sebelum benar-benar membuka mata. Saat benar-benar bangun, seperti ada desiran yang mengalir di bawah kaki, mengembalikan rasa sakit seperti sedia kala. Terus terang saya tersenyum mengamati dan merasakan sendiri hal ini beberapa hari lalu. Seolah-olah rasa ngilu dan nyeri itu ikut tidur, ikut beristirahat sejenak bersama si empunya badan.

Di situlah saya merasa bahwa kita hanya perlu mengakui rasa sakit yang kita alami tanpa perlu merasa kesakitan.

Akun Alter Ego Non Prostitusi

https://i0.wp.com/images.8tracks.com/cover/i/010/303/237/154417_300878139990580_151011474977248_693980_1602364401_n-6468.jpg?w=492&ssl=1

IALAH Dionysus, dewa bertopeng dari asal yang asing dan misterius.

Dia disebut sebagai “dewa yang datang”, sebab hadiratnya selalu memunculkan antusiasme pada manusia, perasaan gembira yang menggejolak (excitement), sensasi ekstase, serta dorongan hasrat. Karena itu pula, dewa berwajah cantik ini identik dengan minuman anggur. Yang tak hanya memabukkan, tetapi juga mampu mengubah (altering) kepribadian seseorang. Maka dari itu, bangsa Yunani kuno percaya ada sang dewa dalam tubuh mereka saat mengalami mabuk alkohol. Mereka menjadi seseorang yang berbeda.

Mungkin serupa tetapi tidak sama. Tanpa perlu mabuk anggur, ada banyak individu yang menikmati menjadi sosok yang berbeda. Bukan lewat Dionysus, melainkan via media sosial.

Mengenakan topeng-topeng digital, mereka lebih bebas berekspresi dan leluasa dalam tindak tanduknya. Kendati apa yang mereka lakukan cenderung provokatif terhadap kaidah kepatutan dan kelaziman sosial. Tak ada yang salah, pun tidak melanggar hukum formal, tetapi di luar kebiasaan umum saja.

Di semesta maya, mereka dapat ditemui sebagai akun-akun alter ego. Tanpa mengganti identitas atau pun menyaru personalitas orang lain (seperti pada akun-akun role play [rp] selebritas Korea), mereka riuh bermain-main dengan kepribadian dan tubuh mereka sendiri, beserta rekan. Bisa pasangan suami/istri, pacar, sekadar teman, maupun sesama pemilik akun alter ego.

Dengan akun alter ego tersebut, mereka tentu saja menyembunyikan nama. Sesekali menampilkan sesisi wajah, terkadang juga ditutupi stiker. Ada lebih banyak area tubuh lain yang disingkap dan bisa dilihat secara terbuka di lini masa mereka, selain kelamin. Ya, mereka tidak pamer genitalia. Lebih aman—dan nyaman?—bagi mereka menunjukkan lekukan tubuh, meskipun tak semua dari mereka telah terbebas dari insecurity bernama “standar keindahan tubuh”. Setidaknya melalui akun alter ego tersebut, mereka merayakan kehidupan. Bebas dari penilaian orang lain, bebas dari ketidakpercayadirian, bebas dari keluhan atas kekurangan yang dimiliki.

(Pemuatan twit video di atas telah diketahui dan diperkenankan oleh pemiliknya.)

Mengapa selain kelamin? Karena itu merupakan pornografi, dan mereka bukanlah pemilik akun-akun alter ego prostitusi, yang berjualan terang-terangan. Sangatlah tak adil bila keduanya disamaratakan. Akun-akun alter ego non prostitusi tidak bertransaksi … atau setidaknya terlihat demikian.

Dari yang teramati sejauh ini, memiliki akun alter ego non prostitusi berarti akan dihadapkan pada risiko “didekati dan ingin dibeli”. Mereka yang tampil sendirian, bisa ditanya: “Berapa semalam?” Sedangkan mereka yang tampil berpasangan, bisa ditanya: “Mau threesome?” atau dikira pasangan swinger, atau dikira pasangan kumpul kebo semata. Padahal, ada yang (mengaku) sudah beranak tiga, dan bentuk tubuh mereka terlalu proporsional untuk dipersamakan dengan kerbau.

