Buku(-Buku) Tahun Ini

Kalau saya hanya boleh mengutip satu buku saja dari beberapa buku yang saya baca tahun ini, maka mau tidak mau saya akan hanya bisa mengutip bagian terakhir dari buku berjudul “The Humans” karya Matt Haig. Kenapa? Karena di bagian ketiga buku ini, Matt Haig membuat daftar bertajuk “Advice for a Human” sebanyak 97 poin. Saya menyebutnya sebagai manifesto kehidupan.

Kalau beberapa poin terkesan seperti ‘menggurui’, mungkin itu memang disengaja oleh penulisnya. Lagi pula, poin-poin ini masih sesuai dengan sudut pandang karakter utama yang menjadi narator novel ini, yaitu “seorang” alien yang datang ke bumi, menyamar menjadi profesor dengan jenis kelamin laki-laki. Kedatangan alien ke muka bumi untuk, seperti tipikal cerita fiksi ilmiah kebanyakan, menghancurkan kehidupan umat manusia. Namun dalam penyamarannya, alien ini malah takjub dengan flawed characteristics of human beings, dan jatuh cinta dengan cara manusia menjalani kehidupannya.

71VpFLTP-bL

Kalau terdengar klise, memang novel ini klise. Tidak ada yang baru. Tapi bukan berarti hal itu menjadikan novel ini tidak layak baca. Justru sebaliknya. Bab demi bab dihadirkan dengan mulus dalam jalan penceritaan, membuat kita susah berpaling. Seperti layaknya buku cerita yang baik, dengan mudah kita jatuh cinta pada karakter utama, dan rela mengikuti perjalanan beratus-ratus halaman, sampai di bagian akhir.

Kalau tidak percaya, baca saja beberapa poin dari bab “Advice for a Human” di buku “The Humans” ini:

[one] Shame is a shackle. Free yourself.

[two] Don’t worry about your abilities. You have the ability of love. That is enough.

[four] Technology won’t save humankind. Humans will.

[five] Laugh. It suits you.

[nine] Sometimes, to be yourself you will have to forget yourself and become something else.

[eleven] Sex can damage love but love can’t damage sex.

[fifteen] The road to snobbery is the road to misery. And vice versa.

[twenty-two] Don’t worry about being angry. Worry when being angry becomes impossible. Because then you have been consumed.

[twenty-four] New technology, on Earth, just means something you will laugh at in five years. Value the stuff you won’t laugh at in five years. Like love. Or a good poem. Or a song. Or the sky.

[thirty] Don’t aim for perfection. Evolution, and life, only happen through mistakes.

[thirty-seven] Don’t always try to be cool.The whole universe is cool. It’s the warm bits that matter.

[forty-one] Your brain is open. Never let it be closed.

[forty-four] You have the power to stop time. You do it by kissing. Or listening to music. Music, by the way, is how you see things you can’t otherwise see.

[forty-six] A paradox: The things you don’t need to live – books, art, cinema, wine and so on – are the things you need to live.

[fifty-one] Alcohol in the evening is very enjoyable. Hangovers in the morning are very unpleasant. At some point you have to choose: evenings or mornings.

[fifty-three] Don’t ever be afraid of telling someone you love them. There are things wrong with your world, but an excess of love is not one.

[fifty-eight] It is not the length of life that matters. It’s the depth.

[sixty-one] One day, if you get into a position of power, tell people this: Just because you can, it doesn’t mean you should. There is a power and a beauty in unproved conjectures, unkissed lips, and unpicked flowers.

[sixty-five] Don’t think you know. Know you think.

[seventy-three] No one will understand you. It is not, ultimately, that important. What is important is that you understand you.

[seventy-five] Politeness is often fear. Kindness is always courage. But caring is what makes you human. Care more, become more human.

[eighty-two] If you think something is ugly, look harder. Ugliness is just a failure of seeing.

[ninety-five] Be kind to your mother. And try to make her happy.

[ninety-seven] I love you. Remember that.

Wow. There you go.

Bahkan saya sempat gemetaran sendiri saat menulis ulang poin-poin di atas. Padahal buku ini selesai saya baca di bulan Juni, namun efeknya masih terasa sampai sekarang.

Demikian juga dengan buku-buku lain yang membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya, yaitu “Less” karya Andrew Sean Greer dan “Spoiler Alert: The Hero Dies” karya Michael Ausiello. Bahkan judul kedua membuat saya diam-diam menitikkan air mata, walaupun sambil tersenyum.
Kok bisa?

Baca saja sendiri, ya. Mumpung cukup banyak waktu luang di akhir tahun.

Selamat membaca!

1_C76PXdoMXtysxqiwkS5iow

PS: Apa buku kesukaan Anda tahun ini?

Advertisements
Spark firework

Ribet Tak Usah Dicari

TAK kenal maka tak sayang, setelah kenal kok malah jadi bajingan?

Banyak dari kita yang pernah, atau tengah merasakan situasi ini. Sebab manusia dengan segala dimensi perasaannya, pasti cenderung tidak netral saat menghadapi sesuatu dalam kehidupannya.

Ada sesuatu yang diharapkan dari seseorang, atau suatu keadaan. “Mudah-mudahan nanti begini“; “semoga nanti begitu“; dan sebagainya. Di sisi lain, ada keraguan dan kekhawatiran baik kepada seseorang yang sama maupun berbeda. “Kenapa begitu, sih? Jangan-jangan…“; “khawatirnya, dia nanti begini…

Tanpa banyak disadari, dua aspek yang saling sebelah-menyebelah ini merupakan sumber kekecewaan. Dari kekecewaan berkembang menjadi kesedihan, ketidaknyamanan, ketidakterimaan atau penolakan, ratapan, penyesalan, atau penderitaan secara umum.

Sekarang, ingin melakukan pendekatan model apa? Yang lebih berorientasi pada diri sendiri, atau justru terfokus pada yang lain?

Pada Diri Sendiri

Kita, diri sendiri ini, adalah subjek sekaligus objek harapan, kekhawatiran, dan kekecewaan. Kita yang menjalani dan terlibat dalam segala prosesnya, kita jugalah yang mengalami hasilnya. Hal-hal yang berada di luar sana merupakan pengkondisi, komponen-komponen yang memberikan stimulus, dan memengaruhi ke mana arah penerimaan kita. Hingga akhirnya, kita sendirilah yang “memutuskan” (secara sadar atau tidak) ingin menerima dan menyikapinya seperti apa.

Pada saat kita memilih untuk berorientasi pada diri sendiri demi menghindari segala hal-hal di atas, maka secara garis besar kita tidak membiarkan diri ini digoyang ke sana kemari oleh perasaan sendiri.

Mustahil memang, untuk sepenuhnya kebal atau tidak takluk terhadap perasaan. Namanya saja sudah “rasa”, sedikit banyak pasti meninggalkan kesan bagi kita selaku penderita. Namun, jangan lupa, “rasa” dan penerimaan kita terhadap “rasa” juga dipengaruhi oleh lingkungan, serta pembiasaan.

Contohnya, kita cenderung terbiasa meratap saat kehilangan. Tak hanya kehilangan sesuatu yang kita usahakan atau hasilkan sendiri, melainkan juga kehilangan sesuatu yang sebenarnya kita peroleh sebagai pemberian. Bukan benar-benar milik kita, tidak sepenuhnya dimiliki oleh kita.

Pada yang Lain

Dari judulnya saja, jelas perspektif ini berorientasi pada segala sesuatu yang berada di luar diri kita. Alih-alih menata respons batin dan pikiran, kita berusaha agar semua hal bisa berjalan dengan baik sesuai keinginan–meskipun tidak ada jaminan bahwa keinginan kita pasti berujung baik. Harapannya, apabila berjalan sesuai gambaran atau kehendak, setidaknya bisa merasa tenteram, tanpa perlu khawatir lagi. Padahal, hidup terus bergulir. Satu urusan kelar, pasti akan muncul urusan berikutnya.

Lantaran berorientasi pada hal-hal lain di luar diri sendiri, pendekatan ini tentu lebih melelahkan fisik dan batin. Setiap dari kita yang mengusahakannya, harus mengalokasikan tenaga, perhatian, sumber daya, dan ketabahan dalam menjalaninya. Lagi-lagi, kita mengerahkan segenap hal, mengupayakan agar semua yang berhubungan dengan kita dapat sesuai harapan. Tatkala gagal dan berjalan di luar rencana, kita kembali harus mengalokasikan tambahan tenaga, perhatian, sumber daya, dan keteguhan baru dalam menghadapinya. Intinya, lebih melelahkan. Walaupun kebanyakan orang malah lebih memilih yang ini, dibanding pendekatan satunya.

Ya sudah. Apa yang terjadi pada mereka dan objek-objek lain di luar kita, terjadilah. Tak perlu ngoyo. Ibarat memencet klakson sekeras dan selama mungkin saat gerbong kereta sedang melintas. Sampai jari pegal atau klakson meledak sekalipun, Anda tidak akan bisa bergerak. Justru dilihat aneh dan mengganggu orang lain, dan andaikan Anda tetap memaksa lewat, selamat bertaruh pakai nyawa. Silakan. Suka-suka Anda sajalah. Kurang lebih seperti itu.

