Bucin, Realitas Elusif, dan Derita Sukarela

SEBUAH derita bukanlah penderitaan jika belum disadari dan diterima sebagai demikian. Derita–segala sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan hati–biasanya baru disadari sebagai sebuah penderitaan setelah dampaknya mulai terasa. Padahal derita, seperti segala hal terkondisi lainnya, selalu memiliki penyebab dan tanda-tanda. Termasuk hal yang satu ini.

Itu kata Chu Pat Kai (豬八戒), tokoh fiktif dalam kisah “Perjalanan ke Barat” (西遊記) yang harus mengalami seribu kali patah hati dalam setiap reinkarnasinya, bentuk hukuman karena berupaya merudapaksa dewi penghuni bulan. Sayangnya, dalam hal ini Wu Cheng-en, sang pengarang, merancukan antara cinta dan berahi, dua hal yang sejatinya tidak koheren mutlak.

Pertanyaannya, apakah derita cinta hanya mewujud setelah terjadinya patah hati, hilangnya cinta, padamnya kasih, khianat, atau dua orang yang tak lagi bersama? Adakah derita cinta yang justru diterima sebagai sebaliknya? Sebuah rasa keterpenuhan, misalnya, hal yang dirasa patut dilakukan, dan justru memberikan rasa puas; kepuasan setelah kita berhasil menunaikannya.

Menjadi budak cinta, atau bucin, ialah mereka yang sebenarnya dibuat/merasa menderita secara sukarela karena cinta dengan seperangkat latar belakangnya. Termasuk “at the end, it’s all worth it. It’s all worth fighting for.” Tetap ada perasaan susah dan hati yang berat ketika hal itu terjadi, tetapi luput disadari sampai akhirnya terasa kian menyakitkan.

Servitude.

Kapankah “at the end” tersebut?

Hanya ada dua hal di dunia ini, yakni bahagia dan derita. Sejauh ini, dunia pun telah membentuk anggapan bahwa bahagia dicapai dengan meniadakan derita. Dari situ, kita cenderung lebih fokus pada hal-hal yang menyenangkan, yang kita dambakan, yang mati-matian ingin kita capai. Di sisi lain, kita abai atau bahkan sengaja menjauhkan diri dari mengamati hal-hal yang menderitakan, penyebab derita.

Seperti sabda Epikuros bahwa kebahagiaan tak akan terpengaruh rasa sakit fisik, dan bentuk-bentuk kesakitan lainnya. Termasuk rasa takut.

Banyak yang tidak menyadari bahwa (sesuatu yang dikira) bahagia dan derita dalam cinta hanya setipis rambut perbedaannya. Realitasnya menjadi samar. Ketiadaan derita menimbulkan bahagia, dan usainya momen-momen bahagia pun kembali menimbulkan situasi derita. Hanya saja, lagi-lagi karena keberserahan dan kesukarelaan, sebuah derita tidak disadari dan diterima sebagai demikian.

Kebebasan

Seseorang yang merdeka menjaga dan berusaha mempertahankan kebebasannya sebagai individu. Dengan cinta, seseorang merelakan kebebasan tersebut, mengurangi atau bahkan menyerahkannya secara sukarela. Derita tak lagi dianggap sebagai derita, lantaran tidak memberatkan dan menyusahkan hati. Derita justru muncul jika terjadi yang sebaliknya; ketika kita gagal, tidak mampu, merasa dihalangi, terkendala, dan pada akhirnya tak bisa melakukan yang kita inginkan–servitude.

Perjumpaan

Karena cinta, sebuah perjumpaan bisa sedemikian membahagiakan. Kemudian berakhirnya perjumpaan–perpisahan dan rasa rindu pun bisa menyakitkan. Bahagia berubah jadi derita. Kendati jumpa-tidak jumpa ialah kondisi alamiah yang tak terhindarkan. Sedetik sebelumnya bahagia dengan hati berbunga-bunga, sedetik berikutnya malah terasa merana.

Pemberian

Pada hakikatnya masih senada dengan dua poin di atas, pemberian atas nama cinta dianggap bisa menimbulkan bahagia. Bahagia karena telah mampu memberikan yang dia inginkan, walau tidak diminta secara langsung. Bahagia karena telah mampu membuat dia bahagia.

Pemberian dalam cinta bisa berbentuk hampir apa saja, tangible dan intangible, mulai dari barang hingga perhatian, mulai dari minta dibawa jalan-jalan hingga keperawanan (btw, memangnya ada yang minta keperjakaan?) Saat sanggup diberikan, rasanya menyenangkan. Begitu pula sebaliknya. Hati didera kekhawatiran sendiri, menjadi bulan-bulanan kecemasan sendiri.

Apakah salah? Entah.
Apakah tidak salah? Entah.
Bagaimana yang benar? Entah.
Bagaimana supaya tidak salah? Entah.

Kamu sendirilah penentu bahagia dan derita. Derita belumlah menjadi sebuah derita sebelum kamu anggap dan terima sebagai sebuah derita. Begitu juga bahagia. Hanya kamu yang bisa mengizinkan dirimu sendiri untuk merasa bahagia.

Dan cinta adalah sebenar-benarnya daya kuasa yang bisa membolak-balikkan antara derita dan bahagia. Cinta adalah daya kuasa yang membuat seseorang bersedia berserah sepenuhnya.

[]

Advertisements

Rewind

 

Akhir pekan lalu, mendadak saya harus rewind ke masa kecil saya. Literally.

Malam Minggu yang lalu, saya harus mengerjakan presentasi untuk materi mengajar di kelas pendidikan informal di hari berikutnya. Niatnya, saya mau mengerjakan presentasi itu setelah makan malam. Setelah menimbang berbagai pilihan makanan yang ada, saya memutuskan makan ikan bakar. Tidak ada yang istimewa mengenai pilihan ini. Simpel saja, karena lokasi tempat makan ikan bakar ini berseberangan dengan kedai kopi tempat saya mau bekerja.

Di tengah-tengah makan ikan bakar ini, tiba-tiba tenggorokan saya terasa tercekat. Sontak saya berpikir, “Uh oh, not that one. Please, not that one.”

Saya makan lagi. Ternyata perasaan tercekat itu masih ada. Saya berusaha menelan ludah, dan rasanya sakit. Saya lemas. Buru-buru saya selesaikan makanan saya sekadarnya, lalu saya bayar. Saya ke kedai kopi, berharap minuman hangat bisa melegakan tenggorokan saya. Sementara itu, pikiran saya masih tertuju pada presentasi yang harus saya selesaikan.

Ternyata saya tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Hanya separuh presentasi bisa saya buat. Saya memutuskan untuk pulang.

Sampai rumah, setelah berganti pakaian, saya putuskan untuk ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Setelah dirujuk ke dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT), dan menunggu lama karena banyak pasien datang sehingga saya bisa melanjutkan membuat presentasi, akhirnya kekhawatiran saya terbukti.

Ada tulang makanan yang menyangkut di tenggorokan saya.

Kejadian yang persis sama pernah terjadi hampir 30 tahun yang lalu, waktu saya kelas 3 SD. Dan kejadian ini meninggalkan trauma yang panjang, karena saya tidak bisa makan ikan lagi, sampai kelas 3 SMA akhirnya baru mencoba dan bisa makan ikan lagi. Kenapa trauma? Karena waktu itu posisi tulang benar-benar menyangkut di tenggorokan, tidak mau turun meskipun sudah dicoba dengan makan pisang, kepalan nasi, ketan, lontong, dan sejenis makanan lain. Mau tidak mau, harus diambil secara paksa dari luar mulut dengan alat yang masuk ke dalam tenggorokan. Setelah 3 hari, baru berhasil dilakukan.

Childhood-Trauma-1

Mau tidak mau, kejadian tersebut terbayang lagi di ingatan, terlebih saat dokter di hari Sabtu lalu menunjukkan posisi tulang yang memang menancap di tenggorokan lewat kamera yang diarahkan ke dalam mulut saya. Sempat lemas melihat feed kamera tersebut. Namun rasa lemas itu tidak terbawa ke lidah saya, yang terus menerus secara refleks menolak saat alat pencabut tulang itu mulai masuk ke tenggorokan. Posisi tulang memang di ujung bawah lidah, sehingga mencabutnya pun perlu “perjuangan”.

