Aku Fobia Padamu, Mz…

Kepala saya akhir akhir ini sering gatal kalau melihat perdebatan di media sosial, kemudian kata ‘Islamofobia’ dilemparkan dengan mudahnya. Bukan karena kepala saya sedang dijangkiti jamur, tetapi kata Islamofobia itu sendiri. Sebenarnya bagaimana sih kalau seseorang itu menderita fobia terhadap sesuatu? Ini saya salin dan tempel dari Google:

Fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti.

Tahu bahwa fobia itu gangguan yang seperti apa saja sudah membuat saya kesal dengan istilah Islamofobia. Apakah orang orang yang dituduhkan dengan kata ini memiliki ketakutan yang tidak rasional dengan yang menyangkut Islam? Apakah melihat masjid mereka akan tunggang langgang ketakutan? Apakah ketika melihat seseorang menggunakan pernak pernik “Islami” lalu mereka lebih baik mengurungkan niat menaiki kendaraan yang sama atau lebih baik putar balik ke arah sebaliknya agar tidak sejalan dengan dia? Kalau memang tetap keras kepala menggunakan kata Islamofobia, seharusnya ini yang terjadi.

Tetapi kan, kenyataannya tidak.

Kalau kita lihat istilah-istilah yang menggambarkan diskriminasi dari ras atau golongan tertentu, tidak ada yang menyebut agama selain Islamofobia. Ada ‘anti-semit’ tetapi tidak ada ‘judaismofobia’.

Kenapa istilah Islamofobia bisa menimbulkan masalah? Karena dia tidak memisahkan mana yang menunjukkan diskriminasi dan kebencian terhadap orang yang memeluk agama Islam atau muslim, mana yang kritik valid tentang Islam sebagai ideologi. Kritisi terhadap ideologi bisa mengajak masyarakat berpikir lebih kritis, sementara kebencian dan diskriminasi dapat memecah belah. Bigotry adalah intoleransi dengan seseorang yang memiliki pendapat atau kepercayaan berbeda, jadi ke orangnya, bukan ke kepercayaan atau pendapatnya.

Sungguh membuat malas ya, kalau kita berusaha menyuarakan kritik terhadap suatu ideologi yang cukup valid dan evidence-based, dengan harapan membuka dialog, lalu dimatikan begitu saja dengan cap seperti, “ISLAMOFOBIA!” A real conversation killer. Kalau memang suatu ideologi tidak boleh dikritik sama sekali, berarti tidak boleh juga dong, mengkritik komunisme, sosialisme dan isme-isme lain yang kini dianggap musuh dalam selimut yang sangat berbahahahahaya (really?). Double standard, much?

Izinkan saya mengutip Ali Rizvi, idola saya di komunitas eks muslim:

dan satu lagi:

Jadi, rekomendasinya, kalau memang ada orang yang melemparkan kebencian terhadap seorang muslim karena kemuslimannya, bahkan sampai membedakan perlakukan dengan orang non-muslim, dan nyata sekali, lalu ingin ada cap terhadap orang ini, sebut saja lah dia anti-muslim. Sebut aksinya anti-muslim bigotry.

Rekomendasi lainnya; kalau ada komik yang bercerita soal diskriminatifnya Islam sehingga membabi buta membenci atau anti terhadap satu golongan yang berbeda dengan kepercayaan Islam sampai banyak pernyataan seolah menyakiti golongan tersebut “halal”, tak perlu lagi menyebut Islamofobia, karena mempertanyakan sebuah ideologi masih legal, kok. Tak perlu marah dan mencap ini itu, let’s just agree to disagree, dan tetap saling menghormati.

Apa kamu bilang? Islam itu bukan ideologi dan murni buatan Tuhan? Hahahaha, bercanda kamu…

EMlrZldU8AAkl5C
Kalau kayak gini fobia apa, dong? (kredit: @nynecomics)

 

 

Advertisements

Bersiap dan Menyesuaikan Diri

SAAT menulis ini, saya sebenarnya masih lumayan ketar-ketir. Beberapa kali menengok ke luar jendela, berharap agar langit mendung di atas sana tidak mendadak tumpah, menjadi hujan deras. Soalnya, banyak orang masih bertahan di pengungsian, dan beberapa yang lain baru mulai bersih-bersih setelah banjir berangsur surut menyisakan lumpur serta perabotan basah. Selain itu, ya … tentu saja karena saya bakal kesulitan lagi. Sulit bepergian, sulit mencari makan, sulit ini, sulit itu. 

Tempat tinggal saya sendiri saat ini, syukurnya, tidak tergenang–meskipun terkepung–banjir. Ketika harus susah payah berjalan kaki sejauh 6 km dan menerobos banjir setinggi hampir 1 meter untuk pulang pada 2 Januari malam lalu, saya setidaknya tetap bisa dalam situasi kering, mendapatkan penerangan, bisa mendapatkan air bersih, dan peralatan elektronik tidak sampai rusak.

Privilese? Tentu saja. Namun, bukan itu yang mau diobrolin hari ini. Saya malah kepingin meneruskan obrolan Mas Nauval dalam tulisannya pekan lalu; selalu berharap yang terbaik, dan selalu bersiap untuk kemungkinan paling buruk sekalipun. 

Tanpa menafikan tentang krisis iklim yang turut diteriakkan gara-gara banjir di awal 2020 ini, setiap hal selalu terdiri atas tiga fase: sebelum, saat, dan sesudah.

Perkara kesadaran atas krisis iklim; pembuatan sumur resapan; kedisiplinan membuang sampah dengan baik atau bahkan penerapan gaya hidup minim sampah plastik; hingga upaya mengamankan langkah-langkah politik agar tidak menghambat hal-hal yang telah disebut sebelumnya, merupakan perkara sebelum dan sesudah peristiwa. Simpan sajalah dahulu sampai semuanya menuju pulih, saat rasa lelah dan letih yang tersisa masih relevan untuk bicara pencegahan. 

Begitu peristiwa mulai terjadi, seperti yang dikatakan Mas Nauval di atas: Hope for the best, prepare for the worst. Kenapa prepare for the worst-nya tidak dipikirkan sedari awal, di fase “sebelum”? Karena kondisi worst dalam konteks antisipasi atau pencegahan selalu tidak gawat darurat. Belum terasa pentingnya sebelum mulai terjadi. Saat peristiwa terjadi, situasi worst barulah berdampak pada survival, urusan selamat dan tidak selamat, serta paling mungkin bikin orang panik, mendadak sukar berpikir cermat.

Dari berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk, ingin saya lanjutkan dengan kesiapan menghadapi krisis dan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Bersiap untuk yang terburuk, termasuk mempersiapkan segala hal yang bisa dijangkau dalam menghadapi krisis. Beruntungnya, banyak ringkasan dan petunjuk singkat terkait ini.

https://i1.wp.com/www.pantau.com/uploads/news/content/1577926723-29816268.png?w=1540&ssl=1
Infografik: Pantau.com

Bagi yang berpengalaman, atau pernah mengalami, kemungkinan besar sudah tahu harus mempersiapkan apa dan bagaimana caranya bersiaga. Sementara bagi yang baru pertama kali mengalaminya–mudah-mudahan musibah banjir sudah tuntas sepenuhnya hari ini–setidaknya bisa belajar dari pengalaman di awal tahun. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang abai, menjadi lebih peduli.

Sedikit cerita mengenai ini, saya cukup bersyukur lahir dan besar di Samarinda. Sedari kecil, sudah relatif terbiasa dengan curah hujan yang tinggi dan konstan sepanjang tahun, berenang dan akrab dengan arus Sungai Mahakam. Kemudian, terpapar dengan bahaya maut saat banjir untuk pertama kalinya saat duduk di bangku SMP (terjatuh dalam lubang gorong-gorong yang dalam dan berarus deras). 

Berlanjut ketika bekerja sebagai jurnalis sekaligus pewarta foto di surat kabar lokal Samarinda. Musim hujan dan banjir parah setidaknya berlangsung sekali dalam setahun. Entah sambil berjalan kaki atau menumpang perahu karet lembaga-lembaga penyalur bantuan, pemerintah maupun organisasi sosial, blusukan ke kawasan pemukiman yang rendah dengan ketinggian banjir sampai lebih dari 130 cm. Banjir yang terjadi agak dimaklumi kala itu, sebab Samarinda dikepung lokasi-lokasi tambang batu bara berbagai skala. Belum lagi Bendungan Benanga di Samarinda Utara yang tak mampu menahan debit air dari utara kota.

