Pindah Kota

Hampir semua keluarga kelas menengah atas di Indonesia bakal menghadapi salah satu fase penting dalam keberadaan mereka: ketika sang anak hendak lulus SMA dan dihadapkan pada pilihan berkuliah di luar (kota/negeri), atau tetap bertahan dan melanjutkan pendidikan di universitas maupun sekolah tinggi lokal.

Semua pilihan dibarengi latar belakangnya masing-masing.

Dengan kuliah di luar, sang anak dipercaya bisa hidup lebih mandiri, mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang lebih mumpuni, serta berada dalam lingkungan sosial yang jauh lebih beraneka; memperluas wawasan pribadi ketimbang tetap berkutat di kota kelahiran dengan perkembangan yang terasa pelan.

Efek jangka menengahnya, sang anak berpeluang mendapatkan pekerjaan yang lumayan, karier yang bisa dibanggakan orangtua di kampung halaman, sebelum akhirnya mesti dipanggil pulang lantaran beragam alasan. Para orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya di luar pun bisa sedikit lebih fokus pada bisnis atau profesi yang ditekuni, tidak lagi dibuat jengkel dengan seragam, sepatu, maupun tas yang diletakkan sembarang setelah sang anak pulang sekolah. Sampai suatu ketika, orangtua ngebet anaknya pulang untuk meneruskan usaha, atau kebelet pengin gendong cucu.

Di sisi seberang, ada orangtua yang begitu sayang pada anak-anaknya, sampai tidak tega melepas mereka di kota antah-berantah sendirian, tinggal di kos-kosan, menu makanan yang tidak terpantau kualitasnya, serta godaan pergaulan yang makin mencengangkan. Alhasil, si anak pun meneruskan hidupnya dengan kondisi yang sama, bergaul dengan orang-orang dengan tipe pemikiran homogen, serta terkondisi untuk bersikap seperti biasa. Batal mengirup udara kebebasan dengan segudang petualangan baru penuh misteri. Cuma berbeda tujuan gedung sekolah saja. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak cewek, sehingga membuat anak-anak cowok terkesan lebih beruntung perihal kebebasan. Lagipula, ndak lucu dong kalau anak gadis yang disekolahkan di luar kota, mendadak bikin panik gara-gara kelepasan hamil di luar nikah.

Bagi penduduk luar Jawa, kota-kota dalam negeri tujuan penyekolahan sang buah hati mengerucut pada Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Malang sesuai peringkat keramaian. Akan tetapi bagi kebanyakan orang Samarinda (baca: Tionghoa Samarinda, mungkin juga Balikpapan)–sejauh pengamatan saya*) yang subjektif ini–Ibu Kota Jawa Timur jadi pilihan pertama ketimbang Jaya Raya. Pasalnya Surabaya dianggap lebih dekat, baik secara spasial maupun kultur. Para ibu pun merasa jauh lebih nyaman berbelanja di Pasar Atum sambil menawar gila-gilaan pakai bahasa logat Suroboyoan, ketimbang di Mangga Dua.

Piroan iki? Ojo larang-larang po’o. Peknggo ae lah, tak jukuk loro sisan…

Tunjungan Plaza (Panoramio)

Kejamnya ibu kota melebihi ibu tiri. Kepo-nya rekan kerja, lebih kepo tetangga sendiri.

Setelah berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan gaya hidup yang baru, para mahasiswa asal daerah pun menikmati kehidupan sosial yang berbeda pula. Di kota asal mereka–apalagi di Samarinda, everybody knows everybody. Identitas mereka dapat dikenali dengan mudah. Bukan lantaran tenar atau populer (kecuali ketenaran yang negatif), melainkan status sebagai anaknya si Anu, cucunya si Ini, keponakannya si Itu, dan lain-lain. Untuk pertama kalinya, mereka berkenalan dengan anonimitas, dan–asumsi saya–hal itu terasa adiktif. Dengan kondisi ini pula, mereka benar-benar diberi kuasa untuk memutuskan sesuatu dalam hidup mereka. Mulai urusan pengelolaan keuangan, pindah agama, sampai orientasi seksual. Ini poin pertama.

