#RekomendasiStreaming – Pilihan Tontonan Lebaran 2019

Kita sudah mahfum bahwa yang namanya Lebaran itu berarti liburan. Mau merayakan atau tidak, nyatanya hampir seluruh aktifitas kehidupan di sebagian besar wilayah Indonesia akan melambat atau berhenti sejenak selama Lebaran. Bisa seminggu, atau dua minggu. It’s great, though. Semacam ada tombol pause untuk menghentikan rutinitas sejenak.

Namanya juga sedang santai beristirahat tanpa melakukan kegiatan rutin, kadang-kadang kita tidak tahu apa yang harus dlilakukan untuk mengisi waktu luang. Tiba-tiba kita “mati gaya”. Sepertinya semua acara di televisi dan film di bioskop sudah ditonton, buku malas dibaca, IG stories sudah dibuka, dan linimasa media sosial sudah dilihat.

Saran saya? Tidur. Nothing beats sleeping. Apalagi semakin berumur, makin susah mendapatkan tidur yang berkualitas.

Dan kalau sudah cukup tidur, maka silakan melihat tontonan apa saja yang saya rekomendasikan untuk ditonton selama musim libur Lebaran tahun ini.

Kalau mau binge-watching, maka tontonlah serial …

Made in Heaven

made-in-heaven_46jz

 

Sepintas ceritanya sangat kekinian, yaitu dua orang anak muda mendirikan startup wedding organizer di Delhi, India. Cerita memang bergulir soal uniknya klien-klien mereka yang akan melangsungkan pernikahan. Tetapi yang membuat serial ini menarik untuk diikuti adalah dua karakter utamanya. Tara (Sobhita Dulipala) adalah perempuan ambisius yang berhasil menaikkan status sosialnya dari kalangan menengah ke bawah yang bekerja sebagai sekretaris, sehingga menjadi sosialita kelas atas dengan segala resiko kehidupan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Rekan bisnisnya, Karan (Arjun Mahtur), adalah pria lajang yang mati-matian mempertahankan gaya hidupnya, meskipun harus mengorbankan ego dan harga diri.

Kenapa serial ini menarik? Simply because the characters are real, and each episode is believable. Coret atau ganti kota Delhi dengan Jakarta, misalnya, dan kita akan melihat bahwa cerita dan karakter di setiap episode ini juga terjadi di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan menerimanya.

Serial yang berani, dan tidak judgmental sama sekali. Salah satu serial favorit saya tahun ini.

After Life

AAAABTg8oLTf-YcfkegxA4lWRTReWHwbgyBOSZ-Pz-ks7BPmQDzmQS8LbN1fGkFbxL4YStPV_cqdBTVn1nXEvIS00HRkrbsB1KvBuA

 

Berbeda mood dengan serial di atas yang gegap gempita, maka serial “After Life” ini mengalir dengan tenang, tidak buru-buru, dan cenderung kontemplatif. Namun suasana “kesunyian” itulah yang membuat kita tak bisa berpaling dari serial ini sedikit pun. Ceritanya memang sedih, yaitu cerita tentang Tony (Ricky Gervais) yang mengalami depresi setelah istrinya meninggal karena kanker. Usaha Tony untuk menjalani hidup, dengan segala clumsy yet very human efforts, yang menjadi benang merah serial ini sehingga menjadi serial yang akan membuat kita menitikkan air mata dalam diam. Terus terang ini adalah the biggest surprise in series tahun ini, so far, karena saya tidak menyangka komedian Ricky Gervais yang terkenal dengan acerbic wits yang cenderung mencemooh, bisa membuat tontonan semanis ini.

A Very English Scandal

A_Very_English_Scandal

 

Sedikit warning sebelumnya, kalau anda perlu mengutak-atik VPN untuk bisa menonton serial ini di Amazon Prime. Maklum, miniseri ini tidak masuk di Indonesia. Toh sedikit utak-atik ini worth doing, kok, karena serial ini akan membelalakkan mata kita. Diangkat dari buku berjudul sama, miniseri ini menghadirkan cerita yang nyaris absurd, diangkat dari kisah nyata Jeremy Thorpe, anggota dewan di Inggris dari partai Liberal, yang karirnya hancur karena skandal hubungan homoseksual dengan Norman Scott di Inggris di rentang tahun 1961 sampai 1976. Jeremy (dalam serial ini diperankan sangat baik oleh Hugh Grant) bahkan berkonspirasi untuk membunuh Norman (Ben Whishaw) yang akhirnya menyeret Jeremy ke pengadilan. Bahwa kisah ini terjadi sekitar 50 tahun lalu, namun masih terasa relevan sampai sekarang, menyiratkan sedikit alarming concern atas inhuman injustice yang sangat mungkin terulang dan terjadi lagi. Miniseri ini terdiri dari 3 episode. Sangat singkat, namun karena setiap episode dibuat laiknya film thriller, maka mau tidak mau kita juga deg-degan menontonnya.

Kalau perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial, maka film klasik ini bisa dijadikan pilihan:

84 Charing Cross Road

84_Charing_Cross_Road_poster

 

Tidak banyak film yang diproduksi sebelum tahun 2000 yang tersedia di video streaming platforms di Indonesia. Dari sedikit yang ada, salah satunya adalah film ini, yang diangkat dari buku bertajuk sama. Hampir sebagian besar film berisi voice over aktris Anne Bancroft yang membacakan surat yang dia tulis dari New York untuk penjaga toko buku di Inggris yang diperankan oleh Anthony Hopkins. Kisah mereka dimulai saat Helene Hanff (Anne Bancroft) mencari buku literatur yang tidak bisa dia dapatkan, dan hanya tersedia di toko buku milik Frank Doel (Anthony Hopkins) di London. Dari situ bergulirlah korespondensi mereka selama lebih dari 20 tahun, mengikuti perjalanan hidup masing-masing, tanpa pernah bertemu sama sekali.

Pertama kali saya menemukan film ini tidak sengaja, sekitar 15 tahun yang lalu. Jatuh cinta waktu menonton pertama kali, dan selalu menyempatkan menontonnya lagi setiap beberapa tahun sekali. Film ini sudah berusia lebih dari 30 tahun, namun tetap membuat hati kita terasa hangat saat menontonnya.

Paling tidak sudah membuat kita tersenyum.

Dan semoga libur Lebaran tahun ini meninggalkan senyum buat kita semua.

Advertisements

Mensyukuri dan Menikmati Penderitaan Orang Lain

SAAT berjalan kaki di trotoar dengan paving block bolong-bolong, tiba-tiba ada motor berknalpot bising yang ngebut serampangan. Menyisakan asap putih tebal berbau sisa pembakaran bensin yang khas.

Penumpangnya ada tiga, remaja semua, tanpa helm, dan berteriak sambil tertawa-tawa. Tanpa peduli pengendara lain maupun para penyeberang jalan, mereka selalu ngegas dan ugal-ugalan. Bising, serampangan, dan memusingkan.

Selewatnya mereka, kita merasa terganggu. Muncul rasa tidak senang, bahkan benci di dalam hati. Dorongan utamanya, entah karena kita lihat kelakuan mereka yang serampangan; melaju dan bikin kaget; ada banyak peraturan lalu lintas yang dilanggar; bisingnya suara knalpot yang memekakkan telinga; atau karena kita memang tidak suka saja.

Di ujung persimpangan jalan, ternyata ada polisi yang berjaga. Kaget tetapi tidak bisa menghindar dan salah berbelok, motor tersebut oleng. Jatuh dan meluncur di atas aspal, pengemudi dan dua penumpang sial tadi tersungkur dengan lecet di beberapa bagian tubuhnya.