Cuplikan twit yang diambil dari thread. Dimuat dengan persetujuan pemilik.

Kemudian, pasti ada yang berkomentar: “Makanya, kalau tidak mau dikira begitu, ngapain pamer-pamer foto sensual? Biarpun sama pasangan sendiri.

Apabila saya adalah mereka, langsung saya jawab: “Memangnya kenapa?” Pasalnya, siapa saja, si empunya foto maupun mereka yang melihatnya, tetap punya kuasa kendali diri. Menjaga dan bertahan agar tidak melanggar aturan terkait konten pornografi (kecuali jika akunnya dikunci, dan materi hanya dikonsumsi pribadi).

Bagi penonton, agar tidak kagetan dan langsung kalang kabut mencari pelampiasan, atau malah merasa berhak menghakimi si pemilik foto. Sekaligus iri, kepingin bisa begitu juga. Ya punya bentuk badannya, ya mengalami adegan yang sama. Hahaha!

Nah, kalau yang ini belum sempat minta izin sama pemiliknya. Namun, tertampil dan bisa dibaca secara umum.

Terakhir, hanya ada satu hal yang membuat saya #penasaran. Mengapa, dan apa alasannya mereka membuat serta menikmati menjadi akun-akun alter ego non prostitusi tersebut? Apakah menjaga reputasi? Apakah pertimbangan orang tua dan keluarga? Dengan fisik dan kepercayaan diri yang mereka tunjukkan, bukan mustahil mereka tetap bisa merayakan kehidupan sebagai diri sendiri.

Perhatian. Barangkali.

[]

Apa salahnya jadi orang Jakarta?

Lewat laman Twitter saya, ada satu percakapan tentang orang Jakarta yang cukup menarik perhatian saya.

“Belajar ‘Gue-Lo’ dulu ah sebelom besok ke Jakarta,” kata G, teman saya.

“Awas keceplosan bilang ‘Aing’ “, balas A, teman saya.

“Jangan pake aku-kamu ya nanti pada baper anak Jkt mah digituin wkwkwk,” sambar A, bukan teman saya.

At least klo udh fasih lo-gue nya nanti sounds enakeun gitu ya di telinga which is gak malu-maluin juga,” balas N, bukan teman saya.

“Duh euy, gue-elo teh repot euy. Nyobain di depan kaca aja kaya orang bego 🙁 Ah tidaaaaak….. Jangan sampe terkontaminasi ya Allah :(” jawab G, menanggapi teman-temannya.

Saya, teman G, orang Jakarta, emosi.

***

Saya pernah kuliah di Bandung. Bisa dibilang, hampir 5 tahun lamanya saya menjadi ‘warga’ di kota Bandung, kalau menetap lama di suatu daerah bisa dibilang sebagai warga. Selama hampir 5 tahun tersebut, walau wajah saya Sunda pisan, logat dan sikap saya sudah seperti orang Garut, tetap stigma “Anak Jakarta” atau “Orang Jakarta” masihlah menempel tebal di dahi saya yang tidak lebar ini.

Mundur ke belakang, di awal-awal masa kuliah saya, ketika sedang mencari-cari tempat kos dengan letak dan biaya yang ramah bagi saya, seorang ibu yang merupakan warga sekitar menanyakan, “Sudah dapat kos-kosannya?” kepada saya dan ibu saya. Kami berdua menggeleng dan menceritakan alasan kenapa hingga siang hari kami belum mendapatkan kos-kosan yang cocok. Selain karena alasan tempat yang jauh dari jalan utama dan bangunan fakultas saya, alasan harga yang tidak ramah di kantong kami pun menjadi permasalahan utamanya. Tahu komentar warga tersebut? “Lho ya harga segitu kan murah, orang Jakarta ‘kan kaya semua.”

