Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy vol. 3

Ternyata sudah kali ketiga saya menulis tentang prediksi peraih Emmy Awards di linimasa ini. Kalau ini serial televisi, maka tulisan ini adalah tulisan musim penayangan atau season ke-3. Sementara linimasa-nya sendiri sudah masuk ke season ke-5. Tidak terasa ya, waktu cepat berlalu.

Dan yang tidak terasa juga adalah serial-serial televisi yang absen, lalu muncul kembali, atau sudah berhenti penayangannya. Tidak terasa, karena dengan banyaknya konten tayangan di berbagai kanal dan aplikasi, kita tidak sempat lagi menangisi atau merenungi kepergian tayangan serial kesukaan kita. Kenapa? Karena dengan banyaknya pilihan yang ada, kita langsung mengalihkan pilhan kita ke acara atau serial lain. Begitu mudahnya, begitu cepatnya.

Setiap tahun ada banyak serial baru yang diproduksi dan ditayangkan. Lebih banyak serial baru yang masuk daripada serial lama yang berhenti. Kalaupun tidak berhenti, paling tertunda penayangan musim terbarunya. Dan ini membuat kita hidup di era di mana kita sudah tidak sanggup lagi untuk benar-benar bisa catch up mengikuti satu per satu episode serial yang ada. Waktu kita terbatas.

gq-bill-hader

Barry (source: GQ)

Kalau sudah begitu, maka jangan abaikan personal taste atau kesukaan diri sendiri. Tontonlah apa yang kalian rasa perlu untuk ditonton, dan yang juga penting, yang memang kita sukai. Bagi saya, kalau saya sudah terpikat dengan karakter dan dunia mereka dalam serial tersebut, maka susah buat saya untuk berpaling. Meskipun itu harus menunggu lama di antara musim penayangannya.

Demikian pula dengan serial-serial baru yang mungkin dipuji banyak kritikus luar negeri, tapi tidak terasa dekat dengan saya. Terutama setelah ditonton beberapa episode, saya belum bisa menikmatinya juga.

Maka dari itu, jujur saja, dari nominasi perhelatan 70th Primetime Emmy Awards tahun ini, saya belum bisa menikmati penuh “Atlanta” sebagai serial komedi. Demikian pula dengan “Westworld” season ke-2 yang membuat saya sibuk mengernyitkan kening di hampir semua episode, mencoba mencerna apa yang sedang saya tonton. Meskipun masih powerful, tak urung ada beberapa momen di “The Handmaid’s Tale” season ke-2 yang, mau tak mau, menimbulkan pertanyaan di benak saya.

culturewhisper-gianniamericancrime

The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story (source: Culture Whisper)

Sementara di sisi lain, saya langsung tertawa terbahak-bahak di episode pertama “Barry” dan “The Marvelous Mrs. Maisel”. Dan ternyata rasa senang itu berlanjut sampai di penghujung masing-masing serial tersebut. Meskipun tidak sebaik “The People vs OJ Simpson”, namun saya masih menikmati “American Crime Story” kali ini, yang terfokus pada cerita pembunuhan desainer Gianni Versace.

Pada akhirnya, pilihan saya di bawah ini adalah murni pilihan personal. Bukan analisa prediksi kuantitatif dan kualitatif, tapi pilihan saya yang memang menyukai apa yang saya tonton dan apa yang saya pilih.

Semoga pilihan kita berbeda, ya. Kalau sama, juga nggak masalah.

Ini dia:

• Best Comedy Series: The Marvelous Mrs. Maisel
• Best Lead Actor, Comedy Series: Bill Hader – Barry
• Best Lead Actress, Comedy Series: Tracee Ellis Ross – Black-ish
• Best Supporting Actor, Comedy Series: Brian Tyree Henry – Atlanta
• Best Supporting Actress, Comedy Series: Betty Gilpin – GLOW

• Best Drama Series: The Americans
• Best Lead Actor, Drama Series: Matthew Rhys – The Americans
• Best Lead Actress, Drama Series: Keri Russell – The Americans
• Best Supporting Actor, Drama Series: David Harbour – Stranger Things
• Best Supporting Actress, Drama Series: Vanessa Kirby – The Crown

• Best Limited Series: The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Darren Criss – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Laura Dern – The Tale
• Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Edgar Ramirez – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Judith Light – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story

Berbeda dari biasanya, Emmy Awards tahun ini akan diadakan hari Senin malam waktu Amerika Serikat, atau Selasa pagi waktu Indonesia. Belum ada informasi di mana akan ditayangkan acara ini. Toh kita masih bisa selalu memantau perkembangannya lewat Twitter.

telegraphUK_crown2

The Crown (source: The Telegraph UK)

Selamat menonton!