Teriakan “MAMPOOOS LO!” spontan terdengar dari arah depan, dekat lokasi kejadian. Tanpa sadar, kita juga ikut membatin macam “KAPOK!” atau “SOKORIIIN!” Terkesan ada kegembiraan‒atau lebih tepat berupa kegirangan‒yang diluapkan saat mengucapkannya. Seakan-akan itu sesuatu yang sangat menyenangkan, dan sudah dinanti-nantikan sebelumnya.

Marah yang ingin banget diluapkan.

Contoh di atas menunjukkan adanya kemalangan, sebuah kecelakaan. Tatkala dilihat dari akibat yang terjadi dan siapa yang mengalaminya, para remaja ugal-ugalan tadilah yang bisa disebut sebagai korban. Bukan kita, meskipun sudah merasa sebal dan terganggu saat berjalan kaki; apalagi para warga yang menghamburkan sumpah serapah tadi. Tanpa kita sadari, ungkapan “Mampus!” tadi, atau yang kadang ditambahi menjadi “Mampus lu!” menunjukkan bahwa kita ingin mereka meninggal; menunjukkan bahwa kita berpandangan mereka pantas meninggal saat itu juga.

Apakah dengan demikian kita adalah seseorang yang mengharapkan dan menikmati penderitaan orang lain?

Di sisi lain, apakah kita telah menjadi seseorang yang mampu menilai pantas tidaknya orang lain mengalami kemalangan‒atau sebut saja ganjaran‒dalam hidupnya.

Dalam perspektif yang berbeda, kita kerap terpaku pada pembagian benar dan salah. Dalam contoh kasus di atas, para remaja pengemudi motor ugal-ugalan tadi diposisikan sebagai yang salah. Orang-orang lain, termasuk kita yang merasa terganggu, otomatis memposisikan diri sebagai yang tidak salah.

Sayangnya, dengan menganggap diri sebagai pihak yang tidak salah, mudah sekali membuat kita merasa sebagai pihak yang lebih baik, lebih unggul, dan lebih pantas ada dibanding lawannya. Kembali pada contoh di atas, kita dan sejumlah warga merasa pantas melontarkan sumpah serapah, bahkan sampai mendoakan terjadinya keburukan bagi pihak yang salah. “Mampus lu!”

Haruskah kita merasa biasa-biasa saja dengan sikap yang demikian? Ketika tanpa sadar kita terus-menerus memikirkan hal-hal buruk, mengucapkan hal-hal buruk, sampai ikut melakukan tindakan-tindakan buruk, dan menganggap semua itu wajar-wajar saja dengan dalih “mereka pantas menerimanya” atau “kesabaran itu ada batasnya”?

Susah, sih. Memang.

Okelah, contoh kasus di atas barangkali terlampau sepele, tidak begitu penting. Namun, bagaimana bila kasusnya adalah tabrak lari? Atau perkosaan? Atau penyiksaan anak-anak? Atau anak yang berbuat amat kasar terhadap orang tuanya? Atau korupsi? Beragam hal yang seolah-olah bisa bikin hati kita ikut panas.

Akankah doa kita dikabulkan? Doa yang dipanjatkan karena marah dan benci, doa yang mengharapkan orang lain celaka.

Akankah dikabulkan?

Mohon maaf lahir batin.

[]

Akhirnya Pulang

(malam ke-28, Ramadan 1420 H)

“Kamu belum tidur?”

Andi mengadahkan kepalanya, lalu tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Tanggung, sekalian kelarin unpacking ini. Kopernya ‘kan mau dipakai lagi lusa.”

Ali mengangguk kecil. Dia tersenyum. Bisa dibilang ini senyuman penuh kelegaan. Setelah dua tahun, akhirnya anak bungsunya mau merayakan Idul Fitri di hari pertama bersama-sama, bukan di beberapa hari setelahnya, seperti beberapa tahun terakhir ini.

Ali membuka pintu kamar anaknya lebih lebar.

“Ayah boleh masuk?”

Andi mengangguk.

Ali duduk di kasur anaknya, sambil merapikan baju-baju dari koper Andi.

“Tumben bawaan kamu agak banyak kali ini. Biasanya satu koper kecil juga masih ada sisa. Apa ini terusan kemarin kamu pergi kerjaan itu?”

“Iya. Sekalian aja, jadi gak perlu unpack lagi, terus packing lagi. Malah lebih capek.”

“Apa kamu gak perlu pulang ke rumahmu dulu?”

Deg. Andi terdiam sejenak. Oh God, don’t go there.

“Enggak, Yah. Nanti saja.”

Ali mengangguk kecil sambil menghela nafas, dan memaksakan tersenyum. Lalu dia melihat sekeliling kamar Andi. Lebih tepatnya, yang dulu menjadi kamar Andi. Sekarang kamar ini menjadi tempat penyimpanan barang sementara, terutama barang-barang milik almarhumah istri Ali yang masih sayang untuk dibuang.

“Kamu nggak papa ‘kan, kamar kamu jadi tempat Papa taruh barang-barang Mama kamu?”

Andi tersenyum. “Ya nggak papa lah, Yah. Daripada kamar ini nggak dipakai sama sekali. Lagian barang-barang almarhumah Mama ternyata banyak juga, ya.”

Almarhumah Mama. Dua kata yang buat Ali masih belum biasa buat diterima, meskipun sudah lebih dari lima tahun. Tapi jangan permasalahkan ini sekarang, ujar Ali dalam hati.

Andi melihat sekeliling kamarnya. Lalu dia melihat ke sebuah pigura foto di meja tulis. Foto hitam putih dalam pigura kecil warna coklat. Tertulis di bawah foto itu, “Ali & Nana, Auckland, 1973.” Andi berdiri dan mengambil foto itu.

“Aku kok gak pernah lihat foto ini ya, Yah.”

Andi menyerahkan foto itu ke ayahnya. Ali melihat dan tertawa kecil. “Ini waktu liburan musim panas. Ayah baru kenal Mama kamu di sana. Biasa, kalau di luar negeri, radar kita pasti tahu kalau ada orang Indonesia lain. Apalagi waktu jaman itu ‘kan.”

“Ayah, I have to say, you two really looked cool back then.”

Ali tertawa. “Ya kalau masih muda, bolehlah keliatan cool. Kalau sudah tua, mau keliatan cool malah kayak cool-kas nanti.”

“Idih, Ayah apaan sih garingnya.”

Ali masih tertawa.

Andi ikut tertawa, sebelum sengaja batuk kecil. “Yah, umm … Can I ask you something?”

Ali berhenti tertawa. “Apa, Ndi?”

How are you?”

Ali terdiam sejenak, sebelum berkata, “Ayah baik-baik saja, Ndi.”

I mean … Do you miss her?”

Ali tersenyum. “Ayah selalu kangen, rindu sama Mama kamu, Ndi.”

Andi mengangguk, tersenyum, memikirkan apa yang harus ditanyakan, sebelum akhirnya dia bertanya, “Boleh tahu, apa yang Ayah paling kangenin dari almarhumah Mama?”

Kali ini Ali diam lebih lama. Kepalanya sedikit menengadah ke atas, melihat langit-langit kamar.

tiger-hill

“Semuanya, Ndi. Ayah kangen masakan Mama kamu, ayah rindu jadi imam buat sholat bareng sama mama kamu, ayah juga kangen jalan-jalan sama mama kamu kalau lihat album-album foto lama. Tapi dari semua itu, ayah kangen pulang ke rumah. Ayah kangen ada orang di rumah saat ayah pulang dari masjid atau dari toko. Ayah juga kangen menunggu mama kamu datang dari pasar, dari pengajian, dari arisan. Itu, Ndi.”