“Sambil menunggu banjir surut.”
Salah satu foto banjir Samarinda, Mei 2008.

Peristiwa banjir Jakarta yang akhirnya turut saya alami pada tanggal 2 dan 3 Januari kemarin pun, ya … kurang lebih semodel dengan yang pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya di Samarinda. Berbekal pengalaman tersebut, saya berusaha berhati-hati. Misalnya: 

  • Memilih jalur arah pulang yang sudah diakrabi, agar bila berjalan dalam banjir dan gelap sekalipun, tetap bisa terhindar dari lubang tergenang dan potensi bahaya lainnya. 
  • Sebisa mungkin tidak melepas alas kaki saat menerjang banjir. Biarlah sneakers saya rusak karena dipakai berjalan dalam banjir, daripada telapak kaki saya robek kena pecahan kaca. Kendati di beberapa titik, ada saja orang yang bilang kepada saya untuk melepas sepatu supaya bisa berjalan lebih cepat. 
  • Apabila tidak mau/tidak memungkinkan untuk pulang, bersiap untuk menumpang/menginap/mengungsi. Jangan rempong. Situasi darurat, bukan staycation. Kecuali banyak duit dan buka kamar di hotel. Terserah you.

Hal-hal di atas ada kaitannya pula dengan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Banjir melanda semua orang; semua orang menjadi korban. Kita penting, orang lain pun penting. Jika kondisi memaksa untuk berjalan kaki menuju akses kering, ya, berjalanlah. Santai saja. Keluhan dan gerutu tidak akan bikin banjirnya surut. Kecuali kalau kamu punya kemampuan seperti Nabi Musa; membelah air.

Masih bisa bekerja, ya, bekerjalah. Namanya juga musibah, bos di kantor pun bisa memaklumi. Kalau tidak bisa memaklumi, coba saja dilihat sejauh apa dampaknya. Unpaid leave? Harus memotong uang makan, atau mengurangi jatah cuti? First things first. Akan tetapi, yang satu ini lagi-lagi ada urusannya dengan privilese. Fokus sajalah pada hal yang lebih penting dan gawat darurat. 

Jikalau status sosial dan ekonomi belum memampukan kita untuk sefleksibel itu, setidaknya mindset kita sudah mengarah ke situ. Biar enggak nambah-nambahin otak sumpek. Setelah semua reda, baru deh berjuang menyuarakan kesadaran akan lingkungan dan krisis iklim. 

Enggak gampang, memang, tetapi, namanya juga berharap yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk, siap menghadapi krisis, dan fleksibel menyesuaikan diri terhadap keadaan. Toh, lebih mudah dibaca (dan dipahami) saat tidak sedang kebanjiran, kan? Padahal, sikap ini pun bisa diterapkan pada hampir segala hal. Musibah dan bencana alam, maupun musibah dan bencana hati serta pikiran.

[]

Btw, tetap siaga dan berjaga-jaga. Cuaca ekstrem berupa hujan deras dan kroni-kroninya berpotensi terjadi antara tanggal 11 sampai 15 Januari mendatang.

Hope for the Best, Prepare for the Worst

Kata-kata yang menjadi judul di atas saya temukan pertama kali di sebuah buku tulis yang saya beli waktu duduk di bangku sekolah. Saya terkesan sekali dengan kata-kata tersebut, sampai sering sekali saya gunakan di berbagai kesempatan.

Waktu “digojlok” menjadi siswa baru, saya selalu menulis kata-kata tersebut di tulisan yang harus kami buat setiap harinya untuk diserahkan ke kakak-kakak kelas yang “menggojlok” kami. Waktu dicurhati teman, entah berapa kali saya menggunakan kata-kata ini sebagai salah satu tanggapan saat ditanya, “What do you think I should do?”

Demikian pula di kehidupan nyata. Acap kali saya sering menemui kejadian, di mana saya sudah berharap akan mendapat sesuatu, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Waktu sedang menulis tulisan yang sedang anda baca ini, misalnya. Saya memilih kedai kopi ini dengan harapan bisa mendapat tempat duduk yang dekat colokan listrik, eh ternyata tempat itu sedang ramai dengan keluarga yang sedang berlibur. Alhasil, saya duduk di tempat lain, sambil berharap rombongan keluarga ini segera menyelesaikan kegiatan mereka di meja tersebut.

Tentu saja saat saya sedang menulis ini, pikiran saya melayang ke ibu kota Indonesia yang sedang dirundung kemalangan. Musibah banjir ini bisa dibilang yang terberat yang pernah dialami, karena hanya dalam hitungan jam, hujan deras mampu meluluh lantakkan pergerakan seluruh kota, dan mengakibatkan beberapa korban jiwa.

Saat ini saya berada di luar Jakarta. Tapi pikiran saya tidak lepas ke teman-teman, lingkungan sekitar dan rekan-rekan lain yang sedang bertahan hidup. Termasuk pula beberapa orang yang baru saja kembali dari liburan akhir tahun. Siapa yang menyangka, saat pulang dari liburan, harus menghadapi kenyataan yang mengenaskan? Siapa yang menyangka juga, liburan harus berakhir dengan genangan?

Tidak ada yang menyangka kapan musibah datang menimpa kita, meskipun kita sudah menyiapkan diri sebaik mungkin. Dan atas pemikiran inilah, saya meyakini bahwa saat kita hope for the best, sebenarnya secara otomatis kita sedang prepare for the worst. Dalam diam kita, kita berdoa dan berharap, sambil otak terus berpikir untuk mempersiapkan diri. We hope by preparing. Mempersiapkan mental, mempersiapkan perasaan, mempersiapkan fisik, mempersiapkan materi, dan segala jenis persiapan lain.

Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan duka cita buat semua korban peristiwa banjir awal tahun 2020 ini. Untuk mereka yang harus berpisah dengan orang-orang tercinta, saya ikut berdoa, semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Untuk mereka yang terpaksa merelakan harta yang telah dimiliki dengan jerih payah sekian lama, saya ikut berdoa, semoga akan ada pengganti yang lebih baik. Untuk yang masih bertahan, semoga kita semua bisa terus bertahan, membantu sama, dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan apa pun.

We never know what the future brings. We can only hope for the best, and prepare for the worst.

Memulai dengan Mendengar

SELAMAT menjalani tahun baru, dengan cara kita masing-masing.

Seperti lazimnya. Ada yang memasuki tahun baru dengan segudang proyeksi dan rencana yang siap dijalankan. Aspirasi atau resolusi hidup yang baru, cita-cita atau tujuan yang baru, karier atau lingkungan pekerjaan yang baru, sekolah atau kampus yang baru, rumah dan lingkungan tempat tinggal yang baru, kehadiran seseorang di dalam hidup, maupun niat atau tekad penting yang baru dalam hidup.

Ada juga yang mulai memasuki tahun baru laksana tangkai-tangkai biji bunga Randa Tapak; luwes melayang mengikuti arah angin, hingga akhirnya bertahan di satu tempat, dan apabila ideal, akan mulai bertumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Ringan, tanpa perkiraan yang berlebihan, apalagi keinginan-keinginan.

Image result for dandelion animated gif
Randa Tapak

Ada yang memasuki tahun baru dengan “penambahan”, ada pula yang “kehilangan”. Saya sendiri, hari ini masih dalam suasana berduka setelah ditinggal tante yang berpulang tepat tanggal 25 Desember kemarin. Sementara bagi para sepupu dan keponakan‒anak dan cucu mendiang, mereka akan mulai menjalani tahun baru dengan pergi ke perairan Situbondo untuk melarung abu jenazah. Besok.

Kita semua punya cerita masing-masing dalam memasuki tahun yang baru ini. Namun, pada dasarnya, apa yang akan kita hadapi bersama nanti sepenuhnya merupakan misteri. Tak seorang pun yang benar-benar tahu apa yang akan diperoleh, dialami, dirasakan, atau dilepaskan. Segala yang telah terjadi di tahun kemarin, bahkan sampai di detik terakhir 31 Desember 2019, sudah berlalu. Sekeras apa pun rasanya; semenyangkan atau setidakmenyenangkan apa pun rasanya; sebesar atau sekecil apa pun rasanya; berhasil tercapai atau tidak, semua hal itu sudah berlalu. Hanya menyisakan ingatan, dan pengalaman.

Mau kamu apakan pengalaman-pengalaman tersebut, itu menjadi hak prerogatifmu seutuhnya. Akan tetapi, entah mau kamu bagaimanakan ingatan-ingatan tersebut, semua itu akan tetap menjadi kenangan. Ingatan yang di setiap kemunculannya akan selalu memberikan sensasi rasa, dan hanya itu saja. Tak lebih.

