Makanan dan Akal Sehat

Beberapa hari yang lalu saya makan di tengah-tengah restoran. Benar-benar di tengah. Karena posisi ini saya bisa melihat dengan jelas seluruh aktivitas restoran. Keluarga yang sibuk mencari tempat duduk yang dianggap paling nyaman, anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Seorang nenek yang ternganga dengan daftar harga,  sekumpulan anak muda yang selfie, dan wajah-wajah cemas pelayan restoran.

Persis di meja saya masih tergeletak sepiring nasi dengan beberapa gumpalan tisu diatasnya. Juga tulang-belulang ayam. Sobekan saos kemasan. Di sebelahnya sepotong kue yang hampir masih utuh dan secangkir air.


Beberapa saat sebelumnya saya menyaksikan pelayan restoran yang terpaksa mengambil beberapa nampan piring kotor dengan banyak sisa makanan. Saya perhatikan, sisa makanan tersebut dibuang dalam tong khusus, dan kemudian piringnya diletakkan dalam rak  yang nantinya akan dibawa oleh petugas lain untuk dibersihkan.

Dalam laporan National Geographic pada edisi bulan apa (saya lupa), yang jelas tahun lalu, rumah tangga di Amerika rata-rata hanya memakan 60% makanan yang disajikan. Sisanya terbuang tak sempat termakan. Sajian steak rata-rata bersisa 20%. Penganan dari buah labu bahkan hanya dikonsumsi 30%. Acar, selada, dan makanan bermuatan sayur bersisa 40%. Dan berdasarkan perhitungan NG, sisa makanan rumah tangga Amerika sanggup memberi makan  beberapa juta keluarga negara dunia ketiga.

Di sisi lain, Jonathan Safran Foer dalam salah satu bukunya, Eating Animals, menulis bahwa pemanasan global jauh lebih disebabkan oleh industri makanan. Terutama peternakan. Dalam salah satu sub bab buku tersebut, Safran menceritakan satu-satunya peternak kalkun yang secara alami masih ada di Amerika. Kalkun yang masih bisa terbang dan hinggap di atas genting. Yang saat salju menumpuk di ladang masih dapat berlarian. Berlari kesana-kemari. Kalkun satu-satunya yang benar-benar diterbakkan di alam bebas. Tanpa kandang dan suntik hormon.

Menurut peternak itu, kalkun yang disantap di rumah tangga keluarga Amerika adalah kalkun yang bahkan berjalan pun tak kuasa. Setiap hari diberi makan dalam kandang dan disuntik dengan berbagai macam ramuan. Daging yang gemuk namun bukan daging yang berasal dari otot-otot kalkun yang kuat.

Begitupun dengan industri ayam pedaging. Bagaimana diceritakan, demi kebutuhan daging, ayam-ayam dipelihara tidak lebih dari 3 bulan. Ayam yang tidak pernah keluar kandang. Makan, makan dan makan. Lalu dipotong. Tentu saja gemuk dengan rangsangan hormon tertentu. Ayam pedaging tentu saja berbeda dengan ayam petelur. Dimana ayam petelur tak lagi membutuhkan ayam pejantan. Ayam betina yang dipaksa bertelur setiap hari. Dengan porsi makan yang dipaksakan. Sama-sama ayam, namun berbeda dosis suntikan. Ayam pedaging dan petelur.

Ada sesuatu yang jomplang disini. Di satu sisi, demi kebutuhan konsumen, industri peternakan menghalalkan segala cara demi quota kebutuhan daging.  Namun di sisi lain para anggota keluarga dengan seenaknya banyak menyisakan makan malam mereka.

Lihat saja di KFC, berapa banyak daging yang masih menempel dan berapa banyak sisa saos yang dihamburkan. Lihat saja di IKEA, berapa banyak butir bakso terbuang. Lihat saja kedai penjual burjo. Lihat di banyak warung mie ayam. Jangan lupa, coba ingat-ingat makan siang kita tadi barusan. Apakah semuanya tandas dihabiskan?

Pangan adalah salah satu kebutuhan primer. Menjadi sekunder ketika pangan menjadi sajian. Menjadi tersier ketika sajian itu sudah dianggap kemewahan. Makanan sebagai gaya hidup.

Sekarang, kenyang saja tidak cukup. Bahkan tidak perlu. Lidah pun dibuat bingung. Lebih manja dari anak bungsu. Makanan menjadi sebuah pencapaian. Wajar? Silakan Anda sendiri yang menilai.

Makanan dan sajian masakan adalah bagian dari olah budaya. Sebuah cara kita bertahan hidup. Lalu entah sejak kapan menjadi sebuah cara menampilkan citra diri.

Pernahkan Anda masak sendiri lalu menyantapnya sendiri? Bagaimana jika makanan itu tumbuh di pekarangan sendiri. Dipelihara sendiri. Terlalu berlebihan?

Baiklah.

Ada kalanya kita perlu kembali bertanya. Apakah sajian yang ada di hadapan kita tiba-tiba muncul dari langit. Apa saja yang dikorbankan dari sebuah sajian masakan.

Berapa tangan dan berapa ratus jam yang dibutuhkan oleh tangan terampil pemijat khusus sapi ketika seekor sapi wagyu yang disembelih, sehektar sawit yang dibakar untuk minyak goreng terbaik, puluhan pon rumput dan seratusan liter air untuk segelas susu murni.

Itu pun jika organik. Bagaimana dengan makanan hasil mutasi? Jika pun Anda tahu bagaimana prosesnya, bisa jadi apa yang akan kita makan langsung melenyapkan selera kita.

Sepertinya setiap agama mengajarkan hal yang sama. Secukupnya. Perut yang diisi secara adil antara air, udara dan makanan. Kita hanya perlu makanan yang memang diperlukan dan menyehatkan. Namun tidak perlu berlebihan.

Karena bagaimanapun juga, perut kita bukan keranjang sampah. Apalagi keranjang nafsu.

 

Selamat berakhir pekan,

Roy

Iklan

3 thoughts on “Makanan dan Akal Sehat

  1. Kak Roy, apakah sudah baca Fast Food Nation dan/ atau Food Inc.? Ini tepat yang dibahas sih. Dan Dari buku buku lain yang kubaca, overconsumption of food memang sumber dari segala sumber masalah kesehatan Dan waste. Kalau sebagian besar manusia tidak terobsesi dengan makanan dan only buy what they need as fuel, kemungkinan overall health Dan lingkungan juga akan membaik. Thank you tulisannya, ini mengingatkan sama Eric Schlosser Dan Michael Pollan.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Jadi inget waktu kecil …
    Kata ibu klo maem harus dihabiskan, klo ngga habis “ayam nya nangis” (^-^)
    Dan selalu klo maem pasti dihabiskan….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s