Anakku Mendadak Sudah Besar

Suatu malam Minggu di jalur WhatsApp:

“Neng, how are you?”

Pesan itu lalu dibalas dengan gambar ini.

Jadi anak perempuan pertama kalinya pergi bersama teman-teman nonton pensi. Ibu disco nap di rumah tanpa rencana disko nanti malam.

Jadi ingat beberapa kali ketika di bayi sering digotong ke perhelatan musik indie di Bandung. Begitu juga ketika sedang hamil besar, bukannya anteng di rumah, malah ke beberapa acara musik (yang di Bandung memang sering terjadi sih, ketika zaman itu).

Sorean sedikit dia kembali mengirim pesan menawar jam pulang. Dia ingin menonton sampai selesai, yaitu jam 11 katanya. Tapi tentu saya tak bolehkan. Akhirnya negosiasi sampai jam yang disetujui bersama.

Ingat juga kalau dulu Papa saya mewajibkan semua anaknya di rumah sebelum matahari terbenam. Sampai kami kuliah pun. Walhasil saya sering pergi sembunyi sembunyi. Sebagai orangtua, cita cita saya ingin anak bisa jujur sampai kapan pun dan saya juga bisa menerima kejujurannya dengan legowo. Jadi mungkin lebih permisif dari Papa dulu enggak apa apa ya? Atau jangan jangan salah?

Bismilah saja, lah.

Advertisements
Men on motorcycle staring at women in hijab.

Jilbabphilia?

FEITICO. Sebuah kata yang kurang lebih bisa diartikan “pesona; pukau; pikat; atau daya tarik” dalam bahasa Portugis. Dari istilah ini sebutan fetish berasal, merujuk dan menggambarkan ketertarikan seksual-obsesif seseorang pada berbagai hal.

Seksual, lantaran bisa mengantarkan seseorang mencapai sensasi kenikmatan atau kepuasan seksualnya. Baik yang dilakukan dengan partner, atau hanya oleh diri sendiri.

Obsesif, lantaran membuat seseorang tersebut gandrung, memberikan dorongan yang tak terbendung secara psikis, sehingga cenderung selalu dikejar.

Tak mesti genitalia atau aktivitas seksual penetratif itu sendiri, objek fetish meliputi banyak hal yang bersifat unik dan personal. Termasuk bagian tubuh tertentu, benda-benda tertentu, tindakan atau aktivitas tertentu, maupun sensasi jasmani tertentu. Saking unik dan personalnya, terhitung ada lebih dari 549 fetish yang teridentifikasi—dinamai pakai istilah Latin—dan berpotensi terus bertambah.

Sebagai sesuatu yang atipikal, atau tidak sebagaimana biasanya, tanggapan terhadap ratusan fetish itu mengalami perubahan seiring waktu dan lingkungan sosial manusia. Ada yang dahulu dianggap aneh, kini dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Namun, sebagian besar fetish masih/tetap dianggap ganjil, menabrak norma-norma sosial setempat, membuat tidak nyaman, bahkan membahayakan. Barangkali karena itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut fetish dengan parafilia, yang langsung diterjemahkan: Ketertarikan seksual pada hal-hal yang tidak biasa atau tabu.

Padahal menurut Justin Lehmiller, Ph.D, seorang psikolog-ilmuwan Harvard, hampir semua hal berkemungkinan memiliki asosiasi hasrat seksual bagi seseorang.

“Pretty much anything you can think of, someone out there probably has sexual associations attached to it.”

… dan bisa saja, inilah yang terjadi dengan fenomena Akhwat Hunter.

Dari sejumlah pernyataan dalam utas twit di atas, izinkan saya mengistilahkannya “Jilbabphilia”. Sebab—ini baru asumsi, dan harap koreksi saya bila keliru—entah mereka sadari atau tidak, fenomena Akhwat Hunter menyinggung fetishism. Mengacu pada dua komponen yang selalu hadir:

  1. Para wanita berjilbab sebagai objek yang dinikmati.
  2. Adanya ekspresi seksual dari para penikmat, baik secara perorangan maupun berkelompok.

Menyimak isi cuplikan percakapan tadi, para Akhwat Hunter itu—kelihatannya—belum menikah. Sejauh ini hanya bisa bermasturbasi sambil melihat foto-foto wanita berjilbab, dan belum diketahui apakah setelah menikah nanti mereka lebih suka pasangannya tetap berpenutup kepala saat senggama, atau telanjang sepenuhnya.

Seseorang dengan fetish tertentu, sejatinya tidak bisa mencapai klimaks seksual tanpa kehadiran objek fetish terkait. Bukan sekadar fantasi, atau bumbu keintiman (kinky). Dalam kasus Akhwat Hunter, tak menutup kemungkinan mereka mesum doang. Sampai akhirnya biar mereka sendiri yang membuktikan.

Di sisi lain, dikenal pula istilah garment fetishism. Yaitu hasrat seksual yang dipicu oleh jenis atau bagian pakaian tertentu. Misalnya, seragam, rok mini, lingerie, dan sebagainya, baik dikenakan salah satu atau kedua pihak terlibat.

Kembali lagi, fetish berada dalam spektrum yang unik dan personal. Bersifat pribadi, kecuali ketahuan atau sengaja diumbar-umbar kepada orang lain. Tatkala objek fetish berupa foto-foto wanita berjilbab sengaja diekspose dan ditunjukkan ke publik oleh akun-akun anonim, bahkan lengkap dengan ekspresi seksualnya, itu sudah merupakan pelecehan. Tak ada consent di situ, persetujuan dan kesepakatan kedua belah pihak.

Parahnya lagi, perbuatan tersebut mereka kait-kaitkan dengan narasi agama. Mengingat kerudung jilbab, beragam model hijab, sampai cadar nikab identik sebagai busana keagamaan dengan seperangkat argumentasinya. Dengan demikian, tak peduli seberapa tertutupnya pakaian para wanita tersebut, mereka akan selalu diseksualisasi—dieksploitasi seksual—oleh pria-pria Jilbabphilia. Baca saja alasan-alasan mereka yang begitu didramatisasi.

Atas narasi agama tersebut, alih-alih mengendalikan diri, para Akhwat Hunter itu lebih suka melempar kesalahan pada orang lain, mempertahankan posisi sebagai yang paling benar, dan seolah-olah berhak menghakimi. Seperti tulisan pertama saya di Linimasa, soal Jilboobs. Pasalnya, bagaimanapun juga, kita adalah tuan dari tubuh dan kehendak kita, bukan sebaliknya. Pengendalian diri bisa dilatih. Jangan manja.

Terlepas dari itu semua, mungkin saja para Akhwat Hunter atau pria-pria Jilbabphilia tadi hanya sekelompok orang ngacengan, punya latar belakang dan kebiasaan yang tak lazim mengenai jilbab, serta sok religius.

[]

Bisa dibaca juga:

https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/fetishistic-disorder
https://bigthink.com/philip-perry/are-sexual-fetishes-psychologically-healthy

Melihat Lebih Jelas

Sudah seminggu lewat beberapa hari saya memakai kacamata. Keputusan ini terjadi ketika beberapa minggu yang lalu saya harus lembur selama empat hari berturut-turut dan ditambah harus kuliah malam. Mata rasanya super lelah karena terus menatap layar komputer sehingga rasanya perih dan sempat mengeluarkan air mata dan kotoran mata (belek) yang cukup banyak. Karena memang saya sudah merasa memiliki masalah mata sejak lama, akhirnya saya memutuskan untuk periksa.

Saya memutuskan untuk periksa ke dokter memakai BPJS dan datang ke puskesmas kecamatan terdekat. Prosedurnya singkat dan cepat. Saya mengeluh mata perih dan berair kemudian diperiksa. Lalu karena di puskesmas tersebut tidak ada poli mata, saya diberi surat rujukan untuk periksa ke rumah sakit kecamatan

Begitu sampai rumah sakit, saya langsung diperiksa ke poli mata, diminta mengukur jarak pandang dan hasilnya saya memiliki minus 3 dan 3,5. Dokter sempat memarahi saya kenapa baru periksa padahal pandangan saya sudah bermasalah sejak dulu.

Selesai periksa, saya diberi surat rujukan untuk membuat kacamata ke optik. Ada selebaran yang berisi beberapa optik rujukan terdekat atau bisa dibuat di mana saja asal optik tersebut menerima BPJS. Saya juga diberi resep obat yang berisi vitamin dan obat tetes mata. Proses pemeriksaan dari puskesmas ke rumah sakit ini memakan waktu dua hari karena saat ke rumah sakit, jam kerja dokternya sudah selesai sehingga saya baru bisa periksa keesokan harinya. Selama melakukan pemeriksaan baik di puskesmas dan rumah sakit ini, saya sama sekali tidak mengeluarkan biaya administrasi. Paling hanya mengeluarkan biaya untuk fotocopy tanda pengenal dan BPJS saja.

Saya membuat kacamata di sebuah optik di daerah Cikini. Sistemnya adalah kita mendapat subsidi pembayaran pembuatan kacamata sesuai dengan kelas BPJS yang kita ambil. Contoh.

  1. BPJS kelas 1, subsidi sebesar Rp300.000,-
  2. BPJS kelas 2, subsidi sebesar Rp200.000,-
  3. BPJS kelas 3, subsidi sebesar Rp100.000,-

Begitu sampai optik, kita akan diminta untuk menyerahkan surat rujukan rumah sakit (yang berlaku hanya 7 hari setelah periksa, jika lewat dari 7 hari maka kita harus periksa dan minta surat rujukan ulang), fotocopy BPJS dan KTP. Setelah itu kita akan diminta untuk memilih bingkai kacamata yang kita inginkan. Setelah selesai maka akan dibuat surat nota, dicek sesuai BPJS dan setelah itu diminta untuk mengambil kacamata setelah 5 hari kerja.

