Surat Terbuka untuk Pembuat Film Indonesia

Dengan hormat,

Sejak media sosial berkembang, terutama Twitter, sebagai penonton film kami senang sekali karena sekarang kami bisa berinteraksi dengan para pembuat film Indonesia. Mulai dari sutradara, bintang film sampai pencipta musik idola kami. Tak hanya bisa bertanya, kami pun bisa memberikan pujian. Jika dan hanya jika, karyanya berkenan di hati kami. Mendapat satu tweet saja jawaban dari orang yang kami kagumi, rasanya dunia sesaat berhenti berputar.

Kami juga memahami, banyak atau lebih banyak film Indonesia yang gagal di pasaran. Jumlah penonton yang sedikit menyebabkan pendeknya masa tayang. Kadang, sebagai penonton kami bahkan belum sempat berkunjung ke bioskop. Maklum, kami masih mesti bekerja mencari nafkah. Kami tak bisa menonton film setiap hari. Seminggu sekali pun sudah bagus.

Dan saat kami bisa ke bioskop, kami pun harus memilih. Kalau jomblo tentunya lebih mudah. Tapi kalau sudah berkeluarga, ada kompromi yang harus kami lakukan. Anak-anak kami lebih suka menonton film-film yang akrab di pergaulan mereka. Dan memang kebanyakan bukan film Indonesia. Anak kami yang sudah remaja, bisa menonton sendiri bersama teman-temannya. Kadang mereka nonton film Indonesia, kadang film dari luar. Tergantung film mana yang sedang menjadi perbincangan diantara mereka. Sementara buat para orang tua, bisa meluangkan waktu sejam setengah sampai dua jam duduk diam menonton, itu sudah merupakan kemewahan di akhir pekan.

Melalui media sosial pula kami sering membaca, bahwa film Indonesia tidak berkembang karena kami sebagai penonton, kurang atau bahkan tidak menghargai film “karya anak bangsa”. Bahkan banyak yang menuduh selera kami buruk. Tidak mengerti mana film yang baik. Tidak memahami teknik dan bahasa film. Dan kami dianggap sebagai “penonton sinetron” saja. Kami diam saja mendengar tuduhan ini. Walau dalam hati kami bertanya “apa salah kami?”

Salahkah kami jika kami hanya memilih film yang ingin kami tonton? Sejujurnya kami tak peduli apakah itu film Indonesia atau film dari luar. Selama kami bisa menikmati dan merasa terhibur, kami pun bisa keluar dari bioskop dengan bahagia. Kami masih di tahap hanya bisa memilih satu film setiap pekan. Itu pun tak selalu bisa. Kadang kami tetap harus bekerja di akhir pekan.

Bukan tak pernah kami menonton film Indonesia. Bahkan lumayan sering. Terutamanya film-film yang bisa membuat kami senang setelah menontonnya. Kami tak terlalu suka diajak untuk berpikir terlalu dalam. Di kantor dan di rumah tangga sudah banyak yang harus kami pikirkan. Menonton film adalah kegiatan untuk menyegarkan kami.

Membawa kami sekejap keluar dari rutinitas. Melanglang buana melepas beban hidup sehari-hari. Berkhayal untuk menjadi yang kami tak mampu dapatkan di kehidupan nyata. Tak jarang, mencari inspirasi dan jawaban akan pertanyaan dan misteri kehidupan yang kami hadapi sehari-hari. Seperti, kapan kami bisa punya mobil sendiri sehingga tak perlu bergelayutan lagi di bis yang sesak dan panas. Bagaimana caranya kami bisa mendapatkan kekayaan lebih dengan kerja lebih sedikit. Cinta pertama yang harus kandas karena beda agama. Jawaban akan dilema bekerja sesuai gaji atau sesuai passion. Yang terakhir ya soal bagaimana kami bisa tetap merayakan Lebaran dengan sedikit kemewahan. Filosofis sekali bukan?

Lebih seringnya kami menemukan film-film Indonesia yang kurang menghibur. Seperti sulitnya membuat Rendang. Yang bagi kami, tinggal beli saja di Restoran Padang yang tersebar di seluruh penjuru kota. Atau film Indonesia yang membuat kami jadi merasa lebih miskin sesudah menontonnya. Karena kopi sachetan yang selama ini kami sukai, ternyata menurut film itu bukan kopi yang sesungguhnya. Atau saat menonton film silat Indonesia, kami merasa kurang banyak melihat adegan silatnya. Kami berharap lebih banyak menonton adegan pertarungan yang seru yang membuat jantung kami berdebar. Ketimbang melihat keindahan pemandangan.

