Yang Selalu Bikin Bingung Setiap Imlek

ADA berbagai sebutan untuk setiap orang dalam silsilah keluarga (besar) Tionghoa. Mulai dari panggilan untuk sepupunya buyut, sampai adik dari menantu cucu! Sebutannya pun beraneka ragam sesuai sub suku dan asal desa di Tiongkok sana.

Tentu tak perlu menghafal semuanya. Cukup tahu sesuai kondisi keluarga masing-masing saja, yang penting tidak sampai ketuker atau salah panggil.

Meskipun demikian, tetap ada waktu-waktu tertentu ketika generasi muda Tionghoa Indonesia kebingungan dibuatnya. Seperti pada momen Tahun Baru Imlek, saat semua anggota keluarga berkumpul dan saling menyambung silaturahmi. Ironisnya, enggak sedikit generasi orang tua mereka yang juga sama-sama lupa. Alhasil, yang tersisa adalah panggilan “om”, “tante”, “oma”, dan “opa” saja biar enggak ribet.

Contohnya yang di-tweet salah satu teman beberapa hari lalu.

Sekalian baca replies dan mentions-nya deh. 😀

Fenomena ini bukan ancaman sih, ya… semata-mata karena ada kesenjangan budaya dan basically memusingkan saja. Padahal, seru lho… Berasa kayak permainan “Memorize It”, yang mengharuskan kita untuk mencocokkan dua kartu dengan gambar yang sama. Tidak ingat nama itu wajar-wajar saja, yang penting jangan sampai lupa dengan keluarga.

Untuk versi sederhananya, saya sudah buatkan coret-coretan ala kadarnya begini.

struktur-organisasi

 

FAQs

  1. Bagaimana cara membacanya?
    Bagan di atas dibuat berdasarkan perspektif kita sebagai orang pertama. Semua panggilan hanya berlaku bagi kita dan para saudara kandung saja.
  2. Memang harus dibagi dari garis ayah dan ibu ya?
    Sederhananya, pembedaan penyebutan bertujuan agar lebih detail saja. Selain itu tradisi Tionghoa bersifat patrilineal; marga diturunkan dari ayah. Sehingga secara tidak langsung aspek-aspeknya ikut menyesuaikan.
  3. Kok panggilannya banyak?
    Satu posisi hanya punya satu panggilan. Varian yang ditampilkan di atas adalah panggilan-panggilan yang lazim digunakan warga Tionghoa di Indonesia dari berbagai suku (Hokkian, Hokchia, Khonghu/Cantonese, Khe, Tiochiu, dan sebagainya).
  4. Bagaimana cara melafalkannya?
    Semua panggilan di atas tidak ditulis berdasarkan standar Pinyin internasional, dan bisa dilafalkan sesuai bacaan lidah Indonesia.
  5. Kok ada beberapa panggilan yang enggak sesuai dengan standar Mandarin internasional?
    Kembali ke jawaban nomor 2.
  6. Kalau jumlah kakak atau adik lebih dari dua, gimana nyebutnya?
    Warga Tionghoa biasa membedakan penyebutan per angkatan dengan menambahkan istilah “yang tertua” dan angka sesuai dialek masing-masing.
    Misal: mama punya tiga kakak cowok. Kakak tertua akan kita panggil “Toa-kiu” (大舅; 大: besar, tertua), istrinya pun dipanggil “Toa-kim/Toa-king” (大妗). Kakak kedua bisa dipanggil “Ji-kiu/Er-kiu” (二舅; 二=2), istrinya dipanggil “Ji-kim/Er-kim”. Kakak ketiga dipanggil “Sa-kiu/Sa-ku” (三舅; 三=3), dan istrinya dipanggil “Sa-kim” persis seperti contoh tweet di atas.
    Selain angka, bisa juga menggunakan nama panggilan untuk membedakan satu dengan yang lain. Bisa diambil dari nama Tionghoa maupun nama Indonesia/internasional, dan ditempatkan setelah sebutan kedudukan.
    Misal: “Koko Aming“, “Cie-cie/Cece Stefanny“, “Apak Ahong“, “Shu-shu Jeremy“, dan lain-lain.
  7. Kalau salah panggil atau ketuker, ada hukumannya ya?
    Enggak ada sih. Paling-paling kamu bakal dapat kuliah singkat mengenai silsilah keluargamu. Si ini anaknya siapa; si itu pamannya si ono; yang ini sepupunya yang itu; dan seterusnya. Kalau kamu betah dengar yang begituan, ya silakan saja.
  8. Kok enggak ada daftar panggilan untuk angkatan keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya?
    Kepanjangan! Lagipula ini kan konteksnya Tahun Baru Imlek. Keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya itu enggak bisa kasih angpau. Jadi, nanti-nanti aja lah.
  9. Kok enggak boleh kasih angpau?
    Pertama, mereka adalah generasi di bawah kita. Kedua, mereka juga belum menikah. Ketiga, kalau mau kasih ya kasih aja, tapi bukan angpau namanya. Hadiah, santunan, atau sumbangan!
  10. Kok panggilan kakek dan nenek buyut dari ayah dan ibu sama?
    Meneketehe! Di Tiongkok sana sih ada perbedaan penyebutannya ya, tapi kalau di Indonesia umumnya cuma pakai dua panggilan sampai sejauh ini. Pokoknya sama-sama buyut aja. Terus, mau tanya apa lagi?!

Punya panggilan lain selain yang disebutkan di atas, atau ada yang keliru? Boleh bagi dong, biar ditambahkan atau dikoreksi. Terima kasih.

Anyway, Happy Chinese New Year! 🙂

[]

Posted in: @linimasa

10 thoughts on “Yang Selalu Bikin Bingung Setiap Imlek Leave a comment

  1. Saudara cewe mama bukannya dipanggil yi-yi/a-yi ya? Kalau yi-ma di keluarga saya biasanya untuk saudara cewe nenek. Lalu buyut cewe = co-ma, serunga lagi kalo sembahyang leluhur ada panggilan thai co kong+thai co ma untuk ortunya buyut/kakek buyut. Sayangnya tradisi sekarang sudah mulai luntur diganti jadi uncle/aunty 😞

    1. Pada intinya sih semua saudara mama disebut “yi”, tapi biasanya ada yg membedakan mana “yi-yi” yg lebih tua dan lebih muda dari mama. Naaah, tulisan “ma” yg digunakan untuk kakaknya mama dan kakaknya Amah itu berbeda, saya membedakannya dengan “ma” (媽) dan “mah” (嬤). Hahaha…

      Soal buyut, sama-sama identik dengan “co”, dan kalau orang tuanya buyut dipanggil “thai kongco”. Kebolak-balik doang. Tergantung tradisi masing-masing keluarga/sub suku.

  2. Additionally, kalo dari pihak sepupu ayah/ibu, masih dibedakan yang dari saudara perempuan atau saudara laki-laki dengan kakek sehingga akan ditambahkan 堂 atau 表

  3. Buyut bapak dan ibu juga beda. Kalo dari pihak ibu ketambahan 外(wai) karena nama keluarganya tidak sama. Ibu dari kakek dari pihak ibu jadi 外大妈

    1. Iya, bener banget, standar internasionalnya juga begitu. Sayangnya, belum pernah dengar Tionghoa Indonesia pakai sebutan itu. Mungkin saking jarangnya. 😀

      …dan tentang sepupu (biao dan tang), itu masih populer di Indonesia. Terutama yang dari luar Jakarta, atau kota besar pulau Jawa.

Leave a Reply