Setelah berkali-kali mencoba, dan selalu gagal, akhirnya dokter menyerah. Saya dianjurkan pulang dan beristirahat, supaya syaraf bisa rileks. Siapa tahu setelah syaraf rileks, tulang tersebut bisa luruh bersama asupan makanan lainnya. Dokter memberi obat untuk mencegah infeksi yang mungkin timbul. Meskipun tidur tidak tenang, apalagi setelah berkali-kali mencoba melawan dengan carbo loading malam-malam, mau tidak mau saya harus tidur.

Keesokan harinya, saya berusaha tidak terlalu memusingkan si tulang yang mungkin masih “nangkring” di tenggorokan. Dengan suara serak karena sakit, saya berusaha mempresentasikan last-minute slides dengan baik. Acap kali saya raba tenggorokan, sepertinya si tulang pelan-pelan mulai hancur, karena dari rabaan tangan, besaran tulang tidak sebesar semalam.

Lalu keesokan paginya, tenggorokan saya semakin sakit. Saat saya batuk dan muntah, ternyata sisa tulang keluar dengan sendirinya. Meskipun harus menanggung suara yang mendadak menjadi sangat “macho”, akhirnya tidak ada lagi tulang yang tersangkut di tenggorokan. So far.

Fear-and-Anxiety-An-Age-by-Age-Guide-to-Fears-Why-and-What-to-Do

Kejadian akhir pekan lalu mau tidak mau membuat saya berhenti sejenak menjalani aktifitas rutin yang sudah direncanakan. Dan itulah yang kita dapatkan saat kita sakit mendadak. Mau tidak mau, kita seperti dipaksa untuk istirahat. Seringnya kita harus melihat kembali, atau rewind, apa saja yang membuat kita jatuh sakit, sambil akhirnya berintrospeksi dan berjanji untuk lebih berhati-hati. Meskipun biasanya janji itu ditepati dalam waktu yang sebentar saja.

Dalam kasus saya, mau tidak mau saya harus melihat jauh ke belakang, ke satu bagian masa kecil yang terus terang sempat membuat saya takut. Sekarang pun sebenarnya masih takut. Cuma kalau kita menuruti rasa takut kita terus menerus, we’re gonna lose a lot.

Salam!

Ruang Publik: Ketika Aku dan Kamu Tak Harus Sepakat Terhadap Sesuatu tetapi Malah Diarahkan oleh Struktur

DI SUATU sore, tiga orang sedang berjalan-jalan di sebuah taman. Tidak terlalu luas, dan terdapat satu tiang bendera di tengah-tengahnya. Sesaat, bendera terlihat berkibar tertiup angin, dan memicu sebuah perbincangan di antara mereka.

A: “Lihat, benderanya bergerak.
B: “Bukan bendera yang bergerak. Angin yang bergerak.
C: “Bukan bendera atau angin. Yang bergerak adalah pikiran.

Aku berpikir, dan aku berpendapat.
Aku berpikir dengan kemampuan nalarku sendiri, dan aku utarakan sebagai pendapat.

Kamu berpikir, dan kamu berpendapat.
Kamu berpikir dengan seluruh pertimbanganmu, dan kamu utarakan sebagai pendapat.

Begitu pula dia, berpikir dan berpendapat.
Dia juga memikirkan hal-hal yang dipahaminya, dan dia utarakan sebagai pendapat.

people standing inside building
Foto: @teapowered

Demikianlah Ruang Publik, yang memang semestinya dipenuhi oleh opini-opini publik dalam makna sebenarnya. Opini publik tidak harus bersifat kolektif. Opini publik pun tidak harus berupa konsensus atau kesepakatan bersama. Suara dan pendapat individual pun termasuk sebagai opini publik berkedudukan sama dengan milik orang-orang lainnya.

Di Ruang Publik, opini-opini publik tersebut bebas untuk didiskusikan secara kritis, dan sekali lagi, terbuka bagi semua orang dalam kesetaraannya. Pertemuan opini-opini publik tersebut akan menjadi diskusi yang menghasilkan nalar publik, yang dengan kekuatan dan sifat dasarnya menjadi pengimbang dan pengawas kekuatan struktur yang sedang berjalan/dijalankan.

Nalar publik yang merupakan sintesis dari opini-opini publik yang saling dipertemukan, dibahas, dan dibenturkan di Ruang Publik, menjadi ekspresi langsung dari kebutuhan maupun kepentingan individu-individu yang terlibat di dalamnya; aku, kamu, dia. Sayangnya, tanpa disadari saat ini kita diajak dan dikondisikan agar lebih menyenangi serta menenggelamkan diri dalam isu-isu yang bersifat privat, atau diarahkan ke sudut pandang yang lebih privat, alih-alih dilihat dalam konteks kepentingan publik. Ketika sebuah perkara yang sejatinya menyangkut kepentingan publik digulirkan, tanpa sadar kita diarahkan agar semata-mata meninjaunya terbatas pada apa dampaknya ke diri sendiri, bukan partisipatif.

Mengapa bisa begitu? “Berterimakasihlah” pada media komersial dan penyuara massa–dalam segala bentuknya–yang terus-terusan menyuap benak-benak publik dengan informasi kemasan siap telan. Informasi tak lagi dibahas, melainkan dikonsumsi begitu saja. Perdebatan rasional dan konsensus atas opini-opini publik pun berganti menjadi sikap pasif. Diskusi-diskusi menjadi diatur sedemikian rupa, terancang atau terskenario sebagaimana yang diinginkan sesuai talking points alias butir-butir pendapat.

Media komersial dan penyuara massa tadi sudah berubah fungsi, dari menjadi bagian Ruang Publik yang memfasilitasi wacana dan perdebatan rasional, malah menjadi pembentuk, penyusun, pengkonstruksi, pembangun, sekaligus pembatas wacana publik. Tak ada lagi hubungan antara partisipasi individual dalam ranah publik dengan Ruang Publik itu sendiri. Eksistensi publik bagi individual dipupuskan oleh struktur-struktur yang mengatur media. Kepentingan bersama–dalam arti luas–pun digeser dengan kepentingan-kepentingan kelompok atau privat. Opini publik tak lagi menjadi milik individual, digantikan dengan pendominasi. Yang seolah-olah disuarakan demi publik, padahal menyangkut kepentingan privat.

Banyak contohnya. Mulai dari penumbangan Orde Lama, ke dikotomi politik Cebong-Kampret baru-baru ini, sampai ragam diskursus mengenai dukungan dan penolakan atas sederetan UU dan RUU teranyar republik ini. Segenap informasi dan opini disajikan dan disuapkan kepada individu-individu, membuat mereka ngap-ngapan hingga mau tidak mau terserap arus opini yang disepahamkan. Sesederhana berupa “mendukung” versus “menolak”. Tak ada kesetaraan dalam dikotomi “benar” versus “salah”, kendati mesti berhati-hati melihat bahwa tak ada yang benar-benar benar, dan salah sesalah-salahnya.

Coba saja amati:

  • Apa yang kamu ketahui?
  • Sejauh apa kamu berusaha mengetahui?
  • Apa yang kamu dengar dari orang-orang yang terkesan mengetahui?
  • Apa sikap yang kamu ambil terhadap narasi dari orang-orang tersebut?
  • Di mana akhirnya kamu berdiri terhadap narasi tersebut?
  • Apa saja perangkat opini yang akhirnya kamu miliki dari narasi tersebut?
  • Apakah kita telah benar-benar kuat dalam argumentasi, atau terarahkan untuk mengikuti narasi (mereka)?

Tindakan partisipatif direduksi menjadi sekadar penghimpunan dan perwujudan konsensus partikelir. Panggung tarung politik kontemporer. Tentu saja, negara punya andil dalam pengkondisiannya. Saat ini terjadi, situasi bicara ideal otomatis pupus. Lantaran tak semua orang terbekali dengan kapasitas wacana yang cukup; tak adanya persamaan sosial dasar; terjadi distorsi.