Pssst… ada juga diantara kami yang tau kalau film mengenai perjalanan Ayah dan Anak laki-lakinya yang sedang tayang sekarang mirip dengan film Le Grand Voyage yang terkenal itu. Kami mungkin suka menontonnya, tapi bukan berarti kami menghargainya.

Percayalah, kami tetap ingin menonton film Indonesia. Tapi tentunya film Indonesia yang memang dibikin untuk membahagiakan dan memuaskan kami. Bukan hanya karena film Anda adalah film Indonesia (dan kalau kami tidak menontonnya kami langsung dicap tidak menghargai karya anak bangsa). Mungkin kami belum sepandai pembuat filmnya. Tapi uang dan waktu yang diluangkan untuk menonton film Anda, adalah uang dan waktu milik kami. Karenanya, jangan dikte apalagi menghakimi pilihan kami.

Kami paham betapa sulitnya membuat sebuah film. Tapi di saat yang bersamaan, kami juga tidak bisa peduli mengenai hal itu. Mencari uang dan meluangkan waktu untuk menonton film Indonesia juga tak kalah sulitnya. Bahkan mungkin lebih sulit.

Surat ini kami sampaikan, bukan sekedar melontarkan uneg-uneg, tapi anggaplah sebagai tali silaturahim yang hendak kami jalin. Antara kami sebagai penonton film dan Anda sebagai pembuat film. Sama-sama ngerti’in, sama-sama nau’in. Kami akan menghargai kreasi Anda sebesar penghargaan Anda akan keinginan kami. Sebesar rasa ingin tahu Anda akan kehidupan kami. Berbicaralah dengan bahasa yang kami pahami. Hadirkan kami saat Anda sedang berkreasi. Perlakukan kami sebagai teman Anda. Teman yang saling menghargai. Teman yang saling memahami. Sekalinya kami merasa dihargai, maka kesetiaan kami pasti jadi milik Anda.

Semoga ke depannya, kami dan selera kami tak lagi disalahkan kalau kami memutuskan untuk tidak menonton film Anda. Bisa jadi karena tidak sempat, bisa jadi karena ada film lain tayang yang lebih menarik atau bisa jadi karena memang film Anda kurang sesuai dengan selera kami.

Dalam suasana Lebaran ini, kami pun ingin meminta maaf. Kalau selama ini kami sering melontarkan tweet-tweet yang bernada marah dan kesal setelah menonton film Anda. Sebenarnya lebih karena kami tidak paham, bagaimana cara yang kondusif dan konstruktif (ca’elaaaah…) untuk menyampaikannya.

Akhir kata, selamat berkarya.

Salam Kreatif! *sambil mengepalkan tangan membentuk huruf K*

aurora1952

Iklan

32 thoughts on “Surat Terbuka untuk Pembuat Film Indonesia

  1. Ping-balik: LINIMASAKami
  2. Aku tidak pernah menonton film Indonesia di bioskop. Tapi aku sudah nonton film-film Indonesia. Tentu saja bukan yang terbaru. Dan selalu setelah menonton film-film itu, aku bersyukur karena tidak tidak membeli tiket untuk menontonnya karena memang belum ada film Indonesia yang mampu memuaskanku. Termasuk film yang dipuja dan dipuji oleh media dan teman-temanku.

    Ya, seleraku rendah. Dan aku tidak menghargai karya putra bangsa. Tidak ada masalah. Karena ya memang begitu.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Sebenarnya saya tadinya tidak mau berkomentar. Tetapi saya gatal karena adanya pemikiran yang terlalu sempit di sini. Pertama, saya mengerti bahwa sineas seharusnya tidak menyalahkan penonton jika filmnya tidak laku. Tetapi kan tidak semua pembuat film seperti itu. Lagipula setiap film itu pasti ada target penontonnya. Kalo memang targetnya terbatas, ya wajar kalau filmnya tidak mendapat banyak penonton, dan saya rasa pembuat film-film seperti itu mengerti akan hal ini dan tidak akan menyalahkan penonton. Jadi kekesalan Anda terhadap pembuat film tertentu jangan dilampiaskan ke yang lainnya, sampai-sampai membawa film-film seperti Tabula Rasa atau Mencari Hilal yang jelas-jelas dibuat untuk segmen penonton yang terbatas (dan mungkin bukan untuk Anda). Jadi rasanya gak nyambung kalau dimasukkan ke dalam argumentasi Anda.