😉

Advertisements

Sebelas Serial Yang Paling Betah Ditonton Di Tahun 2017 Yang Hampir Jadi #RekomendasiStreaming

It’s impossible to watch everything on TV. Sungguh sebuah hil yang mustahal atau hal yang mustahil untuk bisa menonton semua apa yang ada di televisi dan aplikasi video streaming.
Misalnya saja, serial Friends. Serial ini masih ada di beeberapa aplikasi streaming. Ada 10 musim penayangan serial ini. Masing-masing musim penayangan terdiri dari 23 atau 24 episode dengan durasi sekitar 22 menit per episode. Untuk menamatkan keseluruhan serial ini, diperlukan waktu 3 hari, 14 jam dan 32 menit, tanpa jeda, tanpa tidur sama sekali.

Itu baru satu serial.

Masih ada ratusan serial lain dalam satu aplikasi atau satu stasiun televisi. Sementara dalam genggaman kita, bisa diunduh belasan sampai puluhan aplikasi, dari dalam dan luar negeri, dan televisi kita mampu menampung ratusan saluran.

Time is not a renewable source, demikian seorang teman pernah menulis di media sosialnya. Saya setuju. Makanya pilihan serial yang saya tonton biasanya saya cari tahu sebanyak-banyaknya informasi tentang serial itu terlebih dahulu.

Tiga serial yang juga menyenangkan untuk ditonton. Dari atas: 13 Reasons Why, Dear White People, The Deuce.

Sedikit berbeda dengan film panjang: sebisa mungkin saya tidak tahu banyak tentang film itu, karena hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam, semua cerita bisa tertuang dan terjelaskan dalam trailer singkat, atau sinopsis yang agak panjang. Sementara trailer atau sinopsis umum serial, bukan sinopsis per episode, biasanya kurang bisa mewakili jalan cerita yang akan berkembang sepanjang 10 atau 20 episode dalam satu musim penayangan.

Dan, lagi-lagi, we are living in the golden age of great storytelling on television. Setiap saluran televisi, kabel, streaming, berlomba-lomba menghamburkan uang untuk memproduksi tayangan bermutu, demi menarik penonton dan pelanggan yang rela menghabiskan uang dan waktu untuk berlangganan dan menonton serial-serial ini.

Daftar berikut terpilih dari sekitar 50 serial yang saya tonton sampai tuntas satu musim penayangannya. Masih jauh dari sekitar 400-an serial (Amerika) yang ada setiap tahunnya. Pilihannya tentu saja bersifat personal, termasuk pilihan untuk menonton serial apa. Makanya, saya ingin juga melihat serial apa saja yang teman-teman tonton dan suka. Saya yakin, list kita pasti berbeda. Rekomendasi teman-teman juga pasti berbeda.

And that’s the beauty of sharing our differences.

Sekarang, mari kita lihat pilihan serial tahun ini versi saya:

• (sebelas) • American Gods

American Gods (source: Amazon)

Setelah Hannibal usai, maka pilihan saya untuk serial yang paling stylish and stylized adalah “American Gods”. Fantasi absurd yang mungkin membutuhkan sedikit usaha ekstra untuk mencerna jalan ceritanya. Tapi “American Gods” memungkinkan kita untuk sekedar menikmati visualisasi yang mencengangkan, dan pelan-pelan, kita dibawa untuk sedikit memahami gaya penceritaannya yang tidak biasa.

• (sepuluh) • Will & Grace – Revival

Will & Grace (source: Today.com)

Saat mendengar serial ini dibangkitkan kembali, saya skeptis. Sudah lebih dari satu dekade sejak serial ini berakhir. Are the characters still the same? Thank God they are! Will, Grace, Karen, Jack masih lucu, masih cerdas, dan ini yang penting: semakin relevan.

• (sembilan) • Abstract: The Art of Design

Abstract: The Art of Design (source: Pinterest)

Di awal tahun, saya sempat kaget ada serial unik ini. Delapan episode singkat, masing-masing berdurasi sekitar 30 menit, bercerita tentang proses kreatif dan a glimpse of life dari delapan desainer dengan disiplin kerja yang berbeda-beda. Ada desainer grafis, interior desainer, desainer sepatu sampai desainer mobil. Kesamaan mereka? The light in their eyes and faces yang berbinar saat menceritakan profesi dan karya-karya mereka. It’s addictive. Membuat kita terpacu.

