#RekomendasiStreaming – Tontonan Libur Lebaran 2018 Yang Mencerahkan

Libur Lebaran tahun 2018 ini terasa sekali panjangnya ya?

Sepertinya baru kali ini ada gerakan libur bersama secara nasional yang cukup lama, dimulai hampir seminggu sebelum Lebaran, dan akan berakhir sekitar seminggu setelahnya. Bahkan beberapa instansi, baik kantor maupun sekolah, baru akan mulai beraktivitas lagi bulan depan.

Beberapa teman yang sudah berkeluarga mengaku cukup kelimpungan untuk mencari kegiatan pengisi waktu liburan bagi anak-anak mereka. Sementara saya yang memang tidak berkeluarga, paling cukup kelabakan kalau ditanya, “enaknya nonton apa ya? Film di bioskop sudah ditonton semua.”

Memang perbandingan jumlah film (baru) di bioskop dengan jumlah hari libur tidak berbanding lurus. Oleh karena itu, setelah menonton film-film Lebaran di bioskop, mungkin tidak ada salahnya kita kembali menundukkan kepala untuk melihat konten-konten yang ada di aplikasi video streaming yang kita punya. Tentu saja penundukan kepala ini terjadi kalau Anda menonton serial dan film pilihan saya ini di perjalanan mudik, atau perjalanan balik ke kota tempat beraktifitas. Kalau misalnya sedang dalam keadaan santai, ada baiknya #rekomendasistreaming saya kali ini ditonton beramai-ramai di televisi.
Hitung-hitung sambil memperkenalkan konsep video streaming ke sanak saudara yang mungkin belum familiar.

Jadi, buat yang siap menghabiskan waktu panjang untuk menghabiskan serial televisi, maka tontonlah …

Brooklyn Nine-Nine

Brooklyn Nine Nine

Mungkin ini adalah salah satu serial paling lucu saat ini. Dan yang saya maksud paling lucu adalah, it is genuinely funny. Berlokasi di markas polisi fiktif bernama distrik 99 di Brooklyn, New York, serial ini bercerita tentang keunikan masing-masing karakter penghuni distrik tersebut. Ada detektif Jake Peralta (Andy Samberg) yang selalu menggunakan insting yang salah. Lalu bosnya, komandan Ray Holt (Andre Braugher), yang selalu terjebak dalam image dirinya yang serius. Ditambah dengan rekan-rekan kerja mereka yang lebih suka bertingkah laku konyol dibanding memecahkan kasus kejahatan, serial ini tidak berpura-pura dalam menghadirkan kekocakannya. Sudah ada lima musim penayangan, masing-masing episode berdurasi sekitar 22 menit. Time flies when you’re having fun, and time files when you’re having fun watching something fun.

Mom

Mom

Saat ini sudah jarang sekali serial komedi situasi (sitcom) yang diproduksi dengan menggunakan teknik multiple camera. Apa itu teknik multiple camera? Mungkin dari segi teknis kita tidak bisa membedakan. Tapi ada satu elemen dari sitcom multiple camera ini yang jelas terlihat: ada suara orang tertawa di setiap joke yang dilontarkan. Bahasa kerennya, pakai laughing track.
Nah, dari sedikit serial dengan laughing track yang masih bertahan sampai sekarang, salah satunya adalah serial “Mom” ini. Kenapa saya rekomendasikan?
Karena fokus ceritanya yang tidak biasa. “Mom” berpusat pada hubungan ibu (Alison Janney) dan anak (Anna Faris), yang sama-sama bekas pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Mereka benci satu sama lain, namun mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Setiap episode berpusat pada mereka, lalu pertemuan Alcoholic Anonymous dan makan seusai pertemuan tersebut bersama teman-teman mereka sesama mantan pecandu. Menemukan humor di sisi kehidupan yang terlihat kelam memang tidak mudah, namun serial ini melakukannya dengan sukses. Kita dibuat selalu tertawa, sambil tidak sadar bahwa kita sedang menertawakan getirnya kehidupan yang keras dan susah yang harus dilalui para mantan pecandu ini. Ada 5 musim penayangan, dengan durasi masing-masing episode sekitar 22 menit. Dan kita akan semakin jatuh cinta dengan ibu dan anak di setiap akhir episodenya.

Queer Eye

Queer Eye

Tanpa tedeng aling-aling, saya cuma mau bilang begini: I LOVE THIS SHOW!
Ini adalah reboot dari reality show yang cukup populer sekitar 15 tahun lalu, bertajuk “Queer Eye for the Straight Guy”. Konsep acaranya masih sama, yaitu 5 pria ahli kuliner, interior desain, etiket, busana, dan rambut secara kompak mendandani ulang, atau make over, pria-pria yang sebagian besar adalah heteroseksual. Secara langsung, saat 5 pria yang dikenal sebagai The Fab 5 ini melakukan make over, maka kehidupan pria lain yang mereka make over ini juga akan berubah drastis.
Yang saya suka dari reboot ini adalah penempatan logika yang pas di setiap episodenya. Tidak lagi berbicara soal perbedaan gay dan straight, yang juga masih penting ditempatkan di beberapa bagian cerita. Namun lebih dari itu, banyak pemikiran yang muncul saat mereka melakukan make over yang, terus terang, cukup menggugah saya.
Di salah satu episode, saat mereka mendandani seorang pria yang tidak punya waktu mengurus dirinya karena kesibukannya, salah satu anggota the Fab 5 cuma mengatakan, “It’s important for you to take care of yourself, because you’re not doing it to yourself, but also to your wife and your family. It’s important that you need to be the best version of yourself, because you cannot take them for granted. You want them to love you, so work on it.”
Mungkin kalimatnya tidak persis sama, tapi intinya adalah bahwa menjaga diri bukanlah sebuah kemewahan atau luxury, tapi sebuah keperluan, atau necessity, untuk menjaga sebuah hubungan.
Terus terang saya tidak terlalu suka menonton reality show. Tapi kalau ada reality show yang bisa membuat kita tertawa, tersenyum, dan akhirnya belajar menerima perubahan dalam hidup, I can’t recommend this enough.

Jika perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial-serial di atas, maka dua film ini bisa dipilih:

Bad Genius

Bad Genius

Ini bukan thriller biasa. Bagaimana sekelompok anak bisa mengelabui sistem ujian nasional di Thailand dan memperoleh keuntungan finansial dari situ, merupakan ide cerita gila yang mungkin jarang sekali bisa ditemukan di film-film dari negara-negara lain. Penggarapan filmnya pun sangat serius. Gaya film ini dibuat seperti film thriller papan atas, yang membuat kita semakin gregetan saat menontonnya. Meskipun tidak masuk dalam top 10 film tahun 2017, namun film ini termasuk sebagai salah satu film yang sangat menyenangkan untuk ditonton.

Hindi Medium

Hindi Medium

Masih berkutat soal pendidikan, namun dari sudut pandang lain. Film ini mengajak kita melihat bagaimana ketatnya persaingan untuk memasukkan anak ke sekolah bergengsi demi mendapatkan pendidikan terbaik. Termasuk pura-pura menjadi orang miskin, demi mendapatkan jatah penempatan murid dari kalangan underprivileged. Ide cerita yang sangat menarik, dan dikemas dengan penceritaan yang straight forward, dan menyentuh. Sebagai orang tua murid yang rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, Irrfan Khan bermain sangat cemerlang. Salah satu film Hindi terbaik tahun lalu.

Semoga lima pilihan saya untuk tontonan Lebaran tahun ini bisa membuat pemikiran kita semakin terbuka dan tercerahkan.
Ada tontonan lain yang Anda ikuti selama libur Lebaran kali ini?
Share di komentar di bawah ya!

Advertisements

#RekomendasiStreaming – Campursari Aneka Sensasi

So I guess the cat is out of the bag now.

Hari diunggahnya tulisan ini, yaitu pada tanggal 19 April 2018, bertepatan dengan konferensi pers acara yang sedang saya kerjakan, yaitu festival film Europe on Screen. Kalau pernah mendengar nama hajatan ini, terutama bagi para peminat film di ibukota dan beberapa kota besar di Indonesia, maka pasti familiar dengan konsep acaranya, yaitu memutar film-film Eropa terpilih dalam beberapa tahun terakhir secara gratis di pusat-pusat kebudayaan.
Kebetulan untuk edisi sekarang, saya dan rekan kerja saya didapuk untuk menjalankan perhelatannya.

Perjalanan kami sangat singkat, karena dalam waktu kurang dari 4 bulan harus menyiapkan keseluruhan elemen acara, mulai dari struktur, isi program, materi publisitas dan promosi sampai urusan administratif. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan kegiatan semacam ini secara normal adalah 6-9 bulan masa persiapan.

Hidup saya jungkir balik selama 14 minggu terakhir. Beberapa proyek lain terpaksa harus menunggu, karena ini ibaratnya sedang membangun rumah baru nyaris dari nol. Dan dalam waktu yang singkat pula, saya terpaksa harus melepas beberapa film yang sebelumnya sudah sempat saya incar untuk diputar di festival ini.

Tanpa harus menjelaskan dengan istilah teknis yang njelimet, mendapatkan film untuk diputar di sebuah kegiatan pemutaran film atau festival film itu susah-susah gampang dan gampang-gampang susah.
Kuncinya adalah sabar. Sabar mencari kontak pemegang hak tayang film yang kita mau, yang biasa dipegang oleh agen penjualan atau sales agent, atau distributor. Semua data itu ada di internet, asal kita sabar mencari, dan setelah ketemu kontaknya, sabar menunggu balasan. Balasan pun belum tentu positif, karena bisa saja film yang kita mau sedang tidak available untuk dipinjamkan kopi filmnya di tanggal yang kita rencanakan, atau memang pemegang hak tayang film tersebut tidak tertarik filmnya ditayangkan di acara kita. Itu baru dua dari sekian lusin alasan lain.

