Jenama Agama dan Strategi MarComm-nya

MERUPAKAN salah satu topik yang paling sensitif sepanjang masa, setiap orang memiliki kadar kenyamanan berbeda-beda saat membicarakan tentang agama. Ada yang saking santainya, bisa mengutarakan sesuatu tentang agama seringan obrolan sambil ngopi dan ngudap pisang goreng. Sambil tertawa-tawa.

Namun, tampaknya ada lebih banyak orang yang menganut prinsip Agama jangan dibecandain…” meski ada yang pakai embel-embel tambahan Terutama agamaku. Kalau agama yang lain… terserah, deh. Itu sebabnya, kaitkan saja sesuatu–nyaris apa saja–dengan agama, pasti bisa menarik dan mendapatkan perhatian dalam kelipatan eksponensial, bahkan berbuah tindakan.

Jadikan ini saja, deh, sebagai, contoh, biar lebih “aman”.

Bayangkan bila figur Buddha diganti dengan tokoh spiritual dunia lainnya, atau, dari agamamu.
  • Seseorang berpindah agama. Apalagi dia figur publik, entah apa pun alasan dan latar belakangnya. Heboh.
  • Pernikahan berbeda agama, kelahiran anak, dan urusan masa depannya. Heboh.
  • Perkara kehidupan sosial bermasyarakat, dan kebisingan. Heboh. 
  • Situasi ekonomi, termasuk orang-orang yang berkenaan dengannya. Heboh.
  • Terkait politik, mulai dari persaingan kubu, manuver biar rame, sampai Pilpres. Heboh.
  • Hingga teori konspirasi, yang meskipun asal comot, tetapi tetap diiyakan banyak orang setelah disangkutpautkan dengan agama. Hal-hal yang sejatinya remeh dan bisa dikesampingkan begitu saja, malah ikut jadi sorotan. Heboh.
Foto: SMCP.com

Ialah prinsip dasar komunikasi; pesan disampaikan demi mencapai sebuah tujuan. Dalam konteks soal topik agama tadi, baik penyampai maupun penerima mungkin mempunyai tujuannya masing-masing. Beberapa di antaranya, barangkali seperti ini.

Tujuan PenyampaiTujuan Penerima
– Ingin para pendengarnya mengetahui, dan memahami sesuatu
– Ingin agar para pendengarnya menjadi lebih dekat dengan agama, dan lebih banyak melakukan hal-hal baik. 
– Ingin dipercayai, agar lebih mudah dalam menyampaikan pesan berikutnya; dan agar para pendengar menuruti/melakukan yang dia utarakan. 
– Sekadar ingin melakukan kebaikan, atau yang menurutnya adalah sebuah kebaikan.
– Ingin tahu, ingin belajar, dan ingin memahami
– Ingin menjadi/termasuk/terkesan sebagai orang-orang religius (baca: saleh). 

Mengapa agama bisa menjadi “bungkus” komunikasi gagasan yang efektif? 

Exposure, alias keterpaparan. Macam dalam standar marketing communication. Dalam penyampaiannya, banyak orang yang terpapar secara terus-menerus tanpa merasa terpaksa atau terganggu. Tanpa sadar, ide, gagasan, dan siapa pun yang terkait isu tersebut akan melekat dalam benak pirsawannya. Termasuk orang tua, keluarga, tetangga, rekan kerja, dan masyarakat di sekitar keseharian kita. 

Konsepnya serupa brand exposure demi popularitas. Makin sering sebuah isu dikemukakan, makin tertanam dalam benak khalayak, makin menggoda untuk ditanggapi. Baik berupa tanggapan internal (ikut merasa dongkol, kesal, sebal, marah, lucu, sedih, bersemangat, dan sebagainya), maupun tanggapan eksternal (ikut dibicarakan atau disuarakan kepada orang lain, mencari dan berhimpun dengan orang-orang yang sepemikiran, membenci dan gusar dengan orang-orang yang berbeda pandangan, termasuk berbalas komentar di media sosial, dan sebagainya). 

Efek bola salju. Makin heboh sebuah isu, makin banyak orang yang penasaran dan ingin mencari. Ini pun menjadi peluang bagi para penyedia konten digital untuk berlomba-lomba berburu klik–upaya monetization, menghasilkan uang lewat dunia maya. 

Isu agama tak ubahnya jadi jenama. Ada nilainya, diukur dengan satuan rupiah lewat prinsip media brand value. Karena itu, makin sering sebuah topik mencuat, makin tinggi nominalnya. Popularitas setara angka uang yang mesti dibayarkan dalam keadaan normal (netral, tidak populer). 

Begini ilustrasinya. Deddy Corbuzier berpindah agama. Tak hanya berprofesi sebagai bintang layar televisi, sosoknya sendiri sudah cukup kontroversial dan menjadi pembicaraan nasional. Banyak portal berita online yang memberitakannya, terbagi dalam tiga fase: 

  1. Sebelum berpindah agama
  2. Prosesi berpindah agama
  3. Setelah berpindah agama

Katakanlah, Detik adalah salah satu portal berita yang aktif memberitakannya. Readership atau tingkat keterbacaannya cukup tinggi–anggap saja seratus pembaca setiap menit. Selanjutnya, total ada 25 artikel terkait perpindahan agama tersebut, menampilkan tulisan “Deddy Corbuzier” di judul serta paragraf pertamanya. 

Mari kita berhitung. Dengan readership mencapai seratus pembaca setiap menit, Detik memasang banderol Rp100 juta per tulisan (semacam patokan tarif, dikenakan kepada merek-merek yang ingin memuat artikelnya di sana). Dengan demikian, media brand value khusus untuk “Deddy Corbuzier berpindah agama” di sana sudah senilai Rp2,5 miliar! Belum lagi dari media-media lain. Nilai ini bisa saja lebih tinggi dibanding topik-topik Deddy Corbuzier lainnya, semisal “Deddy Corbuzier tantang Kapten Vincent”, “Deddy Corbuzier alami cedera punggung”, atau “Cara Deddy Corbuzier merawat kulit kepala”, dan seterusnya.

Tak tertutup kemungkinan readership-nya bisa lebih tinggi lagi, dan jumlah artikelnya pun terus bertambah, lantaran topik yang diberitakan adalah seorang artis berpindah agama. Bisa bercabang ke mana-mana. Itu pun belum ditambah topik-topik lapis kedua maupun ketiga, yang bagi banyak orang tak kalah menariknya (baca: memicu rasa kepo lebih lanjut). Contohnya: “Siapa guru mengaji Deddy Corbuzier?”, “Apakah anak Deddy Corbuzier juga akan berpindah agama?”, “Apakah Deddy Corbuzier sudah bersunat?”, atau bahkan “Inilah gaya Deddy Corbuzier mengenakan baju koko.”

Sampai ada tagar khususnya, lho: #Deddy Corbuzier Mualaf.

Coba saja kalau seluruh warganet Indonesia cuek bebek dengan urusan kepindahan agama si Deddy Corbuzier, tidak ada kehebohan khusus, media massa online pun cenderung sepi dari pemberitaan tersebut. Suasanya jadi berbeda.

Ya, begitulah. Semua berbau agama, dan tak kurang-kurang contoh lainnya.

Minat seseorang, atau sebagian orang Indonesia, terhadap topik-topik menyangkut agama memiliki spektrum yang luas. Mulai dari rasa terganggu hingga mudah tersinggung; mulai percaya buta tanpa kemampuan berpikir kritis hingga sikap reaktif. Salah satunya seperti:  

  • Langsung memberi komentar berapi-api terhadap sesuatu yang dilihat di media sosial, walaupun baru hanya membaca judul tanpa memahami keseluruhan konteksnya. 
  • Langsung forward atau meneruskan sebuah pesan panjang di grup WhatsApp hanya karena memuat ayat-ayat agama, tanpa sepenuhnya menyimak isi serta konteks yang disampaikan.

Kenapa bisa begitu? Karena berhubungan dengan agama. Apalagi kalau sesuai dengan pandangan yang bersangkutan. Jadinya “auto berisik”.

Entah disadari atau tidak, mereka pun bertindak tidak adil. Mereka menyebarkan sebuah narasi, tetapi setelah narasi itu terbukti bohong, mereka justru senyap dan tidak menyebarkan klarifikasinya. 

Kenapa bisa begitu? Karena sang penyampai pesan sebelumnya, telah berhasil membuat mereka percaya; membentuk perilaku dan respons batin mereka; atau bahkan melakukan brainwashing kepada mereka, menjadikan mereka tidak mau/tidak mampu/merasa tidak perlu untuk berpandangan kritis terhadap apa pun yang disampaikan. Juga tak tahu malu!

Foto: Twitter @incitu

Anehnya orang-orang Indonesia belakangan ini, ketika kita bersikap biasa saja, atau justru cenderung kritis terhadap narasi-narasi agama, kita bisa dianggap tidak saleh, berpotensi menjadi pembangkang religius, atau bakal jadi ateis sekalian. 😅 

Melihat ini, tuhan geleng-geleng kepala di “sana”. Ikut malu, barangkali. 

[] 

Advertisements

Menutup dan Mengakhiri

Bukan, hari ini saya belum memutuskan untuk menutup dan mengakhiri rangkaian tulisan saya di Linimasa selama hampir 5 tahun ini. (Nggak tau ya, kalau minggu depan tiba-tiba … Pokoknya, tunggu saja waktunya.)

