Sok Tau 2015 (Bag. 1)

 

Sejak ditinggal Mama Loren, akhir tahun terasa kurang afdol. Beberapa pengganti yang disodorkan media dianggap belum setara dengan ramalan Mama Loren. Padahal, William Bernbach pernah bersabda, “Masa depan adalah milik yang bisa melihatnya lebih dulu”.

Sebenarnya tanpa perlu bertapa atau memiliki bola kristal, kita bisa membaca tanda-tanda masa yang akan datang dari kejadian-kejadian masa kini. Orang-orang di depan mata, gaya hidup dan kebiasaan baru, pakaian, musik, situasi politik, sampai kecenderungan cara berbicara. Cuma dibutuhkan sedikit kemauan untuk mendengarkan daripada mendengar. Memperhatikan daripada melihat. Dan mengamati daripada mengomentari.

Yang namanya pengamatan, tentu bisa berbeda bagi  setiap individu. Benar atau salah tidak ada yang bisa tahu pasti. Karena dalam hal ini, sok tahu itu wajib hukumnya. Dan berikut adalah pengamatan sok tahu yang akan ditulis dalam beberapa bagian di blog linimasa.

Sebagai blog yang sok tahu, linimasa ingin selalu menjadi yang pertama menapak ke hati pembaca.

1. HEALTHIER THAN THOU

Tidak sulit untuk menangkap gejala ini. Marathon, kelas Yoga, Masterbootcamp, Crossfit, Freeletics, dan beragam aktivitas menguras keringat bisa dipastikan akan semakin marak di 2015 nanti.

Memberikan hasil yang segera (baca: langsing dan sehat (baca: langsing)), berolahraga bukan saja bisa membuat orang ketagihan tapi juga tertantang untuk menjadi lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat. Citius, Altius, Fortius.

Gejala ini memberikan ribuan gambar masa depan. Pola makan sehat, misalnya. Sudah capek-capek berolahraga, akan diikuti hasrat untuk menjaga pola makan. Bermunculanlah penyedia jasa makanan sehat. Raw Food, Smoothies, Vegetarian Food, GNO Free, dan banyak lagi. Beragam jenis diet pun akan semakin bermunculan.

IMG_5220-0.JPG

IMG_4553-0.JPG

Berolahraga tak cukup hanya berolahraga. Tapi juga harus bergaya. Busana Yoga pun ternyata ada trendnya. Spring Summer Autumn Winter. Memainkan warna dan motif baru sehingga baju beryoga bisa seakan ketinggalan jaman. Bahkan beberapa tanda mulai memberikan gejala busana cocktail dan pesta bernuansa sporty chic pada London dan Paris Fashion Week SS 2015.

Jadi, kalau ada yang ingin memulai bisnis yang berhubungan dengan gaya hidup sehat, 2015 adalah tahunnya. Tak perlu peduli apa kata shio. Karena akan terjadi persaingan terbuka maupun terselubung dan debat mengenai siapa yang lebih paham dan mempraktekkan hidup sehat. Debat Politik is out.

2. JOMBLO IS IN!

Walaupun Dewa Jomblo George Clooney baru saja mengakhiri masa lajangnya, tak perlu berkecil hati. Dengan bantuan internet yang menyatukan kekuatan manusia setipe, para jomblo akan bersatu dan berteriak lantang “Jomblo is In!”

IMG_5221-0.JPG

Salah satu faktor yang membuat para jomblo semakin menikmati kejombloannya adalah ekonomi. Semua semakin sadar, banyak anak banyak rejeki ternyata lebih banyak salahnya. Menjadi jomblo memberikan keleluasaan untuk mengatur uang untuk sendiri.

Bisa jalan-jalan kapan pun, tanpa perlu menunggu liburan anak sekolah yang malah bikin tujuan liburan padat. Bisa membeli tas bermerk tanpa perlu ijin gesek kartu kredit pasangan. Bisa gonta-ganti mobil atau moge seenak jidat, tanpa menunggu restu mertua. Dan tentunya, bebas menentukan mau tidur sama siapa setiap malamnya.

Mulai dari apartemen tipe studio di pusat kota (baca: pusat keramaian), ditunjang dengan kebutuhan lifestyle, traveling, berinvestasi, eksistensi semua akan lebih mudah dicapai dan dinikmati kalau jomblo.

Urusan romansa dan birahi? Tak perlu rungsing. Karena aplikasi mobile yang mempertemukan para jomblo untuk sekedar makan malam romantis sampai satu malam berdiri, sudah semakin banyak tersedia. Tak peduli preferensi seksual. Straight, gay, lesbian tinggal memainkan jari untuk memuaskan libido.

Akan dibutuhkan waktu lama sekali buat MENKOMINFO untuk memahami dan kemudian memblokirnya (baca: memakainya sendiri). Dan buat yang suka riwil bertanya “Kapan Nikah?” Bersiaplah untuk rindu masa jomblo.

“Kanker, serangan jantung, dan perceraian. Tiga hal yang paling sering terjadi diantara teman-teman gue di status Facebook” kata seorang teman.

3. TRAVELLER NOT TOURIST

Sejak disediakannya jasa angkutan udara ramah kocek, dunia menjadi semakin kecil. Setiap sudut bumi menjadi terjangkau. Diramaikan dengan postingan di Social Media, tak hanya membuat ingin berpetualang, tapi persaingan antar petualang.

Bahkan, banyak yang menekan nafsu berbelanja kebutuhan tersiernya demi bisa berjalan-jalan. Tak pulang kampung saat Lebaran, demi bisa merayakan malam Tahun Baru di berbagai penjuru dunia. Salah satu penyebab turunnya angka penjualan consumer goods sejak 2013?

Semakin seru dengan adanya akun-akun Twitter yang menawarkan paket perjalanan untuk menonton konser, opera, drama dan hiburan lainnya. Sebut saja @KartuPos dan @SwankyTraveler.

Persaingan meninggalkan jejak di bumi ini semakin tahun semakin seru! Ke mana penjelajahan berikutnya di 2015? Non Touristic Destinations.

IMG_4664-0.JPG

Bersiaplah untuk mengunjungi tempat-tempat yang kalau bisa tidak ada dalam bola dunia. Tempat-tempat yang menyimpan keaslian dan keunikan yang belum pernah terjamah oleh Lonely Planet. Lebih jauh lagi, bahkan di Google Image pun belum ada. Tapi ada yang sudah memunculkannya di status media sosial. Bangga kan?

Ini hanya bisa terjadi kalau para turis bergerak menjadi penjelajah. Berkenalan dengan penduduk asli. Makan makanan asli. Hidup bersama penduduk asli untuk bersama menjelajah. Seorang supir turis di Bali pernah berujar “pantai-pantai baru di sini lebih sering ditemukan oleh orang bule”.

Di tahun 2015 nanti, sehubungan dengan poin nomor 1, akan bermunculan paket perjalanan khusus untuk berolahraga. Yoga ke Sri Lanka bersama guru siapaaa gitu…

Bersambung Minggu Depan, Inshallah

Advertisements

6 thoughts on “Sok Tau 2015 (Bag. 1)

  1. Pingback: 2016: Harapan dalam Keterbatasan | LINIMASA

  2. Pingback: Selamat Ulang Tahun Anakku | LINIMASA

Leave a Reply