GHOSTING : SEBUAH CARA UNTUK MENGAKHIRI HUBUNGAN TANPA KATA

“Kita ‘tuh sudah deket banget. Sudah kenal keluarga masing-masing, bahkan kucing aku aja udah nurut sama dia. Tapi tiba-tiba dia menghilang, enggak ada kabar. Aku coba hubungin tapi tetep enggak bisa. Eh tahu-tahu, kemarin dia hubungi aku lagi cuma mau kasih kabar kalau dia mau menikah. Kok tega ya? Muncul, terus tiba-tiba hilang eh muncul lagi. Kayak hantu.” kata seorang perempuan di sebuah metromini.

Sebenarnya sih yang mengalami kejadian ghosting atau menghantu atau seperti hantu ini bukan perempuan aja, laki-laki juga banyak yang alamin kok. Datang terus-terusan mengatakan kita adalah segalanya dan tujuan kita dengan mereka adalah akhir yang bahagia tanpa menjelaskan hubungan yang jelas, lalu menghilang tanpa ada kabar, diajak ketemuan males-malesan, dichat tidak pernah dibalas, lalu muncul kembali, ajak ketemuan lagi, memberikan harapan-harapan indah lagi, eh hilang lagi, terus muncul lagi sambil kasih kabar mau menikah.

Kayak hantu. Kayak jelangkung. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Nyeremin, tapi lebih serem dari hantu.

Kenapa ‘sih mereka suka ngelakuin itu? Dari beberapa artikel di beberapa portal online, ghosting dilakukan oleh seseorang ketika ingin memutuskan atau menghindari seseorang yang sudah tidak menarik bagi mereka. Jika mengatakan, “Kamu terlalu baik untuk aku, kita temenan aja” adalah kata-kata yang kasar, mereka lebih baik pergi tanpa kasih penjelasan apa-apa. Padahal, itu adalah hal yang paling menyakitkan.

Apa susahnya ‘sih ngomong, “Kita temenan aja ya,” daripada harus pergi tidak bilang-bilang. Mending bikin sakit hati daripada gantung hati. Iya, digantungin.

Saya rasa, hampir 80% orang Indonesia pernah mengalami hal ini. entah karena memang kita-kita adalah orang yang mudah terlena dengan janji manis seseorang, atau memang percaya dengan kata-kata cinta itu menyenangkan. Lalu bagaimana cara menghindari ghosting ini?

Carilah orang yang betul-betul tegas dan yakin akan hubungan kalian berdua. Kalau sayang ya sayang, kalau ingin melamar yang memang benar-benar melamar dengan datang ke orangtua dan nikahi kamu. Jangan cari yang cuma bisa berkata manis, karena yang manis hanya teh manis. Dan yang paling penting, jangan terlalu berharap dan percaya sama manusia. Manusia pusatnya kekurangan dan kesalahan. Paling aman memang berharap dan percaya sama Tuhan aja.

Jangan Jadi PNS

Selama masih suka ngeluh, terjebak pada besarnya nominal serta membandingkan diri dengan yang lain; maka kebahagiaan tak akan pernah singgah dalam relung jiwa kita. Meskipun sebenarnya pekerjaan yang kita raih sekarang cukuplah bonafit dan diidamkan orang lain. Kita tak akan pernah puas dengan yang kita miliki. Manusiawi.

Ditambah dengan omongan masyarakat yang bikin kuping jadi panas, membuat sebagian orang makin bimbang dengan profesi yang telah digelutinya.

Pas lagi rame-ramenya rekrutmen PNS, di sebuah angkringan ada yang ngomong begini, “Ngapain jadi PNS, gaji kecil, gak bisa kaya. Masih aja banyak yang daftar”

Ya Allah, itu mulut apa balsem. Pedes banget.

E tapi kata siapa PNS gak bisa kaya. Lihat aja kalau PNS ngajukan kredit di bank “Gaji emang 2 juta mbak. Tapi belum termasuk honor, perjalanan dinas dll. Kalau ditotal bisa XX juta” <<< *sok kaya beud

Giliran tetangga mau minjem duit, “Aduh gimana ya. Pengen bantuin, tapi gaji PNS kan kecil. Kudoain aja yang terbaik ya”

Yang gak kalah sadis lagi…

“Parah nih PNS. Kerjanya lemot, suka keluyuran saat jam kerja, mempersulit urusan, banyak KKN-nya pula”

Astaghfirullah…

Saya sih gak kaget, karena faktanya memang masih ada yang begitu. Wajar bila sebagian besar masyarakat memberi stigma buruk pada aparat pemerintah. Mereka mengalami sendiri ketika ngurus KTP, bikin sertifikat, buat ijin usaha, berobat ke Rumah Sakit dll.

Tapi percayalah, gak semua seperti itu. Masih ada PNS yang berintegritas, berdedikasi tinggi serta mencintai negeri ini.

Pemerintah gak berdiam diri kok. Ada upaya sungguh-sungguh melakukan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja para ASN. Kita sedang berproses ke arah yang baik.

Ketika mendapat pelayanan yang tidak memuaskan dari aparat serta mengetahui ada indikasi fraud, kita bisa mengadukannya. Laporkan ke aparat pengawas dan Ombudsman Republik Indonesia. Bisa juga dengan mengirim surat pembaca di koran nasional.

Gak perlu memaki, merendahkan profesi mereka. Trus ngomporin orang lain agar tak jadi PNS, agar tak jadi orang gajian seumur hidup. Menganjurkan anak-anak muda agar jadi enterpreneur aja.

Lha kalau semua jadi wirausaha, lebih memilih masuk perusahaan, gak ada yang mau jadi PNS; siapa yang bakal mengurus negri ini Maliih?

Justru negri ini butuh lebih banyak orang baik, orang-orang cerdas dan kreatif untuk menjadi PNS. Agar birokrasi menjadi lebih lincah, bersih dan gak bertele-tele. Supaya mereka tak kalah ketika menghadapi para mafia, politikus busuk dan pengusaha nakal.

Di Perancis dan Singapura, pegawai negeri adalah profesi elite. Selalu jadi rebutan lulusan terbaik. Alangkah sedihnya ketika PNS dijadikan pilihan karena kepepet. Karena punya canel orang dalam dan jatah jabatan.

Intinya, semua profesi itu sama. Mau jadi petani, nelayan, pedagang, pengusaha, dokter, tukang parkir, atau buruh pabrik. Tak ada yang lebih mulia, ataupun lebih hina. Tergantung bagaimana menjalani dengan penuh kesungguhan, jujur dan bertanggung jawab.

Dan gak perlu ngiri sama profesi orang lain. Kalau gak terima dengan kondisi saat ini, merasa penghasilan ala kadarnya, stuck; ya udah alih profesi aja.

Yang perlu disadari adalah, ada hal-hal lain yang tak bisa dinilai dengan materi. Mungkin gaji tak seberapa, tapi entah mengapa selalu cukup untuk kebutuhan keluarga, bisa bantu saudara, jiwa pun tenang karenanya. Lingkungan kerja yang nyaman, kesempatan belajar terbuka lebar, serta mampu mengoptimalkan diri; adalah beberapa alasan kenapa seseorang memilih sebuah pekerjaan.

Yang penting, cintai pekerjaanmu. Jangan pedulikan label yang orang lain berikan pada dirimu. Gak usah merasa paling berjasa, paling penting, atau paling apalah dibanding yang lain.

Kita berbeda jalan, beda profesi untuk saling melengkapi.

Berhenti Sok Tahu Mengejar “Kebahagiaan”

SAAT teman baikmu ada masalah dengan pacarnya‒yang lagi-lagi ketahuan selingkuh, kamu gemar, bahkan jago memberikan nasihat kepada dia.

Dengan kebijaksanaan laksana seorang begawan, kamu tunjukkan dan jabarkan hal-hal yang selama ini diluputkannya. Kamu berikan dia pandangan tentang bagaimana menyikapi masalah tersebut. Kamu juga mendorongnya menjadi wanita pemberani. Berani melihat kenyataan, berani mengambil keputusan, berani meninggalkan seseorang yang memang tak pantas didampingi.

Tanpa terlalu mencampuri kehidupannya seperti seseorang yang tak tahu batasan, kamu peluk dan kuatkan dia. Kamu dampingi dia dalam setiap langkah yang perlu diambil untuk menyudahi dan bangkit dari keterpurukan itu. Kamu berhasil mendorong dan menyemangati agar dia kembali menjadi dirinya sendiri. Menjadi seorang wanita yang berharga, yang semestinya diperlakukan dengan sebaik mungkin, yang pantas mendapatkan laki-laki terbaik di sisinya.