    Kedua, kembali ke film-film tersebut. Jika menurut Anda film tentang rendang dan filosofinya, atau tentang kopi dan filosofinya, atau tentang pendekar-pendekar yang memperebutkan sebuat tongkat, tidak menghibur, lalu apakah salah membuat film-film seperti itu? Memangnya film dibuat hanya untuk memenuhi keinginan Anda saja? Kan nggak juga. Ada berbagai macam penonton di Indonesia dengan selera yang berbeda-beda. Saya pribadi sangat terhibur dengan film Tabula Rasa, Filosofi Kopi, Pendekar Tongkat Emas, dan Mencari Hilal. Bahkan sebenarnya Filosofi Kopi adalah salah satu film Indonesia terlaris tahun ini. Berarti kan banyak yang terhibur dengan film tersebut.

    Justru seharusnya kita bersyukur ada film-film seperti ini yang menawarkan tema yang berbeda, dan tidak melulu disesuaikan dengan selera kebanyakan masyarakat Indonesia. Film-film seperti ini yang memberi warna dan menghidupkan perfilman Indonesia, karena ada ke-Indonesia-annya, sehingga membedakannya dengan film-film luar negeri. Saya mengatakan hal ini karena seolah-olah Anda mengkritik keberadaan film-film tersebut.

    Jadi kita tidak bisa menyalahkan sineas terhadap tema dan cerita film-film yang mereka buat. Sulit sekali untuk memenuhi selera setiap orang, apalagi harus bersaing dengan film Hollywood yang memiliki budget besar sehingga bisa memiliki efek visual yang memukau penonton. Tapi kita juga tidak bisa menyalahkan selera penonton. Malah jika kita melihat daftar film Indonesia terlaris beberapa tahun terakhir, sebagian besar adalah film-film dengan tema menarik dan kualitas yang bagus. Genrenya pun bervariasi. Dalam daftar 10 besar film Indonesia terlaris 2014 saja, ada drama religi, komedi, action, drama inspiratif, bahkan film bertema sains dan filsafat yang merupakan adaptasi buku. Kesimpulannya, tidak perlu ada saling menyalahkan. Biarkan sineas berkarya, dan penonton bebas memilih karya mana yang mereka nikmati.

    Suka

  4. sebenarnya, sineas yang cerdas tidak akan menyalahkan penonton jika film mereka tidak laku. karena seharusnya sineas2 tersebut sudah mampu memperkirakan bagaimana rencana distribusi film tersebut, dan juga siapa target audience.

    Taukah anda bahwa film yang anda sebut tidak anda sukai adalah film-film yang cukup sukses diapresiasi di kancah internasional? (http://hot.detik.com/movie/read/2015/05/15/132433/2915585/229/filosofi-kopi-dan-tabula-rasa-disambut-antusias-di-festival-film-cannes-2015) tapi apakah salah sineas tersebut bahwa film tersebut tidak anda sukai?

    faktanya, terkadang sineas belum tentu mampu membuat film yang sukses secara komersial (cocok dengan pasar indonesia) dan dapat meraih penghargaan di festival internasional sekaligus karena perbedaan selera di dua segmentasi tersebut. jadi seringkali terjadi film yang dapat banyak award internasional, namun orang indonesia bahkan tidak pernah mendengar judul filmnya. lalu, film2 yang sukses secara komersial di indonesia, justru sangat jarang mendapatkan penghargaan di kancah internasional. adalah sebuah kelangkaan film indonesia yang mampu sukses komersial (di indonesia) dan juga mampu dikenal di dunia, contohnya: the raid.

    jadi bagaimana solusinya? untuk para sineas, buatlah film yang ingin anda bikin. namun tetap perhitungkan mau dibawa kemana film anda tersebut. kalau ingin komersial, rencanakan bagaimana film tersebut dapat diterima orang indonesia (dengan tentunya tidak dengan menganggap bahwa penonton indonesia itu bodoh, hanya dengan memberikan film dengan kualitas rendah) kalau ingin “idealis”, matangkan juga konsepnya bagaimana agar tetap dapat untung dari film tersebut tanpa harus menyalahkan penonton indonesia jika film tersebut tdk laku di bioskop. contohnya adalah dengan funding ke luar negeri.

    Sineas juga harus aware bahwa selera penonton berbeda-beda dan jangan cuma membuat film dengan tema itu-itu saja. Karena belum tentu apa yang penonton hari ini sukai, akan disukai juga esok hari. Bangkitkan sineas-sineas baru yang terjun dalam berbagai genre dan juga memberikan tema-tema yang berbeda agar ketika penonton datang ke bioskop, yang tersajikan adalah sesuatu-sesuatu yang fresh. baik itu film ringan menghibur saja, ataupun film yang juga membuat mikir. ingat, bagaimanapun jenis filmnya, pasti ada yang memiliki selera seperti itu. come on, penonton tertentu jika melihat katalog bioskop indonesia hanyalah film2 ringan saja, akan merasa inteleknya teremehkan. beberapa penonton butuh challenge, fasilitasilah… begitu pula kalau semuanya isinya serius, faktor hiburan dari film jadi hilang.