Tak ada lagi kesepahaman, apalagi kesalingpahaman. Kesepahaman dicapai dari diskusi dan perdebatan publik, sementara kesalingpahaman ialah kemampuan menerima dan menyadari perbedaan masing-masing. Sikap tahu sama tahu dalam tingkat yang setara. Tak ada lagi strukturisasi pembicaraan yang bebas dari tekanan dan ketidaksetaraan argumentatif.

Itulah public sphere, yang entah bagaimana bisa kembali diupayakan eksistensinya kini. Merebutnya kembali dari para agen manipulator, mencegah terus terjadinya pengarusutamaan kepentingan privat.

Bisa jadi, salah satu perangkat tindakannya adalah: Bangun landasan wacana, dan berlaku Peduli-Tidak Peduli.

[]

Joker: Potret Masyarakat Urban Hari Ini

Joker mungkin adalah film yang paling ditunggu tahun ini oleh sebagian penikmat film superhero atau film pada umumnya. Kenapa? Karena tidak sembarang aktor bisa memerankan peran seperti ini. Terakhir kita sempat punya Heath Ledger yang bermain sangat apik di film The Dark Knight (2008) sehingga diganjar Oscar di kategori Aktor Pendukung Terbaik. Dia tidak sempat menikmati Oscar karena dia meninggal akibat overdosis. Dan tentu saja kematiannya selalu dikaitkan dengan perannya sebagai Joker di The Dark Knight. Sebelumnya, Jack Nicholson, Joker di film Batman (1989) kabarnya dibayar sangat mahal di ukurannya pada saat itu. Film tersebut sukses secara komersial dan Jack Nicholson pun berhasil memerankan Joker versi film Tim Burton. Ada banyak keraguan ketika Heath Ledger akan memerankan Joker di The Dark Knight. Keraguan itu terjawab bahwa Joker versi Heath Ledger itu adalah Joker versi terbaik.

Satu dekade lebih berlalu, Joker difilmkan kembali, setelah sebelumnya Suicide Squad yang juga Joker berada di dalamnya, dianggap film yang gagal. Jared Leto sebagai Joker hanya bermain sebentar dan yang bersinar di film itu malah Margot Robbie yang memerankan Harley Quinn. Kali ini yang memerankan Joker adalah Joaquin Phoenix. Semua berharap cemas. Bisakah Joaquin Phoenix mengimbangi akting Heath Ledger? Ini pertanyaan utamanya. Apakah filmnya akan bagus? Semua bergantung kepada Todd Phillips yang bertindak sebagai sutradara dan juga penulis di film ini.

if I’m going to have a past, I prefer it to be multiple choice

Di sini Joaquin berperan sebagai Arthur Fleck, di film ini Todd Phillips berusaha membedah asal muasal kenapa Joker menjadi Joker yang seperti ini. Tidak pernah ada penjelasan di film-film yang sudah saya sebut kenapa Joker bertindak begitu gila. Komik The Killing Joke menjelaskan bahwa Arthur Fleck adalah seorang stand up komik yang gagal. Todd Phillips dan Scott Silver sebagai penulis skenario film ini berusaha mengambil beberapa referensi film dari era 70an dan 80an. Ada dua film yang sangat mempengaruhi jalan cerita film ini. Yang pertama adalah Taxi Driver (1976), dan The King of Comedy (1982). Kedua film ini disutradarai oleh Martin Scorsese dan dibintangi oleh Robert De Niro. Bukan kebetulan Robert De Niro pun di sini bermain sebagai host dari acara semacam Late Night Show yang dipandu oleh David Letterman, Stephen Colbert, atau Johnny Carson lebih tepatnya di era tersebut. Martin Scorsese pun dikabarkan sempat menjadi produser pelaksana film ini tapi di beberapa saat terakhir dia harus lepas untuk lebih fokus menggarap The Irishman, yang sebentar lagi tayang di Netflix.

Jika sudah melihat kedua film di atas maka akan sangat terasa pengaruh kedua film tersebut terhadap film Joker. Robert De Niro di dua film itu menjadi seorang yang mentalnya terganggu. Jika di The King of Comedy dia berperan sebagai Rupert Pupkin, seorang stand up komedi yang antusias tapi delusional, dan sangat terobsesi untuk menjadi stand up komedi seperti idolanya, Jerry Langford, yang dibintangi oleh Jerry Lewis. Maka di Taxi Driver, dia menjadi Travis Bickle, seorang veteran perang Vietnam yang mengidap PTSD dan beralih menjadi supir taksi dan melihat New York sebagai kota bermasalah dan perlu dia bereskan dengan caranya sendiri dengan menjadi vigilante, di kota New York. Gotham City di komik Batman adalah representasi dari kota New York.

Karena setting film ini tahun 1981, Todd Phillips berhasil meracik dua film tersebut dengan beberapa film di era 70an dan 80an. Ini adalah sebuah penghargaan dari Todd Phillips terhadap Martin Scorsese dan dua filmnya. Tapi di sini Todd berhasil menciptakan seorang Arthur Fleck, yang hidup bersama ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Dia hidup ketika Gotham City sedang dalam kondisi yang kumuh dan banyak masalah dan tingkat kriminalitas tinggi. Sementara orang kaya bertambah kaya dan yang miskin bertambah miskin. Arthur Fleck yang bercita-cita menjadi stand up komik masih mencari karirnya dan malah menjadi badut di pinggir jalan. Atau kadang menjadi badut penghibur di rumah sakit anak-anak.

“The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t.”

Arthur Fleck adalah seorang anak yang datang dari keluarga yang tidak beruntung. Dia tidak tahu bapaknya siapa. Ibunya, Penny Fleck, sudah tua dan sakit-sakitan. Dia harus datang ke psikiater yang dibiayai oleh pemerintah setempat secara berkala dan harus mengkonsumsi tujuh obat yang berbeda agar penyakitnya tidak kambuh. Pekerjaannya sebagai badut pun tidak berjalan lancar. Arthur Fleck adalah produk orang yang termarjinalkan. Dia hanya ingin berbuat baik. Menjalani kehidupan seperti layaknya masyarakat lain. Tapi dia selalu menjadi bahan olok-olok. Dikeroyok oleh sekelompok pemuda. Kehilangan pekerjaan. Dipukuli di stasiun kereta. Semua siksaan itu rupanya menjadi terakumulasi dan puncaknya sisi jahat dari Arthur pun keluar dan berontak. Dia tidak mau begitu tetapi lingkungan keluarga yang membuatnya seperti itu.

Is it just me or is it getting crazier out there?

Potret Arthur adalah sebetulnya sudah terjadi di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia. Kita sedang ada di era di mana per-bully-an (sebetulnya sudah ada perundungan di KBBI) adalah hal yang terjadi sehari-hari di media sosial. Entah itu di Twitter, Instagram, Facebook atau media sosial lainnya. Dengan mudahnya kita menyakiti orang di dunia maya. Entah itu melalui sindiran, makian, doxxing, saling menelanjangi aib masing-masing, ataupun teror. Ada kalanya kita adalah Arthur. Ada kalanya kita juga mengeroyok seorang Arthur. Orang bisa terlihat bahagia di permukaan. Tetapi kita tidak tahu apa sebetulnya yang terjadi di balik senyuman.

Kita semua pernah menjadi Arthur. Kita pernah mengerjakan pekerjaan yang tidak kita sukai. Kita pernah kuliah dan masuk jurusan yang tidak kita minati. Malah ada yang tidak bisa sekolah karena alasan finansial. Kita pernah terpaksa masuk ke lingkungan yang kita merasa asing. Kita pernah ada di keramaian tapi tetap merasa sepi. Kita punya tujuan yang berbeda-beda. Cuma kadar saja yang membedakan. Menjadi waras adalah pekerjaan utama kita. Tapi apapun itu, ingatlah selalu pesan Frank Sinatra seperti yang dinyanyikan Arthur ketika sedang berkonsultasi dengan psikiaternya;

that’s life that’s what people say you’re riding high in April shot down in May but I know I’m gonna change that tune when

I’m back on top, back on top in June .