Meminjam perspektif Schopenhauer–filsuf pesimisme–kita, manusia, mustahil bisa terpuaskan. Terhadap keinginan-keinginan yang selalu memenuhi ruang batin kita, akan muncul polemik. Ketika kita mencapainya, kita bisa merasa bosan dan excitement atau kesenangannya dapat menurun; tetapi ketika kita gagal mencapainya, kita dilanda kekecewaan. Manusia, menurut filsuf yang lebih sayang anjing pudelnya ketimbang manusia-manusia lain itu, akan selalu berayun antara penderitaan (akibat tidak mendapatkan yang diinginkan) dan kebosanan atau kejenuhan. Di sisi lain, kita pun cenderung selalu dibuat resah oleh diri sendiri. Resah karena akan selalu muncul keinginan-keinginan baru, bahkan saat keinginan-keinginan sebelumnya masih menggantung.

Dipenuhi tumpukan keinginan yang entah bagaimana atau kapan bisa tercapai, silakan dibayangkan seperti apa rasanya menjalani kehidupan yang begitu? Maka, kita memerlukan keterampilan menyikapi dan menjalani hidup. Banyak pilihannya, mau menggunakan sudut pandang agama, kepatutan sosial, etika dan moralitas, dan sebagainya. Dua pendekatan di atas, hanya sekelumit dari beragam pilihan yang tersedia.

Tak kenal maka tak sayang. Setelah kenal pun tidak mesti harus sayang.

Setelah kenal kok malah jadi bajingan? Bajingan terhadap siapa? Apakah dia menjadi bajingan bagi dirinya sendiri; bagi orang lain; atau bagi dirimu? Lalu, apakah dia menyadari dan memandang dirinya sendiri sebagai bajingan? Apakah orang lain juga merasa dan memandangnya sebagai bajingan? Apakah kamu merasa dan menganggapnya sebagai bajingan? Kalau iya, mengapa kamu memberikan kesempatan padanya untuk bisa menjadi bajingan? Kesempatan, bisa berupa penerimaanmu sendiri terhadapnya, atau keteledoranmu untuk jatuh dalam kebajinganannya.

[]

Skim and Scan, karena Cepat Harus Tepat

Pekerjaan saya sekarang menuntut saya untuk menonton banyak film dalam waktu singkat. Sekilas terdengar menyenangkan, ya? Memang menyenangkan … untuk sesaat.

Setelah sadar akan jumlah film yang terus bertambah dalam waktu yang tidak bisa bertambah, maka mau tidak mau ada beberapa film, untuk tidak menyebutnya “banyak” juga, yang tidak selesai ditonton. Apakah saya akan menontonnya lagi? Sebagian besar tidak. Dari yang tidak selesai saya tonton itu, sebagian besar bisa disimpulkan bahwa film-film tersebut tidak akan saya proses lebih lanjut di lini pekerjaan saya. Atau bisa juga film-film tersebut malah akan saya proses lebih lanjut lagi, karena dari beberapa menit yang saya lihat, saya bisa menyimpulkan bahwa film tersebut sesuai dengan apa yang saya perlukan di lini pekerjaan sekarang.

Apakah ini yang dinamakan quick analysis? Entahlah. Saya lebih suka menyebutnya sebagai skim-and-scan.

Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya secara singkat di tulisan ini, saat kita dihadapkan dengan tugas membaca buku yang banyak saat di sekolah atau kuliah untuk kepentingan pembuatan makalah, skripsi atau jenis tugas lain, kita tidak perlu membaca satu buku penuh di setiap daftar pustaka yang kita ambil sebagai referensi. Cukup mengaju pada bab atau halaman tertentu, mengutip apa yang kita perlu kutip, dan menelaah sesuai dengan kemampuan pemikiran kita.

Lain cerita kalau kita membaca untuk leisure activity. Sayang rasanya kalau kita tidak menyelesaikan buku yang kita baca. Demikian juga saat menonton film tanpa perlu berpikir, apakah film ini sesuai dengan pekerjaan saya atau tidak. Saat masuk ke bioskop dan menyelundupkan makanan ringan (jangan bilang siapa-siapa, ya!), atau saat tiduran di sofa sambil menonton layar televisi (dan memegang ponsel), maka saya akan switch off the analytical mind untuk berusaha menikmati apa yang sedang tersaji.

8-reason-why-reading-is-important

Tentu saja mengambil keputusan yang cepat dan tepat dengan cara skim-and-scan quickly ini perlu waktu. Perlu rutinitas yang terus menerus dilakukan. Rutin membaca dan mungkin memberikan highlight di bagian-bagian yang menarik untuk kita telusuri lagi. Rutin menonton film dan sedikit menganalisa film yang barusan kita tonton. Rutin mengobservasi sekitar kita, sehingga apa yang barusan kita baca dan tonton mungkin bisa kita kaitkan dengan keadaan kita, menambah pengalaman membaca dan menontonnya menjadi lebih memuaskan.

8iAEzXk8T

Nyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan skim-and-scan ini.
Saat ingin teh hijau manis dalam botol namun kita masih dalam program diet, buru-buru kita lihat kadar gula di label botol, dan mencari merek mana yang kadar gulanya paling rendah.
Saat kita mengantri makanan di warteg, kita mengantri sambil melihat sekilas apa saja yang masih ada di sana, dan membuat mental note mau pesan apa.
Saat kita duduk di kencan pertama berhadapan dengan orang yang baru kita kenal, setelah 5 menit pembicaraan kita tahu, apakah kita akan melanjutkan hubungan dengan orang tersebut atau tidak.

Intuisi tidak bisa hadir begitu saja. Intuisi bisa kita tumbuhkan dan kita latih, to make our life slightly better.

Silent

Mendingan diam, deh…

MARI bersepakat terlebih dahulu, bahwa kebaikan dan kebijaksanaan berada pada tataran yang berbeda.

Secara mendasar, kebaikan–perbuatan baik dan berbudi–diarahkan untuk “kebaikan”, kesejahteraan, ketenteraman, dan perasaan suka cita orang lain, yang kemudian baru turut berdampak bagi diri kita sendiri. Karena itu, sebutan “orang baik” disematkan kepada seseorang yang telah memberikan atau melakukan sesuatu bagi kepentingan penerimanya.

Sedangkan kebijaksanaan diposisikan lebih mendalam, yaitu pemahaman yang utuh dan benderang terhadap sesuatu sebelum diperbuat. Menghasilkan kearifan dan kecermatan bertindak, demi kebaikan yang terbaik, dan relatif tidak bercela.

Dengan batasan tersebut, so-called “berbuat baik” belum tentu terhitung bijaksana. Hal yang menyenangkan di awal, mungkin saja memiliki potensi efek balik yang negatif. Sebaliknya, kebijaksanaan pasti membawa dampak baik, bahkan berlaku secara menyeluruh dan berorientasi jangka panjang. Meskipun bisa terasa tidak menyenangkan pada mulanya.

Yang baik belum tentu bijak.
Yang bijak pasti baik.

Kebaikan dan kebijaksanaan menyoroti aspek-aspek berbeda, pun menggunakan sudut pandang yang tak sama. Salah satunya, kebaikan cenderung bersifat monokromatis, hanya terdiri dari dua sisi absolut. “Memberi itu baik, memberi itu benar; tak memberi itu tidak baik, tak memberi itu salah.

Sementara kebijaksanaan meliputi spektrum yang lebih luas. Setiap tindakan diambil berdasarkan latar belakang, alasan, serta sejumlah pertimbangan. Dampaknya bukan sebatas yang terjadi saat ini saja, tetapi juga dipersiapkan untuk mengantisipasi segala hal yang bisa terjadi nanti. “Pemberian itu tepat, pemberian itu tidak tepat; tak memberi itu tepat, tak memberi itu tidak tepat.

Berikut adalah beberapa contohnya dalam bentuk ucapan, yang kerap kita temui dan rasakan sendiri, atau justru kita yang menyampaikannya kepada orang lain.

“Sekadar mengingatkan…”

Merasa telah melakukan sebuah kebaikan kepada orang lain, padahal lebih sarat kesan narsistiknya. Menganggap diri sudah lebih baik, lebih unggul, lebih signifikan, dan lebih sadar (dibanding orang lain), dan terjebak ilusi tanggung jawab moral untuk menjadi pengingat dan penyelamat kehidupan.

Entah disadari si pengucapnya atau tidak, ungkapan ini bisa terdengar sebagai sebuah ancaman alih-alih menasihati atau memberitahu.

“Ya kalau bukan saya yang mengingatkan, siapa lagi?”

Masih banyak yang lebih berhak atau berwenang. Orang tua, saudara, keluarga sendiri, seseorang yang dipercaya, dokter, psikiater, psikolog, guru, pemuka agama, dan sebagainya.