Yang saya ingin bagi hari ini adalah beberapa cerita soal pengakhiran (aneh ya bahasanya?), atau closure (nah, ini lebih pas!) dari sebuah hubungan romantika. Berikut beberapa contoh kejadiannya, yang sekaligus menjelaskan, apa sih closure itu, kak?

Silakan:

(Subyek 1)

“Jadi dulu gimana elo bisa sampai bener-bener ada closure sama mantan?”

“Mantan yang mana?”

“Yang terakhir deh.”

“Ya abis putus, gak ketemuan lama, trus pas ketemuan lagi beberapa bulan kemudian, ngobrol deh. Kenapa dulu kita putus, trus sekarang gimana. Standar.”

“Emang sengaja ketemuan?”

“Pertama sih gak sengaja. Terus janjian ketemuan lagi. Baru di situ ngobrol.”

“Pake nangis atau gebrak meja atau banting kursi?”

“Elo kira lawak di tipi? Ya gak lah. Udah lewat beberapa bulan juga, udah kelar sedihnya, jadi ya ngobrol aja, like two adults.”

“Jadi kuncinya emang waktu, ya?”

“Ya abis, apa lagi?”

(Subyek 2)

“Gimana elo dulu bisa sampe ada closure ama mantan elo?”

“Mantan yang …”

“… yang paling drama putusnya.”

“Hahaha. Berat tuh. Lama. Makanya dia yang terakhir nongol pas gue mau kawin! Elo tau kan, cobaan orang mau kawin, tiba-tiba semua mantan pacar, mantan gebetan, mantan flirt, mantan fling, sampe mantan ONS semua pada nongol?”

“Busyet. Berapa macem sih jenis mantan?”

“Hahahaha. Ya pokoknya dari semua jenis mantan itu, semuanya udah beres, kecuali satu. Eh bener, dia nongol beberapa hari sebelum akad nikah, coba!”

“Terus?”

“Ya akhirnya ketemu. Ngobrol semaleman di coffee shop. Tumpahin semua unek-unek selama jadian dan selama bertahun-tahun setelah putus. Both sides lho ya yang curhat. Terus jalan, di mobil curhat, nangis, gitu terus. Tapi gak ada ciuman, gak ada grepe-grepean. Cuma pelukan. Sambil nangis. Hahaha. Tapi ya udah. Lewat jam 1 pagi dikit, pulang ke rumah masing-masing. Paginya gue bangun ngerasa lega. Plong. Banget.”

(Subyek 3)

“Elo ada closure sama mantan, gimana?”

“Ya ambil jatah mantan for the last time lah. Ewes.”

“Huahahahaha. Okay, next!”

(Subyek 4)

“Eh, ada cerita apa dari trip elo kemarin?”

“Hihihi. Guess what? Akhirnya ada closure ama mantan!”

“Ha? Ketemu di sana? Dia ikut rombongan?”

“Kagak. Boro-boro ikut rombongan. Kalo ada dia, ya ngapain gue ikut rombongan itu? Jadi, elo tau kan kalo ini tuh holy trip gitu. Buat ibadah. Jadi ya niat dan mindset gue dari pas pergi pun pokoknya ya udah, ibadah aja lah. Mumpung ada waktu. Di sana ya gue nothing but praying lah. Dan berdoa tuh minta ya yang standar lah, kesehatan, rejeki, kerjaan, pokoknya yang seperti itu. Kagak kepikiran sama sekali mau minta “Ya Tuhan, aku pengen move on ini kok susah banget yaaa, plis!”

“Hahaha. Terus?”

“Ya pas sore-sore gitu, gue lagi duduk-duduk, mumpung tempatnya lagi adem. Sekalian nunggu jam giliran ibadah, gue baca-baca aja kitab suci. Sekeliling gue juga. Baca aja, gak mikir apa-apa. Pas lagi konsen baca, tiba-tiba … Ah ini kedengerannya cemen, unbelievable, tapi beneran terjadi. Tiba-tiba, kayak ada suara, lirih banget, yang bilang ke gue, “It’s time. You can let your ex go now.” Gue kaget! Gue bengong. Lihat kanan kiri. Nggak ada orang yang duduk deket gue. Paling deket tuh jaraknya kayak dari meja kita ke toilet depan itu. Nggak mungkin bisa bisikin gue. Gue diem, lemes, dan inget persis kata-kata yang kedengeran barusan. Kitab suci gue tutup, tiba-tiba gue nangis aja gitu. Of all the prayers I asked ya, yang gak gue minta di situ, yang gue juga udah agak lupa juga, ternyata dikabulin dengan cara yang gak gue duga. Sama sekali.”

“Wow. Bener-bener divine intervention ya”

“Bener banget. Dan pulang dari trip itu, gue udah gak ada apa-apa lagi kalau ngeliat update atau feed dia di socmed. Asli. I feel nothing.”

That’s good!

(Kembali ke subyek 3)

“Eh tapi jadinya enak, gak?”

“Ya enak, lah! Lha wong gak pake benang. Eh tali.”

“Maksudnya?”

No string attached.”

“Huahahahahaha!”

(Subyek 5)

“Pertanyaan elo ribet amat sih, soal closure.”

“Ya kali elo punya cerita unik soal tutup buku ama mantan ini.”

“Hmmm. Paling gue pernah sih, gak sengaja walk down memory lane atau napak tilas perjalanan bersama mantan. Hahahaha.”

“Eh, maksudnya? Jalan bareng lagi setelah putus?”

“Enggak. Jadi pernah gue harus ke luar kota gitu, lalu pas cari hotel, keluar tuh di daftar pencarian hotel yang dulu pernah stayed bareng mantan di situ. Gue langsung skip lah, cari hotel yang lain. Tapi kok harga pada mahal-mahal semua. Sementara kualitasnya gue tahu gak sebagus hotel yang tadi. Dan jatuhnya hotel yang tadi itu lebih murah. Jadilah akhirnya gue booked hotel itu. Hehehe.”

“Wah. Dan dapet kamar yang sama kayak dulu?”

“Huehehehe. Kok ya kebetulan … iya.”

“Wuih! Terus gimana rasanya?”

“Ya gue senyum-senyum sendiri pas masuk kamar itu. Inget aja dulu pernah ngapain, kayak gimana. Hihihi. Dan akhirnya ended up pergi ke tempat-tempat yang dulu pernah gue ama dia datengi, di sela-sela kerjaan. Soalnya kan gue pergi yang terakhir ini karena work trip.”

“Lalu, pas elo revisited those places, what did you feel?

In general, nothing. At all. Inget sih, pasti. Pas masuk coffee shop, inget dulu gue pesen apa, dia pesen apa, duduk di mana. Pas masuk restoran, juga sama, inget makanan yang pernah kita pesen. Inget pernah foto selfie di mana aja di sudut kota itu. Cuma ya gue gak gila aja posting di socmed pake #10yearschallenge walaupun belum 10 tahun. Hahahaha.”

“Hehehe. Tapi beneran elo gak ada rasa apa-apa lihat tempat-tempat itu lagi?”

Nothing. Beneran. Mungkin karena waktu ya. Oke, mungkin kalau ada sedikit perasaan, bisa jadi gue lega. Lega karena setelah melihat kembali tempat-tempat itu, gue bisa cukup acknowledge past memory, tanpa harus drowning in sorrow inget-inget lagi yang dulu-dulu. Kayak yang, “oh pernah ke sini, pernah nyobain ini”, dan udah. Waktu sadar gue bisa melakukan itu, gue berpikir, “oh, berarti udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. That’s it.” Jadinya gue percaya bahwa waktu membiasakan kita. Time may not heal, but we are used to our scars as time passes.”

(Kembali ke subyek 3)

“Terus closure-nya kalo pake ambil jatah mantan gitu, gimana? Kan kalo enak jadi ketagihan?”

“Hus! Ya nggak boleh terus-terusan lah. Jatah mantan itu cuma sekali aja. Kalo terus-terusan, ya mending balik aja. Balik jadi pacar atau jadi apa lah. Lha kalo udah putus, ngapain balik lagi? Pokoknya udah, one last time, that’s it. Kalo diterusin biasanya malah gak enak nanti.”

“Jadi beneran diambil saat kira-kira masih enak ya?”

Exactly!

“Mantap!”

“Mantap. Mantan tetap. Hahahaha!”

Menjual Agama Lewat Rasa Takut dan Keinginan-keinginan

TERDAPAT sebuah model pemasaran yang memanfaatkan sisi lemah dan rapuh psikologi manusia: Emosi atau perasaan. Model ini dinamakan BJ FOGG Behavioral Model atau cukup populer dengan sebutan B=MAT, yang kurang lebih demikian.

BJ Fogg Behavior Model

Secara sederhana, model ini menggambarkan bahwa setiap orang berpotensi menjadi konsumen, asal terpapar dengan pendekatan yang sesuai. Penjual pun tak sekadar menjadi pemenuh permintaan di pasar, tetapi justru menciptakan permintaan di pasar walaupun produk tersebut belum tentu benar-benar diperlukan (terlepas dari kualitas produk itu sendiri).

Motivation: Hal-hal yang mendorong
Ability: Fitur-fitur yang memperkuat dorongan
Trigger: Momen-momen yang memperkuat urgensi

Apa yang terjadi ketika model ini dipadukan dengan upaya penyebaran agama? Jualan. Agama jadi objek jualan.