Usahamu berbuah manis. Temanmu kembali menjadi figur yang ceria, manis, dan bebas berekspresi. Kamu berhasil membantunya melewati momen-momen tidak menyenangkan yang kritis. Kamu menunaikan tugas sebagai seorang teman yang membantu di saat paling dibutuhkan, sekaligus sekali lagi membuktikan kemampuan sebagai penasihat yang baik. Pemberi panduan bagi mereka yang hilang arah, dan tak tahu harus berbuat apa. Kamu memang hebat.

Nasib orang siapa yang tahu.

Menjadi seseorang yang cantik, pintar, baik, lucu, menggemaskan, dan pandai menampilkan diri bukan jaminan bisa terhindar atau terlepas sepenuhnya dari orang-orang yang tak tahu diuntung.

Kamu diselingkuhi oleh pacarmu sendiri. Seseorang yang sudah diajak menjalani hubungan dua tahunan lamanya.

Kamu terpukul hebat, tentu saja. Untuk beberapa waktu lamanya, giliran kamu yang kehilangan arah. Kamu sadar penuh bahwa kamu adalah korbannya, dan dia, seseorang yang pernah (atau masih) kamu anggap sebagai rumah tempat kelelahan dan hati berlabuh, ternyata tidak lebih dari sekadar bocah. Tak peduli berapa usianya, apa pekerjaannya, berapa yang dia hasilkan, dan pencapaian-pencapaiannya yang lain, dia hanya anak-anak yang dengan mudahnya beralih perhatian dari satu mainan ke mainan lain. Kadang ia pegang di kedua tangannya, bersamaan, tanpa mau melepaskannya. Dibawa saat tidur, dibawa saat mandi, dibawa saat makan, dibawa saat berak. Dia cuma seperti anak-anak, yang manakala dijauhkan dari mainan-mainannya sebentar saja, akan menangis meraung mengamuk tantrum tanpa peduli di mana dia berada, di hadapan siapa dia melakukannya.

Dia tak ubahnya anak-anak. Bukan laki-laki dewasa, seseorang yang seharusnya tahu betul apa arti dari komitmen, tanggung jawab, kejujuran, dan kepatutan. Soal pernikahan dan menjadi pasangan seumur hidup dalam ikatan cinta? Oh, belum tingkatannya. Masih jauh. Banget. Terlepas dari apa pun hal-hal indah yang pernah kalian jalani sebelumnya. Termasuk janji, serta ucapan-ucapan menyenangkan dan menyamankan yang pernah dia sampaikan. Baik lewat teks, dengan berbicara langsung, maupun yang dibisikkannya secara lembut lirih perlahan langsung di depan liang telingamu.

Bila masalah ini dilihat oleh dirimu yang dahulu; yang menasihati, membantu menyadarkan, dan menguatkan teman baikmu kala menghadapi perkara serupa, kamu pasti langsung tahu harus ngapain dan berbuat apa. Baik untuk dirimu sendiri, maupun kepada seseorang yang belum becus menjadi laki-laki dewasa sepenuhnya.

Namun, mendadak kok jadi tidak “segampang” itu? Tak lancar seperti sebelumnya? Kamu justru butuh mendapatkan masukan dari orang lain. Perlu dinasihati dan dibantu menuju solusi.

Itulah kita, yang jago memberikan nasihat bagi orang lain tetapi malah jadi pengambil keputusan yang payah bagi diri sendiri. Meskipun seringkali untuk masalah yang sama. Kan lucu.

Diistilahkan sebagai Solomon’s Paradox, hal ini dikenal sebagai salah satu “keunikan” lazim pada manusia. Yakni ketika seseorang bisa melihat masalah orang lain dengan begitu jelas, sehingga dapat langsung mengidentifikasi inti/fokus utamanya. Dibanding saat menghadapinya sendiri.

Di sisi lain, perbedaannya adalah sudut pandang dan apa yang dialami. Bagi orang lain, masalah tersebut dapat dilihat dari satu atau dua dimensi. Sedangkan bagi yang mengalami sendiri, terdapat banyak faktor dan pertimbangan tambahan. Belum lagi soal perasaan yang hanya diketahui oleh mereka‒dan bikin bias‒secara eksklusif.

Dengan demikian, kita akan selalu rentan untuk menjadi sok tahu tentang masalah orang lain. Belum lagi jika kita menyuapkan (baca: memaksakan) saran-saran yang terdengar positif, tetapi sejatinya beracun.

Sebab segala masalah yang mereka alami, kerap tidak sesederhana yang kita pahami. Hingga akhirnya terjadi pada diri kita sendiri.

[]

Sisi Sebelah Sono dari Takut

Apa yang membuatmu takut?

Kegelapan selamanya yang katanya akan dialami ketika mati? Atau bayangan bahwa semesta begitu luasnya dan manusia begitu tidak signifikannya, lebih kecil dari debu, sampai memikirkannya membuat napas sesak? Mungkin ada ketakutan yang lain, yang membuat film horor yang paling mengerikan sekalipun (untuk saya; Hereditary dan Ringu) jadi seperti kisah fabel untuk anak sebelum tidur?

Seperti bayi baru yang sudah terbiasa dengan ruang terbatas di rahim ibu, ketika merasa ada di ruang terlalu terbuka seringnya merasa kurang aman, karena itu tak jarang mereka dibungkus dalam selimut atau dibedong sehingga bisa tidur dengan ayem.

Begitu juga manusia dewasa yang mungkin ketakutannya adalah jagat yang demikian luas, membuat bumi hanyalah salah satu planet dari entah berapa juta atau milyar makhluk surgawi yang ada. Dengan premis seperti itu sepertinya sulit mempertahankan pemikiran kalau kita makhluk yang paling sempurna dan segalanya diciptakan untuk kita. Apa ya, bedongnya kira kira jika ketakutannya itu? Mungkin mencari ideologi dan teori lama geosentris, kemudian menambah dengan apa yang dikira dibaca di kitab suci, dan jadilah kepercayaan bahwa bumi datar. Bahwa langit tidak bolong sampai lapisan ke tujuh, di jagat, jagat kedua, multi jagat dan lebih luas lagi, tapi ada lapisan firmamen yang melindungi kita. Lalu matahari dan bulan diciptakan hanya untuk kebutuhan manusia di bumi.

Sepertinya semua manusia, paling tidak satu waktu dalam hidupnya terpikir soal kematian dan takut karenanya. Memang lebih nyaman untuk berpikir bahwa kita akan bangun lagi di alam yang berbeda dan abadi, dan apa yang kita kerjakan di dunia berpengaruh dengan apa yang akan kita alami di alam tersebut. Kegelapan abadi tentu tak membuat nyaman. Tetapi mengingatkan diri dengan teori kekekalan energi, sehingga ruh manusia adalah energi yang tidak bisa dihilangkan hanya berubah bentuk, tentu lebih membuat nyaman menghadapi kematian.

Apa yang kita rela korbankan demi rasa nyaman? (Sementara nyaman adalah musuh dari … kemajuan? Sukses?)

Mungkin juga rasa takut tidak terlalu buruk, bukan untuk diubah jadi nyaman, tapi diterima saja. Lebih baik kalau jadi cinta. Karena dalam hidup kita hanya dua pilihan; untuk menjalaninya mengikuti rasa takut, atau rasa cinta.

everything-you-want-is-on-the-other-side-of-fear-24042728

Petuah Yang Selalu Kita Usahakan

Salah satu nasihat yang pernah diberikan ayah saya kurang lebih begini:

“Jangan kamu ingat semua kebaikan yang pernah kamu lakukan ke orang lain. Tapi selalu ingat semua kesalahan yang pernah kamu lakukan ke orang lain.”

Berat? Tentu saja. Namanya juga petuah. Kalau tidak berat, itu namanya basa-basi. Atau konten meme.

Apalagi ini pedoman hidup yang disampaikan ke orang tua pada anaknya, dengan harapan agar anak bisa mengamalkan atau menjalankan itu dalam hidup.

Tentu saja pertanyaan yang muncul setelah itu, naturally, adalah: apakah saya sudah menjalankan pesan ayah saya ini?

Dengan menghela nafas yang dalam dan panjang, saya menjawab dengan mantap dan tegas, “Belum.”

Kenapa belum? Karena ini berat sekali dilakukan.

Terlebih di saat kita lagi dilanda gejolak emosi yang berlebih, apalagi belakangan ini. Ditambah lagi, katanya sekarang bumi sedang mengalami fenomena Mercury Retrogade. (Walaupun kalau dipikir-pikir, asyik juga menyalahkan fenomena alam terhadap perasaan kita yang sedang carut marut tak karuan.)

Saat kita sedang emosi, sedang merasa kesal terhadap orang lain, sangat mudah kita untuk berkacak pinggang sambil bilang, “Dasar elo ya! Gak tahu terima kasih, gue udah kerjain semua saat elo gak ada, sekarang elo semua yang take the credit and praise!” Kalau perlu sambil melotot seperti Leily Sagita di sinetron … Ah, Google saja kalau tidak familiar dengan nama ini.

