Merayakan Kematian

DEATH is indeed exhaustive and contemplative, especially for the living.

Sudah merupakan anggapan umum bahwa kematian adalah sebuah kemalangan yang mahabesar. Musibah dan malapetaka bagi manusia. Namun pada dasarnya, kemalangan bagi siapa? Yang meninggal? Yang ditinggalkan? Atau keduanya?

Menurut saya, hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaan ini secara tuntas dan menyeluruh. Waktu, penanda imajiner yang akhirnya mengantarkan setiap orang kepada pengalaman pribadi. Menjadi yang ditinggalkan, maupun yang meninggalkan.

Sebagai seseorang yang masih hidup sampai saat ini, jawaban yang saya peroleh baru separuhnya, atau barangkali kurang daripada itu. Sebab sejauh ini, saya hanya pernah merasa ditinggalkan dan menangani kematian–untungnya, meski ketika itu tengah tenggelam dalam kesedihan yang meletihkan.

Tumbuh besar dalam lingkungan yang cukup religius, membuat saya dikelilingi dan dituntun informasi-informasi keagamaan ihwal kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Hanya saja, saya belum mati. Belum bisa memberi konfirmasi atau validasi atas informasi-informasi tersebut. Andaikata konsep rebirth atau kelahiran kembali memang benar-benar terjadi, saya juga tidak ingat pengalaman kematian sebelumnya barang sedikit pun. Dengan demikian, belum ada yang bisa saya iyakan.

Tapi ya gitu… Kematian justru kerap terasa menyakitkan dan melelahkan bagi yang masih hidup. Sedangkan bagi mendiang? Entahlah.

Menyakitkan, lantaran ada kesedihan dan ketidakikhlasan yang sulit dihapuskan.

Melelahkan, lantaran menguras tenaga dan perhatian dalam rentang waktu tertentu. Mulai menjelang ajal, hingga rampungnya prosesi pemulasaraan. Itu pun belum menghitung masa berkabung secara budaya, maupun dorongan dari hati sendiri.

Sebagai contoh, seperti yang saya jalani tadi pagi. Yakni puncak pemulasaraan mendiang Apak (abangnya papa), dengan menaburkan abu kremasinya di salah satu muara Sungai Mahakam. Ada perasaan ganjil yang muncul setelahnya. Semacam gabungan antara rasa sedih yang tersisa dari tiga hari belakangan (sejak meninggal pada Sabtu subuh, hingga dikremasi pada Selasa siang) dan kelegaan.

  • Lega karena Apak sudah terbebas dari penderitaan fisiknya;
  • Lega karena kami telah menjalankan amanatnya untuk dikremasi;
  • Lega karena kami telah melakukan pemuliaan jenazah dengan metode yang paling fungsional, efektif dan efisien untuk anak cucunya di masa depan, serta didasarkan pada tradisi budaya dan agama, walaupun campur baur;
  • Lega karena kami tidak lagi harus begadang di rumah duka;
  • Lega karena ternyata semuanya begitu dimudahkan dan dilancarkan.
  • Pastinya lewat kejadian ini, kembali teringat dengan permintaan papa (kepada saya, adik, dan mama) sejak beberapa tahun lalu, bahwa papa ingin dikremasi sepeninggalnya nanti.
image
Tabur abu kremasi, tadi pagi.

Agak berasa mirip rekreasi sih. 🙂

image
Lokasi tabur abu, perjalanan dengan kapal mesin hampir 1 jam dari Pelabuhan Samarinda.
Di satu sisi, agak kurang ajar bila anak-anaknya langsung mengiyakan, seakan siap menyongsong terjadinya momen tersebut. Di sisi lain, ini adalah permintaan yang harus dihormati dan memang berdasar. Hanya saja mama langsung panik dan menolak dengan lantang. Selain karena mama adalah seorang Kristen konservatif (berbeda agama dengan papa, dan saya) yang tidak mempercayai metode lain selain pemakaman/penguburan, ia mengaku ngeri membayangkan tubuh manusia, harus dilumat api.

Pokoknya kalau mati aku mau dibakar aja, kamu-kamu orang (anak-anaknya) enggak perlu repot sembahyang apa segala,” kata papa waktu itu, kurang lebih.

(sepertinya mulai poin ini dan berikutnya, akan terdengar terlalu personal dan T.M.I, dan lebih cocok untuk ditulis di blog pribadi saya saja…)

Semoga orang tua, keluarga, kerabat, sahabat, teman, dan orang-orang terkasih di lingkungan saya dan Anda, bisa selalu sehat serta panjang umur dalam hidup yang bahagia.

Lanjut bicara soal pemulasaraan jenazah, tentu tidak terlepas dari tata cara agama maupun budaya. Bagaimana agama maupun budaya tersebut menyikapi tubuh tak bernyawa, dan perlakuan setelahnya, baik secara social maupun spiritual.

Dalam pandangan agama tertentu, kremasi atau pembakaran jenazah bisa jadi dianggap biadab dan menyalahi ketentuan. Akan tetapi tak bisa dimungkiri, menurut perspektif lain cara itu justru salah satu yang paling ideal.

Saya hanya akan membagi perspektif dalam Buddhisme, lagi-lagi. Biar etis.

Buddhisme menempatkan tubuh hanya sebagai wahana, media, atau “kendaraan” untuk menjalankan mekanisme alamiah kehidupan. Mulai dari pembentukan embrio sampai pembusukan jasad. Karena itu, jenazah bisa dibilang cuma seonggok daging yang berhenti tumbuh atau mengalami pembaruan hayati.

