Mudik Pertama Kali

BARU hampir setahun pindah domisili, akhirnya ngerasain juga yang namanya mudik. Benar-benar mudik. Pulang. Kembali ke lingkungan yang pernah ditinggali selama berpuluh-puluh tahun sebelum ini.

Ternyata, begini ya rasanya… lumayan aneh! šŸ˜€ Makin aneh lagi, karena yang dirasakan seolah melengkapi dan memperluas poin-poin tulisan bertema serupa pada Desember 2014 lalu: “Pindah Kota“. Ada yang malas ke mana-mana, ada yang justru pengin menjelajah ke mana-mana; ada yang bosan dan lebih memilih untuk di rumah saja, ada yang sudah punya daftar mesti ngapain aja; ada yang pengin cepat-cepat pulang/balik, ada juga yang mau berlama-lama.

Di saya, kurang lebih seperti ini.

  • Mendarat di bandara yang sama, dan melanjutkan perjalanan lintas kota dengan situasi yang tidak berbeda dibanding sebelumnya.
  • Tidur di kamar sendiri lagi, yang entah bagaimana separuhnya terlihat seperti gudang sekarang. Hahaha!
  • Menaiki angkutan umum yang ada, dan kembali berbicara dengan logat lokal.
  • Mengendarai kendaraan lama yang sengaja ditinggal.
  • Menyusuri ruas-ruas jalan yang sama. Blusukan ke gang-gang kecil di tengah pemukiman padat penduduk, jalur alternatif penghemat waktu yang sekarang sudah enggak sepi lagi. Lalu kaget ketika tahu-tahu ketemu jalan layang baru, jembatan yang ditutup, areal pemukiman baru, compound-compound para orang kaya lokal yang luar biasa mencolok, dan sebagainya.
  • Mendatangi depot-depot lawas dengan sajian yang masih sama lezatnya. Beberapa di antaranya masih ingat menu yang biasa dipesan. Salah satunya seperti mi goreng jeruk nipis alas daun pisang, dengan telur mata sapi Ā¾ matang. Dimakan menjelang tengah malam.
  • Menongkrong di coffeeshop-coffeeshop langganan, mencecap seduhan hasil roasting-annya sendiri, menyapa para barista wajah-wajah lama yang masih ingat, maupun mencoba tempat-tempat baru.
  • Mengelilingi mal terakhir yang berdiri di kota ini, melihat ada tenants baru apa saja yang membuka gerainya.
  • Menyelesaikan urusan kependudukan, berkeliling kantor-kantor dinas dan ikut mengantre di sana, untuk kemudian dibikin senang karena para petugasnya sudah tidak lagi mengucapkan ā€œseikhlasnya saja, Pak.ā€ Saking senangnya sampai-sampai malah kepengin memberi seikhlasnya. Hahaha!
  • Bertemu para teman lama yang makin settled kehidupannya, tapi mesti bubar sebelum pukul 10 malam, karena ada balita yang sudah mengantuk dan punya jadwal tidur tertentu supaya mood-nya terjaga seharian.
  • Mencoba untuk catching upĀ dengan teman-teman kreatif setempat, mencari tahu apa yang sedang menjadi tren, pembicaraan yang tak jelas juntrungannya, diakhiri dengan karaoke bareng.
  • Belum ketemu atau berpapasan dengan mantan, yang kabarnya sekarang baru nambah satu anak lagi. Hahaha!
  • Menjawab ratusan pertanyaan: ā€œgimana di sana, Gon? Kamu betah? Pacarmu siapa sekarang?ā€ Aduh… Munyak! Hahaha!
  • Bertemu dengan wajah-wajah baru yang imut dan lucu, buah karya pubertas yang selalu di luar perkiraan, yang terpenting selain itu…
  • Bertemu dengan keluarga, yang juga baru pertama kali menghadapi situasi serupa.

img_2399

Ndaktau ya, lumayan susah untuk benar-benar menjabarkan semua perasaan yang muncul saat kembali ke kota asal kali ini. Ketika sebutan ā€œpulangā€ dan ā€œbalikā€ mulai bertukar posisi. Namanya juga mudik yang pertama kalinya, dan pasti selalu ada yang dirindukan dari kedua sisi. Macam LDR dengan kampung halaman. Seringkali bosan, tapi kadang dirindukan diam-diam.

Barangkali kamu-kamu yang saat ini sudah lama menetap atau merantau di kota lain, lebih tahu bagaimana rasanya ketika mudik pertama kali.

How was it? šŸ™‚

[]

Iklan

4 thoughts on “Mudik Pertama Kali

  1. pulang ke rumah…karena berpisah maka merindu šŸ™‚

    selalu merindukan saat mudik, kdg pulang ya memang di rumah aja menikmati suasana rumah yg sejak lahir ditinggali, nyari makanan khas daerah walaupun mgkn di tempat skrg ada tapi tetep rasanya beda…enakan ditempat asal

    nah momen balik ke tempat skrg serasa balik ke kenyataan hidup hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s