Karena BPJS milik saya kelas 1 maka saya mendapat subsidi Rp300.000,-. Harga bingkai kacamata yang saya pilih kebetulan pas dengan total keseluruhan. Berikut rinciannya.

  1. Gosok lensa kanan dan kiri @Rp85.000,-
  2. Bingkai kacamata gradasi coklat Rp130.000,-
    Total Rp300.000,-

Jadi harga pembuatan kacamata saya pas sesuai jumlah subsidi. Setelah selesai mendapat nota pemesanan, saya pulang dan siap menunggu kabar tanpa perlu membayar sepeser pun.

Tapi pada hari ketiga setelah pembuatan kacamata tersebut, tiba-tiba saya mendapat SMS dari pihak optik bahwa BPJS hanya bisa memberi subsidi Rp200.000,- untuk pembuatan kacamata saya. Jadi sisa Rp100.000,-nya harus saya bayar. Jika saya bersedia membayar maka pembuatan kacamata akan dilanjutkan dan pembayaran akan dilakukan saat kacamata sudah jadi. Jika tidak bersedia maka saya bisa datang ke optik untuk membatalkan dan meminta kembali surat rujukan untuk membuat di optik lain. Karena malas, saya akhirnya bersedia membayar dan pada hari kelima akhirnya kacamata saya jadi.

Total waktu pembuatan kacamatanya adalah 7 hari. 2 hari periksa dari puskesmas ke rumah sakit, 5 hari menunggu proses pembuatan kacamata. Biaya yang saya keluarkan sekitar Rp120.000,- untuk buat kacamata dan fotocopy banyak berkas pendukung.

***

Sudah seminggu saya memakai kacamata. Benar-benar seminggu pertama yang ajaib. Rasanya seperti ketika naik level sebuah permainan baru dan di level ini penuh tantangan yang mengharuskan jalan dengan super pelan karena terlalu banyak lubang serta perangkap tersembunyi di sekitar.

Saya ingat, satu jam pertama memakai kacamata rasanya sungguh menyebalkan. Pandangan saya bergoyang, berkali-kali saya hampir jatuh dan setiap berjalan rasanya seperti orang mabuk, miring-miring dan entah kenapa maunya jalan minggir mepet ke tembok, selalu panik saat tidak menemukan tembok atau sesuatu yang bisa dipegang.

Saya ingat bahwa di tiga jam pertama memakai kacamata, perut saya mual bukan main. Rasanya seperti mual ketika naik bus antarkota yang jalannya mengebut dan ugal-ugalan. Rasanya seluruh isi lambung naik dan kamu mau muntah. Mual, mulas, pusing. Bahkan saya sempat muntah cairan bening seperti air dan rasanya pahit gitu saat pertama kali mencoba untuk naik dan turun tangga memakai kacamata.

Saya ingat di lima jam pertama memakai kacamata dan ketika saya harus mengejar kereta api yang sudah mau berangkat, rasanya benar-benar sungguh nganu. Seperti gempa bumi. Saya ingat bahwa ketika akhirnya saya berhasil naik ke kereta, kepala saya langsung berputar cepat, keringat bercucuran, kacamata saya berembun karena bernapas dengan sangat cepat dan nyaris muntah, cairan muntah benar-benar sudah di ujung mulut dan hampir mau keluar karena terlalu mual, tapi untung bisa ditahan. Saya sampai diberi tempat duduk oleh seorang penumpang di kereta karena katanya wajah saya sangat pucat seperti orang sakit. Berlari memakai kacamata sangat tidak enak, beruntung waktu itu saya tidak jatuh.

Tetapi saya juga ingat, enam jam pertama setelah saya memakai kacamata dan akhirnya memiliki waktu senggang itu rasanya sungguh menyenangkan. Rasanya seperti bermain gim simulasi dan menemukan banyak item baru yang membuat semuanya seperti pengalaman baru. Semuanya menjadi lebih jelas. Lebih jernih. Lebih nyata. Seperti yang terbiasa menonton kualitas 3gp lalu pindah menonton bluray. Segar.

Saya ingat ketika otak saya sudah terbiasa dengan kacamata dan ketika saya memiliki kesempatan untuk melihat area terbuka hijau sebuah taman dan pohon-pohon, saya tidak hentinya berkali-kali mendongkak dan mulut saya ternganga lebar karena kagum.

Pohon-pohon yang saya lihat warnanya sangat hijau, hijau yang benar-benar hijau.

Langit yang saya lihat hari itu juga sangat biru. Biru cerah tanpa awan sama sekali. Sangat bersih dan birunya membuat dada saya menghangat.

Saya ingat bahwa yang pertama kali saya lakukan ketika mata saya mulai terbiasa adalah, saya mulai membaca banyak tulisan yang saya temukan di jalanan.

DIJUAL CEPAT TANPA PERANTARA. Terima Inject Pulsa, Agen Cabang Buncit Indah. Belok Kiri Langsung. Halte Pengumpan Bus TransJakarta. Tripta Agro, Supplier Alat Perkebunan. Pasar Minggu M36 Jagakarsa. SABANA FRIED CHICKEN. SOTO KHAS BOGOR BU MAH. Fakultas Pertanian Lt. 4.

Rasanya menyenangkan seperti ketika pertama kali bisa belajar membaca. Saya jadi terkagum karena bisa membaca tulisan kecil di seberang jalan. Saya berkali-kali kagum sendiri karena jadi menyadari detail-detail kecil yang dulunya tidak saya sadari. Mulut saya tidak hentinya mengeja, membaca lalu ber-waaaaa sendiri lalu bersemangat dan girang.

Dulu sebelum pakai kacamata, jarak pandang saya benar-benar terbatas. Tidak pernah bisa membaca dan melihat papan reklame di setiap jalan, tidak pernah bisa membaca tulisan di badan angkot atau kereta. Bisa dibilang ketika saya belum pakai kacamata dulu, saya sangat ramah pada orang di tempat umum karena selalu bertanya perihal kendaraan umum yang ingin saya naiki.

Hal yang paling menarik tentu saja ketika saya sampai kampus untuk kuliah. Selama kuliah sebelumnya, begitu sampai kampus biasanya saya akan langsung ke masjid untuk salat dan setelah itu ke kelas. Sudah. Benar-benar mahasiswa kupu-kupu. Saya selalu mencoba menghindari interaksi, rasanya malas.

Dulu ada beberapa teman sekelas saya yang menjuluki saya sombong. Katanya saya pernah beberapa kali disapa kalau bertemu di masjid atau di selasar kampus tapi saya tidak pernah menengok. Sebenarnya saya bahkan tidak sadar kalau saya disapa, saya tidak bisa mengenali dan melihat mereka sama sekali. Kadang kalau mendengar dan sadar kalau disapa pun paling hanya interaksi ”haiiii”’ begitu kemudian blas buru-buru berjalan pergi dengan alasan sibuk sambil sibuk bertanya sendiri ”yang tadi itu siapa ya?” Bukan karena tidak kenal, tapi tidak terlihat.

Tapi setelah memakai kacamata, saya akhirnya menjadi sedikit lebih ramah. Saya mulai berani duduk-duduk di selasar ketika baru tiba di kampus. Duduk di selasar kampus bagian tengah area paling ramai agar saya bisa melihat banyak mahasiswa yang bergantian datang dan pergi. Ini salah satu aktivitas favorit saya beberapa hari terakhir ini, melihat kesibukan mahasiwa reguler dan karyawan yang saling bergantian. Saya senang karena bisa melihat mereka dengan lebih jelas. Bisa mengenali teman-teman saya yang baru datang juga sehingga bisa menyapa mereka dan akhirnya memutuskan untuk bersama pergi ke masjid.

Setelah pakai kacamata juga, saya akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah-wajah teman saya. Ternyata si A memiliki tahi lalat yang sangat kecil di dekat hidung sebelah kirinya. Ujung rambut Z sangat bercabang dan kasar, ada banyak uban-uban kecil juga yang sudah mulai tumbuh. Sejak bisa melihatnya dan tiap saya memiliki kesempatan duduk di belakangnya, rasanya saya ingin mencabutinya hhh. Saya juga baru menyadari bahwa ada bekas luka yang menghitam yang lumayan terlihat jelas di mata kaki T kalau ia sedang tidak memakai kaus kaki panjang setiap hari Kamis.

Saya akhirnya juga bisa melihat dengan jelas wajah beberapa kenalan pria yang saya taksir. Mendadak semuanya menjadi lucu, yang lofli semakin sungguh lofli, yang jele’ juga semakin terlihat jele’. Kebiasaan baru yang terakhir ini sebenarnya agak menganggu sih. Kalau dulu saya sering menghindari untuk membuat kontak mata dengan orang lain karena rasanya buram, sekarang saya malah suka melihat, memperpanjang dan membuat kontak mata dengan orang lain untuk melihat dengan jelas wajah mereka: menghitung jumlah tahi lalat di wajah, melihat kerutan kecil di sekitar bibir yang muncul ketika tersenyum, bola mata yang ternyata berwarna coklat yang begitu jernih dan membuat saya selalu melongo karena terlalu indah, juga rona merah alami yang keluar dari pipi ketika ia tersenyum.

Rasanya indah sekali.

Tiba-tiba saja saya jadi ingin kembali ke beberapa tahun yang lalu saat memiliki kesempatan pergi ke Ranu Kumbolo dan melihat matahari terbenam dan membuat langit berwarna pink dan ratusan bintang yang muncul di malam harinya. Dengan pandangan yang sudah kabur, tapi saya tetap merasa bahwa hari itu sangat indah. Saya tiba-tiba jadi ingin mengulang lagi hari itu dan melihat lagi memakai kacamata, agar lebih jelas. Pasti rasanya menyenangkan.