Seharusnya. Foto: daaji.org

Tanpa disadari, banyak orang yang menjual agama dengan metode serupa. Bukan sebagai objek konsumtif melainkan komoditas nominatif, agama disodorkan lewat impian yang diidam-idamkan, maupun ketakutan. Dari situlah permintaan dibuat, dari sesuatu yang awalnya tidak ada atau tidak terpikirkan, menjadi sesuatu yang digandrungi dan dikejar-kejar. Macam seorang downline MLM yang berupaya sekuat tenaga agar bisa tutup target point.

Apa tujuannya berjualan agama? Mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Dari situ, semuanya bisa dihasilkan. Cadangan tenaga kerja dan massa; cadangan dana. Makanya, semua pemuka agama ingin agar jumlah umat terus bertambah, bukan malah berkurang.

Sila intip: “Kenapa Anak-anak Harus Beragama yang Sama dengan Orang Tuanya?”

Barangkali nyambung

Bagaimana alurnya? Mencari pengguna baru (acquisition), dan mempertahankan pengguna lama (retention).

Bagaimana caranya? Papar-pukau-pikat. Sampaikan hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya; yang mengejutkan; yang menggentarkan; yang menakutkan. Kebetulan agama selalu bersifat absolut, hanya ada benar dan salah secara mutlak. Tidak ada ruang abu-abu, sehingga semua orang yang masih berpikiran abu-abu merupakan sasaran. Baik sebagai calon kawan untuk disadarkan, atau sepenuhnya lawan.

Motivation

Dalam konteks B=MAT, motivasi lebih berupa tujuan atau kebutuhan spesifik yang mendorong keinginan seseorang. Termasuk di dalamnya, kesenangan dan ketidaksenangan; untuk memperoleh hal-hal yang menyenangkan, atau menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Harapan dan ketakutan.

Merasa menjadi seseorang yang alim dan lebih baik, memberikan perasaan menyenangkan. Merasa menjadi seseorang yang sangat berdosa (perasaan tidak menyenangkan), dan ingin tobat agar merasa bersih kembali (perasaan menyenangkan).

Ingin bisa masuk surga dan segala keuntungan tambahannya, atau takut masuk neraka setelah meninggal.

Komik siksa neraka yang legendaris. Saya pun punya. Foto: YouTube

Ability

Cepat, mudah dan gampang, tidak merepotkan. Tak perlu ada proses konsultasi yang berhari-hari, maupun serangkaian jadwal kelas pengajaran dasar-dasar agama demi memastikan niatan seseorang menjadi religius, dan seterusnya.

Pada saat seseorang melakukan kesalahan, cukup bertobat dan memperbanyak perbuatan baik. Niscaya ada pengampunan atau keringanan hukuman, sebab dia sudah religius.

Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah kecepatan dan kemudahan. Kalau bisa, sesuatu yang memberikan efek instan. Berikut ilustrasinya.

Bagi seseorang yang sedang mengalami rentetan kesusahan; kebingungan tanpa pegangan dan resah, agama dipasarkan sebagai sesuatu yang mereka butuhkan. Sesuatu yang bisa menenangkan jiwa, mengangkat perasaan tidak menyenangkan yang berasal dari masalah-masalah hidup.

Trigger

Banyak hal yang bisa dikondisikan untuk memacu seseorang. Dalam konteks agama, kemukakan dan sangkut pautkan semua hal yang berkaitan dengan masa depan, apa pun itu namanya. Nubuat wahyu, ramalan, janji, kiamat, dan sebagainya.

Beberapa contoh yang telanjur populer sejak beberapa abad lalu: kiamat sudah dekat, dajal segera muncul di bumi, setan dan pasukan Antikristus. Semua itu menarik perhatian dan berkesan di hati, kendati narasi-narasi tadi selalu tanpa bukti faktual nan konkret. Kebanyakan hanya berupa teori konspirasi dan pencocok-cocokan secara serampangan, lalu sukses menghimpun kepercayaan banyak orang. Segalanya seolah-olah terkait, dengan keterkaitan yang disutradarai oleh iblis itu sendiri. Berbeda dengan dampak sampah plastik dan perubahan iklim (Climate Change), misalnya, yang bisa dilihat oleh mata kepala sendiri.

Selebihnya, tulisan-tulisan seperti ini pun bisa digunakan untuk memperbesar urgensi. Membuat isu tersebut terkesan semakin darurat, lantaran setan dan seluruh pasukannya terus melakukan cara mengelabui manusia. Membuat manusia ragu-ragu, hingga kehilangan kepercayaannya terhadap agama.

Di mana-mana, selalu ada saja.

Setan adalah musuhnya agama, jadi, sesuatu yang tidak sejalan dengan agama, atau bahkan mempertanyakannya sedikit saja, adalah hasil kerjaan setan.

Agama menurut siapa? Agama menurut sang tokoh yang menyampaikannya, yang berjualan.

Dengan demikian, tak usah heran bila agama makin menjadi komersial. Bukan lagi ajaran atau jalan hidup, melainkan sumber penghasilan yang mengatasnamakan tuhan.

Yaudasik

[]

Bacot

monsters_inc

Aku mau jadi orang kaya dengan cara elegan“, Boo berkata kepada Sully, suatu ketika. “Aku ingin masuk PTN terbaik negeri ini, lulus selekasnya, lalu kerja sebentar, dan melamar beasiswa LPDP, atau Chevening dan terbang ke Inggris.

Sully sudah lama mengenal Boo. Jika dihitung dengan jari maka ini adalah minggu ketiganya mengenal Boo. Dunia sudah begitu terhubung. Pertemuan di dunia medsos seharusnya menjalar jadi perjumpaan. Sully di hari kedua, setelah percakapan panjang 24 jam melalui DM instagram, yakin bahwa dirinya kenal baik karakter Boo. Anak SMA yang menyukai Chandra Darusman, Jason Ranti, Feast, sekaligus Padi dan ndak kekoreaan. Klop! Apalagi Boo adalah perempuan pintar. Dia mau diajak diskusi soal dimana londri sneakers yang bagus dan murah di daerah Haji Nawi, kopi yang enak dekat stasiun Cikini, juga beli dandanan murah di shopee buat anak skena. Atau kenapa Bahasa Prancis yang menjadi bahasa resmi PBB. Mereka jadikan sajian cemilan DM dari pagi hingga pagi.

Terus aku akan kerja di BCG, atau McKinsey, lalu uangnya aku tabung. Aku mau irit, dan mau punya rumah di Menteng“.

Sully dengan sabar mendengar apa yang Boo katakan. Kopi-O disajikan oleh pelayan. Kopi ketiga sore ini. Di sebelah mereka, dua anak perempuan dengan rambut cepol sedang asyik memilah hasil jepretan kamera. Keduanya sering sekali cekikikan.

Ciri anak Java Jazz itu kameranya sekarang analog, nggak lagi ngalungin DSLR, jeans digulung, kaos putih, dan totebag indie.

Mangkok ayam?”, tanya Sully.

Ga lah, Sejauh mata memandang, sekalian syal-nya, lihat deh sebelah, nanti mereka akan keluarkan sedotan stainless. Cintai planet kita, bro“.

Kamu banget dong?”

Bacot!”, Boo menyanggah.

Bacot. Ini adalah kata yang sering didengar Sully. Begitu juga kata ini yang menarik baginya ketika melihat komentar Boo di sebuah feed selebgram yang cantik dan sering posting ala-ala OOTD. Bubuhan caption yang nyastra dan sok peduli lingkungan sangat digemari dan menuai banyak likes dari pengikut. Tapi Boo beda. Dia tidak pencet likes. Dia hanya tuliskan komentar: “Bacot!”. Sully sontak langsung kirim DM ke akun dengan gambar anak kecil tokoh di Monster Inc. ini dengan penuh rasa penasaran. Rupanya dia lembut, tidak sekasar komentarnya. Dua jam berbalas DM dan Sully menemukan sisi lainnya:  getas, broken home, senang diperhatikan, pintar dan engas. Bacot, adalah pembuka segalanya.

Eh kamu suka Reza Artamevia? Enak ya lagunya.”, Boo mengganti topik. Sully masih sibuk mengingat-ingat percakapan digital mereka.

Aku kalau lagi cuddling sama pacarku aku sukanya pakai lagu Reza, kalau kamu?“. Sully menarik rokoknya dengan terus memperhatikan apa yang dikatakan Boo. Dia tidak tertarik menjawab.

Mereka sedang berada di sebuah kedai kopi. Meja antar pengunjung begitu sempit. Sully kurang begitu nyaman ngobrol banyak. Namanya juga Jalan Sabang. Semua tokonya berderet berpelukan. “Jalan Sabang itu melihat Jakarta tahun 2004“, kata Boo lagi.

===

Aku ragu antara mau membuka branya atau dia akan membukanya sendiri. Bibirnya dipagut ke bagian bawah leherku. Aku terlentang jatuh. Dia menyerang. Tanganku bebas. Pikiran ini datang tiba-tiba.

Musik mengalun syahdu, aku makin tanpa daya.

Lima menit lalu kami hanya dua insan yang sedang jalan-jalan mengekplor Jakarta dengan panduan akun dari Halte ke Halte yang mereka temukan di twitter. Kita ngopi, kita juga ambil gambar diam-diam engkoh yang tidur kecapekan.  Makan gajeboh, rendang dan paru kering di Natrabu. Bahkan kami minum di tiga tempat bergantian. Atjeh Connection, Saudagar dan Kopi Oey. Sepanjang perjalanan kita bergandengan. Lalu kami kecapekan. Letih tapi segar karena kopi. Butuh rebahan. Maka kami disini, sebuah losmen murah jalan kaki sedikit saja dari Sabang menuju Jaksa.

Aku buka yah?”

Ah, BACOT!