Reset

Sejatinya memang saya berniat absen sementara dari menulis rutin di Linimasa ini. Saya pikir, sebulan cukup. Maka selama bulan September 2019 lalu, saya took a pause dari menulis rutin. Alasan lain yang saya buat untuk diri sendiri di awal bulan lalu adalah, masa awal project biasanya akan occupied dengan berbagai penyesuaian baru. Memang penyesuaian itu terjadi, namun ternyata datangnya bukan dari dalam pekerjaan yang dilakoni.

Penyesuaian kali ini datangnya justru dari luar. Berbagai riuh suara demonstrasi yang menuntut perbaikan kualitas hidup, mulai dari kebakaran hutan yang mematikan sampai rancangan berbagai undang-undang yang malah membelenggu hak asasi kita, mau tidak mau membuat kita ikut merasakan dampaknya. Meskipun kita tidak bersama mahasiswa secara fisik, meskipun kita tidak di tengah hutan yang terbakar in person. Nyatanya energi negatif yang dihembuskan pembakar hutan, anggota-anggota parlemen yang tidak kompeten, dan insensible political buzzers membuat kita lemah tidak berdaya menghadapi hari.

Saya tidak bisa mendeskripsikan apa yang saya alami. Saya merasa marah, tapi tidak tahu kenapa sampai begitu marah membaca apa yang sedang terjadi. Saya merasa takut, karena I feel fucked membaca calon aturan-aturan yang malah membuat banyak orang lebih memilih mati daripada hidup. Begitu besarnya perubahan yang seolah-olah mendadak terjadi, padahal sudah dirancang jauh-jauh hari tanpa kita ketahui, sampai-sampai kita berpikir, am I alone feeling this low?

Sampai saya melihat twit teman saya, Siska Yuanita, di bawah ini:

IMG_3608

IMG_3609

 

 

Sontak saya merasa lega sesaat. Ternyata kebingungan dalam amarah dan ketakutan yang saya rasakan, juga dirasakan orang lain. Ternyata kita tidak sendiri. Ada collective common feeling yang juga dialami beberapa orang. Paling tidak, the thought that we are never alone sudah cukup membuat kita bisa bangkit dan bergerak lagi.

Sembari kita bangkit, mungkin ini saat yang tepat buat kita menggali lagi rasa empati. Mau mendengar dan melihat perbedaan, karena dari pendengaran dan penglihatan, kita bisa mulai menerima. It’s time to reset while we fight, while we resist.

Semoga saya bisa terus menulis lagi, sambil menerima dan menjalani perubahan yang terjadi.

Love you all!

Kita, dan Kesukaran untuk Berpikir (Kritis)

woman with head resting on hand
Foto: H A M A N N

SETIAP orang memiliki akal sehat, atau setidaknya kesempatan asasi untuk diposisikan dan diperlakukan demikian, itu adalah sebuah fakta. Namun, bagaimana cara setiap orang berpikir dan mempergunakan akal sehatnya, itu adalah sebuah tanya.

Kita seringkali dibuat terheran-heran, mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa setuju serta sepakat pada sesuatu yang terang-terangan keliru, salah, atau bahkan ngaco dan membahayakan? Kita pun jadi mempertanyakan: “Mereka enggak bisa mikir atau gimana, sih? Sudah jelas-jelas ngawur begitu, kok malah diiyakan?” Dari yang kurang lebihnya begitu, sampai yang riuh akhir-akhir ini, macam UU KPK, RUU KUHP, RUU PKS, dan beraneka keberisikan terkait hajat hidup orang banyak lainnya.

Dengan terlontarnya pertanyaan bernada protes di atas, perasaan atau kesan superior memang tak terhindarkan. Kita, dengan segala pemikiran dan seperangkat argumentasi yang kita miliki, seolah-olah lebih baik daripada mereka. Dan mungkin begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, apakah sekadar perbedaan pemikiran yang menjadi masalah utamanya, ataukah ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan lebih penting di balik polemik itu? Seberapa perlu, atau sejauh dan sedalam apa kita perlu melihat dari sudut pandang orang lain (yang pendapatnya berbeda) tersebut? Untuk berusaha mengetahui dan memahami beberapa hal:

  • Apa yang mereka anggap benar, dan kenapa?
  • Apa yang mereka taati serta patuhi, dan kenapa?
  • Apa yang mereka dengar, percayai, dan kenapa?
  • Apa yang menyebabkan dan mendorong mereka bersikap demikian?
  • Apa yang mereka lihat, dan bagaimana mereka melihat sesuatu?

Tak hanya bersikap dan berpikiran kritis terhadap orang lain, bagaimanakah kita bersikap dan berpikiran kritis terhadap diri kita sendiri? Bisa jadi salah satunya karena ini…

Orthodoxy means not thinking–not needing to think. Orthodoxy is unconsciousness.

Apakah berpikir, apalagi berpikir kritis dan cermat memang sesusah, atau semenyusahkan itu? Saking susahnya, sampai-sampai dihindari, bikin malas untuk dilakukan, dan menjadikan banyak orang–barangkali termasuk kita–untuk bersikap iya-iya saja, dan mengikuti yang ramai di depan mata?

Kutipan di atas saya temukan dari novel “1984”, salah satu karya George Orwell keluaran 70 tahun lalu. Dan entah mengapa, kutipan itu tampaknya bakal sering saya celetukkan, utamanya ketika mempertanyakan sikap diri terhadap sesuatu. Di dalam novel itu pun disajikan sebuah plot, yakni manakala masyarakat–orang banyak–dicegah agar tak mampu berpikir kritis lewat pembatasan bahasa dan kosakata.

Berpikirlah kritis, sebelum berpikir kritis itu dilarang.

Dalam hal ini, kepatuhan; keputusan untuk patuh terhadap sesuatu pasti ada penyebabnya. Kita meyakini pula, penyebab(-penyebab)nya juga pasti tersusun lewat proses pemikiran dan seperangkat argumentasi. Lalu, sudah sepaham apakah kita, untuk bisa menunjukkan serta menyatakan bahwa dasar-dasar argumentasi tersebut nyata salahnya dan perlu dihadapkan dengan koreksi?

Membaca dan membayangkannya saja cukup bikin spaning kepala, tetapi berpikir kritis sejatinya sebuah kemampuan berbasis kebiasaan. Makin sering dilakukan, makin mulus prosesnya, serta justru makin membuat kita haus akan referensi dan terus mencari sudut pandang berbeda, meskipun tentu saja menyita tenaga, waktu, perhatian, dan stamina.

Dan lagi-lagi, mungkin itu sebabnya berpikir serta berpikir kritis dirasa terlampau merepotkan bagi banyak orang.

Orthodoxy means not thinking–not needing to think. Orthodoxy is unconsciousness.” Berpikir kritis, demi terhindar dari pandangan keliru dan bias, fanatisme, serta apatisme dan ketidaktahuan.

[]

Terlalu Banyak Dipikir, Masalah Malah Jadi Kenyataan

“AKU berpikir, maka aku ada.” Ini kata René yang Descartes, bukan yang Suhardono.

Sementara, tanpa disadari, inilah yang terjadi dalam kehidupan kita hampir tiap hari: “Aku memikirkannya, maka itu ada, dan terjadilah.”

Sebuah masalah baru akan benar-benar menjadi masalah ketika terjadi. Namun, dengan mempersilakan masalah itu mewujud dalam bentuk pikiran-pikiran negatif, kegelisahan dan kekhawatiran yang berlebihan, serta memasrahkan diri untuk terus-menerus dilumat rasa takut, kita seolah-olah membantunya agar lebih cepat terjadi. Di tengah-tengah deraan masalah tersebut, barulah kita mencari-cari dispensasi dari mana saja. Melemparkan kesalahan kepada orang lain, kepada situasi dan keadaan, juga kepada diri sendiri secara keliru (menyalahkan diri sendiri untuk alasan yang salah).