Eh, atau mungkin malah tidak?

Sebenarnya saya sudah merasa memiliki masalah pada mata sejak SD, sekitar 16 tahun yang lalu. Tapi saya tidak diberi kesempatan untuk periksa mata oleh ibu. Ibu dan pakde saya dulu pernah ditolak melamar suatu perkerjaan karena mereka memakai kacamata. Karena hal itulah ibu mewanti agar jangan sampai anak ibu yang memakai kacamata. Tapi ya memang dasarnya sudah keturunan ditambah gaya hidup yang suka membaca sambil tidur dengan penerangan seadanya, mata saya makin rusak.

Sejauh ini sih hanya masalah di terbatas jarak pandang saja. Tapi saya pernah beberapa kali hampir ketabrak motor dan truk besar juga sangat sering kesandung dan jatuh. Pokoknya dulu ibu tidak pernah mau kalau saya minta periksa ke dokter mata. Tidak pernah ada program periksa mata gratis juga di sekitar saya. Karena sekarang sudah punya penghasilan sendiri saja akhirnya saya memutuskan periksa. Dan ya hasilnya sudah bisa ditebak, sampai sekarang ibu masih suka bilang,

”pakai kacamatanya kalau di kelas pas kuliah aja kak. Jangan keseringan pakai kacamata”

Padahal kalau tidak pakai saya justru malah pusing hhh. Ibu masih sulit menerima kalau saya akhirnya pakai kacamata. Masih takut kalau suatu hari nanti saya sulit mendapat pekerjaan karena hal ini.

***

Sudah seminggu saya memakai kacamata. Mual dan mulas serta pusing sudah jarang datang. Paling kalau naik dan turun tangga dengan terburu atau berlarian saja rasa mualnya baru terasa sedikit tapi bisa diakali dengan melepas kacamata.

Saya sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan baik. Mulai rajin membawa kain khusus membersihkan kacamata juga kalau memiliki bekas embun atau kotoran. Dulu saya sering meledek teman saya yang memakai kacamata tiap makan makanan berkuah dan masih panas lalu menyebabkan kacamatanya berembun. Sekarang saya merasakan hal itu juga dan kadang jadi suka tertawa sendiri.

Yang paling menarik tentu saja bagian jadi bisa mengamati orang di sekitar lebih jelas. Kadang rasanya masih suka aneh sih, seperti ada yang mengganjal di hidung. Tapi saya yakin lama-lama pasti akan terbiasa.

Kalau habis melihat hal yang indah, kadang saya suka berpikir kenapa tidak sejak dulu saja pakai kacamatanya hhhh. Tapi tidak ding. Saya rasa, memakai kacamata di usia saya yang sekarang sudah sangat tepat. Hal-hal indah yang ada di masa lalu, biarlah tetap terekam dengan gambar-gambar buram 3gp di kenangan saya. Sekarang saatnya membuat gambar kenangan baru dengan kualitas bluray.

Oiya, waktu tiga hari pertama pakai kacamata, entah kenapa saya ingat video yang pernah saya temukan di youtube dulu. Kira-kira, begini yang saya rasakan tiap berjalan menembus kerumunan atau saat di tempat ramai.

Bersyukur sekali saya masih diberi kesempatan untuk bisa melihat.

Dunia ini ternyata indah sekali.

Cinta (antar) Perempuan

Di suatu siang:

Dia: Aku gay.

Aku: Lol, Aku terkejut (masih sempet becanda)

Dia: hehehe. Kamu kalau jijik sama aku gapapa kok!

Aku: Gay gimana sik, wkk gay kan cowo sama cowo, tapuk ni! (mencoba mengkonfirmasi dan menepuk-nepuk pelan wajah)

Dia: Yang versi cewek lah..

Aku: Les** maksudnya? Serius ni??? Gapapa si kalau bener

Dia: Serius…….

 

Sebelum menulis cerita ini, saya terlebih dahulu meminta izin dengan teman saya. Katanya boleh boleh aja selagi itu membawa hal yang positif dan bahkan dia mau membantu kalau suatu saat mau menulis tentang apa yang dialaminya. Sebenarnya saya ingin menulis persfektif saya pribadi mengenai LGBT sejak beberapa tahun lalu, tapi karena bahasan ini sangat sensitif, saya sangat berhati-hati menuliskannya. Sampai suatu hari, salah satu teman perempuan saya membuat sebuah pengakuan. Tidak terlalu terkejut memang karena bagi saya menjadi ‘berbeda’ itu pilihan, bukan sesuatu yang aneh.

Sudah cukup lama saya kenal dengan teman saya ini, bahkan bisa dikatakan dekat. Dia baik, hampir pada semua orang. Pribadi yang sederhana, mau berkorban untuk orang lain, legowo, dan penolong. Sampai saya pernah bertanya-tanya ‘Ni orang kok bisa baik banget ya? kalau cewe lain, mungkin akan ngedumel’. Memang beberapa kali sempat terpikir, kalau dia nggak doyan laki-laki, karena raut wajahnya lebih bahagia dibilang ganteng daripada cantik, tapi karena masalah seksualitas adalah hal pribadi, saya tidak pernah mempertanyakannya.

Setelah pengakuan itu, saya tanya ke dia, gimana perasaannya setelah membuat pengakuan. Dia bilang, “lega, ga mudah memang awalnya, tapi itu semacam penerimaan diri sendiri”. That’s acceptance all about. Jangankan untuk mencintai orang lain, menerima dan mencintai diri sendiri juga bukan sesuatu yang mudah lho!, perlu proses. Saya yakin orang-orang di luar sana, terutama mereka yang ‘berbeda’ perlu usaha ekstra untuk itu, bahkan mereka harus melalui masa-masa yang sangat sulit sebelum sampai ke tahap acceptance. Teman saya lalu melanjutkan cerita tentang kapan tepatnya ia sadar kalau dia berbeda, siapa saja yang akhirnya tahu, termasuk keluarganya. I can imagine, how hard that journey for her, and how hard the struggle was. Saya bersyukur karena dia bisa survive sampai sekarang tanpa melakukan hal-hal aneh yang bisa merugikan diri sendiri. Bahkan dia jauh lebih taat dibanding saya. Mewakili beberapa orang yang mungkin punya pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan saya, berikut sedikit lanjutan percakapannya:

Bab Percintaan:

Aku: Udah pernah dapet pacar cewe belum?

Dia: Si A sebenarnya pacarku, tapi udah putus. Tapi hubunganku sama mantan yang sebelumnya (Bukan si A) baikan. Baikan lho ya, bukan balikan.

Aku: Eh Seru ga si pacaran sama cewe? Kamu pasti cowonya ya? Lebih ngemong soalnya.

Dia: Iyaa, aku perannya yang maskulin.

Bab Mantan

Aku: Mantanmu (yang dulu banget) jangan-jangan si ini?

Dia. That’s true… she is everything.

Aku: (Mbathin) Kandyani, aku ngerti sejak melihat foto kalian berdua, aku memperhatikan caramu menatap si ini, seperti seseorang yang melihat orang yang dicintai. Tapi waktu itu nggak berani nanya karena takut salah duga.

 

Bab Cari Pacar: 

Aku: Kalau cari pacar, gimana caranya nunjukkin kalau kamu si maskulin? Ada kodenya ga sih?

Dia: Ga ada (kodenya), tapi emang hal-hal seperti itu ada circlenya. Misal aku kenal anak yang emang L, kita coba jalan, cocok, trus jadian, sesederhana itu.

Aku: Eh aku kebanyakan nanya ya? Monmaaf, dari dulu aku penasaran yang dirasain orang-orang yang berbeda. Yang sebenarnya ga beda-beda amat kalau di mataku, love is for everyone gitu.

Dia: Nggak masalah Rin kalau kamu mau tanya-tanya, mungkin aku sebagai jawaban atas rasa penasaranmu. Maunya sih lurus tapi di tengah jalan ada ajaa…

 

Bersambung...

Eh end kok…Selanjutnya hanya bab-bab receh untuk konsumsi pribadi.

 

Saya tahu percakapan di atas bisa saja kontroversi. Pun halnya dengan LGBT itu sendiri, akan pro dan kontra. Bahkan ada juga yang membenci, menganggapnya sebagai hal yang memalukan. But let me tell my perspective, sebagai manusia- ga peduli gendernya apa-, kita melewati banyak hal, banyak rintangan hidup,  c’mon life is not easy sometimes, dude. Dan apa yang bisa menyelamatkan manusia? Love and support. Entah itu cinta kepada Tuhan, keluarga, teman, kepada sesama manusia bahkan sesama jenis (well mereka dari jenis yang sama kok, sama-sama manusia). Perasaan dicintai itu magic, kadang memberikan kekuatan tersendiri. Percuma kan kaya raya kalau hati kita kosong? Nggak ada yang diperjuangin. Dan gimana kalau ternyata yang membuat hati kita terisi itu seseorang yang ‘sama’ dengan kita? 

 

Menjadi LGBT kadang bukan pilihan, sebagian orang tumbuh dengan hasrat berbeda, kadang mereka pun tidak tahu kenapa. Dan menurut saya, memilih untuk terus menjadi ‘berbeda’ itu adalah hak dan pilihan hidup. Perkara salah, benar dan dosa, itu bersifat pribadi, urusan mereka dan Tuhan, sebagai manusia, kita cuma bisa mengingatkan. Dan bukan wewenang kita untuk memberi cap pada orang lain, bukan? Who knows we are not even better than them. Menjadi berbeda itu memang harus diterima, selagi tidak membuat saling terluka, benci dan prasangka.

