Peluru

gambar-tahapan-perkembangan-janin

 

“Kalau dilahirkan kembali, kamu mau jadi siapa?”

“Kecoa!”

“Kenapa kecoa?”

“Kalau kamu?”

“Eh, bentar, jawab pertanyaanku dulu. Kenapa kecoa?”

“Hmm kenapa ya… Oh gini, karena kecoa ada-“

Jawaban dia sudah ndak aku perhatikan lagi. Aku ingat kamu. Tomi baik. Pintar. Selalu ada saat aku butuh teman ngobrol. Ndak pelit. Tapi aku terlalu sayang kamu.

“… Jadi kamu mau jadi apa, Fan? Wey, Fan? FAAAAAN?”

“Peluru. Aku mau jadi peluru. Sekali berlari. Lalu mati bersama.”

Entah mengapa tiba-tiba aku menjawab peluru. Aku sedang ingat kamu. Aku ingin loncat dari kantin ini. Sekuat tenaga. Loncat  setinggi mungkin. Melewati pohon. Terus menuju langit. Melewati sekawanan burung. Terus menuju angkasa. Patokannya cukup satu. Kalau sudah lihat awan di bawahku, aku akan membalikkan badan dan berharap pada gravitasi.

Wajah di depanku tertawa dan sibuk mengepulkan asap. Tapi aku ingat kamu. Sering mengepulkan asap juga. Namun jarang sekali melihat kamu tertawa.

“Eh bentar, aku mau cari colokan dulu Fan. Bentar-bentar.”

Aku mengangguk. Tapi ingat kamu. Aku membayangkan meluncur deras dari langit. Dengan nafas memburu. Mencari kamu dalam hitungan detik. Mencari ubun-ubun kamu. Melihat hitam rambut dan lekuk tubuh yang semuanya telah kupetakan.

Mataku terasa pedih. Kupejamkan mata. Sudah tak penting lagi titik koordinat mana aku mesti mendarat. Aku bagai rudal yang mencari titik panas pesawat musuh. Aku bagai peluru yang telah melesat menuju sasaran. Aku meluncur deras. Kupercayakan seluruhnya pada bumi untuk menarikku menuju kamu.

Aku mencoba berhitung. Berapa lama lagi aku menghantam kamu. Semenit lagikah? Atau kurang dari 20 detik? 10 detik? 9.. 8.. 7.. 6.. 5-

BUK!

Kepalaku pecah menabrak dadamu. Kamu terpental bersamaku. Menabrak tembok. Menghancurkan meja-meja dan perabotan di atasnya. Eh Bukan!

Aku menabrak kamu di ruang perpustakaan yang sunyi di malam hari. Dengan sinar lampu temaram di atas buku. Aku menabrak kamu dari belakang dan kamu terjerembab menabrak meja, setumpuk buku, hingga jatuh tersungkur di antara lorong almari. Tabrakannya tidak terlalu parah. Kepalaku tidak jadi pecah. Kamu tidak jadi mati.

Eh ralat lagi. Aku jatuh saja dan masih bisa memelukmu. Dari belakang. Di perpustakaan. Kubuka kacamatamu. Kucium bau rambut kamu. Kulonggarkan kerah baju dan kuciumi leher kamu hingga puas.

Lalu menuju telinga dan berkata:

Aku aborsi dua bulan lalu. Kamu tak perlu lari.

 

 

 

 

 

Jakarta, 1 Oktober 2016

 

 

 

 

Iklan

7 thoughts on “Peluru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s