Terlepas dari urusan identitas, kita masih sama-sama manusia biasa.

“Tujuannya, kan, baik…”

Baik menurut siapa? Sesuatu yang kamu anggap baik belum tentu benar-benar baik. Semua orang memiliki pandangan, latar belakang, pendekatan, dan penilaian masing-masing. Maka, seyogianya, jangan paksakan ukuran kebaikan menurutmu kepada orang lain.

Tidak menutup kemungkinan pula, ungkapan ini diutarakan menyusul pernyataan yang manipulatif. Sebuah apologia untuk sesuatu yang belum tentu benar. Pasalnya, kekeliruan tetaplah merupakan kekeliruan. Biarpun dimanfaatkan dan dieksploitasi sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu, tetap saja bukan sesuatu yang patut dilakukan.

“Tuh, benar, kan yang aku bilang…”

Iya, benar, kok. Terima kasih sudah mengingatkan dan memberitahu, karena benar-benar terjadi seperti yang sudah disampaikan. Namun, kalau ternyata tidak benar dan tidak sesuai dengan yang kamu sampaikan sebelumnya, bakal bagaimana?


Ungkapan di atas terkesan baik-baik saja, sih? Hanya saja, apakah bijak ketika kita lontarkan? Apalagi tanpa mempertimbangkan keadaan orang lain.

Bagaimana pula jika kita yang mendapatkannya? Bisakah kita terima?

Apabila polemik ini semata-mata karena masalah komunikasi dan penyampaian, maka, mulailah belajar memperbaiki lisan.

[]

Mengukur Dengan Kecewa

Disclaimer: tulisan ini akan sangat-sangat berkesan saya-sentris. Tujuan awal menulis ini adalah untuk membantu saya memberi konteks dan pemahaman untuk membantu saya mencerna dan menanggapi perasaan saya dengan sebagaimana mestinya. Kalau mau cari nasehat bijak atau tips menghadapi hidup, silakan lanjut browsing lagi.

“Kamu pernah ngga, kecewa sama aku?”

Ditanya seperti itu, pikiran saya langsung menjalar kemana-mana. Bukan hanya terfokus mengenai interaksi saya dengan si penanya, tetapi juga interaksi-interaksi saya dengan orang lain sejauh ini. Setelah lama berpikir, saya menyadari bahwa saya cukup sering dikecewakan oleh orang lain. Tentu saja yang mengecewakan adalah orang-orang terdekat.

Kedekatan dalam hubungan merupakan faktor yang sangat penting apakah saya akan merasa kecewa terhadap orang ini atau tidak. Misalnya, beda kecewanya kalau abang tukang bakso random ternyata sudah habis dan lagi jalan pulang waktu saya panggil, dengan tukang bakso langganan yang selalu saya beli untuk makan siang kehabisan karena ada yang ngeborong untuk arisan.

Beda juga kekecewaannya kalau saya sudah janjian dengan sahabat dekat untuk ketemuan tetapi dia ngaret dan akhirnya waktu ngobrol jadi lebih pendek, atau ketika saya diajak ngopi oleh seorang asing tetapi yang ngajak telat. Karena saya hobi ngobrol dan biasanya sahabat-sahabat saya adalah orang-orang yang ngobrolnya cocok sama saya, pasti kecewa karena waktu ngobrol berkurang. Ketika orang asing yang ngajak ngopi duluan terlambat, saya akan cenderung tidak peduli. Toh tidak dekat. Tidak ada ikatan emosi di situ. Makanya, tidak kecewa dan lebih sebodo lah.

Jangankan sama orang lain, saya juga sering  kok kecewa dengan diri sendiri. Dengan standar dan target yang saya tujukan untuk diri sendiri, seringkali saya tidak sanggup atau gagal mencapainya. Untungnya, standar dan target tersebut tidak saya koar-koarkan di sosial media bak resolusi awal taun (“SAYA MAU KURUS!” tetapi apa daya timbangan berkata lain, misalnya), jadi yang malu dan kecewa dengan kegagalan saya lebih banyak ya saya sendiri.

Dalam diskusi lainnya bersama salah satu sahabat, saya juga diperhadapkan dengan kenyataan bahwa ekspektasi adalah akar dari segala kekecewaan. Kalau kita menurunkan standar ekspektasi kita, tidak berharap terlalu tinggi, apapun hasil akhirnya kita tidak akan kecewa-kecewa amat.

Kalau kita tidak berharap perasaan berbalas oleh cemceman atau gebetan, ya tidak akan kecewa waktu ternyata yang ditaksir…. naksir sahabat kita sendiri, misalnya #SERINGTERJADI
dan bonus banget kalau ternyata doi naksir kita juga! Kan senangnya jadi berkali-kali lipat! (ini sih proyeksi saja. Gak pernah kejadian di saya.)

Managing expectation.

Ini juga merupakan sebuah teknik yang tidak saya kuasai. Mungkin karena itulah saya masih sering kecewa, dikecewakan (kalau mengecewakan, ya itu salahnya ekspektasi orang lain deh :p) Saya perlu mengubah mekanisme pikiran saya untuk memproses kekecewaan itu baru kemudian saya bisa belajar menakar ekspektasi saya. Cuma, ya itu, susah.

Saya sejujurnya bingung.

Kalau secara kausalitas, cara berpikir saya bisa diurut begini:

Memilki hubungan interaksi yang baik → berharap atau memiliki ekspektasi dalam hubungan tersebut agar menjadi lebih baik buat saya →ekspektasi dan harapan tidak dipenuhi → kecewa.

Alasan terkuat mengapa saya tidak menguasai teknik untuk mengatur kadar ekspektasi agar tidak kecewa adalah pikiran saya yang berkonsep all or nothing. Kalau peduli ya peduli, kalau tidak ya tidak sekalian. Tidak bisa di tengah-tengah. Kalau hubungan itu adalah sesuatu yang saya suka dan inginkan, saya akan berharap bisa menjaga atau bahkan menambah kualitas hubungan ini. Benar-benar tidak bisa tidak berharap, kecuali sekalian tidak peduli sama sekali.

Kecewa itu melelahkan, saya akui. Saya juga tersakiti tiap kali saya kecewa.

Tetapi seperti anak kecil yang belajar jalan, saya tidak kepengin berhenti untuk membangun hubungan dengan orang lain. When it works, human relationship is a very powerful thing. Saya sendiri juga sudah merasakan signifikansinya dalam hidup saya sendiri.

Paling, saya jadi lebih malas bertemu dan memulai hubungan yang baru dengan orang lain…. Malas untuk memulai lagi dari awal, mengenal dan berusaha mendekat. Melelahkan. Belum lagi kalau kemudian dikecewakan. Makin melelahkan.

Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, melalui tulisan ini saya sendiri sedang berusaha mencari perspektif lain yang bisa saya terapkan untuk memproses kekecewaan yang sering saya alami. Mencari hikmah. Kali aja bisa.

Bagaimana kalau kekecewaan itu saya jadikan tolok ukur? Karena saya tidak bisa melepas ekspektasi dan harapan, mungkin kekecewaan itu bisa dijadikan suatu penanda situasi dan realita saat itu. Seperti sebuah checkpoint, begitu. Jadi saya bisa mengukur, apakah ekspektasi dan harapan saya tidak masuk akal? Dan kenapa saya bisa berharap seperti itu? Adakah tujuan yang ingin saya capai? Kenapa bisa tidak tercapai?

Agar tidak berlarut-larut, saya  biasanya berusaha fokus pada apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan. Dengan mengetahui persis jarak antara realita yang dihadapi dengan harapan yang saya miliki, semoga saya bisa menemukan cara untuk tidak kecewa terlalu lama, atau lebih parahnya, semoga tidak putus harapan sekalian.

Kalau ekspektasi saya tidak realistis, saya harus mengajarkan diri sendiri bahwa ada keterbatasan dan mengubah sudut pandang saya. Tidak mungkin juga semuanya harus seperti yang saya inginkan, tetapi saya yakin juga dengan memiliki keinginan itu, paling tidak saya bisa mengarahkan daya dan usaha untuk mencapai keinginan tersebut.

Ada saran lain untuk menghadapi kekecewaan selain dengan cara-cara yang sudah saya sebut, barangkali?

Menikmati Hidup Selow

Tahun dua ribu delapan belas segera berakhir. Apa kabar resolusi yang dibuat di awal tahun? Sudah lupa atau menguap begitu saja? Dan kalau boleh nanya, apa pencapaianmu tahun ini yang bisa dibanggakan? Jangan bilang gak ada ya.

Andai apa yang kamu lakukan untuk mencapai impian masih gagal, ini adalah sebuah pengalaman berharga. Tak perlu bersedih dan membandingkan diri dengan orang lain.

Hidup bukan hanya tentang apa yang kita capai. Namun apa yang sudah kita berikan untuk sesama dari pencapain kita itu. Migunani tumraping liyan.

