Kecil

Setiap kali saya absen lama dari menulis di Linimasa, maka saya akan mengambil langkah kecil lagi, mulai dari awal lagi, untuk pelan-pelan bisa menulis lagi.

Seperti yang sedang saya lakukan sekarang. Menulis hal-hal kecil yang mengingatkan saya, apa yang bisa saya tulis di sini.

Sebenarnya, kalau saya ingat-ingat lagi, sebagian besar tulisan saya di LInimasa ini, tidak jauh dari persoalan hal-hal kecil dalam hidup.

Kadang kala saya menulis tentang hal-hal kecil yang saya temui sehari-hari, percakapan-percakapan kecil yang bisa berlarut-larut, sapaan-sapaan kecil yang membekas dalam memori. Entah kenapa, hal-hal kecil yang acap kali luput dari perhatian, selalu punya kesempatan untuk menyeruak ke permukaan ingatan, dan sering kali bersemayam dalam jangka waktu yang cukup lama.

Terus terang, selama beberapa minggu terakhir, bahkan beberapa bulan terakhir, saya bingung, harus menulis apa di Linimasa ini.

Pantaskah menulis soal hal-hal kecil, sementara saat ini seluruh dunia dan penduduknya sedang berjibaku menghadapi masalah besar. Sangat besar, malah.

Kita seperti hidup dalam perang, menghadapi musuh yang tak terlihat, yang bisa merasuki tubuh, lalu jiwa, dan bisa berkamuflase menjadi sosok yang tidak kita kenali lagi.

Kalau sudah begitu, maka yang saya ingat adalah hal-hal kecil mengenai sosok yang saya kenal di masa lampau.

Beberapa waktu lalu, saya tidak luput dari serangan berita duka bertubi-tubi. Belum sempat meratapi kepergian seseorang, ada berita duka lain hadir beberapa jam kemudian. Ini berlangsung berhari-hari.

Yang saya lakukan saat mendengar berita-berita ini adalah menghela napas dalam-dalam. Setelah beberapa detik mencerna, baru saya tulis ucapan bela sungkawa. Lalu saya diam kembali. Menyebarkan berita ke beberapa orang saja, kalau memang ada yang kenal.

Lalu saya kembali hanyut dalam memori, mengenang hal-hal kecil yang pernah saya lakukan dengan orang-orang yang telah berpulang meninggalkan kita terlebih dulu.

Ada yang pernah sengaja tidak membangunkan saya saat saya tidak sengaja tertidur saat menonton film India. Lalu saat saya tanya, dia menceritakan semua adegan yang saya lewatkan dengan detil, tanpa kehilangan satu adegan penting sama sekali.

Ada yang pernah selalu bertanya, “Tahun ini, elo bakal muter film apa aja, nih? Bagi duluan dong!” Sambil tertawa, tentu saja dia bercanda. Saat saya bilang kalau saya tidak bisa memberi tahu isi pekerjaan saya terlebih dahulu, dia tetap datang di hampir semua acara saya, sambil tidak segan-segan menarik saya di tengah kesibukan, agar mau mendengar komentar dia soal film yang dia baru tonton.

Ada yang pernah dengan rajin memberi saya rekomendasi buku untuk dibaca, sementara saya selalu menunda, “Iya, iya, nanti gue cari”. Saat saya akhirnya menemukan buku-buku rekomendasinya dan selesai membacanya, diam-diam saya menitikkan air mata, teringat bahwa dia pernah memberikan rekomendasi buku-buku tersebut, namun saya tidak bisa lagi berkata langsung, “Terima kasih, ya!”

Hal-hal kecil yang kita lakukan bersama orang lain adalah kenangan yang selalu ada dalam ingatan. Bukan berarti kita selalu ingat terus. Mungkin kita akan lupa pada satu titik masa. Lalu tanpa kita bisa kuasai, memori itu akan muncul kembali, sering kali hadirnya secara tiba-tiba. Di saat itulah, kadang kita hanya bisa menangis sambil tersenyum. 

We cry for the loss, but we smile because it happened. And we’re better for it.

Tadi sore di grup kami, Dragono mengingatkan bahwa minggu depan adalah ulang tahun Linimasa. Saya cuma terkikik, mengingat saya sudah lama tidak menulis di sini.

Setelah melalui rangkaian meetings, ada sekadar keinginan untuk menorehkan beberapa kata di sini. Mengingat kembali, hal-hal kecil apa yang membuat saya betah di sini. Merencanakan sekadarnya, hal-hal kecil apa yang mungkin nanti bisa dibagi.

Hal-hal kecil yang membuat kita hidup, let’s live for that.

(source: lebanoninapicture.com)

2 thoughts on “Kecil

Leave a Reply