Andi tercenung. Tanpa disadari tangannya mencengkeram kursi di meja tulis erat-erat. Ingatannya melayang ke beberapa hari sebelum dia melakukan work trip, di saat dia memilih pergi dari rumahnya daripada harus berkonfrontasi.

That’s nice. That’s nice, Yah. Tapi … apa Ayah pernah bosan di rumah dengan almarhumah Mama? Sorry Yah, but I mean … don’t you guys ever have a fight, or something?”

Ali tersenyum. “Ingat, Ndi, dulu kita beberapa kali pergi berdua, tanpa kakak-kakakmu, kita pergi ke taman bermain? Lalu setelah pulang, ayah selalu belikan buku baru buat kamu, supaya kamu bisa baca di mobil atau di masjid, sementara ayah pergi sebentar?”

Andi mengangguk.

“Saat kamu di mobil atau di masjid itu, ayah biasanya pergi sejenak. Makan sendiri di restoran. Duduk di taman. Ayah perlu waktu sendirian. Terutama kalau setelah ayah beradu argumen dengan mama kamu. Ayah tulis semua kekesalan ayah dengan mama kamu. Tapi ayah tetapkan waktu tidak mau berlama-lama. Ayah tahu kamu biasanya selesai membaca dalam waktu setengah jam, jadi ayah harus selesai menulis semua kekesalan ayah dalam waktu setengah jam juga. Tidak gampang, Ndi, di awalnya. Lama-lama jadi kebiasaan juga. Lama-lama juga, ayah dan mama kamu sudah bisa mengendalikan emosi. Perlu waktu, memang. Dan kamu tahu kenapa ayah cuma punya waktu setengah jam menulis semua kekesalan itu?”

Well, you needed to return me home ‘kan, yah?”

“Dan ayah perlu pulang juga. Sebesar-besarnya ayah dan mama kamu cekcok, ayah dan mama selalu pulang ke rumah. Kalau masih marah, sebisa mungkin ditahan dulu. Ayah dan mama dulu sepakat, kalau masih marah, bisa dilanjutkan besok. Malamnya harus tidur bersama, dan tidak membawa kemarahan ke atas kasur. Tidurnya nggak tenang. Baru setelah bangun esok pagi, ada energi baru. Kalau masih marah, boleh dilanjutkan, selama nggak lebih dari 3 hari. Kalau malas dilanjutkan, toh masih banyak yang harus dikerjakan.”

Andi hanya mengangguk.

“Ndi, kalau ada orang yang menunggu kita pulang ke rumah, artinya kita masih dibutuhkan dan diperlukan keberadaan kita. Kalau kita berada di rumah menunggu orang pulang, artinya kita masih punya sesuatu yang diharapkan atau dituju. Atau di istilah yang pernah ayah baca, something to look forward to each and every day. Kesempatan ini ternyata tidak selalu ada, Ndi. Kalau ada, jangan sampai disia-siakan. Kalau belum ada, kamu harus tetap percaya kalau kamu akan punya kesempatan ini, Ndi.”

Andi terdiam. Matanya mulai berat menahan luapan emosi.

Ali menghela nafas panjang. Lalu dia berdiri.

“Ayah tidur dulu ya, Ndi. Besok masih sahur.”

Andi mengangguk, menutup pintu. Dia duduk di atas kursi dekat meja tulis. Tangannya mengusap-usap bagian atas bibir, sambil berpikir.

Andi mengeluarkan ponsel yang telah selesai di-charge. Dia mulai mengetik.

I am sorry. Can I still come home to you?”

Andi menekan tombol Send. Andi menghela nafas panjang, lalu menutup muka dengan kedua tangannya.

Lima menit kemudian, ponsel bergetar. Andi melirik ke notifikasi di layar ponsel.

Andi tersenyum.

 

Returning-Home

Hati Sebagai Tempat Berteduh dan Berdiam

KETIKA kita ingin pindah rumah atau tempat tinggal, salah satu proses yang paling menyita perhatian dan melelahkan adalah penyortiran barang. Demi kebaikan diri sendiri, kita harus memilih, menentukan, lalu memutuskan. Jika tidak, bukan hanya kerepotan, terlalu berat, dan membuat tempat baru yang semestinya lapang menjadi sesak, sehingga mengulang kesumpekan yang sama.

Berpindah tempat tinggal seringkali bukan sekadar pergantian lokasi. Bisa menjadi titik mula, awal yang baru, atau bahkan hidup yang sepenuhnya berbeda. Oleh sebab itu, dari sekian banyak barang yang telah kita peroleh, kita kumpulkan, kita simpan, dan kita pertahankan di balik dinding rumah selama ini, harus ada yang kita tinggalkan. Bukan lantaran ingin kita lupakan, tetapi, ia seakan-akan bergelayut di kaki kita; menghalangi kita untuk terus melangkah ke depan. Terkadang kita justru diseretnya mundur.

Ia–semua barang tersebut–tak lagi tepat untuk selalu kita bawa ke mana-mana.

Foto: Pexels

Demikian pula hati. Jika diibaratkan sebuah tempat hunian, hati kita lebih mirip sebuah tenda. Portabel, bisa dipasang dan dilepas di mana saja, dan selalu kita bawa sewaktu berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Apabila tenda (hati) itu kita tinggalkan, kita pun menjadi seorang tunawismarasa. Jiwa yang menggelandang tanpa keteduhan.

Setiap titik perhentian, tempat kita bertahan, berhenti untuk sementara waktu, berdiam, dan mendirikan tenda (hati), merupakan fase-fase dalam hidup kita–karena kita menJALANi hidup; karena hidup adalah sebuah perjalanan dengan sejumlah persinggahan.

Sewaktu bertahan dan berdiam, kita membentuk, merasakan, dan meringkuk dalam lingkar kenyamanan kita sendiri. Dalam zona nyaman tersebut, kita terbuai, menolak dan mengingkari kenyataan bahwa segalanya pasti berubah (dan karenanya, perubahan yang datang pun akan terasa lebih mengguncang dan menggetarkan).

Kala perubahan terjadi, titik singgah kita saat ini akan ditinggalkan. Cepat atau lambat, kita harus kembali mengemas tenda (hati) beserta isinya. Lagi-lagi, apakah semuanya akan dibawa?

Foto: Removers.org.uk

Mau berapa banyak yang akan dibawa serta?

Mengapa?

Setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangan yang berbeda-beda. Namun, mereka yang cermat dan sigap–biasanya tertempa pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan, bisa langsung menentukan apa saja yang bakal dibawa beserta tenda (hati) dalam perjalanan menuju titik singgah berikutnya. Perhatian dan tenaga mereka pun disimpan secara efisien, agar mereka tidak dibuat repot oleh hal-hal yang sejatinya sepele. Sebab, walau bagaimapun juga, kehidupan akan terus berjalan.

Kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang tumbuh seiring berjalannya waktu. Ada satu momen ketika kita akhirnya memiliki daftar berisi “hal-hal yang penting” dan “hal-hal yang tidak penting” bagi hidup kita. Isi setiap bagiannya selalu berubah. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Semua yang ada dalam daftar “hal-hal yang penting” pasti kita prioritaskan. Apa saja misalnya, keluarga, orang tua, hubungan asmara, karier, gaya hidup, kepemilikan dan harta, nama besar, popularitas, hubungan sosial, kenikmatan seksual, penghormatan, waktu yang leluasa, anak-anak, pencapaian pribadi, ego, dan masih banyak lagi lainnya. Pasti kita bawa menuju titik singgah berikutnya.

