Masih Adakah Orang (Yang Katanya) Romantis Di Jakarta?

“Eh, sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, apakah elo …”

Saya tersedak, literally, sambil menahan ketawa.

“Maksud lo?”
“Dengerin dulu. Sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, yang selalu come up dengan quotable quotes, tulisan blog galau dan segala macem lovey dopey notes, gue mau tanya, did you ever score anyone with those? Lebih spesifik lagi. Did you ever score anyone in town with those?

Saya menyerah, dan meletakkan minuman saya sambil tertawa keras-keras. Demikian pula dengan dua teman saya. Kebetulan kami bisa bertemu di sebuah kedai kopi di kota tempat kami semua mudik. Padahal kami tinggal di satu kota, cuma kesibukan masing-masing membuat kami jarang ketemu. Sometimes it does take an out-of-town trip to meet your friends of the same town.

“Ayo ngaku! Ketawa mlulu.”
“Iya nih. Ada yang berhasil nggak?”

Saya menyeka bekas isapan kopi di bibir. Tentu saja sambil memberi diri waktu untuk berpikir.

“Ya gue nulis kan gak nyari perhatian kayak gitu juga. I write to express, not to impress.”
“Sambit pake cobek elo ya, masih aja pake kata-kata quotable gituan.”

Kami semua tertawa.

“Jadi ada yang nyangkut nggak, nih?”
“Gak. Tuh udah gue jawab. Singkat, jelas.”
“Nah, berarti bener kan dugaan dan pendapat gue selama ini.”
“Dugaan dan pendapat apaan?”
“Menurut gue, udah gak ada lagi orang romantis di Jakarta.”
“Eh, gimana?”
“Maksud lo apa nih?”

Sekarang giliran teman kami yang dengan sengaja minum kopinya pelan-pelan.

“Woi, mikrolet kelamaan ngetem, woi!”
“Sabar, bencong. Ya menurut gue, orang-orang yang so-called romantic ini, yang jago merangkai kata-kata indah, mengungkapkan lewat tulisan-tulisan yang mem-ba-ha-na dan meng-ge-lo-ra ya, pada akhirnya ya mentok aja gitu di tulisan dan kata-kata yang tadi dia bilang to express and not to impress. Sementara hidup di Jakarta kan keras. Mau nafas di KRL aja susah. Mau jalan kaki di trotoar aja pake diteriakin ojek gila. Mau ngantri busway aja sibuk megangin kantong dan tas biar gak kecopetan hp dan dompet. Boro-boro dikasih kata-kata romantis, udah gak kepikir kalo di jalan. Kalau dulu pas kita masih di sini kita suka mikir hujan itu romantis, hujan itu bikin kangen, sekarang ngeliat mendung dikit dari jendela kantor gue di Gatsu? Gue langsung mikir, anjir! Susah nih dapet ojek.”

Kami spontan tertawa kencang, tidak memedulikan lagi keberadaan pengunjung lain.

“Jadi menurut elo nih, Mr. Cynical …”
“Eits, bukan sinis. Tapi realistis.”
“Oke. Jadi menurut Bapak Realistis, orang Jakarta nggak perlu orang yang romantis, tapi perlu orang yang, seperti nama elo, realistis …”
“… dan pragmatis …”
“… drama-free alias praktis …”
“… tidak mistis …”
“… bolehlah manis …”
“Tahu petis?”
“Tahu petis. Oh itu pesenan saya ya, mbak? Makasih.”

Kami terkekeh. Lalu mencocol tahu goreng yang masih panas ke saus petis yang hitam mengkilap. Cocok menemani udara sore hari yang basah karena hujan, di saat Jakarta sedang panas terik berdasarkan keluhan cukup banyak orang di Twitter.

“Kalau memang tidak perlu ada orang romantis di Jakarta karena orang Jakarta tidak perlu buaian kata-kata, terus apa dong yang masih … No, I mean, yang bisa laku?”
“Laku, lho, pilihan katanya! Orientasinya jelas ya.”
“Kayak yang tadi kita bahas. Pragmatis dan praktis. Be practical. If you like someone, just tell. Show the affection, give attention. Kalau gak lanjut, next.
“Ngomong gampang, oncom.”
“Emang. And that’s the truth. Don’t waste time, honey. Cukuplah waktu elo habis di jalan kena aturan ganjil-genap plus konstruksi MRT, jangan dihabisin lagi buat ngarep ke orang yang belum tentu suka ama elo, dan ngeladenin orang yang gak jelas juga.”

Kali ini kami semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Mungkin sama-sama berpikir, is Jakarta that tough?
Seperti menebak isi pikiran saya, teman saya berkata:

“Jakarta emang sih keras. Tapi kerasnya Jakarta somehow bikin kita, well, at least gue, kuat. Kalaupun dibayar dengan tidak adanya keromantisan yang elo bilang tadi, ya itu juga karena gue emang gak romantis juga pada dasarnya.”
“Ya elo kan paling lempeng dari dulu.”
“Lempeng. Lemes tapi ganteng.”
“Apaan sih?”
“Ya maksud gue, akhirnya balik lagi ke orangnya kayak gimana juga. It doesn’t hurt juga kalo elo being the lovey dopey romantic. Akhirnya kan itu ngebentuk karakter elo. It defines who you are. Dan elo bisa jadi orang yang berbeda dari orang kebanyakan. Kalo semua orang harus jadi orang yang praktis dan pragmatis, where’s the fun? Jakarta jadi tempat yang ngebosenin kalo orangnya sama semua. Sementara yang bikin kita betah di Jakarta, no matter how crazy the city is, kan orang-orangnya. So just be who you are deh.”

Kami mengangguk-angguk mendengar penjelasan teman kami tadi. Sambil menatap jendela di luar kedai yang masih basah dengan tetesan air hujan, kami hanya mengetukkan jari kami mengikuti irama musik yang sedang diputar di ruangan ini.

Teman saya melanjutkan teorinya.

“Kata-kata yang elo tulis paling nggak memberikan warna di tengah monotonnya rutinitas hidup.”
“Setuju.”
Thank you, guys.
“Ada kan paling nggak yang pernah bilang gitu selain gue?”

Saya mengangguk, dan menambahkan.

But words are words. You can always fabricate them anyway. You can fabricate romance. But sincerity? Gak bisa. And that’s what the city is lacking. Ya nggak?”

Kedua teman saya mengangguk.

“Tapi meskipun begitu ya, you’re doing them, people who read your words, a great service, anyway. Lagian juga, jangan didengerin bapak realistis yang sinis dan gak manis ini …”
“Eh, mulut comberan!”
” … dia juga suka sepik-sepik di DM kok.”
It’s supposed to be rahasia, bencong laknat!”

Kami tertawa.

“Jadi kalo elo suka ngegombalin orang lewat DM …”
“Yaolo …”
“… berarti elo jago ngegombal dong?”
“Gombalnya dia mah, paling juga “kamu suka pizza juga ya? Cobain deh pizza ABCDEF. Mau aku kirim pake ojek? Alamat kamu dong.” Ngaku!”
“Hahahaha. Amit-amit!”
“Katanya praktis dan realistis to the point.”
“Bodo! Kagak temenan lagi ama kalian, dah! Dari Cengkareng ntar gak usah nebeng gue!”

Kami semakin tertawa kencang.

Happy belated birthday, Jakarta.

(source: ardaruspianof.blogspot.com)

Advertisements

Ambillah Makanan Secukupnya, dan Habiskan

MAKANNYA kok enggak habis? Nanti nasinya nangis, lho…”

Ini yang biasanya kita dengar waktu masih kecil, ketika sedang malas-malasan atau susah makan.

Ada juga cara lain–yang barangkali terlalu keras untuk diterapkan saat ini–supaya kita segera menghabiskan makanan. Mulai dari diimingi hadiah atau akan diajak jalan-jalan, diomeli dan dimarahi, ditakut-takuti, bahkan sampai dicubit serta tindakan pemaksaan lainnya. Termasuk menggunakan argumentasi yang tak logis, mengandung logical fallacy. Jangankan dipahami anak-anak, orang dewasa pun banyak yang keliru dalam memahaminya. Juga emotional blackmail.

Kenapa enggak dimakan sih? Di Afrika sana banyak anak-anak seperti kamu yang mau makan tetapi kesusahan.

Kenapa enggak dimakan sih? Kamu enggak kasihan sama mama, sudah capek-capek bikinin makanan buat kamu begini.

Padahal ada banyak alasan dan cara lain yang dapat disampaikan kepada anak-anak, agar mau menghabiskan makanannya. Bisa dengan menjelaskan konsep mubazir, membagi makanan dalam porsi yang lebih kecil dengan frekuensi lebih sering, berkreasi dengan hidangan yang digemari, dan masih banyak lagi cara lainnya.

Tujuan mereka melakukan itu semua adalah agar si kecil melahap habis sajian yang ada, sehingga mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Itu sebabnya, selalu ada pujian dan apresiasi khusus bagi anak-anak dengan nafsu makan yang tinggi, dan sanggup menuntaskan santapannya.

Bagaimana sekarang, setelah kita dewasa?

Selalu muncul perasaan sebal saat melihat orang-orang yang tidak menghabiskan makanannya, apalagi jika yang disisakan masih setengah porsi atau lebih. Mereka memesan atau mengambil makanan seolah tanpa mampu menakar kemampuan sendiri, seperti baru pertama kali. Karena merasa kebanyakan, lalu dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja.

Bukan cuma saya, beberapa teman juga merasakan kekesalan yang sama. Terutama di restoran yang menyediakan sajian all you can eat, atau salad bar. Berikut contohnya, salad Pizza Hut.

Pizza Hut salad

Ini kiasu, atau supaya tidak mubazir? Untung tidak seekstrem salad stacking seperti di Tiongkok. Lokasi: Samarinda.

Alih-alih memesan salad untuk setiap orang pada waktu makan bareng, si teman tadi akan datang membawa ini. Cukup untuk digado sampai empat orang sekaligus di luar menu utama. Tak berselang lama ada dua cewek yang masing-masing memesan salad. Sekembalinya dari salad bar, mangkuk mereka tidak terlihat penuh. Sepulangnya mereka, isi mangkuk salad masih tersisa seperempatnya. Si teman tadi pun geregetan, dan agak bersungut-sungut.

Paling males kalau lihat makanan dibuang-buang begitu,” kata dia, yang kemudian dilanjutkan dengan pengalamannya sebagai pramusaji di Belanda selama dua tahun.

Rasa sebal itu tentu cuma bisa saya telan sendiri. Makanan tersebut adalah hak mereka sepenuhnya; entah dihabiskan, dibuang, dibeli hanya untuk difoto-foto, atau diberikan kepada orang lain. Bukan kewajiban saya pula untuk bersikap bak orang tua ala Indonesia; menasihati mereka tentang apa yang patut dan tidak, atau pun menegur. Saya baru berhak mengekspresikan kemarahan atau luapan emosi yang terjadi, apabila sisa makanan itu dilemparkan ke muka saya.

Di sisi lain, siapa tahu ada alasan khusus yang tidak saya ketahui. Mendadak sakit perut atau tidak enak badan misalnya, makanannya tidak cocok dengan selera, maupun ada panggilan darurat yang membuat mereka tidak sempat meminta pelayan membungkus sisa makanan. Jadi, pada akhirnya, ya sudahlah. Biarkan saja. Kemubaziran yang terjadi tak bisa dibatalkan lagi.