Saat kita sedang emosi, sangat mudah buat kita mengasihani diri sendiri, menempatkan diri kita sebagai korban. Kita sibuk mendramatisir berbagai kejadian di benak kita, membayangkan kita seolah-olah bak anak sebatang kara yang disia-siakan orang tuanya sehingga harus menyambung hidup di jalanan ibu kota yang bengis, seperti Faradila Sandy di film … Ah, Google saja kalau tidak tahu referensi ini.

Trust me, I know this, I can write this, because I have been experiencing this. Shamefully, sometimes I still do that.

aid319399-v4-728px-Ask-a-Friend-to-Forgive-You-Step-1

Sangat berat bagi kita untuk mendinginkan kepala saat hati masih berapi-api. Sangat berat bagi kita untuk bisa tenang, saat kesempatan untuk marah-marah lebih terbuka lebar. Biasanya kemarahan kita jadi tidak fokus, tidak terpusat pada hal yang memicu konflik, malah merembet ke hal-hal lain di masa lalu yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali dengan masalah at the present time.

Jujur, saya punya anger management problem. Terlebih saat sendiri, dan merasa sendiri menghadapi masalah dengan orang lain. Sangat susah untuk mengakui kesalahan, dan berbesar hati mau bicara terbuka dengan orang atau kelompok yang mempunyai masalah dengan saya, untuk mencari jalan keluar.
Sometimes we think our way is the best way, until we talk it out loud, and we realize it’s not.

Kalau sudah dalam posisi ini, sebelum “meledak” lebih jauh, maka saya akan retreat. Mundur sejenak, kalau perlu diam lebih lama lagi. Dan tidur. Saya percaya bahwa sleep on it kadang menyelesaikan masalah.

Dan meskipun saya tidak relijius, saya percaya bahwa waktu 3 hari atau 72 jam itu waktu yang cukup untuk marah kepada seseorang, terlebih dalam konteks marah terhadap rekan kerja, teman sekolah, atau sejawat lainnya. Setelah waktu tersebut selesai, mungkin marah kita belum reda, tapi paling tidak kita sudah punya perspektif lain terhadap masalah yang kita hadapi, karena kita kepikiran terus selama waktu itu ‘kan? At least this is what I believe.

And I still believe in the power of forgiveness. Mau kita yang meminta maaf, mau kita yang memaafkan, yang jelas forgiveness gives closure.

Dan bukankah kita hidup selalu mencari closure ini?

So, Dad, if you’re reading this, and I know you sometimes are, I am still working on your advise, all the time.

father-and-son1

Ngegas Ergo Sum: Aku Ngegas, Maka Aku Ada


ENGGAK peduli yang disampaikannya benar atau salah, tepat atau tidak, pokoknya ngegas dulu. Supaya “ada”, atau lebih tepatnya supaya dianggap dan merasa “ada”.

Diawali dengan satu pertanyaan: “Kenapa mesti ngegas, sih, anjjj…” (lah, kok ngegas juga?)

Ini barangkali bukan sekadar soal eksistensi. Bukan semata-mata tentang keberadaan seseorang, terutama menurut dirinya sendiri. Ego memang menjadi landasan utama, tetapi ada berbagai alasan dan latar belakang lain yang mendorong seseorang untuk bersikap demikian.

Emosional

Ada orang yang awalnya sabar, mampu menjaga sikap, dan mengendalikan diri. Namun, lama-lama mulai kehilangan kesabaran, gemas, geregetan, jengkel, sampai kesal ketika berinteraksi sosial. Nada bicara yang mulanya terdengar biasa-biasa saja, mulai meninggi, bahkan sampai membentak. Di titik yang paling parah bahkan bisa berupa teriakan. Bukan lagi berbicara atau diskusi seperti biasa, melainkan amukan amarah atau debat pakai urat.

Seseorang menjadi emosional lantaran banyak hal. Bisa karena pembawaan yang temperamental; tidak menyenangi lawan bicaranya; merasa terganggu dengan lawan bicaranya; si lawan bicara yang terkesan bebal atau susah dinasihati; bisa juga karena pembawaan yang memang tidak sabaran, atau judes dan suka ketus.

Kalau sudah begini, mesti dihadapi dengan luwes. Ngegas jangan dibalas dengan ngegas balik. Biarkan saja dia ngegas kenceng sampai saatnya harus tarik napas, lalu mulai kembali pembicaraan dengan landai dan santai. Kembali ke tujuan utama berlangsungnya pembicaraan tersebut; komunikasi, ada yang perlu disampaikan. Bukan adu-aduan mana yang lebih baik, lebih benar, dan seterusnya. Tidak menutup kemungkinan dia ngegas karena kita juga.

Butuh Perhatian

Semua orang butuh diperhatikan, dipedulikan, didengar, diiyakan, dianggap ada sebagai seseorang/sesuatu yang signifikan. Untuk tujuan ini, ngegas yang dilakukan sebatas konteks atau bungkusnya saja. “Notice me, Senpai!” Setelah diperhatikan dan mendapat tanggapan, gembira hatinya.

Ada banyak cara untuk ngegas demi mendapatkan perhatian. Bukan hanya meninggikan suara, atau berbicara lebih nyaring dan keras—awalnya dipikir dapat meredam suara lain, membuat suaranya saja yang didengar, padahal jadi tambah berisik—apalagi pakai gebrak meja. Ngegas bisa ditunjukkan secara virtual lewat media sosial. Cukup sambar twit seseorang, hujani dengan kritik, argumentasi perlawanan, bantahan dengan gaya yang diinginkan. Bisa juga ditambah gaya khas netizen yang berasanya ramah padahal sejatinya penuh penghakiman: “Sekadar mengingatkan 🙏🏼”

Enaknya kalau ngegas di media sosial, jika terbukti keliru atau salah cukup ditinggal ngilang

Aku Benar, Kamu Salah

Faktor ini juga bersinggungan dengan emosi, hanya saja seringkali dibarengi kebanggaan diri dan superioritas. Dengan merasa sebagai seseorang yang benar, dan sedang berhadapan dengan seseorang yang salah, timbul semangat untuk muncul dan mengemukakan diri sebagai pihak yang benar. Terkadang malah hanya gara-gara sok tahu.

Sayangnya, semangat kebanggaan diri ini rentan bikin kepleset. Harga diri dan gengsi sebagai seseorang yang benar tadi seolah-olah menjadi perisai kritik, tinggi hati, dan membuat seseorang tersebut susah menerima kenyataan bahwa dia salah. Ngeles terus sebisa mungkin, atau justru melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Banyak banget contohnya.

Seringkali yang ngegasnya lebih kencang justru orang yang jelas-jelas salah. Itu mereka lakukan demi menutupi kesalahan tersebut, atau mengalihkan perhatian supaya tidak terlampau malu.

Selain urusan benar atau salah, seseorang bisa ngegas karena banyak aspek lainnya. Superioritas tersebut mencakup status sosial dan ekonomi; “Aku lebih tinggi daripada kamu,” senioritas; “Aku lebih duluan daripada kamu,” dan ilusi moral; “Aku lebih baik daripada kamu.” Seakan-akan semua kondisi tersebut membuat mereka berhak untuk ngegas.

Sindrom Sang Penyelamat

Ini berhubungan dengan prioritas, atau hal yang dianggap penting oleh seseorang tetapi dianggap biasa-biasa saja bagi orang lain. Berkaitan juga dengan seberapa tenang seseorang saat menghadapi sesuatu. Ada yang bisa woles, ada juga yang panik, padahal ujung-ujungnya tidak serumit yang dibayangkan.

Maka, orang-orang dengan Sindrom Sang Penyelamat ini akan berusaha sekeras mungkin agar bisa didengar, diiyakan, dan dituruti oleh orang lain.

Berbeda dengan dorongan sebelumnya, orang-orang yang ngegas demi tujuan ini sebenarnya tidak memiliki niatan buruk. Mereka hanya terfokus pada hal-hal yang dianggap penting, bukan selebihnya. Lagi-lagi, yang membuat ngegas itu terjadi adalah perbedaan sikap dan pandangan terhadap sesuatu. Oleh sebab itu, dorongan ini bebas dari baper. Setelah sesuatu selesai, langsung move on.

Memang Dasar Mulutnya Jelek, Aja!

[]

Mengelak dari Kesusahan Kini atau Nanti? Kita Memang Makhluk yang Sangat Pamrih

TENTU saja! Mustahil bagi kita untuk benar-benar tanpa pamrih, tanpa berhitung, atau tanpa mempertimbangkan sejumlah hal sesedikit apa pun dalam menjalani hidup. Hal ini lazim, selazimnya kita menikmati hal-hal yang menyenangkan, dan menolak hal-hal yang tidak menyenangkan.