Perbedaan itu sebenarnya biasa saja.

So, keep support each other, especially in their hard times, that’s called humanity!

Mengulang itu Melelahkan

Sudah pernah lihat video ini?

Ini adalah video kompilasi ucapan Lady Gaga selama rangkaian wawancara terkait promosi film terbarunya, A Star is Born. Di video ini, Lady Gaga selalu mengucapkan hal yang sama, “there can be 100 people in a room, 99 don’t believe in you, and only one who believes in you, and that’s the one that matters most.”

Kalau diulang dalam frekuensi waktu yang berjauhan dan jarang-jarang, rasanya tidak akan terdeteksi seperti ini. Namun karena promosi film menjelang rilis biasanya sangat padat, dan waktunya berdekatan, maka pengulangan seperti ini akan mudah terdeteksi. Dan perlu keahlian khusus memanuver hal seperti ini.

Saya tidak meragukan lagi, bahwa penampilan Lady Gaga di film A Star is Born sangat memukau. Demikian pula filmnya. Sejauh ini sudah dua kali saya menontonnya di layar lebar saking sukanya saya sama film ini. (Apakah filmnya masuk dalam 10 film favorit tahun ini? Tunggu saja tulisannya bulan depan!)
Namun tak urung saya tertawa juga melihat video di atas. Seketika teringat sedikit cukilan pekerjaan dulu dalam hal promosi film ini.

lady-gaga-tells-ellen-degeneres-shes-nothing-like-her-a-star-is-born-character

Lady Gaga and Ellen DeGeneres

Sebagian besar aktor, baik pria maupun perempuan, tidak terlalu suka pekerjaan mempromosikan film. Kenapa? Karena mereka harus menampilkan bagian dari diri mereka as a person, as a celebrity untuk mengenalkan karya mereka. Beda dengan proses pembuatan film, di mana mereka melebur menjadi karakter yang mereka mainkan, dan meninggalkan semua atribut sebagai diri mereka pribadi, sehingga mereka tidak perlu menjadi diri sendiri. Sementara untuk promosi film, mau tidak mau mereka harus menampilkan persona mereka sebagai diri mereka sendiri, paling tidak sebagian dari diri mereka sendiri, yang dipoles sedemikian rupa karena bertemu orang banyak dalam waktu yang padat.
In short, promoting is a tiring job.

Sebelum seluruh kegiatan promosi ini dimulai, bahkan saat film masih belum selesai, kadang-kadang tim promosi sudah mulai bekerja. Produksi yang baik akan melibatkan produser, sutradara, pemain dan tim promosi untuk menentukan arah promosi. Bisa juga kita sebut narasi promosi. Biasanya dimulai dengan “apa yang mau diangkat dari film ini? Siapa target market-nya? Apa yang harus diomongkan dari sutradara dan pemain di media, di sosial media dan di acara-acara umum? Kapan saja kita akan merilis setiap bagian informasi promosi ini? Berapa lama waktu yang kita punya?” Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain.

Ketika sudah ditentukan arah, bentuk dan cara promosi ini pun, kadang-kadang hal di luar dugaan bisa terjadi. Entah itu perubahan tanggal rilis film, aktor yang mendadak tidak bisa ikut kegiatan promosi, atau perubahan isi film. Yang terakhir ini sangat jarang terjadi, tapi pernah terjadi. Kalau sudah begitu, mau tidak mau kegiatan promosi harus jalan terus, dengan mengandalkan kekuatan yang masih ada.

oceans-8-0

Sarah Paulson, Cate Blanchett, Sandra Bullock

Di contoh Lady Gaga di atas, saya melihatnya dari berbagai sisi. Mungkin Lady Gaga sengaja menciptakan model promosi tertentu. Memang Lady Gaga dikenal suka menciptakan kontroversi tertentu, walaupun saya ragu di tahap karirnya sekarang, dia masih melakukan hal itu.
Sisi lain yang saya curigai, tim publisis Lady Gaga kurang kreatif dalam mengolah pesan yang ingin disampaikan. Satu kalimat bisa diolah dalam berbagai jenis. Kalau dari kalimat di atas, mungkin saja dalam berbagai kesempatan Lady Gaga bisa mengatakan, “Bradley Copper trusts in me, and that’s what matters the most”, atau “You may never be able to win people’s heart, but you can always win one heart that means the most”, atau berbagai padanan lain. Atau bisa juga cara-cara ini sudah dicoba, dan Lady Gaga masih tetap mau menggunakan kalimat yang sama agar dia tidak perlu repot menghapal kalimat-kalimat lain, supaya tetap true to herself. Saya cuma bisa angkat bahu.

Sebagai bayangan betapa melelahkan kerja promosi itu, biasanya di sini dalam sehari, satu tim promosi bisa datang ke satu live TV interview di pagi hari, dua sampai tiga radio interview di siang hari, wawancara media di sela-sela waktu, satu live TV appearance di malam hari. Dan ini bisa dilakukan seminggu penuh. Atau kalau mau sistem junket, yaitu menyewa ruangan (biasanya di kamar hotel), lalu media bergiliran mewawancarai aktor atau sutradara selama 15-20 menit per sesi, maka kegiatan junket ini bisa berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam. Paling tidak perlu 2-3 hari. Dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama dan berulang-berulang. Sangat melelahkan, bukan?

Memang perlu jam terbang yang cukup banyak untuk terbiasa melakukan hal ini. Berhubung ini film layar lebar pertama Lady Gaga di mana dia menjadi bintang utamanya, maka wajar kalau dia masih terlihat mengulang. Lagi pula dia tidak banyak melakukan promosi saat dia bermain di serial “American Horror Story” beberapa tahun lalu.

maxresdefault

Rami Malek

Biasanya ada trik tertentu untuk mengatasi kebosanan ini. Kalau film yang dipromosikan adalah ensemble film, maka tim film tersebut bisa melibatkan anggota pemain lain untuk bisa bounce off satu sama lain. Contohnya di film Ocean’s 8. Lihat saja video-video interview promosi mereka. Saat Sandra Bullock sudah terlihat bosan, maka dalam waktu singkat Sarah Paulson, Anne Hathaway atau Cate Blanchett akan menimpali dengan jawaban-jawaban yang kocak.

Trik lain yang perlu energi lebih adalah bertanya balik ke penanya. Ini dilakukan Rami Malek, terutama saat dia wawancara sendirian, selama promosi film Bohemian Rhapsody. Lihat saja wawancaranya dengan Ellen dan beberapa interviewer lainnya. Terlihat sangat alami, walaupun tentu saja, semuanya sudah dirancang sebelumnya.

Berpura-pura itu melelahkan, mengulang-ulang juga melelahkan. But hey, we always fake it until we make it. Or at least until the job gets done.

Photo by Hermes Rivera on Unsplash

Pertanyaan Para Atasan Amatiran

PERTAMA kali bekerja saat masih kuliah semester 3, ada satu nasihat—barangkali sebuah teguran—dari bos waktu itu. Lumayan bikin bingung.

Kamu jangan terlalu akrab sama anak buah. Kerja yang betul.

Sempat bertanya-tanya. Apa hubungannya antara bersikap akrab di lingkungan kerja—khususnya kepada bawahan—dan bekerja yang baik dan benar?

Apakah bergaul akrab bisa membuat seseorang tidak dapat bekerja dengan baik?
Apakah berpengaruh terhadap efektivitas dan efisiensi pekerjaan?
Apakah bisa menghambat pencapaian target?
Apakah berpengaruh negatif terhadap KPI?
Apakah merugikan perusahaan?

Mulanya, kesan yang tertangkap dari nasihat di atas adalah prasangka, kecurigaan, dan ketidakpercayaan dalam hubungan sosial. Kendati bersifat negatif dan seyogianya dihindari, semua orang tetap berhak bersikap demikian sampai berubah pikiran sendiri. “Namanya juga si bos. Mungkin dia memang begitu orangnya,” saya membatin.

Seiring waktu dan beberapa kali berganti pekerjaan, nasihat tadi makin terasa ada benarnya. Walaupun tidak berlaku mutlak, ada kalanya kita mesti menyadari situasi dan bertindak tepat agar tetap fokus menjalankan tanggung jawab yang diemban. Termasuk dengan membatasi diri dari keakraban yang melenakan, atau bahkan menghambat pekerjaan.

Hal ini cukup pelik. Mengingat setiap orang punya perangai yang berbeda. Begitu pula ketika bekerja. Baik sebagai pemimpin maupun yang dipimpin tentu memiliki gaya dan preferensi masing-masing. Ada pemimpin yang hanya tahu memberi perintah dan memarahi, ada yang suka berdiskusi dan mendengar masukan dari bawahannya, ada yang tegas tetapi tidak arogan, dan sebagainya.

Tak sedikit contohnya seseorang yang terkenal tidak luwes, tidak bisa ditawar-tawar, bersikap masa bodoh dengan keadaan orang lain dalam hal pekerjaan, tetapi selalu berhasil memberikan kualitas yang terbaik. Yang kemudian justru membuat banyak orang beranggapan bahwa ketegasan dan ketidakluwesan adalah ciri khas profesionalnya. Tentu saja selama masih dalam batas kewajaran.

Di sisi lain, ada pula bawahan yang harus selalu diarahkan, ada yang harus selalu diingatkan supaya disiplin, ada yang perlu diberi ruang berinisiatif demi memaksimalkan kemampuannya, ada juga yang manipulatif dan cenderung memanfaatkan situasi. Kalau begini, setiap orang memerlukan perlakuan berbeda-beda terkait profesionalismenya. Ada yang cocok diakrabi seperti teman sendiri, ada juga yang lebih baik dihadapi seperlunya saja biar tidak berpotensi mengganggu.