Ibu dan saya cuma melengos.

Bahkan ketika saya sedang berkunjung ke Bandung atau ke kota-kota lain di luar Jakarta dan bertemu dengan teman-teman saya saat kuliah dulu, komentar mereka tidak jauh dari, “Wah lo di Jakarta sekarang gajinya 10 juta pasti dapet ya.” Atau “Wah ada anak Jakarta nih, ngeri euy.” Atau “Emang orang Jakarta enggak bisa bilang ‘Terima kasih’ ya? Bisanya bilang ‘thank you’.” atau “Orang Jakarta mah nekat-nekat orangnya. Berani.” Atau “Orang Jakarta tuh enggak punya rasa toleran.”

Ada rasa bangga, sedikit. Sisanya, saya cuma diam sambil memendam emosi. Baper ah.

Belum lagi candaan para netizen Indonesia tentang orang Jakarta. Mulai dari ‘orang-orang Jakarta sekarang serius semua enggak bisa diajak bercanda sejak ganti Gubernur.” atau candaan tentang ‘Orang Jakarta tuh uangnya enggak berseri’ tentang pembuatan Getah Getih, sebuah karya seni dari bambu yang dibuat oleh seniman Joko Avianto yang memakan biaya tidak sedikit yang diambil dari APBD Provinsi DKI Jakarta, belum lagi candaan tentang kalau kamu orang jakarta sudah pasti kamu adalah anak gaul atau celotehan tentang bahasa anak Jaksel yang kini sedang booming di media sosial.

Memangnya kenapa sih kalau jadi orang Jakarta?

***

Saya lahir, besar, bekerja dan tinggal di Jakarta. Dari kecil saya sudah terbiasa dengan hidup keras yang orang-orang lain bilang tentang Jakarta. Terbiasa tepat waktu, terbiasa tegas dengan pilihan yang saya pilih. Terbiasa tidak membiasakan remeh temeh dengan orang-orang tertentu. Terbiasa merubah kepala jadi kaki, kaki jadi kepala demi bisa bertahan hidup. Sulit? Bisa jadi.

Tidak semua orang Jakarta mendapat penghasilan 10 juta perbulan. Tidak semua orang Jakarta kaya raya. Tidak semua orang Jakarta yang kalian bilang selalu berbicara ‘Gue-Lo’ itu adalah anak gaul yang hidupnya hanya dipenuhi jiwa hura-hura. Tidak semua orang Jakarta adalah orang yang kalian deskripsikan.

Menjadi orang Jakarta itu tidak mudah. Pendapatan bulanan yang pas-pasan membuat kami kreatif mencari pendapatan tambahan agar dapur di rumah tetap mengebul. Hidup kami tidak dipenuhi nongkrong setiap hari di kedai kopi. Setiap hari di waktu berangkat atau pulang kantor kami harus bertarung dengan ribuan orang lainnya di jalan, di KRL, di Transjakarta agar cepat sampai rumah atau cepat sampai kantor.

Kami ini pejuang. Kami ini orang dengan rasa tak pernah takut. Kami akan tinggalkan orang-orang yang tidak mau berusaha seperti kalian. Kami tinggalkan zona nyaman kami agar hidup kami lebih baik. Tahu alasan kenapa banyak orang Jakarta memilih tempat pensiun di sebuah pedesaan di pelosok daerah Indonesia? Karena kami tahu rasanya hidup di tempat paling keras dan paling stres, yang akhirnya akan membuat kami bisa menghargai hidup yang nyaman.

Hidup itu tentang berjuang. Dan Jakarta tempatnya.

Pejuang namanya, dan orang Jakarta namanya.

Makanya, sebelum bilang orang Jakarta itu seperti ini atau seperti itu, sini tinggal dulu di Jakarta. Nikmati 5 tahun kalian disini. Kenali Jakarta dan kenali kami, orang Jakarta.

Siapa tahu kamu bisa jatuh cinta.

Iya enggak?