Kemudian, dampak logis yang mereka hadapi adalah pilihan hiburan yang jauh lebih beragam ketimbang di kota kampung halaman, termasuk fasilitas olahraga dan objek gaya hidup yang lebih lengkap. Hidup terasa lebih menyenangkan dan berpotensi jadi hipster, meskipun suatu ketika bakal bosan juga, dan terancam keborosan. Contohnya, ketika teman-teman di kampung halaman hanya bisa berkeliling Gramet, sementara dia sudah terbiasa masuk As’ka’ra. Ini poin kedua.

Di kota besar, mereka bertemu dengan begitu banyak orang, termasuk yang mampu membuat mereka tercengang kagum lewat sejumlah kualitas. Ada yang cakep banget, ada yang fashionable abis, banyak yang lebih bugar, ada yang luar biasa kreatif, inovatif, komunikatif, atau gabungan dari semua itu, dan sebagainya. Realitas ini mendorong mereka untuk bisa mengejar kualitas serupa. Gara-gara ini, jangan heran bila penampilan seorang anak daerah yang dulunya biasa-biasanya, bisa berubah drastis bahkan sejak tiga bulan pertama. Bikin yang dulu nolak, nyesal sejadi-jadinya. Ini poin ketiga.

Ini poin terakhirnya, atau bisa Anda tambahkan sendiri nanti. Semenjak pindah kota, mereka jauh lebih sadar bahwa ternyata orang-orang di kota kampung halaman yang kurang hiburan itu cenderung konservatif, sekaligus terkondisi untuk saling membicarakan satu sama lain. Ya, saya ulangi: saling membicarakan satu sama lain. Apa pasal? Mungkin lantaran kepo itu menyenangkan, atau bisa jadi karena kurang kerjaan dan hiburan juga. Sehingga ada jeda, ketika pikiran orang-orang tak lagi sibuk dengan urusan pekerjaan. Ilustrasinya, ada yang ketangkapan selingkuh di ujung barat, seisi kota tahu kurang dari dua jam berikutnya. Plus dengan tambahan bumbu cerita. Kalau di kota besar, pergunjingan seperti itu paling hanya sebatas antar-cubicles, atau di grup WA, atau lingkar privat Path, dan sebagainya. Selebihnya, hidup berjalan seperti biasa.

Demikian, setidaknya ada empat poin yang akhirnya membuat anak-anak daerah jauh lebih cinta dengan domisili saat ini, ketimbang tempat asalnya. Kendatipun tidak lupa, namun kampung halaman hanya dijadikan destinasi libur keagamaan tahunan, saat Tahun Baru Imlek, menjelang Natal, atau Lebaran. Sampai saat ini. Kalaupun ada yang akhirnya pulang kembali, lazimnya gara-gara terpaksa. Kelihatan banget ndak betah, dan sayangnya malah ikut-ikutan berpola pikir dan bertindak tanduk konservatif, mengikuti arus. Membuang semua idealisme, semangat, dan passion yang selama ini tumbuh kala berada di seberang lautan.

Ini bukan perkara benar atau salah, melainkan urusan konsekuensi. Baik jadi kaum pendatang maupun tetap bertahan, baik jadi orangtua yang memberikan kebebasan maupun yang tetap menahan, baik jadi kaum pendatang yang memilih berpindah tempat tinggal maupun yang tetap “balik kandang”, semua punya impact-nya masing-masing. Dengan ini, tetap tidak ada alasan untuk merendahkan orang lain. Saling paham posisi.

[]

*) Gagal tes masuk UGM, belum pernah pindah kota sampai sekarang. 😛

Iklan

11 thoughts on “Pindah Kota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s