• (delapan) • The Keepers

The Keepers (source: tvseriesfinale.com)

Dari beberapa serial dokumenter kriminal tahun ini, “The Keepers” masih yang membuat saya takut. This is a true horror story. Cerita tentang pelecehan seksual yang dilakukan sebuah institusi keagamaan dengan pengaruh dan kekuasannya, ternyata masih, bahkan semakin menjadi-jadi sampai sekarang. Serial ini juga menunjukkan pentingnya thorough investigative report, meskipun perlu berpuluh-puluh tahun untuk menyelesaikannya.

• (tujuh) • Top of the Lake: China Girl

Top of the Lake: China Girl (source: thechristianpost.com)

Terus terang, this is a surprise pick. Serial “Top of the Lake” season 1 dibuat dengan sangat baik, sehingga susah membayangkan kalau musim penayangan selanjutnya akan bisa menyamai kualitas prima tersebut. Ternyata, menurut saya, malah ada improvement. Tidak terlalu menguji kesabaran penontonnya, malah semakin shocking and adventurous, yang rasanya tidak mungkin dibuat oleh Jane Campion. But she excels. Begitu pula dengan trio aktor dengan performa yang menakjubkan: Elisabeth Moss, Nicole Kidman, Gwendoline Christie. We root for them, we yearn for them.

• (enam) • The Marvelous Mrs. Maisel – Season 1

The Marvelous Mrs. Maisel (source: IMDB)

Dari tim pembuat “Gilmore Girls”, tidak salah kalau kita sempat merasa serial ini punya vibe mirip “Gilmore Girls”, hanya saja ber-setting New York di akhir 1950-an. Lengkap dengan dialogue bantering yang cepat, karakter perempuan yang cekatan, dan cerewet. Nyaris menjadi annoying, sampai diselamatkan oleh kehadiran Mrs. Maisel di panggung melakukan stand-up comedy routine di setiap episode. Akhirnya serial ini tidak “gengges” lagi, malah miraculously becoming lovely, and genuinely funny.

• (lima) • The Crown – Season 2

The Crown season 2 (source: tvline.com)

Serial yang sangat saya antisipasi tahun ini, and it does not disappoint. At all. Semakin berani dalam mengupas sisi kehidupan royal family yang kita belum tahu sebelumnya, dan semakin megah dalam produksinya. Dan semakin lama kita mengikuti season ini, semakin kita memahami jati diri Queen Elizabeth II yang sesungguhnya: apa yang membuat dia menjadi dirinya sekarang. This is a drama series with the most lavish royal treatment, dengan setiap episode mempunyai penceritaan kelas tinggi.

• (empat) • Stranger Things 2

Stranger Things 2 (source: Vulture.com)

Yang saya tidak antisipasi adalah serial ini menjadi serial horor. Selayaknya sekuel film atau seri, musim penayangan berikutnya sudah tidak lagi sibuk mengenalkan karakter satu per satu. Now it’s all about action, adventure, and apparently, goriness. Namun fokus ke petualangan ini tidak lantas menjadikan serial ini tidak menarik lagi. Justru sebaliknya. Keseruan petualangan fantastis “The Famous Five”, meskipun mereka sering terpisah sepanjang serial, masih sangat nikmat untuk diikuti dan ditonton sekaligus dalam satu kali putar. Sangat layak untuk menghabiskan 8 jam sekaligus.

• (tiga) • The Handmaid’s Tale – Season 1

The Handmaid’s Tale (source: godawa.com)

Bagaimana mungkin cerita tentang dystopian future yang ditulis lebih dari 30 tahun lalu, ternyata masih relevan dan mungkin bisa terjadi? Demikian dengan serial ini, yang membuat kita saat menontonnya terus berpikir, “This can happen to us anytime now.” Sangat layak meraih Emmy Awards sebagai Drama Seri Terbaik tahun ini, dan membuktikan bahwa Elisabeth Moss adalah salah satu aktris terbaik yang ada saat ini. She breathes and lives the role and elevates the series. This is her best yet.

• (dua) • BoJack Horseman – All Seasons (4)

BoJack Horseman (source: newmovies.net)

Saya baru mengetahui serial animasi ini beberapa bulan lalu. Begitu hooked dengan beberapa episode awal, langsung tancap gas menghabiskan satu season, lalu season berikutnya, dan tanpa sadar, sudah sampai empat musim penayangan. Seperti banyak serial-serial Netflix lain, it gets better by each season. Cerita tentang seorang bintang televisi 90-an yang sudah pudar popularitasnya punya banyak issues yang terkait kehidupannya. Mulai dari ageism, racism, fame, celebrity culture, sampai materialism dan politik. Mungkin inilah salah satu dari sedikit sekali serial komedi satir saat ini.