Intinya, dalam waktu singkat saya harus mencari ratusan film, dan mengontak ketersediaan ratusan film ini, sebelum akhirnya mengerucut menjadi 90-an program film yang tersedia sekarang. Dari sekian banyak film yang terpental dari daftar, ada 3 film yang lumayan membekas di ingatan. Film-film ini tidak akan ditayangkan di festival, namun mereka bisa ditonton di aplikasi video streaming yang ada secara legal di Indonesia.

Mereka adalah:

Layla M

Layla M (source: Variety)

Film produksi negeri Belanda karya Mijke de Jong ini mengungkap sisi lain radikalisme Islam dari kacamata seorang remaja perempuan yang tomboy. Meskipun seperempat terakhir film terkesan terburu-buru dalam penyelesaian cerita, namun film ini masih menarik untuk diikuti. Paling tidak memberi pemahaman lain tentang kenapa banyak orang bisa tertarik pada gerakan radikalisme yang buat sebagian orang lain susah untuk dimengerti.

Call Me By Your Name

Call Me By Your Name (source: Rolling Stones)

Jujur saja, ini bukan salah satu film favorit saya. Entah kenapa, baik novel asli ataupun film adaptasinya, this doesn’t speak to me. Berbeda dengan Brokeback Mountain yang menyesap ke ujung hati. Namun saya akui, there’s a sense of tenderness yang membuat film ini masih menarik untuk diikuti. Oh, dan film ini tersedia di aplikasi Hooq yang entah kenapa kok saya tidak menemukan tautannya untuk dicantumkan di sini. Hmmm.

Risk

Risk (source: Variety)

Film produksi negeri Jerman yang bisa dibilang “sekuel” dari film Citizenfour karya sutradara yang sama, Laura Poitras. Sama-sama mempunyai unprecedented access ke tokoh kontroversial, kali ini Julian Assange, otak di balik Wikileaks. Menonton film ini memang menghadirkan sensasi ketegangan mengikuti perjalanan Julian yang dikejar-kejar berbagai negara. Namun alih-alih menghadirkan empati, menonton film ini dijamin membuat rasa sebal dan kesal berlipat ganda terhadap Julian. Menurut saya, itulah bukti kesuksesan film ini.

Selamat menonton, dan kalau sempat hadir di festivalnya lalu bertemu saya, panggil saja saya ya. With my name, not your name. Kalau sudah kenalan, ya kita lihat saja nanti. 🙂

Pecahkan Saja Gelasnya Biar Ramai!

Ini pengakuan jujur khusus buat anda: dua film terakhir yang saya tonton di bioskop sebenarnya ditonton karena ada faktor X.

Apakah faktor X itu? Tak lain dan tak bukan adalah kontroversi di balik layar yang menyelimuti dua film ini.

Memang, sebelum kontroversinya hadir, sudah ada niat untuk menonton kedua film ini bila dirilis di bioskop. Tapi huru-hara dan pemberitaan yang sensasional tentang kedua film ini, mau tidak mau, menambah dan memperbesar keinginan untuk sesegera mungkin menontonnya.

Ibarat sudah ngidam makan nasi goreng kambing, lalu mendengar selentingan kabar kalau kambing segera ditarik keberadaannya karena akan dinyatakan haram, maka makin besar keinginan kita bisa makan nasi goreng kambing untuk, bisa jadi, terakhir kalinya.

Kedua film tersebut adalah All The Money In The World dan Padmaavat.

Film pertama, seperti kita ketahui, sudah selesai proses paska produksinya, sehingga film sudah dibungkus rapi sejak September, dan siap tayang di bioskop bulan Desember. Tiba-tiba meledak kasus pelecehan seksual oleh Kevin Spacey. Padahal dia aktor dengan peran besar dan penting di film ini, sebagai milyuner J. Paul Getty. Kevin Spacey pun sudah digadang-gadang oleh studio pembuat film untuk siap dikampanyekan sebagai kandidat pemeran pendukung pria di musim penghargaan film kali ini.

Tanpa tedeng aling-aling, sutradara sekaligus salah satu produser film ini, Ridley Scott, memutuskan untuk syuting ulang. Semua adegan Kevin Spacey diganti oleh Christopher Plummer. Syuting ulang 9 hari di bulan November. Semua aktor yang berinteraksi dengan peran J. Paul Getty dipanggil untuk syuting ulang, termasuk kedua pemeran utama, yaitu Michelle Williams dan Mark Wahlberg.

All the Money in the World (source: AVClub.com)

Saya penasaran: bagaimana mungkin bisa membongkar film yang sudah jadi, syuting ulang kurang dari dua minggu, masa paska produksi cuma sebulan lebih sedikit, dan jadwal film cuma mundur tiga hari dari jadwal awal? Mengikuti berita film ini, saya cuma bisa membayangkan betapa seluruh kru film harus kerja keras dalam waktu singkat. Padahal mungkin mereka sudah terikat kontrak film lain. Atau yang lagi in between proyek lain, mental bekerja untuk proyek film ini sudah selesai.

Yang saya tangkap dari berbagai berita ini adalah, produser tidak mau kehilangan investasi. Kalau film tidak disyuting ulang, film yang sudah selesai itu bisa jadi tidak akan dirilis. Kalaupun dirilis, karena berita pelecehan seksual sudah menyebar luas, maka film itu akan dijauhi penonton. Terpaksa resiko syuting ulang dengan biaya jutaan dolar ditempuh, dengan pemikiran jangka panjang, yaitu filmnya akan menjadi film yang utuh. Film yang bisa ditonton di bioskop, lalu di pesawat, televisi, streaming dan sebagainya. Artinya, filmnya bisa dijual kembali.

Saat saya menonton, terus terang saya kaget.

Kaget yang pertama adalah, ternyata filmnya tidak seistimewa sensasi pemberitaan seputar syuting ulang tersebut. “Bencana” yang menimpa Kevin Spacey akhirnya menjadi publisitas tersendiri yang, meskipun awalnya tidak bisa dihindari, malah akhirnya bisa menarik penonton-penonton penasaran seperti saya. (Eh, istilah ‘penonton-penonton penasaran’ lucu juga ya?)

Kaget yang kedua adalah, ternyata the best thing dari film ini justru Christopher Plummer sendiri. Aktor senior yang direkrut sebagai pemain tempelan, karena menggantikan aktor lain, malah bermain paling cemerlang. Memang layak diganjar nominasi Oscar sebagai pemeran pendukung pria terbaik tahun ini. Padahal persiapannya, tentu saja, sangat mepet. Atau bisa jadi tidak ada.

All the Money in the World (source: Vulture.com)

Selain Plummer, yang bermain gemilang adalah Michelle Williams. Meskipun tentu saja, sebagian besar adegan Williams sudah dibuat jauh sebelum kasus meruak. Tapi saya tidak habis pikir, apakah dengan syuting ulang di beberapa adegan, Michelle Wiliams malah punya kesempatan untuk memperbaiki aktingnya?

Sementara film kedua, Padmaavat, kontroversinya jauh lebih menyeramkan. Literally.

Seperti kata Ranveer Singh, salah satu pemeran utama film ini, di wawancara terakhirnya dia bilang, “India is a very sensitive country.”
Film ini berkisah tentang Rani Padmavati, ratu kaisar kerajaan Rajput yang berusaha mengelakkan diri dari serangan kerajaan Islam yang terobsesi dengan kecantikan dirinya. Kisah ini sendiri berawal dari sebuah puisi. Namun puisi ini secara turun-temurun berabad-abad lamanya telah dipercaya sebagian penganut aliran tertentu di India sebagai media pemujaan.

Lalu muncul rumor bahwa film ini menghadirkan adegan percintaan terlarang antara dua pihak yang berseteru. Banyak golongan yang termakan isu ini marah-marah, lalu merusak lokasi syuting yang telah dibangun. Ini terjadi di tahun 2016.

Setahun setelah selesai syuting, saat filmnya siap ditayangkan di bulan Desember 2017, muncul lagi gelombang protes dari beberapa negara bagian di India akan film ini. Tak tanggung-tanggung, protesnya bahkan sampai mengeluarkan ancaman bagi siapa saja yang bisa membunuh sutradara, Sanjay Leela Bhansali, dan pemeran utama wanita, Deepika Padukone, mereka mendapat imbalan ratusan ribu dolar.

Padmaavat (source: HindustanTimes.com)

Akhirnya disepakati film ini ditunda perilisannya. Lalu disensor ulang, ditambah dengan disclaimer di awal film, sampai akhirnya berhasil dirilis di minggu keempat Januari 2018, alias minggu lalu. Itu pun masih ada 4 negara bagian di India yang menolak penayangan film ini, dan satu negara lain, yaitu Malaysia.

Saya menonton di hari kedua penayangan. Bioskop terisi 80% dari kapasitas. Sepanjang 2 jam 35 menit, saya tidak beranjak dari kursi, termangu di depan layar.
Ekspektasi saya terlalu tinggi rupanya. Dengan segala kontroversi yang ada, saya berharap lebih dari isi film ini. Apalagi semua film-film karya Sanjay Leela Bhansali sebelumnya, sudah saya tonton.