Sekilas, hal ini terkesan remeh dan sepele. Cenderung diabaikan lantaran bukan masalah penting yang perlu diperhatikan secara khusus, macam khilafah, utang negara, LGBTIQ, Asian Games 2018, Pemilu 2019, aplikasi goblok dan tetew-tetew-nya, atau fanatisme terhadap apa saja (dari agama, klub sepak bola, sampai veganisme dan faux-mindfulness movement, serta lain sebagainya). Hanya saja, hal yang remeh dan sepele ini “berhasil” menjadikan warga Indonesia sebagai orang-orang tak tahu diuntung kedua setelah … Arab Saudi.

Source: foodsustainability.eiu.com/food-loss-and-waste/

Setiap orang di Indonesia rata-rata membuang atau memubazirkan 300 kg makanan setiap tahun. Bisa jadi termasuk mbak-mbak di Pizza Hut tadi.

Dari data di atas, namanya juga rata-rata. Total makanan terbuang dibagi jumlah penduduk. Kendati dari jumlah penduduk tersebut pasti ada yang berkecukupan, ada juga yang rentan kelaparan. Ada yang banyak makan, dan ada yang “lambungnya kecil”. Makannya sedikit-sedikit. Total makanan terbuang pun pasti terdiri dari konsumsi rumah tangga, komersial, massal, dan kegiatan atau pesta.

Sebagai individu, apa yang bisa kita lakukan?

Mulailah dengan ambil secukupnya, dan habiskan.

Kalau kurang, toh bisa tambah lagi selama masih ada. Setidaknya mengurangi potensi makanan yang tidak habis dan terbuang.

Apabila sudah mampu dan memiliki sumber dayanya, barulah lakukan cara lain. Misalnya begini.

Bukan sok pas-pasan atau ogah rugi, melainkan bersikap cermat.

[]

Kulari ke Pantai di Mall

“Anak kampung” dan “anak kota” selamanya akan jadi pembahasan menarik di mana pun. Anak kampung, selain identik kedekatannya dengan alam, juga terampil saat menolong dirinya sendiri. Sementara anak kota, identik dengan teknologi. Dengan pengetahuan dan tren terkini. Misalnya memasak, anak kampung bisa memasak menggunakan tungku kayu bakar. Sementara anak kota, menyalakan kompor sendiri pun belum tentu bisa. Anak kampung, berbadan atletis karena lebih banyak bergerak di alam bebas dengan kulit hitam rambut pirang karena terbakar matahari. Anak kota, badannya berotot hasil latihan di gym dengan rambut hitam dan kulit putih karena sinar matahari adalah musuh.

Internet, kemudian datang. Saling memperkenalkan keduanya. Anak kampung tau soal kelebihan dan kekurangan anak kota, demikian pula sebaliknya. Tak ada masalah, sampai kemudian dibanding-bandingkan. Yang satu dianggap dan merasa lebih tinggi dibanding yang lain. Kenapa masalah? Karena sesungguhnya keduanya punya kelebihan yang bisa terus diasah untuk kemudian mengisi dunia menjadi lebih baik untuk semua.

Peleburan kemudian terjadi. Anak kampung ingin menjadi anak kota, sepertinya bukan soal baru. Si Doel anak Betawi, Si Kabayan Saba Kota, atau lagu Si Bimbi adalah soal anak kampung yang berusaha untuk menjadi anak kota. Menjadi anak kota, dianggap lebih tinggi harkat dan martabatnya. Sama seperti ketika anak kampung pulang kampung saat Lebaran, jadi kesempatan untuk memamerkan keberhasilannya di kota. Seragam, yang mungkin buat anak kota adalah simbol penjara dan “orba banget” menjadi simbol kebanggaan untuk anak kampung. Sudah bisa memakai seragam baby sitter, polisi, dokter, pilot dan berbagai profesi lainnya. Apalagi kalau sudah bisa jadi pejabat negeri, wah bisa jadi buku kisah sukses yang laris.

Bagaimana dengan anak kota? Anak kota pun mulai masuk kampung. Walaupun masih lebih sering ditanggapi dengan sinis, semakin sering kita menemukan anak kota mulai belajar soal kekayaan kampungnya untuk kemudian dibawa ke kota. Contohnya, di tengah kota kita bisa menemukan rumah makan dengan nuansa pedesaan. Cireng, makanan “kampung” Sunda, bisa jadi hits di kalangan anak kota. Cafe-cafe kekinian yang mengangkat biji kopi kampung dengan cita rasa kopi kampung menjamur di seluruh penjuru kota. Glamping, camping di alam bebas yang glamor karena semua fasilitas sudah disiapkan, juga menjadi tren belakangan ini.

Saat peleburan ini, bentrokan-bentrokan pasti mengiringi. Anak kota dianggap hanya melihat kulitnya saja. Hanya mau foto-foto untuk konten di Instagram. Yang lebih sadisnya lagi, cara pandang anak kota melihat kampung, dianggap sama dengan turis. Berjarak. Demikian pula sebaliknya. Anak kampung dinilai norak, kampungan, dan yang berhasil secara finansial sering disebut OKB (Orang Kaya Baru). You can take the girl out of a village, but you can not take the village out of a girl, kata tulisan di sebuah meme dengan foto salah seorang artis yang dinilai kampungan. Padahal, kampung tak sama dengan kampungan.

Anak-anak kota yang sekarang mendapat pendidikan dua bahasa, Inggris dan Indonesia, mulai lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris. Internet membuat mereka lebih dekat dengan keragaman internasional seperti Kendal Jenner, Kanye West dengan sepatu Yeezynya, label internasional pun semakin akrab karena sering dikenakan Syahrini di akun Instagramnya. Anak kampung melihat ini sebagai hal-hal superfisial yang tak bermanfaat dan buang-buang waktu saja. Daripada nontonin IG Story, lebih baik belajar mendaki gunung dan memasak karena lebih berguna untuk kehidupan. Bahasa Inggris penting tapi Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa.

Untuk orang dewasa, benturan seperti ini sudah bisa diterima untuk kemudian diolah dan disaring, ambil mana yang penting untuk kehidupan masing-masing. Sudah paham tak ada yang lebih baik atau lebih buruk, keduanya sama-sama bisa bermanfaat. Tapi tentunya untuk anak-anak, tanpa bimbingan yang benar, bisa jadi membingungkan. Anak kampung akan merasa terasing dari kemajuan dunia. Anak kota akan merasa tercabut dan melayang dari akarnya.

Apakah anak kota yang bercita-cita ingin menjadi Youtuber lebih rendah nilainya ketimbang anak kampung yang bercita-cita ingin menjadi pemilik Guest House? Apakah menjadi Celebgram adalah soal tampang semata sementara menjadi Pesinden adalah murni mengasah kemampuan? Keduanya, punya tantangan sendiri-sendiri dan punya masa depannya sendiri-sendiri.

Dalam sebuah diskusi dengan klien, terungkap sebuah fakta bahwa semua kampung perlahan menjadi kota. Pangkal Pinang 30 tahun lalu dinilai sebagai kampung dengan satu bioskop bangunan tua, sekarang sudah seperti Jakarta kecil lengkap dengan XXI-nya. 10 tahun yang lalu, kalau berangkat ke Jogja kita bisa menemukan orang Jogja bawa Jco. Sekarang? Jco pun sudah dianggap ketinggalan zaman di Jogja. Uniqlo dan H&M tak lagi eksklusif milik anak kota. Belum lagi kalau kita membahas soal belanja online. Anak kampung sekarang juga bisa beli sepatu Yeezy di Instagram. Belum mampu? Tak perlu khawatir, palsunya ada di pasar malam terdekat.

Di masa peralihan inilah, film Kulari Ke Pantai hadir. Dari judulnya saja jelas merupakan ajakan untuk ke pantai. Ajakan ke kampung. Mengenal kekayaan alam dan budaya kampung. Dalam film ini pantai-pantai indah di pulau Jawa. Kehadiran makhluk-makhluk “kota” di film ini, lebih sering menjadi bahan tertawaan. Sindiran-sindiran akan kelakuan anak kota, bertebaran di film ini.

Sementara anak kampung di film ini ditampilkan sebagai ceria penuh gairah kehidupan dan penuh kebenaran. Hanya di ujung cerita baru ada yang bisa dipelajarinya dari anak kota. Soal makna pertemanan dan estetika.

Film menghibur berdurasi 2 jam ini, bisa ditonton mulai 28 Juni 2018. Kalau anak kota yang nonton bisa jadi akan menertawakan kelakuan dirinya sendiri, sementara kalau anak kampung yang nonton akan menertawakan kelakuan anak kota. Bagaimana kalau anak hibrida yang menonton? Anak kampung yang berpikiran dan memiliki aspirasi menjadi anak kota dan sebaliknya. Pasti lebih menarik untuk didengar pendapatnya.

Lagi Lagi Plastik

Setelah masa mengumandangkan perang ke plastik kresek untuk wadah belanja berlalu, kini saatnya fokus berpindah ke sedotan plastik. Sungguh positif, karena banyak teman di sekitar saya yang jadi secara sadar menolak menggunakannya lagi, dan mulai membeli sedotan yang bisa digunakan ulang, baik terbuat dari bambu atau baja tahan karat. Mudah-mudahan tidak musiman seperti kebijakan tas kresek tidak gratis di supermarket ya. Tapi apakah itu saja sudah cukup? Ternyata belum, loh!

sliver-gold-rose-gold-colour-stainless-steel.png_220x220

Karena seluruh bagian dari frapuccino, atau iced coffee, atau es kopi mantunya tetangga pak Polisi itu ternyata bisa jadi membunuh lingkungan kita perlahan. Jadi, maksudnya kita enggak boleh tanda tangan  petisi online anti reklamasi sambil menyeruput Tuku, gitu?

WhatsApp Image 2018-06-22 at 4.22.30 PM

Ini dari Guardian.com

Tentu tak ada yang melarang. Tapi mungkin ada baiknya kita tau faktanya. Memang gambar dari the Guardian ini ada beberapa yang tidak relevan untuk Indonesia, tetapi banyak yang ya. Seperti jumlah cangkir kopi sekali buang yang memenuhi laut, mungkin kita belum sebanyak Amerika Serikat atau Inggris, tetapi mungkin bisa jadi tidak jauh, dengan sedang trennya es kopi susu dengan gula aren yang memang biasa dibeli oleh layanan ojol dan dikemas dalam gelas plastik. Menyedotnya dengan apa? Tentu sedotan plastik.

Gulanya mungkin tidak setinggi jika kita menyesap minuman dari Starbucks yang bisa diberikan karamel, lalu ditambah sirup lagi, tetapi jika dikonsumsi hampir setiap hari dan tidak diimbangi pola makan sehat tentu tidak akan membuat risiko diabetes, dan teman-temannya (seperti penyakit jantung dan ganggunan ginjal) menurun.

Susu dan produknya juga di Amerika bermasalah citranya karena diidentikkan dengan praktik pertanian yang tidak etis terhadap hewan (kurang paham dengan di sini ya, ingin deh riset sendiri), juga penemuan-penemuan terakhir yang menyebutkan bahwa susu sebenarnya tidak sehat seperti yang diklaim produsennya selama ini. Sementara untuk yang berlomba-lomba pindah ke susu almon juga semoga sadar kalau almon itu tidak tumbuh di Indonesia, dan menanamnya membutuhkan sumber daya air yang berlebihan, tidak jarang membuat lahan jadi kekeringan. Kedelai yang jadi bahan susu kedelai juga tidak bebas dosa, karena banyak penebangan liar terjadi demi penanamannya dan isu Monsanto, tentunya.