Akan selalu muncul pertanyaan, apakah memang sebaiknya begitu? Menciptakan jarak sosial dengan para pekerja secara sengaja dan konsisten, demi menjaga suasana profesional dan menghindari penurunan efektivitas kerja. Lagi-lagi, jawaban akan tergantung siapa penanyanya, serta apa yang telah dialaminya.

Mereka yang suka bergaul, supel, outgoing, dan berjiwa sosial tinggi, bisa saja agak kesulitan untuk bersikap atau mencitrakan diri sebagai individu yang dingin dan kaku. Sementara sebaliknya, orang-orang berpembawaan tak acuh, tanpa basa basi, dan efisien, bisa menciptakan jarak sosial dengan mudah.

Untuk pertanyaan yang satu ini, entah sudah ada berapa banyak konsep dan teori manajemen yang bisa diterapkan. Namun, satu hal yang pasti, bahwa setiap orang memiliki perangai, pembawaan, dan penerimaan yang beragam. Tidak menutup kemungkinan pula, ada sekelompok orang yang memiliki etos kerja tinggi, tetapi ada pula yang cenderung oportunis dan mau enaknya sendiri. Dari dua kategori ini, kelompok pertama relatif memahami arti profesionalisme dalam bekerja, sedangkan mereka di kelompok kedua malah berusaha untuk memanfaatkan celah pada pimpinannya, atau sebut saja … memanfaatkannya.

Sangat tipis dan riskan jeblos. Sikap ramah dan bersahabat, atau mudah berakrab-akrab ria antara pemimpin dan pekerjanya bisa berujung tak sesuai bayangan awal. Keramahan, keterbukaan, tenggang rasa dan toleransi, serta sikap mau kurang lebih membuat si pemimpin seolah-olah kehilangan cakar. Dia dianggap sepele oleh pekerjanya, benar-benar diperlakukan layaknya kawan bermain, sehingga ada profesionalisme dan etos kerja yang menurun. Jika sudah begini, dan sang pimpinan bersikap tegas kembali, para anak buah pun menganggapnya sebagai bentuk arogansi dan ketersinggungan. Dari yang sebelumnya asyik, berubah jadi ribet dan menyusahkan.

Dilema?

Pada akhirnya, silakan dipilih: reputasi sosial, atau reputasi profesional.

[]

Produk Dagang Terlaris Semester Akhir 2018-Awal 2019

  1. PKI. Meski sudah punah sejak lima dekade lalu, harus kita akui, Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai terkuat sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia. Namanya masih ditakuti sebagian rakyat bahkan tanpa perlu ada bukti maupun kegiatan yang nyata dari partai ini. Ia dipercaya punya pengikut yang bekerja senyap menghancurkan segenap sendi dan masa depan bangsa Indonesia.
  2. LGBT. Ada yang maunya pakai istilah LGBTQI: Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) dan apapun itu maksudnya untuk Questioning dan Intersex. Yang satu ini lebih lethal dari senjata mutakhir sebelum Nuklir. Ia bisa menularkan penyakit tanpa media biologis seperti biasanya. Menghancurkan generasi masa depan bangsa. Sekaligus jadi sebab utama aneka bencana alam dan kemanusiaan yang mematikan.

Foto: Spanduk penolakan LGBT, prostitusi, narkoba, miras dan perjudian di perumahan Citra Gran Cibubur

  1. China. Betul, termasuk orang asal Tiongkok yang sudah beranak-pinak di Indonesia dan jutaan pekerja Tiongkok yang siap menyedot kekayaan bangsa. Istilah Aseng melengkapi Asing yang juga berarti penjajah baru setelah kolonialisme dan fasisme. Sekali lagi, kita ndak perlu bukti untuk mulai waspada terhadap penjajah.

  2. Islam. Dengan beragam alasan, ketiga poin di atas akan berujung menentang ajaran Islam. Lagipula, bagian mana dari Islam yang ndak laku di pasaran?

Konspirasi Bakteri

Baru baru ini ada video yang terlihat di Twitter yang menarik perhatian; mantis yang ternyata sudah mati dan digerakkan oleh parasit, yang ketika sudah cukup dewasa dan sudah bisa berpisah dengan tuan rumahnya akan membawa mantis tersebut ke dalam air. Kalau belum lihat mungkin bisa cek ini:

Jadi teringat kalau manusia pun sebenarnya di dalam tubuhnya ada jutaan makhluk hidup lainnya? Belum tentu berarti parasit, justru bakteri, yang hidup di dalam tubuh, di permukaan kulit, dan yang paling penting di dalam sistem pencernaan kita penting dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan. Kalau terganggu keseimbangan jumlah dan komposisi bakteri di pencernaan kita, efeknya tidak hanya gangguan perut, tapi juga stres, depresi atau sulit berpikir, masalah kulit, sampai penyakit autoimun. Mungkin sulit dipercaya, tapi kalau mau cari banyak sekali referensinya.

1i9a85

Bahwa semua proses alami yang dialami manusia itu mendukung agar tubuh kita menjadi ladang tumbuh subur bakteri yang baik untuk kesehatan, sementara proses buatan manusia akan mengganggunya. Contohnya proses melahirkan secara alami ternyata salah satu yang dibutuhkan adalah transfer bakteri ke kulit bayi dan jalan pernapasannya, sehingga ketika kelahiran terjadi lewat operasi, proses tersebut terlewatkan. Begitu juga dengan proses menyusui dengan ASI, memperkaya pencernaan bayi dengan bakteri.

Konsumsi antibiotik akan mengganggu keseimbangan bakteri. Enggak hanya antibiotik sih, hampir semua obat-obatan juga. Padahal kalau organ di tubuh adalah bagian yang memiliki otonomi, atau bisa dikendalikan masing-masing, gubernur daerah itu (MUNGKIN LOH) adalah bakteri.

Jadi ya, teman-teman, jagad raya ini diatur dengan keseimbangan, dan semua organisme yang di dalamnya terlibat dalam keseimbangan itu. Kecuali manusia. Dibilang makhluk paling sempurna, karena kita punya kesadaran. Tetapi dengan kesadaran itu muncul ego yang justru malah membuat kita menolak untuk menjaga keseimbangan di jagad ini, tapi malah mengobrak abriknya. Karena itu sering dieluelukan bahwa kita harus ‘kosong’ untuk merasakan isi dari sumber cahaya. Dengan kosong kita akan bergerak sesuai dengan jagat, dan kembali terlibat dalam keseimbangan. Percayalah dengan gubernur kita, bakteri. Bahwa mereka adalah wakil dari jagad di dalam kita.

 

Bola Mati Meninggalkan Tanya

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama. Lalu, jika media mati, dia akan meninggalkan apa?

Perkenalan saya dengan Marco Van Basten, Salvatore Schillaci, Lothar Matthaus hingga terbawa mimpi bukan diawali dengan bersalaman dengan mereka, atau menunggu mereka latihan lalu mengejar dan meminta tanda tangan di tepi lapangan hijau. Perkenalan saya dengan mereka adalah karena tulisan Rayana Jakasurya di tabloid Bola. Saat perhelatan Piala Dunia saya mengumpulkan seluruh data pemain berdasarkan buku koleksi sticker panini. Hanya saja sticker Panini cuma menampilkan wajah para pemain dan tim yang dibelanya. Tak ada kisah di balik layar. Tidak ada cerita soal bagaimana AC Milan termehek-mehek dengan trio Belanda dan tim rival sekotanya, Inter Milan, memilih trio Jerman. Saat itulah Bola hadir bercerita dengan giat kisah pemain, sejarah stadion, ruap semangat sepakbola dengan para suporternya.

Anehnya, dari tabloid bola juga saya menjadi tertarik dengan dunia kartun. Saat itu karikatur media dikuasasi grup Kokkang. Namun bola punya maskot tersendiri dengan “sepakbola Ria” dari Nunk. Bentuk wajah lonjong bagai ikan louhan. Tapi dari wajahnya yang unik dan kocak ini sungguh menampilkan karakter “orang Indonesia”.

Masa keemasan itu rupanya hanya sesaat. masa keemasan dalam ingatan. Ketika media televisi mulai rutin menayangkan Liga negara-negara eropa, tabloid Bola bisa jadi semakin berjaya. Masyarakat butuh literasi mumpuni. Siapa sih pemain jagoan yang piawai menggiring bola semalam? Mereka mencari profilnya dari tabloid bola. Untungnya bola begitu responsif. Pemain bola favorit dikupas tuntas. Walau masih muda, jika sedang naik daun, wartawan bola akan selalu menurunkan berita tentangnya. David Platt, David Beckham, Ryan Giggs, Bebeto, Steve McMannaman, Eric Cantona, David Ginola sering menjadi cover depan majalan Bola. Tentu saja salah satu alasannya karena aksi mereka di atas rumput membuat fans bola berdecak kagum.

Dahulu belum ada youtube, sehingga satu-satunya cara menyaksikan aksi mereka adalah pasrah. Menunggu siaran berita bola di sepertiga penghujung Dunia Dalam Berita. Juga menunggu dengan sabar liputan Max Sopacua dalam Arena dan Juara. Di era tivi swasta Bola makin terbantu dengan berita dalam siaran fitur Planet Football. Media saat itu saling bahu-membahu. Sebuah hubungan simbiosis mutualisme.