Meskipun kecewa dengan penceritaan yang, menurut saya, lumayan “tipis” dan terasa diulur-ulur, namun banyak sekali redeeming values dari film ini yang masih membuat betah untuk ditonton. Tata artistiknya luar biasa. Kostum dan set dibuat sangat megah. Penampilan Ranveer Singh sebagai raja yang bengis berikut Jim Sarbh sebagai asistennya yang flamboyan membuktikan akting mumpuni keduanya sebagai dua dari sedikit aktor terbaik di India.

Padmaavat (source: Koimoi.com)

Akhirnya Padmaavat sendiri buat saya adalah film yang baik, meskipun bukan yang terbaik.

Cerita sensasi berupa kontroversi di balik layar sebuah film yang kita tonton memang bukan barang baru. Kontroversi itu bisa saja dihadirkan dengan “sengaja” oleh pembuat film atau orang-orang yang terlibat di dalamnya waktu proses pembuatan. Contoh yang paling gampang adalah rumor-rumor cinta lokasi (cinlok) antar pemain.

Kontroversi lain, seperti kasus dua film ini, justru hadir saat filmnya sudah selesai dibuat. Dan ini pun bukan pertama kali terjadi. Ada yang ingat film Buruan Cium Gue? Film ini sempat ditarik dari peredaran karena protes Aa Gym terhadap judulnya. Lalu setelah isu mereda, beberapa bulan kemudian, filmnya diam-diam muncul di bioskop dengan judul baru, yaitu Satu Kecupan.

Semua sensasi ini sebenarnya akan meredup saat kita sudah duduk dalam diam di bioskop, saat pelan-pelan lampu dimatikan dan film dimulai. Sebagian besar emosi kita yang tercampur aduk saat terpengaruh kabar berita sensasional itu biasanya akan berakhir pada, “Oh, jadi filmnya gini doang? So what the fuss is all about?

Exactly.

Mungkin memang gelas sengaja dipecahkan biar ramai, biar gaduh sampai mengaduh. Karena apalah arti kontroversi, kalau filmnya sendiri tidak bisa memikat hati.

Apa Hati Kita Perlu Ikut Berperang Saat Menonton Film Perang?

Dear Mr. Nolan,
I’m sorry.
It’s not you.
It’s me.

Setengah mati (maaf, bukan bermaksud sengaja) saya berusaha mencintai film Dunkirk. Sampai tiga kali saya mencoba mencintainya.
Namun apa daya, perasaan penuh kasih itu tidak kunjung datang jua.

Ya, sampai tiga kali.

Yang pertama, terjadi akhir pekan lalu.
Menuju bioskop dengan perasaan berdebar. Penantian hampir setahun akhirnya datang juga.

Namun apa yang terjadi?
Dari momen-momen awal film, saya terkejut. Tiba-tiba saja banyak pertanyaan berkecamuk di dalam dada dan kepala. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Ini siapa? Kenapa mereka bertingkah laku seperti itu? Kenapa saya malah sibuk memperhatikan tata musik dengan irama dan tabuhan yang menggelora dan membahana … Wait a minute. Ini pasti Hans Zimmer! Lalu sinematografinya kok mirip kayak yang di Interstellar ya di beberapa adegan, terutama tone warnanya … Wait a minute. Ini pasti si Hoytema – Hoytema itu. Aduh, kenapa jadi nggak konsen gini sih?”

Keluar dari bioskop, saya merasa underwhelmed. Terlalu sibuk terkesima dengan elemen-elemen teknis, saya gagal menyatukan kesemuanya dalam mata saya sebagai satu kesatuan gambar yang utuh. Or did I really fail?

Salah satu film bertema perang favorit: Twelve O’Clock High, produksi tahun 1949. (source: channelawesome.com)

Lalu langkah kaki ini memutuskan untuk menenangkan diri sambil makan di kedai terdekat. Paling tidak ada jeda waktu, sebelum masuk ke dalam bioskop menonton War for the Planet of the Apes. Tidak seperti film sebelumnya, saya malah tersenyum sepanjang film ini. Padahal sudah lewat tengah malam. Namun mata nyaris tak mau berkedip, berpaling dari layar, meskipun banyak adegan keras.

Saya pulang dengan rasa senang atas film yang baru saja ditonton, tapi masih penasaran dengan film yang sebelumnya. Akhirnya saya putuskan, mungkin ada yang salah dengan saya, yang tidak menyukai film Nolan kali ini. Saya protes ke diri sendiri, “Nggak mungkin! Wong dulu keluar dari nonton Inception langsung sumringah kayak fanboy lagi kelojotan, kok!”

Masuk tontonan yang kedua di hari berikutnya. Kali ini di layar lebar yang lebih besar. Mulai memalingkan sisi teknis. Berusaha konsentrasi ke cerita. Mulai “ngeh” struktur cerita yang ada. “Oh, begini, tho. Gaya penceritaannya tidak linear, atau tidak lurus. Oke. Fine. Tapi dari tadi kenapa nggak ada karakter yang nyantol di kepala ya?”

Alih-alih konsentrasi ke film, yang ada malah benak saya berputar-putar mengingat-ingat beberapa film perang yang pernah ditonton selama ini. Malah sempat saya berpikir, “Apa karena kebanyakan nonton film selama ini, jadi gak bisa menikmati film ini ya?”

Salah satu film perang paling puitis, meditatif, tapi langsung “kena”: The Thin Red Line, rilis tahun 1998. (source: sinematorler.blogspot.com)

Selesai film, masih merasa aneh sendiri. Lalu baru ngeh, “Padahal semua film Christopher Nolan pasti ditonton lebih dari sekali di bioskop. Dan itu juga karena semuanya gue suka, termasuk Insomnia sama The Prestige yang sebenarnya just okay lah. Tapi kok yang ini …”

Dengan memegang pedoman “the third time’s the charm”, maka keesokan harinya, bergegas saya menonton Dunkirk untuk ketiga kalinya dalam tiga hari di layar yang masih lebar.
Hasilnya? Jidat saya makin lebar, karena masih kebanyakan berpikir. Masih belum puas. Malah sempat protes, “Kenapa adegan one-take, single-tracking yang panjang selama 5 menit di film Atonement bisa efektif mengungkap suasana horor di Dunkirk?”

Dan sepertinya, sampai nonton film terbaru Nolan ini beberapa kali pun dalam waktu dekat, paling tidak sampai 2 minggu ke depan, hasilnya masih akan tetap sama: this time, I’m falling out love.

I’m sorry, Mr. Nolan.
It’s not you.
It’s me.

Keputusan saya akhirnya menganggap Dunkirk tak ubahnya sebagai karya seni yang bisa saya kagumi, tapi tidak bisa saya sukai, apalagi dicintai.

Genre film perang memang bukan genre film yang lantas muncul paling atas kalau ditanya “jenis film favoritmu apa?” ke saya.
Tapi dari sedikit film perang yang saya tonton selama ini, paling tidak ada satu hal di semua film-film itu yang membuat saya betah menontonnya.

Manusia dalam cerita film, atau karakter.

Terus terang, saya tidak bisa berempati pada karakter-karakter di Dunkirk, despite their based-on-real-life. Terasa dingin, sedingin tatapan Nolan dan beberapa appraisal terhadap karakter-karakter di film-film Nolan yang katanya dingin.

Taruhlah memang karakter di Dunkirk memang ‘dibuat’ dingin dan berjarak, berhubung sutradaranya ‘dingin dan berjarak’. Dengan pendapat ini, maka saya tak berhenti berpikir: bukankah almarhum Stanley Kubrick juga tidak kalah dingin, namun dia bisa membuat film anti-war humanis dalam Paths of Glory (1957)?

Paths of Glory (source: IMDB.com)

Mungkin tidak adil membandingkannya, apalagi dengan ada biased opinion bahwa film Paths of Glory memang salah satu film favorit saya sepanjang masa. Toh memang sejatinya a film shall stand on its own, incomparable to others. Tapi sebagai penonton, mau tak mau ada subyektifitas perbandingan saat menonton dua atau lebih karya visual dengan tema atau setting cerita yang sama.

Sepulang menonton Dunkirk, saya menonton ulang beberapa film perang. Saya ingin memastikan, apakah sensasinya sama seperti film Nolan ini.

Yang pertama, The Bridge on the River Kwai (1957). Mungkin lebih dari 17 tahun sudah tidak menonton film ini. Tapi dengan alur yang lambat untuk tontonan masa sekarang, saya masih betah mengikuti ceritanya. Masih kagum dengan bahasa tubuh Alec Guinness sebagai komandan yang terlucuti. Masih gregetan dengan karakter-karakter di film ini.

Jauh sebelum jadi Jedi, Alec Guinnes gave his finest hour in The Bridge on the River Kwai. (source: sky.com)

Lalu saya menonton Das Boot (1981), film Jerman karya Wolfgang Petersen yang mengisahkan tentang usaha kru kapal selam Jerman (U-boat) di Perang Dunia ke-2 untuk menyelesaikan misi mereka, dan bertahan hidup. Terus terang dulu saya pernah menonton film ini waktu kecil, dan tidak selesai. Waktu akhirnya puluhan tahun kemudian saya menonton film ini sampai selesai, tak sadar saya tepuk tangan, meskipun nonton di ruang tamu sendirian.

Das Boot (source: blog.ricecracker.net)

Film berikutnya yang saya tonton ulang adalah Letters from Iwo Jima (2006) karya sutradara Clint Eastwood. Sepuluh tahun yang lalu, saya menonton dengan terburu-buru. Banyak detil adegan yang tak tertangkap. Sepuluh tahun kemudian, saya melihat lagi film ini, dan menerimanya sebagai studi karakter yang sangat multi-dimensional.