Sederhananya, disadari atau tidak, kita pasti melakukan sesuatu demi sesuatu yang lain. Begitu pula sebaliknya, kita pasti tidak melakukan sesuatu demi menghindari sesuatu yang lain. Dalam bentuknya serendah atau sekasar apa pun (bertahan hidup, pahala dan bisa masuk surga, mendapatkan uang dan harta, makanan, belas kasihan, kesempatan bersetubuh atau disetubuhi, reputasi dan popularitas, kedudukan, hadiah, dan sebagainya), sampai yang seluhur atau sehalus apa pun (merasa memiliki tujuan hidup, rasa batin yang terpenuhi, rasa syukur, kepuasan batin, rasa senang dan syukur karena telah berkontribusi bagi kesejahteraan orang lain, merasa telah menjadi seseorang yang baik dengan moral terpuji, merasa berlatih ikhlas dan sukarela, rasa ingin menjadi orang yang lebih baik, rasa bakti, dan sebagainya) kita pasti mengharapkan sesuatu. Bahkan orang-orang dengan kegemaran menyakiti perasaan dan diri sendiri pun, cenderung terus melakukan hal-hal tidak menyenangkan demi tujuan dan kepuasan tertentu.

Image result for fruit of self control
Foto: Pinterest

Di luar kesadarannya, seorang anak mengalami tantrum. Ia menangis meraung-raung, melelahkan, terkadang sampai tersedak dan hampir muntah, serta tidak memberikan perasaan gembira, supaya diperhatikan dan kemauannya dituruti. Sebelum mendapatkan yang ia inginkan, tantrum akan terus berlangsung.

Kecenderungan perilaku tersebut bertahan seiring usia, tetapi berubah sesuai keadaan baik dari dalam maupun luar. Dengan pengkondisian yang tepat, ada nilai sekaligus hal baru yang ditanamkan dari lingkungan di sekitarnya. Berproses bersama kepribadian dan tabiat yang bersangkutan, membentuk kebiasaan.

Mulai mengenali gadget dan tablet sebagai benda-benda yang menarik perhatian, atau permen, atau diajak jalan dan dibawa ke suatu tempat baru, atau donat, atau cokelat, atau kukis, atau uang, atau mainan, dan atau-atau yang lainnya, si anak tadi bersedia melakukan sesuatu demi mendapatkan yang diinginkan. “Nanti dikasih permen, ya.” Bila tidak begitu, si anak akan menggerutu ketika diminta ibunya melakukan ini dan itu saat tengah asyik bermain.

Sekali lagi, disadari atau tidak, kecenderungan itu bertahan sampai dewasa dan seterusnya. Dengan tujuan yang positif maupun negatif, kita terus berhitung kendati tidak berupa angka.

“Ya, sudah, tidak apa-apa lah, hitung-hitung beramal.”
“Kamu boleh senang-senang sekarang, lihat
aja nanti.”
“Biar lembur sekarang, supaya Jumat bisa pulang cepat.”
“Aku rela begini, supaya dia
enggak ninggalin aku.”
“Tak apa lah repot-repot sedikit, supaya hatimu bisa luluh nanti.”
“Ambil
aja kembaliannya, Pak (ribet pegang uang receh).”
“Cari muka, buang malu
dulu, biar nanti jadi orang kepercayaannya.”
“Sekarang susah-susah dahulu, biar nanti uangnya terkumpul buat bayar kuliah.”

“Ingat, tuhan tidak tidur.”
“Tidak apa-apa kita susah begini, mudah-mudahan kesabaran kita diganjar surga.”

Silakan amati perubahannya. Dari seorang bocah yang tidak sadar, tidak peduli, dan tidak mau tahu, bagaimanapun caranya harus mendapatkan yang diinginkan saat ini juga, menjadi seseorang yang akrab dengan ungkapan “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” dan melakoninya sendiri.

Delayed gratification atau menunda kenikmatan, demikian hal tersebut dikenal sebagai sebuah sikap hidup yang kita ciptakan sendiri. Menunda desakan ego, mengatasi godaan.

Kita mengenal, mempelajari, dan mempraktikannya melalui banyak nama. Ketekunan, kesabaran, kegigihan, keuletan, keterampilan, ketabahan, pengendalian diri (dari ganjaran yang tersedia saat ini demi mendapatkan sesuatu yang lebih nanti), kecermatan dan ketepatan, keuntungan maksimal, pilihan yang lebih baik, kebahagiaan, dan kebahagiaan yang sejati ialah beberapa di antaranya.

Semua adalah soal pilihan yang diambil lewat beragam alasan dan latar belakang. Sempat disinggung sebelumnya, beragam alasan dan latar belakang dipengaruhi oleh pengkondisian serta nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan.

Delayed gratification yang dilakukan oleh anak orang kaya dan bukan anak orang kaya; orang religius dan orang sekuler; orang konservatif dan moderat; orang paguyuban dan orang patembayan; tentu berbeda. Namun, yang berbeda hanyalah objek-objek pilihannya. Sementara prinsip dan cara kerjanya sama: Menunda dari mendapatkan kesenangan saat ini, demi merasakan kesenangan yang lebih intensif di masa yang akan datang. Termasuk setelah datangnya kematian.

Iya, ini berlaku dalam beragama.

Terima saja, kita memang makhluk yang sangat pamrih … atau mungkin tuhan memang menciptakan kita sebagai makhluk yang sangat pamrih, dan dalam situasi kehidupan yang memang mesti dijalani pakai pamrih.

Jadi, cobalah santai sedikit saja.

[]

Ringkasan Hidup Kita

Awal bulan Februari lalu, saya beradda di Berlin selama 2 minggu. Keberadaan saya di sana untuk urusan pekerjaan. Untungnya, kota ini terasa cukup familiar, karena ini bukan kunjungan pertama dalam waktu yang singkat. Proses adaptasi, jet lag, dan sejenisnya cukup mudah dilakukan. Apalagi begitu sampai, cuma punya waktu sebentar untuk beres-beres di kamar hotel, sebelum pergi ke tempat kerja.

Toh a sense of familiarity yang saya temui ternyata masih menyimpan elemen kejutan yang menyenangkan.

Jadi saya bertanya ke rekan kerja saya yang sudah lebih dulu sampai tentang aktivitas yang dia lakukan sebelum saya datang.

“Gue ketemuan dan makan malam sama ABC. Dia ‘kan udah kawin dan menetap di sini. Gue juga bilang ke dia kalau elo akan dateng. Jadi kita akan dinner lagi ama dia.”

“Oke. Eh bentar. Ini ABC yang mana sih?”

“ABC DEF.”

“Haaah? ABC DEF?!”

“Iya!”

“Astaga! Gue pikir ABC yang mana. Dia masih ada?”

“Hahahaha, ya masih lah!”

No, I mean … Oh My God, elo tau gak sih kalau there was a period in my life, a significant period and a significant amount of time, si ABC DEF ini tinggal ama gue, terus kita sering jalan bareng dan practically dia yang menyuruh gue to live the way I live now?”

“Makanya, dia juga kaget pas gue menyebutkan nama elo juga. “Nauval? Nauval Yazid? Ya ampun!” Gitu katanya!”

“Ah gila, gue udah lama banget gak mendengar nama ABC DEF ini. How long has it been … 14 … 15 years? Ya Tuhan, selama itu!”

Lalu kami pun sepakat untuk mengosongkan jadwal malam hari di Valentine’s Day dari semua pekerjaan. Kami akan makan malam bersama.

Begitu sampai di hari yang tentukan, dan setelah mengikuti Google Map sampai tersesat, akhirnya kami sampai di tempat makan. Saya dan ABC DEF spontan berpelukan cukup lama. Kami tidak kaget melihat perubahan fisik masing-masing. Malah sepertinya kami begitu cepat saling mengenali, karena ada sense of familiarity yang tak bisa dipungkiri.

Pasangan teman lama saya ini pun cukup tahu diri, karena dia bolak-balik taking a smoke break meskipun bukan perokok berat, untuk memberikan waktu dan teman saya saling catch up.

Dan di sinilah kejutan terjadi.

Setelah duduk dan memesan minum, kami memulai percakapan.

“Ya ampun, elo ABC! Gila, gue sampe takjub sendiri akhirnya mendengar nama elo lagi. Gue sama sekali gak mendengar nama elo lho bertahun-tahun ini.”

Dia tertawa. “I take it as a compliment, lho.”

How are you?

I’m fine. Super fine. How are you?

I’m good. Gue masih gak percaya lho ini ketemu elo lagi.”

“Hahahaha. Nah sekarang udah percaya kan? So now tell me, what happened to you, the last 14-15 years?

games-to-play-around-the-dinner-table-1260-853

Lalu saya mulai bercerita dari periode terakhir bertemu dia. Tentang semua jenis pekerjaan yang saya lakoni selama ini. Tentang beberapa tempat tinggal yang saya jadikan rumah selama ini. Tentang heartbreakers and getting the heart broken repeatedly over the years.
Dan semua ini saya ceritakan dalam 10 menit.