Satu hal lainnya, kita semua sama-sama memasuki tahun baru ini sebagai individu yang telah berbeda, berubah dari sebelumnya. Entah seperti apa perubahan itu; menjadi lebih baik atau tidak (menurut standar sosial yang diterima umum, atau mungkin menurut penilaian kita sendiri). Harapan, kekhawatiran, kerisauan dan kegelisahan, semangat, ketakutan, keragu-raguan, kegembiraan, kekecewaan, apatisme, serta beraneka perasaan manusiawi lainnya mustahil lenyap. Pasti akan ada, dan oleh karenanya, coba diamati saja. Kita belum tentu sekuat hati itu, atau sebijaksana itu untuk bisa menepis perasaan-perasaan tersebut.

Setidaknya, yang bisa kita lakukan, barangkali adalah memulai dengan mendengar. Mendengar diri kita sendiri; mendengar isi hati kita sendiri.

Apakah yang sebenarnya aku inginkan?
Ini kah yang sebenarnya aku inginkan?

Apa yang kurasakan?

Tahun lalu kita mungkin terlalu sering mengabaikan diri sendiri, tidak mengacuhkan pemikiran, pertimbangan, dan suara hati. Tahun ini, dengan cara ini, kita mungkin bisa memulai berdamai dengan diri sendiri. Berhenti bertikai dengan diri sendiri.


Ya sudah… tak usah terlampau serius bacanya. Semalam kan habis begadang bersama teman-teman. Recovery tenaga dulu saja, toh, besok kan sudah kembali masuk kantor dan bekerja.

Selamat menjalani tahun baru. Selamat di permulaan, selamat di pertengahan, dan selamat di penutupan.

[]

Melihat (Kembali)

Setelah riuh rendah Natal berlalu, biasanya kita langsung terpaku. Tak perlu lama-lama, biasanya juga persis sehari sesudah Natal, kita mulai terpaku, termenung atau melamun. Memikirkan apa-apa saja yang sudah terjadi dan berlalu sepanjang tahun. Mumpung malam perayaan tahun baru masih kurang dari seminggu.

Banyak orang bernafas lega bisa survive di tahun 2019. Tahun politik yang gaduh, sangat gaduh sehingga memecah belah persatuan, persaudaraan dan persahabatan banyak orang. Nyatanya, yang dibela mati-matian tetap saja melenggang. Memberikan dampak kecil bagi kehidupan kita.

Banyak juga yang mengaku menyerah, habis-habisan di tahun 2019 ini. Sudah banyak yang dikorbankan untuk urusan bisnis, keluarga, pekerjaan, pasangan hidup, maupun lain-lain yang ternyata tidak membuahkan timbal balik yang sudah dibayangkan atau direncanakan.

Saya memasuki umur baru yang cukup signifikan di tahun 2019 ini. Terus terang, sempat “jiper”. Ketakutan saya tertutupi oleh kesibukan yang kebetulan bertepatan dengan hari umur baru saya dimulai. Maklum, di usia baru, yang sering diimbuhi dengan kata-kata di awal “life begins at …”, membuat saya banyak berpikir, mulai dari “Am I really here?”, sampai “What have I done up to this age that made me proud?”

Jawaban pertanyaan kedua ternyata masih dicari. Dari sekian pemikiran, belum ada yang “ajeg”. Mungkin malah tidak ada pernah ada jawaban yang pas, karena pasti ukuran kepuasan itu selalu berubah-ubah, atau berevolusi mengikuti perkembangan waktu.

Namun perubahan lain yang cukup signifikan yang saya rasakan tahun ini adalah hidup berkecukupan. Tidak, saya tidak mendapatkan kenaikan penghasilan yang melonjak tajam. Untungnya, tidak sampai turun tajam pula. Tapi saya merasa mulai hidup berkecukupan.

Alias, living enough.

Pada akhirnya, mulai tahun ini saya bisa merasa cukup dengan apa yang saya miliki. Terutama dari segi materi. Tidak merasa kurang kalau belum memiliki barang baru, karena yang sudah dipunya masih bisa berfungsi baik. Tidak merasa kurang kalau belum menyiapkan cadangan ekstra, terutama makanan, karena toh tinggal sendiri, sehingga cukup menyediakan makan untuk seorang diri. Tidak perlu buru-buru beli buku yang lagi diskon di Kindle, karena masih banyak buku yang belum sempat dibaca. Tidak perlu buru-buru subscribe streaming platform yang lain, karena pada akhirnya waktu juga yang menghalangi kita untuk menonton banyak film dan serial.

Dan tidak keberatan hidup sendiri, serta pelan-pelan menerima dan mengatasi kesendirian seorang diri.

Sounds simple? Trust me, it is far from simple. It is hard at times, and it is still hard at times.

Saya pun masih berjalan pelan, sangat pelan malah, untuk mulai merasa cukup ini. Kadang-kadang masih muncul keinginan-keinginan untuk memiliki yang sebenarnya we just want to have, not we need the most. Biasanya saya sengaja ambil waktu lama untuk mengambil keputusan, sambil berpikir, “Is it necessary?”

Saya pernah membaca, dan saya lupa pula sumbernya di mana, tentang seorang pengulas gawai terbaru, yang ditanya, “What is the best product you can recommend to anyone right now, honestly?” Lalu dia jawab, “Honestly? The best product you need to have right now is the one you are already using it. If you use what you have on daily basis, you use it well to run your lfe, and it is still working well, then it is enough.

It is enough. This is enough. Itu sudah cukup membuat saya melihat kembali setahun belakangan ini sebagai momen untuk merasa cukup.

Selamat libur akhir tahun.

Sepuluh (dan Sembilan) Film Favorit Tahun 2019

Jujur saya akui, sekitar 20% atau hanya seperlima dari total film yang saya lihat di tabun 2019 ini saya tonton di bioskop komersial di Indonesia, di penayangan reguler. Unexpectedly, frekuensi menonton film untuk urusan pekerjaan melonjak cukup tajam tahun ini.

Oleh karena itu, sebelumnya saya mohon maaf kalau ada judul-judul yang belum familiar. Saya sangat berharap dengan menempatkan judul-judul yang saya tonton baik di festival film internasional maupun dari private screening links yang diberikan untuk kepentingan profesi, teman-teman bisa mencari atau mulai menandai film-film tersebut. Kalau ada yang kebetulan sedang diputar, usahakan untuk datang menonton. Kalau sudah tersedia di jalur tontonan legal, baik itu streaming platform atau toko semacam iTunes Store, go and find them.

Yang pasti film-film ini dekat dengan saya. Mereka memberikan perasaan yang membuncah seusai menontonnya, yang tak lekas hilang saat selesai menontonnya.

Dan inilah dia.

Sembilan film yang juga meninggalkan kesan yang mendalam, dalam urutan acak:

Rocketman

The Farewell

Gully Boy

Between Two Ferns

Uncle

Towards the Battle

Flesh Out

For Sama

Late Night

 

Dan sepuluh film favorit saya di tahun 2019 ini adalah:

10. Homeward

homeward-imdb
Homeward (source: IMDB)

Cerita tentang perjalanan ayah dan anak melintasi kawasan yang berbahaya sudah banyak diangkat ke layar lebar. Namun yang terasa istimewa dari debut penyutradaraan Nariman Aliev ini adalah perjalanan emosi dua karakter ayah dan anak sepanjang film yang membuat kita enggan berpaling sedetik pun. Selayaknya film bertema road trip, perjalanan yang dilakukan ayah dan anak ini mengubah cara mereka melihat satu sama lain, dan pada akhirnya mengubah hidup mereka. But not in the way we expect it to change. Film dari Ukraina ini terasa menusuk hati sampai pelan-pelan saat end credits mulai terbaca. It is powerful.

 

9. Stars by the Pound

stars-by-the-pound_unifrance
Stars by the Pound (source: Unifrance)

Tahun ini saya melihat cukup banyak coming of age films. Namun entah mengapa film Stars by the Pound yang terus membekas di ingatan saya. Film dari Perancis ini bercerita tentang Lois, seorang anak obesitas yang bercita-cita ingin menjadi astronot. Segala cara dia tempuh untuk menampilkan karya ilmiahnya sebagai jalan pintas untuk mengikuti program menjadi astronot, termasuk berkomplot dengan gadis-gadis remaja yang dianggap sebagai outcasts untuk memuluskan jalannya. Film low profile ini nyaris lewat dari radar saya, sampai saya menontonnya dan menitikkan air mata sembari tersenyum lebar di akhir film. Sensasi ajaib yang jarang saya rasakan di antara film-film lain selama bertahun-tahun.