Ken Watanabe di Letters from Iwo Jima (source: minnyapple.com)

Terakhir saya menemukan film lama yang belum pernah saya tonton di rak film: In Which We Serve (1942). Film ini tanpa tedeng aling-aling menegaskan diri sebagai film perang propaganda, yang memang dibuat untuk membangkitkan moral tentara Inggris waktu itu. Berbicara tentang propaganda, bukankah Dunkirk juga demikian adanya? Dengan fokus kepada pasukan Inggris di Perang Dunia II, film In Which We Serve secara berani menampilkan efek menakutkan sebuah perang besar dalam kehidupan sehari-hari, meskipun payung besar ceritanya adalah perjalanan kapal perang Inggris.

Ada beberapa bagian dalam film In Which yang mau tidak mau mengingatkan saya pada beberapa bagian di film Dunkirk. Adegan para tentara terombang-ambing di laut, misalnya. Dan tentu saja bagian cerita dari In Which juga berkisar seputar penyelamatan tentara di Dunkirk.

In Which We Serve (source: movie-mine.com)

Kalau boleh jujur, ini mungkin pertama kalinya saya bisa nonton satu film selama tiga kali berturut-turut bukan karena suka sama filmnya. Justru sebaliknya. Dan rasa ketidaksukaan itu membuat saya semakin penasaran, sampai mencari film-film pembanding lain sebagai visual analysis companion.

Toh tidak suka bukan berarti benci. Hate is too strong of a word when it comes to work of art. In fact, most of the times, I hate the word ‘hate’. Buat saya, Dunkirk adalah, lagi-lagi, karya seni yang dibuat dengan perhitungan cermat dan matang oleh pembuatnya. Setiap elemen teknisnya sempurna on their own. Tapi yang saya rasakan adalah the great emotional distance, yang tidak saya rasakan saat menonton film-film macam Saving Private Ryan, atau The Thin Red Line.

In fact, dua film itu, bersama film-film lain yang disebut di atas dan yang tidak disebut, terus menari-nari sepanjang nonton Dunkirk. Seakan-akan saya mencoba mencari paralel potongan adegan tertentu di film-film bertema perang yang pernah saya tonton. Mendengarkannya saja sudah capek, bukan?

Sementara kebalikannya, saya tidak berpikir apa-apa saat menonton War for the Planet of the Apes. Sangat menikmati setiap curves and turns di penceritaannya, meskipun sudah tahu arah ceritanya. Tetapi begitu googling informasi filmnya, saya terkejut membaca bahwa sutradara dan penulis naskahnya, Matt Reeves dan Mark Bomback, menghabiskan banyak waktu menonton film-film lama, di luar trilogi Apes yang asli, untuk mendapatkan inspirasi cerita.

War for the Planet of the Apes (source: empireonline.com)

Lalu saya mengingat-ingat lagi, dan sadar bahwa memang ada bagian-bagian cerita di War for the Planet of the Apes ini yang diambil dari film-film John Wayne. Toh yang kita lihat di layar lebar adalah film yang utuh, baik visualisasi maupun penceritaan, yang mampu meramu semua elemen-elemen teknis melebur menjadi satu kesatuan yang cadas dan cerdas.

Christopher Nolan memang mengambil resiko artistik yang besar di setiap filmnya. Mungkin Dunkirk yang paling besar. Mungkin juga yang paling personal, walaupun ini hanya asumsi belaka. Dan setiap seniman yang mampu mengambil resiko artistik yang rapuh dan rentan perlu kita apresiasi. Meskipun apresiasi itu datangnya tidak sepenuh hati.

So, dear Mr. Nolan,
It’s not me.
It’s you.
It’s always you we respect the most.
And sometimes, respect comes from a distance.

Dunkirk (source: Youtube)

#RekomendasiStreaming – Desain Yang Membuat Hidup Lebih Hidup

(Pengantar:
Rencananya, sebulan sekali mulai bulan ini, akan ada tulisan dari saya tentang rekomendasi film atau serial yang layak ditonton lewat aplikasi video streaming punya Anda. Tulisan ini saya jadwalkan setiap dua Kamis sebelum Kamis terakhir. Jadi bisa Kamis minggu kedua atau minggu ketiga. Memang banyak sekali tulisan saya dan teman-teman lain di blog linimasa ini yang berbicara tentang rekomendasi film atau serial yang sudah kami tonton. Nah, untuk me’lembagakan’ jenis tulisan ini, maka saya jadwalkan, paling tidak buat rekomendasi saya pribadi, agar hadir secara rutin di waktu yang mudah-mudahan tidak meleset. Selamat membaca, lalu selamat menonton.)

• Jika hanya punya waktu untuk menonton satu film panjang di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Saawariya

Film India produksi tahun 2007 ini terasa timeless. Baik ceritanya, apalagi gambar-gambar cantiknya. Bayangkan keindahan film Moulin Rouge! dengan tempo sepuluh kali lebih pelan. Bukan lambat, tapi pelan.

Diangkat dari cerita pendek “White Nights” karya sastrawan Rusia ternama Fyodor Dostoevsky, film ini mengadaptasi cerita tersebut ke suatu tempat di India yang tak bernama dan tak bermasa. Jadilah cerita fantasi romansa yang bermain dengan warna-warna yang menenangkan, tarian dan nyanyian yang tak menghentak, namun pelan-pelan bermain dengan emosi kita.

Sutradara film ini, Sanjay Leela Bhansali, memang terkenal dengan fllm-film visual extravaganza yang selalu dia buat. Namun di film Saawariya, dia membiarkan cerita mengalir bak aliran sungai yang tenang, seperti yang memang ada di film ini. Dua jam lebih tidak terasa. Anggap saja kita sedang terbuai mimpi di sini.

• Jika punya cukup waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Abstract

Simply put: saya jatuh cinta dengan serial dokumenter ini. Padahal saya tidak familiar dengan tema ceritanya, yaitu profil tentang desainer, mulai dari desainer grafis, desainer interior, sampai desainer mobil, dengan karya-karyanya.

Kenapa kok bisa sampai jatuh cinta? Karena di setiap episodenya yang cuma 42 menit, kita disuguhkan secara lengkap mulai dari profil sang desainer, cerita emosional di balik karya-karya masterpiece yang mereka hasilkan, sampai efek dari karya mereka terhadap kehidupan kita. Semuanya cuma dalam 42 menit per episode.

Tentu saja setiap episode menjadi sangat cepat ritme ceritanya, sehingga tak sempat mengkritisi sang seniman dan karyanya, dan membuat kita, orang yang awam terhadap desain, menjadi melek terhadap korelasi desain dan kehidupan manusia.

Cuma ada 8 episode. Dimulai dari Christoph Niemann, desainer grafis pembuat sampul majalah The New Yorker yang menggelitik, dan diakhiri dengan Ilse Crawford, desainer interior yang pernah menjadi editor majalah interior berpengaruh besar, Elle Decoration.
Di antara mereka ada desainer sepatu, desainer panggung konser, fotografer, arsitek, dan desainer mobil. Semuanya punya cerita unik, semuanya membuka mata dan pikiran kita.

Tak tanggung-tanggung, inilah serial favorit pertama saya tahun ini.

Selamat berakhir pekan bersama cerita-cerita ini ya!

Delapan Momen Musik Dan Lagu Dalam Film Yang Paling Pas Di Tahun 2016

Film tidak bisa lepas dari musik dan lagu. Kedua elemen ini bisa menaikkan sensasi emosional di satu atau beberapa adegan di film … dan demikian pula sebaliknya. Kalau musik dan lagu terkesan out of place, yang ada malah kita tidak bisa menikmati film yang sedang kita tonton.

Tadinya daftar ini maunya dibuat “ringkes” saja menjadi daftar soundtrack paling oke tahun ini. Namun keterbatasan saya dalam mengikuti perkembangan kancah industri musik dunia, termasuk Tanah Air, membuat saya gagap informasi tentang soundtrack film dan televisi. Akhirnya daftar ini memuat beberapa pengalaman pribadi saya saat mendengarkan musik dan lagu dari sebuah film. Dan saat menonton filmnya, biasanya saya langsung tersenyum dan mengangguk, karena merasa “emang musik dan lagunya pas sih sama ceritanya”.

Hence, the title.

Daftarnya sengaja tidak saya buat urutan ranking, karena selain bikin daftar angka di WordPress itu ribetnya setengah modyar, saya ingin Anda bisa menikmati lagu-lagu ini sendiri secara random, tergantung perasaan hati masing-masing.

Ini dia:

Try Everything – Shakira (OST Zootopia)

Film Zootopia tanpa disangka-sangka menjadi salah satu film animasi terbaik tahun ini. Ceritanya sangat lancar dituturkan. Dan momen kemunculan lagu ini sangat pas, masuk di cerita menjelang akhir, saat diskriminasi di kota Zootopia mulai runtuh, lalu masyarakat merayakan keragaman mereka. Beat lagu yang ceria juga membuat lagu ini tidak outdated, biarpun didengarkan beberapa bulan kemudian.