(Tidak) Kepingin Mati

27 Desember 2016.

Tidak lama setelah hari Natal, saya harus kembali bekerja. Saya mulai kerja cukup siang, dan terbiasa untuk bangun agak mepet biar ada waktu bercengkerama dengan bantal, guling dan selimut lebih lama sebelum waktunya untuk bersiap.

Tapi pagi itu saya bangun subuh. Jam 6 pagi. Saya terjaga dengan perasaan aneh.

Saya tidak ingin hidup lagi.

Hanya sebuah pikiran, tapi tidak hanya terlintas tapi bercokol. Awet. Rasa-rasanya kalau waktu itu saya memutuskan melakukan sesuatu, akan saya lakukan juga. Tapi tidak. Saya berusaha untuk kembali tidur dan tidak ambil pusing, tetapi saya tidak bisa kembali tidur sampai saatnya bersiap-siap kerja.

Seharian di kantor saya berusaha menganalisa – sebenarnya ada apa sih sampai tidak kepengen hidup lagi? Hidup saya ini ada masalah apa? Sebagai orang yang terbiasa memisahkan hal-hal dalam hidup dalam kompartemen yang berbeda-beda, saya mengecek ‘kotak-kotak’ itu dan berupaya menemukan akar permasalahan yang mungkin bisa menjadi penyebab pikiran dan perasaan tidak enak itu.

Lah, semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah yang permanen, yang saya anggap begitu mengganggu sampai terbawa alam bawah sadar. Tidak kekurangan, tidak berada dalam kondisi yang mengharuskan saya untuk berjuang, tidak ada hal menyakitkan yang bisa saya gali dalam hidup saya pada masa itu. Saya pun sampai ke konklusi bahwa kalau tidak ada masalah, ya tidak perlu dibesar-besarkan. Mungkin ini hanyalah sebuah fase dalam hidup yang nanti juga akan saya lewati. Ditinggal tidur saja, paling besok juga sudah tidak apa-apa dan hanya akan terasa seperti mimpi buruk. Toh, ada hal-hal yang lebih penting yang perlu saya pikirkan dibanding memikirkan masalah yang bukan masalah…

Tapi saya salah. Walaupun tidak setiap hari, setelah itu pikiran itu berulang kali memunculkan diri di benak saya. Bulan-bulan pertama, hanya menjadi pikiran yang menyebalkan yang kadang-kadang say hello. Saya ini baik-baik saja, dan bahkan situasi hidup lebih enak daripada orang-orang lain yang saya kenal. Kok malah bukannya bersyukur dan menikmati yang ada? Malah lebih dominan merasa kesal karena tidak tahu sebenarnya apa penyebab saya begini.

Bulan-bulan berikutnya, pikiran ini makin sering muncul dan semakin mengganggu. Mulai terpikir cara-cara untuk mewujudkan pemikiran itu. Ketika saya menyadari bahwa kondisi saya tidak membaik, saya mulai agak panik. Takut kalau saya menuruti pikiran ini dan melakukan sesuatu. Dan saya menghubungi seseorang yang menyayangi saya dan meminta dia untuk menghubungi saya tiap beberapa hari sekali. Saya jelaskan apa yang sedang saya alami dan ketakutan saya. Dia mengerti. Setelah mengancam saya untuk tidak melakukan hal-hal bodoh, setelah itu dia rajin mengirim pesan whatsapp beberapa hari sekali, memastikan bahwa saya sehat dan baik-baik saja.

Tetapi kondisi saya tidak juga membaik. Makin parah, malah. Permasalahan dan tekanan yang saya alami sehari-hari dari masa-masa sebelumnya, yang biasanya saya bisa tangani dengan santai dan bahkan tidak dipedulikan karena tidak relevan, sekarang terasa berat, menghimpit dan begitu besar hingga saya tidak lagi mampu untuk mengatasinya atau menempatkan masalah itu sesuai porsinya seperti yang saya biasa lakukan sebelum-sebelumnya.