 

8. Dolemite is My Name

dolemite-npr
Dolemite is My Name (source: NPR)

Ada ungkapan kalau sebuah karya dibuat dari hati, maka kita yang menikmati karya tersebut juga bisa merasakan isi hati para pembuatnya. I’m not among those who believe that, actually. Tapi kalau anggapan itu benar, maka film Dolemite is My Name bisa jadi contoh nyata. I don’t know about having a good heart, tetapi melihat film ini somehow kita bisa merasakan bahwa semua pemain dan pembuat filmnya benar-benar having fun saat membuat filmnya. Eddie Murphy tidak pernah terlihat se-relaxed dan sepercaya diri ini di film. Dia tahu betul apa yang harus dia tampilkan untuk menghormati legenda karakter Dolemite ini. Dan totalitas Eddie Murphy di sini membuat kita langsung menyelami dunia hiburan “blackploitation” tahun 1970-an tanpa kita perlu merasa familiar dengan dunia tersebut. Itu karena semua pembuat film yang terlibat di sini, they look like having a blast making this film. And it shows.

 

7. Extra Ordinary

extra-ordinary-Collider
Extra Ordinary (source: Collider)

Another film that came out of nowhere, and then … Boom! Film ini luar biasa jahilnya. Seorang guru sekolah mengemudi, Rose, mempunyai bakat bisa melihat dan berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah meninggal, dan kemampuannya ini acapkali mengganggu hidupnya. Sampai akhirnya ada dua orang yang membuat Rose mau tidak mau menggunakan seluruh kemampuannya lagi: muridnya di sekolah mengemudi, dan seorang rockstar yang mencari darah perawan untuk bisa membuat album baru. Sebuah cerita yang bisa membuat kita mengernyitkan kening. Namun saat saya menontonnya, saya benar-benar tertawa terbahak-bahak sepanjang film. Dan in a very rare chance, justru Will Forte, komedian alumnus Saturday Night Live, yang ‘disalip’ comic timing-nya oleh aktor-aktor Irlandia yang semuanya bermain cemerlang. Kalau ada penghargaan film tergokil tahun ini, inilah pemenangnya. It’s bloody hilarious!

 

6. Marianne and Leonard: Words of Love

leonard-marianne-TheTimesUK
Marianne and Leonard: Words of Love (source: The Times)

Leonard Cohen memang mempunyai kharisma luar biasa. Persona yang ditampilkan lewat musik dan gaya panggungnya bisa membuat jutaan orang “klepek-klepek”. Film dokumenter ini mengesahkan imaji tersebut, dan mengeruknya lebih dalam lagi lewat kisah Leonard Cohen dengan Marianne Ihlen, yang menginspirasi banyak karya populer Leonard selama bertahun-tahun, sampai akhir hayat mereka. It’s common to portray love in feature film, but how do you capture that in documentary that also makes us feel the love? Kisah cinta yang nyata tidak mudah diterjemahkan dalam genre dokumenter yang sangat tergantung pada fakta. Namun film dokumenter ini berhasil menerobos kesulitan tersebut. Just like when we can only feel the depth of Leonard Cohen’s songs. Rasa yang ditimbulkan film ini persis seperti itu.

Dan inilah lima film favorit saya tahun ini.

5. American Factory

american-factory-Bloomberf
American Factory (source: Bloomberg)

Tidak mudah membuat cerita yang ‘netral’ dalam dokumenter. Kala ada dua sisi cerita yang berlawanan dan harus saling ditampilkan, pasti ada satu sisi yang menjadi titik berat penyampai cerita atau pembuat film. Ada satu yang lebih ditonjolkan. Namun hal ini tidak kita lihat dalam film dokumenter American Factory, yang dengan cermat menampilkan masing-masing sisi baik dan buruk dari kultur bekerja di pabrik di Amerika Serikat dan Tiongkok. Membuat cerita yang berimbang tidaklah mudah, malah nyaris mustahil. Namun saat itu terjadi, kita akan dibuat takjub sepanjang ceritanya.

 

4. Marriage Story

Marriage-Story-3-SparkChronicles
Marriage Story (source: Spark Chronicles)

Another film about a married couple going through bitter divorce process? Yes.

Two likeable actors playing the leads? Yes.

Dialogue bantering with lines that sting? Yes.

A child in between? Yes.

Emotional? Yes.

Make us chuckle at times? Yes.

Make us want to repeat watching the film? Yes.

I rest my case.

 

3. Joker

Joker-LineToday
Joker (source: Line Today)

Di saat ramai terjadi kasus kekerasan bersenjata pada saat pemutaran film, nyatanya tidak ada kasus serupa saat pemutaran film Joker ini. Bisa jadi karena film ini begitu nyata menampilkan secara visual pergulatan batin atas kekerasan fisik dan psikis yang terjadi di sekitar kita, yang tidak hanya bisa mempengaruhi tapi bisa mengubah jalan hidup kita. Terkesan bombastis? Maybe. Tapi itulah yang saya perhatikan dan rasakan dari film ini. How does one inhabit violent acts and thoughts? Because of the world one lives in. Menampilkannya dalam bahasa visual yang menggugah banyak orang, that’s the crowning achievement of the film.

 

2. God Exists, Her Name is Petrunya

Petrunya-IndependentMagazine
God Exists, Her Name is Petrunya (source: Independent Magazine)

Begitu keluar dari gedung bioskop yang memutar film ini di Berlinale bulan Februari lalu, saya buru-buru mencari tempat untuk menyendiri dan menghela nafas panjang. “What was that I just watched?” Hanya dalam 100 menit, film dari Macedonia ini berhasil membuat kita tercengang dan sepanjang film cuma bisa berpikir, “This is us! This could happen here! This is what the world is right now!” Film ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang putus asa mencari pekerjaan, namun secara tak sengaja dia malah ikut sebuah kompetisi ritual religius yang sebenarnya hanya diperuntukkan untuk kaum pria, dan menang. Lalu bergulir cerita tentang patriaki, sosial ekonomi, dan the world order yang sangat relevan untuk diikuti. And at times, this film can be funny, too. Saya sangat menyarankan apabila ada penayangan film ini, tontonlah. Prepare to be mesmerized. One of the most unforgettable films in decades.

 

1. Parasite

Parasite-PasteMagazine
Parasite (source: Paste Magazine)

Saya sengaja melewatkan penayangan Parasite di Cannes, karena berpikir, toh filmnya akan diputar di sini. Namun ada yang aneh. Setelah beberapa kali penayangan film tersebut di sana, setiap saya meeting, semua orang memuji film tersebut. Saya tidak mendengar satu pun yang berkomentar negatif tentang film ini. Ini jarang terjadi, karena hampir semua film kompetisi di Cannes pasti mengundang reaksi yang bertentangan. But impossibly, everybody loves Parasite in unison. Setelah menonton di bioskop, baru sadar kenapa film ini begitu istimewa. Kemampuan film ini membelokkan genre sambil masih menjaga logika bercerita, that’s what only an excellent master like Bong Joon-ho can do. Cerita tentang class division and social gap yang selalu relevan, ditampilkan dengan gamblang apa adanya, sambil tetap menjaga estetika produksi yang membuat kita betah menontonnya. Now here’s the thing about Parasite: it is a very mainstream movie. Tonton lagi, dan amati sudut pandang pengambilan gambarnya. Komposisi gambarnya. Penampilan tokoh-tokohnya. We’ve seen all before, and it looks familiar to us. Pendekatan populis yang diambil film ini berhasil membuat kita masuk ke universe yang diciptakan Bong Joon-ho, membuat film ini kuat dalam penceritaan, dan saya yakin, banyak teman-teman yang juga memilih film ini sebagai film favorit atau bahkan film terbaik tahun ini.

Tapi selain film Parasite dan film-film lain di atas, apa film favorit teman-teman tahun 2019 ini?

Kebencian

PERNAH suatu ketika selepas sesi ceramah diskusi di satu vihara di utara Jakarta, saya dihampiri salah seorang umat peserta. Siswi SMP, atau barangkali masih awal-awal SMA, yang rupanya punya beberapa pertanyaan, tetapi terlampau malu untuk menyampaikannya saat sesi berlangsung.