Next …

Lose My Breath – Destiny’s Child (from the movie Billy Lynn’s Long Halftime Walk)

Waktu lagu ini muncul di film Billy Lynn’s Long Halftime Walk, yang sayangnya cuma beredar sangat sebentar di sini, saya langsung tertawa. Pikir saya, “WTF? Apaan nih?” Lalu lagu yang dimainkan utuh di film tersebut ternyata memegang peranan penting dalam cerita. Di adegan inilah Billy Lynn akhirnya harus benar-benar mengkonfrontasi konflik di dalam dirinya, sampai jatuh pingsan. Di tengah-tengah pertandingan baseball besar, para tentara yang baru pulang dari Irak dipaksa menjadi “penari latar” Destiny’s Child. Benar-benar sebuah juxtaposition sekaligus tamparan sosial yang sangat subtle, yang jarang ditemui di film-film Hollywood akhir-akhir ini.

Then …

While My Guitar Gently Weeps – Regina Spektor (OST Kubo and the Two Strings)

Lagi-lagi film animasi dan ceritanya yang indah. Tapi saya tidak akan bercerita banyak tentang kenapa versi anyar dari lagu klasik The Beatles ini masuk ke daftar di sini. Yang jelas, saat lagu ini muncul di credit title, sontak saya tersenyum, sambil membatin, “No wonder.” Judul lagu ini saja sudah mewakili ceritanya. Tonton saja sendiri. You will be pleased.

Lalu …

Tiga Dara (OST Tiga Dara)

Pertengahan tahun ini kita sempat melihat hasil restorasi film klasik Tiga Dara produksi tahun 1956 di bioskop. Kesempatan yang langka ada di layar lebar kita. Lagu tema “Tiga Dara” yang muncul di adegan pertama membuat kita tersenyum, sekaligus bangga, bahwa kita pernah membuat film sebagus ini.

Continue …

Can’t Stop the Feeling – Justin Timberlake (OST Trolls)

Pertengahan tahun ini, saat lagu ini sudah diluncurkan di radio, saya “menahan diri” supaya tidak terlalu sering mendengarkan. Takut ter-brainwashed, lalu saat menonton filmnya, jadi kecewa karena tidak sesuai harapan. Untungnya, yang sebaliknya yang terjadi. Saya menonton film ini di bioskop yang penuh dengan anak kecil dan orang tua mereka, dan semuanya menikmati lagu-lagu yang disajikan di film ini. Dan lagu “Can’t Stop the Feeling” yang dihadirkan menjelang akhir seperti menjadi the sweetest treat, puncak dari cerita yang menyenangkan. It’s the best jam of the year.

Rolling …

She Loves You – The Beatles (from the movie The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years)

Beruntung saya sempat menonton film dokumenter The Beatles: Eight Days a Week ini di bioskop. Film yang sebenarnya adalah surat cinta dari para pembuatnya terhadap The Beatles, and it clearly shows. Dari sekian banyak lagu The Beatles yang ditampilkan di sini, ada satu yang tampil sebentar, namun paling menggetarkan hati. Momen itu hadir saat kita menonton footage di tahun 1964, saat pertandingan sepak bola di stadion Anfield, Liverpool, semua orang yang hadir di stadion ini serempak menyanyikan “She Loves You”. Priceless. Chilling. Bulu kuduk saya masih merinding saat menuliskan pengalaman ini, padahal hanya menonton dari kejauhan. It is that rare, magical moment in cinema.

Next …

Love You Zindagi (OST Dear Zindagi)

Meskipun saya sering menonton film Bollywood, namun saya tidak bisa bicara bahasa Hindi. Pick up beberapa istilah dan kata pun juga tidak bisa. Namun ada sesuatu yang lain dari soundtrack film Dear Zindagi ini. Nada-nadanya terdengar santai. Membuat pendengarnya merasa relaxed. Cocok buat dijadikan teman perjalanan jauh ke luar kota. Dan saat menonton filmnya pun, kesan itu yang ditangkap. Nyaris tidak ada adegan over-the-top, termasuk penempatan musiknya. Kemunculan lagu ini pun sangat appropriate, very much in place with the main character’s development. Salah satu surprises of the year buat saya.

Finally …

Jangan Ajak-Ajak Dia – Melly Goeslaw (OST Ada Apa Dengan Cinta 2)

The most “baper” song of the year. Ke-baper-an itu semakin pas saat lagu ini muncul di adegan crucial yang membuat kita mengerti, kenapa magnet Cinta dan Rangga masih sedemikian besar setelah berbelas-belas tahun kemudian. Dari semua lagu baru yang hadir, lagu ini yang memang paling pas kemunculannya di film AADC2.

Bonus:

Heaven is a Place on Earth – Belinda Carlisle

Kenapa lagu ini penting? Karena the finest hour of television in this year sepenuhnya diciptakan dari lagu ini. Alasannya ada di tulisan tentang top 10 tv shows of 2016 di sini.

Selamat berdendang ria!

Ada Marta dalam Martabat

Baru ngeh kalau Michael Moore merilis film baru dari Agun, langsung saya cari dan tonton tentunya. Walau dokumenter ala Moore memang tak jarang hanya menyentuh permukaan masalah, dan terkadang merupakan simplifikasi, tetapi saya selalu terhibur, dan terusik untuk mencari tahu tentang subyek-subyek itu lebih dalam.

Tetapi film ini, banyak sekali hal yang menyentil saya. Terutama dalam hal ternyata, walau tidak jarang orang di sini berteriak-teriak tentang anti Amerika, kita banyak sekali hal-hal yang berkiblat ke sana. Biaya kesehatan dan pendidikan yang mencekik leher, contohnya (sebelum ada BPJS). Kemudian hal war on drugs; kita mengadaptasi hukum dari AS nyaris persis. Selain itu, yang membuat saya berpikir juga adalah ketika Moore mengunjungi Portugal yang telah mendekriminalisasi kepemilikan narkotika dan obat terlarang. Obatnya sendiri tetap ilegal tentunya. Ternyata perkiraan banyak orang yang menyangka hal ini akan meningkatkan angka kematian akibat over dosis obat-obatan terlarang, salah. Sejak hukum itu diberlakukan tahun 2001, tahun lalu Portugal tercatat memiliki angka kematian akibat over-dosis obat-obatan terlarang kedua terkecil setelah Rumania, yaitu 3 orang per 1 juta populasi.

Ketika ditanya oleh Michael Moore, jika para polisi ini punya pesan yang ingin disampaikan kepada US, mereka berkata (kutipan bebas).

Human dignity is the backbone of our society, therefore all laws are executed with human dignity as principle. In our police trainings, we are always reminded to respect the dignity of humanbeings. As long as you have death penalty, human dignity can’t be protected.

Dignity dalam bahasa Indonesia adalah martabat (tentu Anda sudah paham). Sementara ‘menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa’ sering sekali terdengar di sana sini, tetapi apakah martabat orang-orang ini terlihat dijunjung tinggi?

cover-242947f0b10e11a5686919d183de4717_420x280

Tidak ada martabat yang dijunjung tinggi di sini

medium_82pemerkosa-siswi-sma-riau

Di sini juga tidak

ospek-itn-640x480

Apalagi ini

gusur-kaki-lima-700x336

Ini juga tidak

Sebagai comedy relief, mari kita lihat klip dari salah satu film favorit saya Talladega Nights: The Legend of Ricky Bobby yang dikutip juga di film Where to Invade Next.

 

Delapan Untuk Selimutan

Empat tahun lalu, saya pernah menulis di blog pribadi tentang film-film komedi romantis yang, menurut saya pribadi, underrated. Artinya, film-film ini mungkin tidak terlalu sukses secara komersial di pasaran, atau kualitasnya menurut kritikus pada saat pertama kali dirilis. Dan memang film-film ini kebanyakan slip under the radar waktu kemunculan perdananya.

Namun, seiring berjalannya waktu, film-film ini mendapat tempat di hati beberapa orang. Salah satunya, saya. Film-film ini terasa tak lekang oleh waktu. Semua film ini saya tonton beberapa tahun setelah dirilis. Malah ada yang setelah puluhan tahun.

Toh saat menontonnya, saya masih terkesima, sampai sekarang. Dan selayaknya genre atau jenis film komedi romantis, film-film ini membuat hati hangat. Uplifting and lovely. Membuat kita berharap, atau sekedar merasa klangenan saat menontonnya.

Film-film ini kemungkinan jarang Anda jumpai di daftar film wajib tonton di media manapun. Atau bahkan daftar-daftar semacam “great romantic comedies of all time”. Saya percaya, dan semoga Anda juga bahwa the films that touch our heart are not necessarily the great ones. They are those that can make us believe in love again, convincingly, and unknowingly.

Thus, they are underrated.

Empat tahun berselang dari saat daftar ini pertama kali dibuat. Membacanya lagi, saya mengangguk dan tersenyum, karena kenangan saya terhadap film-film ini masih sama. Daftar ini masih relevan untuk membuat saya, dan mungkin jutaan manusia sendirian tanpa pasangan lain di luar sana, bisa selimutan di depan televisi atau komputer malam hari, tersenyum sebelum tidur menonton film-film yang memang membuat bibir kita tersungging.

Tanpa berlama-lama lagi:

  • film untuk kita yang percaya bahwa hati pun punya pasangannya, dan kita tak berdaya saat hati kita mencari pasangan agar bisa hidup;
Return to Me (2000)

Return to Me (2000)

Summertime (1958)

Summertime (1958)

The Truth About Cats and Dogs (1996)

The Truth About Cats and Dogs (1996)

The Object of My Affection (1998)

The Object of My Affection (1998)

Little Manhattan

Little Manhattan (2006)

Keeping The Faith (2000)

Keeping The Faith (2000)

About a Boy (2002)

About a Boy (2002)

Definitely Maybe (2008)

Definitely Maybe (2008)

Semoga akhir pekan kita indah.