    Disukai oleh 2 orang

  5. Gak perlu jauh-jauh sama perfilman. Saya berharap banyak juga kepada sinetron dan FTV di Indonesia. Jujur aja saya udah males sama alur yang bertele-tele; udah ketemu sama anaknya yang ilang, eh diculik lagi, ketemu lagi, lupa ingatan, ilang lagi, terus aja gitu sampe Mbak Gaga di hijab. Atau judul yang impossible “anak pengusaha pacaran/nikah sama tukang gado-gado” atau sinetron yang memperlihatkan anak-anak dengan seragam minim, ngomong teriak-teriak macem di hutan, to much make up, atau pakai aksesoris yang seharusnya gak dipake ke sekolah. Moralnya dimana? Masyarakat kita ini (termasuk saya) cenderungnya ‘latah’ apa yang lagi trend pasti dengan cepat di ikuti, apa yang di kenakan idolanya dengan mudah mereka copy. Padahal jaman sekarang makin banyak aktris/aktor muda yang punya ‘muka’. Kadang saya suka menyayangkan, ganteng-ganteng kok mainnya di sinetron kaya gitu ya? Artis cilik juga, kebanyakan di cover sama cinta-cintaan atau kalau saya liat kaya dipaksa jadi orang dewasa. Kasian mereka, kasian juga anak kecil jaman sekarang gak punya ‘masa anak-anak’ Tolong isi pola pikir kami (terutama masyarakat kecil) dengan hal-hal yang membangun. Bukan membanggakan; contoh film-film korea/jepang yang banyak menyampaikan pesan moral baik, drama pasti ada namanya juga film, tapi mereka mengemas gak berlebihan.
    Kepada para Sineas Indonesia, saya kangen banget sama film-film kayak Petualangan Sherina, 30 hari mencari cinta. Apalagi film horor indonesia kayak Jelangkung, Kuntilanak, Disini ada setan yang menjual Hantu bukan menjual paha. Nyari duit kok gitu banget?

    Disukai oleh 1 orang

  6. Saya sangat sedih kalo ada komentar diatas yg bilang “Untuk
    bersaing dengan film
    international jelas kami para
    Sineas Indonesia belum
    sanggup dan punya
    kemampuan untuk
    menyainginya”. Karena ada buanyak karya film lokal yg pernah dapet penghargaan di festival film internasional. Saya yakin sineas Indonesia pasti bisa bersaing dengan film luar di pasar dan bioskop tanah air, karena pembuat film Indonesia harusnya lebih tau apa yg ingin di tonton rakyat Indonesia, ketimbang mereka pembuat film luar yg gak tau tentang kehidupan di Indonesia tapi mendistribusikan film-nya kesini. Memang benar penonton di Indonesia ada beraneka macam, dan masing2 memiliki latarbelakang sosial ekonomi/pendidikan yg berbeda-beda, dan juga minat dalam genre yg berbeda-beda pula. Tapi kan tetep aja penonton yg masuk bioskop Indonesia kebanyakan ingin mendapatkan hiburan dengan cara yg umum. Yang bisa di telan dan dirasakan dengan kondisi apapun. penonton tidak sepintar pembuat filmnya dan penonton tidak mengerti tentang sinematografi atau teknik audio visual. penonton umum gk ngerti art movie yg biasa di puter di festival2 film yg target penontonnya segmented itu. Yang dimengerti penonton hanyalah datang ke bioskop, membayar mahal, dan ingin mendapatkan hiburan yg sesuai dengan harga tiket yg mereka beli. Dan betapa bahagianya penonton jika mendapatkan inspirasi kehidupan dan pesan moral sehabis menonton film tersebut.

    Disukai oleh 2 orang

  7. …” Tak jarang, mencari inspirasi dan jawaban akan pertanyaan dan misteri kehidupan yang kami hadapi sehari-hari. Seperti, kapan kami bisa punya mobil sendiri sehingga tak perlu bergelayutan lagi di bis yang sesak dan panas. Bagaimana caranya kami bisa mendapatkan kekayaan lebih dengan kerja lebih sedikit. Cinta pertama yang harus kandas karena beda agama. Jawaban akan dilema bekerja sesuai gaji atau sesuai passion. Yang terakhir ya soal bagaimana kami bisa tetap merayakan Lebaran dengan sedikit kemewahan. Filosofis sekali bukan?”..

    maaf tapi kok mencari jawaban misteri kehidupan mau kaya kok dari nonton film? mendekatkan diri kepada Tuhan lebih tepat kayaknya

    Disukai oleh 2 orang

  8. Sy sngat jarang komen di social media tp krn ini mnyangkut hobby saya menonton dan juga bikin film amatiran, sy terpanggil kasih komen.