LALU KITA MINUM APA DONG?

Air sih, sebaiknya. Tapi tentu sebagai manusia normal kita perlu kafein di dalam darah ya. Karena itu coba biasakan bawa wadah sendiri lengkap dengan sedotannya, agar bebas rasa bersalah. Lebih baik juga kalau kita buat sendiri kopi, dan membeli kopinya dari orang yang kita paham membeli biji kopi dari petani lokal dengan harga adil.

stojo

Cangkir lipat dari stojo.co ini sungguh mudah dibawa, sekarang ada yang lengkap dengan sedotan pun! #bukaniklan

Maaf ya, kalau mengurangi kenikmatan menyeruput kopi dingin Anda, tetapi sebelum saya dituduh SJW, harap ingat kalau ini hanya saran.

 

Yang Kita Jalani Adalah Cita-cita

“Apa yang kita ketahui itu terbatas, sedangkan yang tidak kita ketahui itu tak berhingga; secara intelektual kita berdiri di satu pulau kecil di tengah-tengah lautan ketidaktahuan tak terbatas. tugas kita di setiap generasi adalah mereklamasi untuk memperluas daratan.”

T.H. Huxley, 1887 – diambil dari Bab I Tepi Lautan Kosmik, Buku Cosmos karya Carl Sagan

Suatu malam ketika di sebuah Starbucks di bilangan Melawai yang di atas mejanya ada dua potong cheese cake, dua kaleng beer Sapporo, tiga kaleng Beer Bintang, beberapa botol air mineral dan beberapa cangkir kopi bikinan tuan rumah, menjadi saksi sekumpulan beberapa manusia absurd yang memperbincangkan hal absurd. Bagaimana tidak. Mereka baru saja pindah dari Daitokyo Sakaba yang jaraknya beberapa meter dari tempat mereka saat ini. Mampir sejenak ke Papaya, minimarket yang menjual cheese cake dan beberapa kaleng beer, lalu mereka mengobrol dengan diawali rasa kecewa karena Daitokyo Sakaba, sushi yang menjual sate-satean, sushi-sushian mengandung daging babi ini, ternyata tidak menjual beer di bulan Ramadan. Semua aktivitas barusan adalah aktivitas dengan judul: Buka Puasa Linimasa Jilid Dua. Kurang absurd?

Mas X,  pria dengan dua tato  di lengan kanannya. Matanya sipit. Bicaranya lantang. Pemikirannya terbuka. Lalu hadir juga Lady X, dengan kipas-kipas asmaranya. Sepanjang waktu mempermasalahkan kenapa pria usia diatas 30 tahun tak pernah mampu orgasme dua kali dalam sehari. Juga Lady Y , perempuan paling cantik kedua setelah Gandrasta yang mengaku baru sebulan berhenti merokok dan mengaku sering Runi saat melakukan kencan buta. “Apa itu Runi?” Sahut kami. Rubah Niat!, jawabnya dengan nada bangga karena istilah ini tak diketahui rekan-rekannya yang lain. Juga hadir Mas Y, walau hadir terakhir dan melewatkan kesempatan menikmati Daitokyo, namun dengan fasih bercerita bahwa betapa Rimming memiliki arti penting dalam menjalani aktivitas memadu kasih. Juga hadir saya, yang masih saja kebingungan ketika Mas X, meneruskan pertanyaan VeHandoyo mengapa Linimasa tetap ada, gitu-gitu aja dan ndak ngapa-ngapain. Marah ndak, lucu ndak, abis-abisin kuota iya!

Salah satu impian saya saat masih mahasiswa adalah menulis catatan harian apa adanya. Tanpa sensor demi sebuah kelegaan hati. Isinya bisa curhat soal kejadian yang telah dilalui, atau impian yang akan dijelang, juga suasana perasaan pada saat itu. Namanya anak muda, maka isinya adalah soal cinta, kecewa dan cita-cita. Tapi terkadang catatan harian saya berisi soal dunia luar. Soal remeh temeh keduniawian, maupun hal-hal agung soal ketuhanan.

Ternyata kebiasaan membuat catatan harian itu keterusan hingga sekarang. Bahkan salah satu ide bikin linimasa ini adalah juga soal meneruskan membuat catatan harian secara digital dan sekaligus berbagi dengan “pembaca yang lain”.

Pengertian yang lain di sini bukan saja orang lain, melainkan pemikiran beda. Karena saya sadar sesadar-sadarnya bahwa pandangan orang pun patut dihargai. Langkah pertama untuk saling menghargai adalah secara jujur mengungkapkan isi pikiran dan perasaan kita terlebih dahulu. Jika pun ternyata terdapat perbedaan, maka yang beda atau yang lain itu justru memperkaya. Saling tahu, lalu saling mengerti.

Cita-cita linimasa adalah menjadi “sesuatu” dan dianggap penting secara intelektual, kultural dan emosional. Kenapa emosional tetap diikutsertakan? Karena itulah menurut saya sebuah nilai luhur manusiawi secara individu. Menyertakan “hati” dalam setiap kesempatan. Bisa jadi tepat bisa jadi tak perlu. Tak tak mungkin sepenuhnya dihilangkan.

Sudah selayaknya kita terbiasa untuk berdemokrasi sejak dalam pikiran. Memberikan kesempatan kepada setiap “suara”. Membaca segala. Bisa jadi sesuai, bisa jadi bertolak belakang dengan apa yang kita yakini dan kita percaya. Setidaknya “suara lain” ini adalah pundi-pundi kekayaan yang kita pungut gratis yang selama ini dirawat dan dipelihara oleh individu lain. Kita, atau setidaknya saya, begitu merindukan masyarakat yang mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Apapun keputusannya. Juga menghormati keputusan orang lain. Masyarakat terpelajar yang bukan karena melulu dilahirkan oleh bangku sekolahan. Tapi atas keterbukaan. Memberi kesempatan kepada yang “beda”.

Membuat catatan harian saat mahasiswa adalah soal hobi. Membuat linimasa adalah salah satu cara kenegarawanan saya pribadi. Lewat tulisan dan saling berbagi.

Ketika masih kecil, sering saya dengar bahwa gantungkan dan kejarlah cita-citamu setinggi langit. Saya percaya itu. Tapi agak berubah dari apa yang saya percayai dulu, ternyata saya lebih menyukai “kerjakanlah cita-citamu yang dulu dan tekuni.”

Bisa jadi cita-cita bukan berarti profesi. Cita-cita bukan sebuah kondisi ajeg, permanen dan statis. Cita-cita adalah sebuah proses kerja. Sebuah kegiatan yang dari dulu diidam-idamkan dan memerlukan dedikasi.

Cita-cita saya adalah memaknai hidup ini dengan penuh martabat. Kehidupan sehari-hari yang perlu menjaga integritas. Bukan untuk siapa-siapa, namun setidaknya untuk saya sendiri. Linimasa adalah salah satu cara saya “memaknai hidup”. Mengkomunikasikan ide dan pikiran serta emosi. Dilemparkan ke pasar pembaca. Bisa jadi tak ada respon bahkan tak terbaca. namun setidaknya ada upaya menawarkan atau proaktiv untuk mencoba menyampaikannya kepada orang lain. Sebuah cara menguji jalan pikiran dan ide. Oleh karenanya, topik linimasa adalah topik sesuka hati. Apapun topiknya boleh kita tampilkan tanpa ada garis sekat apa yang boleh dan tidak boleh diperbincangkan.


Oleh karena itu, betapa beruntungnya saya ketika beberapa teman saya yang saya ceritakan di atas juga memiliki kemauan untuk “berbagi”. Memaknai hidupnya dengan sedikit cerita dan disampaikan lewat blog ini. Ketika suatu hari rekan-rekan saya sedang tak bergairah untuk berbagi dan lebih berkonsentrasi kepada kegiatan lain, misalnya apa yang sedang dijalani Glenn Marsalim saat ini, maka itu adalah bagian dari apa yang juga saya cita-citakan. Bergaul dan berkawan secara paguyuban. Atas dasar kesukarelaan. Bukan sekadar kepentingan patembayan dengan keterikatan karena motif ekonomi dan motif lain yang sifatnya subordinasi. Atas bawah. Bos jongos.

Ada satu lagi yang masih belum terpenuhi secara manis. Masih ada jurang pembaca dan penulis. Impian saya adalah kita sama-sama berbagi. Lewat komentar atau menceritakannya kembali kepada orang-orang tersayang. Karena internet butuh lebih banyak hati.

Terima kasih.

Salam anget,

Roy

 

SaveSave

Orang Tua Kita Akan Jadi Orang Yang Tua

Seorang teman lama pernah berkata di salah satu akun media sosialnya, “You are not a grown up until you have to bathe your parents.”

Waktu membaca tulisan itu pertama kali, belum pernah terbayang di kepala saya bahwa pada satu titik dalam hidup, kita akan mengalami hal itu. Atau akan melakukan hal yang serupa. Dan di saat kita berada tepat dalam keadaan seperti itu, tidak ada pilihan lain selain melakukan apa yang selayaknya dilakukan. You man up. Suddenly, you grow up.

Di sela-sela kisah mudik Lebaran dari teman-teman terdekat yang diisi dengan keceriaan bercengkerama lagi dengan sanak saudara, atau saling berbagi pengalaman menghindar dari pertanyaan-pertanyaan “kepo” yang menusuk ranah pribadi tanpa tedeng aling-aling, tak urung muncul juga beberapa kisah yang sedikit menyesakkan.

Salah satu teman saya bercerita, “Libur Lebaran kali ini membuka mata gue bahwa orang tua gue, well, semakin menua. Nyokap, yang selama ini keukeuh masak berbagai macam makanan buat Lebaran, tiba-tiba kemarin gak mau masak. Setelah gue ama kakak-kakak gue cari tahu penyebabnya, kita baru tahu kalau selama ini nyokap udah gak pernah masak sendiri. Selalu dibantu sama pembantu. Nah, kebetulan kemarin pembantu pulang lebih cepet karena ada saudaranya yang meninggal. Begitu gue sampe rumah, H minus 3, masih belum ada apa-apa dong. Sama sekali. Gue panik. Gue tanya, perlu dibantu nggak. Nyokap malah jadi kayak tersinggung gitu. Ya udah, gue tanya resepnya apa. Dia nggak ngasih tahu. Untung nyokap selama ini simpan semua resep dari jaman dulu. Gue baca lagi resepnya, terus bagi tugas sama kakak dan ipar, mulai dari belanja bahan sampai di dapur. Nah, nyokap kadang ngawasin. Tapi tiap gue tanya ini masaknya udah bener apa belum, dia malah nanya balik, “Ini kita lagi masak apa ya?” Aduh, kalo nggak karena ada deadline harus jadi semua makanan sebelum Lebaran, gue udah ngembeng. Asli. Ya udah, akhirnya gue suruh nyokap duduk aja di sofa, sambil nonton TV. Gue, yang elo tahu sendiri selalu pesen GoFood tiap hari, akhirnya bisa lho masak 6 jenis makanan Lebaran khas keluarga besar gue. Sholat Ied bablas sih, abis harus ngaduk terus supaya sayurnya gak basi. Cuma ya itu, di situ gue sadar kalo nyokap udah makin tua. Dan seriously, I’m afraid to think that time is soon to be no longer on my side, man.”