Ko, kalau ada seseorang yang jahat banget sama kita, padahal kita sudah berusaha ngomong baik-baik, tetapi tindakannya semakin tidak menyenangkan, sampai-sampai kita yang tadinya berdoa supaya dia berbahagia biar tidak lagi menyusahkan kehidupan orang lain, doanya berganti menjadi semoga orang tersebut cepat-cepat ‘pergi’, itu kira-kira apakah saya sudah berbuat jahat?

Foto: Abhisek

Mendapatkan pertanyaan yang demikian, jelaslah bahwa kehidupan manusia itu kompleks, rumit, tidak segampang teori-teori yang pernah kita baca. Agak susah untuk tidak menjawabnya secara normatif, atau yang setidaknya masih bisa diterima dari sudut pandang moralitas sosial, yang pada akhirnya hanya kembali berujung pada dualitas kaku benar versus salah.

Kebiasaannya selama ini, tanpa berupaya benar-benar memahami yang terjadi dan menyelidiki lebih jauh, kita langsung mendaratkan tudingan “Kamu salah. Tidak boleh!” Kalaupun bahasanya ingin sedikit diperhalus, paling-paling akan menjadi “Kamu sebaiknya tidak boleh begitu.” Pada intinya, langsung memberikan penilaian akhir. Apalagi bila yang ditanya adalah seseorang yang merasa memiliki reputasi, patut dijadikan tempat bertanya dan meminta solusi.

“Untungnya” saja, pertanyaan tadi ia sampaikan dalam konteks pemahaman Buddhisme, sehingga pandangan dan tanggapan yang saya coba tawarkan relatif lebih mengerucut. Lah wong, saya sendiri masih gampang merasakan kebencian terhadap sesuatu atau seseorang, kok.

Ko, apakah saya sudah melakukan kamma buruk?

Lalu, apa pandanganmu terhadap pertanyaan tersebut?

Bolehkah membenci seseorang yang telah berlaku jahat kepada kita?

Titik pusatnya ada pada emosi atau perasaan. Anugerah sekaligus kutukan bagi manusia, barangkali bisa disebut begitu. Anugerah, lantaran itulah yang mampu memanusiakan manusia; memampukan manusia menjadi manusia; memberikan rasa.

Kutukan, lantaran perasaan pulalah yang seakan-akan menguasai kita. Terutama untuk segala hal yang tidak menyenangkan, memberatkan hati, menyedihkan, mengecewakan, bahkan yang menderitakan. Termasuk kebencian kita terhadap sesuatu atau seseorang, baik karena perlakuannya, karakteristiknya, maupun hal-hal lain.

Dalam hal ini, perasaan dapat membuat hati kita berkembang sedemikian besar, menjadi gembira atau senang setelahnya. Sebaliknya, perasaan juga bisa memberikan siksaan, yang salah satu bentuknya ialah kebencian. Saking bencinya, membuat kita menginginkan‒berharap‒agar objek kebencian kita tersebut lenyap secepatnya.

Sampai pada poin ini, bolehkah kita membenci?

Kita mustahil agaknya untuk bisa mengenyahkan perasaan sepenuhnya. Sekuat-kuatnya kita, paling kuat hanya mampu membendung rasa terhadap perasaan yang muncul. Namun, kita tak akan bisa menjadi makhluk yang tidak punya perasaan, atau kemampuan merasa, sama sekali. Oleh sebab itu, perasaan benci akan tetap bisa muncul dalam kehidupan kita, menjadi sebuah fenomena mental yang alamiah dan wajar.

Akan tetapi, jauh lebih penting bagi kita untuk mengenali dan mengelolanya. Tak hanya perasaan, manusia memiliki akal budi. Tak hanya merasakan kebencian dan dibuat terombang-ambing olehnya, kita juga memiliki kemampuan mengenali dan menyikapi segala hal terkait kebencian tersebut.

  • Mengapa kebencian itu muncul?
  • Apa penyebab munculnya kebencian itu?
  • Apakah penyebab kebencian tersebut benar-benar sesuatu yang negatif dan merugikan kita, ataukah ada penilaian lain?
  • Apakah kebencian yang kita rasakan beralasan, ataukah hanya karena kita tidak suka terhadap keadaan?
  • Adakah cara untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah yang menjadi akar penyebab kebencian ini?
  • Apakah langkah yang aku lakukan untuk menghilangkan kebencian tersebut turut merugikan orang lain?
  • Apakah perasaan benci tersebut cukup penting untuk dipedulikan?

Jika ingin membenci, bencilah secukupnya. Setelah itu tinggalkan, dan mulailah urus hal lainnya, yang bisa jadi jauh lebih penting dari rasa benci itu sendiri.

[]

*** Lalu muncul pertanyaan: Seperti apakah “secukupnya” itu?

Sembilan Serial Televisi Favorit 2019

One simply cannot watch everything. Tidak mungkin kita akan pernah bisa menonton semua serial televisi dan jenis tontonan lain yang ada di saluran televisi, dan terlebih lagi, streaming platforms. Tentu saja dengan semakin menjamurnya streaming platforms yang tersedia, semakin banyak film dan serial yang sepertinya kita harus luangkan waktu untuk menontonnya.

Or do we have to?

Meluangkan waktu untuk menonton adalah pilihan. Waktu yang kita punya sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Tidak kurang, tidak lebih. Dalam sehari, saya biasanya membuat keputusan, berapa waktu yang akan saya luangkan untuk menonton di luar pekerjaan, menonton untuk urusan pekerjaan, lalu berolahraga, pergi ke tempat olahraga, dan beristirahat. 

Selain itu, tentu saja resensi atau review dari tontonan yang akan dipilih menjadi penting. Buat saya, paling tidak saya perlu membaca sekitar 7-10 tulisan resensi yang berbeda sebelum saya memutuskan apakah serial tersebut tepat untuk saya. Pilihan belum tentu selalu benar. Paling tidak saya sudah berusaha untuk mencari tahu apa yang akan saya pilih.

Tentu saja, jumlah film yang bejibun yang harus saya tonton untuk urusan pekerjaan, acap kali harus mengorbankan waktu untuk menonton serial lain. Jadi, sambil “mengaku dosa”, saya belum menonton sama sekali The Marvelous Mrs. Maisel (Season 3), Watchmen, The Mandalorian, Money Heist, dan masih banyak lagi.

Namun dari beberapa yang saya tonton, yang meninggalkan kesan mendalam buat saya saat dan setelah menontonnya adalah:

 

  1. SEX EDUCATION (SEASON 1)

sexeducation-tpcurrent(dot)com

 

Serial ini jujur dan apa adanya. Tidak mudah menampilkan kejujuran ini ketika berbicara mengenai masa puber dan seks. Apalagi di era sekarang. Tetapi serial ini berhasil membungkus kegelisahan remaja mengenai seks lewat komedi yang cerdas, dan yang penting, benar-benar lucu. It does not make us, the audience, feeling awkward. It makes us having a good time.

 

  1. FOSSE/VERDON

fosse_verdon_ver2_xlg-impawards
Fosse/Verdon (source: IMP Awards)

 

Mengapa film atau seri biopic tentang pekerja seni terus dibuat? Karena sangat menarik untuk mengetahui proses di balik layar penciptaan karya-karya legendaris yang mereka buat. Saya hanya mengetahui Bob Fosse sebatas sebagai sutradara film-film mahakarya seperti Cabaret atau All that Jazz atau pencipta musikal “Chicago”. Saya tidak terlalu tahu Gwen Verdon, pasangan hidupnya, yang ternyata adalah aktris panggung ternama yang menjadi inspirasi hampir semua karya Fosse. Namun penampilan cemerlang Sam Rockwell sebagai Fosse, dan terutama Michelle Williams yang menakjubkan sebagai Verdon, membuat mini seri 8 episode ini menarik untuk terus ditonton.

 

  1. STRANGER THINGS – SEASON 3

Stranger-Things-3-irishfilmcritic
Stranger Things 3 (source: irishfilmcritic.com)

 

Mempertahankan excitement itu tidak mudah, terutama untuk urusan sekuel atau kelanjutan serial di musim-musim penayangan berikutnya. Let’s admit that Stranger Things season 2 is not as fun as the first. Maka bisa dibayangkan betapa lega dan senangnya kita saat Stranger Things season 3 ini kembali menjadi sangat menyenangkan, dengan aroma pop culture pertengahan era 1980-an yang kental di saat mereka beranjak remaja. Ditambah dengan momen spesial lagu “Neverending Story” yang menjadi salah satu momen serial televisi yang paling berkesan tahun ini, jadilah Stranger Things season 3 ini menjadi tontonan yang totally fun.