Foto: Storage Monkey

Saat ini, cobalah tengok sejenak daftar-daftar tersebut. Lihat isinya sekejap. Apakah isinya sudah pas, atau ada yang perlu digeser? Setelah itu, bayangkan hal paling mengejutkan, paling liar, atau paling tidak terbayangkan sebelumnya.

Andai apa yang kamu bayangkan tadi terjadi di kehidupan nyata, memaksamu untuk berpindah dari zona nyaman (membongkar tenda [hati] dan isinya), apakah kamu mampu menjejalkannya, memanggul semua isi dalam “daftar hal-hal penting” itu? Atau malah terbebani oleh itu semua?

Supaya dapat berjalan lebih lancar dan ringan, seseorang terkadang perlu meninggalkan begitu banyak hal. Meski harus terasa tidak menyenangkan.

…dan kehidupan pun terus berjalan, bagi kita, dengan hati sebagai tempat bernaung.

[]

Curiosity (Tidak Selalu) Kills the Cat

— seperti yang pernah saya tulis di blog pribadi ratusan tahun yang lalu —

“So.”

“So.”

“How was it?”

“How was what?”

“Was it good?”

“What do you think?”

“Was I good?”

“How do you want me to answer that?”

“Can’t you think of anything?”

“After what just happened, can you?”

“It was pretty something, right?”

“I know, right?”

We laugh.

“What about you?”

“What is about me?”

“How do you feel?”

“Why don’t you tell me?”

“Are you okay?”

“Are you okay?”

“Is it okay then to say that we are okay?”

“Is there a “we” now?”

“Do you want to file a motion against that?”

“Is it something worth doing?”

“What is worth doing to you then?”

“Why don’t you find out?”

“Is that an invitation?”

“Why don’t you just accept?”

“What is the risk?”

“What is life without taking a risk of not knowing anything ahead?”

“Is that how you describe this whole thing?”

“What whole thing?”

“What do you think has happened?”

“Why the questions are getting longer and more complicated?”

“Why do you keep answering my questions with questions?”

“Why do you still continue doing that?”

“Why do you think I keep up with you?”

“Why do you think I keep up with you?”

We smile.

“How long can we do this?”

“How about one day at a time?”

We are still here.

“So.”

“So.”

(From Twitter)

Hidup yang Lapang, Lega, dan Leluasa

RINGAN dan enteng. Perasaan yang selalu kita dambakan dalam hidup ini, baik batin maupun jasmani. Siapa saja yang pernah merasakan beban berat dan dibuat susah karenanya, pasti akan bisa menghargai dan mensyukuri keadaan ketika beban tersebut menjadi tiada. Perasaan ringan dan enteng itu kemudian berubah menjadi kelapangan, kelegaan, dan keleluasaan untuk melihat serta bergerak lebih bebas. Menghadirkan kehidupan yang berbeda.

Foto: Anthony Tran

Yang harus kita lakukan seringkali sesederhana pilah lalu tinggalkan, sebab tak semua hal sepenting itu untuk terus dipikul ke mana-mana. Hanya saja, seberat-beratnya beban fisik, lebih berat lagi beban mental. Beban fisik berupa benda; bisa diangkat sendiri atau bersama-sama. Dapat dilihat, dan dapat dinilai oleh orang lain. Jika sudah tidak diperlukan atau dapat ditinggalkan, cukup diletakkan begitu saja. Bahkan bisa saja langsung dibuang sebagaimana mestinya.

Berbeda dengan beban batin yang gaib, tak kasatmata, dan kerap justru lebih membahayakan dibanding benda nyata. Beban batin belum tentu bisa dibagi. Saat ada keinginan untuk membaginya pun, mesti tetap berlaku hati-hati supaya tidak tambah sakit hati. Apabila tidak tepat, beban batin yang niat awalnya ingin dibagi tersebut bukannya menjadi ringan, malah bertambah berat.

Di antara berbagai cara yang biasa kita lakukan untuk membagi dan mengurangi beban batin, salah satu yang paling digemari adalah menyalahkan dan memojokkan diri sendiri. Padahal, beban batin itu bukannya berkurang, melainkan hanya dialihkan ke kompartemen ego yang berbeda. Ada kompartemen yang dipenuhi puja puji, ada pula kompartemen untuk kehinaan diri.

Jikalau orang-orang yang terlalu positif atau terlampau percaya diri selalu mencari—bahkan mirip kecanduan—validasi orang lain atas keberhasilan serta pencapaian-pencapaian dalam hidup mereka, menyalahkan dan memojokkan diri merupakan kebalikannya 180 derajat. Berupa validasi negatif. Mereka ingin diiyakan sebagai seseorang yang paling malang, paling kurang, paling tidak berkualitas, paling tidak berguna, dan sebagainya di seluruh dunia. Seolah-olah ada kenyamanan ego yang mereka peroleh dari validasi negatif tersebut.

Salah satu ciri khasnya adalah kemampuan melihat segala hal secara negatif. Dalam sebesar atau sekecil apa pun suatu kebaikan maupun prestasi yang diperoleh, selalu saja ada nada sumbang yang dilontarkan. Terhadap hal ini, sebenarnya terdapat dua sudut pandang berbeda. Dari si pengucap, dan para pendengar.

Dengan terus berupaya mendapatkan validasi negatif atas apa pun yang telah mereka capai atau lakukan, si pengucap ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak cukup pantas; biasa-biasa saja; atau terkesan berusaha ingin bersikap rendah hati—meskipun kebablasan, dan pada akhirnya malah ditangkap sebagai kesombongan terselubung.

Sedikit banyaknya, kita pernah bersikap begini, atau mungkin terus berlangsung sampai sekarang. Tanpa sadar, dan terus mengakar kuat.

Foto: Lesly Juarez

Kembali ke pilah lalu tinggalkan. Tak ada yang benar-benar penting untuk dibopong ke mana-mana. Maka, alami sesuatu, dapatkan pengalaman dan kesannya, kemudian tinggalkan. Tidak perlu disanjung-sanjung maupun direndah-rendahkan sendiri.

Hidup minimalis; hanya mengisi hidup dengan hal-hal yang sungguh penting, dan berguna dalam kurun waktu lama. Dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan. Yang tumbuh, bukan muncul begitu saja. Demi kehidupan yang ringan dan enteng, lapang, lega, serta leluasa.

[]

We See Before We Feel

Ini adalah tulisan lama saya, yang pernah saya unggah di sebuah aplikasi jejaring sosial yang sudah tutup. Ada gunanya juga dulu acap kali menulis status yang panjang-panjang, karena saat tidak ada ide untuk menulis di blog, bisa mendaur ulang status-status lama.

Tentu saja tidak semua status masih layak ditampilkan kembali. Perlu sedikit polesan untuk membuatnya up-to-date. Maka berikut ini status lama tersebut yang sudah saya poles sedikit:


As I walked down on escalator, I saw two people in front of me giggling to each other. They randomly pointed at things shown in window displays of some random stores on the floor. Their body languages and facial expressions seem to suggest they’re at the beginning of a romantic relationship.

Funny. I did not smirk. Nor putting on my cynical stare. I could not help but smiling. Just a little smile. I don’t want them to see me smiling at them. I find their brief affectionate display to each other cute.

At that quick flash, I realize that we may be in dire need of love. Right now, at the current state of the world we live in, it could not be any easier to surrender to hatred, pessimism, or loathing.

Life is hard, and it is even harder right now. Especially for us who choose to live our lives freely, thus deemed to be slightly different.