Genre Manusia dan Karakter Film Yang Cocok

Jadi tadi sepagian saya mempersiapkan sesuatu yang harus disajikan ketika meeting siang hari. Ketika meeting tiba-tiba muncul ide topik menulis untuk Linimasa tercinta. Lalu meeting berlangsung panjang dan agak njelimet. Begitu meeting bubar, pekerjaan urgent sore sudah mulai lewat, saya mencoba mengingat ide saya itu, dan ternyata hilang saja saudara-saudara. Akhirnya saya menyerah, pulang ke rumah, berbuka puasa makan, dan ketika di tengah makan teringat kembali topik tersebut. Begitu selesai makan saya mengalami food coma, dan ketika saya mencoba mengingat topik tersebut, TERNYATA LUPA LAGI. Memang kita tidak pernah boleh overestimate our memory capacity. Padahal itu alasan mengapa selalu ada aplikasi voice recorder di homescreen smartphone saya. Karena begitu mudahnya ide datang, semudah itu juga ide pergi. Terutama ketika dalam kondisi kemerkaan.

Lalu ketika saya melemparkan pertanyaan cukup ngehe untuk minta ide dari rekan-rekan Linimasa tercinta, beberapa memberikan ide, semua berlian, tetapi ada satu yang menarik hati saya ketika ini. Ide ini dari dek Nauval di Jakarta; memilih film kencan sesuai teman kencan.

Saya paham betul kenapa Nauval terpikir ide ini, karena, walaupun selera film kami cukup jauh berbeda, tetapi cinta kami terhadap film kurang lebih sama besarnya. Bagaimana tidak, kami beberapa kali kepergok (mengaku sih, lebih tepatnya) memilih diam di rumah menikmati film baru atau favorit daripada pergi kencan dengan orang baru yang kwaliteitnya belum bisa dijamin. Jadi marilah kita ulas hal ini, bukan dari genre manusianya (karena saya terkadang lebih cinta film daripada manusia), tetapi berdasarkan genre film.

  1. Film horor
    Jika Anda penyuka film horor garis keras, dalam arti selalu mencari film dengan genre ini dan subgenre-nya dengan aktif, tidak peduli produksi negara mana pun dan bahasa apa pun, Anda juga harus memilih dengan selektif teman kencan ketika menonton film jenis ini. Jika salah pilih, Anda akan terjebak dengan tipe kencan yang menyebarkan meme biarawati dari sebuah film horor yang sedang hits, padahal nonton filmnya saja belum. Dan terjebak menonton film horor dengan mereka adalah hal terburuk yang bisa terjadi (I’m allowed to be a bit dramatic here, it is my writing). Waspadai juga tipe kencan yang mengaku “movie buff” tetapi ketika Anda tanya beberapa film horor yang bukan blockbuster (namun tetapi terkenal) dia mengatakan belum sempat menontonnya. Karena, umumnya ketika Anda menonton bersama dia dan keluar dari ruang teater dengan senyum lebar dan semangat menggebu-gebu untuk membahas betapa mengasyikkannya pengalaman menonton tadi, dia akan menjawab dengan (sok) santai, “okelah filmnya, walaupun endingnya sudah ketebak”. Pada akhirnya Anda harus menelan ludah dan menahan diri mengatakan, “HEI JAHANAM, FILM DICIPTAKAN BUKAN UNTUK DITEBAK ENDINGNYA, MEMANGNYA BUAH MANGGIS.”Pilih kencan menonton Anda dengan bijaksana. Jika ragu, ajak teman atau sahabat non hubungan romantis, yang sama level kesukaannya terhadap horor dengan Anda. Jika masih ragu, pergilah menonton sendiri. Harap dicatat kalau horor di sini mengandung subgenre paranormal, berdarah, berdarah dan aneh, tidak berdarah dan aneh, juga thriller. Contoh bisa diberikan melalui permintaan di kolom komen. 

    1035x690-ce-03551r_03

    You’re not supposed to guess the ending, marvel the greatness of John Goodman instead!

  2. Film drama
    Kecuali drama dengan editing dan sound yang luar biasa seperti Whiplash, tidak ada kriteria teman kencan yang spesifik untuk genre ini. Whiplash sebenarnya juga termasuk aman saja ditonton bersama siapa pun. Hanya pastikan kalau teman kencan Anda tidak ilfil atau menuduh kelewat baper jika Anda burst into tears di ujung film  yang sama sekali tidak ada adegan sedihnya, hanya karena scene terakhir film begitu hebatnya membuat Anda begitu emosional dan tak rela rasanya berpisah dari pengalaman seperti itu, dan Anda yakin kalau satu dekade bisa lewat sebelum bisa merasakan hal yang sama lagi; ya menangis karena itu. Saya masih bicara soal Whiplash. Dan saya hampir yakin tak semua orang bisa mengerti. Jika Anda termasuk yang ingin mengejar film-film award di bioskop, pastikan teman kencan Anda kuat melek. Kalau pun mudah bosan dan mudah tertidur, pastikan dia tidak mengorok. 

    whiplash-scream

    Fletcher is screaming “NOT MY TEMPO!”, and I CRIED!

  3. Film action
    Jika Anda seorang perempuan, genre ini termasuk paling aman untuk kencan. Bisa dipastikan teman kencan Anda yang pria penyuka perempuan akan menikmati film jenis ini. Jika Anda seorang pria ingin mengajak perempuan nonton film aksi, pastikan dulu film itu tidak memiliki judul Transformers ke berapa pun. Karena mengajak setengah paksa menonton film franchise ini bisa menimbulkan dendam kesumat yang berakibat tidak adanya kencan lanjutan.
    true-story-new
  4. Film drama komedi
    Berkedok people pleaser, sebenarnya, Anda bisa menilai selera humor dan kedalaman seseorang dengan mangajaknya menonton sebuah film komedi. Perhatikan di bagian mana dia tertawa, dan seberapa nyaring tertawanya. Apakah dia mengerti joke dapur yang referensinya agak obscure? Atau hanya tertawa di obvious jokes, apalagi mentertawai penderitaan orang lain? Atau malah teman kencan tidak tertawa sama sekali sepanjang film? Coba terangi dengan layar ponsel Anda, siapa tahu dia sudah lari.
  5. Film drama romantis
    Keluar dari klise, dan lupakan berkencan dengan menonton film romantis. Tunggu DVD-nya, atau nonton di Netflix. Lebih aman jika kita ternyata culun dan terisak menangisi kisah cinta fiksi. Jaga harga diri, nonton film romantis sendiri.

    hero_man-up-2015

    Dammit, Pegg! *sniff*

    Bonus musik untuk menemani akhir pekan ceria.
    Don Ellis: Whiplash

Jatuh Cinta Pada Karakter

Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengeluh kepada seorang teman. Saya bilang, banyak film yang saya tonton sampai paruh tahun ini yang tidak meninggalkan bekas sama sekali. Menguap begitu saja selesai keluar dari bioskop.

Teman saya tertawa kecil, lalu bertanya, “Maksudnya, nggak ada film bagus, gitu?”
Saya jawab, “Definisi bagus itu kan macem-macem ya. Dan nonton film itu kan subyektif. Ini bener-bener nggak ada yang berkesan gitu.”
“Maksudnya berkesan?”
“Paling nggak, pas bangun pagi sehari setelah nonton film itu, masih keinget.”
“Busyet sampe segitunya. Emang ada film yang bisa sampai kayak gitu?”

Saya mengangguk.
Lalu saya melihat catatan film-film apa saja yang sudah ditonton selama ini. Baik itu menonton di bioskop, maupun di rumah.

Untuk tahun ini, hanya ada sedikit film yang saya tulis dengan huruf tebal. Itu tandanya, film itu memberikan kesan yang sangat dalam seusai menonton.
Dari puluhan film yang saya tonton di bioskop sampai paruh tahun ini, film terakhir yang berkesan adalah NEERJA. Film kisah nyata tentang pramugari Pan Am yang menyelamatkan penumpang dari ancaman teroris di tahun 1986. Film ini produksi India. Filmnya sendiri saya tonton di bioskop bulan Februari lalu.
Sementara puluhan film lain yang ditonton setelah Neerja di bioskop, cuma sekedar saya tulis sebagai penanda saja.

Neerja (courtesy of youtube)

Neerja (courtesy of youtube)

Lain cerita dengan di rumah.
Karena bisa mengkurasi sendiri tontonan yang saya pilih, maka banyak tontonan serial, film televisi, atau film-film lama yang sangat membekas. Terakhir saya sangat terkesan pada mini seri AMERICAN CRIME STORY: THE PEOPLE VS OJ SIMPSON, dan menonton ulang film lama, THE PRIME OF MISS JEAN BRODIE (1969).

Rasa penasaran ini membuat saya bertanya lagi kepada teman yang lain. Kebetulan dia seorang penulis. Keluhan yang sama saya sampaikan. Dia cuma menjawab singkat, “It’s because you don’t like the characters.”
“Maksudnya?”
“Ya film-film yang kau sebutkan di atas itu ‘kan semuanya character-driven. Ceritanya dibuat dengan mengedepankan karakter, sehingga karakternya benar-benar dibuat dan dibangun sedemikian rupa that you cannot help but feeling empathy. Kebetulan aku juga nonton Neerja. Ingat-ingat lagi deh. Bukan hijack teroris yang ditonjolkan di film itu, tapi karakter Neerja, dan juga ibu Neerja kan yang dikedepankan? Lalu miniseri OJ Simpson itu. Di setiap episode, kita dikenalkan dengan karakter-karakter orang-orang yang berada di sidang pengadilan OJ kan, gak melulu reka ulang adegan sidangnya? Because once you care about the characters, you will care about whatever story they are put in.