Ngiri sama achievement orang lain tak akan membuat hidup menjadi lebih baik. Selow aja. Semua punya jalan masing-masing. Sudahlah, jangan takut sama omongan netizen saudara, teman dan tetangga yang ngremehin hanya karna pencapaian kita biasa saja. Kita makan nggak minta mereka, biaya hidup gak nebeng mereka; abaikan saja. Percayalah, bagaimana pun kondisi kita saat ini, hidup kita tetaplah berharga.

Lulus S1 di usia 29 bukanlah aib. Ini adalah prestasi. Umur 30 belum punya pasangan, namun bisa gembira, tetaplah indah. Atau menikah di usia 37, belum terlambat kok. Punya rumah di usia 40, tetaplah hebat. Jangan biarkan orang lain membuat kita terburu-buru. Kita tak sedang berlomba cepet-cepetan punya mobil, cepet-cepatan punya anak atau cepet-cepetan jadi eselon tiga. Mereka punya waktu sendiri, kita juga.

Lagian achievement tiap orang kan beda. Ini personal banget. Nggak perlu memaksakan definisi achievement?

Bisa jadi buat si Iwan, achievement adalah kuliah S2. Bagi Agus, achievement adalah menikah di usia muda. Bagi Felika, achievement adalah kerja di perusahaan multinasinonal dengan gaji USD. Bagi Hanum, achievement adalah punya rumah mewah dan jalan-jalan ke Eropa. Bagi Kiwil, achievement adalah punya istri dua. Tetap hidup meski ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, ini juga achievement yang keren. Selama nggak saling ganggu, biarkan saja tiap orang dengan definisinya masing-masing.

Kita gak pernah tahu kehidupan orang lain yang sebenarnya.

Ada yang lulus sarjana usia 21 namun sampai umur 28 belum punya kerja. Ada yang telat lulus, tapi langsung kerja. Ada yang begitu lulus kuliah langsung bekerja, namun membenci pekerjaan mereka. Bahkan ada yang tak pernah mengenyam bangku kampus, namun telah menemukan passion dan tujuan hidupnya di umur 18.

Ada yang sudah menikah lebih dari 10 tahun namun belum dikarunia anak. Ada yang punya anak, tapi tak punya pasangan. Tak sedikit orang yang terikat sebuah hubungan, tapi ternyata mencintai orang lain. Sementara itu ada pula yang saling mencintai namun tak bisa bersama. #eaa

Lantas, masih pantaskah kita merisaukan hidup ini? Nikmati saja. Mungkin kita perlu mencoba menjalani slow life. Bukan untuk melambat, tapi untuk mengatur ritme, menyeimbang hidup agar tak berlebihan. Ada saatnya harus selow, ada kalanya harus gercep.

Selama kita terus berjuang menciptakan kehidupan yang bermakna dengan cara yang terhormat, sejatinya kita telah menempuh jalan kebahagiaan. Dan kesuksesan pasti tiba. Pencapaian hidup yang diraih dengan cara culas justru akan melahirkan kebahagiaan semu.

Ini hanya soal waktu. Waktu dari-Nya nggak pernah terlambat, nggak juga kecepetan. Bersabarlah. Tuhan pasti punya rencana.

****

“Sometimes what you want isn’t always what you get, but in the end what you get is so much better than what you wanted.”

Apakah menyedihkan hidup sendiri?

Nobody wants to live alone.

Mungkin ada yang setuju dengan pernyataan tersebut, tapi ada juga yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

But, i do. Tidak ada orang yang mau hidup sendiri, benar-benar sendiri.

Di media sosial orang-orang menganggap saya sebagai pribadi kuat yang bisa pergi kemanapun sendirian dan bahagia. Iya, bagi mereka saya ini pribadi mandiri yang bahagia. Tapi yang tak mereka tahu, saya tak bahagia. Saya sedang sakit.

Saya bukanlah pribadi mandiri. Jauh dalam lubuk hati saya, saya butuh pendengar, saya butuh pemeluk dan pemegang tangan yang mampu menenangkan perasaan saya.

Saya tahu, bukan hanya saya yang mengalami hal ini. Rasa panik datang tiba-tiba, tangan berkeringat dingin, bahkan bukan hanya tangan, sekujur badan keringatan hingga gemetaran tak henti, degup jantung berdegup kencang, rasa takut dan khawatir menemani rasa panik yang makin membuat diri sendiri takut bermimpi tentang masa depan. Dan semua berakhir dengan tangisan yang pastinya belum tentu menyembuhkan rasa sakit dan khawatir serta teman-temannya.

Saya tahu, saya tak sendiri. Ada jutaan orang di kota ini yang mengalaminya. Ada yang berani untuk mendatangi psikiater atau support discussion group untuk memulihkan rasa sakit yang mereka rasakan, ada pula yang hanya menyimpannya seorang diri dan menyangkalnya. Saya termasuk yang mana? Saya tak tahu.

Saya tahu saya sakit, saya pernah mengikuti support discussion group, berbicara dengan teman-teman terdekat bahkan tak jarang saya bercerita kepada Tuhan walau saya belum pernah berbicara dengan Psikiater, bahkan saya selalu berkata pada diri sendiri, “Ini hanya pikiran negatif, tenang aja.” Tapi tak juga menyembuhkan saya.

Saya tinggal dengan orang tua, saya punya banyak teman, tapi saya selalu merasa sendiri. Kadang saya merasa bersyukur karena saya tak perlu terjebak dengan komitmen menyebalkan yang kita sebut pernikahan, tapi seringnya saya merasa sepi, sangat.

Di tengah konser musik yang saya datangi, saya selalu merasa sendiri.

Di tengah perjalanan solo travelling saya, dari satu kota ke kota lain, saya selalu merasa sendiri.

Di kota yang sangat ramai ini, saya selalu merasa sendiri.

Lalu, pertanyaan itu muncul lagi ; Apakah menyedihkan hidup sendiri?

Tentu saya akan menjawab ; iya, itu sangat menyedihkan.

Ke Pasar, Di Pasar

Salah satu kenangan masa kecil yang masih terpatri di ingatan saya adalah pergi ke pasar tradisional. Bersama ibu, saya pergi ke pasar tradisional di pagi hari untuk menemaninya berbelanja. Biasanya aktivitas ini kami lakukan di hari Minggu pagi atau hari libur, karena dari Senin sampai Sabtu saya pergi ke sekolah.

Tidak banyak yang saya lakukan, kecuali membawakan barang belanjaannya. Itu pun tidak terlalu banyak, karena waktu itu saya masih kecil. Padahal untuk ukuran anak di bawah 10 tahun, waktu itu berat badan saya di atas rata-rata. Toh tetap saja, karena masih dianggap anak kecil, jadi barang bawaannya tidak terlalu banyak.

Paling saya hanya mengamati ibu saya melakukan proses tawar menawar saat membeli bahan-bahan makanan atau kebutuhan pokok lainnya. Menawar tidak melulu membuat harga lebih murah. Bisa juga menawar artinya membayar dengan harga yang sama, lalu menambahkan kuantitas atau jenis bahan lain sebagai bonus.

Misalnya, ibu membeli bahan-bahan membuat sup ayam seharga lima ribu rupiah, lalu oleh penjual diberi tambahan kacang kedelai seperempat kilo. Meskipun kacang kedelai tersebut tidak masuk ke dalam bahan sup ayam, toh bisa digunakan untuk jenis makanan lainnya.
Demikian pula saat ibu memutuskan untuk membeli tahu dengan uang yang sama, bisa jadi irisan yang diberikan penjual lebih tebal dari biasanya. Tentu saja ini terjadi setelah proses tawar menawar.

IMG_0176

Sebagai imbalan atas menemani beliau, biasanya sebelum kami mengakhiri semua proses berbelanja ini, ibu akan mengajak saya ke toko kue di dalam pasar. Itu pun setelah diwanti-wanti oleh beliau, “Jangan ke toko yang di sebelah situ. Yang di sini saja. Rasanya sama saja, tapi harganya lebih murah. Yang di sana menang merek.”
Atau bisa juga setelah itu dia menyuruh saya membeli beberapa bungkus nasi pecel untuk dimakan bersama-sama di rumah. Meskipun beberapa kali saya memilih makan di tempat, karena sudah terlalu lapar.

Selain ke pasar yang menjual bahan masakan dan makanan, ibu saya juga pernah berdagang batik. Yang selalu saya ingat adalah betapa giatnya ibu saya menembus berbagai lorong Pasar Klewer di Solo yang gelap dan membingungkan, untuk sekedar mencari batik dengan kualitas terbaik dan harga yang murah. Kalau sudah begitu, ibu tidak mau ditemani. Baginya malah semakin repot mengurusi anak kecil yang mudah lapar karena kepanasan di dalam pasar.

