NEW > BETTER > FASTER > OBSOLETE

IMG_3208.JPG

Baca kicauan Rocky Gerung beberapa hari lalu, kita sepertinya diingatkan kembali: demokrasi memang butuh cerewet. Demokrasi harus kritis. Demokrasi wajib menghindari pengkultusan individu. Anggap Soekarno sebagai manusia biasa. Begitupun Soeharto. Anggap Habibie sebagai manusia biasa. Begitu pun Gus Dur. Anggap Megawati manusia biasa. Begitu pun dengan SBY. Jokowi? Harus sama.

Besok, 20 Oktober 2014 pemimpin kita berganti. Sebuah hari yang biasanya aku namakan: waktu politik. Momen penting bagi kita semua. Setelah dilantik Jokowi akan secara resmi mengumumkan siapa saja yang akan bahu-membahu bersamanya sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan. Kita berdoa para jajaran eksekutif dipilih dengan semangat baru, lebih baik, lebih trengginas, dan lebih berguna.

+++
Era digital mengenalkan kita pada konsep keterbaruan teknologi dengan lebih baru, lebih baik, lebih cepat, lebih murah. Akan tetapi teknologi juga menghasilkan residu. Tanpa sengaja teknologi lama menjadi ketinggalan zaman. Ketika gawai yang masih layak dan laik dipakai tapi dicap sudah usang. Celakanya memang untuk menjalankan aplikasi yang semakin canggih, beraneka tugas, gawai itu susah payah, tertatih-tatih menerima perintah si pemilik. Lebih parahnya lagi jika gawai itu tidak dapat menjalankan aplikasi terbaru. Alasannya sederhana. Aplikasi anyar hanya bisa dijalankan dengan syarat tertentu. Kapasitas perangkat keras yang lebih besar, lebih cepat, dan harus gunakan sistem operasi terkini.

Bisa jadi itu hanyalah strategi bisnis dari produsen. Pasar harus terus dicari, dikembangkan dan jika perlu paksa konsumen melakukan apa yang harus dilakukan sesuai kemauan produsen.

Maka, begitupun dengan kita. Demokrasi dimunculkan dengan konsep prosumer. Dari rakyat-oleh rakyat dan untuk rakyat. Kita yang membuat, sekaligus kita yang gunakan untuk kepentingan kita. Kedaulatan rakyat seutuhnya. Lembaga negara hanyalah perangkat rakyat untuk menghasilkan kemanfaatan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.
Walaupun sesungguhnya rakyat sama dengan tuhan. Sulit dikonfirmasi langsung. Rakyat yang mana. Tuhan versi siapa.

Ketika trias-politika ala Montesquieu dianggap telah usang, maka konsep eksekutif, yudikatif dan legislatif perlu dipermak untuk memenuhi kebutuhan zaman. Rakyat Amerika memasang piranti lunak check & balances. Pada prinsipnya sama: pembagian kekuasaan. Setingkat lebih tinggi lagi: melindungi yang lemah dari cengkraman yang kuat.

Bagaimana dengan kita? Beberapa hal juga telah dilakukan terobosan. Kita ciptakan the auxilliaries state. Ada lembaga turunan dari konsep trias politika Monterquieu. Lembaga yudikatif yang dahulu menjadi otoritas tunggal lembaga kehakiman (dibaca Mahkamah Agung) saat ini beranak pinak dengan adanya Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial. Lembaga eksekutif yang dulu hanya presiden dan kementerian dalam menjalankan tugas, sekarang ada tambahan PPATK, KPK, BPK dalam rangka menjalankan roda pemerintahan yang terpisah namun saling mengingatkan.

Bagaimana dengan legislatif? Adakah tambahan baru? Hmm.. apa ya. Ada yang bisa bantu?

+++

Baiklah. Begini saja. Aku ndak punya dendam dengan Jokowi. Aku juga ndak terlalu kagum padanya. Biasa saja. Ndak perlu pakai cinta mati tapi juga ndak mau dia lekas mati. Seperti yang dibilang Rocky. Caci maki tanda demokrasi. Pemujaan tanda demokrasi telah mati.

Jokowi sepertinya akan memiliki lawan tangguh dengan Koalisi yang mendominasi legislatif. Akan banyak gangguan dalam jalani roda pemerintahan. Setya Novanto dan kawan-kawan. Menjadi hal lumrah jika ini atas nama rakyat. Tapi apa boleh buat. Belum apa-apa kita telah dipertontonkan dengan aplikasi anyar yang sedang ngetren: walk-out. Mereka dibayar mahal oleh pajak rakyat tapi menghasilkan drama picisan. Seolah-olah rakyat hanya bisa duduk manis sembari iris bawang di depan televisi, menitikkan air mata ketika Rudolfo menyianyiakan cinta Esmeralda. Reda saat jeda iklan tiba.

Tidak!

Kita tidak perlu tontonan semacam itu. Jika perlu kita datangi lokasi syuting. Toh ini sinetron kejar tayang yang sebetulnya bisa kita ubah jalan ceritanya. Belum ada kata terlambat. Penyelenggara negara yang baru harus lebih tegas, cerdas, gunakan hati nurani dan sadar bahwa dirinya dipilih oleh rakyat.

Sepertinya akan banyak pertempuran lanjutan ketika legislatif dan eksekutif bukan satu kongsi. Wajar. Selama menghasilkan produk kinerja yang mumpuni. Tapi, jika yang terjadi adalah keributan untuk kepentingan mereka sendiri. Mari kita kebiri. Burung tak perlu banyak bernyanyi.

Jadikan, siapapun, Jokowi atau Setya, juga yang lain, lebih cepat, lebih berguna dan lebih canggih. Jika tidak: Obsolete-kan. Kita cari yang lebih baik.

BAKAR (satenya) !
SIKAT (toiletnya) !

9 thoughts on “NEW > BETTER > FASTER > OBSOLETE Leave a comment

  1. kemudian, mari kita samakan persepsi

    kritis bukan bagaimana mengkomentari setiap gerak oranglain, tapi juga disertai solusi yg dimulai dari diri sendiri, semampunya, sebaik2nya.

    begitu engga?
    engga ya?

    btw, telimikisi sdh bikin ngakak ampe perut kenceng and sixpack.
    huhuuuyyy

      1. intinya linimasa suka bikin ketawa yg lepas gitu,
        nah, pas ketawa perutnya ditarik

        mungkin, pada saat lepas, tapi ditarik, menjadikan reaksinya terhadap otot menjadi konfyus.

        mingpai ma? 😂

        cumen linimasa yg bisa bikin saya ketawa begini,
        entahlah, mungkin ada yg nyengsol dr saya,
        padahal kan yg nulis serius ya.

Leave a Reply