Mendengar cerita teman saya, terus terang saya tercenung. Pertama, karena sebelum bertemu dengan teman ini, saya bertemu dengan teman lain, yang menceritakan bahwa dia menghabiskan malam takbiran kelliling apotik di kota kecil tempat dia mudik, untuk mencari obat buat orang tuanya yang mendadak sakit. Kedua, cerita tersebut mau tidak mau menjadi pengingat buat saya.

Kesehatan ayah saya bisa dibilang fluktuatif selama beberapa tahun terakhir. Meskipun secara umum dia masih terlihat bugar, namun ada beberapa episode di mana level kesehatannya menurun. Pertama kali terjadi serangan terhadap daya tubuhnya, kami sekeluarga panik. Termasuk saya, karena waktu itu pertama kali saya harus memegang tubuh ayah saya yang tidak berdaya di rumah sakit, termasuk mengganti pakaian dan merawatnya. Saat itu terjadi, saya tidak berpikir apa-apa lagi, hanya bersyukur karena masih bisa berada di situ untuk menangani langsung.
Setelah kejadian tersebut, ada beberapa kejadian serupa lagi dengan frekuensi waktu yang cukup jarang, sehingga saya dan anggota keluarga lain lebih siap untuk bereaksi dan bertindak.
Namun tak urung juga ada beberapa saat di mana saya bertanya, “Am I ready for what’s to come?

Saat ini saya bukan orang tua yang mempunyai anak. Namun dari semua cerita teman-teman yang menjadi orang tua, hampir semuanya berkata sama, “You are never ready to be parents until you hold your baby on your hands. That’s when the real scary s**t starts!
Demikian pula dengan mereka yang harus ditinggalkan orang tuanya. Semuanya pasti berkata. “You are never ready, until you are there, often unwillingly.

Selain anak, faktor keberadaan dan keadaan orang tua sering kali menentukan rencana hidup kita. Seorang teman terpaksa menunda rencananya untuk pindah ke luar kota dan mengembangkan usahanya, karena “nyokap sudah sering sakit-sakitan. Kalau gue pindah, siapa yang bisa ditelpon dan langsung datang saat itu juga?” Sementara teman lain juga memilih untuk pindah kembali ke rumah orang tuanya, dengan alasan yang sama.

Menerima kenyataan bahwa orang tua kita pada akhirnya menjadi orang yang tua dan perlu perhatian khusus sering kali tidak mudah. Mungkin tidak akan pernah mudah. Semua rencana yang sudah kita atur, sering kali harus berganti total saat kita akhirnya harus menjaga orang tua kita.

Saya ingat cerita “Sabtu Bersama Bapak” karya Aditya Mulya, yang juga diamini oleh orang tua saya, bahwa orang tua yang baik tidak pernah ingin merepotkan anak-anaknya. Saat orang tua mengajari anak-anaknya untuk jadi mandiri, tanpa sering disadari orang tua juga sedang mengajari diri mereka untuk jadi mandiri juga, siap untuk melepas anak-anaknya menjalani kehidupan sendiri.
But then blood runs thicker than water. Apalagi darah kekeluargaan. Tak urung kita sebagai anak yang akhirnya melakukan pilihan untuk bersama orang tua selama masih bisa.

Sebelum akhirnya orang tua menjadi memori, sebisa mungkin mereka bisa kita temani. Baik dalam pertemuan langsung, atau lewat rutinitas menelpon mereka secara berkala.

Dan kalaupun sudah menjadi memori, mereka tak pernah pergi dalam doa kita.

And that’s when we finally grow up.

Photo by Kyle Cottrell on Unsplash

Berpikir Setengah-setengah

SAYA menonton film “Lima” dua pekan lalu. Rasanya seperti berada dalam kelas, “membaca” narasi pengantar untuk lima nomor ujian esai dengan pertanyaan utama: “Apa yang akan kamu lakukan jika …” Ada soal yang bikin mikir banget dan terasa jauh lebih pelik dibandingkan lainnya, ada juga yang terkesan biasa-biasa saja karena relatif sering kita temui di kehidupan sehari-hari.

Di waktu yang hampir bersamaan pula, ada dua hal menarik yang saya temui di Twitter.

Entah apakah percakapan di atas terjadi secara faktual atau tidak, tetapi tetap mengundang untuk dipikirkan.

Terlepas dari sebaik hati, sewelas asih, pemurah maaf dan penuh ampunan apa pun sang nenek, pencopet tersebut tetap telah melakukan percobaan tindak kriminal. Keputusan akhir tetap menjadi kewenangan aparat hukum. Respons sang nenek tentu sungguh mulia dan patut dicontoh, hanya saja apakah mampu membuat si pelaku sadar dan bertobat agar tidak mengulanginya di kemudian hari?


Berulang kali berganti nama; poin-poin materi; dan metode penyampaian, salahkah bila Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang diubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), serta sempat disebut Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) itu dianggap sebagai salah satu mata pelajaran tertaksa di Indonesia?

Banyak aspeknya yang samar, atau tanpa sengaja tersamarkan. Baik lantaran modul-modul petunjuk pelaksanaannya mengarahkan demikian, ataukah memang para pengajar dan orang-orang yang lebih tua merasa canggung untuk terlibat terlampau jauh dalam pelbagai pembahasannya. Tahu, kan, ketidaknyamanan timbul ketika kita dihadapkan pada topik-topik pembicaraan yang dianggap sensitif, dan membuat kita berusaha menghindarinya. Begitu dan jadi kebiasaan, diturunkan ke generasi berikutnya.

Biar bagaimanapun, kehidupan manusia akan terus berkembang. Kondisi sosial dan kemasyarakatan kian kompleks dengan makin beragamnya situasi yang dapat terjadi. PMP/PPKn/PKN semestinya dapat memberikan gambaran sikap ideal. Namun telanjur samar, PMP/PPKn/PKN hanya menyisakan wacana-wacana normatif, mengobservasi dari permukaannya saja, dan tidak direntangkan lebih jauh sebagai landasan berargumentasi.

• Apa yang akan kamu lakukan jika mendapat undangan kerja bakti di lingkungan tempat tinggalmu?
A. Mengikutinya
B. Pura-pura sakit
C. Tidak peduli
D. Menyuruh pembantu untuk ikut

Dalam PMP/PPKn/PKN, sudah sangat jelas bahwa jawaban untuk pertanyaan pilihan ganda di atas adalah butir A. Anak-anak diajarkan mana yang patut (benar), dan yang tidak patut (salah). Idealnya, sikap dan pemahaman itu mereka terapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Cukup disayangkan, pendekatan ini malah bisa menumbuhkan orang-orang munafik. Mereka tahu, dan akan memberi jawaban yang benar saat disodori pertanyaan demikian, tetapi belum tentu benar-benar dijalankan. Mereka “diajarkan” pentingnya melakukan pencitraan sedari kecil, salah satu kemampuan dasar untuk jadi politikus. Lain ucapan, lain pula tindakan.

Tidak arif, kaku, dan berpolaritas, yang bahkan bisa mendorong seseorang bertindak munafik. Ia hanya tahu membedakan label “benar” dan “salah”; ia tahu karakteristiknya; dan ia tentu memilih label “baik” di hadapan publik, tetapi tidak bersungguh-sungguh menjalankannya. Hanya agar terlihat pantas, dan tentu saja dapat berubah sesuai keadaan. Sayangnya, begitu menghadapi peristiwa dan kejadian yang belum pernah ditemui, langsung gelagapan, lalu melakukan tindakan yang hanya bisa disesali kemudian.

Bisa jadi lantaran tidak ada aspek perasaan (kegelisahan saat berbuat tidak patut versus kelegaan saat berbuat patut), motivasi (menghindari rasa malu versus menumbuhkan kebanggaan), maupun alasan (melakukan/tidak melakukan begini agar begitu) di sana. Sehingga mereka hanya tahu bahwa “ini benar, itu salah” dalam lingkup terbatas.
Coba kita modifikasi contoh soal di atas.

• Di hari libur kamu ingin Ayah dan Ibu membawamu bertamasya ke kebun binatang. Namun, ada undangan kerja bakti dari Pak RT untuk mencegah banjir di lingkungan tempat tinggalmu. Apa yang akan kamu lakukan?
A. Tetap meminta Ayah dan Ibu untuk membawamu bertamasya ke kebun binatang, apa pun caranya
B. Memarahi Pak RT yang menyampaikan undangan
C. Meminta Ayah mengganti rencana tamasya ke lain hari
D. Ikut Ayah kerja bakti

Mana jawaban yang benar dari sudut pandang sang anak, atau peserta didik PMP/PPKn/PKN? Di sisi lain, bagaimana dengan si Ayah? Jalan-jalan dan bertamasya bersama keluarga pasti jauh lebih menyenangkan dibanding mengikuti kerja bakti, bukan? Andaikan pun sang Ayah tetap ingin menjalankan kewajibannya sebagai warga, bagaimana caranya memahamkan dan bernegosiasi dengan sang anak? PMP/PPKn/PKN tidak menyentuh celah tersebut.

Ilustrasi di atas baru berbicara mengenai urusan sepele: kerja bakti. Sementara ragam peristiwa yang kita hadapi kini sudah kian beraneka. Misalnya:

Bagaimana cara bergaul dan menyikapi teman sekolah yang berbeda agama?

Bisa kita exercise lagi menjadi: “Bagaimana caramu menyikapi teman sekolah yang berbeda agama, dan terlihat sedang minum es teh saat kamu sedang berpuasa?

… atau “Bagaimana caramu menyikapi teman sekolah yang berbeda agama, dan sedang menjalankan ibadah puasa?” Berlaku di dua sisi, kan?

Dalam hal ini, pengajaran orang tua di rumah seringkali jauh lebih tertanam dibanding kaidah dalam PMP/PPKn/PKN. Belum lagi jika guru atau pihak sekolah ternyata memiliki pandangan yang berbeda.

Seperti yang baru lewat beberapa hari lalu.

Pemahaman yang mendasar sekaligus menyeluruh dari PMP/PPKn/PKN seyogianya bisa mencegah dan menjauhkan seseorang dari perbuatan demikian. Terlebih bila yang bersangkutan juga memegang nilai-nilai positif lainnya; agama, budi pekerti, prinsip kelayakan sosial, serta kemampuan berempati.

Beberapa ilustrasi lainnya.

• Bisakah pemahaman PMP/PPKn/PKN menghindarkan masyarakat atau massa dari aksi persekusi dan main hakim sendiri? Apalagi sampai menyebabkan kematian.

Seberapa mampukah pendekatan PMP/PPKn/PKN yang diberikan sejauh ini menumbuhkan empati, rasa kasihan, dan kemanusiaan tanpa memandang latar belakang individu?

Apakah bisa disederhanakan dengan dibilang bahwa para perisak dan pelaku aksi main hakim sendiri adalah orang-orang yang nilai PMP/PPKn/PKN-nya jeblok waktu bersekolah dulu?

• Bagaimana menerjemahkan pemahaman PMP/PPKn/PKN agar menghindarkan warganet dari keteledoran digital, seperti membagi dan menyebarkan kabar dusta maupun hoaks, dengan mudahnya mengutarakan kebohongan dan ujaran kebencian, serta lain sebagainya?