Yet, I am surrounded by people in love. My friends already celebrate their 10th, 12th, 6th anniversary of their relationships. Those who are still single, they do not give up, and they are more than being fine. Those who have been involuntarily single after exiting long-term relationships, they do not give up, and they take their time to be back and up again.

Hey, that’s purely my observation. Eyes can be deceiving, or eyes can be telling the truth.

I often smile looking at and reading their posts that show their affection to one another. I often laugh reading their internal jokes, despite my lack of understanding.

Maybe that’s what we need to have a tiny assurance that life is still worth living. That love is all around.

Love, that we may not experience on our own.

But seeing others having and showing their love, that already gives us hope.

(Taken and nurtured by yours truly.)

(Amazing how not getting a ticket to watch a film can do to you. Who are these people filling up an entire cinema on Wednesday night?! Bloody hell! Your grandpa’s cinema. Bioskop e mbahmu.)

Tutur Bahasa Indonesia Nan Adiluhung … atau Ambigu?

SETIAP orang Indonesia yang sudah cukup dewasa dan tidak punya masalah komunikasi lisan tampaknya akan selalu memiliki kemampuan ini; memahami maksud tersembunyi lewat pesan yang tak diucapkan secara terang-terangan.

Jadi semacam rahasia umum, atau kesepakatan bersama, bahwa ketika seseorang mengatakan sesuatu, yang dia inginkan sebenarnya ialah sesuatu yang berbeda. Kita pun akhirnya ikut terbiasa, lantaran terus-menerus terpapar dengan pola seperti ini, dan justru turut paham pesan yang disampaikan. Terutama berupa ungkapan-ungkapan khas.

“Tolong kamu apakan dulu itunya biar dia bisa bagaimana lah. Tolong, ya.”

Saat mengutarakan ini, tentu terikat pada konteks tertentu yang berlangsung saat itu. Kalau tidak, semuanya bakal berantakan dan menjadi tak jelas arahnya; apanya yang diapakan, supaya tidak bagaimana?

Ada tingkat kepercayaan diri‒atau beda tipis dengan arogansi‒yang tinggi ketika seseorang mengucapkan celetukan ini, yaitu bahwa kepada siapa pun pesan ini ditujukan, yang bersangkutan haruslah paham dan langsung mengerjakannya. Tanpa perlu bertanya ulang, meski sekadar memastikan.

“Tahu sama tahu.”

Ada asumsi dalam pernyataan ini, bahwa semua pihak yang terlibat dalam pembicaraan sudah memiliki pemahaman yang sama terhadap sesuatu. Selaras antara yang diminta, dan yang bisa diberikan, tanpa keberatan, tanpa sanggahan, tanpa penolakan. Menjadi semacam kode universal, tanpa mempertimbangkan kemungkinan adanya ketidakcocokan, perlunya penyesuaian, dan perubahan lebih lanjut.

“Ya begitulah…”

Begitu yang gimana? Entah apakah pihak pendengar yang harus menebak sendiri, atau pihak penyampai yang malas menjelaskan lebih jauh?

“Pokoknya beres.”

Pernyataan ini pada dasarnya disampaikan untuk memberi dan mendorong rasa tenang, atau rasa terjamin terhadap sesuatu kepada si penerima pesan. Maksudnya adalah, tidak perlulah pusing, cemas, khawatir, atau bersusah payah memikirkan sesuatu bakal berjalan lancar dan baik atau tidak. Percayakan saja, dan semuanya pasti sesuai keinginan.

Masalahnya seringkali ada pada kesamaan standar dan kesepahaman mengenai capaian yang diinginkan. Beres menurut seseorang, belum tentu sama beresnya menurut orang lain. Dengan demikian ada reputasi yang dipertaruhkan, sebab ucapan ini diucapkan oleh si pelaksana, yang mengerjakan sesuatu tersebut.

“Tolong dikondisikan.”

Setiap kali mendengar ungkapan ini, saya langsung bertanya dalam hati tentang kondisi seperti apa yang diinginkan oleh si pengucap? Apakah bersifat positif atau negatif? Apakah berupa tindakan tertentu, atau justru harus disikapi dengan tindakan khusus?

Mempertanyakan kembali kondisi “kondisi” yang diinginkan pada saat ini disampaikan, dapat menimbulkan kesan ketidakmampuan memahami maksud sejak awal. Bisa juga dibarengi sentimen ketidaktepatan dan ketidakcermatan saat menjalankan tugas. Mau tidak mau harus mampu paham dalam ambiguitas dan ketidakjelasan.

Pada saat ungkapan ini disampaikan, sebenarnya wajar bagi siapa pun yang mendengarnya untuk bertanya-tanya apakah si pengucap memang sedang hemat bicara, atau malah juga tidak paham apa yang sebenarnya dia inginkan.

“Bisa kurang lebih lah.”

Seberapa jauh batasnya? Sesedikit apa kurangnya, dan sebanyak apa lebihnya? Lagi-lagi, kedua pihak sebaiknya memiliki pengertian yang sama, demi menghindari perselisihan lebih lanjut. Karena bagaimanapun juga, diperlukan negosiasi yang gamblang untuk mengetahui titik tengah bagi semua pihak.

Di pasar atau pusat perbelanjaan umum, persoalan kurang lebih bisa dibantu dengan nominal angka. Namun, untuk perihal yang lain, tetap ada kemungkinan ketika sedikit menurut satu pihak, tetapi masih kebanyakan menurut pihak lainnya.

“Atur aja…”

Memiliki karakteristik yang agak berbeda dibanding yang lain, ungkapan ini menunjukkan sikap keterserahan. Bukan pasrah, melainkan kesediaan aktif untuk menyerahkan atau mempercayakan penanganan dan penyelesaian sesuatu kepada orang lain.

Dalam situasi tertentu, ungkapan ini juga bisa mengesankan keinginan untuk tidak mau repot, tinggal menunggu dan menerima hasilnya. Termasuk di dalamnya kecenderungan untuk tidak ambil pusing, dan tidak terlalu mau tahu dengan metode maupun cara yang digunakan.

“Mohon kebijaksanaannya.”

Sisi ambiguitas dari ungkapan ini terletak pada seberapa bijaksana kedua belah pihak dalam masalah yang terjadi? Meski terdengar seperti sebuah permintaan pasif, akan tetapi pada dasarnya terdapat ekspektasi atau keinginan yang harus dipenuhi.

Setiap orang bertindak dengan, dan memiliki tingkat kebijaksanaan yang berbeda. Bijaksana bagi seseorang, belum tentu menyenangkan atau sesuai keinginan orang lain. Pasalnya, ada banyak hal yang patut dipertimbangkan bila terkait dengan kebijaksanaan. Sikap bijaksana itu adil, jelas, objektif, dan tidak bias. Dengan demikian, dalam banyak situasi kita bisa melihat bahwa ungkapan ini lebih condong kepada sebuah permintaan yang didasari pada aspek-aspek subjektif. Termasuk mengkamuflase emosi dan simpati.


Di era ini, kala segalanya bertambah laju dan kencang, tak semua orang memiliki ketahanan dan kemampuan untuk mengikuti alur pembicaraan. Baik yang berupa basa-basi berkedok sopan santun dan tata krama, maupun bahasa-bahasa bersayap yang tersirat.

Sementara keseharian kita sudah sedemikian melelahkan, rasanya terlalu berharga memboroskan stamina maupun tenaga untuk munafik dan berpura-pura.

[]

Mom-ster


Aku dimarahi Ibuku di depan anak dan istriku. Katanya aku seperti anak kecil. Tidak mau menemui Ibuku dan lama tak mau menyapa dirinya. Aku dimarahi habis-habisan. Suaranya bagai halilintar. Agak bergetar. Tanda amarahnya belum usai. 