Di akhir cerita saya terdiam sejenak. Lalu saya berkata ke teman saya:

Wow. Did I just tell you the story of my life in the past 15 years in only 10 minutes?

Teman saya tertawa sambil mengangguk. Saya ikut tertawa sambil menggelengkan kepala:

Wow. If only I knew back then that my life story in one and half decade can be summarized in only 10 minutes. I mean … Bok, segala macam drama gak penting itu, ternyata kalau dilihat lagi, gak berarti apa-apa ya? Cuma 10 menit ini gue cerita ke elo, sementara dulu pas putus nangis dan marahnya berhari-hari. Eh sekarang pas dilihat lagi, ternyata gak ada apa-apanya!”

Kami tertawa. Demikian pula dengan teman saya yang juga memberikan ringkasan singkat kisah hidupnya selama bertahun-tahun terakhir.

Sepanjang makan malam itu saya tak habis pikir, ternyata tak semua kejadian dalam hidup kita akan terus kita bawa. Jangankan selamanya, bahkan lebih dari satu dekade pun belum tentu. Hanya momen-momen tertentu yang akan selalu terpatri dalam ingatan. Dan jenis momen yang akan lekat dalam ingatan pun, kita tidak akan pernah menduga apa yang akan kita ingat.

Saya pikir semua luapan dan tindak-tanduk emosional yang pernah saya keluarkan akan terus saya ingat. Ternyata tidak.
Saya pikir semua hal-hal baik yang saya lakukan karena saya ingin mendekati seseorang akan terus saya ingat. Ternyata tidak.

Turns out, we can never tell what sort of memories will stay with us forever.

Tapi yang kita percayai adalah bahwa memori tidak pernah tercipta karena kita berdiam diri. Memori tercipta karena kita melakukan sesuatu, berulang kali, dan beribu kali. Let our brain and mind choose the best summary of our life.

For now, we just live.

eece9185246a088c42c8bd98d4d5a25a

“Kriminalisasi” Terhadap Orang-orang Gemuk

HIDUP dalam dan menjadi bagian dari masyarakat yang sangat terobsesi pada ukuran serta tampilan fisik, tanpa sadar membuat kita sudah bersikap diskriminatif selama ini. Termasuk terhadap orang-orang yang bertubuh gemuk.

Bukan berbentuk perundungan atau bullying, diskriminasi yang kerap kita lakukan justru sangat halus, tidak kasar, tidak menyakiti, apalagi blak-blakan menyerang. Saking halusnya nyaris tak membuat si penerima merasa terganggu, tak sampai memunculkan penolakan dan kebencian. Lantaran kebanyakan berupa saran dan masukan.

Kamu kayaknya perlu olahraga, deh. Perutmu sudah gendutan, tuh. Sudah waktunya jaga kesehatan. Misalnya.

person measuring someone waist line
Photo by rawpixel on Unsplash

Sekilas tidak ada yang salah dari ucapan itu. Terkesan akrab, memiliki kedekatan personal, dan menunjukkan adanya perhatian dari si pengucap kepada lawan bicaranya. Namun, ada asumsi yang mengaitkan ukuran lingkar perut seseorang dengan kondisi kesehatan dan kemampuannya merawat diri. Padahal kondisi gemuk/kurusnya seseorang dipengaruhi berbagai faktor. Baik yang bisa diubah (gaya hidup, pola makan, pola aktivitas, kecepatan metabolisme tubuh, pikiran, tingkat stres sehari-hari, dan banyak lagi), maupun bawaan genetik yang mustahil bisa dimodifikasi. Itu sebabnya tak semua orang bisa ditangani dengan cara dan pendekatan yang sama. Seperti yang pernah ditulis Ko Glenn dan Mbak Leila beberapa tahun lalu, sebuah metode diet yang berhasil pada seseorang belum tentu memberikan dampak positif serupa bagi seseorang lainnya.

Ini bukan perkara preferensi pribadi, melainkan anggapan-anggapan yang muncul, tumbuh, berkembang, dan bertahan dalam masyarakat, hingga menjadi kesepakatan umum mengenai orang-orang bertubuh gemuk. Tatarannya pun berbeda. Dimulai dari yang hanya patut disimpan dalam hati, sampai yang bisa terang-terangan dirayakan.

Iya, dirayakan. Kompetisi berhadiah.

Beberapa anggapan sosial tentang orang bertubuh gemuk, di antaranya…

  • Orang gemuk tidak mampu mengendalikan diri/nafsu makannya.
  • Orang gemuk hobi makan, bahkan rakus.
  • Orang gemuk hanya memikirkan soal makanan.
  • Orang gemuk tidak gesit saat bergerak atau bekerja.
  • Orang gemuk tidak suka berolahraga.
  • Orang gemuk tidak bisa menjaga dietnya.
  • Orang gemuk pemalas (lantaran susah bergerak).
  • Orang gemuk lamban.
  • Orang gemuk berwajah cakep: “Sayang, badannya kegedean.
  • Orang gemuk berwajah kurang cakep: “Sudah gemuk, jelek pula.” Apalagi jika ditambah parameter-parameter negatif lain.
  • Orang gemuk gampang terserang penyakit degeneratif.
  • Orang gemuk sulit mendapatkan pasangan.
  • Orang gemuk gampang berkeringat.
  • Orang gemuk bikin gerah.
  • Orang gemuk menyusahkan sekelilingnya, bikin sempit.

… dan masih banyak lainnya.

Terdengar kejam dan merendahkan, kalimat-kalimat di atas memang tak sepatutnya diutarakan secara terbuka. Berbeda jika dalam konteks teman akrab, celetukan di atas bisa dianggap biasa-biasa saja. Jangan lupa, body shaming masih dianggap topik kelakar yang biasa-biasa saja.

Di tingkat berikutnya, kita menempatkan keadaan “gemuk” sebagai sebuah tantangan, kemudian mengaitkannya dengan kualitas perorangan. Sebut saja kegigihan dan konsistensi, motivasi dan semangat.

Awalnya mereka menjadi (baca: dibuat) merasa tidak nyaman, dan memunculkan keinginan agar bisa kurus. Entah disengaja atau tidak, ada beragam alasannya. Mulai dari masalah tampang dan penampilan, hingga paranoia tentang kesehatan. Kemudian, upaya-upaya penurunan berat badan digambarkan layaknya serangkaian perjuangan berat.

Jika tidak diejek gorila, bisa jadi jalan ceritanya berbeda. Setelah berhasil menurunkan berat badan, sebutan “jejaka tampan” mulai muncul dan dilekatkan.

Namanya juga perjuangan, tentu saja tidak mudah. Sehingga tujuan yang ingin dicapai pun lekat dengan kesan positif; sesuatu yang harus berhasil karena telah dijalani dengan susah payah. Bisa ditebak, keberhasilan itu pun dirayakan, disambut pujian dan apresiasi. Kadangkala bisa memabukkan.

Di satu sisi, itu adalah pencapaian, memang sepantasnya diperlakukan begitu, akan tetapi juga melanggengkan pandangan bahwa …

GEMUK = TIDAK BAIK

Ada ucapan bijak: “Mau gemuk atau kurus, terserah. Yang penting sehat.” Pasalnya, gemuk belum tentu sehat, kurus pun belum tentu bebas dari potensi penyakit. Cukup sampai di situ saja.

Sayangnya apabila rumus gemuk = tidak baik tertancap kuat dalam benak banyak orang, gelombang kekhawatiran berlebih dan insecurity pun bisa meluas. Dampak buruknya…

  • Cara instan menurunkan berat badan makin laku meskipun berbahaya,
  • Kehidupan sosial terganggu karena banyak yang sensitif dan gampang tersinggung,
  • Selalu terfokus pada diri sendiri (self-conscious), dan
  • Potensi gangguan psikologis termasuk kecenderungan anoreksia,
  • Pada akhirnya menghasilkan kepribadian yang rapuh.

Jadi, pilih mana? Gemuk dan bahagia, bisa menerima diri apa adanya; atau tidak gemuk tetapi enggak bisa santai?

Pokoknya, jangan berlebihan. Jangan serbasalah, dan pastikan dapat masukan yang profesional dari dokter. Cuma mereka yang punya kapasitas profesional untuk didengarkan untuk urusan berat badan dan kesehatan.

Idealnya, sih, begitu, dan mesti didukung oleh lingkungan. Jika tidak, diskriminasi itu bakal mustahil dihindari.

[]

Apa Yang Membuat Jatuh Cinta?

Ketika hati terasa kering kerontang demikian lama. Mencoba membukanya dengan harapan akan disirami, kenyatanya hanya lembap sedikit, lalu kering lagi. Bagus enggak tumbuh jamur.