• Bagaimana mengamalkan pemahaman PMP/PPKn/PKN dalam menghadapi, menyikapi, bahkan bergaul dengan orang-orang yang telah menjalani operasi kelamin dan telah berganti gender secara legal? Sebab sampai sejauh ini, perisakan terkait itu pasti selalu terjadi. Baik yang dilatarbelakangi argumentasi keagamaan, atau sekadar karena perasaan tidak nyaman/tidak senang.

Pakai ilustrasi Trans Man luar negeri saja, ya. Jagat maya kita tampaknya sudah cukup jenuh dengan figur transeksual Indonesia yang terus-menerus jadi objek hinaan.

Di balik foto-foto transformasi yang mencengangkan, ada proses yang menyakitkan dan membahayakan, biaya yang tidak sedikit, serta waktu dan kesabaran yang harus dicurahkan.

• Bisakah menerapkan prinsip musyawarah dalam menghadapi hubungan pacaran berbeda agama? Ataukah hasil akhirnya sudah diputuskan di muka?

• Ketika yang merasa miskin selalu meminta kepada yang dianggapnya kaya, atau yang merasa miskin mudah kesal kepada yang dianggapnya kaya, apakah hal tersebut sesuai atau bertentangan dengan prinsip keadilan sosial?

… dan masih banyak lainnya.

Jangan lupa, kehidupan manusia akan semakin kompleks.

Oh, ya, Selamat Idulfitri. Maaf lahir batin, ya. 🙏🏼

[]

#RekomendasiStreaming – Tontonan Libur Lebaran 2018 Yang Mencerahkan

Libur Lebaran tahun 2018 ini terasa sekali panjangnya ya?

Sepertinya baru kali ini ada gerakan libur bersama secara nasional yang cukup lama, dimulai hampir seminggu sebelum Lebaran, dan akan berakhir sekitar seminggu setelahnya. Bahkan beberapa instansi, baik kantor maupun sekolah, baru akan mulai beraktivitas lagi bulan depan.

Beberapa teman yang sudah berkeluarga mengaku cukup kelimpungan untuk mencari kegiatan pengisi waktu liburan bagi anak-anak mereka. Sementara saya yang memang tidak berkeluarga, paling cukup kelabakan kalau ditanya, “enaknya nonton apa ya? Film di bioskop sudah ditonton semua.”

Memang perbandingan jumlah film (baru) di bioskop dengan jumlah hari libur tidak berbanding lurus. Oleh karena itu, setelah menonton film-film Lebaran di bioskop, mungkin tidak ada salahnya kita kembali menundukkan kepala untuk melihat konten-konten yang ada di aplikasi video streaming yang kita punya. Tentu saja penundukan kepala ini terjadi kalau Anda menonton serial dan film pilihan saya ini di perjalanan mudik, atau perjalanan balik ke kota tempat beraktifitas. Kalau misalnya sedang dalam keadaan santai, ada baiknya #rekomendasistreaming saya kali ini ditonton beramai-ramai di televisi.
Hitung-hitung sambil memperkenalkan konsep video streaming ke sanak saudara yang mungkin belum familiar.

Jadi, buat yang siap menghabiskan waktu panjang untuk menghabiskan serial televisi, maka tontonlah …

Brooklyn Nine-Nine

Brooklyn Nine Nine

Mungkin ini adalah salah satu serial paling lucu saat ini. Dan yang saya maksud paling lucu adalah, it is genuinely funny. Berlokasi di markas polisi fiktif bernama distrik 99 di Brooklyn, New York, serial ini bercerita tentang keunikan masing-masing karakter penghuni distrik tersebut. Ada detektif Jake Peralta (Andy Samberg) yang selalu menggunakan insting yang salah. Lalu bosnya, komandan Ray Holt (Andre Braugher), yang selalu terjebak dalam image dirinya yang serius. Ditambah dengan rekan-rekan kerja mereka yang lebih suka bertingkah laku konyol dibanding memecahkan kasus kejahatan, serial ini tidak berpura-pura dalam menghadirkan kekocakannya. Sudah ada lima musim penayangan, masing-masing episode berdurasi sekitar 22 menit. Time flies when you’re having fun, and time files when you’re having fun watching something fun.

Mom

Mom

Saat ini sudah jarang sekali serial komedi situasi (sitcom) yang diproduksi dengan menggunakan teknik multiple camera. Apa itu teknik multiple camera? Mungkin dari segi teknis kita tidak bisa membedakan. Tapi ada satu elemen dari sitcom multiple camera ini yang jelas terlihat: ada suara orang tertawa di setiap joke yang dilontarkan. Bahasa kerennya, pakai laughing track.
Nah, dari sedikit serial dengan laughing track yang masih bertahan sampai sekarang, salah satunya adalah serial “Mom” ini. Kenapa saya rekomendasikan?
Karena fokus ceritanya yang tidak biasa. “Mom” berpusat pada hubungan ibu (Alison Janney) dan anak (Anna Faris), yang sama-sama bekas pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Mereka benci satu sama lain, namun mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Setiap episode berpusat pada mereka, lalu pertemuan Alcoholic Anonymous dan makan seusai pertemuan tersebut bersama teman-teman mereka sesama mantan pecandu. Menemukan humor di sisi kehidupan yang terlihat kelam memang tidak mudah, namun serial ini melakukannya dengan sukses. Kita dibuat selalu tertawa, sambil tidak sadar bahwa kita sedang menertawakan getirnya kehidupan yang keras dan susah yang harus dilalui para mantan pecandu ini. Ada 5 musim penayangan, dengan durasi masing-masing episode sekitar 22 menit. Dan kita akan semakin jatuh cinta dengan ibu dan anak di setiap akhir episodenya.

Queer Eye

Queer Eye

Tanpa tedeng aling-aling, saya cuma mau bilang begini: I LOVE THIS SHOW!
Ini adalah reboot dari reality show yang cukup populer sekitar 15 tahun lalu, bertajuk “Queer Eye for the Straight Guy”. Konsep acaranya masih sama, yaitu 5 pria ahli kuliner, interior desain, etiket, busana, dan rambut secara kompak mendandani ulang, atau make over, pria-pria yang sebagian besar adalah heteroseksual. Secara langsung, saat 5 pria yang dikenal sebagai The Fab 5 ini melakukan make over, maka kehidupan pria lain yang mereka make over ini juga akan berubah drastis.
Yang saya suka dari reboot ini adalah penempatan logika yang pas di setiap episodenya. Tidak lagi berbicara soal perbedaan gay dan straight, yang juga masih penting ditempatkan di beberapa bagian cerita. Namun lebih dari itu, banyak pemikiran yang muncul saat mereka melakukan make over yang, terus terang, cukup menggugah saya.
Di salah satu episode, saat mereka mendandani seorang pria yang tidak punya waktu mengurus dirinya karena kesibukannya, salah satu anggota the Fab 5 cuma mengatakan, “It’s important for you to take care of yourself, because you’re not doing it to yourself, but also to your wife and your family. It’s important that you need to be the best version of yourself, because you cannot take them for granted. You want them to love you, so work on it.”
Mungkin kalimatnya tidak persis sama, tapi intinya adalah bahwa menjaga diri bukanlah sebuah kemewahan atau luxury, tapi sebuah keperluan, atau necessity, untuk menjaga sebuah hubungan.
Terus terang saya tidak terlalu suka menonton reality show. Tapi kalau ada reality show yang bisa membuat kita tertawa, tersenyum, dan akhirnya belajar menerima perubahan dalam hidup, I can’t recommend this enough.

Jika perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial-serial di atas, maka dua film ini bisa dipilih:

Bad Genius

Bad Genius

Ini bukan thriller biasa. Bagaimana sekelompok anak bisa mengelabui sistem ujian nasional di Thailand dan memperoleh keuntungan finansial dari situ, merupakan ide cerita gila yang mungkin jarang sekali bisa ditemukan di film-film dari negara-negara lain. Penggarapan filmnya pun sangat serius. Gaya film ini dibuat seperti film thriller papan atas, yang membuat kita semakin gregetan saat menontonnya. Meskipun tidak masuk dalam top 10 film tahun 2017, namun film ini termasuk sebagai salah satu film yang sangat menyenangkan untuk ditonton.

Hindi Medium

Hindi Medium

Masih berkutat soal pendidikan, namun dari sudut pandang lain. Film ini mengajak kita melihat bagaimana ketatnya persaingan untuk memasukkan anak ke sekolah bergengsi demi mendapatkan pendidikan terbaik. Termasuk pura-pura menjadi orang miskin, demi mendapatkan jatah penempatan murid dari kalangan underprivileged. Ide cerita yang sangat menarik, dan dikemas dengan penceritaan yang straight forward, dan menyentuh. Sebagai orang tua murid yang rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, Irrfan Khan bermain sangat cemerlang. Salah satu film Hindi terbaik tahun lalu.

Semoga lima pilihan saya untuk tontonan Lebaran tahun ini bisa membuat pemikiran kita semakin terbuka dan tercerahkan.
Ada tontonan lain yang Anda ikuti selama libur Lebaran kali ini?
Share di komentar di bawah ya!

Sitting alone on a dock.

Basa Basi (Tidak) Busuk

SESEORANG menitipkan tulisan ini.


“Apa kabar?”

Pernah merasa jengah dengan basa basi?

Sama, saya juga. Seringnya orang-orang sebenarnya tidak ingin tahu jawaban dari pertanyaan di atas. Pertanyaan itu juga biasanya dijawab dengan normatif, balasan standar satu kata yang harus dibalas dengan menanyakan pertanyaan yang sama ke penanya. Kadangkala keceplosan, penanya tadi menjawab dan menyakan kembali “lo gimana?” #seringterjadi

Bagi sebagian orang, menanyakan kabar merupakan fase pembicaraan yang harus dilalui sebelum berlanjut ke topik berikutnya. Demikian pun, ada juga yang mengambil kesempatan untuk mencurahkan isi hati terdalam tanpa permisi yang seringnya berujung jeritan hati pendengar, “Gue cuma nanya kabar hoi! Bukan kisah hidup!”

Pernah suatu kali saya berbasa basi menanyakan kabar salah satu rekan sejawat yang dijawab dengan “Gue habis berantem sama partner gue, tadi dia drop gue di kantor dan gue sama sekali gak ngomong sama dia sedikitpun! Masa dia…” Dan dilanjutkan dengan ekstra 20 menit detail hubungan mereka yang semakin dingin dan rentan masalah, yang saya simpan di kotak “Informasi kurang bermanfaat” di pikiran saya.

Seorang sahabat yang saya ceritakan mengenai kejadian itu berkelakar, “Makanya jangan bertanya open-ended questions! Itu sih cari masalah namanya!”

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan meninggalnya Kate Spade, designer fashion kondang di Amerika. Kate ditemukan gantung diri di apartemennya di New York, dan dilaporkan sudah berjuang 5 tahun melawan depresi dan kecemasan. Suami Kate memberikan penjelasan bahwa Kate secara aktif berusaha untuk sembuh, bertemu dokter setiap minggu dan mendapatkan pengobatan untuk depresi dan kecemasan yang dia alami.

Tak kalah kaget juga waktu mendengar Anthony Bourdain ditemukan bunuh diri pada umur 61 tahun. Tidak sedikit orang yang bilang, “Enak ya kerja kayak Anthony Bourdain! Keliling dunia sambil makan-makan!” tanpa menyadari bahwa yang menjalani pun belum tentu merasa semudah dan seenak itu hidupnya. Benar, yang kita lihat makan-makan dan jalan-jalannya. Tapi bagaimana dengan sisi lain kehidupannya yang tidak pernah terekspose?