Aku bertanya-tanya dalam hati kapan aku dimalinkundangkan. Dikutuk menjadi batu. Gara-gara melukai hati seorang Ibu. Sekaligus aku mengingat-ingat, waktu Ibu Malinkundang menjadi seorang yang terluka, apakah suaminya masih ada. Karena agak berbeda antara Malinkundang dan aku. Mungkin saat itu dia sudah berstatus yatim. Kali ini Ayah saya masih ada dan menjadi pemandu sorak ibuku untuk terus semangat memarahi aku. “Betul Bu, hajar terus Bu”.

Mungkin cara masturbasi orang tua dan anak muda memang sedikit agak beda. Kita-kita, para lelaki, masih dengan bantuan oli, sedikit sabun, atau lotion buat body. Ortu masa kini bermasturbasi dengan cara yang baru aku ketahui malam ini. Sedikit pulsa atau bantuan wifi, nyalakan video call, lalu tak peduli apakah anak-anaknya sedang enak suasana hatinya, sedang makan malam keluarga, atau sedang berbahagia bersama keluarga kecilnya. 

Untungnya aku tahu masturbasi itu sama dengan onani. Kalau kentang, pasti rasanya tak senang. Maka ketika sibuk memarahiku, aku menerapkan strategi Abu Bakar Baasyir ketika ditanya Penyidik Densus 88: Diam. Apapun yang dikatakan Ibuku, aku diam.

Kamu cengeng. Kamu tak pantas. Kamu-kamu-kamu-kamu.”, entah ada berapa kamu yang disampaikan kepadaku. Aku tetap diam. Aku kembali meneruskan makan mi goreng yang sebetulnya dipesan buat anakku. Aku habiskan saja. Anakku menangis. Bukan karena melihat bapaknya dimarahi neneknya, melainkan karena bapaknya menghabiskan mi goreng kesayangannya.

Bagaimana nasib istriku. Dia tak kuat melihat suaminya dimarahi lewat video call. Dia meringkuk sendiri di pojok ruang. Sembari nyetel Youtub Baim Wong sibuk membagi-bagi uang kepada orang kecil dan berharap dapat uang dari Yutub. Wah keren!, aku sempat berpikir di sela kesibukanku dimarahi ibu.

Aku sudah banyak makan buku. Aku mengingat-ingat apakah selain kisah Malinkundang ada kisah lain tokoh jagoan yang selamat ketika dimarahi Ibu. Aku ingat seorang Rasul memerintahkan untuk hormati Ibu, Ibu dan Ibu. Aku agak menyesal tak pernah mengikuti kisah Dewi Kunti, atau kisah Drupadi, dan kisah-kisah epos semacam itu. Bisa jadi ada sedikit celah buatku untuk merehabilitasi diri bahwa dimarahi Ibu itu biasa saja. Aku ingin segera menghibur diri. Aku sudah takut akan menjadi batu.

Tak berhasil. Ibuku masih memarahiku. Kalimatnya deras melebihi debit arus kata Jason Ranti dalam lagu Doa Sejuta Umat. Maknanya makin jelas. Kata-katanya makin pedas.

Aku semakin merawat memoriku. Aku mencari folder apa saja kesalahanku selama ini. Belum juga ditemukan. Apakah masuk recycle bin ingatan? Seharusnya tidak. Aku tidak pernah menghapus ingatan. Bahaya, tak perlu dirawat, otak dan jalanpikirku seharusnya diruwat.

“Ya Tuhan, lindungi aku selalu. Ya Tuhan, jagalah aku selalu, dari nabi-nabi palsu. Jualan yang menipu. Isi ceramah yang jauh. Karena Gusti ada di hati. Kurasa Gusti tinggal di hati. Yeah!”

Surga ada di kaki Ibu. Maka sepertinya harapan masuk surgaku habis sudah. Aku berencana jika telah usai video call ini, aku mencari orang dalam yang bisa tahu seperti apa wujud neraka. Persiapan apapun percuma, kata orang-orang yang beragama timur tengah, neraka tak bisa dibayangkan. Isinya buruk semua. Kamu disiksa, tersiksa. Kamu tak akan kuat menahan derita. Kamu baru akan merasakan amarah Tuhan. Neraka adalah Maha-Tempat-Derita.

Ibuku terus berbicara. Aku melihat waktu. Sudah lebih dari 15 menit. Aku masih sibuk dalam diam. Mulutku terkunci. Anakku masih asyik makan mi goreng sisa. Istriku entah kemana, sepertinya pergi ke balkon dan menenangkan diri.

“KOK DIAM? KAMU KIRA IBU RADIO BODOL KAIN ROMBENG LAP PEL CUCI MOBIL KANEBO KERING..ING..ING..”

Aku tak sempat bertanya-tanya lagi dalam hati, eh Ibuku mematikan video callnya tiba-tiba.

Aku ternganga tiba-tiba hening telepon adalah sesuatu yang begitu asing. Aku keluar kamar. Mencari istriku. Dia masih terdiam, namun bukan lagi di pojokan.

Aku menyalakan rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam.

Kupandangi wajahnya lalu berkata lirih: “Enak ya kamu, Ibumu telah lama mati..

Mencegah Hampa

What is left after the party ends?

Beberapa tahun lalu, saat usai mengerjakan sebuah event internasional yang menguras banyak tenaga, salah satu anggota pengurus festival ini datang untuk memberikan ucapan selamat kepada saya. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan gambaran singkat tentang hasil acara, beliau berkata kepada saya, “Now you need to make sure how to fill the void afterwards.

Waktu itu saya hanya tersenyum, sambil setengah bingung dengan apa yang beliau maksud. Baru beberapa tahun kemudian, pelan-pelan saya mulai paham.

Belasan tahun saya berkecimpung di profesi yang mengharuskan saya dan tim bekerja keras selama berbulan-bulan untuk membuat acara dalam hitungan hari dan minggu, terus terang ada perasaan “kosong” saat acara berakhir. Mendadak ada gap atau kekosongan dalam diri yang menyeruak dan memaksa kita untuk deal with it immediately. Sebuah perasaan yang terus terang tidak enak dijalani, terlebih karena selama berminggu-minggu sebelumnya selalu berinteraksi dengan banyak orang secara intense. Ada yang bilang, namanya post-event blues. Sekarang mendadak harus sendirian lagi, kembali ke rutinitas lama lagi.

Perasaan ini dirasakan juga bagi mereka yang mempersiapkan pernikahan, acara kumpul keluarga besar, reuni akbar, atau jenis acara lain yang memerlukan persiapan dalam waktu lama bersama banyak orang. Setelah acara usai, semacam ada kehampaan, sekaligus rindu yang mendadak akan rutinitas dalam kebersamaan.

Kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan? Well, ini adalah versi saya selama ini.

Tidur. That’s the first thing to do right after the big event ends. Berhubung saya tidak terlalu suka suasana pesta, kalau memang terpaksa harus datang ke post-event party, maka datang seperlunya saja, yaitu meluangkan waktu sebentar untuk “setor muka”.

Setelah itu, kembali lagi ke tujuan utama, yaitu tidur. Apabila perlu, check-in ke hotel dekat tempat acara. Jangan di tempat acara, karena pasti tidak tahan untuk mengurus hal-hal kecil terkait acara kita di sana.