Maka kubuka pengait branya. Giliran aku yang menyerang. Tanpa ampun.

===

Enggak tahu deh, kenapa aku suka berpikir lagu itu memang diciptakan untuk aku. Coba saja kamu dengarkan lagu Keabadian, terus Biar Menjadi Kenangan  atau Satu Yang Tak Bisa Lepas, uh, aku suka banget!

Okay.”, respon Sully.

Aku nggak suka lagu di filem Milea. Pidi Baiq menurutku terlalu egois pasang semua lagu ciptaannya. Dia mau bikin novel oke, lalu difilemkan, aku masih oke, tapi apa mesti lagu-lagunya dia juga.” Boo masih lanjut, “Lagian Dilan bodoh banget, masa sayang cuma pelukan doang. Lebih banyak ngomong aneh ke Milea. Aku sih aneh dapet cowo yang ngomongnya aneh gitu. Gak real tau nggak?”, Boo berhenti sejenak. Dia menarik kuat-kuat Iceburstnya. Lalu dihembuskan dan kembali bicara.

Kalau aku jadi Dilan, seharian naik motor keliling Bandung, ga bakalan pulang. Kalau perlu jalan sampai pagi. Rangga lebih keren. Dia mau ajak Cinta nggak tidur semalaman. Gitu itu namanya laki. Mau culik perempuannya.”

Bacot!“, tiba-tiba Sully menukas. Sully bangga bisa membalas kata khas milik Boo.

HAHAHA, bangke! Kamu balas aku. Hahahaha.”

The Fact is (I Need You).“, Sully berkata kepada Boo.

Hah?”

Iya, kamu kan tadi tanya lagu yang enak buat cuddling apa. Nah, itu lagu kesukaanku. The Fact is (I Need You)-nya Jill Scott“.

Hmmm…“, Boo berpikir sebentar. Ia mendekatkan bibirnya di telinga Sully lalu berbisik,

Ya udah yuk, kita pindah tempat sekarang, biar bisa dengerin dari hape kamu“.

 

14

(cerita sebelumnya bisa dibaca di sini dan juga di sini)

Why not?

Kami berdua berdiri, beranjak dari rumput di pinggir kolam hotel. Sesekali kami mencuri pandang ke arah satu sama lain, lalu tersenyum dan tertawa kecil.

Satpam petugas jaga hotel membuka pintu menuju ke arah lift sambil mengucapkan selamat malam dan tersenyum ke kami. Kami mengangguk, membalas salam dan saya buru-buru menahan pintu lift sambil menunggu teman saya merogoh tasnya, mencari kunci kamar.

Argh. Clumsy me. Adam always takes care of this stuff, never me with my messy bag!”

Satpam menghampiri kami.

“Permisi. Lantai berapa?”

Sebelum saya menjawab, teman saya buru-buru berkata, “Lantai dua puluh lima.”

Satpam mengeluarkan kartu yang dia sentuhkan ke layar di lift, lalu menekan tombol angka 25 di layar. Dia mempersilakan kami masuk, dan lagi-lagi sebelum saya sempat berkata, teman saya berterima kasih kepada satpam tersebut.

All these years, and you never told me you can actually speak Indonesian?!”

Dengan aksen yang semakin dibuat-buat, dia berkata, “Satu, dua, tiga, apa kabar, belok kiri, terima kasih … Dude, I travel in this region a lot. I have to pick up a few words to get by. You have no idea that I was this close to saying “Sawadee kap” to the security guard just now. Then I realized where we are!”

Spontan saya tertawa keras, dan mau tidak mau dia ikut terkekeh.

Ding!

 

images

 

Pintu lift terbuka. Saya mempersilakan dia keluar lebih dulu.

Turn right, and … here we are. 2511. Dua puluh lima sebelas.”

Saya bertepuk tangan kecil. “Impressive!”

“Thank you!”

Saya berdehem. “Listen, I had fun tonight. And here I am, walking you to the door.

Ah, being a true gentleman, I see. And what made you think I’d invite you to my room?”

“Wait. I thought …”

“What, you thought …”

“I mean …”

“Aren’t you tempted?”

“You cheeky bloody bastard!”

Kami pun tertawa, sebelum kami sadar sedang di lorong lantai kamarnya, dan buru-buru mengecilkan suara.

I was teasing you! Oh God, you’re still so easy to be fooled!”

“Hey, hey. Watch out.”

“But seriously, thank you. It’s good to see you again after all these years.”

“And thank you for listening. Thank you for your story, too. It gives me hope that, well, maybe, and just maybe, romantic kind of love still exists after all.”

“Maybe? Love does exist. It does. Romantic kind of love, it’s present. If you haven’t been able to find one, get one or be in one, it’s not your time yet. This kind of thing, you can’t rush it.”

Saya mengangguk kecil sambil menghela nafas panjang. Saya tersenyum.

If it helps, well I don’t know if it does, but back then, I had a crush on you.”

Saya tertawa. “Really?”

 

83-837648_two-people-talking-icon-png-png-download-people

 

“Well, you’re the only foreigner in our batch. Not just a foreign exchange student, but a full-time foreign student. It’s not my fault or your fault that you have that extra quality by default.”

Saya masih tertawa. “Ahahaha … Pity crush, I see.

Dia masih tersenyum. “At first I thought so. But then, it was not.”

Saya terdiam sejenak. “Wait. Really? Oh wow.”

Dia menggangguk sambil tersenyum lebar.

Oh wow. I don’t know what to say. Thank you, for telling that to me almost twenty years later.”

“And I believe it was not mutual?”

“Well, being a rebel you were, you definitely caught my attention. Otherwise we wouldn’t end up being in the same group again and again all through our college years, would we?”

“Ha! Yeah, you’re right. And thank God the crush didn’t last that long!”

“I guess I’m sorry? But hey, it’d be weird if we ended up together!”

Kami tertawa.

But this kind of thing, I wouldn’t know if you didn’t tell me. You would think that I work and live surrounded by people who can express themselves freely, sometimes often being in-the-nose a little too much, I’ll get the same bug. Yet, when it comes to matters of heart, I am always tongue tied.”

“What makes it hard to say what you want to say?”

“I don’t know. I guess looking back, I am being selfish by protecting myself. I’m scared of getting hurt or being rejected, thus I stay silent. I’m terrified to make moves, thus I torture myself by overthinking. It’s funny. You do that when you have a crush on someone, yet you don’t do any service to the other person, the object of your affection. You don’t do anything to them. You’re busy meeting false need of yourself.”

Dia mengangguk. Pelan-pelan dia duduk di depan pintu. Mau tak mau, saya mengikutinya. Sekarang kami berdua duduk selonjoran di depan pintu kamarnya.

Remember earlier in the restaurant, you told me that the big, or one of the main reasons you came back was that you don’t want to be looking back in regret later when you turn 70, of not doing what you wanted to do?”

Saya mengangguk.

Now, do you want to look back in regret later when you turn 70, of not saying what you wanted to say to whoever the person or the people that you set your heart to?”

Saya tersenyum.

You really have a way with twisting words, don’t you?”

“As I said earlier, life experience happened. For sure I never regret telling Adam how much I love him, and how much I hate him the next day after I said I love him, only to tell him that I still love him.”

“Do you ever regret being with him?”

“If you ask me right now, the answer is no. If you ask me when I am down in misery, because he falls sick, or because I am sick, the answer is still no.”

“How come?”

“Because I know I will regret more if I keep wondering what would happen if I didn’t say yes to his proposal then.”

Saya menatap muka teman saya yang bersemu merah. Kami sama-sama tersenyum.

You know, I just realized, regardless if you’re 40 or 14, when it comes to getting your heart broken, the pain still lingers, if not feels longer.”

“That’s true.”

“And yet, you always crave for the feeling, of falling in, then falling out …”

“That’s also true.”

“Because we just want to be wanted. Be desired, be needed by the other person. We crave for the connection. I crave for that.”

Teman saya mengangguk. “I’m sure you’re familiar with the saying “everyone has their own battle”?”

 

27911

 

Giliran saya yang mengangguk. “And that’s how I see it sometimes. Some people find it hard to conceive a child. Some people struggle to make ends meet. Some people have disabilities of any kind. And I guess for me, the battle is to find a life partner.”

“And yet, you know what everyone has in common? They live. The live through the battle, fight until the fight becomes a habitual thing to do, every day.”

“And that means I have to keep swiping right?”

Dia tertawa. “Whatever the means, I don’t want you to give up. Cliche, but have faith. Someone is out there. You just need more time than others to find. But eventually you will.”

Saya menghela nafas.

There is something I haven’t told you yet.”

“Oh, boy. Here we go.”

 

Menertawakan (Hidup)

SAMA seperti menguap‒ketika kita tak kuasa menahan dorongan untuk membuka mulut lebar-lebar, menghirup udara sebanyak-banyaknya‒tertawa itu menular, secara besar-besaran pula. Apalagi kalau suara tawanya begitu renyah, bebas, lepas, atau terdengar lucu dan menggemaskan, selucu dan semenggemaskan balita yang melakukannya, yang tanpa sadar membuat hati kecil kita agak iri: “Aku mau dong bisa segembira itu juga…

Begitu kita mendengar dan terpapar nuansa tawa tersebut, kita setidaknya bakal ikut tersenyum. Spontan dan alamiah, seakan-akan turut menikmati berkah keceriaan yang sejatinya ditumpahkan kepada orang lain. Saking spontannya, kita seringkali ikut tertawa kecil tanpa (perlu) tahu apa penyebabnya. Yang terasa hanyalah suatu hal yang menggelikan bergejolak dalam dada, yang susah kita tahan berlama-lama.