Apa yang kira-kira bisa membuat jatuh cinta? Apakah itu tatapan mata ketika bicara, yang seolah hanya untuk aku? Apakah senyum dan tawa alami ketika bercerita? Atau ajakan tanpa paksa, atau meminta untuk mengantarkan pulang, hanya dengan kata sederhana; aku sengaja bawa dua helm, siapa tau kamu mau.

Mungkin bisa juga tatapannya yang selalu seperti air dingin di hati yang panas? Tanpa bibirnya harus berkata, tampak selalu senang melihatku. Atau tangannya yang memegang erat tanganku ketika aku memeluk pinggangnya di motor. Bisakah sebuah ciuman di bibir yang lembut lalu menggebu yang membuatnya terbayang sampai keesokan harinya?

Tetapi kenapa ketika dia mengatakan sayang, aku tidak bisa membalasnya? Kenapa kenapa dia sebut kata “pacar” aku hanya bisa membalas “hehehe”. Waktu dia mulai mengatakan, I love you kepadaku, hanya sanggup kubalas, awww thank you!

Padahal aku sudah janji kalau tidak lagi mencari kesamaan minat yang gimana banget. Aku juga sudah tidak menganggap terlalu penting kalau tidak lagi bertemu seseorang yang bisa mengobrol sampai berjam-jam mengenai hal yang kita sama sama suka. They are all nice to have, but not principal. Walaupun senang juga kalau bisa chat sampai larut malam karena seolah ribuan subyek yang ingin dibicarakan, tapi kurang waktu bersama.

Tapi jika semua itu memang tidak penting, kenapa belum juga aku jatuh cinta? Mungkin ini hanya perkara masa.

original

Jika Tempat Laundry Kamu Menolak Mencuci Baju Karena Berbeda Agama

Dua hari yang lalu saya mendapati salah satu postingan akun twitter yang isinya menyajikan suatu gambar hasil dari print screen tentang penolakan salah satu sanggar make up artist kepada konsumen yang beragama kristen.

Maaf, sampai saat ini kami hanya melayani umat islam“.

Karena kecewa, calon pengantin yang tidak jadi dirias ini mungkin memposting entah di media apa, namun akhirnya “tertangkap akun twitter”, dan viral.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah sikap dari sanggar tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah perbuatan yang menyinggung SARA?

Baiklah. Dengan anasir yang sama coba kita bayangkan jika yang menolak itu adalah dokter? Tentu saja dapat dibayangkan bahwa dokter tersebut telah melanggar kode etik dengan menolak pasien berlainan agama dengan dirinya.

Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.

kemudian:

Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.

Dua butir yang menjadi bagian dari kode etik dokter ini menjamin tiadanya penolakan bagi sang dokter kepada pasiennya. Sepenuhnya dalam berpraktek dokter menggunakan azas-azas universal demi manusia, bukan demi umat islam, demi umat kristiani, atau demi orang dayak, atau demi keturunan arab.

Bagaimana dengan rias pengantin? Tentu saja karena profesi ini bukan dianggap profesi khusus yang memerlukan kode etik maka tidak terdapat ketentuan khusus yang mengharuskan setiap pelaku profesi ini menerima setiap orderan.

Menjadi masalah adalah ketika penolakan itu bukan dikarenakan jadual si makeup artist ini penuh sehingga sulit melayani pengguna jasa. Atau batal dikarenakan ketidaksesuaian harga. Penolakan ini dilontarkan secara jelas dikarenakan jadual rias dilakukan dua kali, saat pemberkatan dan saat resepsi.

Pemberkatan diartikan si makeup artist sebagai ritual agama nasrani. Si calon pengguna meluruskan, iya saya kristen. Lalu muncul kalimat dari si makeup artist: Maaf, kami tidak melayani selain umat islam atau kurang lebihnya demikian.

Penolakan itu dilakukan karena perbedaan agama.

Hal itu tentu saja tidak lazim.

Bagaimana rasanya jika kita membawa cucian kotor ke jasa laundry, lalu saat di depan penjaganya kita ditanya apa agamanya. Islam. Wah maaf, kami hanya menerima pakaian dari umat Hindu.

Pantaskah kita marah dan memaksakan kehendak untuk mendapat perlakuan yang sama dengan umat hindu yang biasanya mereka layani?

Apa yang seharusnya dilakukan oleh pelanggan atas penerimaan tidak pantas itu?

Terlalu berlebihan jika si calon pengguna jasa melaporkan penolakan ini menjadi delik perbuatan tidak menyenangkan dengan melaporkannya ke polisi, misalnya merujuk kepada Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP

“Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.”

Menjadi berlebihan karena tidak ada kekerasan yang dilakukan oleh sanggar tersebut. Fakta yang terjadi adalah penolakan secara halus, namun menyakitkan.

Bagaimana jika posisi makeup artist dan calon pengguna dilihat dari kacamata keperdataan. Hubungan hukum antara dua individu/ subyek hukum yang ingin mencapai kata sepakat. Lewat kacamata ini, akan lebih soft ditilik.

Si pemberi jasa ternyata selain mensyaratkan pembayaran atas jasanya, mereka mensyaratkan si pengguna jasa beragama yang sama. Mungkin alasannya karena profesinya adalah bagian dari ibadah. Bahwa dengan membantu pernikahan beda agama dianggap bukan bagian ibadah. Ini soal yang begitu subyektif. Ini semua dalam tataran “mungkin”.

Seharusnya sejak awal si makeup artist ini sudah memberikan keterangan dimanapun: “khusus melayani rias pengantin islam”. Jika ditanya alasannya, lebih baik menjawab karena hanya ahli merias wajah berkerudung.

Atau ketika mengetahui bahwa yang akan dirias bukan beragama islam, dia bisa saja berpura-pura menanyakan kembali jadualnya, dan bilang:

“Oh, maaf, saya keliru lihat tanggal di agenda saya, ternyata tanggal segitu sudah full, maaf.”

Ini sama halnya dengan tukang pijat yang pernah dibayar murah oleh pengguna jasa, maka ketika orderan datang kembali, ia akan menolaknya secara halus dengan mengatakan bahwa jadualnya penuh.

Patut juga disampaikan bahwa pemberi jasa makeup artist ini belum bersikap profesional dan memiliki bibit diskriminatif.

Si pemberi jasa juga punya hak menolak, hanya saja patut disayangkan penolakan yang dilakukan adalah secara jelas berdasarkan perbedaan agama. Ini adalah sikap SARA. Ada baiknya, seorang muslim sejati senantiasa menjaga perasaan orang lain.

Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى رَجُلَانِ دُونَ الْآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ أَجْلَ أَنْ يُحْزِنَهُ

“Jika kalian bertiga maka janganlah dua orang berbicara/berbisik bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih” (HR. Bukhari no. 6290 dan Muslim no. 2184).Islam menuntunkan kepada umatnya agar menjaga perasaan orang lain.

Ini pendapat saya. Bagaimana dengan pendapat kamu?

Oscar Yang Terlalu Ribut

Tadinya, saya mau menulis sedikit tentang beberapa hal unik yang terjadi waktu saya ke Berlin selama dua minggu terakhir. Tetapi saat membuka Twitter, tiba-tiba teringat bahwa hari Senin pagi waktu Indonesia ada perayaan Academy Awards ke-91. Lantas saya memutuskan untuk menulis tentang prediksi peraih Oscar tahun ini. Cerita tentang Berlin bisa diendapkan dulu. Mungkin memang harus disimpan beberapa saat dulu, supaya bisa menulisnya dengan lebih jernih dan obyektif. Well, we’ll see.

Kok bisa, “tiba-tiba teringat” tentang Oscar? Padahal biasanya sangat tuned in terhadap film-film dan orang-orang pekerja film yang dinominasikan?

Jujur saja, saya mulai merasa lelah mengikuti pemberitaan seputar Oscar dengan aneka politik yang cenderung negatif.

Kekhawatiran saya mulai timbul saat film Roma mencuat. Memang, saya beruntung bisa menyaksikan di layar lebar, dan memang film itu indah sekali ditonton dengan intensitas tinggi di layar lebar. Namun itu tidak mengurangi kekaguman saya, bahwa film dengan intensitas tinggi seperti ini, bisa kita tonton berulang kali, bisa kita pause di momen-momen tertentu agar kita bisa mencerna luapan emosi yang kita rasakan, atau bisa kita hentikan untuk mengamati dengan lebih detil lagi adegan-adegan yang dibuat dan dikerjakan Alfonso Cuaron dengan kecermatan luar biasa.

Saya tidak anti Netflix, atau anti OTT platform atau video streaming app apapun, yang memungkinkan pembuat film membuat karya yang tidak mungkin didanai produser konvensional manapun. Sebagai penonton, saya gembira menyambut tontonan berkualitas di ruang tamu atau tempat tidur saya, yang tidak bisa didapat di bioskop. Toh saya masih pergi ke bioskop untuk menonton dengan tujuan bersosialisasi, baik itu sekedar menonton sendiri, atau bersama pasangan (yang belum ada juga sampai tulisan ini dibuat).