Kita kerap tidak bisa santai barang sedikit saja terhadap diri sendiri. Didorong oleh banyak aspek dalam kehidupan–misalnya lingkungan sosial budaya dan tempat tinggal, kecenderungan sifat atau pembawaan dari lahir, maupun lewat nilai-nilai yang ditanamkan orang tua dan keluarga–kita diajari agar selalu curiga terhadap kehidupan. Bukan waspada, melainkan berprasangka.

Perbedaan antara waspada dan curiga adalah apa yang dipikirkan, dan apa yang akan dilakukan dalam menyikapi sesuatu.

Waspada lebih kepada bersiap-siap, berjaga-jaga, atau mempersiapkan diri terhadap sesuatu yang barangkali bisa terjadi. Tentunya ada sejumlah pertimbangan, perhitungan, dan antisipasi rasional yang dibangun. Kemampuan melihat dan berpikir secara jernih pun mutlak diperlukan, supaya tahu benar apa yang bakal dihadapi dan bagaimana menghadapinya. Apabila perubahan diperlukan, seseorang dengan kewaspadaan bisa menyesuaikan diri dan gesit bertindak. Tidak terlampau lama membuang-buang waktu dan tenaga untuk hal-hal tak perlu.

Berkebalikan dengan sikap waspada, curiga lebih berupa pikiran dan perasaan negatif yang tidak berujung ke mana-mana melainkan ke objek kecurigaan itu sendiri. Terdiri atas sekumpulan ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, keragu-raguan, kebingungan, penolakan membuta, yang pada akhirnya hanya bisa dikenali dan dirasakan sebagai sebuah ketidaksukaan besar, atau bahkan kebencian yang sukar dijelaskan alasan mendasarnya.

Saking kuatnya rasa tidak suka itu, sampai bisa memengaruhi dan menyetir tindakan kita. Cukup membuat kacau, membuat banyak hal terbengkalai, hingga justru menjadikan objek kecurigaan tadi menjadi kenyataan. Sebuah kondisi yang semestinya bisa diantisipasi atau dielakkan, malah kita fasilitasi biar terjadi… dan kembali lagi, tatkala peristiwa itu terjadi, ujung-ujungnya yang bisa kita lakukan hanyalah buang bodi, melempar kesalahan.

Kewaspadaan dapat ditumbuhkan dan terus diasah, sedangkan kecurigaan seharusnya dikenali dan diatasi. Manakala kita bisa menyadari sedang memupuk sebuah kecurigaan, angkat dia, siangi dan bersihkan menggunakan akal sehat, lalu coba amati secara cermat. Perhatikan, apakah ada poin-poin dari kecurigaan tersebut yang sekiranya mesti diwaspadai pakai akal sehat?

Kecurigaan yang telah disiangi dan dibersihkan menggunakan akal sehat, akan menyisakan inti masalah yang bisa dilihat dengan apa adanya. Tanpa dibungkus ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan. Hanya saja, jika kita telah berusaha keras tetapi tetap tidak mampu melihatnya, jangan pernah ragu untuk meminta bantuan dari orang-orang yang sesuai.

  • Takut berpotensi mengidap penyakit tertentu, cobalah konsultasikan ke dokter dan periksakan sebagaimana mestinya.
  • Takut berpotensi mengalami gangguan psikis, cobalah konsultasikan ke psikolog. Daripada membangun anxiety dan dibiarkan begitu saja.
  • Takut berpotensi tidak berguna secara karier, cobalah bicarakan ke atasan, atau bagian sumber daya manusia.
  • Takut berpotensi gagal dalam hubungan, cobalah dimulai dengan berbicara kepada pasangan demi mendapatkan kejelasan atas gejolak yang dirasakan. Dari situ, biasanya, akan ada progres. Setidaknya menjadi tahu agar tidak perlu resah berkepanjangan. Lalu, bisa juga menghasilkan keputusan.
  • Takut berpeluang mengalami kegagalan, cobalah berdiskusi dan bertukar pikiran dengan yang sudah pernah mengalami kegagalan sejenis.
  • Takut mati, ehm, mungkin cobalah dengan berbicara kepada diri sendiri, sang entitas yang nantinya bakal mati; atau cobalah berbicara kepada tuhan, sang entitas yang dianggap menciptakan dwi kondisi hidup dan mati tersebut. Bisa jadi akan ada jawaban yang menjernihkan pandangan.

[]

In Defense of Ladies Parking

background-bags-black-346751

Sudah lama saya memerhatikan nada banyak orang ketika berbicara soal Ladies Parking selalu agak miring. Ladies parking dianggap sebagai menegasi seruan kesetaraan gender. Sebenarnya apa ya, memangnya, maksud ladies parking itu? Ketika perempuan ingin setara haknya dalam segala hal, lalu kenapa harus ada ladies parking? Apakah sudah ketinggalan zaman dan sebaiknya ditiadakan saja?

Dalam menjawab pertanyaan itu saya agak netral, but hear me this; sebagai perempuan dan ibu saya cukup sering memanfaatkan ladies parking dan merasakan keuntungannya. Bukan karena saya perempuan yang kurang bertenaga dan tidak kuat jalan jauh, inginnya jalan dekat saja dari pintu ke mobil, ya. Terutama ketika saya masih punya anak balita, dan saya sering sekali di posisi di mana saya harus pergi belanja mingguan atau bulanan sendiri. Anak masih terlalu kecil untuk membantu, dan masih harus digendong, sementara belanjaan lumayan bobotnya, suami entah ke mana (atau ketika itu sudah pisah), ketika saya mendapatkan spot parkir di ladies parking, sungguh membantu rasanya. Walaupun saya cukup setrong, tetapi ketika membawa barang-barang, atau bahkan mendorong, ditambah harus menggendong anak, tidak mudah jika harus menempuh jarak jauh.

Ketika anak saya sudah cukup besar untuk membantu, sesungguhnya saya tidak lagi mengincar posisi ladies parking, karena parkir di mana saja tidak masalah. Saya juga sudah lebih bisa memilih untuk berbelanja di tempat-tempat yang parkirnya bisa lebih dekat ke pintu keluar, dibandingkan berbelanja di mall yang jarak dari pintu ke mobil biasanya lebih menantang.

Anyway, mungkin ladies parking bisa diganti menjadi , yang bukan disediakan untuk perempuan karena biasanya mengenakan heels sehingga lelah untuk jalan jauh, tetapi untuk manula, ibu atau ayah yang bepergian sendiri dengan membawa anak yang masih kecil, dan pengendara atau penumpang difabel? Why not?

Capek: Berjeda dari Kekinian

“GOD does not play dice with the universe,” kata Einstein.

Namun, if it does so (play dice with the universe), what would you do?

Tuhan tidak berundi dadu untuk semesta. Namun, kalau dia ternyata memang melakukannya, kamu mau apa? Akan bagaimana?

Iya. Saya sengaja menyitat kutipan tersebut secara serampangan dan di luar konteksnya‒fisika kuantum‒karena sedang capek banget sepekan terakhir ini. Capek badan, capek pikiran, dan capek hati. Dan ketiganya terjadi bersamaan, seakan-akan mengeroyok untuk mengisap habis bulir-bulir tenaga yang tersisa. Tenaga (ber)gerak, tenaga (ber)pikir, dan tenaga (me)rasa. Bikin ingin mengambil sejenak jeda dari kekinian, mengindar sebentar agar tak terpapar. Meskipun susah, kayaknya.

Tidak. Tidak semua kecapekan itu bersifat negatif dan bikin menderita, kok. Capeknya badan karena bekerja dan berkegiatan yang tak terhindarkan. Capek yang tersisa masih bisa dibarengi rasa gembira telah melakukan sesuatu, rasa bangga atas keterlibatan, rasa puas telah berperan dalam sesuatu yang lebih besar, rasa berdaya dan bermanfaat bagi sesama, serta rasa pantas sebagai seseorang.

Capek pikiran dan capek hati yang bikin tidak nyaman, dan sekali lagi, tak terhindarkan. Ingin sekali tidak acuh dan tidak peduli, hanya saja, kok agak sulit, ya?

– Hari ini, VK dicari polisi. Dijadikan terduga provokator soal Papua.