• (satu) • Master of None – Season 2

Master of None season 2 (source: screencrush.com)

Masih jadi misteri terbesar bagi saya, bagaimana Aziz Ansari membuat serial ini dengan penuh hati. Sebagai seorang imigran, dia berhak membuat serial yang memperlihatkan kemarahan, atau paling tidak, bersuara lantang mengeluarkan kritik terhadap berbagai isu sosial di Amerika Serikat. Atau bersikap sinis. Nyatanya, Aziz memilih cara untuk menyampaikan pemikiran kritisnya tentang isu rasialisme dan migran lewat komedi yang manis. Kalau Anda menyempatkan menonton serial ini, and you must, maka Anda akan setuju bahwa there is no mean bones in Aziz’s body of work here. Semuanya ditampilkan apa adanya, dan masih meninggalkan perasaan hangat di hati. Episode Thanksgiving dalam musim penayangan serial “Master of None” kali ini adalah the finest hour of television this year.

Sekarang, apa pilihan Anda?

Mari Marathon! (Nonton TV)

Baru saja kemarin rasanya saya seperti ditampar. Ditampar sama tulisan sih, bukan sama orang. Tulisannya bisa dibaca di sini: 11 Ways to be Healthier When Watching Too Much TV. Dari judulnya sudah cukup jelas ‘kan tentang apa?

Lalu kenapa bisa merasa tertampar?

Kalau teman-teman sering membaca tulisan-tulisan saya di sini, maka teman-teman pasti tahu betapa saya lagi tergila-gila menonton banyak serial televisi. Tentu saja kalau sudah berbicara soal serial televisi, kita bicara tontonan dalam durasi lama, lebih lama dari menonton satu film di bioskop.

Jadi, kalau sudah terpikat sama satu serial, maka bisa dipastikan saya akan menghabiskan waktu cukup lama untuk menonton serial tersebut. Bisa berjam-jam di depan layar televisi. Apalagi sekarang bisa streaming atau mengunduh serial dalam satu musim penayangan.

Kalau sudah begitu, tidak ada kerjaan lain selain duduk, duduk dan duduk. Sebuah aktivitas pasif yang sangat bertentangan dengan usaha untuk menjaga kesehatan tubuh.

(Courtesy of wired.com)

(Courtesy of wired.com)

Sesuai apa yang ditulis di artikel di atas, kalau sudah duduk lama sambil menonton televisi, pasti akan makan makanan ringan. Pasti akan ngemil.

Dan mana mungkin ngemilnya makanan sehat? Kemungkinan besar pasti makanan tidak sehat: terlalu banyak karbohidrat (nasi, roti, mie), lalu dilanjutkan dengan snack ber-MSG. Benar-benar “total” menjadi seorang couch potato.

Dari pengalaman menjadi couch potato bertahun-tahun selama ini, lalu sambil membandingkan dengan tulisan di atas, maka sepertinya ada beberapa hal yang bisa kita “siapkan” kalau mau nonton serial televisi, atau istilahnya, binge-watching:

  • Lakukan di pagi hari.
  • Ternyata saya baru sadar kalau baru sekali saya melakukan binge-watching, menonton satu musim penayangan, atau satu season, serial televisi, dari episode awal sampai episode terakhir. Serial itu adalah Stranger Things. Saya menontonnya dari jam 7:30 pagi, lalu berakhir di jam 4 sore. Waktu itu menontonnya di hari Minggu.
    Dari situ saya baru sadar, aktivitas binge-watching ini perlu tenaga ekstra, ya? Dan akan nge-blok waktu kita, bisa sampai setengah hari penuh. Maka memang sebaiknya dilakukan hanya di waktu luang, dan dimulai di pagi hari.

  • Kalau cuma bisa menonton di malam hari …
  • … maka batasi 2 episode saja sebelum tidur. Percayalah, ini akan susah sekali dilakukan. Apalagi serial macam House of Cards yang sungguh-sungguh sangat adiktif. Seringnya kita akan ngomong ke diri sendiri “satu episode lagi deh, abis itu tidur.” Tapi kenyataannya, kita akan sering bablas, sampai ketiduran di depan televisi atau gadget. Apabila nekat bablas nonton sampai pagi, yang ada besok paginya kita ngantuk, dan kekurangan energi karena kurang tidur.