Sebelum Kate dan Tony, kita juga sudah mendengar mengenai Robin Williams, Chester Bennington dan juga pesohor-pesohor lain yang akhirnya tunduk oleh tekanan hidup dan memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka sendiri dengan satu maupun lain cara. Berita yang tersebar, mereka memang melalui masa-masa sulit dan melawan depresi di akhir hidupnya.

Death doesn’t discriminate between the sinners and the saints.

Sialnya, demikian juga dengan penyakit kejiwaan. Tidak hanya menyerang artis-artis tapi juga rakyat jelata- karyawan kantoran, polisi, pengangguran, mahasiswa, ibu rumah tangga, pelajar juga bisa mengalami depresi atau penyakit-penyakit jiwa lainnya. Entahlah, saya sendiri masih belum yakin apa sekarang ini semakin banyak orang yang mengalaminya atau dengan pemberitaan zaman modern semakin banyak kasus yang terekspose oleh khalayak ramai. Tapi yang saya sadari, penyakit kejiwaan bukan lagi menjadi sesuatu yang asing yang kita dengar.

Death doesn’t discriminate between the sinners and the saints.

We will all live to face it eventually. Still, that does not justify you taking your own life.

Kalau kalian merasa cemas, sedih, depresi, takut dan merasa tidak normal, tolong cari bantuan. Cari orang-orang yang kenal dan peduli dengan kalian, cari bantuan profesional–there is no shame in seeking help. Tidak ada yang memalukan dari berusaha sembuh dan hidup “normal”, apa pun itu bentuknya. Tolong jangan berobat sendiri, karena asal minum obat sendiri never ends well.

Pernah saya mendengar kabar bahwa teman satu SD, yang pernah duduk di sebelah saya pada satu masa ditemukan gantung diri di kamarnya. Menurut kabar, ia baru saja putus dengan pacarnya waktu itu dan tengah-tengah mengerjakan skripsi, bapaknya juga sedang sakit waktu itu.

Saya tercenung. Gamang waktu mendengar berita tersebut beredar di alumni sekolah kami. Dia kurang lebih seumur saya. Orang tuanya masih hidup. Dan orang tuanya harus kehilangan anak yang semestinya masih memiliki jalan panjang dalam kehidupannya. Orang tua harus menguburkan si anak. Teriring doa supaya orang tuanya tetap tabah dan terus menjalani hidup.

Saya sesungguhnya sudah tidak ada kontak semenjak kami berpisah sekolah. Bahkan waktu kami satu sekolah, saya bukan termasuk golongan teman-temannya. Tetapi saya juga bertanya-tanya, apa kira-kira akan berbeda kalau ia membuka diri dan mencari pertolongan saat ia mengalami masalahnya?

Kalau kalian merasa normal dan baik-baik saja, bersyukurlah. Sebagai yang “waras”, ingat bahwa kalian bisa ikut membantu orang-orang yang tidak seberuntung kalian dengan berusaha membangun koneksi dengan mereka. Dari pengalaman saya, banyak orang yang menderita dalam diam dan mempertanyakan kewarasan mereka dalam konteks yang tidak bercanda. Dihantui rasa takut akan kehilangan kendali akan diri. Perasaan gelap yang menghantui tanpa ada jalan keluar yang terlihat. Keengganan untuk melakukan apapun. Hati yang terasa berat. Takut tidak dimengerti. Takut ditertawakan. Takut dipermalukan. Dan banyak lagi perasaan kompleks yang tidak biasanya ada atau tidak dirasakan dengan kadar berlebih oleh orang yang “normal” pada umumnya.

A tweet snippet.

Saya juga punya pengalaman pribadi dalam hal ini–saya pernah “menyelamatkan” (dia yang bilang, bukan saya) seorang sahabat saat dia hampir bunuh diri. Dia bilang dia sudah menyiapkan semuanya, lalu saya mengontak dia melalui chat untuk menyapa dan menanyakan kabarnya. Dia batal bunuh diri karena akhirnya membalas chat saya dan masih hidup sampai sekarang. Saya sendiri tertegun waktu dia cerita ke saya. Bukan, bukan mau bilang saya ternyata bisa menyelamatkan orang. Hanya mau bilang ternyata sapaan dan perhatian itu yang kadang bisa berimbas lebih besar buat yang lebih membutuhkan.

Di Australia, ada organisasi “R U OK?” (ruok.org.au) yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran tentang orang-orang yang mungkin butuh pertolongan dan tidak bisa mencari atau memintanya.

Websitenya berisi petunjuk dan bantuan untuk memastikan orang-orang lebih sadar dan memberi perhatian lebih pada pertanyaan “Are you okay?” dan juga tindakan lanjutan apabila yang ditanya membutuhkan bantuan. Bukan hanya itu, website ini juga memberikan petunjuk supaya kita tidak asal bertanya. Sebagai salah satu tahapan, bahkan diberikan petunjuk, apakah kita siap menerima kala yang ditanya menjawab tidak baik-baik saja? Apakah kita siap membantu? Apakah kita memilih saat yang tepat? Silakan dibaca, barangkali bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari kita semua.

Akhir kata, kita bisa lebih terlibat dan membantu orang-orang di sekitar kita. Jangan anggap sepele menanyakan kabar orang lain. For better or worse, be genuinely interested in people’s life. Mungkin mereka tidak bersedia berbagi, ya tidak apa-apa.  Tapi mungkin pertanyaan itu menjadi suatu kunci, suatu terang yang ditunggu-tunggu yang ditanya untuk bisa mendapatkan bantuan atau dukungan. Yang saya sebut di atas hanyalah satu medium yang bisa mencontohkan bagaimana caranya, tapi saya yakin kita masing-masih bisa lebih punya simpati dan empati terhadap orang lain selama kita menjalani hidup kita sendiri. Or you can just not care. The choice is all yours. Eitherway, jangan menghakimi dan menertawakan orang dengan berbagai perjuangannya. Toh hidup orang lain bukan kita yang menjalani.


Sekian.

[]

Obituari: Bule Keren Bernama Bourdain

Sebelum dia menulis essai Don’t Eat Before Reading This di usia 40. Dia adalah bukan siapa-siapa. Dia hanyalah seorang chef di kota New York. Tapi setelah tulisan itu rilis di New Yorker pada tahun 1997 maka namanya melesat dan bintangnya pun langsung bersinar terang.

Bourdain2

Good food, good eating, is all about blood and organs. Cruelty and decay.

Kalimat awal tulisan itu begitu mentah dan menghujam. Makanan itu tak lebih dari sekedar darah dan organ tubuh. Kekejaman dan kebusukan. Dia juga melanjutkan bahwa gastronomi adalah ilmu mengenai kesakitan. Tulisan ini mengungkap sisi gelap bagaimana makanan yang lezat dihidangkan. Tulisan ini memberitahu pembaca agar jangan membeli hidangan mengandung ikan tuna di hari Senin, karena ikan tersebut bisa jadi dibeli empat hari sebelumnya yang artinya ikannya sudah tidak segar. Dia juga bilang kalo di hari Selasa kita akan menemukan hidangan yang segar dan kebanyakan chef tidak bekerja pada hari Senin. Chef adalah pekerjaan yang keras dan kotor. Kita tidak tahu bahwa kita hanya tinggal menikmati hidangan yang hangat dan segar di meja yang dibalut kain putih bersih. Menjadi chef di dapur restoran di kota New York membuat dia menguasai permasalahan yang ada. Dia tidak sekedar menulis. Dia tahu banyak makanan yang tidak habis didaur ulang. Roti yang tidak termakan dihidangkan kembali. Sisa mentega disajikan menjadi hollandaise.

Esai ini tentu menimbulkan kontroversi. Tapi tidak ada yang menafikan bahwa essay ini ditulis dengan jujur yang hasilnya dia mendapatkan tawaran untuk membuat buku yang kelak mengubah jalan hidupnya. Kitchen Confidential adalah merupakan buku pertamanya yang laku keras. Bourdain pun dengan kepribadian yang unik mendapatkan tawaran dari Food Network untuk membawakan acara A Cook’s Tour. Yang dilanjutkan dengan No Reservations dan juga Parts Unknown.

Banyak chef yang mempunyai acara TV tapi hanya sedikit yang mempunyai banyak penggemar. Bourdain mempunyai wawasan yang luas. Dia menyukai film dan teknik perfilman dia terapkan di acaranya. Ini yang membuat dia banyak mendapatkan penghargaan. Kesukaannya akan musik rock membuat ia bisa dengan mudah banyak mengundang musisi rock ke acara televisinya. Dan yang paling penting adalah dia bisa melebur dengan kebudayaan dari masyarakat lokal di manapun dia berada di lebih dari 100 negara yang sudah dia kunjungi. Dia tidak mempunyai pantangan. Dia bisa memakan apa saja. Ini yang membuat dia banyak disukai. Dia pernah makan sup darah berisi otak babi di Thailand. Makan testikel kambing di Maroko. Telur semut di Meksiko. Tidak banyak bule yang bisa melakukan ini. Di televisi. Seorang chef apalagi. Dia merangkul kearifan lokal, bagaimana kita banyak menyebutnya. Ini yang tidak dipunyai vlogger semacam Logan Paul. Ataupun juri Masterchef yang bilang rendang itu harus renyah. Atau bahkan Marko Simic yang melakukan pelecehan seksual terhadap Via Vallen. Atau mungkin kebanyakan bule di Melly’s dan Jalan Jaksa.

Bourdain1

Tony, begitu dia dipanggil oleh teman dan koleganya, mempunyai banyak julukan. Hemmingway of Gastronomy, the Elvis of bad boy chefs, dan banyak lagi. Dia adalah rock star di dunia kuliner. Dia bisa dengan seenaknya mengeluarkan kata-kata kotor di televisi. Dia juga bisa mengkritik siapa saja, sesama chef atau kaum vegetarian. Dia memang dibesarkan ketika musik punk sedang berkembang. Ini yang ikut membentuk kepribadiannya Di tahun 70an akhir di New York, CBGB, dan narkoba adalah kegiatan yang lazim. Dan Tony pun ikut tenggelam di dalamnya. Dia menjadi pecandu heroin dan kokain. Dia bahkan mengaku dia sering kali dalam kondisi pengaruh narkoba ketika bekerja sebagai chef sambil mendengarkan The Ramones atau Grateful Dead. Bukunya yang berjudul The Nasty Bits, dia dedikasikan untuk Johnny, Joey, dan Dee Dee Ramone.

Anthony Bourdain juga merupakan seorang penggagas gerakan #MeToo. Asia Argento, kekasihnya, adalah korban perkosaan yang dilakukan oleh produser kondang bernama Harvey Weinstein. Dia ikut mendorong Asia agar mengungkap kasus ini, dibantu oleh Rose McGowan dan juga yang lainnya. Gerakan ini telah membuahkan hasil. Harvey Weinstein sekarang sedang menjalani proses pengadilan.

bourdain3

Sebelum berhubungan dengan Asia Argento, dia sudah dua kali menikah. Nancy Putkoski adalah istri pertamanya yang dinikahi pada tahun 1985 hingga bercerai di tahun 2005. Lalu di tahun 2007, dia menikahi Ottavia Busia yang memberinya puteri bernama Ariane. Mereka bercerai di tahun 2016. Tuntutan pekerjaan yang harus keliling dunia selama 250 hari selama setahun ikut menjadi andil mengapa mereka berpisah. Di bukunya Medium Raw,  dia menjelaskan bahwa kehidupannya menjadi tidak bermakna setelah perceraian pertamanya.

bourdain4

Empat hari lalu, saya mendapatkan berita bahwa Anthony Bourdain, ditemukan meninggal karena bunuh diri di kamar hotelnya yang mewah di Paris, di tengah kegiatan syutingnya untuk acara CNN, Parts Unknown, edisi Paris.