Untungnya, selain kemampuan merasa geli dan tertawa, kita juga telah dianugerahi dengan kemampuan berpikir. Itu sebabnya kita bisa mengenali tawa seperti apa yang berasal dari kegembiraan, dan yang justru merupakan tanda kekejaman serta kekejian seseorang. Untuk urusan yang satu ini, manusia sudah mahir semahir-mahirnya dengan kemampuan yang tumbuh dan terus berkembang seiring pertambahan usia.

Menertawakan dan ditertawakan.

Terakhir, dan sekaligus yang terpenting, tertawa sanggup meringankan atau bahkan mengangkat beban batin maupun pikiran yang sedang mendera kita. Hanya saja tidak mudah. Tertawa itu sejatinya gampang dan sederhana. Namun, makin berat masalah yang kita hadapi, kita makin sukar untuk berpikir sederhana. Ngarahnya ke yang njelimetnjelimeeet melulu… Jangankan tertawa, menyadari bahwa kehidupannya terus bergulir saja mungkin agak susah. Tahu-tahu waktu sudah jauh berlalu, dan membuat makin bingung, makin tertekan, makin tak tahu harus melakukan apa.

Bisa jadi benar kiranya, orang-orang yang mudah dibuat tertawa sungguhan, bukan tertawa palsu demi adab sosial, adalah mereka yang mudah pula dibuat merasa bahagia. Perasaan bahagia di tingkat paling dasar. Ibarat bayi yang terpingkal-pingkal saat melihat dan mendengar kertas dirobek.