Solusinya? Saya “dititipkan” di pedagang di pasar tersebut. Waktu itu ada salah satu tempat penjual majalah bekas di sebuah sudut di pasar ini. Letaknya di depan toko emas. Majalah yang dijual sangat banyak. Setiap ibu akan mulai menjalani aktifitasnya mencari batik, ibu selalu berkata, “Kamu di sini saja ya. Nanti dijemput satu jam lagi. Paling lama 1,5 jam.” Saya mengangguk. Waktu itu belum ada ponsel atau pager, sehingga kami saling percaya saja terhadap satu sama lain.

Lalu saya mulai membaca majalah-majalah yang ada. Kalau bosan, saya mengobrol dengan penjualnya. Kadang ikut merapikan dagangannya. Kalau dia perlu ke kamar kecil, saya ikut menjaga tempat jualan majalah itu. Setelah satu atau 1,5 jam, ibu akan menghampiri saya, lalu membayar majalah-majalah yang mau saya beli. Biasanya bapak penjual akan memberi bonus satu majalah tambahan.

IMG_8239

Pasar Klewer sudah berubah saat saya berkunjung ke sana tahun lalu. Tidak ada lagi tempat penjual majalah bekas. Demikian pula pasar tradisional di kota kelahiran saya. Bentuknya sudah lebih modern. Ibu masih pergi ke pasar, sementara saya hanya mengunjungi pasar tradisional kalau pergi ke luar kota yang, menurut saya, pasar tradisionalnya masih menarik untuk dikunjungi.

Yang membuat saya selalu kangen dan ingin pergi ke pasar adalah proses interaksi langsung antara sesama manusia. Secara langsung, ibu saya mengajari the art of persuasion saat melakukan tawar menawar. Mulai pura-pura pergi menjauh saat harga yang kita ajukan ditolak dulu, lalu mendekat lagi saat penjual setuju dengan harga yang kita mau, sampai mendapatkan lebih dari apa yang kita perlu. Pergi ke pasar juga melatih kita menganalisa manusia. Mana penjual yang jujur, mana penjual yang suka menipu. Mana pembeli yang mau membeli, mana pembeli yang sekedar melihat-lihat saja.

IMG_0174

Tentu saja sekarang kita sangat dimudahkan dengan bertransaksi tanpa harus bertemu muka. Lebih cepat, lebih praktis, lebih efisien. Hanya saja kita perlu ingat, bahwa selalu ada manusia lain di balik akun penjual di mana kita melakukan transaksi. Thus, we shall never forget that we need to communicate with them just like how we talk to fellow people.

Dan kalau di sekitar Anda ada pasar, pergilah ke sana. Mungkin kita sedang tidak perlu banyak barang saat pergi ke sana. Tapi, siapa bilang kalau pergi ke pasar hanya membeli barang saja?

Go, and experience the wonders.

Apakah Saya Melakukan Mansplaining?

SEJUJURNYA, saya masih awam dengan bahasan mengenai interaksi antargender dalam kehidupan sosial secara umum. Termasuk isu yang satu ini; Mansplaining. Yaitu cara pandang dan tindakan pria terhadap wanita beserta segenap aspeknya.

Mansplaining bersifat negatif. Sebab dari sedikit yang saya pahami, Mansplaining pada dasarnya adalah sikap sok tahu yang disampaikan pria untuk/dengan merendahkan wanita. Sebagai prasyarat terjadinya Mansplaining, penyampaian kesoktahuan tersebut sarat arogansi dan dominasi. Mengesankan bahwa pria selalu benar dan wanita tak lebih pintar, sehingga mereka harus didengarkan.

Saya memberanikan diri menulis soal ini lantaran judul di atas. Setidaknya agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Apakah saya telah melakukan Mansplaining?
  2. Jika iya, apakah saya sengaja melakukannya?
  3. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa yang menyebabkannya menjadi sebuah Mansplaining?
  4. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa dampak dari tindakan Mansplaining tersebut?
  5. Apa saja hal-hal lain yang perlu saya ketahui agar tidak melakukan Mansplaining lagi?
  6. Apa yang harus segera saya lakukan setelah tidak sengaja melancarkan Mansplaining?
  7. Apa saja yang harus diperhatikan saat menyampaikan sesuatu agar tidak mejadi Mansplaining?

Berorientasi pada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan di atas dikemukakan demi menghindari Mansplaining di kemudian hari. Pasalnya, tidak semua orang, baik pria atau wanita, terlepas dari tidak tahu atau tidak mau tahu, memiliki pemahaman dan aspirasi yang sama terhadap hal ini. Tak bisa dimungkiri, Mansplaining juga merupakan produk budaya. Terlebih di Indonesia, ketika pria dikondisikan untuk selalu memiliki relasi kuasa tertentu dibanding wanita sedari kecil.

Berawal dari twit saya tempo hari.

Mendapatkan tanggapan sebagai berikut.

Screen shot of Twitter

Alih-alih tersinggung, saya tertarik untuk menelisik lebih jauh. Dimulai dengan membaca twit saya kembali, lalu beralih ke tanggapan yang diberikan supaya ketemu selisihnya. Khawatir, saya telah berlaku: “Komentar/twit dahulu, berpikir belakangan.” 😅

Saya #penasaran, which part did I define? Lebih berupa ungkapan menghargai kualitas tertentu pada wanita, dibanding sebuah upaya menjelaskan suatu kondisi yang tidak saya miliki. Mudah-mudahan saya tidak keliru menyampaikannya.

Selanjutnya, kalau “it is up to me and my kind of peep …” apakah berarti pria—saya—sebaiknya tidak mengutarakan pendapat tentang wanita? Ataukah baru berbicara setelah diizinkan, maupun saat ditanya? Apabila demikian, ya, tidak apa-apa juga, sih. Menjadi pelajaran bagi saya untuk diam saja, dan ini tentu berada di luar batasan benar versus salah. Diwangsulké mawon.

Screen shot of Twitter

Di sisi lain, apakah ini bisa dimasukkan ke kategori masalah komunikasi? Pesan disampaikan secara tertulis, justru menimbulkan polemik dalam pembacaan/penerimaan maksudnya. Apabila demikian, kesalahannya tentu pada pengutaraan saya.

Mohon maaf.

Maka, dalam situasi berbeda dan lebih terbatas, saya barangkali baru ingin mengutarakannya kepada mama, saudara wanita, pacar, teman dekat wanita, rekan kerja wanita saat bertatap muka. Bukan lewat media sosial, kepada khalayak anonim.


Terpisah, saya menemukan penjelasan ringkas dan aplikatif terkait Mansplaining dari Kim Goodwin lewat diagram berikut.

Diagram on mansplaining.

Ilustrasi: bbc.com

Saya mungkin bisa meraba-raba jawaban menggunakan diagram di atas.

[]

Anakku Mendadak Sudah Besar

Suatu malam Minggu di jalur WhatsApp:

“Neng, how are you?”

Pesan itu lalu dibalas dengan gambar ini.

Jadi anak perempuan pertama kalinya pergi bersama teman-teman nonton pensi. Ibu disco nap di rumah tanpa rencana disko nanti malam.

Jadi ingat beberapa kali ketika di bayi sering digotong ke perhelatan musik indie di Bandung. Begitu juga ketika sedang hamil besar, bukannya anteng di rumah, malah ke beberapa acara musik (yang di Bandung memang sering terjadi sih, ketika zaman itu).

Sorean sedikit dia kembali mengirim pesan menawar jam pulang. Dia ingin menonton sampai selesai, yaitu jam 11 katanya. Tapi tentu saya tak bolehkan. Akhirnya negosiasi sampai jam yang disetujui bersama.

Ingat juga kalau dulu Papa saya mewajibkan semua anaknya di rumah sebelum matahari terbenam. Sampai kami kuliah pun. Walhasil saya sering pergi sembunyi sembunyi. Sebagai orangtua, cita cita saya ingin anak bisa jujur sampai kapan pun dan saya juga bisa menerima kejujurannya dengan legowo. Jadi mungkin lebih permisif dari Papa dulu enggak apa apa ya? Atau jangan jangan salah?

Bismilah saja, lah.

Men on motorcycle staring at women in hijab.

Jilbabphilia?

FEITICO. Sebuah kata yang kurang lebih bisa diartikan “pesona; pukau; pikat; atau daya tarik” dalam bahasa Portugis. Dari istilah ini sebutan fetish berasal, merujuk dan menggambarkan ketertarikan seksual-obsesif seseorang pada berbagai hal.

Seksual, lantaran bisa mengantarkan seseorang mencapai sensasi kenikmatan atau kepuasan seksualnya. Baik yang dilakukan dengan partner, atau hanya oleh diri sendiri.

Obsesif, lantaran membuat seseorang tersebut gandrung, memberikan dorongan yang tak terbendung secara psikis, sehingga cenderung selalu dikejar.

Tak mesti genitalia atau aktivitas seksual penetratif itu sendiri, objek fetish meliputi banyak hal yang bersifat unik dan personal. Termasuk bagian tubuh tertentu, benda-benda tertentu, tindakan atau aktivitas tertentu, maupun sensasi jasmani tertentu. Saking unik dan personalnya, terhitung ada lebih dari 549 fetish yang teridentifikasi—dinamai pakai istilah Latin—dan berpotensi terus bertambah.