– Sekali lagi, perempuan diobjektivikasi, dijadikan objek. Dan karena saya sepakat dengan prinsip “No uterus, no comment!” maka, sudah sepatutnya adu argumentasi perihal tersebut terjadi antara sesama perempuan, atau setidaknya, oleh orang-orang yang layak turut berbicara. Satu hal yang pasti, orang-orang yang menyalahkan korban perkosaan adalah sekumpulan manusia idiot!

Twitter: @nynecomics

– Melihat video seorang bocah SD yang dihajar habis-habisan oleh anak-anak seusianya, dengan berbagai gaya pukulan dan tendangan. Menontonnya, dan mendengarkan tangisan mengaduh sang korban saja sudah bisa bikin sesak napas.

Ketiga hal di atas cukup berhasil menyusahkan pikiran dan hati. Ya, itu tadi, bikin pengin sejenak menjauh dari kekinian; apa yang tengah berlangsung saat ini. Akan tetapi, capek hati paling berat ternyata terjadi dalam lingkar pribadi; kemalangan seorang kerabat dekat.

Mereka adalah pasangan muda yang baru dikaruniai anak, yang saya tidak bisa membayangkan, betapa hancur hati mereka dan bagaimana susah payahnya mereka agar bisa kembali tegar, begitu mengetahui jika anak mereka terlahir dengan sejumlah kondisi serius. Salah satunya, kelainan pada jantung dan saluran paru-paru.

Kedekatan kami selama ini, bahkan sejak kecil, membuat saya susah untuk bersikap biasa-biasa saja terhadap kenyataan itu. Apalagi tindakan yang bisa saya lakukan barangkali nyaris tak ada artinya bagi si kecil dan kedua orang tuanya. Capek hati jadinya.

Tuhan tidak berundi dadu untuk semesta. Namun, kalau dia ternyata memang melakukannya, kamu mau apa? Akan bagaimana?

Pikiran saya meliar, bikin tambah capek.

Apa yang akan saya (dan pasangan) lakukan jika‒amit-amit‒mengalami hal serupa?

Apa yang akan saya (dan pasangan) lakukan jika kondisi tersebut telah diketahui lebih awal, saat masih dalam kandungan? Apakah akan terus menyodorkan kehidupan dan masa depan yang hampir pasti penuh kesulitan dan kesukaran bagi dia? Kemudian, ditambah dengan sebuah keniscayaan bahwa saya, kami, orang tuanya bakal mati suatu saat nanti, dan dia pun akan terus menjalani hidupnya sendiri.

Aduh! Sungguh-sungguh berat di kepala, dan di hati. Saya hanya bisa bertakzim kepada para orang tua kuat, yang mendedikasikan kehidupan mereka saat ini, berusaha sepenuh tenaga menghadirkan kehidupan layak bagi anak-anak dalam kekurangan dan keterbatasannya.

Capek. Saya ingin istirahat dulu.

[]

Setelah Menunggu, Terbitlah Menunggui

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang menunggu seorang tukang segala bisa (demikian saya menerjemahkan handyman seenaknya) datang ke rumah. Ada kebocoran pipa yang mengakibatkan toilet kamar mandi tidak bisa berfungsi dengan baik. Berhubung jenis kerusakannya cukup besar dan tidak bisa saya kerjakan sendiri, mau tidak mau saya harus memanggil tukang.

Ini artinya, mau tidak mau pula saya harus mengubah semua rencana pekerjaan hari ini, supaya saya bisa ada di rumah. Untung pekerjaan saya cukup fleksibel, tidak harus datang ke kantor setiap hari, dan bisa mengerjakan pekerjaan di mana saja. Yang cukup repot adalah menggeser waktu janji temu dengan beberapa orang. Ada yang harus pindah jam, ada yang harus pindah hari. Beruntung, semua pihak bisa maklum. Mungkin karena aroma akhir pekan is in the air, jadi orang-orang cenderung relaks.

Kecuali saya. Kalau sudah harus menunggu pembersih rumah, tukang gas, tukang reparasi kamar mandi, pengantar furniture dan lain-lain untuk datang ke rumah, maka saya harus memastikan rumah dalam keadaan rapi, dan barang-barang berharga juga tersimpan dengan aman. Tentu saja, saya pun harus berada di rumah, untuk memastikan mereka melakukan pekerjaan dengan baik, dan syukur-syukur datang tepat waktu.

Tentu saja ini resiko menjadi lajang yang tinggal sendiri, yang tidak bisa setiap waktu meminta orang lain, seperti pembantu yang tinggal di rumah (yang saya tidak punya) atau tetangga (yang tentunya punya kesibukan sendiri) untuk sit in di rumah saya. Belum lagi rasa was-was, kalau misalnya ada apa-apa yang dilakukan pembantu atau tetangga. Maklum saja, you can never be extra careful in this city, apalagi kalau tinggal sendiri.

Yang saya harus antisipasi juga kalau lagi menunggu orang datang ini adalah, belum tentu mereka datang tepat waktu. Apalagi yang namanya antar barang. Selalu saja ada alasan untuk datang terlambat dari waktu yang dijanjikan atau direncanakan. Sementara kita tidak berdaya selama menunggu mereka. Oke, mungkin masih bisa berdaya, dalam artian masih bisa produktif dalam proses menunggu tersebut. Bisa sambil bekerja, atau bisa sambil menulis blog yang sedang Anda baca ini. Meskipun pasti ada sedikit rasa cemas atau khawatir kalau mereka tiba-tiba tidak jadi datang. Namanya juga menunggu dalam ketidak pastian.

Kalau sudah datang, tentu saja kita harus menunggui mereka. Siap-siap tiba-tiba ada hal yang tak terduga, misalnya kerusakan di rumah kita ternyata melebar, yang berarti harus ada ekstra biaya dan tambahan waktu pengerjaan, sementara waktu kita terbatas, atau barang yang diantar tidak sesuai pesanan atau rusak di tengah jalan. It happens and it can happen. Mau tidak mau, kita harus menunggu dan menunggui, sebelum akhirnya aktivitas kita berjalan normal lagi.

Maybe we need this whole thing as a welcome disruption or a break.

Jadi sesekali memang, mau tidak mau, kita harus menunggu lalu menunggui.

Oke, baru saja tukang yang saya tunggu datang. Saya harus menunggui pekerjaannya sampai selesai, sambil siap-siap weekend budget terpangkas untuk bayar ini-itu.

Selamat berakhir pekan!

Yang Tersisa dari Ulang Tahun ke-5 Linimasa

IYA, ulang tahunnya memang sudah lewat, tanggal 24 Agustus kemarin, dan, iya, tulisan di Linimasa hari ini memang lumayan telat. Namun, ada yang kurang pas rasanya, bila perihal keduanya dibiarkan berlalu begitu saja.

Jumat pekan lalu, Mas Nauval sudah “membuka peringatan dan perayaan” hari jadi Linimasa tahun ini. Sejumlah ucapan selamat–yang kecepetan–pun disampaikan lewat Twitter, yang saya yakin empunya adalah para pembaca, para penaut hati dengan Linimasa, yang cukup setia … itu sebabnya, tak aneh jika selain di Twitter, mereka juga lumayan rajin memberi tanggapan dan berbagi cerita pada kolom komentar.

Seperti yang ditulis Mas Nauval di artikel sebelumnya, para kakak-kakak penulis tetap di Linimasa masih ada, kok, meskipun halaman depannya belum tentu diperbarui setiap harinya. Bahkan saat ini banget, kami juga sedang berunding ingin menonton film di bioskop mana, dan kapan enaknya, supaya bisa ikut semua–kasihan Kang Agun, jauh, di Bandung. 😅 Kami juga belum berkumpul untuk makan malam bersama.

Sesi nongkrong paling anyar, bulan puasa kemarin. Itu pun tanpa Mas Roy.

Kalau dirasa-rasani, Linimasa di usianya yang ke-5 tahun ini kian mirip grup WhatsApp “zona nyaman”, tidak seramai seperti awal-awal keberadaannya dulu, tetapi meskipun sudah relatif sepi, tetapi tetap tidak bikin pengin leave group. Haha! Entahlah, apakah ini merupakan analogi yang pas atau tidak. Yang pasti, inilah kami; para pedamba pendebar hati. Termasuk juga para penulis tamu, para kontributor, yang sempat dan telah bersedia menitipkan secuplik isi hatinya di sini.