Saya juga berubah. Orang-orang terdekat yang mengenal saya sebagai sosok periang, percaya diri dan cuek dan sayapun mengidentifikasikan diri sebagai orang yang seperti itu. Pada suatu titik, saya merasa bahwa saya harus benar-benar berusaha untuk terlihat periang, percaya diri dan cuek dalam keseharian saya. Karena capek, saya menghabiskan banyak waktu sendiri dan pada saat yang sama, merasa hancur berantakan karena saya tidak merasa kuat.

Akhirnya saya menyerah dan mencari bantuan professional. Saya diberi obat. Saya rajin minum obat. Pikiran-pikiran tidak jelas untuk berhenti hidup jadi jarang muncul. Saya merasa lebih baik. Agak beresan.

Demikianpun, pikiran buruk itu masih muncul sesekali. Dan pemicunya kadang-kadang hal terkecil yang tidak masuk akal. Dan saya juga tidak berani untuk menceritakan ini kepada orang lain kala terjadi, saking sepelenya. Menyadari persis, bahwa kemungkinan besar orang tidak mengerti saya ini kenapa.

Kadang, dengan ditinggal tidur saja keesokan harinya semua baik-baik saja. Menjauhkan diri dari media sosial, mematikan HP dan memutus sambungan internet sebisa mungkin juga salah satu solusi untuk saya. Saat ini, saya sudah mematikan salah satu media sosial karena setiap saya buka dan scrolling, saya merasa sangat tertekan dan tidak nyaman dengan isinya. Yang masih ada, saya pergunakan dengan hati-hati dan kewaspadaan dalam pikiran saya. Ketika sudah menjadi tidak menyamankan, stay away from it.

Lebay? Ya terserah kalau mau dibilang begitu. Yang jelas, saya mau mengusahakan semaksimal mungkin untuk tetap hidup. Bagian saya adalah mengusahakan semaksimal mungkin untuk menjaga diri saya dari situasi-situasi yang saya tahu bisa menimbulkan masalah.

….

Beberapa hari lalu Twitter heboh dengan pembicaraan orang dengan tendensi suicidal yang diserang kecemasan dan melukai diri sendiri karena membaca sebuah twit yang kebetulan mengandung kalimat “… kenapa gak pada mati aja sih?”

Sialnya, saya mengerti argumen kedua belah pihak, baik yang mengucapkan dan yang terdampak dan menyadari bahwa tidak ada solusi jelas dalam masalah ini.

Di satu sisi, media sosial merupakan ranah umum dan semua orang memiliki hak yang sama untuk mengekspresikan diri mereka sendiri. Ada batasan tak-kasat-mata yang sulit untuk diperjelas, yang dianggap kelewatan di ranah media sosial itu seperti apa bentuknya karena akan kembali ke argumen “ya terserah gue dong. Account gue ini.” Orang-orang yang tidak sanggup untuk menanggapi linimasanya sesuai dengan proporsi yang semestinya selalu disarankan untuk klik unfollow, unfriend, mute, atau uninstall sekalian. Cari pengganti porsi sosial media dengan hal lain yang lebih “aman”. Kenyataannya, tidak ada yang bisa mengatur siapa bicara apa dan bersikap bagaimana. Toh, belum tentu juga orang dibalik layar itu sama dengan avatar dan gambar profilnya.

Di sisi lain, saya juga menyadari persis bahwa tendensi-tendensi suicidal ini kadang TIDAK MASUK AKAL. Berkaca dari pengalaman pribadi saya, hal yang tidak ada hubungannya dengan saya saja bisa menjadi pemicu. Hanya butuh kata-kata yang salah di waktu yang salah untuk membuat seseorang bertendensi demikian untuk hancur berantakan terporak poranda. Mau sehati-hati apapun, sebijak dan sebenar apapun niat,tindakan dan perkataan orang, tetap bisa menjadi pemicu masalah bagi orang-orang tertentu… there will never be enough precaution taken and you will never be politically correct enough to prevent this from ever happening. Apalagi kata-kata seperti “mati aja lah” – saya sendiri sangat bisa mengerti bagaimana kata itu bisa mengguncang mental dan emosi seseorang walaupun diucapkan dengan nada bercanda.