Sebagai sesuatu yang atipikal, atau tidak sebagaimana biasanya, tanggapan terhadap ratusan fetish itu mengalami perubahan seiring waktu dan lingkungan sosial manusia. Ada yang dahulu dianggap aneh, kini dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Namun, sebagian besar fetish masih/tetap dianggap ganjil, menabrak norma-norma sosial setempat, membuat tidak nyaman, bahkan membahayakan. Barangkali karena itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut fetish dengan parafilia, yang langsung diterjemahkan: Ketertarikan seksual pada hal-hal yang tidak biasa atau tabu.

Padahal menurut Justin Lehmiller, Ph.D, seorang psikolog-ilmuwan Harvard, hampir semua hal berkemungkinan memiliki asosiasi hasrat seksual bagi seseorang.

“Pretty much anything you can think of, someone out there probably has sexual associations attached to it.”

… dan bisa saja, inilah yang terjadi dengan fenomena Akhwat Hunter.

Dari sejumlah pernyataan dalam utas twit di atas, izinkan saya mengistilahkannya “Jilbabphilia”. Sebab—ini baru asumsi, dan harap koreksi saya bila keliru—entah mereka sadari atau tidak, fenomena Akhwat Hunter menyinggung fetishism. Mengacu pada dua komponen yang selalu hadir:

  1. Para wanita berjilbab sebagai objek yang dinikmati.
  2. Adanya ekspresi seksual dari para penikmat, baik secara perorangan maupun berkelompok.

Menyimak isi cuplikan percakapan tadi, para Akhwat Hunter itu—kelihatannya—belum menikah. Sejauh ini hanya bisa bermasturbasi sambil melihat foto-foto wanita berjilbab, dan belum diketahui apakah setelah menikah nanti mereka lebih suka pasangannya tetap berpenutup kepala saat senggama, atau telanjang sepenuhnya.

Seseorang dengan fetish tertentu, sejatinya tidak bisa mencapai klimaks seksual tanpa kehadiran objek fetish terkait. Bukan sekadar fantasi, atau bumbu keintiman (kinky). Dalam kasus Akhwat Hunter, tak menutup kemungkinan mereka mesum doang. Sampai akhirnya biar mereka sendiri yang membuktikan.

Di sisi lain, dikenal pula istilah garment fetishism. Yaitu hasrat seksual yang dipicu oleh jenis atau bagian pakaian tertentu. Misalnya, seragam, rok mini, lingerie, dan sebagainya, baik dikenakan salah satu atau kedua pihak terlibat.

Kembali lagi, fetish berada dalam spektrum yang unik dan personal. Bersifat pribadi, kecuali ketahuan atau sengaja diumbar-umbar kepada orang lain. Tatkala objek fetish berupa foto-foto wanita berjilbab sengaja diekspose dan ditunjukkan ke publik oleh akun-akun anonim, bahkan lengkap dengan ekspresi seksualnya, itu sudah merupakan pelecehan. Tak ada consent di situ, persetujuan dan kesepakatan kedua belah pihak.

Parahnya lagi, perbuatan tersebut mereka kait-kaitkan dengan narasi agama. Mengingat kerudung jilbab, beragam model hijab, sampai cadar nikab identik sebagai busana keagamaan dengan seperangkat argumentasinya. Dengan demikian, tak peduli seberapa tertutupnya pakaian para wanita tersebut, mereka akan selalu diseksualisasi—dieksploitasi seksual—oleh pria-pria Jilbabphilia. Baca saja alasan-alasan mereka yang begitu didramatisasi.

Atas narasi agama tersebut, alih-alih mengendalikan diri, para Akhwat Hunter itu lebih suka melempar kesalahan pada orang lain, mempertahankan posisi sebagai yang paling benar, dan seolah-olah berhak menghakimi. Seperti tulisan pertama saya di Linimasa, soal Jilboobs. Pasalnya, bagaimanapun juga, kita adalah tuan dari tubuh dan kehendak kita, bukan sebaliknya. Pengendalian diri bisa dilatih. Jangan manja.

Terlepas dari itu semua, mungkin saja para Akhwat Hunter atau pria-pria Jilbabphilia tadi hanya sekelompok orang ngacengan, punya latar belakang dan kebiasaan yang tak lazim mengenai jilbab, serta sok religius.

[]

Bisa dibaca juga:

https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/fetishistic-disorder
https://bigthink.com/philip-perry/are-sexual-fetishes-psychologically-healthy

Melihat Lebih Jelas

Sudah seminggu lewat beberapa hari saya memakai kacamata. Keputusan ini terjadi ketika beberapa minggu yang lalu saya harus lembur selama empat hari berturut-turut dan ditambah harus kuliah malam. Mata rasanya super lelah karena terus menatap layar komputer sehingga rasanya perih dan sempat mengeluarkan air mata dan kotoran mata (belek) yang cukup banyak. Karena memang saya sudah merasa memiliki masalah mata sejak lama, akhirnya saya memutuskan untuk periksa.

Saya memutuskan untuk periksa ke dokter memakai BPJS dan datang ke puskesmas kecamatan terdekat. Prosedurnya singkat dan cepat. Saya mengeluh mata perih dan berair kemudian diperiksa. Lalu karena di puskesmas tersebut tidak ada poli mata, saya diberi surat rujukan untuk periksa ke rumah sakit kecamatan

Begitu sampai rumah sakit, saya langsung diperiksa ke poli mata, diminta mengukur jarak pandang dan hasilnya saya memiliki minus 3 dan 3,5. Dokter sempat memarahi saya kenapa baru periksa padahal pandangan saya sudah bermasalah sejak dulu.

Selesai periksa, saya diberi surat rujukan untuk membuat kacamata ke optik. Ada selebaran yang berisi beberapa optik rujukan terdekat atau bisa dibuat di mana saja asal optik tersebut menerima BPJS. Saya juga diberi resep obat yang berisi vitamin dan obat tetes mata. Proses pemeriksaan dari puskesmas ke rumah sakit ini memakan waktu dua hari karena saat ke rumah sakit, jam kerja dokternya sudah selesai sehingga saya baru bisa periksa keesokan harinya. Selama melakukan pemeriksaan baik di puskesmas dan rumah sakit ini, saya sama sekali tidak mengeluarkan biaya administrasi. Paling hanya mengeluarkan biaya untuk fotocopy tanda pengenal dan BPJS saja.

Saya membuat kacamata di sebuah optik di daerah Cikini. Sistemnya adalah kita mendapat subsidi pembayaran pembuatan kacamata sesuai dengan kelas BPJS yang kita ambil. Contoh.

  1. BPJS kelas 1, subsidi sebesar Rp300.000,-
  2. BPJS kelas 2, subsidi sebesar Rp200.000,-
  3. BPJS kelas 3, subsidi sebesar Rp100.000,-

Begitu sampai optik, kita akan diminta untuk menyerahkan surat rujukan rumah sakit (yang berlaku hanya 7 hari setelah periksa, jika lewat dari 7 hari maka kita harus periksa dan minta surat rujukan ulang), fotocopy BPJS dan KTP. Setelah itu kita akan diminta untuk memilih bingkai kacamata yang kita inginkan. Setelah selesai maka akan dibuat surat nota, dicek sesuai BPJS dan setelah itu diminta untuk mengambil kacamata setelah 5 hari kerja.

Karena BPJS milik saya kelas 1 maka saya mendapat subsidi Rp300.000,-. Harga bingkai kacamata yang saya pilih kebetulan pas dengan total keseluruhan. Berikut rinciannya.

  1. Gosok lensa kanan dan kiri @Rp85.000,-
  2. Bingkai kacamata gradasi coklat Rp130.000,-
    Total Rp300.000,-

Jadi harga pembuatan kacamata saya pas sesuai jumlah subsidi. Setelah selesai mendapat nota pemesanan, saya pulang dan siap menunggu kabar tanpa perlu membayar sepeser pun.

Tapi pada hari ketiga setelah pembuatan kacamata tersebut, tiba-tiba saya mendapat SMS dari pihak optik bahwa BPJS hanya bisa memberi subsidi Rp200.000,- untuk pembuatan kacamata saya. Jadi sisa Rp100.000,-nya harus saya bayar. Jika saya bersedia membayar maka pembuatan kacamata akan dilanjutkan dan pembayaran akan dilakukan saat kacamata sudah jadi. Jika tidak bersedia maka saya bisa datang ke optik untuk membatalkan dan meminta kembali surat rujukan untuk membuat di optik lain. Karena malas, saya akhirnya bersedia membayar dan pada hari kelima akhirnya kacamata saya jadi.

Total waktu pembuatan kacamatanya adalah 7 hari. 2 hari periksa dari puskesmas ke rumah sakit, 5 hari menunggu proses pembuatan kacamata. Biaya yang saya keluarkan sekitar Rp120.000,- untuk buat kacamata dan fotocopy banyak berkas pendukung.