Greseeek…

Ehehehehehehehehehe…

~~~ Tak usahlah menirukan suaranya di dalam hati; cukup dibayangkan saja suaranya. Pejamkan mata, bila perlu. Pasti pernah dengar suara bayi tertawa, kan? Tertawa yang saking kencangnya, sampai-sampai bikin mereka tertawa sambil menghela napas. Kelelahan. Sesuatu yang melelahkan, tetapi terasa menyenangkan.

Play to brighten your day.

Ngomong-ngomong, kapan terakhir kalinya kamu‒yang sudah dewasa‒tertawa terpingkal-pingkal seperti balita yang kamu bayangkan tadi? Apa waktu hari raya atau libur panjang kemarin? Asal tertawa yang benar-benar lepas, lho, ya, bukan tertawa yang nyaring doang bareng teman satu geng setelah ngomongin orang. Tertawa yang cuma berisik, tetapi di hati malah berasa kosong dan palsu kemudian.

Ya… whatever. Itu tadi tentang orang-orang yang mudah dibuat tertawa, yang konon katanya paling sulit untuk direkrut menjadi pelaku terorisme. Lagipula, buat apa menjadi pelaku terorisme, kalau dalam kehidupan kesehariannya sudah dipenuhi kegembiraan yang bikin raut wajahnya selalu kencang, dan memancarkan aura kegembiraan. Aura yang biasanya bertahan hingga seseorang tua, lanjut usia, parasnya meneduhkan. Cuma, kebetulan saja kalau ybs sudah tua, giginya sudah ompong juga. Menjadikan wajah senyumnya makin lucu… dan lagi-lagi, kita pun bisa ikut-ikutan tersenyum hanya dengan membayangkannya.

Kendati sebaliknya, seseorang yang mudah membuat orang lain tertawa malah belum tentu berbahagia. Tahu, kan, perbedaannya. Dibuat dan membuat; yang melakukan atau yang memunculkan penyebabnya, dan yang mengalami dampaknya.

Demikianlah.

Seandainya memang begini adanya, puji syukur ke hadirat tuhan yang mahalucu, humoris, dan mahabesar hati sampai-sampai sudi menciptakan manusia dengan kemampuan tertawa sedemikian rupa, serta mahabaik untuk bisa bersama-sama menertawakan semesta beserta seisinya. Termasuk dirinya sendiri.

Maka, tertawalah.

Jikalau tidak bisa, cobalah untuk mulai tertawa kembali.

Asal jangan sampai lupa caranya.

Kita, tampaknya, tidak butuh nyimeng untuk bisa geli cekikikan sendiri saat melihat yang ada di sekeliling kita.

[]

Semesta, Hindari Aku dari Kekeminteran

Pernah, enggak sih, baca tulisan sendiri beberapa tahun yang lalu, kemudian mengerenyit malu? Kok keminter sekali diriku dulu? Saya lumayan sering mengalaminya, terutama ketika masih baru mulai baca dan praktik soal olahraga dan makan sehat. Luar biasa sering menghakimi dan sotoy, walaupun untungnya jarang memaksakan pendapat dan kehendak ke orang lain.

Semakin lama menjalani hidup dengan lebih melek mengenai nutrisi dan mengamati reaksi badan, semakin paham kalau badan kita ini kurang kena dengan ilmu 2+2=4. Kita makan karbohidrat rendah bukan otomatis berat badan turun drastis. Olahraga tidak otomatis menjadikan usia kita lebih panjang dari orang lain. Jika pola makan satu baik untuk dia bukan berarti ketika dipraktikkan oleh kita akan sama suksesnya. Terutama setelah membaca cukup banyak panduan dan buku referensi nutrisi dan diet yang ditulis dan dibuat oleh pria, kini saya paham betul kalau badan laki laki dan perempuan itu berbeda, jadi tidak bisa tidak bisa diterapkan persis, hanya bisa jadi panduan umum.

Begitu gemarnya dengan functional medicine, ternyata di website Institute of Functional Medicine, mendapatkan dokter yang mempraktikkan hal ini di Indonesia, tapi sayangnya bukan di Jakarta, tetapi di Yogyakarta. Tetapi itu tidak menghentikan niat saya untuk menjadi pasien dr. Qorry, kami melakukan konsultasi dengan jarak jauh melalui aplikasi pesan atau video call. Prosesnya cukup panjang, saya harus mengisi banyak sekali formulir, mencatat data, pola makan, aktivitas dan masih banyak lagi. Kemudian cek darah dengan banyak poin yang diperiksa, sehingga darah yang harus diambil bisa satu tas jinjing. Alasan saya ingin memeriksakan diri, karena menstruasi saya tidak teratur, dan saya curiga kalau ini disebabkan karena saya dua kali mencoba diet rendah karbohidrat.

Ternyata cukup salah, tetapi ada benarnya.

Bukan rahasia lagi kalau dengan bertambahnya usia, metabolisme kita bertambah “malas”. Tetapi bertambah tua tidak harus bertambah penyakit, bertambah tua tidak harus tambah lemah. Asal memerhatikan hal mendasar ini, kita bisa maju untuk melakukan perbaikan kualitas hidup kita. Jangan jadikan goal kita tidak sakit ya, tetapi kualitas hidup yang baik sampai mati tua.

Terutama untuk perempuan, hormon penting.

Mudah sekali mengacaukan hormon (terutama perempuan), pola makan yang kurang baik, stres, kurang tidur, olahraga terlalu berat (in my case), tetapi sulit sekali mengembalikannya menjadi normal. Kita harus identifikasi masalah, dan membuat hipotesa penyebab masalah, melakukan perubahan, sambil mengamati hasil. Mana saya paham sebelumnya, kalau usaha saya jadi fit dengan CrossFit dan Bootcamp 2-3 kali seminggu ternyata tidak baik untuk hormon saya? Ketika dr. Qorry menganjurkan mengurangi porsi olahraga intensitas tinggi saya jadi seminggu sekali saja, menstruasi saya kembali menjadi normal.

Pelapis perut kita menentukan banyak penyakit.

Termasuk penyakit seperti alergi dan auto-imun. Saya mendengar beberapa orang meninggal usia muda karena masalah pencernaan. Tetapi hal ini jarang dibahas oleh otoritas kesehatan maupun media. Sesungguhnya di perut yang sehat itu ada lapisan seperti jelly yang akan melindungi dari kerusakan di dinding lambung/ usus. Bagaimana agar lapisan itu terjadi dan sehat? Cukup banyak PR-nya, dan memang melibatkan perubahan gaya hidup.

Mikrobioma adalah koentji.

Salah satu langkah pertama demi hidup yang berkualitas baik dan selaras adalah menjaga agar mikrobioma dalam tubuh kita kaya berbagai macam yang baik dan tidak dibom oleh berbagai obat kimia (saya pernah bahas sedikit di sini). Jika kita dulu sering dengar soal prebiotik dan probiotik di sini lah makanan jenis ini berperan. Coba riset mengenainya, karena Anda akan terkejut kalau ternyata prebiotik tidak hanya Yakult.

Jadi itu langkah pertama yang sedang saya usahakan. Mudah-mudahan dengan tercatat saya bisa merevisinya jika ada kesalahan dan memperbarui jika ada update.

Semoga kita selalu sehat dan bahagia!

pexels-photo-935869
Photo by rawpixel.com on Pexels.com

#RekomendasiStreaming – Pilihan Tontonan Lebaran 2019

Kita sudah mahfum bahwa yang namanya Lebaran itu berarti liburan. Mau merayakan atau tidak, nyatanya hampir seluruh aktifitas kehidupan di sebagian besar wilayah Indonesia akan melambat atau berhenti sejenak selama Lebaran. Bisa seminggu, atau dua minggu. It’s great, though. Semacam ada tombol pause untuk menghentikan rutinitas sejenak.

Namanya juga sedang santai beristirahat tanpa melakukan kegiatan rutin, kadang-kadang kita tidak tahu apa yang harus dlilakukan untuk mengisi waktu luang. Tiba-tiba kita “mati gaya”. Sepertinya semua acara di televisi dan film di bioskop sudah ditonton, buku malas dibaca, IG stories sudah dibuka, dan linimasa media sosial sudah dilihat.

Saran saya? Tidur. Nothing beats sleeping. Apalagi semakin berumur, makin susah mendapatkan tidur yang berkualitas.

Dan kalau sudah cukup tidur, maka silakan melihat tontonan apa saja yang saya rekomendasikan untuk ditonton selama musim libur Lebaran tahun ini.

Kalau mau binge-watching, maka tontonlah serial …

Made in Heaven

made-in-heaven_46jz

 

Sepintas ceritanya sangat kekinian, yaitu dua orang anak muda mendirikan startup wedding organizer di Delhi, India. Cerita memang bergulir soal uniknya klien-klien mereka yang akan melangsungkan pernikahan. Tetapi yang membuat serial ini menarik untuk diikuti adalah dua karakter utamanya. Tara (Sobhita Dulipala) adalah perempuan ambisius yang berhasil menaikkan status sosialnya dari kalangan menengah ke bawah yang bekerja sebagai sekretaris, sehingga menjadi sosialita kelas atas dengan segala resiko kehidupan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Rekan bisnisnya, Karan (Arjun Mahtur), adalah pria lajang yang mati-matian mempertahankan gaya hidupnya, meskipun harus mengorbankan ego dan harga diri.

Kenapa serial ini menarik? Simply because the characters are real, and each episode is believable. Coret atau ganti kota Delhi dengan Jakarta, misalnya, dan kita akan melihat bahwa cerita dan karakter di setiap episode ini juga terjadi di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan menerimanya.

Serial yang berani, dan tidak judgmental sama sekali. Salah satu serial favorit saya tahun ini.

After Life

AAAABTg8oLTf-YcfkegxA4lWRTReWHwbgyBOSZ-Pz-ks7BPmQDzmQS8LbN1fGkFbxL4YStPV_cqdBTVn1nXEvIS00HRkrbsB1KvBuA

 

Berbeda mood dengan serial di atas yang gegap gempita, maka serial “After Life” ini mengalir dengan tenang, tidak buru-buru, dan cenderung kontemplatif. Namun suasana “kesunyian” itulah yang membuat kita tak bisa berpaling dari serial ini sedikit pun. Ceritanya memang sedih, yaitu cerita tentang Tony (Ricky Gervais) yang mengalami depresi setelah istrinya meninggal karena kanker. Usaha Tony untuk menjalani hidup, dengan segala clumsy yet very human efforts, yang menjadi benang merah serial ini sehingga menjadi serial yang akan membuat kita menitikkan air mata dalam diam. Terus terang ini adalah the biggest surprise in series tahun ini, so far, karena saya tidak menyangka komedian Ricky Gervais yang terkenal dengan acerbic wits yang cenderung mencemooh, bisa membuat tontonan semanis ini.

A Very English Scandal

A_Very_English_Scandal

 

Sedikit warning sebelumnya, kalau anda perlu mengutak-atik VPN untuk bisa menonton serial ini di Amazon Prime. Maklum, miniseri ini tidak masuk di Indonesia. Toh sedikit utak-atik ini worth doing, kok, karena serial ini akan membelalakkan mata kita. Diangkat dari buku berjudul sama, miniseri ini menghadirkan cerita yang nyaris absurd, diangkat dari kisah nyata Jeremy Thorpe, anggota dewan di Inggris dari partai Liberal, yang karirnya hancur karena skandal hubungan homoseksual dengan Norman Scott di Inggris di rentang tahun 1961 sampai 1976. Jeremy (dalam serial ini diperankan sangat baik oleh Hugh Grant) bahkan berkonspirasi untuk membunuh Norman (Ben Whishaw) yang akhirnya menyeret Jeremy ke pengadilan. Bahwa kisah ini terjadi sekitar 50 tahun lalu, namun masih terasa relevan sampai sekarang, menyiratkan sedikit alarming concern atas inhuman injustice yang sangat mungkin terulang dan terjadi lagi. Miniseri ini terdiri dari 3 episode. Sangat singkat, namun karena setiap episode dibuat laiknya film thriller, maka mau tidak mau kita juga deg-degan menontonnya.