Apresiasi kami untuk yang sudah menyampaikan twit ucapan, berikut ini.

Terima kasih juga, Mas.
Terima kasih, dan syukurlah kalau bisa mendapatkan pengalaman dan perasaan menyenangkan. Semoga selalu, ya.
Terima kasih, dan #penasaran, kira-kira bakal ada hasil yang berbeda dari survei sebelumnya, tidak, ya?
Terima kasih, dan selalu, pasti tetap ada orang-orang baik di dunia. Mudah-mudahan kita selalu berkesempatan bertemu mereka, ya, atau setidaknya, menjadi salah satu di antaranya.
Terima kasih, wahai kamu yang telah bertahan sekian lama. Hahaha.
Terima kasih, juga. Semoga kapan-kapan kalau ketemu beberapa penulisnya, disapa saja. Tak perlu sungkan, pun malu.
Terima kasih, dan salam sayang juga.
Terima kasih, dan sebaik-baiknya serentang umur, adalah yang bisa bermanfaat dan membagikan senyuman.
Kembali kasih.

Ada masukan, saran, kritik, atau apa pun yang bisa disampaikan, sampaikan saja, ya.

…dan sebagai penutup tulisan kali ini, jangan pernah berhenti berbagi hati. Bukan untuk dimiliki, tetapi untuk diisi; berupaya tetap menjadi manusia yang manusiawi.

Terima kasih.

[]

Selamat Ulang Tahun Ke-5, Linimasa Sayang!

Tulisan ini dibuat dan diunggah sehari sebelum ulang tahun ke-5 Linimasa yang jatuh pada tanggal 24 Agustus 2019. Memang, hari Jumat ini bukan giliran saya yang menulis. Namun hari Kamis kemarin saya masih diterpa kelelahan luar biasa setelah menghabiskan sepekan sebelumnya hiking di luar kota. Akhirnya baru kesampaian menulis sekarang, setelah selesai meeting proyek pekerjaan, sembari menunggu masuk bioskop.

Apa yang terjadi setelah lima tahun? Let’s see.

Roy Sayur masih setia membayar domain dan web hosting situs ini setiap tahunnya.

Gandrasta Bangko makin rajin memberikan tips seputar parfum, masker, makanan, proses dan gaya bercinta, sampai make-up di grup kami.

Kang Agun masih aktif di Twitter, tuh.

Glenn Marsalim dengan mangkok ayamnya tak pernah berhenti berkreasi, dan terus melakukan inovasi baru.

Leila Safira masih jadi yang paling fit fisiknya di antara kami semua.

Dragono Halim menjadi satu-satunya yang paling rajin menulis (hampir) setiap minggu di sini tanpa jeda.

Saya sendiri masih sendiri. Bukan promosi. Tragedi kok dipromosiin.

Ini artinya, life happens. Dan karena itulah maka kita semua melihat bahwa semakin lama, frekuensi tulisan baru yang muncul di Linimasa juga semakin jarang. Moto dan slogan kami yang bertajuk “menulis hampir setiap hari, karena internet perlu lebih banyak hati”, rasanya harus direvisi menjadi “menulis hampir setiap seminggu sekali atau dua kali, karena internet perlu lebih banyak hati”.

Paling tidak, ada bagian slogan yang masih bisa dipertahankan. Entah sampai kapan.

Dan karena pakai hati itulah, maka kadang kita tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa yang namanya hati bisa berpaling. Apalagi karena kita semua masih have a life to live yang harus dijalani setiap saat. Deadline pekerjaan, target penjualan, urusan keluarga, masalah pribadi, kesehatan fisik, problematika kehidupan secara umum atau secara khusus, kadang menghalangi kami untuk berbagi.

Atau ada distraksi lain. Dalam separuh dekade terakhir, kami tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa banyak sekali jenis media sosial yang berkembang, yang lagi lincah-lincahnya menarik perhatian. Mau tak mau, atensi kami terserap ke sana. Begitu pula banyaknya akun-akun pengguna berbagai media sosial lain yang acap kali membuat kami geleng-geleng kepala sambil bergumam, “We’re not worthy!

Tulisan ini dibuat murni dari sudut pandang saya sebagai salah satu penulis, bukan pendiri Linimasa. Tetapi lima tahun yang lalu saya mengiyakan ajakan Roy Sayur untuk bergabung, karena saya tertarik dengan konsep blogging yang direncanakan. Menulis ramai-ramai, bergiliran setiap hari, berceloteh sesuka hati. Sering kali bingung mau menulis apa, sampai akhirnya tenggat waktu lewat, dan akhirnya menulis sekedarnya. Paling tidak ini yang saya lakukan beberapa kali. Hehehe …

Yang jelas, sampai hari ini, Linimasa masih ada di sini. Kalau kami tak lagi sering berbagi, paling tidak tulisan-tulisan lampau kami masih enak dibaca setiap saat.

Buat saya, tidak ada tujuan muluk-muluk dalam menulis di Linimasa ini. Ada yang baca, sudah membuat saya senang. Masih terlalu jauh untuk menjadi hal yang menginspirasi, atau mengubah hidup. Cukup dikunjungi dan dibaca saja, that is all.

Terima kasih sudah menemani selama ini, dan nanti. Semoga kami masih bisa terus berbagi.

:*

Jejak Digital: UAS Ada di Semua Agama

NIAT menulis tentang ini (di blog pribadi) berawal dari sebuah pertanyaan sederhana: “Buddha pernah bilang sesuatu, atau ngasitau gimana seharusnya seseorang berbicara waktu ceramah, gak sih?

Pertanyaan ini memang dilontarkan dan dibahas secara internal di antara sesama Buddhis lewat grup WA. Dipicu beredarnya video tanya jawab majelis kajian Ustaz Abdul Somad (diunggah ke Facebook 15 Agustus), hingga kemudian beliau resmi dilaporkan ke polisi 17 Agustus, kemarin.

Sejauh ini, ada banyak orang yang terganggu, tetapi tak sedikit pula yang malahan bertanya: “Di mana salahnya?” dengan sederet alasan dan apologia. Lengkap dengan tagar, menjadikannya semacam gelombang kekuatan yang barangkali sukar digegar.

But anyway, kalau ngobrolin ini lebih jauh, ada beberapa hal yang saya yakini berlaku secara universal.

  1. Setiap agama, sebagai sebuah institusi, pasti memiliki pakem atau tata cara dalam berbicara, baik sebagai aktivitas sosial biasa maupun ketika berkhotbah. Ada ketentuan-ketentuan yang harus dijalankan; harus dihormati; harus dihindari; dan yang dianjurkan.
  2. Setiap orang, terlebih pembicara publik berbalut label profesi apa pun, memiliki karakteristik dan gaya berkomunikasi masing-masing. Mereka pun umumnya mampu melakukan penyesuaian di berbagai lingkungan atau suasana. Bukan dengan mengganti isi pesan yang akan disampaikan, tetapi gaya penyampaiannya.
  3. Ada sebagian orang yang gemar sekali berkelakar, ada pula yang cenderung gemar berolok-olok. Bedanya, kelakar dapat disampaikan secara terbuka kepada khalayak heterogen, sedangkan olok-olok yang sedemikian sensitif seringkali dicetuskan dalam lingkungan tertutup kepada khalayak homogen. Walaupun pada dasarnya, olok-olok tetap tidak sepatutnya dikemukakan karena tidak berfaedah, bertujuan tiada lain daripada menghina, serta tidak berkontribusi apa-apa dalam narasi penjelasan yang tengah dibawakan.
  4. Di berbagai kasus, kelakar atau olok-olok digunakan untuk memantik tawa dalam sesi public speaking, menarik kembali perhatian penonton hingga akhir durasi. Hanya itu fungsinya, dengan keterhiburan yang timbul kemudian sebagai efek samping.
  5. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan figur pengkhotbah yang kerap memanfaatkan kelakar dan olok-olok bukan Ustaz Abdul Somad seorang. Bisa jadi ada di semua agama resmi Indonesia. Termasuk yang Buddhis.