***

Sudah seminggu saya memakai kacamata. Benar-benar seminggu pertama yang ajaib. Rasanya seperti ketika naik level sebuah permainan baru dan di level ini penuh tantangan yang mengharuskan jalan dengan super pelan karena terlalu banyak lubang serta perangkap tersembunyi di sekitar.

Saya ingat, satu jam pertama memakai kacamata rasanya sungguh menyebalkan. Pandangan saya bergoyang, berkali-kali saya hampir jatuh dan setiap berjalan rasanya seperti orang mabuk, miring-miring dan entah kenapa maunya jalan minggir mepet ke tembok, selalu panik saat tidak menemukan tembok atau sesuatu yang bisa dipegang.

Saya ingat bahwa di tiga jam pertama memakai kacamata, perut saya mual bukan main. Rasanya seperti mual ketika naik bus antarkota yang jalannya mengebut dan ugal-ugalan. Rasanya seluruh isi lambung naik dan kamu mau muntah. Mual, mulas, pusing. Bahkan saya sempat muntah cairan bening seperti air dan rasanya pahit gitu saat pertama kali mencoba untuk naik dan turun tangga memakai kacamata.

Saya ingat di lima jam pertama memakai kacamata dan ketika saya harus mengejar kereta api yang sudah mau berangkat, rasanya benar-benar sungguh nganu. Seperti gempa bumi. Saya ingat bahwa ketika akhirnya saya berhasil naik ke kereta, kepala saya langsung berputar cepat, keringat bercucuran, kacamata saya berembun karena bernapas dengan sangat cepat dan nyaris muntah, cairan muntah benar-benar sudah di ujung mulut dan hampir mau keluar karena terlalu mual, tapi untung bisa ditahan. Saya sampai diberi tempat duduk oleh seorang penumpang di kereta karena katanya wajah saya sangat pucat seperti orang sakit. Berlari memakai kacamata sangat tidak enak, beruntung waktu itu saya tidak jatuh.

Tetapi saya juga ingat, enam jam pertama setelah saya memakai kacamata dan akhirnya memiliki waktu senggang itu rasanya sungguh menyenangkan. Rasanya seperti bermain gim simulasi dan menemukan banyak item baru yang membuat semuanya seperti pengalaman baru. Semuanya menjadi lebih jelas. Lebih jernih. Lebih nyata. Seperti yang terbiasa menonton kualitas 3gp lalu pindah menonton bluray. Segar.

Saya ingat ketika otak saya sudah terbiasa dengan kacamata dan ketika saya memiliki kesempatan untuk melihat area terbuka hijau sebuah taman dan pohon-pohon, saya tidak hentinya berkali-kali mendongkak dan mulut saya ternganga lebar karena kagum.

Pohon-pohon yang saya lihat warnanya sangat hijau, hijau yang benar-benar hijau.

Langit yang saya lihat hari itu juga sangat biru. Biru cerah tanpa awan sama sekali. Sangat bersih dan birunya membuat dada saya menghangat.

Saya ingat bahwa yang pertama kali saya lakukan ketika mata saya mulai terbiasa adalah, saya mulai membaca banyak tulisan yang saya temukan di jalanan.

DIJUAL CEPAT TANPA PERANTARA. Terima Inject Pulsa, Agen Cabang Buncit Indah. Belok Kiri Langsung. Halte Pengumpan Bus TransJakarta. Tripta Agro, Supplier Alat Perkebunan. Pasar Minggu M36 Jagakarsa. SABANA FRIED CHICKEN. SOTO KHAS BOGOR BU MAH. Fakultas Pertanian Lt. 4.

Rasanya menyenangkan seperti ketika pertama kali bisa belajar membaca. Saya jadi terkagum karena bisa membaca tulisan kecil di seberang jalan. Saya berkali-kali kagum sendiri karena jadi menyadari detail-detail kecil yang dulunya tidak saya sadari. Mulut saya tidak hentinya mengeja, membaca lalu ber-waaaaa sendiri lalu bersemangat dan girang.

Dulu sebelum pakai kacamata, jarak pandang saya benar-benar terbatas. Tidak pernah bisa membaca dan melihat papan reklame di setiap jalan, tidak pernah bisa membaca tulisan di badan angkot atau kereta. Bisa dibilang ketika saya belum pakai kacamata dulu, saya sangat ramah pada orang di tempat umum karena selalu bertanya perihal kendaraan umum yang ingin saya naiki.

Hal yang paling menarik tentu saja ketika saya sampai kampus untuk kuliah. Selama kuliah sebelumnya, begitu sampai kampus biasanya saya akan langsung ke masjid untuk salat dan setelah itu ke kelas. Sudah. Benar-benar mahasiswa kupu-kupu. Saya selalu mencoba menghindari interaksi, rasanya malas.

Dulu ada beberapa teman sekelas saya yang menjuluki saya sombong. Katanya saya pernah beberapa kali disapa kalau bertemu di masjid atau di selasar kampus tapi saya tidak pernah menengok. Sebenarnya saya bahkan tidak sadar kalau saya disapa, saya tidak bisa mengenali dan melihat mereka sama sekali. Kadang kalau mendengar dan sadar kalau disapa pun paling hanya interaksi ”haiiii”’ begitu kemudian blas buru-buru berjalan pergi dengan alasan sibuk sambil sibuk bertanya sendiri ”yang tadi itu siapa ya?” Bukan karena tidak kenal, tapi tidak terlihat.

Tapi setelah memakai kacamata, saya akhirnya menjadi sedikit lebih ramah. Saya mulai berani duduk-duduk di selasar ketika baru tiba di kampus. Duduk di selasar kampus bagian tengah area paling ramai agar saya bisa melihat banyak mahasiswa yang bergantian datang dan pergi. Ini salah satu aktivitas favorit saya beberapa hari terakhir ini, melihat kesibukan mahasiwa reguler dan karyawan yang saling bergantian. Saya senang karena bisa melihat mereka dengan lebih jelas. Bisa mengenali teman-teman saya yang baru datang juga sehingga bisa menyapa mereka dan akhirnya memutuskan untuk bersama pergi ke masjid.

Setelah pakai kacamata juga, saya akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah-wajah teman saya. Ternyata si A memiliki tahi lalat yang sangat kecil di dekat hidung sebelah kirinya. Ujung rambut Z sangat bercabang dan kasar, ada banyak uban-uban kecil juga yang sudah mulai tumbuh. Sejak bisa melihatnya dan tiap saya memiliki kesempatan duduk di belakangnya, rasanya saya ingin mencabutinya hhh. Saya juga baru menyadari bahwa ada bekas luka yang menghitam yang lumayan terlihat jelas di mata kaki T kalau ia sedang tidak memakai kaus kaki panjang setiap hari Kamis.

Saya akhirnya juga bisa melihat dengan jelas wajah beberapa kenalan pria yang saya taksir. Mendadak semuanya menjadi lucu, yang lofli semakin sungguh lofli, yang jele’ juga semakin terlihat jele’. Kebiasaan baru yang terakhir ini sebenarnya agak menganggu sih. Kalau dulu saya sering menghindari untuk membuat kontak mata dengan orang lain karena rasanya buram, sekarang saya malah suka melihat, memperpanjang dan membuat kontak mata dengan orang lain untuk melihat dengan jelas wajah mereka: menghitung jumlah tahi lalat di wajah, melihat kerutan kecil di sekitar bibir yang muncul ketika tersenyum, bola mata yang ternyata berwarna coklat yang begitu jernih dan membuat saya selalu melongo karena terlalu indah, juga rona merah alami yang keluar dari pipi ketika ia tersenyum.

Rasanya indah sekali.

Tiba-tiba saja saya jadi ingin kembali ke beberapa tahun yang lalu saat memiliki kesempatan pergi ke Ranu Kumbolo dan melihat matahari terbenam dan membuat langit berwarna pink dan ratusan bintang yang muncul di malam harinya. Dengan pandangan yang sudah kabur, tapi saya tetap merasa bahwa hari itu sangat indah. Saya tiba-tiba jadi ingin mengulang lagi hari itu dan melihat lagi memakai kacamata, agar lebih jelas. Pasti rasanya menyenangkan.

Eh, atau mungkin malah tidak?

Sebenarnya saya sudah merasa memiliki masalah pada mata sejak SD, sekitar 16 tahun yang lalu. Tapi saya tidak diberi kesempatan untuk periksa mata oleh ibu. Ibu dan pakde saya dulu pernah ditolak melamar suatu perkerjaan karena mereka memakai kacamata. Karena hal itulah ibu mewanti agar jangan sampai anak ibu yang memakai kacamata. Tapi ya memang dasarnya sudah keturunan ditambah gaya hidup yang suka membaca sambil tidur dengan penerangan seadanya, mata saya makin rusak.