Saya sempat membaca twit seseorang yang mengomentari kasus ini dan bertanya “How can you survive life?”. Walaupun dan spektrum dan pemicunya berbeda, saya sejujurnya kepingin menjawab…

“Dengan susah payah.”

Atas Nama Cinta (Pada Ego)

Turut berbela sungkawa atas sekaratnya jiwa

Para berkerumun tertawa-tawa di sempitnya ruang bahagia yang seharusnya luas tak terbatas

dan turut berduka cita

atas tak berartinya bunga

terganti umpat, benci, caci, maki, bunuh dan lukai benci dan lukai

(FSTVLST, Orang-Orang di Kerumunan)

Kasus pengeroyokan suporter Persija hari ini mengisi headline berita di berbagai surat kabar, baik offline maupun online. Jika ada celetukan ‘Netizen Maha Benar’, maka kali ini ‘Suporter Maha Benar’. Adalah Haringga Sirila yang kali ini menjadi korban pengeroyokan hingga tewas oleh pendukung Persib Bandung, atau yang lebih dikenal dengan Bobotoh. Bukti bahwa perbedaan belum benar-benar diterima secara merata oleh kita, masyarakat Indonesia. Dan memberi makan ego lebih mudah dari pada memberi makan mereka yang benar-benar terlantar dan membutuhkan. Jika semua dilakukan atas nama cinta, kepada siapakah? Pada cinta yang mana? Pada klub bola, atau ego di dalam diri yang merasa sebagai penguasa?

Miris dan sedih adalah reaksi yang melimpah ruah di berbagai media. Ucapan kemarahanpun ditemukan di berbagai komen postingan berita, hingga di akun pribadi sosial media.

Tapi, tahukah kamu apa yang membuat hati lebih miris? Berdasar video yang tersebar, ada puluhan (atau bahkan ratusan, cmmiw) orang di sana, tapi beberapa di antaranya sibuk merekam aksi tidak manusiawi tersebut dengan smartphone ketimbang berusaha beramai-ramai menghentikan. Apakah tak ada lagi rasa iba di hati kita? Bukankah kita masih sama-sama manusia? Kita itu siapa, sampai merasa berhak mengambil hak seseorang untuk hidup? Kita itu siapa, sampai merasa berhak tertawa-tawa dan diam saja melihat kebencian dipertuhankan?

Kita tentu tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya di sana, tapi apapun alasannya, pengeroyokan bukanlah merupakan kebebasan yang boleh dilakukan oleh siapapun. Kita perlu ingat, ada keluarga yang menangis kehilangan. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran untuk siapa saja, bahwa tidak perlu berlomba-lomba membuktikan siapa yang paling berkuasa. Bahwa kita tidak perlu berlomba-lomba siapa yang lebih dulu mengupload di sosial media dan membiarkan kekejaman merajalela di depan mata. Ini nyawa, bukan bahan untuk bercanda.

Semoga peristiwa ini membuat kita sadar dan mulai peka, bukan buta pada sekitar.

Semoga kita tidak buta pada apa yang kita bela, karena

Bagaimana jika satu yang terbela selalu, ternyata bukan satu yang ternyata juga belamu? (FSTVLST- Satu Terbela Selalu)

Lebih baik kita beramai-ramai dalam damai, daripada beramai-ramai dalam benci. Lebih baik kita melerai, daripada bersorak-sorai. Damailah dalam beda, Indonesiaku!

Path, Aplikasi Curhat, dan Generasi Bertopeng

SAAT menulis ini Sabtu siang kemarin, saya masih belum memutuskan kafe mana yang akan didatangi untuk memanfaatkan jaringan internetnya mengunduh semua data dari akun Path. Tidak menyangka, dari hanya 4.238 moments sepanjang menggunakan media sosial yang pernah disebut Mas Roy sebagai Aplikasi Pamer Anak, Tempat, Hidangan itu, totalnya mencapai 1,4 GB!