Lalu entah kenapa, di era digital hubungan manis antar media tak lagi terjadi. Darah media, termasuk media cetak, yaitu pemasukan dari iklan semakin menurun. Mana mungkin mencari untung dari penjualan koran semata. Apalagi sifat dari tabloid olahraga yang harus rajin beranjang sana meliput pertandingan, dihiasi foto yang apik dan tulisan dengan analisis tajam, sungguh menguras kocek.

Tabloid olahraga memang berbeda dengan media cetak yang bicara soal politik. beberapa media cetak politik juga banyak yang pernah wafat. Bedanya, sebagian dari mereka wafat karena dibredel. Sebuah wafat wajib hukumnya dikarenakan berseberangan dengan “pencabut nyawa”. Justru lebih menyakitkan jika wafatnya Bola dikarenakan kondisi ekonomi. Sebuah pilihan yang harus diambil sendiri dengan -tentu saja- berpikir masak-masak, termasuk di dalamnya sumbangsih dalam sejarah perkembangan olahraga nusantara.

Maka akhirnya sudah dapat diduga. Bola menyusul banyaknya media cetak lain yang terpaksa gulung tikar. Sebelumnya “Hai” versi cetak melakukan hal yang serupa. Bagaimanapun juga, media cetak, terutama milik gramedia, begitu sensitif soal ada tidaknya laba. Sesuatu yang lumrah. Mereka sedang tidak kerja bakti menyebar selebaran propaganda. Mereka sedang ingin membentuk kelompok patembayan, bukan paguyuban.

Jika manusia mati mengharap alam nirwana, maka kemanakah media cetak mati akan berlabuh?

Puk Puk Bisa Dipupuk Atau Ditumbuk

“Beb.”

“Ya, beb?”

“Emang ada ya orang yang putus pacaran atau cerai baik-baik?”

“Ngngng … Ya mungkin ada ‘kali.”

“Tapi kalo menurut kamu, beb?”

“Ya menurut aku sih, nggak ada ya. Namanya juga putus hubungan. Sebelum pisah beneran, pasti ada penyebabnya. Bisa diem-dieman, atau malah ribut-ribut. Nah, pas diem-dieman atau ribut itu, emang baik-baik perasaannya?”

“Iya sih.”

“Atau mungkin yang dimaksud baik-baik itu, ini mungkin lho ya, pas udah selesai putus. Masih jadi temen ngobrol. Atau jadi co-parent buat anaknya. Atau masih jadi partner bisnis. Tapi itu kan ya gak langsung jadi baik-baik juga. Pas proses pisahnya, pasti ada rasa sedih, kecewa, mungkin marah, walaupun sedikit. So I still stand on my point ya, beb. Bahwa there is no such thing as pisah baik-baik.”

Noted, beb.”

“Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Mau putus?”

“Putus ama apa, eh siapa, beb? Putus harapan kelamaan jomblo? Wah, jangan dong, beb. Aku anaknya masih optimis, kok. Optimal dan klimis.”

“Optimis tapi nanyanya gitu.”

“Buat ngisi waktu di tengah macet aja, beb.”

1

“Kalo menurut kamu sendiri? Is there such a thing as pisah baik-baik?”

“Menurutku sih, iya. Oke, aku setuju pendapatmu soal ada rasa sedih dan kecewa pas itu terjadi. Cuma yang aku lihat dan alami sendiri, mungkin ini kebetulan juga, bisa kok dua orang itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan saling bicara yang tenang, agak lama, dan akhirnya sampai ke keputusan buat pisah. Memang itu jarang banget terjadi, dan ya tingkat kedewasaannya pastinya di atas rata-rata. Dan lagi-lagi karena kebetulan itu yang aku lihat dan alami sendiri di lingkungan terdekat, jadi ya I’d like to believe that.”

Point taken, beb. Bagus buat kamu masih percaya itu. To each their own encounter and experience.”

“Nah, kalo soal experience sendiri, kamu pernah nggak mengalami kangen luar biasa sama mantan pasangan?”

“Pernah lah, beb. Namanya juga mantan orang terdekat. Tiba-tiba terpaksa jadi jauh, ya ada aja bekas dia yang nempel.”

“Wah, kalau itu bekas tempelan noda pakaian akibat laundry kiloan, sudah aku protes, beb.”

“Ya kalo laundry kiloan sih, tinggal terima nasib aja, beb.”

“Asli. Emang kangennya kayak gimana, beb?”

“Hmmm. Kayak yang terakhir, deh. Aku gak kangen, or rather, gak terlalu kangen masa-masa pacaran ama dia. Apalagi pengen jadian lagi. Mungkin karena selama jadian, lumayan sering adu argumentasi. Justru kangennya over small things. Misalnya, pas lagi nonton film di bioskop. Tiba-tiba ada adegan film yang bikin, “Aduh, kangen ngobrol ama dia soal ini”. Soalnya belum ada lagi orang yang bisa diajak ngobrol tentang hal tertentu di film itu. Atau pas ke pameran di galeri dua minggu lalu. Pas ngeliat foto tertentu, tiba-tiba muncul perasaan serupa. “Duh, kangen ngobrolin soal hal ini ama dia.” Lagi-lagi karena belum ketemu orang pengganti yang bisa diajak ngobrol hal serupa.”

“Kalau udah gitu, kenapa gak kontak dia lagi, beb? Masih disimpen kan nomernya?”

“Masih. Tapi ya buat apa?”

“Buat diajak ngobrol hal-hal kecil tadi.”

9

Then what?”

Then you’ll get satisfied.”

Then what?”

Then…pasar Moon.”

“Ih, situ Maribeth?”

“Ih, situ kemakan jebakan umur.”

“Sialan. Enggak lah, beb. Waktu rasa kangen yang mendadak muncul tadi itu terjadi, aku cuma manggut-manggut sendiri sambil terus nonton film dan liat foto. Kayak acknowledge the feeling and the moment it happens aja. Trus ya udah. Gak usah dilanjutin lagi. Lagi pula, itu kan keinginan sesaat aja. A fleeting desire. Kalau kepengen banget kontak lagi, aku mikir-mikir lagi, “Is this really something that you want? Do you really need to do this?

“Kayak prinsip diet ya. Makan yang perlu aja. Kalau laper di atas jam 10 malem, cek lagi, itu laper beneran, apa haus doang.”

Exactly. Jadi mungkin ya when it comes to contacting our ex, ask again, do we need it, or do we just want it?”

I want to need it!”

“Plis. Jangan kemaruk, beib. Kemaruk bikin garuk-garuk.”

“Beb, jangan garing kayak orang lagi starving. Tapi itu beneran kamu bisa menahan gejolak untuk tidak merangkai komunikasi lagi?”

“Situ puitisnya gagal, deh. Ya harus bisa. Agak dipaksa sih. Dan setelah aku pikir-pikir, memang rasa kangen seperti itu bisa kumat dan kejadian terus kalau dari kitanya memang memupuk terus. Mulai dari denial, trus setiap hal itu dateng, dirasakan banget sampai akhirnya kangen lagi. Makanya aku gak mau kayak gitu, beb. Kalau kejadian tiba-tiba kangen datang lagi, ya udah. Biarin aja itu dateng, I acknowledge its presence, and that’s it. Dirasakan, tapi gak usah ditindak lanjuti. Gak ada follow up. Gak perlu dibawa baper, apalagi sampe kepikiran. Senyum sendiri aja. Soalnya kalo rame-rame, disangka lagi latian akting di sanggar teater.”

It takes time ya, beb, untuk bisa “legowo” seperti itu.”

“Aku nggak tahu soal “legowo” itu apa, tapi kalau itu berarti artinya sudah menerima dan melanjutkan hidup, yes, it does take time. Just like everything else in life.

“Jadi perasaan pengen dipuk-puk lagi pun bisa dienyahkan. Tergantung kita mau memupuk atau menumbuk.”

“Aku bingung, kamu ini copywriter wannabe atau demennya kata-kata berima kayak pejabat?”

“Ah, beb. Kamu aja bingung, apalagi aku.”

“Ya udah, daripada makin bingung, makan yuk.”

“Yuk.”

Membayar (untuk) Ego

TERASA sangat menyenangkan, buaian ego berhasil menaklukkan hampir semua orang. Sensasi yang disuguhkannya hampir mirip candu; membuat kita selalu ingin merasakannya lagi, dan lagi, dan bahkan lebih lagi.

Seperti yang sempat ditulis beberapa pekan lalu, ego selalu lapar agar bisa menjadi besar. Ia butuh asupan secara konsisten, dan dengan rakus melahap apa yang ada di hadapannya.

“Makanan” bagi ego adalah segala hal yang membuat kita merasa penting dan signifikan secara positif. Sesuatu yang bisa bikin bangga, atau gembira. Oleh sebab itu, permintaan terhadap pemenuhannya pun selalu tinggi. Uang menjadi sesuatu yang sangat penting, demi kebutuhan-kebutuhan pembuai ego.

Berikut beberapa di antaranya, dan ini bukan perkara benar atau salah.

  1. Ego Trip

Sudah gamblang dari nama program yang ditawarkannya. Paket perjalanan ini bukan sekadar untuk berwisata, titik beratnya justru pada foto-foto yang dijanjikan ada di akhir kegiatan.

Berlatar belakang panorama dan pemandangan yang indah, atau objek monumental dengan komposisi fotografis, para pembeli paket bisa mendapatkan sekurang-kurangnya belasan foto Instagram materials. Tujuannya tentu agar layar Instagram terlihat lebih kece dan dikagumi orang lain. Dihujani likes dan komentar pujian, untuk kemudian bikin mereka kepingin juga.

Efek sampingnya, tidak sedikit peserta paket wisata yang malah menyembunyikan informasi tentang program ini. Biar ekslusif dan tidak pasaran. Dalihnya.