Sejauh ini sih hanya masalah di terbatas jarak pandang saja. Tapi saya pernah beberapa kali hampir ketabrak motor dan truk besar juga sangat sering kesandung dan jatuh. Pokoknya dulu ibu tidak pernah mau kalau saya minta periksa ke dokter mata. Tidak pernah ada program periksa mata gratis juga di sekitar saya. Karena sekarang sudah punya penghasilan sendiri saja akhirnya saya memutuskan periksa. Dan ya hasilnya sudah bisa ditebak, sampai sekarang ibu masih suka bilang,

”pakai kacamatanya kalau di kelas pas kuliah aja kak. Jangan keseringan pakai kacamata”

Padahal kalau tidak pakai saya justru malah pusing hhh. Ibu masih sulit menerima kalau saya akhirnya pakai kacamata. Masih takut kalau suatu hari nanti saya sulit mendapat pekerjaan karena hal ini.

***

Sudah seminggu saya memakai kacamata. Mual dan mulas serta pusing sudah jarang datang. Paling kalau naik dan turun tangga dengan terburu atau berlarian saja rasa mualnya baru terasa sedikit tapi bisa diakali dengan melepas kacamata.

Saya sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan baik. Mulai rajin membawa kain khusus membersihkan kacamata juga kalau memiliki bekas embun atau kotoran. Dulu saya sering meledek teman saya yang memakai kacamata tiap makan makanan berkuah dan masih panas lalu menyebabkan kacamatanya berembun. Sekarang saya merasakan hal itu juga dan kadang jadi suka tertawa sendiri.

Yang paling menarik tentu saja bagian jadi bisa mengamati orang di sekitar lebih jelas. Kadang rasanya masih suka aneh sih, seperti ada yang mengganjal di hidung. Tapi saya yakin lama-lama pasti akan terbiasa.

Kalau habis melihat hal yang indah, kadang saya suka berpikir kenapa tidak sejak dulu saja pakai kacamatanya hhhh. Tapi tidak ding. Saya rasa, memakai kacamata di usia saya yang sekarang sudah sangat tepat. Hal-hal indah yang ada di masa lalu, biarlah tetap terekam dengan gambar-gambar buram 3gp di kenangan saya. Sekarang saatnya membuat gambar kenangan baru dengan kualitas bluray.

Oiya, waktu tiga hari pertama pakai kacamata, entah kenapa saya ingat video yang pernah saya temukan di youtube dulu. Kira-kira, begini yang saya rasakan tiap berjalan menembus kerumunan atau saat di tempat ramai.

Bersyukur sekali saya masih diberi kesempatan untuk bisa melihat.

Dunia ini ternyata indah sekali.

Cinta (antar) Perempuan

Di suatu siang:

Dia: Aku gay.

Aku: Lol, Aku terkejut (masih sempet becanda)

Dia: hehehe. Kamu kalau jijik sama aku gapapa kok!

Aku: Gay gimana sik, wkk gay kan cowo sama cowo, tapuk ni! (mencoba mengkonfirmasi dan menepuk-nepuk pelan wajah)

Dia: Yang versi cewek lah..

Aku: Les** maksudnya? Serius ni??? Gapapa si kalau bener

Dia: Serius…….

 

Sebelum menulis cerita ini, saya terlebih dahulu meminta izin dengan teman saya. Katanya boleh boleh aja selagi itu membawa hal yang positif dan bahkan dia mau membantu kalau suatu saat mau menulis tentang apa yang dialaminya. Sebenarnya saya ingin menulis persfektif saya pribadi mengenai LGBT sejak beberapa tahun lalu, tapi karena bahasan ini sangat sensitif, saya sangat berhati-hati menuliskannya. Sampai suatu hari, salah satu teman perempuan saya membuat sebuah pengakuan. Tidak terlalu terkejut memang karena bagi saya menjadi ‘berbeda’ itu pilihan, bukan sesuatu yang aneh.

Sudah cukup lama saya kenal dengan teman saya ini, bahkan bisa dikatakan dekat. Dia baik, hampir pada semua orang. Pribadi yang sederhana, mau berkorban untuk orang lain, legowo, dan penolong. Sampai saya pernah bertanya-tanya ‘Ni orang kok bisa baik banget ya? kalau cewe lain, mungkin akan ngedumel’. Memang beberapa kali sempat terpikir, kalau dia nggak doyan laki-laki, karena raut wajahnya lebih bahagia dibilang ganteng daripada cantik, tapi karena masalah seksualitas adalah hal pribadi, saya tidak pernah mempertanyakannya.

Setelah pengakuan itu, saya tanya ke dia, gimana perasaannya setelah membuat pengakuan. Dia bilang, “lega, ga mudah memang awalnya, tapi itu semacam penerimaan diri sendiri”. That’s acceptance all about. Jangankan untuk mencintai orang lain, menerima dan mencintai diri sendiri juga bukan sesuatu yang mudah lho!, perlu proses. Saya yakin orang-orang di luar sana, terutama mereka yang ‘berbeda’ perlu usaha ekstra untuk itu, bahkan mereka harus melalui masa-masa yang sangat sulit sebelum sampai ke tahap acceptance. Teman saya lalu melanjutkan cerita tentang kapan tepatnya ia sadar kalau dia berbeda, siapa saja yang akhirnya tahu, termasuk keluarganya. I can imagine, how hard that journey for her, and how hard the struggle was. Saya bersyukur karena dia bisa survive sampai sekarang tanpa melakukan hal-hal aneh yang bisa merugikan diri sendiri. Bahkan dia jauh lebih taat dibanding saya. Mewakili beberapa orang yang mungkin punya pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan saya, berikut sedikit lanjutan percakapannya:

Bab Percintaan:

Aku: Udah pernah dapet pacar cewe belum?

Dia: Si A sebenarnya pacarku, tapi udah putus. Tapi hubunganku sama mantan yang sebelumnya (Bukan si A) baikan. Baikan lho ya, bukan balikan.

Aku: Eh Seru ga si pacaran sama cewe? Kamu pasti cowonya ya? Lebih ngemong soalnya.

Dia: Iyaa, aku perannya yang maskulin.

Bab Mantan

Aku: Mantanmu (yang dulu banget) jangan-jangan si ini?

Dia. That’s true… she is everything.

Aku: (Mbathin) Kandyani, aku ngerti sejak melihat foto kalian berdua, aku memperhatikan caramu menatap si ini, seperti seseorang yang melihat orang yang dicintai. Tapi waktu itu nggak berani nanya karena takut salah duga.

 

Bab Cari Pacar: 

Aku: Kalau cari pacar, gimana caranya nunjukkin kalau kamu si maskulin? Ada kodenya ga sih?

Dia: Ga ada (kodenya), tapi emang hal-hal seperti itu ada circlenya. Misal aku kenal anak yang emang L, kita coba jalan, cocok, trus jadian, sesederhana itu.

Aku: Eh aku kebanyakan nanya ya? Monmaaf, dari dulu aku penasaran yang dirasain orang-orang yang berbeda. Yang sebenarnya ga beda-beda amat kalau di mataku, love is for everyone gitu.

Dia: Nggak masalah Rin kalau kamu mau tanya-tanya, mungkin aku sebagai jawaban atas rasa penasaranmu. Maunya sih lurus tapi di tengah jalan ada ajaa…

 

Bersambung...

Eh end kok…Selanjutnya hanya bab-bab receh untuk konsumsi pribadi.

 

Saya tahu percakapan di atas bisa saja kontroversi. Pun halnya dengan LGBT itu sendiri, akan pro dan kontra. Bahkan ada juga yang membenci, menganggapnya sebagai hal yang memalukan. But let me tell my perspective, sebagai manusia- ga peduli gendernya apa-, kita melewati banyak hal, banyak rintangan hidup,  c’mon life is not easy sometimes, dude. Dan apa yang bisa menyelamatkan manusia? Love and support. Entah itu cinta kepada Tuhan, keluarga, teman, kepada sesama manusia bahkan sesama jenis (well mereka dari jenis yang sama kok, sama-sama manusia). Perasaan dicintai itu magic, kadang memberikan kekuatan tersendiri. Percuma kan kaya raya kalau hati kita kosong? Nggak ada yang diperjuangin. Dan gimana kalau ternyata yang membuat hati kita terisi itu seseorang yang ‘sama’ dengan kita? 

 

Menjadi LGBT kadang bukan pilihan, sebagian orang tumbuh dengan hasrat berbeda, kadang mereka pun tidak tahu kenapa. Dan menurut saya, memilih untuk terus menjadi ‘berbeda’ itu adalah hak dan pilihan hidup. Perkara salah, benar dan dosa, itu bersifat pribadi, urusan mereka dan Tuhan, sebagai manusia, kita cuma bisa mengingatkan. Dan bukan wewenang kita untuk memberi cap pada orang lain, bukan? Who knows we are not even better than them. Menjadi berbeda itu memang harus diterima, selagi tidak membuat saling terluka, benci dan prasangka.

Perbedaan itu sebenarnya biasa saja.

So, keep support each other, especially in their hard times, that’s called humanity!