Path moment.

Moment pertama.

Sejak awal, saya adalah pengguna Path dengan intensitas relatif rendah. Kadangkala bisa bawel dan membagi banyak hal dalam kurang dari 24 jam, tetapi ada lebih banyak hari tanpa satu moment pun. Toh jumlah teman yang terhubung melalui Path juga kurang dari seratus orang. Sampai sekarang.

Boleh dibilang itulah daya tarik Path. Ketika kita mulai terbiasa dengan keterbukaan dan ekspose personal yang membabi buta lewat media sosial, Path hadir dengan pembatasan dan keterbatasan. Justru itu, Path menjadi semacam wadah digital baru tanpa perlu risau soal reputasi, nama baik, citra, dan tanggapan orang-orang yang kita kira kita kenal.

Path moment.

Sebuah moment.

Pembatasan dalam Path membuat penggunanya kembali nyaman untuk jujur dan apa adanya. Demi menjaga perasaan orang lain, ulasan dan komentar di Twitter atau Facebook cenderung berupa pujian dan terkesan sangat baik. Sedangkan di Path, kita mungkin menemukan pendapat yang berbeda serta alasan-alasannya. Untuk konsumsi pribadi, tentu saja.

Pada dasarnya, manusia sangat senang bila mendapatkan perhatian. Sebab dengan itu pula, manusia tersebut bisa merasa signifikan, penting, didengar dan diikuti, serta dipenuhi keinginannya. Kehadiran beraneka platform media sosial melimpahi manusia-manusia modern dengan ilusi perhatian. Awalnya, mereka menikmati itu. Followers diterjemahkan secara harfiah, sehingga jumlah pengikut menjadi label yang membanggakan diri sendiri. Di sisi lain, mereka pun merasakan sindrom selebritas, beranggapan bahwa para followers tadi memang sebegitu gandrungnya dengan semua yang mereka unggah-bagi.

Para warganet yang telah jenuh dengan kebisingan media sosial, bisa beralih ke Path untuk pengalaman berbeda. Idealnya begitu. Hingga kemudian memunculkan para pengguna ikut-ikutan yang asal mengirimkan permintaan pertemanan, dan membagi konten yang sama untuk semua akun media sosial yang dimilikinya.

Path moment.

Sebuah moment lainnya.

Semenjak kabar penutupan Path beredar, banyak orang—setidaknya kontak di Path saya—yang berkesah bahwa mereka akan kehilangan tempat untuk berkeluh dan menumpahkan unek-unek tanpa khawatir menyinggung orang lain. Bagaimanapun kondisinya, mereka selalu merasa perlu menyampaikan segala yang ingin mereka sampaikan. Entah itu pemikiran atau isi hati.

One of the main reasons why we vent is to reduce our stress levels. Rime (2009) states that disclosing stress is a coping mechanism.

The Psychology of Venting

Akun anonim mengemuka sebagai salah satu alternatif. Terutama di Twitter, berupa akun-akun alter ego non-prostitusi*. Namun, dengan catatan akan lebih baik jika si empunya akun mengunci lini masa mereka. Lantaran fitur pencarian spesifik dan niche tetap menyasar akun-akun publik, cukup dengan kata kunci yang sesuai.

Sementara di Path, terdapat berlapis-lapis pelokalisasian. Moments hanya bisa dilihat oleh teman. Fitur pencariannya pun tak semulus Twitter atau pun Facebook. Selain itu ada pula Inner Circle, dan pengaturan privasi di tiap moments. Kebebasan dan kenyamanannya jelas berbeda. Dalam hal ini, Path bernasib sama dengan beberapa aplikasi curhat yang telah menghilang lebih dahulu. Misalnya Ooh! dan Secret yang sudah tidak tersedia, serta Legatalk yang mentok sampai halaman signup.

Bagi mereka yang terbiasa bebas bicara, dengan demikian mau tidak mau harus memilih antara mengorbankan rasa nyaman demi norma sosial, mulai belajar menggunakan topeng sosial dan membiasakan diri berada di baliknya, atau bersikap persetan.