Memang kehadiran video streaming platform yang demikian agresif sempat menyulitkan pekerjaan saya. Toh film tidak hanya satu. Masih ada film-film lain yang perlu ajang untuk ditayangkan.

Berbicara mengenai ajang atau wadah, Oscar memang selalu menjadi sasaran empuk untuk melancarkan aksi kampanye yang penuh muatan politis. Apa tidak bisa mengkritik Green Book dari sisi lain? Apa iya Black Panther sebagus itu? Apa tidak capek menggonggongi Bohemian Rhapsody melulu?

Yang jelas, kalau ada yang masih menganggap Academy Awards adalah penghargaan untuk film-film dan para pembuat film “terbaik”, oh boy. Seperti yang selalu saya katakan berulang-ulang, paling tidak setahun sekali, Oscar recipients are those who campaign the hardest, the loudest, and the most consistent ones. Karya boleh “biasa-biasa saja”, tapi selama kampanye berjalan efektif (dan mahal), para Oscar voters pun pasti akan menengok.

Berhubung saya bukan anggota Academy, jadi pilihan saya kali ini pun bukan alat prediksi yang mumpuni. Saya memilih berdasarkan apa yang saya mau lihat maju ke podium untuk menerima Oscar. Bahkan saya rasa pilihan kali ini akan banyak melesetnya.

Tapi kalau sampai bagian ini Anda masih membaca dan penasaran apa yang menurut saya layak mendapat Oscar tahun ini, here we go:

rbg-movie
RBG (source: Salon.com)

Best Picture: Roma

Best Director: Alfonso Cuaron – Roma

Best Lead Actor: Rami Malek – Bohemian Rhapsody

Best Lead Actress: Olivia Colman – The Favourite

Best Supporting Actor: Sam Elliott – A Star is Born

Best Supporting Actress: Regina King – If Beale Street Could Talk

Best Original Screenplay: The Favourite (Deborah Davis, Tony McNamara)

Best Adapted Screenplay: BlacKkKlansman (Charlie Wachtel, David Rabinowitz, Kevin Willmott, Spike Lee)

Best Animated Feature Film: Spider-Man: Into the Spider-Verse

Best Foreign Language Film: Roma

Best Documentary Feature: RBG

Best Documentary Short Subject: End Game

Best Live Action Short Film: Marguerite

Best Animated Short Film: Bao

Best Original Score: Black Panther (Ludwig Göransson)

Best Original Song: “Shallow” – A Star is Born

Best Sound Editing: First Man

Best Sound Mixing: Bohemian Rhapsody

Best Production Design: The Favourite

Best Cinematography: Roma

Best Makeup and Hairstyling: Border

Best Costume Design: The Favourite

Best Editing: Vice

Best Visual Effects: Ready Player One

Selamat menonton!

Pelecehan Seksual & Ketidakberdayaan: Sebuah Upaya

SEKALI lagi, topik ini rawan bias gender. Salah-salah, jatuhnya bisa jadi mansplaining–ketika laki-laki yang sok tahu dan arogan merasa paham tentang sesuatu, lalu memberikan komentar tanpa diminta–atau malah oversimplifying atau disepelekan, dianggap tak perlu mendapatkan perhatian sampai sebegitunya.

Padahal saat berbicara tentang pelecehan seksual yang dialami oleh wanita, urusannya tak segampang memberi tanggapan:

Mestinya kamu lawan dong!

Kenapa kamu biarkan dia begitu?

Tidak. Tidak sesederhana itu.

… dan itu pun bukan kesalahan mereka sebagai wanita.

Demi menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, tulisan di Linimasa hari ini dibuat oleh seorang wanita dan dititipkan kepada saya. Dia pernah merasakan dorongan kuat untuk memberontak dan melawan waktu dilecehkan beberapa tahun lalu, tetapi dia hanya bisa terdiam. Menyisakan trauma dan beban.

Tak menutup kemungkinan, secara tidak sadar saya pun pernah atau kerap melakukan pelecehan dengan beragam bentuknya. Berupa tindakan atau ucapan yang mustahil saya lakukan kepada sesama laki-laki.

Bukan perkara meminta para wanita untuk lebih berhati-hati, atau memberikan mereka bekal menghadapi semua situasi, melainkan upaya mendidik para remaja berpenis agar tak tumbuh menjadi pria-pria brengsek yang merendahkan wanita.


Suatu pagi semasa masih sekolah, saya lamban bersiap-siap. Biasanya Ayah akan mengantar saya ke sekolah sebelum Beliau berangkat ke kantor, biar sekalian saja. Tetapi pagi itu Ayah ada rapat. Beda 5 menit saja sudah bisa menjadi penentu terlambat atau tepat waktu untuk sampai ke lokasi rapat. Ayah berangkat duluan dan saya terpaksa berangkat sekolah dengan Angkot dari depan kompleks perumahan.

Berjalan tergopoh-gopoh, saya sudah kesal memikirkan konsekuensi yang harus saya hadapi di sekolah bila akhirnya terlambat. Pagi itu frekuensi Angkot juga tidak bersahabat. Sudah beberapa lama menunggu, masih tidak ada yang lewat juga.

Lalu sebuah Innova hijau muda melipir dan berhenti di depan saya. Kaca diturunkan, seorang pria bertampang usia 40-an di kursi pengemudi memanggil saya dengan gestur tangannya. Di pikiran saya saat itu, ini bisa saja salah satu teman atau kenalan orang tua saya yang kenal wajah saya, tetapi saya tidak terlalu kenal mereka–mungkin saya bisa menebeng sampai sekolah.

Setelah mendekat, ternyata si bapak ini sudah separuh melepas celananya, dan mengayun-ayunkan penisnya dengan gerakan memutar. Jelas, bukan sesuatu yang saya pikir akan saya lihat pada Selasa pagi itu, di pinggir jalan besar kawasan utara Jakarta.

Saya mematung. Otak saya menjerit “PERGI, CEPAT MENJAUH DARI MOBIL!” Tetapi butuh waktu beberapa detik sebelum kaki saya akhirnya bekerja sama hingga akhirnya saya menjauh. Tanpa saya duga, mulut saya pun turut bekerja sama. “Oh, cuma segitu doang? Heh.

Ada Angkot mendekat di belakang mobil itu dan saya buru-buru memanggilnya. Innova itu pun meluncur pergi. Saya berangkat ke sekolah. Sisa hari itu kabur di ingatan saya. Di kepala saya berkecamuk pertanyaan: “What just happened there?” Emosi marah, kesal, sedih dan bingung campur aduk serta perasaan tidak berdaya yang mendominasi saya hingga berhari-hari, bahkan berminggu-minggu setelah itu.

***

Belasan tahun kemudian, saya tengah bekerja dengan seorang kolega senior di kantor, Pak Bos dan seorang klien. Berdiri agak jauh dari klien, kolega saya mengelus pantat saya tanpa permisi dan tanpa aba-aba. Refleks, saya menepis tangan itu dan lagi-lagi saya terpaku. Tidak langsung berpindah dari sebelah si pelaku. 

Kolega senior ini  juga sangat dekat dengan pemilik perusahaan. Setelah klien berlalu dan saya tinggal berdua dengan Pak Bos, saya melaporkan kejadian tersebut kepada Pak Bos.

Responnya saat itu (kurang lebih jika diterjemahkan dari bahasa Inggris), “Ya, saya tidak membenarkan perbuatannya. Tetapi ingat, bahwa dia bukanlah predator seksual, dia hanya orang tua yang… ya… begitulah.” Kala itu, saya hanya mengiyakan dan meminta Pak Bos untuk bertindak jika kali lain si kolega ini merasa akrab dan menyentuh saya tanpa persetujuan di lingkup pekerjaan.

Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk kemudian tersadar. “Sebentar. Kalau misalnya istri atau anak perempuan si Pak Bos yang mengalaminya, apakah Beliau akan menjawab seperti itu juga?” Setelah tersadar, saya menyesal sejadi-jadinya tidak berkata demikian kepada Pak Bos saat itu juga.

Apa gunanya menanggapi kejadian yang sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lewat?

Dan, pada kenyataannya, saya tidak berada di posisi yang menguntungkan dalam pekerjaan waktu itu. Apabila saya ngotot untuk melaporkan dan mempermasalahkan kejadian itu, bisa saja si pelaku hanya berkata bahwa kejadian itu tidak disengaja, atau saya membesar-besarkan masalah yang tidak ada buktinya, dan apa yang dia katakan akan lebih dipercayai daripada apa yang saya katakan. Lebih parahnya lagi, si pelaku adalah kesayangan pemilik perusahaan. Kemungkinan besar, kalau masalah ini naik hingga ke manajemen di atas Pak Bos, sayalah yang dipecat atau diminta mengundurkan diri, bukan dia. Karena posisi saya dibanding dia hanyalah butiran jasjus di perusahaan itu.