Kalau perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial, maka film klasik ini bisa dijadikan pilihan:

84 Charing Cross Road

84_Charing_Cross_Road_poster

 

Tidak banyak film yang diproduksi sebelum tahun 2000 yang tersedia di video streaming platforms di Indonesia. Dari sedikit yang ada, salah satunya adalah film ini, yang diangkat dari buku bertajuk sama. Hampir sebagian besar film berisi voice over aktris Anne Bancroft yang membacakan surat yang dia tulis dari New York untuk penjaga toko buku di Inggris yang diperankan oleh Anthony Hopkins. Kisah mereka dimulai saat Helene Hanff (Anne Bancroft) mencari buku literatur yang tidak bisa dia dapatkan, dan hanya tersedia di toko buku milik Frank Doel (Anthony Hopkins) di London. Dari situ bergulirlah korespondensi mereka selama lebih dari 20 tahun, mengikuti perjalanan hidup masing-masing, tanpa pernah bertemu sama sekali.

Pertama kali saya menemukan film ini tidak sengaja, sekitar 15 tahun yang lalu. Jatuh cinta waktu menonton pertama kali, dan selalu menyempatkan menontonnya lagi setiap beberapa tahun sekali. Film ini sudah berusia lebih dari 30 tahun, namun tetap membuat hati kita terasa hangat saat menontonnya.

Paling tidak sudah membuat kita tersenyum.

Dan semoga libur Lebaran tahun ini meninggalkan senyum buat kita semua.

Mensyukuri dan Menikmati Penderitaan Orang Lain

SAAT berjalan kaki di trotoar dengan paving block bolong-bolong, tiba-tiba ada motor berknalpot bising yang ngebut serampangan. Menyisakan asap putih tebal berbau sisa pembakaran bensin yang khas.

Penumpangnya ada tiga, remaja semua, tanpa helm, dan berteriak sambil tertawa-tawa. Tanpa peduli pengendara lain maupun para penyeberang jalan, mereka selalu ngegas dan ugal-ugalan. Bising, serampangan, dan memusingkan.

Selewatnya mereka, kita merasa terganggu. Muncul rasa tidak senang, bahkan benci di dalam hati. Dorongan utamanya, entah karena kita lihat kelakuan mereka yang serampangan; melaju dan bikin kaget; ada banyak peraturan lalu lintas yang dilanggar; bisingnya suara knalpot yang memekakkan telinga; atau karena kita memang tidak suka saja.

Di ujung persimpangan jalan, ternyata ada polisi yang berjaga. Kaget tetapi tidak bisa menghindar dan salah berbelok, motor tersebut oleng. Jatuh dan meluncur di atas aspal, pengemudi dan dua penumpang sial tadi tersungkur dengan lecet di beberapa bagian tubuhnya.

Teriakan “MAMPOOOS LO!” spontan terdengar dari arah depan, dekat lokasi kejadian. Tanpa sadar, kita juga ikut membatin macam “KAPOK!” atau “SOKORIIIN!” Terkesan ada kegembiraan‒atau lebih tepat berupa kegirangan‒yang diluapkan saat mengucapkannya. Seakan-akan itu sesuatu yang sangat menyenangkan, dan sudah dinanti-nantikan sebelumnya.

Marah yang ingin banget diluapkan.

Contoh di atas menunjukkan adanya kemalangan, sebuah kecelakaan. Tatkala dilihat dari akibat yang terjadi dan siapa yang mengalaminya, para remaja ugal-ugalan tadilah yang bisa disebut sebagai korban. Bukan kita, meskipun sudah merasa sebal dan terganggu saat berjalan kaki; apalagi para warga yang menghamburkan sumpah serapah tadi. Tanpa kita sadari, ungkapan “Mampus!” tadi, atau yang kadang ditambahi menjadi “Mampus lu!” menunjukkan bahwa kita ingin mereka meninggal; menunjukkan bahwa kita berpandangan mereka pantas meninggal saat itu juga.

Apakah dengan demikian kita adalah seseorang yang mengharapkan dan menikmati penderitaan orang lain?

Di sisi lain, apakah kita telah menjadi seseorang yang mampu menilai pantas tidaknya orang lain mengalami kemalangan‒atau sebut saja ganjaran‒dalam hidupnya.

Dalam perspektif yang berbeda, kita kerap terpaku pada pembagian benar dan salah. Dalam contoh kasus di atas, para remaja pengemudi motor ugal-ugalan tadi diposisikan sebagai yang salah. Orang-orang lain, termasuk kita yang merasa terganggu, otomatis memposisikan diri sebagai yang tidak salah.

Sayangnya, dengan menganggap diri sebagai pihak yang tidak salah, mudah sekali membuat kita merasa sebagai pihak yang lebih baik, lebih unggul, dan lebih pantas ada dibanding lawannya. Kembali pada contoh di atas, kita dan sejumlah warga merasa pantas melontarkan sumpah serapah, bahkan sampai mendoakan terjadinya keburukan bagi pihak yang salah. “Mampus lu!”

Haruskah kita merasa biasa-biasa saja dengan sikap yang demikian? Ketika tanpa sadar kita terus-menerus memikirkan hal-hal buruk, mengucapkan hal-hal buruk, sampai ikut melakukan tindakan-tindakan buruk, dan menganggap semua itu wajar-wajar saja dengan dalih “mereka pantas menerimanya” atau “kesabaran itu ada batasnya”?

Susah, sih. Memang.

Okelah, contoh kasus di atas barangkali terlampau sepele, tidak begitu penting. Namun, bagaimana bila kasusnya adalah tabrak lari? Atau perkosaan? Atau penyiksaan anak-anak? Atau anak yang berbuat amat kasar terhadap orang tuanya? Atau korupsi? Beragam hal yang seolah-olah bisa bikin hati kita ikut panas.

Akankah doa kita dikabulkan? Doa yang dipanjatkan karena marah dan benci, doa yang mengharapkan orang lain celaka.

Akankah dikabulkan?

Mohon maaf lahir batin.

[]

Akhirnya Pulang

(malam ke-28, Ramadan 1420 H)

“Kamu belum tidur?”

Andi mengadahkan kepalanya, lalu tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Tanggung, sekalian kelarin unpacking ini. Kopernya ‘kan mau dipakai lagi lusa.”

Ali mengangguk kecil. Dia tersenyum. Bisa dibilang ini senyuman penuh kelegaan. Setelah dua tahun, akhirnya anak bungsunya mau merayakan Idul Fitri di hari pertama bersama-sama, bukan di beberapa hari setelahnya, seperti beberapa tahun terakhir ini.

Ali membuka pintu kamar anaknya lebih lebar.

“Ayah boleh masuk?”

Andi mengangguk.

Ali duduk di kasur anaknya, sambil merapikan baju-baju dari koper Andi.

“Tumben bawaan kamu agak banyak kali ini. Biasanya satu koper kecil juga masih ada sisa. Apa ini terusan kemarin kamu pergi kerjaan itu?”

“Iya. Sekalian aja, jadi gak perlu unpack lagi, terus packing lagi. Malah lebih capek.”

“Apa kamu gak perlu pulang ke rumahmu dulu?”

Deg. Andi terdiam sejenak. Oh God, don’t go there.

“Enggak, Yah. Nanti saja.”

Ali mengangguk kecil sambil menghela nafas, dan memaksakan tersenyum. Lalu dia melihat sekeliling kamar Andi. Lebih tepatnya, yang dulu menjadi kamar Andi. Sekarang kamar ini menjadi tempat penyimpanan barang sementara, terutama barang-barang milik almarhumah istri Ali yang masih sayang untuk dibuang.

“Kamu nggak papa ‘kan, kamar kamu jadi tempat Papa taruh barang-barang Mama kamu?”

Andi tersenyum. “Ya nggak papa lah, Yah. Daripada kamar ini nggak dipakai sama sekali. Lagian barang-barang almarhumah Mama ternyata banyak juga, ya.”

Almarhumah Mama. Dua kata yang buat Ali masih belum biasa buat diterima, meskipun sudah lebih dari lima tahun. Tapi jangan permasalahkan ini sekarang, ujar Ali dalam hati.

Andi melihat sekeliling kamarnya. Lalu dia melihat ke sebuah pigura foto di meja tulis. Foto hitam putih dalam pigura kecil warna coklat. Tertulis di bawah foto itu, “Ali & Nana, Auckland, 1973.” Andi berdiri dan mengambil foto itu.

“Aku kok gak pernah lihat foto ini ya, Yah.”

Andi menyerahkan foto itu ke ayahnya. Ali melihat dan tertawa kecil. “Ini waktu liburan musim panas. Ayah baru kenal Mama kamu di sana. Biasa, kalau di luar negeri, radar kita pasti tahu kalau ada orang Indonesia lain. Apalagi waktu jaman itu ‘kan.”

“Ayah, I have to say, you two really looked cool back then.”

Ali tertawa. “Ya kalau masih muda, bolehlah keliatan cool. Kalau sudah tua, mau keliatan cool malah kayak cool-kas nanti.”

“Idih, Ayah apaan sih garingnya.”

Ali masih tertawa.

Andi ikut tertawa, sebelum sengaja batuk kecil. “Yah, umm … Can I ask you something?”

Ali berhenti tertawa. “Apa, Ndi?”

How are you?”

Ali terdiam sejenak, sebelum berkata, “Ayah baik-baik saja, Ndi.”

I mean … Do you miss her?”

Ali tersenyum. “Ayah selalu kangen, rindu sama Mama kamu, Ndi.”

Andi mengangguk, tersenyum, memikirkan apa yang harus ditanyakan, sebelum akhirnya dia bertanya, “Boleh tahu, apa yang Ayah paling kangenin dari almarhumah Mama?”

Kali ini Ali diam lebih lama. Kepalanya sedikit menengadah ke atas, melihat langit-langit kamar.

tiger-hill

“Semuanya, Ndi. Ayah kangen masakan Mama kamu, ayah rindu jadi imam buat sholat bareng sama mama kamu, ayah juga kangen jalan-jalan sama mama kamu kalau lihat album-album foto lama. Tapi dari semua itu, ayah kangen pulang ke rumah. Ayah kangen ada orang di rumah saat ayah pulang dari masjid atau dari toko. Ayah juga kangen menunggu mama kamu datang dari pasar, dari pengajian, dari arisan. Itu, Ndi.”

Andi tercenung. Tanpa disadari tangannya mencengkeram kursi di meja tulis erat-erat. Ingatannya melayang ke beberapa hari sebelum dia melakukan work trip, di saat dia memilih pergi dari rumahnya daripada harus berkonfrontasi.

That’s nice. That’s nice, Yah. Tapi … apa Ayah pernah bosan di rumah dengan almarhumah Mama? Sorry Yah, but I mean … don’t you guys ever have a fight, or something?”

Ali tersenyum. “Ingat, Ndi, dulu kita beberapa kali pergi berdua, tanpa kakak-kakakmu, kita pergi ke taman bermain? Lalu setelah pulang, ayah selalu belikan buku baru buat kamu, supaya kamu bisa baca di mobil atau di masjid, sementara ayah pergi sebentar?”

Andi mengangguk.

“Saat kamu di mobil atau di masjid itu, ayah biasanya pergi sejenak. Makan sendiri di restoran. Duduk di taman. Ayah perlu waktu sendirian. Terutama kalau setelah ayah beradu argumen dengan mama kamu. Ayah tulis semua kekesalan ayah dengan mama kamu. Tapi ayah tetapkan waktu tidak mau berlama-lama. Ayah tahu kamu biasanya selesai membaca dalam waktu setengah jam, jadi ayah harus selesai menulis semua kekesalan ayah dalam waktu setengah jam juga. Tidak gampang, Ndi, di awalnya. Lama-lama jadi kebiasaan juga. Lama-lama juga, ayah dan mama kamu sudah bisa mengendalikan emosi. Perlu waktu, memang. Dan kamu tahu kenapa ayah cuma punya waktu setengah jam menulis semua kekesalan itu?”

Well, you needed to return me home ‘kan, yah?”

“Dan ayah perlu pulang juga. Sebesar-besarnya ayah dan mama kamu cekcok, ayah dan mama selalu pulang ke rumah. Kalau masih marah, sebisa mungkin ditahan dulu. Ayah dan mama dulu sepakat, kalau masih marah, bisa dilanjutkan besok. Malamnya harus tidur bersama, dan tidak membawa kemarahan ke atas kasur. Tidurnya nggak tenang. Baru setelah bangun esok pagi, ada energi baru. Kalau masih marah, boleh dilanjutkan, selama nggak lebih dari 3 hari. Kalau malas dilanjutkan, toh masih banyak yang harus dikerjakan.”