Tindakan hormat terhadap jenazah tersebut lebih kepada menghargai siapa si empunya tubuh itu sebelumnya. Setelah meninggal, dia pun akan melanjutkan mekanisme alamiah yang berlaku. Disebut dengan kelahiran kembali (bukan reinkarnasi roh) sesuai kamma/karma. Lalu, jenazah itu pun ditangani dengan asas efektivitas dan efisiensi, melalui metode yang fungsional.

Kremasi adalah penanganan jenazah dengan unsur api. Dinilai mudah dan simpel, tidak memberatkan sanak keluarga yang ditinggalkan. Selebihnya, masih ada tiga unsur lainnya: air, tanah, dan udara.

Apak saya sendiri bukan seorang Buddhis yang taat, lebih mendekati penganut kepercayaan tradisional Tionghoa. Sehingga pemulasaraan yang dilakukan atas (jasad)-nya merupakan hybrid. Gabungan antara tradisi Tionghoa yang tidak berakhir dengan pemakaman. Abu kremasi bisa ditabur di laut, atau disimpan di penitipan dengan biaya sewa tahunan seperti yang dilakukan di kelenteng-kelenteng maupun di negara-negara Asia lainnya. Sebelum dikremasi pun, ada ritual “minta izin” di altar bertuliskan 火神 (Dewa Api), entah siapa pun itu dalam kepercayaan Tionghoa.

(Catatan: sisa bara api bukan dari kremasi Apak.)

Menurut saya, apabila penanganan dengan api yang ditabur ke laut adalah yang paling efisien, penanganan unsur udara adalah yang paling bermanfaat praktis.

Tanah

Bisa ditebak, penanganan dengan unsur ini berarti penguburan. Sah-sah saja bila jenazah seorang Buddhis dimakamkan. Konsekuensinya, harus ada ruang tanah yang disediakan, dan kesediaan untuk merawat penanda tersebut secara berkelanjutan.

Air

Perlakuan ini jamak dilakukan para pelaut. Ketika tidak ada lahan untuk pemakaman maupun api untuk pembakaran, jenazah bisa ditenggelamkan ke laut. Mengalami pembusukan dalam air, atau dagingnya dimakan binatang laut. Ziarah bisa dilakukan dengan nyekar ke laut, di mana saja karena samudera saling terhubung satu sama lain.

Udara

Pernah dengar istilah Sky Burial di Tibet? Foto-fotonya sering dicomot setahunan kemarin, dan disalahgunakan untuk memancing kemarahan sekelompok orang lantaran gambaran yang mengerikan. Menampilkan potongan-potongan tubuh telanjang manusia.

Sky Burial atau Pemakaman Langit umumnya dijalankan di Tibet dan negara-negara Buddhis di pegunungan tinggi. Tidak ada sungai yang dalam, tidak bersebelahan dengan laut, tanahnya keras dan sulit dicangkul, dingin dan gampang membeku, minimnya kayu bakar dalam jumlah banyak.

Cara mereka memperlakukan jenazah ada dua: Sky Burial dan pengawetan. Sky Burial untuk jasad orang-orang biasa, sedangkan pengawetan hingga menjadi mumi khusus untuk jasad orang istimewa yang tidak banyak jumlahnya.

Mengapa disebut Sky Burial? Sebab tubuh almarhum “dimakamkan” di perut burung pemakan bangkai. Ya! Dimakan burung pemakan bangkai. Tubuh dipotong menjadi beberapa bagian, disebar di bukit khusus untuk dipatuk burung sampai hanya menyisakan tulang belulang.

Sekali lagi, jenazah adalah bangkai manusia, yang karena kondisi alam tidak memungkinkan untuk penguburan, penenggelaman, dan pembakaran (kecuali kalau membangun krematorium khusus).

Batu-batu bertuliskan mantra dalam aksara Tibet, menandai (entah) sisa Sky Burial atau lokasinya. Sumber: nomadasaurus.com
Jangan ngeri dulu. Konsep yang sama dengan Sky Burial adalah donasi tubuh. Manfaatnya malah dirasakan oleh manusia dan kemanusiaan (lewat studi kedokteran, dan sebagainya). Adalah sebuah kemuliaan bagi seseorang yang mendonorkan/menyedekahkan semua organ tubuh, termasuk badannya untuk bedah mayat mahasiswa kedokteran. Kendatipun dalam perspektif agama tertentu, kondisi ini menghilangkan kemuliaan jasad tersebut.

Bila papa saya minta dikremasi, bisa jadi saya nanti pengin jadi donasi.

Kematian tak lagi begitu mengerikan.

Menjadi momen yang patut dirayakan.

[]

6 thoughts on “Merayakan Kematian Leave a comment

  1. Pingback: LINIMASAMati
    1. Satu ilustrasi yg cukup berkesan bagi saya, ketika kesadaran seseorang di masa ajalnya seperti sinyal listrik di ujung simpul saraf, untuk kemudian menghilang dan entah muncul lagi di mana.

  2. Saya kepingin dikremasi setelah meninggal nanti, tapi belum tahu mungkin atau tidak. Sepertinya keluarga akan lebih memilih mengikuti tradisi ketimbang jadi bahan omongan lingkungan.

    Disitu saya merasa sedih.

Leave a Reply