Walau pada akhirnya Pak Bos menegur si kolega senior secara halus separuh bercanda untuk berhenti menyentuh staf lain tanpa permisi dan tidak ada lagi kejadian serupa, setiap mengingat kejadian itu saya marah. Sedih. Tidak berdaya untuk melawan, tetapi bagaimana saya bisa melawan lebih lanjut tanpa membahayakan posisi saya di pekerjaan?

***

Beberapa hari yang lalu, saya sedang bekerja di sebuah perusahaan dan saya ditugaskan untuk mewakili kantor berhadapan dengan klien. Dari komputer kantor, saya menerima pesan dari salah satu klien bahwa ia meminta saya menunjukkan payudara serta memperbolehkan dia untuk memegangnya.

Saya terdiam sewaktu membaca pesan itu. Dan untuk beberapa saat, saya seperti tidak menyadari secara penuh apa yang telah terjadi. Saya mengalihkan perhatian dengan mengerjakan hal-hal lain. Kira-kira 15 menit kemudian, it hits me. Saya sudah dilecehkan. Saya ingin memaki. Mengasari. Marah. Tetapi posisi saya sebagai representatif kantor membuat saya ragu untuk melawan balik. Saya tidak tahu mau menjawab apa. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghubungi atasan saya dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Tangis saya pecah saat menceritakan insiden tersebut dengan klien. Saya bahkan sulit untuk menjelaskan dengan baik kejadian yang sebenarnya karena saya masih terguncang. Hati, pikiran saya tidak tenang. Saya merasa tidak aman. Kalut. Marah. Bingung.

*** 

Saya mengalami berbagai jenis pelecehan seksual dengan situasi yang berbeda-beda, belum termasuk insiden-insiden saat saya dilecehkan secara verbal atau catcalling. Tetapi insiden-insiden di atas ini adalah beberapa contoh saat saya, seorang perempuan yang dikenal asertif dan berani melawan, akhirnya tidak melakukan apa-apa saat dilecehkan. Sungguh, saya ingin bisa memukul, memaki, berkata-kata kasar dan membalas secara agresif jika waktu bisa diulang kembali. Tetapi kenyataannya, saya terpaku. Dan selewat kejadian-kejadian tersebut, saya sangat kecewa dengan betapa tidak berdayanya saya.

Baru-baru ini, saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Salah satu tujuan yang ingin saya capai adalah saya ingin bisa lebih baik menghadapi trauma semacam ini. Entah itu berarti saya tidak lagi terdiam saat “diserang” seperti ini atau lebih cepat pulih dari trauma hingga tidak berlarut-larut mengalami kecemasan di hari-hari berikutnya.

Kami akhirnya berdiskusi mengenai kecenderungan pelecehan seksual tersebut. Walau dianggap sebagai tindak kriminal, sejatinya sangat sulit untuk mengharapkan sebuah tanggapan yang tegas terhadap pelaku pelecehan seksual. Semisal, saat sedang berjejal-jejal di kendaraan umum, bagian intim kita dipegang. Bisa saja, saat kita teriak dan menuduh, si pelaku hanya bilang “Oh, kan kesenggol, tidak sengaja,” atau malah sekalian menyangkal. Tidak ada bekas tangan dengan sidik jari yang menjadi bukti konkret saat kita melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib. Masa kita harus membawa-bawa kamera atau perekam suara agar saat terjadi kita bisa melaporkan ke pihak berwajib? Seperti yang terjadi di sini, pelecehan seksual dapat dilakukan demikian halus tersembunyi sehingga menyulitkan korban untuk melawan balik.

Atau, seperti salah satu insiden yang saya alami. Bagaimana saya bisa membela diri tanpa takut kehilangan pekerjaan, karena saya berurusan dengan kolega yang hierarkinya lebih tinggi dari saya? 

Diskusi kami berlanjut, saya membicarakan bagaimana saat dihadapkan dengan “serangan” seperti itu, saya merasa tidak berdaya. Tidak mampu melawan. Dan saya menyalahkan diri saya sendiri, mengapa saya begitu tidak mampu? Begitu lemah? Begitu tidak berdaya? Saya kecewa karena tidak berhasil merespon lebih baik, lebih agresif, lebih vokal untuk mempertahankan diri sendiri.

Psikolog saya berkata bahwa kenyataannya, respons manusia terhadap serangan terbagi menjadi 3 jenis, fight-flight-freeze (melawan-kabur-membeku/terpaku).

Fight, jika insting bawah sadar merasa diri mampu mengalahkan penyerang.

Flight, jika insting bawah sadar merasa tidak mampu melawan dan dapat melarikan diri dari situasi secara konkret.

Freeze, merupakan respons diri saat tidak bisa melawan tetapi juga tidak bisa melarikan diri dengan aman. Lumpuh. Dan freeze adalah respons paling umum bagi korban pelecehan.

***

Lalu bagaimana solusinya? 

Mengenai bagaimana agar tidak mengalami pelecehan seksual, jujur saja saya masih agak mampet. Tidak ada cara untuk menjamin bahwa setelah bangun pagi, kita tidak akan mengalami pelecehan hari itu. Tidak ada jaminan juga bahwa kita pasti akan mengalaminya minimal sehari sekali. Apakah upaya pencegahan itu ada? Tidak. Seringnya, tidak ada tanda-tanda juga bahwa kita akan dilecehkan.

Bagaimana dengan upaya mempertahankan diri? Mungkin bisa membantu. Tetapi menurut psikolog saya, hanya belajar bela diri saja belum tentu cukup. Menurut cerita yang Beliau sampaikan, tetap ada kasus seorang praktisi bela diri yang freeze saat diserang. Solusi yang sepertinya mempunyai potensi yang paling sukses adalah memiliki mindfulness. Katanya, dengan menguasai kesadaran seperti itu, kita akan bisa menanggapi serangan dengan lebih rasional. Entahlah. Saya juga masih akan mencoba. Digabung dengan seni bela diri juga sekalian, mungkin.

Konklusi sementara saya adalah kita tidak bisa bergantung bahwa orang lain akan menolong atau membantu kita saat “serangan” semacam ini terjadi. Sebisa mungkin, jangan lengah. Tetapi di sisi lain, kita juga tidak bisa terlalu siaga yang malah membuat kita selalu tidak aman, terlalu responsif, yang bisa menyebabkan kelelahan fisik dan batin.

Mengenai bagaimana untuk bisa pulih dengan trauma, psikolog menyarankan beberapa hal yang sesuai dengan kondisi saya.

Bercerita mengenai kejadian ini. Saya menyadari bahwa saya perlu bercerita kepada orang-orang yang mendengar, peduli, dan bersimpati. Bukan kepada orang yang menyalahkan secara langsung (“Ya elu sih pake baju kurang bahan”), maupun secara tersembunyi (“Ih kok lu diem aja sih? Kalo gue mah udah gue tendang kali ‘barangnya’ biar impoten sekalian.”)

Berbicara mengenai kejadian ini membantu saya untuk memberi konteks, dan juga membantu emosi saya untuk mengejar rasional dan logika saya, sehingga saya lebih tenang dan bisa merasa lebih seimbang.

Merawat diri. Cukup tidur, cukup hidrasi, dan makan enak adalah bentuk tindakan self-kindness yang bisa meningkatkan mood untuk merasa lebih baik. Juga, katakan hal-hal yang positif. Sebagai contoh, sang psikolog menyarankan saya untuk memaafkan diri saya sendiri karena tidak mampu merespons lebih. Bahwa, tidak apa-apa, it’s okay, saya berada dalam situasi genting yang tidak memungkinkan saya untuk merespons secara maksimal.

Bersosialisasi. Tidak melulu membicarakan apa yang telah terjadi, tetapi berada dengan orang lain membantu untuk saya kembali ke kehidupan normal. Bahwa sesungguhnya masih banyak hal lain di hidup ini yang bisa saya pikirkan dan lakukan. Bahwa walaupun insiden-insiden tersebut terjadi, saya mempunyai pilihan untuk tetap beraktivitas.

***

Akhir kata, saya juga masih tidak punya solusi permanen dalam menghadapi pelecehan seksual secara spesifik. Saya sendiri masih dalam proses. Akan tetapi, jika kamu di luar sana mengalami hal yang sama, kamu tidak sendiri. Dan jika kamu mendengar orang lain mengalami pelecehan seksual, tolong jangan disepelekan. Paling tidak, jadilah seorang pendengar tanpa menilai atau memojokkan. 

Dan tolong, jangan lecehkan orang lain. Kalau melihat ada orang yang sepertinya melecehkan, lakukan sesuatu.

Tolong.

[]