Lalu batasi komunikasi dalam 24 jam ke depan. Pasti gampang sekali tergoda untuk berbagi candaan, foto-foto di grup WhatsApp atau aplikasi obrolan lainnya bersama teman-teman kerja. Sebaiknya cukup chat seperlunya saja, seperti “Thank you all!“, atau “See you pas pembubaran panitia, ya!” Berhubung kita tidak mungkin mematikan ponsel (karena kita perlu pesan makanan dan bayar lewat aplikasi, bukan?!), maka gunakan ponsel secukupnya saja.

Ini termasuk tidak membuka email kerjaan untuk sementara waktu. Silakan atur waktunya sendiri, bisa 12 jam setelah kita bangun tidur, atau mau 24 jam setelahnya juga tidak apa-apa, selama kita bisa mengatur ritme kerja kita. Work can wait, proper rest cannot.

Yang belum saya bisa lakukan adalah log out sementara dari media sosial. Seharusnya ini pun bisa dilakukan, karena godaan untuk selalu update masih ada di lain waktu.

Yang bisa saya lakukan untuk mengistirahatkan pikiran setelah tidur cukup adalah membaca buku yang tidak terkait pekerjaan saya, menonton serial yang tertunda, mendengarkan musik dan menghabiskan waktu untuk benar-benar tidak memikirkan urusan lain yang belum beres.

Dan 24 jam kemudian, baru kita mulai membereskan dan merapikan lagi apa yang tersisa, sambil pelan-pelan back to reality dan bekerja lagi.

We all need rest in order to work.

Selamat bekerja!

Mengapresiasi dan Berterima Kasih

LANGSUNG saja. Terpujilah pergelaran-pergelaran gratisan, terberkatilah orang-orang yang memungkinkan semua itu terjadi, serta sepatutnyalah bersyukur mereka yang berkesempatan hadir dan menikmatinya. Beruntung, semua itu kian sering ditemui di banyak kota–yang besar maupun yang sedang–di Indonesia.

Termasuk yang telah, dan tengah saya alami saat ini, di Jakarta.

Melewatkan kesempatan menghadiri seremoni pembukaan Europe on Screen (EoS) 2019–festival film-film Eropa terkurasi yang digawangi oleh Mas Nauval–Kamis pekan lalu (18/4), baru semalam saya kembali menikmati pengalaman mengantre tiket gratisan; memilih tempat duduk secara bebas; melihat official bumper video/opening title video dari EoS 2019; dan menonton film yang sudah dijadwalkan.

Sebuah kebetulan banget, judul yang diputar tadi malam adalah “Terra Willy”, film animasi komersial yang akan beredar di bioskop mulai bulan depan. Menonton dan menikmati festival, mengambil sejenak jeda dari hiruk pikuk kehidupan keseharian yang penuh dengan aksi kejar-kejaran, untuk dibuat merasa gembira setelahnya.

Film yang menyenangkan!

Dari sampul bukletnya, EoS tahun ini tetap hadir di banyak kota selain Jakarta. Dimulai dari yang paling dekat; Tangerang, dan Bekasi, disusul Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, serta Medan. Berlangsung hingga penutupan festival di 30 April mendatang. Masih sampai seminggu lagi.

Cek dan simak katalog filmnya di situs EoS. Silakan pilih judul-judul dari total seratusan karya yang tersedia, tanggal dan waktu, serta lokasi menontonnya. Tak ada perbedaan metode dan mekanisme dibanding EoS tahun-tahun sebelumnya, kecuali ada kartu penanda keanggotaan di penyelenggaraan tahun ini.

Terima kasih, Mas Nauval dan tim yang kembali menghadirkan EoS tahun ini.


Mencerap. Dicerap. Tercerap.

Begitu pun beberapa pekan sebelumnya. Sekali lagi, sangatlah beruntung warga kota ini, dilimpahi sedemikian banyak wadah ekspresi seni beraneka kaliber secara rutin. Tinggal pilih untuk dikunjungi, dinikmati, dan diapresiasi.

Adalah pameran objek-objek instalasi dan spasial “The Monster: Chapter II Momentum” dari Pramuhendra, yang sepenuhnya disajikan bugil tanpa curatorial note atau catatan karya. Berlangsung di gedung utama Galeri Nasional Indonesia, gelap, dan sepenuhnya bernuansa Katolikisme.

Salah satu karya yang paling menarik perhatian saya adalah–entah, apa judulnya–kolam ketenangan. Gelap, hening, sunyi, tertutup, hampir tanpa intervensi luar. Hanya ada sesorot cahaya, penerangan yang diarahkan ke tengah-tengah kolam dangkal persegi panjang beralas kain warna hitam, tempat sebuah replika bebas burung merpati (perlambang kedamaian) ditempatkan. Kecil, nyaris tak dikenali dari posisi pengunjung, tetapi mencuat mengemuka. Lagi-lagi beruntung, datang kala sepi, sehingga memiliki kesempatan lebih lama untuk jongkok sendiri tercerap dalam suasana yang coba dihadirkan sang perupa.

Ingin duduk, bersila di bibir anjungan kolam buatan, layaknya posisi lazim meditasi, lantaran–meditatif–tampaknya itulah yang ide dasar yang disuguhkan sang seniman.

Mencoba bertafakur.

Sampai akhirnya diingatkan seorang penjaga yang berkostum jubah biarawan Katolik asketis, berwarna cokelat, bertudung dengan ujung lancip menghadap ke atas, dan menutup hampir keseluruhan wajah, berikat tampar di pinggang.

Kendati nyaring, suaranya terdengar berjarak. Sejauh kesadaran realitas dengan pusaran kesan yang muncul di situ.


Saya yakin, terdapat berbagai pergelaran atau pun pameran seni lainnya yang sedang berlangsung saat ini selain kedua kegiatan di atas. Punya waktu dan minat, cobalah hadiri. Sendirian atau bersama teman, sama saja. Sama asyiknya.

Cukup datang, masuk, mencoba memahami sebisa mungkin, atau langsung saja berusaha menikmati yang ada, mengamati kesan dan persepsi yang ditimbulkan, untuk kemudian menjadi seseorang dengan pengalaman yang telah diperkaya. Walaupun sedikit. Setidaknya, memunculkan dorongan supaya mengapresiasi, dan berterima kasih.

Pengin rasanya kapan-kapan bisa hadir dan menyaksikan gelaran lain di kota-kota lainnya. Apalagi kalau ada di … Samarinda.

[]

Cinta Jangan Terlalu Cinta, Benci Jangan Terlalu Benci

HARI ini kita memilih. Semuanya digabung jadi satu. Mulai memilih anggota DPRD di kota dan ibu kota kabupaten masing-masing sampai calon presiden, yang untungnya—atau malangnya—hanya terdiri dari dua pasangan. Keduanya pun sama-sama wajah lama, beda kiprah dan ranah saja. Yang satu petahana, yang satu lagi gigih unjuk diri untuk sekian lama.

Wajar jika ada yang suka maupun tidak suka terhadap masing-masing pasangan calon. Bukannya muncul begitu saja, preferensi atau pendapat itu muncul dengan segala alasan, pertimbangan, dan narasinya. Bedanya, ada yang tumbuh dari kesadaran dan pemahaman atas pemikiran sendiri; lalu sebaliknya, ada juga yang didasarkan pada rasa percaya terhadap orang lain, dipengaruhi pendapat orang lain, atau boleh disebut indoktrinasi.

Baik kelompok yang mendukung maupun menolak pun sama-sama terbagi dalam beberapa spektrum. Dari yang paling garis keras, hingga ke paling lembut hampir datar. Namun, barisan paling fanatik, berisik, mendengar dan melihatnya saja bisa bikin terasa melelahkan yang paling mengemuka, paling sering tampil, paling sering memenuhi media lewat segala perangainya. Seringkali sampai membuat kita terusik.