 

  1. POSE

pose-netflix
Pose (source: Netflix)

 

Menonton serial Pose membuat kita sering terhenyak. Kadang tertawa, sering kali terharu. Beberapa episode membuat saya tersenyum dalam sedih, karena setelah beberapa dekade, kehidupan orang-orang transgender masih belum membaik. Dalam beberapa hal dan tempat, malah memburuk. Saya suka “menuduh” serial-serial karya Ryan Murphy as too glossy, too over the top, too much. Tapi dalam konteks serial Pose, everything feels right and falls right into place.

 

  1. BARRY – SEASON 2

barry_s2-amazon
Barry – season 2 (source: Amazon)

 

Consistently funny. Itulah satu hal yang terlintas di benak saya saat menonton season 2 serial karya Bill Hader ini. Tentu saja the almost wordless episode of episode 5 menambah keseruan serial yang terbilang langka ini. Langka, karena menggabungkan action dan komedi sangat susah. This one pulls it off nicely.

 

  1. FLEABAG – SEASON 2

fleabag-amazon
Fleabag (source: Amazon Prime Video)

 

Phoebe Waller-Bridge memang layak banyak diburu para produser belakangan ini. Kemampuan menulis ceritanya di atas rata-rata. Silakan tonton Fleabag untuk menyaksikan kehebatan Phoebe menjalin cerita yang membuat kita bengong. “Lho kok jadi gini?” “Eh kok bisa sih?” Karakter pendeta yang dimainkan Andrew Scott tentu saja adalah buah hasil fantasi liar Phoebe, yang menjadi sangat believable di layar berkat penokohan yang cerdas. Yes, this is one smart comedy we cannot miss.

 

  1. CHERNOBYL

chernobyl-youtube
Chernobyl (source: Youtube)

 

Buat saya, inilah miniseri yang lebih mencekam dari semua serial horor. Pengetahuan tentang bahaya Chernobyl hanya saya peroleh dari buku pelajaran waktu masih di bangku sekolah. Itu pun hanya samar-samar. Namun saat melihat miniseri ini, mau tidak mau hati kita mencelos. It’s hard to portray the real horror of a real life situation. Tetapi yang ditawarkan miniseri Chernobyl ini berhasil membuat kita tertegun dan terpaku. It was real. The horror was real. Dan saya menulis ini sambil masih bergidik membayangkan adegan demi adegan yang terasa nyata saat ditonton.

 

  1. MADE IN HEAVEN

madeinheaven-amazonprime

 

Saat menyusun daftar ini sambil menelaah lagi list serial yang saya tonton sepanjang tahun 2019 ini, terus terang saya kaget. Kaget karena serial ini salah satu yang terus terpatri di ingatan. Serial tentang jatuh bangun kehidupan dua anak muda yang merintis usaha wedding organizer di New Delhi, India ini, memang terasa tidak dekat dengan kita. Namun hanya dari dua episode pertama, saya langsung hooked on to the series. Karakter, latar belakang cerita, dan backstory dua karakter utama, ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari di sini. We can see the characters living here, dan mereka akan mengalami masalah yang sama. Serial ini ada di Amazon Prime Video. Salah satu serial layak tonton yang perlu dipertimbangkan kalau anda ingin berlangganan streaming platform tersebut.

 

Dan serial favorit saya di tahun 2019 ini adalah:

 

  1. AFTER LIFE

afterlife-netflix
After Life (source: Netflix)

 

How does one portray a life-like grief? Dan juga yang penting, how do you portray someone dealing with grief that you can immediately feel the aching? Saya benar-benar tidak menyangka Ricky Gervais bisa membuat karya yang sangat, sangat humanis. Dalam satu episode, saya bisa menitikkan air mata di satu adegan, sebelum dibawa tertawa terbahak-bahak di adegan berikutnya. Dan Ricky tidak pernah kehilangan beat dalam bercerita. Saat karakter yang dia perankan, seorang duda yang berusaha bangkit dari kesedihan setelah istrinya meninggal dunia karena kanker, harus menyewa pekerja seks komersial untuk membersihkan rumahnya, karena dia tidak tahu di mana harus menyewa asisten rumah tangga, kita pun merasa trenyuh. Kita berempati dengan karakter ini. Kita mungkin tidak pernah mengalami yang dia alami, tapi setiap keputusan karakter yang dia mainkan sungguh sangat terasa masuk akal, dan membuat kita menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

And that is simply brilliant.

 

Apa serial favorit anda tahun ini?

“Listen to Your Heart”

KALIMAT di atas sejatinya bukan sekadar judul tulisan Linimasa hari ini, melainkan salah satu judul lagu dari duo Roxette yang saya akrabi lewat siaran radio waktu masih SMA.

Kemarin, Mas Nauval ngabarin kalau Marie Fredriksson–vokalisnya–meninggal dunia. Maka, tak banyak cerita untuk hari ini; saya ingin mendedikasikan halaman ini untuk mengenang Roxette, lewat beberapa judul lagunya yang telah menempel di ingatan setelah selama ini. Yang minimal selalu terngiang nada dan syair reff-nya.

Dimulai dengan … “Listen to Your Heart”

“Spending My Time”

“Wish I Could Fly”

“Milk and Toast and Honey”

Dan … “It Must’ve Been Love”

Abadi dalam karya, selamat jalan…

[]

Lima Buku dan Lima Kutipannya

Tahun ini, rata-rata dalam sebulan saya baca 3-4 buku. Jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding waktu kuliah dan waktu masih agak muda dulu (ehem!), tapi jumlah yang sedikit meningkat dibanding tahun lalu. Faktor yang sangat berpengaruh dalam membaca rupanya adalah keputusan saya untuk lebih banyak menggunakan transportasi publik tahun ini. Susah ‘kan, baca buku waktu naik ojek?

Tentu saja karena saya semakin menjadi penganut reading while commuting, akhirnya 95% buku yang saya baca adalah yang bisa saya baca di gawai. Sejauh ini pilihan saya masih di Kindle. Kalau tidak membawa perangkat Kindle, maka saya membaca lewat aplikasinya. Toh progress membaca masih bisa di-sync. Sementara untuk membeli buku di PlayStore, sudah cukup beberapa kali di beberapa tahun lalu. Layout buku yang dijual di PlayStore kurang ramah buat mata dan preferensi penglihatan saya.

Masih seperti ‘tradisi’, atau mungkin lebih tepat disebut kebiasaan ya, saya membaca tidak melihat tahun terbit buku itu. Malah lebih banyak buku-buku yang saya baca terbitan dari beberapa tahun yang lalu, atau beberapa dekade yang lampau. Kalau saya baca sinopsisnya dan saya tertarik untuk membacanya, maka saya pasti akan beli.

Dan inilah beberapa buku yang berkesan buat saya, tanpa perlu saya ulas, karena kutipan dari buku-buku inilah yang paling membekas:

1. “The Rainbow Comes and Goes” – Anderson Cooper

Kutipan:

– “The rainbow comes and goes. Enjoy it while it lasts. Don’t be surprised by its departure, and rejoice when it returns. There is so much to be joyful about, so many different kinds of rainbows in one’s life: making love is an incredible rainbow, as is falling in love; knowing friendship; being able to really talk with someone who has a problem and say something that will help; waking up in the morning, looking out, and seeing a tree that has suddenly blossomed, like the one I have outside my window—what joy that brings. It may seem a small thing, but rainbows come in all sizes. I think about Dorothy in The Wizard of Oz singing, about where “bluebirds fly,” and Jan Peerce singing about “a bluebird of happiness.” Well, they may never find it, they may never reach it, and that’s okay. The searching, that’s what I think life is really all about. Don’t you?

– “Death is the price you paid for being born.

2. Middlesex – Jeffrey Eugenides

Kutipan:

– “Biology gives you a brain. Life turns it into a mind.”

– “Everyone struggles against despair, but it always wins in the end. It has to. It’s the thing that lets us say goodbye.”

3. Lie With Me – Philippe Besson

Kutipan:

– “Desire does not go out like a match, it extinguishes slowly as it burns into ash.

– “In the end, love was only possible because he saw me not as who I was, but as the person I would become.”

4. Pachinko – Min Jin Lee

Kutipan:

– “Living everyday in the presence of those who refuse to acknowledge your humanity takes great courage.

– “No one is clean. Living makes you dirty.