Btw, terima kasih Path.

[]

Bacaan lainnya terkait anonimitas saat berinternet:
Why Do People Seek Anonymity on the Internet? Informing Policy and Design
Verbal Venting in the Social Web: Effects of Anonymity and Group Norms on Aggressive Language Use in Online Comments

Jadilah Pendukung Yang Biasa-Biasa Saja (2)

Saya dulu adalah penggemar Persib. Ketika mempunyai kesempatan untuk menonton pasti saya sempatkan. Stadion Siliwangi dulu adalah stadion satu-satunya jika Persib bertindak sebagai tuan rumah. Belum ada Stadion Jalak Harupat atau yang terbaru Stadion Gelora Bandung Lautan Api atau lebih dikenal dengan GBLA. Belum sempat menonton di GBLA. Entah karena kehabisan tiket atau waktunya tidak ada.

Hari Minggu kemarin adalah hari yang kelabu bagi persepakbolaan Indonesia. Telah kita ketahui bersama kalau ada suporter Persija menjadi korban penganiayaan oleh suporter Persib. Kejadian yang berlangsung dua jam sebelum Persib lawan Persija bertanding ini lagi-lagi mencoreng muka sepakbola Indonesia. Semua orang menyayangkan kenapa ini terjadi. Kemenangan Persib atas Persija pun yang dirasa manis sebelumnya menjadi pahit. Menjadi tak bermakna. Rasanya kalau boleh memilih, saya lebih memilih kalah asalalkan Haringga Sirla tetap hidup dan menonton bola dengan nyaman.

Hukuman apa yang pantas untuk klub Persib? Pertandingan tanpa penonton? Sudah pernah. Pembekuan liga? Sudah pernah juga. Pertandingan digelar di tempat netral? Sudah pernah juga. Saya serahkan ini kepada ahlinya saja. Saya tidak mempunyai jawaban. Selama itu bisa mengurangi korban jiwa di pertandingan selanjutnya maka akan saya dukung.

Tragedi Heysel yang melibatkan 39 korban jiwa dan ratusan luka di kubu suporter Liverpool dan Juventus pada tahun 1985. Akibatnya klub dari Inggris dilarang untuk tampil di ajang kompetisi Eropa selama lima tahun dan tiga tahun tambahan untuk klub Liverpool, padahal klub Inggris sedang jaya-jayanya pada saat itu. Salah satu musuh bebuyutan Liverpool di Liga Inggris adalah Manchester United. Jika kedua tim sedang bertanding maka dijamin tensi akan memanas. Di luar dan di dalam lapangan.

Tetapi ada kejadian lucu yang terjadi. Gary Neville adalah mantan pemain Liverpool sementara Jamie Carragher adalah mantan pemain Liverpool. Keduanya mempunyai posisi yang sama, yaitu bek atau pemain bertahan. Pernah juga memperkuat timnas Inggris. Keduanya adalah pundit dan mempunyai acara TV di Sky Sport. Di salah satu acaranya mereka bertarung untuk adu penalti dan yang kalah harus mengenakan jersey dari tim yang menang.  Jamie memenangi adu penalti, yang artinya Gary harus mengenakan jersey Liverpool. Haram hukumnya seorang penggemar sejati Manchester United untuk mengenakan sesuatu yang berbau Liverpool dan begitu juga sebaliknya. Bisa diliat di bawah videonya.

Saya sekarang jadi membayangkan bagaimana jika Kang Ridwan Kamil dan Pak Anies Baswedan hadir dalam salah satu talk show di TV, Kang Ridwan mengenakan jersey Persija dan Pak Anies mengenakan jersey Persib. Saya kira ini patut dipikirkan. Untuk meredakan tensi. Sebagai pengingat bahwa sepakbola hanyalah hiburan. Bahwa fanatisme berlebihan itu tidak pernah membawa manfaat. Dalam hal apapun.