 

Anak Kecil Wajib Punya Ayah

Ketika saya masih kecil, yang penting itu saat saya merengek minta jajan, ayah saya sanggup membelikannya. Ndak penting ayah punya uang atau ndak. Saya ndak peduli ayah kerjanya jadi karyawan swasta, dokter, atau berjualan kupat tahu depan rumah. Saya ndak peduli. Apa yang saya butuhkan cuma satu: ayah saya menyanggupi kebutuhan keinginan saya. Mau ayah saya bolos bekerja. Mau ayah saya kerjanya siang malam, dari pagi hingga larut malam, atau kaki jadi kepala dan kepala jadi entah apa.

Children-Come-First-56a25fc65f9b58b7d0c9724d

Anggap saja profesi ayah saya adalah “Agama”. Maka saat itu saya ndak peduli Ayah beragama apa. Mau dalam beragama Ayah saya sering bolos, atau siang malam jalankan ritual ibadah, saya ndak tau menahu. Tetap yang jadi nomor satu adalah: saat mau beli mainan, saya dibelikan. Titik.

Anggap saja saya adalah “Orang sekitar”. Maka bagi orang sekitar, jalankan agama atau tidak itu ndak penting. Selama orang sekitar terpenuhi kebutuhannya. Merasa senang, sudah cukup. Orang sekitar ndak peduli apakah agama itu dianut benar-benar atau sekadar simbol saja.

Anggap saja kebutuhan keinginan saya adalah “Kehidupan bermasyarakat”. Maka Orang sekitar itu ndak peduli soal agama. Hal terpenting adalah saat menjalani kehidupan bermasyarakat dapat merasa senang dan bahagia. Sudah. Itu saja cukup.

Maka sejatinya orang sekitar kita itu ndak peduli sejatinya agama saya dijalankan dengan baik atau tidak, selama saya dapat menjalankan kehidupan bermasyarakat sesuai keinginan orang sekitar, maka tugas agama selesai.

Seorang anak kecil ndak mungkin nuntut ayahnya harus jadi dokter. Atau merengek minta ayahnya berganti profesi sebagai nelayan yang rajin tangkap ikan pakai jala dan sekaligus dilarang pakai kail. Sesuatu yang berlebihan. Biarkan seorang ayah memilih sendiri profesi apa dan bagaimana menjalani profesinya.

Dalam bernegara itu ndak penting anda sholat atau tidak. Ndak penting anda itu rajin ke mesjid atau ndak. Yang penting adalah hasilnya. Bentuk turunan lanjutan dari beragama yaitu perilaku. Orang sekitar lebih memilih dan menyukai agama yang menelorkan kehidupan masyarakat yang kalau naik motor pakai helm. Orang sekitar lebih mengharapkan pengendara mobil itu saat ada lampu merah ndak dilanggar. Orang sekitar berharap saat mengantre tidak diserobot. Berharap toilet duduk itu ndak kotor karena dijongkokin pemakai sebelumnya.

Menjadi berlebihan, ketika seorang anak kecil bukannya sibuk belajar, tapi malah sibuk mengurusi profesi ayahnya. Ayah kudu rajin kerja. Tugas kantor ayah sudah dikerjakan belom. Anak kecil yang baik itu lebih baik merengek saja. Menjadi anak kecil yang sejati. Ndak mikir apa-apa kecuali dibelikan mainan dan berpuas diri.

Demikian juga dalam masyarakat madani. Masyarakat ndak membutuhkan hal primer berupa agama dalam bentuknya yang masih RAW. Bukan agama mentah yang  memamerkan wujud ibadahnya kepada Tuhan. Justru yang dibutuhkan adalah hasil olahan dalam beragama. Produk jadi yang siap dipasarkan dan dinikmati publik. Yaitu akhlak dan perilaku yang sesuai dengan kehidupan bermasyarakat.

Anak kecil ndak butuh seorang ayah yang dokter dan mengenakan stetoskop kemana-mana, atau sibuk mendiagnosis pasien, atau suntik sana suntik sini. Njus. Njus. Njus. Anak kecil lebih butuh duit jajan dan bayaran uang sekolah yang memadai. Oleh karenanya orang sekitar kita pun demikian. Ndak peduli kita pakai kopiah atau selalu mengucapkan salam, tapi kita tetap malas diajak kerja bakti, korupsi duit negara, atau dengan sengaja dan tanpa perasaan bersalah duduk di korsi ibu hamil di sebuah moda transportasi yang kebetulan sesak.

Sudah saatnya simbol agama dan religius bukan lagi dianggap menjadi sebuah kemuliaan paling hakiki. Melainkan dicerminkan oleh hasil olahan dalam beragama itu. Menjadi warga yang santun, baik budi pekerti dan tepa salira.

Orang sekitar ndak peduli kamu itu sholat apa ndak. Ngapain anak kecil tau bapaknya dokter yang super sibuk tapi uang sekolah ndak pernah dibayarkan. Minta duit jajan ndak pernah diberikan. Orang sekitar lebih butuh kehidupan bermasyarakat yang nyaman.

Bahkan bisa jadi Ayah ndak perlu bekerja. Uang jajan bisa saja ada tersedia tanpa bekerja. Uang warisan, utang mertua, atau punya usaha dimana mana dan lancar dividennya. Anak kecil ndak perlu pusing darimana duit ayah berasal. Tapi untungnya masih ada Ketuhanan yang Maha Esa. Artinya:

Anak kecil harus punya Ayah. Menjadi warga negara wajib beragama.

Ayah boleh bekerja atau tidak, asal punya uang untuk anaknya. Agama silakan dijalankan secara religius atau tidak, ndak jadi soal. Yang penting, kehidupan bermasyarakat yang gemah ripah loh jinawi bagi orang sekitar.

Sudah itu saja.

 

 

 

 

Tiga Belas

(cerita sebelumnya bisa dibaca di sini)

Wait a minute!

Saya yang baru mulai bercerita, mendadak terdiam. Teman saya hanya tersenyum kecil sambil memincingkan matanya.

I have a feeling we’ll be in for a long night. So why don’t we move somewhere else?

Kali ini saya yang tertawa.

Well, I don’t mind, but where to? And why are you so sure that I have a long story to talk to?

As I said, I have a feeling. And most of the time, my feeling is right. I don’t know, walk the talk?

It’s almost midnight, and you don’t walk the talk at night in this town. It’s not safe.

In case you miss my shameless Instagram posts, I’ve been learning karate.

And when was the last time you practiced? Seven years ago?

Oh shut up!

Kami berdua tertawa, sebelum akhirnya sepakat untuk membayar tagihan makanan kami sendiri-sendiri. Kami pun sepakat untuk menghabiskan waktu di kolam renang di bawah kamar hotelnya, sambil menyusuri taman kecil yang ada di sana.

Sepanjang perjalanan di taksi, kami masih tertawa mengingat-ingat cerita yang baru saja kami celotehkan satu sama lain selama 3 jam terakhir. Termasuk ceritanya dengan Adam. Kami pun sempat melakukan video call dengan Adam, yang memang sudah berubah sama sekali dari terakhir kali saya melihatnya di ruangan kelas kuliah kami, belasan tahun yang lalu.

Sampai di hotel tempat teman saya menginap, kami langsung menuju taman dekat kolam renang. Beberapa petugas keamanan melihat kami dengan aneh, tertawa sambil berjalan seolah-olah kami mabuk. Padahal kami cuma minum teh dan air putih di restoran tadi. Setelah meyakinkan mereka bahwa kami hanya mau duduk di kolam renang sambil memesan minuman dari restoran hotel, petugas keamanan tersenyum lega, sambil mempersilakan kami.

Kami masih tertawa kecil sampai akhirnya teman saya memulai percakapan.

So. No love story to tell?

No love story to tell. Nothing major like your 25-year plan and already marking half the milestone.

And yet no love story to tell is also a love story to tell. So, what’s yours? How come there is none?

Saya terdiam, mengambil nafas sejenak, lalu tersenyum ke arahnya.

Don’t get me wrong, I’m not whining or being self-pity, but I guess I’m not as lucky as others in this department.

What do you mean?

This is purely my point of view, but I guess others find it easy to find the one they want to date, hook up with, or be in a relationship with, and I’m not so lucky in that. Not helping is having friends who make fun of your singlehood all the time.

Oh, trust me. Keep those friends. They’re all you’ve got!

Kami tertawa cukup keras. Untung tidak ada orang lain.

But seriously, don’t be so hard on yourself. Besides, everyone is fighting their own battle that we don’t know. So don’t compare yourself to others.

Saya mengangguk kecil sambil menyisip minuman dan bergumam, “Yeap.”

Teman saya mendekat ke saya, lalu memeluk saya.

Dude, you’re fine.”

Thank you.

It’s always good to hear that from other people, right?

Saya tertawa.

Since when have you become this … person, who knows what to say and console?

Life experiences, I guess?

Ah. That makes sense.

So when was the last time you were in relationship?

The serious kind? It’s been some time.

Years?

Years.

I bet you miss it.

Terribly.”

What do you miss about being in a relationship?

Saya menegakkan posisi duduk, dan kembali terdiam beberapa saat. Lalu setelah menghela nafas cukup panjang, saya berkata:

It’s impossible to miss everything, of course, but if I have to choose, I miss having someone to come home to. I miss being someone to come home to. I miss cooking for two. I miss planning the next getaway together. I miss going to bed at night and waking up in the morning with the same person. I miss the silence shared between the two on the couch. I miss the connection. I miss the assurance, that at the end of a long day, there will be someone for you to talk to.

Do you miss the fights, the messy laundry, the piling dishes, the “where-are-you-last-night” suspicion and all?

It comes with the package, right?

Right. Occupational hazard.

Saya tercenung.

More than anything, I miss the connection. How one makes attempts to figure out what the other party is interested in, then find the common thread, or build the bridge to gap the difference. How we learn new things, at first to impress the other party, and eventually liking what we learn. I miss that.

Teman saya tersenyum.

And when was the last time you fell for someone?

Kali ini giliran saya yang bersemu-semu.

Only recently, actually.

What? Come on!

Yeah, surprise, surprise.

I knew my hunch was right. It is indeed going to be a long night. Tell me!

It’s not like what you think.

I don’t care. Tell me!

Well, how do I start? You know the work that I do, right?

Teman saya mengangguk.

All years, decades even, of my professional life, I’ve never mixed or even made an attempt to get to know my work partners beyond the working hours. Always keep it professional, at whatever cost, and actually delivered some solid work. But after decades, fate decided to play its trick. I just could not help being attracted to someone at work, despite the person ticks off all the boxes of “the-type-of-person-you-will-never-date” list.

Hey, there’s always the first time for everything.

Exactly. So I met this person during my last project. We hit it off immediately. We spent time talking about things we like in common. Mostly we talked. And I guess I get carried away by the attention.

“What do you mean you get carried away?