Kedua kubu memiliki semuanya, tetapi proporsi atau jumlahnya yang tampaknya berbeda.

Asumsinya, makin banyak pendukung yang fanatik menunjukkan bahwa ketokohan yang tertanam sangat kuat, tidak lupa, sekaligus potensi kehilangan kemampuan melihat secara objektif, terbuka, dan kritis. Hanya seorang pemimpin megalomania beserta para kaki tangannya yang picik, yang nyaman dengan situasi ini.

Sebagai sesama manusia pun, kita sama-sama tidak punya kemampuan menebak isi hati dan pikiran seseorang.

Foto: Jon Tyson

Sementara itu, selain kelompok pendukung maupun penolak, ada pula kelompok yang tidak keduanya—atau bahkan tidak peduli terhadap keduanya.

Ada yang bersikap tidak peduli lantaran sudah apatis dan patah harapan (patah harapan kepada sistem, kepada figur, kepada keadaan, dan sebagainya); ada yang bersikap tidak peduli lantaran malas mencoba lagi; ada yang bersikap tidak peduli sebagai bentuk protes dan mogok berpartisipasi; ada yang bersikap tidak peduli karena mengambek segala sesuatunya dirasa tidak sesuai keinginan dia; ada pula yang bersikap tidak peduli karena … ya, tak peduli saja, malas gerak.

Terlepas dari pengotakan di atas, pada dasarnya semua orang sama dan setara. Tidak ada segolongan pun yang lebih tinggi atau lebih rendah dibanding yang lain dalam hal kedudukan sosial. Riak dan gesekan yang ditimbulkan memang kerap bikin gemas, jengkel, dan geregetan. Hanya saja—menurut saya—itu tak ubahnya pergaulan kita sehari-hari. Ada yang bebal, ada yang sabar, ada yang pintar, ada yang licik, ada yang tak acuh, ada yang tulus, ada yang berjiwa besar, ada yang kecut hati, ada yang menyenangkan, ada yang mengesalkan, ada yang bikin males, ada yang bikin rindu … dan tentu saja mustahil berharap semua orang bisa bersikap sesuai yang kita inginkan. Lagipula, belum tentu semua yang kita pikiran, rencanakan, dan inginkan bakal membawa dampak positif serta rentetan hal-hal baik sesuai bayangan sebelumnya.

Cobalah untuk selalu menyisakan ruang hening dan tenang dalam hati, supaya tidak terlampau sesak. Kemudian, mari saling melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Ini berlaku bagi semua. Mau “cinta”, “benci”, atau pun “tak peduli”, toh semuanya berakhir hari ini.

Ya … seperti hari ini. Sebesar apa pun sebuah pesta (juga anti pestanya), pasti akan usai pula. Mau tidak mau, bersiaplah untuk besok. Sebab kehidupan itu mestinya terus moving on, bukan mandek.

Selamat memilih, bagi yang memilih.
Bagi yang sengaja melewatkan kesempatan memilih, selamat libur panjang. 😊

[]

For 40

People say, “age is nothing but a number”. I say, that’s a bull.

Hari ini, umur saya genap mencapai 40. Jujur, perasaan yang berkecamuk di diri saya menjelang tibanya hari ini adalah I am scared.

Apalagi saya ingat betul, apa dan bagaimana ayah saya saat beliau berusia 40 tahun. Selain dia sudah punya anak lebih dari satu saat itu, lalu sudah menikah dengan ibu saya, yang mana kedua hal ini memang menjadi pilihan hidup yang tidak akan saya tempuh, tapi ada hal-hal lain yang rasanya belum bisa saya capai, sementara beliau (seperti) sudah mencapainya.

Kedewasaan, kematangan, ketenangan dan kesejahteraan saat umur sudah mencapai titik tertentu, rasanya masih jauh dari genggaman.

Of course we cannot stop comparing and looking up to our parents, can we?

Di sisi lain, saya sadar, kami hidup di dekade yang berbeda. Apa yang saya telah jalani selama ini, belum tentu beliau jalani. Dan itu mempengaruhi jenis pencapaian yang saya rasa sudah, belum, akan dan tidak akan saya capai. Yang juga terpengaruh adalah cara pikir dan cara memandang hidup.

Dan dari sudut pandang kedua hal itulah, maka saya mau berbagi 40 hal yang saya percayai, jalani, kadang-kadang saya hindari, sesekali saya curi dari sumber lain, dan beberapa yang saya tunggu, buat Anda:

 

1. It’s not about how much we make. It’s always about how much we save.

2. Write down your thoughts. They may be silly, they may be simple, but your memory and brain will thank you for doing that.

3. Physical exercise saves our life. This is coming from a guy who hates sports for 25 years of his life.

4. Listen to all kinds of music in formative years. You will reminisce each one of them later on with fond memory.

5. Try your hand at doing service jobs. Being a shop attendant, being a waiter or waitress, being a customer service, do it when you can. You will appreciate other people better.

6. Religion is a very personal and private matter. Don’t shout, yell, or show off your private conversation with your god.

7. Education, education, education. You can tell a lot about a person’s education from the way they write email and converse with you, or how they behave.

 

IMG_3606

 

8. Own a house before vehicle.

9. Start a day with water, end a day with water.

10. Spare time to read a well-written novel. Our brain always needs stimulation to fantasize.

11. Everybody loves movies. That’s why there’s always endless possibilities with, “What’s your favourite movie?”

12. Everybody has many favourite movies. Never judge them. Find out why they are appealing to them.

13. You may flaunt, but leave a lot to imagination. It will make people wonder more.

14. Forgiveness, asking for or accepting, is hard. One day at a time.

15. Lust does not last. Love does.

 

IMG_0785

 

16. When you fall in love hard, you will fall out love equally hard. You may not be prepared for the latter, but always realize this.

17. Keep a hobby that makes your mind occupied, and beams your face with smile.

18. Cashless may be convenient, but always keep spare cash at home. Piggy bank with coins always comes to rescue you at many unexpected times.

19. Eat to live, not the other way around.

20. Friends do come and go. Memories of all kinds with them will stay.

21. Renovate your house every 5 years. It will do wonder to your life.

22. Never make a life-changing decision when you are angry or happy.

 

IMG_3092 copy

 

23. Poker face is the go-to expression in any circumstances.

24. Treasure each moment when you lose your sleep over someone, when you cannot stop thinking of someone. Those moments never come back.

25. Send someone a hand written letter. You will make them smile.

26. Your friends, parents, loved ones will forget your birthdays, anniversaries, skip your big moments. Never make a big deal about it.

27. Virtual followers will come and go. Don’t hold on to them too dearly.

28. To write is to preserve our mind and memory. Keep doing it regularly.

 

IMG_0363 1

 

29. Hate is a very strong word. Use it when we already run out of other words.

30. Listen to music. It says words we cannot say.

31. You may not be wealthy. But you know how and where to earn money.

32. We don’t need much to live.

33. If you cannot find happiness, try sleeping at night for 8 hours. Do it at least for 3 days.

34. People share their stories to us not to seek any solutions. They just want to be heard. We just want to be heard. So we listen.

IMG_3097

 

35. Allergies, never-before-contacted diseases, they start knocking on our door in our 30s. Welcome them. Embrace them.

36. Once we do a good deed, immediately forget about it.

37. These following words matter the most: “Thank you”, “I’m sorry”.

38. There is a thin line between being kind and being firm. You don’t have to explain to others every time.

39. Our parents have only one chance to raise and love us the best ways they know how.

40. We do not know anything at all. We never will. We can only keep figuring out. That’s why we live.

IMG_1301

 

Selamat menjalani hari.