    Bicara film sbg industri, penonton adalah stakeholder utama tapi perannya sering dilupakan. Dlm hitungan sineas (trmsuk produser dan investor film), penonton hny dianggap sbg angka-angka belaka yg membeli tiket atau popcorn (bagi bioskop). Sineas lupa bhw pnonton jg punya rasa yg perlu diasah dan disentuh. Mayoritas penonton mainstream di dunia trmsuk Indonesia adalah mencari hiburan.

    Sama halnya dgn para konsumen kopi (tadi ada sineas yg sadar bhw kedai kopi juga adalah kompetitor film) yg mayoritas memang ingin minum kopi dgn rasa yg sdh mereka kenal ditmbah dgn sensasi lain sprti flavor inovatif dan suasana nyaman ngobrol yg cozy. Barista yg baik adalah barista yg tetap meracik kopi dgn rasa yg “familiar” kpd pelanggannya sambil tetap berinovasi dgn flavor2 baru. Tapi yg wajib dipertahankan adalah rasa kopi itu sendiri. Peminum kopi akan kecewa jika rasa yg di sajikan lebih mirip teh.

    Jadi sineas harus seperti barista. Jika pelanggan bilang ini teh bukan kopi, hendaknya barista jgn salahkan intelektual indra rasa pelanggannya yg mngatakan bhw pelanggannya tdk paham rasa kopi yg terupdate. Sy percaya bhw peminum kopi dan penonton film sama cerdasnya.

    Tapi boleh kok barista racik kopi seenak udel, selama pelanggannya tidak perlu bayar dan barista atau pemilik kedai tidak perlu kapital. Tinggal pilih yg mana.

    Disukai oleh 2 orang

  9. Sesuatu hal yang wajar saja. Kata pepatah “Pembeli adalah raja” banyak cara mengukur kesuksesan. Bisa dari ditonton banyak orang, mendapat penghargaan di beberapa forum festival dll. Suka atau tdk suka juga sangat dipengaruhi oleh banyak hal saat menonton sebuah karya film. Sosial ekonomi, pendidikan, dll. Jadi ya oke oke saja.

    Disukai oleh 2 orang

  10. Industri kreatif memang dihadapkan pada 2 opsi selera antara suka dan tidak suka.
    Jadi ketika kalian yang tidak suka dengan genre film yang sudah diproduksi, tak usahlah menuntut industri untuk tampil sempurna memenuhi selera kalian yang tak jelas. Terkadang harus kekinian, harus seperti film luar, dan masih banyak alibi tak logis yang terlalu kalian kemukakan.

    Padahal, untuk memproduksi suatu film, para sineas perfilman Indonesia memiliki tantangan yang begitu banyak. Jadi, biarkan mereka berkarya sesuai segmentasi atau target pasar yang diinginkan, kalian tak berhak menjustifikasi walaupun semua kondisi benar apa adanya. Jika kalian mampu, cobalah jangan sekedar membuat surat terbuka yang bisa memprovokasi tapi kalian mulai belajar membuat film-film pendek dari kehidupan sehari-hari.

    ~ saya hanyalah penonton, penikmat, pencinta, dan pengkritik film Indonesia. Alasan saya masih menonton film Indonesia karena saya ingin menghargai produksi dalam negeri. ‘Kalau bukan kita siapa lagi, kalau ingin dihargai orang lain hargailah diri sendiri terlebih dahulu’ ~