Being alone is never easy. Worse if you add that with being lonely. Deadly combination. You often spend your time wishing there’s always someone out there you can connect with. And that’s what happened to me, I guess. When the opportunity presents itself, no matter how small it is, I grab it immediately. Little did I know that I might grab it too strong that it started getting loose.

How come?

Well, have you been acting or doing things that it feels like an out-of-body experience? Like you do things you don’t normally do?

Teman saya kembali mengangguk pelan.

That’s what happened to me. Suddenly, out of nowhere, I did things I don’t normally do. I took a crowded train to suburb on a Sunday afternoon, overlooking sunset, to give company. I paid extra attention. I kept myself awake at night just to talk. I excused myself out of meetings so that I can meet outside project office even just for a quick lunch. I wrote lengthy letters to express how I felt, mailed them at the last minute on my way to airport, almost missed out my check-in time. For the first time, during a work trip, I constantly thought of someone else back home, whereas all this time, whenever I travel, I just completely detached myself from whatever it is back home. During the trip, I kept on writing, like a diary, just to keep me sane. I wrote everyday, at the end of my work, just to express how I feel, in words, to make sure that I don’t lose the moment. I’m back to being a kid all over again.

Wow. But I heard this saying before, that every time you fall, it’s always new.

It is. No people are alike, thus no experience in falling should be the same. I agree with you. It’s just there’s this surreal thing that you suddenly have, and you have no idea where this comes from.

It’s from the heart. You have no idea what heart could drive you to do, when it is fuelled.

Saya menghela nafas.

I guess. Yeah.

And how’s the response?

Saya tersenyum.

Would I be here with you right now if it works?

Ouch. I’m sorry to hear that.

Thanks, but please, don’t be. In fact, I’m glad it happened. Do you want to know why?

I think I know why, but I’m trying to be a good listener here.

Saya tertawa cukup kencang. Teman saya pun ikut terkekeh.

The night is yours, honey.

So it is ours. I’m glad that I got to experience that all over again. Especially at our age. People, or society, expect us to already be, God knows I hate these terms, to be “stable in life”, “comfortable and content”, “secured and safe”. But do they have any idea what they prevent us from? The joy of life. So yes, I am grateful, and thankful for what just happened in my life.
Falling for someone at the most unexpected time, feeling the surreal out-of-body experience of doing silly things that I kept telling myself at times, “This is not me!” Having something to look forward to, that for once, life has somewhat a purpose to meet on daily basis, even if those plans of purposes fail. But you don’t care. You keep on trying. You keep on daydreaming. You keep on fantasizing. You keep reminding yourselves to stay on the ground, so if you really fall down, you won’t get hurt.

Are you? Hurt?

Of course. Big time. What do you call someone who cried at night after the 13 days of infatuation is over, after the crush was crashed?

I call that karma, because that reminds me of a scene from the film you loathe the most called “Eat, Pray, Love.

Spontan saya tertawa sambil mengambil percikan air di kolam ke arah teman saya.

Okay. The karma is on me, I take that. But when it’s over, I’m glad that I still get to experience all of those. You know, at our age, aren’t we lucky if we experience falling all over again?

Teman saya tersenyum.

You have no idea how jealous I am of you. Just by listening to your rambling tonight, my mind was transported back to those old days of falling in love.

Emphasize on the word ‘old’, thank you very much.

Hahaha! You know what I mean. We are not getting younger. And as you grow older, you succumb more to comfort, safety, and security. At least that’s what Adam and I have. We don’t exchange romantic notes anymore. We have gone through a lot, so the most important thing for us right now, is to be sure the other party is there when we ask the whereabouts. Sounds like we start taking each other for granted, which maybe we do if you come to think of it.

And you have no idea how much I miss to have that again in my life. The steady companionship that we often take for granted in life.

I’m sure you do. We can’t have it all, can we?

Didn’t We Almost Have It All, as Whitney Houston said.

Ah, you and your Whitney fandom!

Kami tertawa.

So, all these hours we talk about the object of your affection …

… was my object of your affection, mind you.

Who cares? Once you open up your heart to people, they never really leave. Who is this lucky one?

Saya tersenyum sambil mengedipkan mata ke teman saya.

I am. I’m the lucky one. When it comes to falling all over again, I am the lucky one.

Teman saya mengangguk, dan tersenyum.

There’s no greater feeling than being in love.

Indeed.

Shall we continue this upstairs?

Well …

Mengalir

TANGGAL hari ini cantik, 6-6. “Liu-liu” bunyinya, kalau dilafalkan dalam Mandarin. Mungkin gara-gara itu banyak orang Tionghoa yang lumayan suka dengan angka 6. Meskipun rasa sukanya belum sekuat seperti pada 7, 8, dan 9, yang masing-masing ialah “qi” (dibaca: chi), “ba” (dibaca: pa), dan “jiu” (dibaca: ciu). Oh, ya, kenapa ada tulisan yang berbeda dengan cara bacanya? Karena penulisan itu adalah Pinyin, sistem transliterasi untuk memudahkan pembelajaran dan pembacaan, khususnya bagi bukan penutur bahasa Tionghoa.

“Liu”-nya angka 6 (六) punya pelafalan yang sama dengan “liu” yang berarti mengalir atau bergerak (流). Mirip juga dengan “liu”-nya sejenis pohon dedalu atau willow (柳), yang aslinya tidak sebuas whomping willow dalam cerita Harry Potter. Makanya seringkali kita mendapati lukisan-lukisan Tionghoa dengan pohon willow sebagai objek utamanya, terpasang di ruang tamu rumah maupun kantor. Supaya kehidupan di situ mengalir. Doa dan harapannya begitu. Itu sebabnya rumah orang Tionghoa penuh dengan simbolisasi, bermacam-macam rupa. Setidaknya bagi mereka yang masih mengerti dan memahami … dan masih peduli … dan masih hidup.

Lukisan klasik pohon willow.

Oh, well, nevermind.

Air dan udara mengalir. Ini sesuai prinsip fisika. Air yang mengalir jauh lebih baik daripada genangan. Air yang mengalir berarti tidak ada yang buntu. Dari ketinggian, mengucur deras ke arah bawah. Air yang menggenang jadi tempatnya nyamuk bertelur, sumber penyakit, berlumut, dan berlendir. Kental-kental bikin geli. Bukan geli yang enak, tetapi geli yang bikin jijik.

Udara yang mengalir artinya kehidupan. Kalau udara tidak mengalir, tidak bakal ada proses pernapasan. Udara yang mengalir pun pertanda kenikmatan. Enggak percaya? Coba sekali-kali dihayati saat akan berkentut, tanpa ditahan-tahan. Nikmat, kan? Asal jangan los kentutnya saat berada di dalam lift. Kenikmatan untuk kita, jadi penderitaan bagi orang lain. Tak elok pula kalau kentutnya dipaksa-paksa. Biarlah udara yang satu itu terdorong dan keluar secara alamiah. Kalau dipaksa, nanti keluar bareng temen-temennya. Bisa berabe kalau terjadi bukan pada tempatnya.

Demikian juga soal hidup. Biarlah mengalir dan bergerak sesuai kondisinya. Ke kanan dia bergulir, ya sudah ke kanan juga kita melangkah. Ke kiri dia berbelok, ikuti arah alirannya. Ke depan dia menuju, jalani apa yang ada. Yang penting harus tetap bergerak. Tidak mentok, tidak mandek, tidak mampet.

Perkataan dan pikiran juga sebenarnya mengalir, bagi yang menyadarinya. Malah saking lancarnya, sampai-sampai lebih susah dibendung ketimbang air dan udara. Mau dibendung pakai apa pula? Perkataan dan pemikiran bisa muncul dan terus muncul pada banyak orang. Tatkala diucapkan dan disampaikan, bisa menginspirasi, mengilhami, memotivasi, dan menggerakkan lebih banyak orang lagi. Apalagi jika para pendengarnya punya antusiasme tinggi, seperti hadirin kelas filsafat tanpa biaya yang diselenggarakan di Jakarta Timur secara berkala, atau mereka-mereka yang jadi jemaat gereja-gereja keren kekinian di Jakarta Selatan: suka mencatat.

Ada yang pakai notes, ada yang pakai binder seperti anak kuliahan, ada juga yang lebih suka mengetiknya di gadget. Entah nantinya catatan itu dibaca dan diresapi kembali di saat senggang, dibagikan sebagai pengajaran bagi sesama, ataukah jadi caption di media sosial. Semua boleh saja, yang penting tidak berhenti di situ saja dan ada faedahnya. Mengalir. Dialirkan.

Manusia memang ahlinya membendung. Bukan cuma bikin bendungan lho, ya, tetapi berkemampuan untuk mengarahkan dan mengalirkan. Terutama air dan udara. Mulai dari Kaisar Yu yang pertama kalinya berhasil mengatasi banjir bandang di Tiongkok kuno, sampai ke Aang sang avatar airbender. Namun, beda keadaannya kalau sudah menyangkut perkataan dan pikiran. Bukan melulu orang lain yang mampu membendung atau mengarahkan kedua hal tersebut, melainkan si empunya perkataan dan pikiran tersebut.

Mau sekuat apa pun seseorang membendung perkataan dan pikiran orang lain, pasti bisa tetap bocor juga, atau lebih banyak bermunculan yang serupa. Hanya si pemiliknya sendiri yang dapat benar-benar membendung, mengarahkan, menahan, mengendalikan aliran perkataan dan pikiran. Sekali seseorang sudah memutuskan untuk tidak mau mengutarakan perkataan dan pikirannya, terlebih atas dasar alasan tertentu yang kuat, sudah pasti terkunci rapat. Mau dipaksa sekuat apa pun, pasti tak bisa tembus.

Terberkatilah Indonesia, tempat di mana seorang Pram dilahirkan … dan terberkatilah Pram, yang dengan karya-karyanya terus mengalirkan ide, pemikiran, semangat, serta gagasan gerakan sejauh ini. Tengah berada dalam situasi sepelik dan setidak nyaman apa pun, dia tetap menulis. Dia tetap mengalirkan pemikirannya, yang untungnya bukan jadi sekadar lisan, melainkan kumpulan tulisan. Buku, lembar-lembar catatan, sampai kertas bekas pembungkus semen yang diperlakukan laiknya artefak pustaka. Tuh, sedang dipamerkan hingga sekarang, kalau tidak salah.

Selain Pram, tak kurang-kurang tokoh Indonesia yang kita kenal terus menulis, berpidato dan memberikan kuliah terbuka, berdiskusi dengan eloknya tanpa peduli bendungan, batasan, maupun kekangan yang dipasang oleh zaman.

Andaikan mau dipikir-pikir lebih mendalam, kita saat ini sesungguhnya juga demikian. Makin bebas mengalirkan perkataan dan pemikiran tak ubahnya para figur merdeka terdahulu. Bedanya, perkataan dan pemikiran mereka bermanfaat. Bukan semata-mata hal sepele macam ngrasani wong liya, bersungut-sungut, serta bergunjing-gelinjang. Nihil batas.

Ya bisa jadi, dan jelas saja, kita memang tak semendalam, seberwawasan, sepatut, dan semulia mereka-mereka yang terdahulu. Hanya saja, lagi-lagi, mbok ya sedikit jeli saat berkata dan berpikir. Biarkanlah keduanya mengalir sebaik-baiknya keperluan, bukan malah sengaja ditumpahkan begitu saja. Mengganggu orang lain, menyebabkan kerusakan.

[]