Saya mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu. Masuk akal.

American Crime Story: The People vs OJ Simpson (courtesy of indiewire)

American Crime Story: The People vs OJ Simpson (courtesy of indiewire)

Dalam waktu singkat, cerita, dalam bentuk apapun, harus mampu menarik minat mereka yang mengkonsumsinya. Bisa penonton, pendengar atau pembaca. Biasanya, cerita yang baik akan membawa kita langsung ke inti masalah. Ini banyak terjadi dalam format cerita yang pendek.
But then, what’s next? Kita tetap perlu tahu dan kenal siapa (saja) orang yang berada di inti cerita itu.

Tidak perlu bertele-tele menceritakan latar belakang karakter, tapi dari raut muka, gerak badan, pilihan kata dan tindakan yang diambil di dalam suatu masalah, semuanya sudah menunjukkan karakter dari tokoh yang kita lihat, baca atau dengar.

Dari situ kita sudah bisa memilih dan menilai, apakah kita bisa berempati dengan karakter tersebut. Karena hanya dengan empati maka kita bisa mengikuti cerita karakter tersebut dengan baik.

Tentu saja televisi mempunyai keunggulan tersendiri, karena dalam format panjang dan dilakukan secara rutin, maka kita bisa mengenali setiap karakter yang ada. We welcome them to our home every week or every day, sehingga mereka sudah jadi bagian dari hidup kita. Inilah kenapa banyak dari kita yang masih betah menonton serial televisi yang sudah kita ikuti selama bertahun-tahun. Because we know the characters inside and out.

Di film layar lebar pun, meskipun akhir-akhir ini kita banyak dibombardir film-film event-driven, namun tetap karakter mereka lah yang akan kita ingat. Saya masih ingat detil-detil kecil di film Neerja yang memperlihatkan vulnerability karakter utama, yang membuat kita makin trenyuh. Di film Prime of Miss Jean Brodie, dari lima menit pertama rasanya tidak mungkin kita tidak jatuh cinta pada karakter Jean Brodie yang unik, yang ia perlihatkan pada murid-muridnya. Dan tentu saja, karakter seperti Cinta dan Rangga atau Galih dan Ratna yang kita simpan dalam kenangan, meskipun plot filmnya mungkin perlahan hilang dari ingatan.

Toh dalam kehidupan nyata, kita jatuh cinta dulu pada orangnya, sebelum kita tahu perjalanan hidupnya.

Bukankah begitu?

The Prime of Miss Jean Brodie (courtesy of highdefdigest)

The Prime of Miss Jean Brodie (courtesy of highdefdigest)

Dipilih Sehingga Kita Tidak Pusing Memilih

Ada satu pertanyaan yang cukup sering saya tanyakan ke banyak orang. Memang bukan pertanyaan singkat, karena jawaban dari pertanyaannya akan memancing pertanyaan lain yang lebih “kompleks”.

Pertanyaan itu adalah, “Kamu suka nonton film di bioskop?”

Kalau jawabannya “tidak”, maka biasanya saya akan lanjut bertanya, “Oh, kalau begitu, waktu luang biasanya diisi apa?” Bagi saya, tidak perlu mencari alasan mengapa orang tidak suka melakukan suatu hal.

Kalau jawabannya “ya”, maka biasanya saya akan melanjutkan dengan beberapa pertanyaan seperti:
– “biasanya dalam sebulan berapa kali nonton?”
– “film terakhir yang ditonton apa?”
– “paling sering nonton di mana?” (sumpah, ini bukan mau stalking!)
– “kalau nonton di bioskop sukanya nonton sendiri atau sama siapa?” (ini juga bukan kepo, tapi pure curiosity!)
Lalu pertanyaan yang akhir-akhir ini makin sering saya tanyakan:
– “kenapa suka nonton di bioskop?”

analyze

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja saya tanyakan dalam kapasitas informal, alias menanyakan dalam situasi yang santai, dan tidak dalam kapasitas survey resmi. Meskipun begitu, terutama untuk pertanyaan terakhir, saya menemukan jawaban-jawaban yang menarik.

Pada dasarnya, kebanyakan dari kita tidak suka sendiri. Kegiatan menonton di bioskop adalah cara menghabiskan waktu bersama orang lain, baik itu pacar, pasangan hidup, atau beramai-ramai bersama dengan teman dan keluarga. Lalu banyak juga yang bilang, kalau bioskop mempunyai kualitas layar dan tata suara yang jauh lebih baik dari apa yang kita punya di rumah. Menonton di layar lebar jauh lebih memuaskan daripada sekedar menonton di televisi, tablet atau bahkan layar ponsel.

Selain itu, ada satu jawaban yang cukup menggelitik. Beberapa orang mengatakan, bahwa kalau di bioskop, mereka sudah tahu akan menonton film apa, karena mereka berniat menonton film tersebut, tanpa harus terganggu dengan banyak pilihan lain. Kalaupun ada pilihan lain, paling 2-3 film lain. Pilihan yang sedikit justru membuat kelompok penonton ini fokus terhadap apa yang mereka mau tonton.

Jawaban ini cukup membuat saya terkesiap. Sedikit terkejut. Tetapi lantas memahami.

jack-russell-terrier-sunglasses-glasses-drink-tube-popcorn-humor-white-background

Seorang teman pernah bilang ke saya, “Waduh, di rumah itu banyak banget film belum ditonton. Jaman streaming video belum secepat dan segampang sekarang, kan suka download tuh. Itu aja belum semua ditonton. Pulang ke rumah, malah kadang bingung nonton apa. Di harddisk masih banyak film dan serial. Langganan streaming, malah gak ditonton.”

Saya bertanya, “Tapi nonton di bioskop?”

“Iya. Kadang melipir aja sambil nunggu macet kelar. Atau emang sengaja nonton film di bioskop. Kan jelas, filmnya apa. Gue gak perlu bingung milih atau mikir mau nonton apa. Udah, tinggal beli tiket, beli popcorn, duduk. Jelas.”

Dalam pembahasan lain yang semi serius, seorang teman lain pernah berkata bahwa untuk leisure items, banyak orang cenderung akan mengkonsumsi atau memilih apa yang sudah dipilihkan untuk mereka.
“People still prefer having their goods chosen and curated for them”, katanya.

Ini sedikit mengingatkan pengalaman teman saya waktu bekerja toko buku. Kata dia waktu itu, susah sekali menjual buku fiksi dibanding buku-buku petunjuk seperti restaurant guides, travel guides, dan sejenisnya.
Lalu teman lain yang dulu bekerja di perusahaan rekaman pernah juga berujar bahwa rata-rata penjualan album kompilasi seperti All Hits Collections dan sejenisnya masih lebih baik dari album solo.

Sedikit banyak memang hal ini memberikan suntikan mood booster ketika saya harus mengkurasi film untuk festival. Bahwa ketika orang diberikan pilihan yang terbatas dalam waktu yang terbatas untuk mengakses pilihan tersebut, maka ada sense of urgency untuk menikmatinya, sebelum terlewat kesempatannya. Ya ini memang sekedar self assurance sih. Entah benar atau tidak, dan tergantung seberapa besar festival tersebut dikenal, tapi nyatanya memang saya melihat bahwa kegiatan festival film, festival musik dan festival-festival lain cenderung dipadati penonton. Terlebih kalau tempat pelaksanaan kegiatannya cukup nyaman, seperti bioskop.

movie-watching

Tempat yang nyaman, pilihan yang sudah tersaji, dan kita cukup menerima. What’s not to like? Mungkin ada yang protes, kenapa film tertentu tidak ditayangkan, diputar atau dirilis. Tapi jumlah yang protes biasanya tidak cukup banyak utnuk membuat orang berpaling sepenuhnya, karena bagaimanapun, frekuensi untuk menyerahkan pilihan kepada pihak lain ternyata masih cukup tinggi. Maka bioskop masih ada, walaupun streaming service makin mudah dijangkau. Maka orang masih punya paling tidak satu set televisi di rumah, walaupun akses internet nyala 24 jam. Maka restoran masih ada, meskipun jasa antar layan makanan makin banyak.

Karena kita manusia yang perlu melihat manusia lain untuk memastikan kita tidak sendiri. Meskipun kita memilih sendiri, tapi menikmati tontonan tidak dalam kesendirian akan memberikan pengalaman yang membuat kita ketagihan.
Tidak percaya?

Well, selamat menonton. 🙂

Nyaman Untuk Dilihat

Sekitar dua bulan lalu, saya duduk bersama beberapa orang yang menjadi juri di festival film yang kami selenggarakan. Salah satu juri tersebut penulis linimasa juga, yaitu Lei.
Bersama beberapa orang lainnya, kami ngobrol-ngobrol santai sembari makan siang seusai tugas penjurian selesai. Dari sekian banyak obrolan ngalor-ngidul, kami sepakat untuk membuka “rahasia” masing-masing.

“Rahasia” ini adalah film favorit kami, atau film yang paling sering ditonton berulang kali.
Kenapa “rahasia”? Karena kalau berbicara film yang paling sering ditonton di rumah, tentu saja jawabannya bukan film-film yang mengernyitkan kening yang dilihat. Justru film-film yang terkesan ‘remeh temeh’ yang mencuat di pembicaraan.

Saya memulai, “Sudah beberapa kali lho, kalau pulang ke rumah capek, bingung nonton apa, gue langsung aja tuh nonton lagi Bridget Jones’s Diary, sampai hafal lho dialog-dialognya!”
Yang lain menimpali, “Sambil nyanyi “All By Myself” depan TV?”