Mari dilihat satu-satu.

Poin 1

Untuk agama yang lain, silakan cari sendiri. Sebagai seorang Buddhis, saya mencoba menukil salah satu bagian mikro terkait hal ini (Aṅguttara Nikāya, 5.159 Udāyī). Yaitu, setidaknya ada lima kualitas internal yang harus ditegakkan seseorang sebelum memaparkan Dhamma atau berkhotbah.

  • Menyampaikan khotbah secara bertingkat,
  • Menyampaikan khotbah berisi alasan-alasan (di balik penjelasan),
  • Menyampaikan khotbah yang simpatik,
  • Menyampaikan khotbah bukan demi materi (dan perolehan-perolehan lainnya),
  • Menyampaikan khotbah yang tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Disimak sepintas, tidak ada yang terlampau spesifik dari hal-hal di atas. Seseorang pun tak perlu menjadi Buddhis supaya bisa menyadari bahwa lima kualitas internal tersebut memang sebaiknya diperhatikan sebelum menggegaskan sebuah pesan kepada orang banyak.

Penyampaian secara bertingkat berarti menyesuaikan bobot pesan dengan penerimanya. Jangan terlalu canggih, terlalu tinggi, terlalu sulit dijangkau tetapi tidak bisa dipahami orang lain. Saking kedengaran rumitnya, para hadirin hanya bisa manggut-manggut tanpa memahami sepenuhnya, atau bingung sekalian.

Jelaskan menggunakan alasan-alasan, agar yang disampaikan benar-benar bisa ditangkap, mengundang untuk dipikirkan lebih jauh, dan memahamkan.

Sikap dan penyampaian yang simpatik menyentuh sisi manusiawi dalam berceramah. Tujuannya pun untuk menanamkan pengertian, bukan untuk menghakimi atau malah mendorong banyak orang melakukan keburukan, apalagi memperluas ketidaksukaan. Juga bukan demi mengumpulkan donasi untuk pribadi, atau meningkatkan popularitas.

Terakhir, bijaklah dalam bersikap. Sampaikanlah sesuatu yang tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, bukan terkait hinaan atau cercaan, melainkan situasi yang tengah terjadi. Ini pun baru aspek sederhananya saja.

Mengingat hal-hal di atas bersifat universal dan tidak ekslusif milik Buddha dan umat Buddha semata, mari kita exercise sejenak. Merujuk pada video tanya jawab Ustaz Abdul Somad, hal-hal mana saja yang terpenuhi dan tidak?

Poin 2

Para pemuka agama sejatinya adalah public speaker, sekaligus marketer. Tatkala berceramah, tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Kala menjelaskan sesuatu, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis (berkaitan dengan kehidupan keseharian) dari perorangan, idealnya ada berbagai aspek yang perlu dipertimbangkan. Jawaban bagi seseorang, belum tentu cocok disampaikan bagi orang lain. Asumsi yang dijatuhkan kepada kondisi seseorang, pastinya tidak patut ditimpakan kepada orang lain.

Belum lagi tidak ada yang bisa menjamin bahwa jawaban itu benar, ataukah hanya akal-akalan. Dalam bahasa Inggris disebut: “Think on your feet.” Berusaha merespons sesuatu secepatnya, sebisanya. Bisa tergesa-gesa, dan bisa gegabah.

Poin 3 & Poin 4

Banyak penyimak khotbah yang haus untuk dihibur. Ketika pengkhotbahnya lihai membuat tertawa, besar kemungkinan beliau akan terkenal setelahnya. Makin sering diundang, makin sering tampil, makin sering mendapatkan banyak hal.

Terkait itu, banyak juga narasi-narasi yang bisa bikin ketawa, termasuk olok-olok. Siapa pun yang terbiasa berpikir cepat, mampu melihat celah di balik sesuatu, pasti bisa berseloroh dengan lancarnya. Lihat saja para pelawak verbal yang terkenal di Indonesia dalam sepuluh tahun belakangan. Begitu cergasnya mereka melemparkan lelucon berupa olok-olok yang membuat para penontonnya–kadang-kadang termasuk kita–ngakak luar biasa.

Dalam konteks perbincangan bertema keagamaan, bahan olok-olokan tersebar di semua agama dalam berbagai aspeknya. Tampilan, nama, sebutan, bahasa, ritual, dan ragam-ragam lain. Sayangnya, kejadian itu seringkali diperparah oleh umat agama (yang diperolok) itu sendiri. Mereka menjadi reaktif, tak bisa tenang, padahal olok-olok yang dilontarkan pada hakikatnya hanyalah omong kosong, sesuatu yang mengada-ada alias dusta, dan mestinya cukup diperlakukan tak ubahnya seseorang yang ingin meludahi langit. Pasti meleset, dan bisa saja terkena wajah sendiri.

Jadi, kalau diolok-olok, senyumin aja; “balas” dengan sesuatu yang lebih elegan. Don’t get that low too. Khusus bagi para Buddhis, amatilah apa pun gejolak batin yang muncul begitu mengindra (melihat, mendengar, mengingat) sebuah olok-olok. Lebih penting untuk tetap “sadar”, ketimbang turut hanyut dalam dangkal pikir seperti itu. Toh, apa yang mereka katakan merupakan kekeliruan, bukti dari ketidaktahuan terhadap sesuatu.

Kombinasi dari kesoktahunan, dan hasrat untuk mengalahkan sesuatu. Sampai bisa tidak sadar, bahwa butir-butir penjelasan yang disampaikan invalid semua. Tidak bakal nyambung, dan tidak bakal kompatibel.

Ambillah contoh ini, deh.

Dia Tionghoa, kan?
  • Kira-kira, tahukah dia siapa nama tokoh yang gambarnya dia tampilkan? Kok dia sebut tuhan? Tuhan ajaran apa?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa Sun Wukong atau Kera Sakti hanyalah figur rekaan dalam sebuah kisah sastra? Mengapa menggunakan cerita fiksi dalam membahas kepercayaan lain?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa Buddha bukan tuhan?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa gambar-gambar patung Buddha yang dia tampilkan sebenarnya adalah figur berbeda?
  • Kira-kira, sadarkah dia bahwa upaya personifikasi tuhan dilakukan banyak orang dari berbagai agama?
  • Kira-kira, dia sebenarnya sungguh-sungguh paham dengan apa yang disampaikannya, atau tidak, sih? 😂
  • Kemudian, bagaimana dengan para penyimaknya di ruangan tersebut? Apakah cocoklogi tersebut memang semenghibur itu? Lagi-lagi, apakah ada jaminan bahwa mereka yang hadir di sana tidak akan mengutarakan pernyataan-pernyataan yang sama?

Nah, itu pula masalahnya. Ada penceramah, ada yang mendengar ceramah, ada yang dijadikan objek olok-olok dalam ceramah. Penceramah mengutarakan olok-olok yang merupakan ucapan minim faedah. Umat objek olok-olok dalam ceramah bisa memilih untuk tetap bersikap tenang, dan cukup membalas lewat senyuman. Dicueki. Sementara itu, jangan lupa ada yang mendengar ceramah dan mungkin ikut tertawa-tawa tentang olok-olok yang disampaikan. Manakala mereka menyerap informasi olok-olok tersebut begitu saja, siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan meneruskan olok-olok tersebut di masyarakat, atau justru terang-terangan melontarkannya untuk menghina?

Poin 5

Di era jejak digital sekarang ini, tinggal cari atau tunggu saja unggahan video atau rekamannya. Tinggal perkara apa yang disampaikan, dan apes atau tidak apesnya saja.

Namun, satu hal yang perlu diperhatikan para pengkhotbah. Katakanlah, sepeninggalnya Anda nanti, dan yang tersisa hanyalah video-video ceramah, Anda ingin dikenal dan dikenang sebagai seseorang yang bagaimana?

Bhante Uttamo Mahathera
KH Quraish Shihab

[]

Anyway, Linimasa sebentar lagi ulang tahun! 🎉