    #SemangatBerkarya

    Disukai oleh 2 orang

  11. Ya biasanya kalo ada masalah, manusia cenderung nyalahin orang dulu sih drpd ngeliat ke dirinya sendiri. Konsumennya-lah, pemerintah-lah, pemilik bioskop-lah. Walaupun ada benernya juga tapi harusnya semua itu bukan akar masalahnya. Masalahnya ya emang filmnya kurang bagus. Kalo filmnya bagus bisa aja ko lama di bioskop. Contohnya film India yg judulnya “PK” , lama banget tuh diputer di blitz dan banyak banget penontonnya karena banyak yg cerita filmnya bagus. Bahkan ada 2x tepuk tangan ditengah2 film. Itu bukan film holywood, bukan film berbudget maha besar juga. Film Indo juga banyak yg bagus dan sukses besar : Ada Apa dengan Cinta, Arisan, Raid dll. Masalahnya kenapa cuma sedikit film Indo yg bener2 sukses? Menurut gua yg awam, masalah utamanya adalah bikin film Indonesia itu memang kurang menguntungkan. Akhirnya investor dan para pembuat film jadi agak skeptis untuk produksi dan berani tanam modal besar yg akhirnya mempengaruhi ke kualitas produksi film. Banyak faktornya, kaya distribusi bioskop yg lambat, monopoli distribusi film, pemerintah yg gak terlalu support dll. Tapi diluar itu semua tetep aja ada film yg bener2 bagus. Arisan sama Cahaya dari Timur itu menurut gua worth Academy Awards. Intinya semua pecinta film ga usahlah nunjuk2 siapa yg harus disalahin, lakuin aja apa yg baik untuk film Indonesia dan berharap semuanya akan menjadi lebih baik. Penonton usahakan ntn film Indonesia lebih banyak dan pembuat film produksi film sebaik2nya dgn melihat apa yg kira2 menghibur. Kalo ngerjainnya pake hati, jualan korek api juga bisa menghasilkan, so don’t worry be happy 🙂

    Disukai oleh 3 orang

  12. tulisan yang menghamburkan waktu, waste of time. apalagi komen2nya yang juga ngehamburin waktu, padahal beberapa menit dia nulis kaya gini, beberapa menit karya yang bisa ia hasilkan.

    Disukai oleh 1 orang

  13. Seperti brada ditengah labirin,,
    Sy adlh slh satu buruh film..
    Sy tdk bisa berkata bnyk..
    Coment&tulisan anda2 semuanya benar..
    *mnurut pribadi yang brsangkutan&yg spendapat..piss
    Harapan sy:
    *perfilman lndonesia tdk akan mati_suri lagi,,
    *karya2 anak bangsa(apapun itu.. ) tidak tergusur oleh importir..
    *bagaimana caranya?
    *mungkin jawabanya ada di kaca cermin depan kita… (mungkin.. 😉

    Disukai oleh 2 orang

  14. Kalo menurut saya yang juga pecinta film,kurang bijak seh kalo salahin penontonnya,penonton itu konsumen yg namanya konsumen kita pasti bayar sesuatu yg worthed menurut pertimbangan kita & anggaplah pembuat film itu produsen,bisa gak produsennya membuat produk yg ngebuat kita ngerasa worthed keluarin uang buat produk itu.
    Saya pecinta film bukan karna film itu film lokal atau luar negeri,tapi menurut saya menarik atau egak,kalo gak menarik ya buat apa ditonton,saya juga keluarin uang dengan kerja bukan dapet uanh dari langit panteslah juga kita milih yg terbaik dunk

    Disukai oleh 2 orang

  15. bukannya guwe sok pinter. tapi menurut guwe produsen film ngga perlu mikirin gimana tanggepan para penonton, kalau emang para produsen bikin filmnya pakai ‘HATI’ pasti banyak kok para penonton yang lihat. contohnya kayak film ayat ayat cinta, filmnya low badget cuma suting disurabaya dan jogja, cuma settingannya aja yang timur tengah namun menghasilkan. . dan bisa menguntungkan.

    Disukai oleh 2 orang

  16. Glenn Mars
    Saya tidak tahu tweet dan social media mana yg menyalahkan para Penonton Indonesia. Yah mungkin kalau ada kesan menyalahkan hanyalah bahasa yang dipakai yang terkesan menyalahakan. Tapi sebagai salah satu sineas di indonesia sejujurnya hanya ingin mengundang para penonton indonesia untuk menonton film hasil karya kami. Yang kami buat untuk kalian para Penonton film Indonesia. Sineas membuat film untuk Penonton.

    Seperti yang kalian tahu menurunnya Film Indonesia dikarenakan banyak film-film indonesia yang gagal di pasaran karena Jumlah Penonton dan Waktu Pemutaran di Bioskop yang hanya sebentar. Kedua hal ini tentunya saling behubungan. Sedikit Penonton semakin Pendek Waktu Pemutaran di Bioskop. Para pemilik Bioskop pun juga bersaing dengan sarana hiburan lain seperti restoran, club, cafe dll. Makanya banyak bioskop-bioskop yang menyiarkan film-film luar negeri yang kebanyakan lebih disukai sama masyarakat di 2 studio atau lebih dengan jam pemutaran yg berbeda-beda. Itu juga karena di Indonesia, khususnya di Jakarta masyarakat besaing dengan waktu, kemacetan, jam kerja, dll. Makanya Produk Film Indonesia yang kurang laku akan mereka turunkan dari bioskop karena tidak memenuhi target jual di pasaran. Apalagi untuk sebagian masyarakat Indonesia harga ticket bioskop terlalu mahal. Apalagi pada waktu akhir pekan.