5. The Female Persuasion – Meg Wolitzer

Kutipan:

– “Relationships were a luxury designed for people whose lives were not in crisis.”

– “Power and love didn’t often live side by side. If one came in, the other might go.

 

Apa buku bacaan favorit teman-teman tahun ini?

Manakala Enggan Memulai Kembali (gpp, kok…)

SALING berkenalan; mulai dekat; menjalin hubungan; larut dalam kemesraan; menghadapi perselisihan; bersepakat untuk berdamai dan saling memaafkan, atau justru memilih untuk mengakhiri kebersamaan dan saling berpisah–atau dalam banyak kasus, salah satunya menyerah, lalu pergi meninggalkan. Yang awalnya sendirian, menjadi berdua, kemudian kembali bersendirian.

Sekilas, siklus di atas tampak sederhana. Namun aku, kita, sudah sama-sama tahu bahwa itu tidak sesepele kelihatannya. Jika urusannya hanya soal mencurahkan waktu dan tenaga, tentu tak seberat atau sepenting itu untuk dijadikan persoalan. Melainkan soal mencurahkan perhatian, menjaga perasaan, serta berupaya memegang teguh kepercayaan dan komitmen terhadap seseorang. Itu yang susah, melelahkan, dan menguras isi hati maupun kepala.

Makanya, kita tetap harus bisa menghormati dan menghargai segala keputusan orang-orang yang tengah patah hati. Barangkali teramat mudah bagi kita untuk menyoraki seseorang agar segera move on, beranjak dari situasi emosionalnya saat ini, padahal bukannya mereka tidak mau move on, tetapi masih menyimpan keraguan (terhadap diri sendiri); trauma dan ketakutan (untuk mempercayai orang lain, apalagi yang datang dengan segala sikap baik dan manis); atau pun keengganan (dari kembali berdekatan dengan orang lain). Biarkanlah mereka mengambil dan menghabiskan waktu seberapa pun lamanya yang mereka butuhkan, agar benar-benar pulih; benar-benar utuh hatinya; benar-benar kuat kepribadiannya.

Setelah itu, barulah persilakan mereka untuk mencoba kembali lewat apa saja. Biarkan mereka memilih ingin menggunakan apa untuk mulai terhubung dengan orang-orang baru, orang-orang yang berbeda. Entah apakah nantinya menjadi mula dari bab utama sebuah cerita, ataukah menjadi sekadar catatan-catatan tambahan di kaki halaman. Entah apakah mereka memang ingin mencari pasangan, ataukah menjadi sekadar penjajakan yang tak usah diteruskan.

Biarkan mereka terpapar dengan semua pilihan, dan biarkan mereka memilih sendiri. Lagipula, kita sendiri pun tahu rasanya, kan?

Lain halnya apabila mereka terkesan “buta”, tidak tahu harus bagaimana; memulai dari mana, dengan cara apa. Itulah saatnya untuk menunjukkan berbagai pilihan yang ada. Yang mereka perlu lakukan ialah mempersiapkan diri dan mulai terbuka dengan segala kemungkinan.

Dating Platform

Mendaftarkan diri, sama artinya bersedia untuk ter/diekspose. Langkah ini memungkinkan seseorang untuk bertemu dengan seseorang lainnya yang–mungkin–memiliki tujuan serupa. Di sisi lain, seseorang yang mendaftarkan diri pada dating apps berarti siap mencari pasangan, apa pun batasannya. Banyak orang berhasil menemukan jodohnya (baca: pasangan resmi hingga pernikahan) lewat sejumlah dating apps, hanya saja tak sedikit pula yang menjadikan platform ini sebagai wadah menemukan partner kencan semalam-dua malam saja.

Yang pasti, dating apps hanyalah pintu gerbang perkenalan. Itu pun secara daring saja. Tetap diperlukan serangkaian percakapan, kemudian berlanjut pada pertemuan tatap muka, barulah bisa berujung ke sejumlah peluang. Tidak cocok? Selama masih di level online, tinggal unmatch saja. Sebab setiap orang belum tentu sepenting itu untuk dikejar atau diperebutkan. Semuanya masih tampil di balik persona, profile picture. Kamu tak akan pernah menyangka bakal bertemu siapa di sana.

Sesederhana itu.

Saling Memperkenalkan/Diperkenalkan

Inilah salah satu manfaatnya memiliki lingkar pertemanan atau pergaulan yang luas. Seseorang memperkenalkan temannya/diperkenalkan kepada temannya yang lain. Umumnya dalam sebuah kegiatan bersama, atau acara. Serius, atau santai.

Ketertarikan awal bisa memantik seketika lewat tampilan fisik, pembawaan, maupun cara berbicara. “Orangnya asyik juga, nih.” Lagi-lagi tentu diperlukan pendalaman tujuan. Apakah pihak sana juga punya niat barang setitik pun untuk menjalin sebuah hubungan serius, ataukah buat main-main saja.

Ajang Cari Jodoh

Namanya juga usaha, apa saja bisa dilakukan selama tidak melanggar norma atau merugikan. Ajang cari jodoh, misalnya seperti foto di bawah ini, tak ubahnya dating platform yang analog. Orang-orang yang datang dan menghadirinya, setidaknya punya satu tujuan senada: Ingin mencari seseorang. Siapa tahu ada yang cocok, dan dia pantas diperjuangkan. Syukur-syukur kalau dia punya ketertarikan yang sama.

Sebuah upaya.

Dalam beberapa aspeknya pun, acara-acara yang demikian bisa sekaligus menjadi ajang screening, agar kendala-kendala mendasar bisa diatasi lebih awal. Contohnya persoalan agama. Daripada sesudah berkenalan, telanjur sayang, tahu-tahu terbentur perbedaan dan meninggalkan sakit yang terlampau dalam, lebih baik mengambil “jalan agak memutar” atau menghindar. Kendati di luar sana banyak pasangan yang kuat, tangguh, dan berhasil mendobrak batas-batas perbedaan tersebut, sungguhlah tak adil jika kita menganggap semua orang punya kekuatan serupa. Yang dapat kita lakukan hanyalah menyokongnya, tanpa sok mampu dan campur tangan terlalu dalam.

Jadi, bagi kamu yang belum siap memulai kembali dan mencari, please take your time, as much as you need. Tak usah terburu-buru, karena lebih penting bagimu untuk kembali menata hati.

Manakala kamu telah siap dan berani memulai kembali, yakinlah bahwa kamu sudah jauh lebih kuat; lebih tangguh; lebih berpengalaman; dan lebih cermat dari sebelumnya. Coba saja semua celah kesempatan yang ada. You deserve the best.

Sudah mencari tetapi belum menemukannya? Ya, sudah… buat apa dipaksa. Ada hidup yang tetap harus kita jalani dengan sebaik-baiknya. Kuasa untuk menjadikannya penuh dengan bahagia, ada di tangan kita.

Sini, peluk dulu…

[]

Brittany Berlari Untuk Berdiri

Kurang lebih sekitar dua minggu lalu, saya menonton film Brittany Runs a Marathon di Amazon Prime. Film and aplikasi ini bisa ditonton di Indonesia secara legal. Dan filmnya sendiri memang layak ditonton. Kenapa? Karena kita bisa melihat diri kita di situ.

Filmnya diangkat dari kisah nyata. Ceritanya berpusat pada Brittany, perempuan lajang di New York, yang selalu merasa insecure dengan tubuhnya. Dia berusaha menutupi rasa tidak percaya dirinya lewat pesta, konsumsi makanan dan minuman beralkohol yang berlebihan, serta ketergantungan terhadap obat. Saat dia berusaha mendapatkan ekstra obat dari dokter, Brittany malah disuruh menurunkan berat badan agar terhindar dari penyakit.

Semakin stressed out, akhirnya Brittany memutuskan untuk berolahraga. Mulai dari lari satu blok di sekeliling apartemennya. Berhasil. Lalu dia menambah waktu berlari. Berhasil. Dia berkenalan dengan beberapa orang, termasuk tetangganya. Lalu dia ikut klub lari. Pelan-pelan akhirnya Brittany mengubah gaya hidupnya, dan mengubah pula nasib hidupnya.

Namun Brittany tak pernah lepas dari rasa insecure yang membelenggu dirinya, berpuncak pada rasa sakit yang mengharuskan dia tidak ikut marathon dan harus menunggu setahun. Saat akhirnya Brittany bisa ikut marathon di tahun berikutnya, tanpa sadar kita pun ikut cheering and rooting for her.

brittany-runs-a-marathon_empire
Brittany Runs a Marathon (source: Empire)

Tentu saja formula cerita seperti ini sudah dibuat di banyak karya seni seperti novel dan film. Contohnya karakter Bridget Jones yang sudah menghasilkan tiga film dan beberapa judul buku. Toh kita, maksudnya saya, tak pernah bisa lepas terpaku dan dalam beberapa hal, bisa terpukau, dengan cerita seperti ini.