 

  1. Fotografer Pribadi

Asalinya, fotografi bertujuan untuk mengabadikan sesuatu. Menghasilkan penanda dan pengingat visual yang tak lekang zaman. Fungsinya bergeser seiring waktu, menjadi penghasil cenderamata yang menampilkan keindahan objek di dalam gambar, termasuk para manusia.

Berbeda dengan pejabat publik, yang demi keterbukaan dan transparansi dituntut dapat terpantau khalayak, makin banyak orang memerlukan fotografer demi rasa senang dan pembesaran ego. Bukan lagi untuk menghasilkan kenang-kenangan sebagai tujuan utamanya.

Fotografi pranikah, menghasilkan foto-foto pelengkap dekorasi lokasi pesta—mungkin itu sebabnya tidak ada foto post-wedding, atau juga membuat pasangan mempelai merasakan sensasi bak fotomodel. Begitu pula dengan fotografi kehamilan, yang tetap saja terfokus pada penampilan sang calon ibu dengan perutnya yang sudah membesar sedemikian rupa. Terkadang juga didampingi sang suami. Sekali lagi, ini tidak salah. Setiap orang berhak difoto dalam kondisi apa saja. Misalnya, satu paket. Pre-wedding, saat pemberkatan pernikahan, saat resepsi, saat malam pertama, fotografi kehamilan, saat melahirkan, dan seterusnya. Bebas.

  1. Jual Followers dan Likes Instagram

Entah, apakah ini menjadi latar belakang penggunaan sebutan follower di ranah media sosial, atau kebetulan belaka. Pastinya, istilah follower atau pengikut punya dampak khayali yang cukup kuat sebagai efek sampingnya.

Sejak awal, sudah banyak pengguna media sosial yang terjebak ilusi merasa signifikan dan penting melalui angka pengikut. Tanpa sadar telah keliru, mereka menganggap para pengikut tersebut adalah penggemar, orang-orang yang sebegitu sukanya dengan pemikiran dan tingkah laku digital mereka.

Tak heran gelombang “folbek dong…” mustahil surut, dan banyak yang menganggapnya serius. Tidak followback di media sosial bisa memengaruhi pertemanan di dunia nyata. Sekali lagi, ini menunjukkan betapa membuai sekaligus menipunya angan-angan tentang jumlah pengikut dan kesan signifikan.

Kebutuhan akan angka pengikut ini pun ditangkap sebagai peluang bagi sekelompok orang. Mereka beternak akun yang siap menjadi followers konsumen. Harganya pun jauh dari mahal, bisa dimulai dengan seharga segelas teh susu ala Taiwan untuk penambahan seratus pengikut.

Efek dominonya, tren ini ditangkap sebagai gejala baru pemasaran digital, dan landasan penambahan fitur platform media sosial itu sendiri. Para pemilik akun media sosial berpengikut banyak digelari Selebgram, Selebtwit, sekaligus Influencer—para pemengaruh publik. Mereka memasang tarif iklan, pengiklan pun mengalokasikan bujet bagi mereka. Maka, jangan heran mengapa Awkarin menjual akun kepada … dirinya sendiri. Suka-suka dialah. Toh, tetap banyak juga followers-nya.

 

  1. Penyedia Penonton Bayaran

Khusus yang satu ini, tidak semata-mata untuk membesarkan ego penggunanya. Dalam beberapa kasus, penonton bayaran dihadirkan supaya memeriahkan suasana dan studio, sekalian agar tampak cantik di foto dan hasil siaran.

Di luar itu, kehadiran penonton bayaran tentu diperlukan penyelenggara guna mendapatkan suasana ramai bagi bos atau atasannya. Terserah apa sebutannya, penonton bayaran seringkali dikenal juga sebagai fans atau anggota komunitas pengguna merek tertentu. Praktik ini biasanya terlihat saat acara peluncuran apa pun.

  1. Pengajar Kursus Seni Sekaligus Juri

Kerap dilakukan para orang tua muda kepada anak-anaknya, umumnya dengan alasan yang mudah dibelokkan. Di satu sisi, mereka mengaku ingin memberikan pendidikan keahlian terbaik bagi putra putri mereka. Di sisi lain, mereka sendiri yang sebenarnya haus rasa bangga dan keinginan memamerkan anak-anak mereka dibanding orang lain.

Diikutkan kursus menggambar dan mewarnai, lalu memenangkan lombanya. Begitupun pada kursus musik, modeling, dan sebagainya. Apakah mereka pernah bertanya atau berusaha mencari tahu apa bidang yang sungguh-sungguh diminati oleh anak-anak mereka, sebelum menjejalinya dengan agenda yang padat?

Ada juga kasusnya, kala si anak memiliki bakat di bidang lain, tetapi dikelabui dan agak dipaksa mengikuti kursus tarik suara. Tanpa ia sadari sama sekali, suaranya sumbang. Sang pengajar, atas dorongan si orang tua, terpaksa memuji dan membesarkan hati si anak. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya si anak terhenyak dan sadar bahwa suaranya tidak sebagus yang ia kira, lewat ejekan orang. Kasihan, kan?

  1. Jasa Titip Pre-order

Bagi sebagian orang, ada kebanggaan tersendiri menjadi pemilik pertama sejumlah barang yang tidak atau belum beredar di negara atau kota sendiri. Kendati uang yang harus dikeluarkan 30-40 persen lebih tinggi dibanding banderol aslinya, mereka terkesan tidak peduli. Pokoknya harus jadi yang awal.

Sementara, tidak ada jaminan dia bakal puas dan bertahan dengan barang yang dibelinya tersebut untuk waktu lama. Termasuk di daerah (luar pulau Jawa), ketika teknologi baru sekadar dilihat dari sisi gengsi. Namun, saat produknya datang dan siap digunakan, si empunya malah kebingungan.

Beda cerita kalau yang bersangkutan membeli untuk memanfaatkan momen ekonomi, dan melihat kesempatan menjualnya pada harga lebih tinggi di kemudian hari. Itu namanya investasi.

Apple Store queue.

Foto: Business Insider

  1. Personal Trainer

Pembesaran ego bisa terjadi lewat banyak hal. Termasuk anggapan atau merasa memiliki kondisi fisik yang bagus. Demi tujuan yang satu ini, tak ayal banyak pusat kebugaran yang kebanjiran pelanggan baru. Baik yang paham dan tahu apa yang mereka inginkan, maupun yang sekadar ingin merasa sudah berolahraga, selanjutnya bisa memiliki bentuk tubuh yang rupawan.

Untuk yang satu ini, pelatih pribadi bertugas mengajari, mengawasi, memastikan semua aspek bagi kliennya. Jasanya dibayar oleh klien dengan beragam pemikiran dan pertimbangan. Ada pelanggan yang siap dikerasi, ada pula yang justru gampang tersinggung manakala dikerasi sedikit saja. Risikonya, minta ganti pelatih atau bahkan pindah gym.

Sebagai personal trainer, apa yang mesti dilakukan?

  1. Concierge

Pada dasarnya, profesi ini terbentuk sebagai wujud pelayanan tertinggi dan berkelas bagi kalangan atas. Singkat kata, apa pun yang diinginkan pasti bisa diatur dan disediakan oleh mereka. Seekstrem, sesulit, seekslusif apa pun permintaan yang disampaikan pelanggannya.

Sejauh ini—setidaknya dari informasi dan gambaran yang didapatkan—permintaan dan pelayanan terkait concierge lekat dengan kesan elegan. Bukan norak. Konsumennya pun bukan orang yang kagetan, setidaknya. Hanya saja, tingkat keruwetannya berubah drastis terhadap riche nouveau, alias Orang Kaya Baru (OKB). Turis-turis Tiongkok, contohnya.

Concierge adalah yang membantu, bukan pembantu, terlebih babu. Idealnya dianggap seperti itu.

Concierge bell.

Foto: growthinvestingresearch.com

Orang-orang kita pun bisa mengarah ke sana. Ditandai celetukan: “Ya biarin aja. Kan kita bayar juga…” Merasa penting karena sebagai pemilik uang, dan pembayar jasa layanan.

[]

What good is a heart in words?

Dear you,

Before the answer to the title above is revealed, and before the fate of this letter ends up in its disappearance from the mailbox, I hope there are some precious seconds you are willing to spare to read this through the end.

And I wonder if the request has now become some sort of soft force I make you do. If it is, you have every right to divert your eyes from this space.

As much as I have my right to continue writing this, and liking you along the way.

In fact, it has been going on for some time now, in which you may choose to acknowledge in silence, or you keep it in heart by yourself .

Either way, it gives yours truly some sort of assurance, that what is not spoken in person eventually reaches out to you. This is something I consider as a purely personal achievement.

The other achievement lies on how you have made me a complete human being just by falling for you.

In my attempt to keep you in my thought, I’ve kept thinking of you as I close my eyes for the day, and open them to start another.

Injecting you in my mind as a flickering flame has warmed me up when my bitter, cold self turns up in many circumstances.

You are present in my mind as a detractor to keep me away from things I might have done on the first place that would only harm myself.

Dear you,

I don’t need to wonder if I were ever present in your dream, let alone in your full consciousness.
The fact is, relationship begins as a selfish act when one lonely heart desperately seeks another to avoid loneliness.
The loneliness leads one to despair, often shown in cranky, twisty traits that further makes one hardly likeable.

Thus, it is fine when one shuns unfavourable person to occupy heart, albeit the mystery that always surrounds this sentence: “we cannot choose who we fall in love with.”

Yet, this is not love.

This is only me, a human being with nothing else to offer but his heart, telling you that you have made me fall for you, without wishing anything in return.

This is only me, a man thanking you for finally making me believe that, by liking you wholeheartedly, you have given life again to once heartless self.