Andi hanya mengangguk.

“Ndi, kalau ada orang yang menunggu kita pulang ke rumah, artinya kita masih dibutuhkan dan diperlukan keberadaan kita. Kalau kita berada di rumah menunggu orang pulang, artinya kita masih punya sesuatu yang diharapkan atau dituju. Atau di istilah yang pernah ayah baca, something to look forward to each and every day. Kesempatan ini ternyata tidak selalu ada, Ndi. Kalau ada, jangan sampai disia-siakan. Kalau belum ada, kamu harus tetap percaya kalau kamu akan punya kesempatan ini, Ndi.”

Andi terdiam. Matanya mulai berat menahan luapan emosi.

Ali menghela nafas panjang. Lalu dia berdiri.

“Ayah tidur dulu ya, Ndi. Besok masih sahur.”

Andi mengangguk, menutup pintu. Dia duduk di atas kursi dekat meja tulis. Tangannya mengusap-usap bagian atas bibir, sambil berpikir.

Andi mengeluarkan ponsel yang telah selesai di-charge. Dia mulai mengetik.

I am sorry. Can I still come home to you?”

Andi menekan tombol Send. Andi menghela nafas panjang, lalu menutup muka dengan kedua tangannya.

Lima menit kemudian, ponsel bergetar. Andi melirik ke notifikasi di layar ponsel.

Andi tersenyum.

 

Returning-Home

Hati Sebagai Tempat Berteduh dan Berdiam

KETIKA kita ingin pindah rumah atau tempat tinggal, salah satu proses yang paling menyita perhatian dan melelahkan adalah penyortiran barang. Demi kebaikan diri sendiri, kita harus memilih, menentukan, lalu memutuskan. Jika tidak, bukan hanya kerepotan, terlalu berat, dan membuat tempat baru yang semestinya lapang menjadi sesak, sehingga mengulang kesumpekan yang sama.

Berpindah tempat tinggal seringkali bukan sekadar pergantian lokasi. Bisa menjadi titik mula, awal yang baru, atau bahkan hidup yang sepenuhnya berbeda. Oleh sebab itu, dari sekian banyak barang yang telah kita peroleh, kita kumpulkan, kita simpan, dan kita pertahankan di balik dinding rumah selama ini, harus ada yang kita tinggalkan. Bukan lantaran ingin kita lupakan, tetapi, ia seakan-akan bergelayut di kaki kita; menghalangi kita untuk terus melangkah ke depan. Terkadang kita justru diseretnya mundur.

Ia–semua barang tersebut–tak lagi tepat untuk selalu kita bawa ke mana-mana.

Foto: Pexels

Demikian pula hati. Jika diibaratkan sebuah tempat hunian, hati kita lebih mirip sebuah tenda. Portabel, bisa dipasang dan dilepas di mana saja, dan selalu kita bawa sewaktu berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Apabila tenda (hati) itu kita tinggalkan, kita pun menjadi seorang tunawismarasa. Jiwa yang menggelandang tanpa keteduhan.

Setiap titik perhentian, tempat kita bertahan, berhenti untuk sementara waktu, berdiam, dan mendirikan tenda (hati), merupakan fase-fase dalam hidup kita–karena kita menJALANi hidup; karena hidup adalah sebuah perjalanan dengan sejumlah persinggahan.

Sewaktu bertahan dan berdiam, kita membentuk, merasakan, dan meringkuk dalam lingkar kenyamanan kita sendiri. Dalam zona nyaman tersebut, kita terbuai, menolak dan mengingkari kenyataan bahwa segalanya pasti berubah (dan karenanya, perubahan yang datang pun akan terasa lebih mengguncang dan menggetarkan).

Kala perubahan terjadi, titik singgah kita saat ini akan ditinggalkan. Cepat atau lambat, kita harus kembali mengemas tenda (hati) beserta isinya. Lagi-lagi, apakah semuanya akan dibawa?

Foto: Removers.org.uk

Mau berapa banyak yang akan dibawa serta?

Mengapa?

Setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangan yang berbeda-beda. Namun, mereka yang cermat dan sigap–biasanya tertempa pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan, bisa langsung menentukan apa saja yang bakal dibawa beserta tenda (hati) dalam perjalanan menuju titik singgah berikutnya. Perhatian dan tenaga mereka pun disimpan secara efisien, agar mereka tidak dibuat repot oleh hal-hal yang sejatinya sepele. Sebab, walau bagaimapun juga, kehidupan akan terus berjalan.

Kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang tumbuh seiring berjalannya waktu. Ada satu momen ketika kita akhirnya memiliki daftar berisi “hal-hal yang penting” dan “hal-hal yang tidak penting” bagi hidup kita. Isi setiap bagiannya selalu berubah. Ada yang bertambah, ada yang berkurang. Semua yang ada dalam daftar “hal-hal yang penting” pasti kita prioritaskan. Apa saja misalnya, keluarga, orang tua, hubungan asmara, karier, gaya hidup, kepemilikan dan harta, nama besar, popularitas, hubungan sosial, kenikmatan seksual, penghormatan, waktu yang leluasa, anak-anak, pencapaian pribadi, ego, dan masih banyak lagi lainnya. Pasti kita bawa menuju titik singgah berikutnya.

Foto: Storage Monkey

Saat ini, cobalah tengok sejenak daftar-daftar tersebut. Lihat isinya sekejap. Apakah isinya sudah pas, atau ada yang perlu digeser? Setelah itu, bayangkan hal paling mengejutkan, paling liar, atau paling tidak terbayangkan sebelumnya.

Andai apa yang kamu bayangkan tadi terjadi di kehidupan nyata, memaksamu untuk berpindah dari zona nyaman (membongkar tenda [hati] dan isinya), apakah kamu mampu menjejalkannya, memanggul semua isi dalam “daftar hal-hal penting” itu? Atau malah terbebani oleh itu semua?

Supaya dapat berjalan lebih lancar dan ringan, seseorang terkadang perlu meninggalkan begitu banyak hal. Meski harus terasa tidak menyenangkan.

…dan kehidupan pun terus berjalan, bagi kita, dengan hati sebagai tempat bernaung.

[]

Curiosity (Tidak Selalu) Kills the Cat

— seperti yang pernah saya tulis di blog pribadi ratusan tahun yang lalu —

“So.”

“So.”

“How was it?”

“How was what?”

“Was it good?”

“What do you think?”

“Was I good?”

“How do you want me to answer that?”

“Can’t you think of anything?”

“After what just happened, can you?”

“It was pretty something, right?”

“I know, right?”

We laugh.

“What about you?”

“What is about me?”

“How do you feel?”

“Why don’t you tell me?”

“Are you okay?”

“Are you okay?”

“Is it okay then to say that we are okay?”

“Is there a “we” now?”

“Do you want to file a motion against that?”

“Is it something worth doing?”

“What is worth doing to you then?”

“Why don’t you find out?”

“Is that an invitation?”

“Why don’t you just accept?”

“What is the risk?”

“What is life without taking a risk of not knowing anything ahead?”

“Is that how you describe this whole thing?”

“What whole thing?”

“What do you think has happened?”

“Why the questions are getting longer and more complicated?”

“Why do you keep answering my questions with questions?”

“Why do you still continue doing that?”

“Why do you think I keep up with you?”

“Why do you think I keep up with you?”

We smile.

“How long can we do this?”

“How about one day at a time?”

We are still here.

“So.”

“So.”

(From Twitter)

Hidup yang Lapang, Lega, dan Leluasa

RINGAN dan enteng. Perasaan yang selalu kita dambakan dalam hidup ini, baik batin maupun jasmani. Siapa saja yang pernah merasakan beban berat dan dibuat susah karenanya, pasti akan bisa menghargai dan mensyukuri keadaan ketika beban tersebut menjadi tiada. Perasaan ringan dan enteng itu kemudian berubah menjadi kelapangan, kelegaan, dan keleluasaan untuk melihat serta bergerak lebih bebas. Menghadirkan kehidupan yang berbeda.

Foto: Anthony Tran

Yang harus kita lakukan seringkali sesederhana pilah lalu tinggalkan, sebab tak semua hal sepenting itu untuk terus dipikul ke mana-mana. Hanya saja, seberat-beratnya beban fisik, lebih berat lagi beban mental. Beban fisik berupa benda; bisa diangkat sendiri atau bersama-sama. Dapat dilihat, dan dapat dinilai oleh orang lain. Jika sudah tidak diperlukan atau dapat ditinggalkan, cukup diletakkan begitu saja. Bahkan bisa saja langsung dibuang sebagaimana mestinya.

Berbeda dengan beban batin yang gaib, tak kasatmata, dan kerap justru lebih membahayakan dibanding benda nyata. Beban batin belum tentu bisa dibagi. Saat ada keinginan untuk membaginya pun, mesti tetap berlaku hati-hati supaya tidak tambah sakit hati. Apabila tidak tepat, beban batin yang niat awalnya ingin dibagi tersebut bukannya menjadi ringan, malah bertambah berat.

Di antara berbagai cara yang biasa kita lakukan untuk membagi dan mengurangi beban batin, salah satu yang paling digemari adalah menyalahkan dan memojokkan diri sendiri. Padahal, beban batin itu bukannya berkurang, melainkan hanya dialihkan ke kompartemen ego yang berbeda. Ada kompartemen yang dipenuhi puja puji, ada pula kompartemen untuk kehinaan diri.

Jikalau orang-orang yang terlalu positif atau terlampau percaya diri selalu mencari—bahkan mirip kecanduan—validasi orang lain atas keberhasilan serta pencapaian-pencapaian dalam hidup mereka, menyalahkan dan memojokkan diri merupakan kebalikannya 180 derajat. Berupa validasi negatif. Mereka ingin diiyakan sebagai seseorang yang paling malang, paling kurang, paling tidak berkualitas, paling tidak berguna, dan sebagainya di seluruh dunia. Seolah-olah ada kenyamanan ego yang mereka peroleh dari validasi negatif tersebut.

Salah satu ciri khasnya adalah kemampuan melihat segala hal secara negatif. Dalam sebesar atau sekecil apa pun suatu kebaikan maupun prestasi yang diperoleh, selalu saja ada nada sumbang yang dilontarkan. Terhadap hal ini, sebenarnya terdapat dua sudut pandang berbeda. Dari si pengucap, dan para pendengar.

Dengan terus berupaya mendapatkan validasi negatif atas apa pun yang telah mereka capai atau lakukan, si pengucap ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak cukup pantas; biasa-biasa saja; atau terkesan berusaha ingin bersikap rendah hati—meskipun kebablasan, dan pada akhirnya malah ditangkap sebagai kesombongan terselubung.

Sedikit banyaknya, kita pernah bersikap begini, atau mungkin terus berlangsung sampai sekarang. Tanpa sadar, dan terus mengakar kuat.

Foto: Lesly Juarez

Kembali ke pilah lalu tinggalkan. Tak ada yang benar-benar penting untuk dibopong ke mana-mana. Maka, alami sesuatu, dapatkan pengalaman dan kesannya, kemudian tinggalkan. Tidak perlu disanjung-sanjung maupun direndah-rendahkan sendiri.

Hidup minimalis; hanya mengisi hidup dengan hal-hal yang sungguh penting, dan berguna dalam kurun waktu lama. Dibutuhkan kebijaksanaan dan kedewasaan. Yang tumbuh, bukan muncul begitu saja. Demi kehidupan yang ringan dan enteng, lapang, lega, serta leluasa.

[]