Demikian pula saat saya menonton Brittany Runs a Marathon ini, saya seperti sempat bertanya ke diri sendiri, “Kenapa ya, saya selalu tertarik dengan cerita seperti ini?”

Lalu saya sadar, “Uh oh. I see myself in these kinds of story.

Beberapa kali saya pernah tulis di Linimasa, termasuk tulisan ini, bahwa saya pernah ada di fase saat berat badan saya melambung tinggi. Ini terjadi waktu kuliah dulu. Sayangnya dan sialnya, saya berada di lingkungan pertemanan yang kurang sehat, yang malah mem-bully saya dengan berat badan saya yang waktu itu super ekstra.

Ternyata hasil bully-an tersebut diam-diam membekas. Ternyata kita tidak pernah lepas dari hal negatif yang pernah dilontarkan ke kita, meskipun kita sudah overcome our negative thought, meskipun badan kita sudah lebih fit sekarang, meskipun kita sudah berusaha tidak melakukan apa yang pernah orang lain lakukan ke kita. The pain remains, the pain stays, the pain will not go away, we just live with it. Seperti yang pernah saya tulis, deep down, I am still that overweight college guy who thinks himself as ugly duckling.

Akhirnya perasaan ini saya curahkan pada kisah-kisah seperti Brittany ini. Ternyata saya punya soft spot terhadap cerita-cerita seperti ini. Dulu saya mulai membaca dan mengikuti novel Bridget Jones waktu kuliah, dan seperti mendapatkan oase pelampiasan lewat cerita-cerita kocaknya.

Saat ini, saya merasa badan saya sedang gemuk. Lemak di perut mulai susah disamarkan. Olahraga masih jalan terus, demikian pula dengan craving untuk makan. Cuma saya lebih santai menanggapinya. Yang penting masih terus bergerak dan berolahraga, dan berusaha makan sesuai kebutuhan saja.

Mungkin memang perlu waktu untuk bisa menerima keadaan diri kita apa adanya. Brittany juga perlu waktu untuk mengubah gaya hidupnya menjadi seorang pelari. Tentu saja ada naik turun dalam penerimaan ini. Kalau kita sakit, kita perlu beristirahat, sehingga kita tidak bisa berolahraga. Kadang-kadang kita punya bad mood, sehingga kita perlu melakukan self indulgence. Selama tidak berlebihan, it does not do any harm.

Yang penting kita tahu kapan kita perlu merawat dan mencintai diri sendiri, karena saat kita berdiri, the pride we have about ourself will show and glow.

brittany-runs-a-marathon-brittany-50r_rgb_custom-_npr
Brittany Runs a Marathon (source: NPR)

Apa yang Kamu Lakukan Jika Dispensermu Bocor?

KITA sedang gemar-gemarnya membicarakan tentang kepatutan dan kepantasan akhir-akhir ini. Dengan mudahnya kita menuding orang lain bertindak tidak patut, atau pun tidak pantas mendapatkan apa yang telah mereka peroleh karena beragam alasan. Padahal yang dijadikan patokan hanyalah penilaian pribadi; belum tentu benar, dan pastinya cenderung berisik.

Untuk setiap kalimat “Menurut saya, dia tidak pantas…” yang dilontarkan, wajar saja bila dijawab “Memangnya kamu siapa?” Terdengar tidak menyenangkan, memang, tetapi kian tak terhindarkan.

Setiap orang kini terkesan merasa berkewajiban moral untuk mengkoreksi orang lain. Mereka seolah-olah entitled atau sudah sepantasnya menjadi mercusuar bermodalkan kepercayaan diri berbicara lantang, kendati apa yang disampaikan bisa saja bias, keliru, sok tahu, atau sekadar upaya pencitraan diri sebagai seseorang yang berbudi lebih terpuji dibanding orang lain; panutan masyarakat. Makanya, tak heran orang-orang seperti itu bisa makin menjadi-jadi jika mendapat dukungan, apalagi sampai berupa pengikut. Mereka seakan-akan mendapat tambahan legitimasi dan entitlement agar terus bersikap sebagaimana biasanya, biar sekontroversial apa pun.

Saat ini, dukungan tak mesti hadir secara fisik. Gaya hidup digital telah memungkinkan hampir semua orang tampil dan bersuara–atau bergaya, dan direspons secara langsung. Bisa dibayangkan, serta telah dialami sendiri, betapa riuhnya jagat maya. Konsisten, konstan, dan terus dipenuhi dengan “energi” sampai sekarang. Ke mana ujungnya, atau bakal menghasilkan apa, tak ada yang sungguh-sungguh tahu.

Awal pekan, pembicaraan tentang hak istimewa yang melekat pada seseorang mengemuka dan membesar seketika. Apa pun argumentasi kritiknya, tetaplah berujung pada “Kamu/dia/mereka tidak pantas…” Lah, kalau tidak pantas, terus kamu mau gimana?

Semuanya saling bersahutan, apakah itu saling mendukung (lantaran merasa dapat backing-an atas bacot ngawur beberapa waktu sebelumnya) maupun saling serang.

Seorang penulis yang meromantisasi–apa yang terlihat sebagai–kemalangan atau kemandekan hidup orang lain sebagai perbandingan terhadap dirinya sendiri demi mengutarakan “Aku lebih baik dari mereka,” menunjukkan dukungan dan kesepahaman atas pendapat seorang sutradara mengenai kepantasan versus ketidakpantasan tersebut.

Kemudian seperangkat argumentasi tadi kembali berhadapan dengan pemikiran yang berseberangan dari beberapa figur lain. Bolak-balik, bolak-balik laiknya pertandingan tenis lapangan. Berhenti di tingkat atas, dan terus bergulir ala kadarnya di tingkat bawah.

Jadi, apa maunya?

Kita lihat saja ke depannya. Tak langsung musnah bumi ini jika pernyataanmu jadi kenyataan, atau pun sebaliknya.

Sejak beberapa hari lalu, kembali bergulir bahasan baru yang membagi para pembahas menjadi kubu “Kamu/dia tak pantas berbicara begitu” dan sebaliknya. Perhatian pun mengerucut pada; lemahnya pemahaman kontekstual, ditambah kegemaran bersikap reaktif, dan kebiasaan memodifikasi pesan demi memancing reaksi.

Padahal, apakah ada dampaknya bagi kamu?

Naga-naganya lagi, bahasan ini bakal terus mengalir sampai pengujung pekan. Kecuali bila ada “keseruan” lainnya yang mampu mengambil alih perhatian massa.

Disadari atau tidak, hal-hal di atas ya … begitu sajalah adanya, dan melelahkan. Kita seringkali lupa, kita sendiri belum tentu patut dan pantas untuk menilai kepatutan dan kepantasan orang lain. Di satu sisi, memiliki pandangan dan pendapat pribadi ialah wajar adanya. Namun, di sisi lain, pandangan dan pendapat pribadi bukanlah alat yang tepat untuk menilai orang dengan segala keadaannya.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Amati sekitar kita, dan lakukan yang perlu dilakukan.

TenorGIF

Apabila dispenser air minum bocor, apakah bisa diperbaiki atau lebih baik sekalian beli yang baru? Dispenser dengan air panas dan dingin, atau air panas dan air biasa saja? Dispenser elektrik atau dispenser keramik? Dispenser dengan galon di atas, atau galon di bawah yang risikonya akan berisik setiap kali airnya hampir habis? Ataukah pakai pompa portabel bertenaga baterai?

Apabila gemar bersepeda, coba cek apakah rantai sepeda sedang perlu diberi oli lagi, atau hanya butuh dibersihkan? Bagaimana dengan remnya? Kondisi bannya? Atau keseluruhan bodinya, sudah perlu dicuci atau dibiarkan saja?

Apabila punya beberapa baju atau celana yang kancingnya copot, apakah bisa menjahitnya sendiri, atau lebih baik dijadikan kain lap karena sudah cukup usang, atau malah mending dibuang sekalian?

Ketiga contoh di atas tak kalah pentingnya dibanding pembahasan dan debat tak berkesudahan tentang kepatutan dan kepantasan … orang lain dan kehidupan mereka. Bukan kamu.

[]