Bridget Jones's Diary (Courtesy of marieclaire.co.uk)

Bridget Jones’s Diary (Courtesy of marieclaire.co.uk)

Kami tertawa. Lalu kami sepakat bahwa film-film macam Notting Hill, Love Actually, When Harry Met Sally …, Sleepless in Seattle dan sejenisnya adalah semacam comfort film yang menyenangkan untuk ditonton berulang kali. Ini berlaku juga untuk film petualangan atau aksi macam Back to the Future atau Die Hard. Beda genre, tapi sense of familiarity masih sama.
Sama seperti makanan yang termasuk comfort food, maka rasa comfort film sudah kita ketahui dari awal sebelum kita mengkonsumsi. Berhubung kita tidak ingin berpikir dan spekulasi terlalu banyak terhadap sesuatu yang baru, maka kita pun acap kali mengkonsumsi comforting stuff ini.

Lalu ke mana film-film yang banyak disebut sebagai fllm-film terbaik sepanjang masa, seperti Citizen Kane, The Godfather Trilogy, The Seventh Seal atau Rashomon?
Tentu saja mereka masih ditonton dan diapresiasi. Bentuk apresiasinya secara khusus, tidak dengan memakai kaos oblong dan celana pendek di depan sofa sambil memeluk bantal di depan televisi. Atau bisa juga melakukan hal itu, namun perlu konsentrasi dan atensi yang lebih tinggi dibanding menonton film-film ringan lainnnya. Konsentrasi dan perhatian yang lebih tinggi ini memerlukan energi yang lebih banyak tentunya, sehingga sikap kita terhadap film-film ini tidak bisa se’santai’ saat menonton film-film ringan lainnya. Sikap kita yang lebih serius, perhatian kita yang lebih tinggi, mau tidak mau membuat kita harus menyiapkan waktu tersendiri untuk menonton film yang membutuhkan atensi lebih tinggi. Kalau tidak, bisa tidur di tengah-tengah.

Notting Hill (courtesy of ovationtv.com)

Notting Hill (courtesy of ovationtv.com)

Apakah kualitas film-film ringan tersebut lebih rendah dari film-film serius lainnya? Bisa panjang kalau diuraikan di sini. Secara singkat saja, saya akan menjawab kalau film-film ringan itu punya kualitas yang setara atau lebih tinggi dari film-film serius lainnya.
Kalau saya tidak salah kutip, aktor Charles Laughton pernah berkata,

“dying is easy. Comedy is hard.”

Ini sebuah mantra yang masih berlaku sampai saat ini. Membuat adegan sedih itu gampang. Tinggal teteskan air ke mata aktor, jadilah adegan sedih. Adegan lucu? Sometimes jokes do not translate easily. Oleh karena itu, penulisan komedi, atau komedi romantis, membutuhkan keahlian tersendiri. It takes a village to tell a joke.
Dan terbukti bahwa film-film ringan yang menjadi comfort film bisa ditonton kapan saja. Comfort films stand the test of time.

Love Actually (Courtesy of littlestuffedbull.com)

Love Actually (Courtesy of littlestuffedbull.com)

Apapun yang teruji ketangguhannya oleh waktu, anything that is timeless, they’re work of art.

Inilah 10 comfort film versi saya, secara acak:
• Bridget Jones’s Diary
• When Harry Met Sally …
• Sleepless in Seattle
• Working Girl
Same Time, Next Year
• Back to the Future
• Notting Hill
• Love, Actually
Roman Holiday
• ….. (isi sendiri. This is yours.)

Aku Akan Selalu Ada Di Belakangmu

Media sosial dan internet ini adalah dua hal yang sangat erat kaitannya. Siapa sih yang tidak punya akun di Facebook, Twitter, Path, Instagram, Whatsapp atau Line? Saya kira hampir 75% mereka yang mempunyai telepon genggam pintar yang terkoneksi dengan internet pasti memiliki salah satu akun di atas. Yang membedakan adalah kadar pemakaiannya. Dari kadar pemakaian tersebut bisa dilihat tergolong ke bagian mana kamu sebetulnya. Apakah yang cuma scroll aja. Atau tidak henti-hentinya selfie. Atau kultwit setiap saat seakan dunia akan berakhir besok. Atau check-in di mana pun anda berada. Atau foto makanan lalu unggah ke media sosial favorit sebelum makanan tersebut dilahap. Hap.

psycho

Semua tipe itu akan berujung kepada dua golongan. Voyeur atau eksebisionis. Atau dua-duanya. Voyeurisme ini mungkin lebih dikenal dengan kata kepo kalo kata anak muda sekarang. Yang akan menuju pada tahap stalking atau menguntit. Sementara eksebisionis mungkin mereka yang suka memamerkan kegiatan apapun dan mengunggahnya ke media sosial favorit anda dengan sadar. Dunia harus tahu. Gila aja udah liburan jauh masa orang-orang gak tau. Dua tipe di atas mempunyai konsekuensi. Bisa bagus bisa jelek.

a ​person who gets ​sexual ​pleasure from ​secretly ​watching other ​peoplein ​sexual ​situations, or (more ​generally) a ​person who ​watches other people’s​private ​lives:

Voyeurisme, ngintip, kepo, atau nguntit. Itu bila kamu sekedar skroll di media sosial. Jarang sekali posting. Tapi selalu ada. Selalu mengamati. Suatu gejala yang saya kira cukup wajar di era millennium ini. Selama kadarnya masih wajar saja. Tapi voyeurisme ini bisa sangat menggoda iman. Dengan pepatah rumput tetangga terlihat lebih hijau maka ini akan menjadi berbahaya bagi sebagian orang. “Waduh si Badu jalan-jalan mulu ya ke luar negeri. Ke Tanzania pulak. Jadi pengen.” Ini salah satu ekses yang bisa terjadi. Dan apabila iman anda goyah maka akan mengikuti Badu untuk ikut jalan-jalan. Padahal kamu mungkin gak begitu membutuhkan itu. Tapi demi mengunggah foto dengan latar belakang citah, beruang, atau singa kan akan mengundang belasan mungkin puluhan “love”.  Walaupun resikonya bisa diterkam beruang. Yagapapa. Leo aja dapet Oscar kan karena menderita karena diterkam beruang? Padahal ngomongnya dikit. Cuma modal bewok ama mengerang dan melenguh “Aarrghh”, “Eurghhh”. Gitu doang.

Voyeurisme ini akan menjadi berbahaya ketika kamu menjadi Robin Williams di film “One Hour Photo”. Voyeurisme yang terjadi kepada Glenn Close di film “Fatal Attraction” pun tentunya sangat dihindari oleh Michael Douglas. Film pertama Chris Nolan pun yang berjudul “The Following” temanya mengenai voyeurisme yang mengundang bahaya. Film termurah dari Chris Nolan sebelum dia membuat “Memento”. Contoh lain dari voyeurisme adalah film dari David Lynch yang berjudul “Blue Velvet”, yang juga berbahaya. Seperti pepatah terkenal dari Botswana yang mengatakan “curiousity killed the cat”.

rear2

Tapi sebaliknya voyeurism bisa bermanfaat ketika kakimu cedera, digips, dan tidak bisa kemana-mana. Padahal tugas untuk memotret sudah terjadwal. Jari udah gatel pengen mencet tustel. Yang bisa dia lakukan hanya duduk di kursi roda dan melihat situasi dan kondisi terkini tetangga melalui jendela apartemennya seperti James Stewart di film “Rear Window”. Film besutan Hitchcock ini mungkin contoh paling afdol mengenai voyeurisme. Ketidakberdayaannya di kursi roda ini menimbulkan rasa ingin tahu yang besar. Karena apa yang bisa dilakukan? Apalagi jika anda seorang fotografer handal yang gemar bertualang? Pemandangan sekitar akan menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat. Dan rasa ingin tahu akan keadaan sekitarnya adalah hal yang sangat manusiawi. Di sini kita melihat psikologi seorang manusia yang pada dasarnya kepo. Apalagi jika melihat ada sesuatu yang janggal dengan salah satu dari banyak tetangganya. Dia bahkan menelantarkan kekasihnya yang cantik jelita yang diperankan oleh Grace Kelly. Meski ia sudah berupaya sedemikian rupa untuk menarik perhatian pasangannya tapi tidak berhasil yang membuat ia meragukan apakah betul James mencintainya dan akan menikahinya. Karena James Stewart tetap bergeming dan melanjutkan kegiatan ngintipnya. Kesel gak? Nyebelin kan? Grace Kelly gitu lho. Dia malah terobsesi menjadi detektif dadakan dan berusaha mengungkap misteri yang terjadi. Tapi percaya deh. Ini salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh Hollywood. Ini adalah film tentang film-film dalam sebuah film. Seperti kata “curcol”. Sudah singkatan disingkat lagi disingkat lagi. Jika belum menonton sempatkanlah. Jika sudah sempatkanlah menonton lagi. Buat yang anti film Hollywood, kamu kenapa? Siapa yang menyakitimu?

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raaf:31)

Dan akhirul kata, seperti ayat Qur’an di atas. Maka memang bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak banyak manfaatnya. Lebih banyak mudharatnya. Sewajarnya saja. Yang sedang-sedang saja. Tidak cantik dan tidak jelek. Yang penting setia. Seperti lagu dangdut. Jangan kayak Sting pas nyanyi lagu di bawah ini. Hih. Stalker.