The heart is full of life again.

And that makes a good heart worth expressing in words, for you.

Sincerely,

Yours.

Poetry

Keliru Kutip, Anti LGBTIQ, atau Jurnalisme yang Bias?

BILA mengacu pada tulisan saya sebelumnya, entah, apakah saya masih kompeten dan berhak berbicara tentang topik yang satu ini, atau sebaiknya menelan semua unek-unek dan diam saja. Pasalnya, ini tentang praktik jurnalisme arus utama (mainstream) di Indonesia, serta risiko terjadinya persepsi bias. Soalnya, saya bukan lagi seorang jurnalis, pun bukan pekerja di bidang ini.

Urusan LGBTIQ dan jurnalisme. Mulai definisi dan batasannya, spektrumnya dalam pandangan psikologi, sampai kepada orang-orang yang berkenaan dengannya, baik para pemilik preferensi seksual tersebut maupun para heteroseksual simpatisan. Barulah kemudian pemberitaan yang dilakukan berpijak pada pemahaman-pemahaman itu, demi menghindari bias dan pengarahan persepsi massa ke kekeliruan.

Tulisan ini tidak mengarahkan pada pembelaan atau penolakan LGBTIQ, atau kembali menanyakan apakah LGBTIQ itu salah atau tidak salah, beserta semua alasannya. Namun, lebih fokus pada praktik jurnalisme yang berbobot dan berwawasan, bebas bias, profesional, dan manusiawi.

Berawal dari sini.

Seorang wartawan di Balikpapan—atau barangkali Samarinda—salah mengutip pernyataan narasumbernya yang pegiat hak-hak perempuan, dan termasuk advokasi LGBTIQ. Intinya, wartawan menulis bahwa sang narasumber seolah-olah mengidentikkan praktik pedofilia dengan homoseksualitas. Padahal, tidak.

Meskipun akhirnya diralat, kesalahan pengutipan ini tetaplah sesuatu yang tak sepantasnya terjadi dalam praktik jurnalisme. Baik secara tidak sengaja—karena tidak teliti membaca, menyimpulkan dengan asumsi, keliru konteks, atau memang minim referensi—apalagi kalau disengaja, dan melibatkan peran redaktur sebagai penyunting isi sebelum publikasi.

Kesalahan pengutipan adalah satu hal. Sedangkan isi artikel berita itu sendiri—sinyalemen bahwa homoseksualitas harus ditindak hukum supaya menghindarkan terjadinya pedofilia; yang secara tak langsung membentuk asumsi bahwa pedofilia selalu dilakukan oleh homoseksual—tentunya merupakan hal yang berbeda. Semestinya dibahas terpisah.

Salah Kutip

Pengumpulan dan pengolahan data, hingga penyajiannya dalam bentuk berita berada di aspek teknis. Bisa dilatih, ditingkatkan, dan dipertajam sampai membentuk karakter individu yang khas. Demi menghindari kesalahan kontekstual, para pewarta pun menggunakan notes dan perekam yang dipegang olehnya sendiri. Dalam kasus di atas, syukurnya wawancara tercatat oleh kedua belah pihak lewat percakapan digital. Narasumber bisa menunjukkan pesan yang ia sampaikan di awal, di sebelah hasil tulisan. Lazimnya, si pewarta harus disanksi, dan untuk kembali belajar kemampuan dasar jurnalistik. Redakturnya pun bisa ditegur, agar lebih mendalami tulisan dan poin yang disampaikan, tak sekadar memperbaiki tipo dan tata bahasa.

Asumsi Tindak Pedofilia

Di sisi lain, berkenaan dengan konten yang disampaikan dalam berita itu sendiri. Artikel di atas membicarakan tentang kejahatan seksual dan prosedur hukum sebagai alternatif penanganannya, tetapi menempatkan pedofilia dan homoseksualitas sama-sama sebagai tindak kriminal.

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang konservatif, tidak ada yang keliru dengan kalimat di atas. Pedofilia dan homoseksualitas beserta seluruh komponen LGBTIQ ialah kesalahan, jadi seharusnya ditindak. Titik. Sentimen ini menjadi opini populer, diiyakan oleh banyak orang melalui beragam sudut pandang. Terutama narasi agama. Berita keliru kutip di atas pun tetap dapat diterima oleh mayoritas pembacanya dengan baik, tanpa kritik maupun penolakan.

Selebihnya, setiap pendapat yang berseberangan pun akan dianggap sama salahnya; “Pokoknya, kalau kamu tidak anti dan menolak LGBT, berarti kamu mendukung mereka, dan jadi bagian dari mereka.” Dengan tulisan ini, misalnya, bisa saja Linimasa dianggap sebagai blog yang mendukung aktif LGBTIQ. Saya pun mungkin dikira atau diduga seorang homoseksual. Pandangan monokromatik semata.

Dari kasus di atas, tentu akan lebih mengkhawatirkan apabila artikel di atas ternyata dihasilkan oleh pewarta dan redaktur yang berpandangan konservatif, termasuk dalam kelompok masyarakat yang mengelompokkan pedofilia dan homoseksualitas di “kotak” yang sama: kejahatan.

Tak menutup kemungkinan, si pewarta dan redaktur sama-sama beranggapan bahwa sang narasumber—seorang tokoh publik—pasti sependapat dengan mereka dan anggapan kebanyakan orang. Sehingga mereka salah membaca pesan di WhatsApp, serta menganggap ketidakcocokan tadi hanya salah ketik. Atas dugaan ini, wajib dipastikan langsung kepada si pewarta dan redakturnya.

Namanya juga jurnalistik arus utama, yang salah satu prinsipnya adalah fakta serta kondisi apa adanya dengan mempertimbangkan banyak aspek. Contohnya, pedofilia termasuk kriminalitas berupa aksi seksual terhadap anak kecil, dan telah tertera dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Sementara homoseksualitas tidak tergolong kejahatan pidana. Sejijik atau setidak suka apa pun si wartawan dan redaktur atas realitas hukum ini, tidak sepatutnya ditumpahkan dalam produk berita mainstream.

Lain halnya jika artikel tersebut dimuat dalam media komunitas, terafiliasi pada agama tertentu, atau pun mengusung tujuan khusus, dan secara terbuka menyatakan sikap menolak LGBTIQ. Contohnya, mustahil bagi penyusun buletin mingguan di gereja, atau redaksi mading di universitas Islam menyuguhkan berita legalisasi pernikahan homoseksual di Taiwan baru-baru ini. Kalaupun dimuat, akan cenderung dibarengi kecaman dan ancaman keagamaan.

Begitu pula gejalanya kala membahas soal agama.

Fish Huang and You Yating, first lesbian couple in Buddhism matrimony.

Fish Huang dan You Yating, pasangan lesbian pertama di Taiwan yang menikah secara Buddhis. Foto: buddha.by

Lalu, apa yang sepatutnya dilakukan guna mencapai praktik jurnalisme bebas bias tentang topik ini?

  • Dimulai Dari Atas

Pola kerja dan arahan kepada pewarta maupun redaktur berasal dari pemimpin redaksi, serta dewan senior yang ada di belakangnya. Setiap perusahaan pers dan manajemennya berhak menentukan posisinya terhadap isu LGBTIQ, baik ditinjau dari sisi bisnis maupun idealisme yang diusung.

Berlabel media massa umum dan mainstream, idealnya berlakulah netral dan berupaya menjunjung tinggi profesionalisme dan kemanusiaan. Setidaknya sampai ada pernyataan resmi bahwa perusahaan tersebut anti LGBTIQ. Agak percuma memiliki reporter dan editor yang netral terhadap hal tersebut, bila atasannya bertentangan.

Di manakah posisi Dewan Pers, dan organisasi-organisasi wartawan yang ada? Sejauh ini, Dewan Pers mensyaratkan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagai standar profesi. Hanya saja tidak terlalu spesifik, dan selanjutnya bergantung pada kapasitas individu.

  • Pemetaan Personel

Pendapat mengenai LGBTIQ masuk di ranah pribadi. Setiap orang berhak menentukan posisinya masing-masing: mendukung, simpatik, netral, menolak, benci. Berkaitan dengan mata pencarian, pemecatan atau dorongan untuk mengundurkan diri terasa kurang elok.

Makanya, akan lebih baik apabila para pemimpin redaksi mengetahui posisi personel-personelnya, dan terhindar dari produk berita berpolemik akibat menugasi orang yang kurang tepat. Lebih baik ditanya langsung, tak perlulah mengintai akun media sosialnya.

  • Bimbingan dan Panduan

Perihal LGBTIQ bersifat majemuk. Tak hanya sudut pandang agama, mesti pula memerhatikan ilmu kedokteran, psikiatri, psikologi modern, sosiologi, kriminologi, politik, dan berbagai disiplin ilmu lain saat membahasnya.

Pekerja pers pun berasal dari beragam latar belakang dan kadar pemahaman, sehingga wajar memerlukan pengenalan, dan sosialisasi dari para ahlinya. Bisa pula berlanjut pada proses bertukar pikiran dan berdiskusi untuk berusaha saling memahami, bukan untuk memengaruhi, atau mengelabui. Wartawan harus tahu lebih banyak, sebab dari tangan merekalah informasi menjangkau khalayak.

Tak ada salahnya menyusun panduan peliputan dan pemberitaan tema-tema terkait LGBTIQ. Bukan dijadikan tambahan peraturan, melainkan bahan pengaya hasil warta. Biar makin tahu, dan tidak terperosok dalam kekeliruan berdampak masif. Baik di Jakarta, markasnya media-media massa berprivilese nasional, terlebih lagi di daerah. Ya… seperti contoh kasus di atas tadi.

[]