    Untuk bersaing dengan film international jelas kami para Sineas Indonesia belum sanggup dan punya kemampuan untuk menyainginya. Ini juga berlaku di semua hal bukan hanya di bidang film. Mungkin perusahaan tempat kalian bekerja milik orang luar negri. Atau merupakan kantor cabang dari perusahaan international. Contoh yang lebih jelasnya barang-barang yang kita pergunakan mungkin sebagian besar produk luar negri. spt telepon genggam, komputer, tv, mobil pribadi maupun angkutan umum. Kami belum sanggup untuk menyaingi produk film luar negri yang kebanyakan lebih disukai sama masyarakat karena memang belum mendapat dukungan yang mencukupi. Baik dari pemerintah, penyumbang dana, sarana/bioskop yang ada, dan tentunya para penonton. Semua hal saling bersangkutan/berkaitan satu sama lain.

    Film Indonesia memang banyak yang terkesan terlalu serius atau bisa dibilang drama. Tapi itu juga karena kami para Sineas menyusaikan dengan materi yang kebanyakan dari buku-buku lokal yang best seller yang kebanyakan bergenre drama. Cerita-cerita sejarah penjajahan Indonesia. Kami juga menyesuaikan dengan beberapa selera masayarakat Indonesia yang banyak menonton berita-berita lokal yang sangat prihatin. Atau siaran-siaran lokal/ sinetron yang sudah bertahun-tahun kita tonton sejak masih kecil. Ketika siaran di TV belum terlalu banyak.

    Film memang sebuah sarana hiburan. Jadi memang selayaknya Film harus menghibur untuk berkhayal melepaskan beban pikiran. Dan menurut saya sudah ada film-film Indonesia yang bertujuan untuk menghibur. Banyak film-film indonesia yang mengankat tentang bagaimana bisa menjadi kaya(beli mobil sendiri). Film tentang cinta beda agama. Tentang kerja dan passion. Mungkin memang kami mengemasnya tidak seperti film-film luar negri yang terlihat lebih menghibur. Itu juga selain dana dikarenakan kami para Sineas menyesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sangat beragam perekonomian dan pendidikannya juga lokasi dan kondisi negara kita. Pernah film Indonesia mencoba mengemas seperti film luar negri, seperti shooting di luar negri dan mengangkat budaya luar negri tapi nyatanya banyak yang merasa kurang real atau ada masyarakat-masyarakat yang merasa kurang mengerti karena belum pernah keluar negri, yang timbul hanyalah rasa iri hati.

    Kalau kami para sineas diharuskan membuat karya seuai dengan selera semua orang itu tidak mungkin. Mungkin sebagian orang tidak peduli bagaimana cara membuat rendang yang enak. Tapi bagi kalangan penggemar masak atau kuliner khususnya mungkin di luar Jakarta film itu menarik. Atau ada yang suka kopi saschet ada juga yang suka kopi traditional. ada yang suka film action tapi juga ada yang suka film drama tentang perjalanan yg memperlihatkan keindahan alam Indonesia, khususnya bagi mereka yang belum pernah ke sana. Seperti beberapa komen di atas. Banyak film-film Indonesia yang sukses mendapat penghargaan di festival film luar negri. Itu juga dikarenakan masyarakat international belum banyak mengetahui tentang Indonesia apa lagi film Indonesia. Mereka belum pernah melihat kekayaan alam Indonesia. Belum pernah makan rendang. Atau merasakan putus cinta hanya karena masalah agama. Itu semua asing bagi mereka karena bukan kebudayaan mereka. Maka dari itu sebagian dari mereka suka dengan cerita film Indonesia. Sama halnya kita suka produk luar negri/ Film luar negri karena itu semua terasa asing bagi sebagian dari kita. Kita belum pernah ke luar negri dan satu-satunya cara kita untuk melihat negri mereka, kebudayaan mereka atau berhubungan dengan dunia/negara asing adalah melalui film-film mereka. Ya seperti yang kalia ketahui film selain dari menjadi sarana hiburan, untuk sebagian orang film bisa merupakan sarana pembelajaran. Karena pada dasarnya semua orang punya selera masing-masing. Ada yang suka film action, ada yang suka film horror, ada yang film comedy, drama, dll. Sama halnya ada yg suka makanan manis, ada yang suka makanan pedas.

    Memang benar uang dan waktu itu memang hak kalian mau dihabiskan untuk apa. Tapi kami membuat film bukan hanya merupakan hobby tapi juga sebagai sarana mencari nafkah. Mencari uang dan meluangkan waktu untuk membuat film dan kesuksesan kami para Sineas tentunya berada di tangan kalian para Penonton. Sineas akan membuat film untuk Penonton. Tidak ada Penonton atau sedikit Penonton tidak akan ada film. Tentu mengerti tentang Supply and Demand. Ketika para penonton film Indonesia hanya tinggal sedikit. Film Indonesia akan mati. Sama seperti pada era tahun 1990an.

    Banyak yang harus dipelajari, dilakukan dan diperjuangkan bagi kami para Sineas Indonesia. Tapi tentunya kami tidak akan mampu melakukan semuanya sendiri tanpa dukungan dari semua masyarakat. Baik dari pemerintah, pemilik bioskop, penyumbang dana, juga dari para penonton. Mulai dari pajak-pajak pemerintah yang lebih transparant, tempat-tempat pemutaran/bioskop yang khusus memutar film indonesia. Baik di dalam mall maupun di luar gedung. Yang sekiranya memasang harga yang lebih terjangkau. Seperti Taman Film di Bandung. Sarana-sara seperti itu hendaknya lebih banyak lagi. Di tiap-tiap kecamatan, tiap-tiap kelurahan di seluruh Indonesia. Di mana seluruh masyarakat Indonesia di kalangan apa pun dapat menikmati Karya Anak Bangsa.

    Sekali lagi saya selaku salah satu Sineas Indonesia hanya mengundang kalian masyarakat Indonesia untuk menonton Film Indonesia.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Excuse ah 😀

      Bagian yang ini NGESELIN BANGET! ….. >>> “Untuk bersaing dengan film international jelas kami para Sineas Indonesia belum sanggup dan punya kemampuan untuk menyainginya”

      Kamu aja kali yang belum bisa bersaing, jangan bawa atas nama semua sineas Indonesia ah, bilang aja “saya belum mampu” ketimbang “kami sineas Indonesia belum mampu.”

      Jelek kok ngajak2 orang 🙂

      Disukai oleh 5 orang

      1. bener cuy, padahal banyak sineas art cinema indo yang udah meluas ke luar. dianya aja males cari tau, so soan mewakili. self-centered banget, mungkin kata “kami” adalah “aku” kali.

        Disukai oleh 1 orang

    2. cuy ada orang yang bikin film cuman jadi kerjaan, ada orang yang bikin film karena cinta terhadap film itu sendiri, jadi jangan banyak prasangka yang sok tau lah. lu buat film, buat aja. klo ga ada uang pake HP juga bisa, cari duit kerjaan halal lain juga bisa. banyak orang banyak prespektif bung. yang satu nganggap lu bener yang satu nganggap lu salah, jangan so soan bikin prasangka cuy. klo minta bantuan pemerintah, itu film pemerintah, klo mau independent bebas tapi butuh duit, klo di bantu pemerintah, gak ada kebebasan. banyak pro dan kontra bro, jangan main minta bantuan pemerintah dah. kaya minta di kasih uang jajan ama ibu aja.

      Disukai oleh 1 orang

  17. diskriminasi tempat dan tidak adanya perhatian khusus dari pemerintah dan hanya orang orang khusus dan tertetu aja yang bisa karyanya sampai di bioskop. Orang daerah gak bakal bisa buat film, palingan bejubel di wedding video shooting doank

    Disukai oleh 2 orang

      1. lu ngomong kaya “never” aja, film Siti dari jogja banyak masuk festival internasional, dari makasar juga banyak, jogja bejibun, cari info dulu dong, pinginnya di kasih makan bukan nyari makan. orang daerah banyak dihargain di luar sana, orang-orang kaya lu jarang pernah hargain. daerah lu sendiri aja gak tau.

        Disukai oleh 1 orang

  18. Ya kalo minta diperhatikan ya tonton aja FTV atau Sinetron, kan mereka benar2 memperhatikan selera penonton, gratis pula.
    Harusnya para penikmat film bersyukur, masih ada pembuat film yang bisa mencurahkan idealisme di karyanya (dan ada produser yang mau membiayai) tanpa harus terlalu memikirkan selera para penontonnya. Karena, melihat alasan komersial seperti selera penonton itu lagi, yang seperti itu sudah hampir tidak ada.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Ya pantas saja kalo memang ga ada yg nonton… Bikinnya aja ga peduliin yang nonton.. Jadi jgn salahin penonton kalo mmg ga mw nonton film Indonesia yg ga memperhatikan selera penonton…

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s