(Courtesy of lifehacker.com)

(Courtesy of lifehacker.com)

  • Selalu sedia air putih.
  • Ternyata ini cukup manjur untuk membuat kita bergerak. Dulu waktu saya sering menonton 2-3 DVD berturut-turut, selalu ada 2 botol air minum ukuran 1 liter masing-masing yang ada di sebelah saya. Sekarang, cukup minum 1 gelas selesai satu episode Unbreakable Kimmy Schmidt, atau di tengah-tengah satu episode Masters of Sex. Rutin minum segelas air putih membuat kita sering bergerak, karena harus pipis di kamar mandi. Setelah usai buang air kecil, minum air putih. Begitu terus siklusnya.

  • Batasi jarak pandang.
  • Ini salah satu poin dari artikel Vulture di atas yang saya setuju. Sebisa mungkin kita menonton di televisi. Ukuran layar besar dari televisi akan otomatis membuat kita duduk dengan jarak yang cukup jauh. Ini sangat membantu untuk menutup mata saat ada adegan menyeramkan di Game of Thrones. Kalaupun harus menonton via tablet atau ponsel, jangan terlalu dekat dengan mata. Apalagi sampai ngantuk dan muka kita kejatuhan tablet atau ponsel itu.

(Courtesy of geekandsundry.com)

(Courtesy of geekandsundry.com)

  • You are what you eat!
  • Nah, ini yang saya belum bisa lakukan dengan baik. Jujur saja, saya masih suka “bablas” saat ngemil sambil nonton serial televisi. Favorit saya? Semua klethikan atau cemilan yang kalau dimakan bunyi krak-krak-krak saat digigit di dalam mulut, dan ber-MSG. Mulai dari kripik singkong sampai kacang. Sehat? Tentu tidak. Cukup sebungkus? Tentu tidak.
    Artikel di atas menyarankan buah anggur yang sudah dibekukan sebagai pengganti makanan ringan saat menonton. Setuju. Beberapa kali mengganti cemilan dengan buah seperti apel, jeruk dan anggur. Sudah cukup kenyang, apalagi yang ditonton serial ringan macam Madam Secretary. Cuma ya itu. Godaan aneka kripik dan kerupuk kok ya susah sekali ditepis.

  • You can always multitask.
  • Keasyikan menonton televisi di rumah adalah kita tidak perlu berbagi ruang dengan orang lain. Dengan begitu, kita bebas melakukan apa saja sambil menonton serial televisi kesukaan kita. Biasanya, setelah 2-3 episode, kita sudah familiar dengan tokoh-tokoh dan jalinan cerita yang berjalan, sehingga kita masih bisa mengikuti, meskipun mata tidak sedang tertuju ke layar televisi. Jadi kadang saya mendengarkan saja dialog dari Empire sambil mencuci piring. Atau sambil menanggapi obrolan di WhatsApp grup.

  • You choose what you watch (not others)
  • Artinya, pilih apa yang mau Anda tonton. Kalau tidak suka, tinggal saja. Masih banyak serial lain yang bisa ditonton. Cukup satu episode dari serial MacGyver edisi baru untuk membuat saya memutuskan serial ini tidak perlu ditonton lagi, karena membosankan. Sebaliknya, saya tidak keberatan menghabiskan waktu menonton ulang Friends atau Will & Grace. Dua-duanya memang belum ada yang menandingi lagi sampai sekarang.

After all, not every hype or the latest trend is suitable for us.

(Courtesy of theodysseyonline.com)

(Courtesy of theodysseyonline.com)

Selamat menonton!

Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy

Lagi-lagi soal televisi.

Maklum, sebagai penonton serial televisi, saya benar-benar terbuai dengan banyaknya serial televisi berkualitas, terutama dari Amerika Serikat dan Inggris. Kepuasan menonton serial televisi ini sudah sering kali saya tulis, baik di Linimasa maupun blog pribadi. Tapi memang nyatanya, rasa senang ini masih bertahan sampai sekarang. Puas rasanya menonton tayangan televisi yang bisa membuat saya terpaku dan kagum dengan jalan cerita yang disajikan. Malah sekarang kalau tidak ada film yang menarik di bioskop, saya memilih untuk menonton serial televisi. Lebih terhibur, dan lebih memberi asupan untuk otak dan hati. Apalagi media menontonnya makin banyak, dengan banyaknya pilihan aplikasi streaming yang ada.

Veep

Veep

Makanya, paling tidak buat saya, perhelatan Emmy Awards, ajang penghargaaan tertinggi untuk dunia pertelevisian di Amerika, menjadi sama menariknya untuk diikuti seperti Academy Awards buat penggemar film. Berhubung saat ini kita sedang berada dalam masa “Golden Age of (scripted program in) television”, atau banyak orang menyingkatnya dengan “peak TV”, maka persaingan Emmy Awards jauh lebih ketat dan selektif daripada Oscar.

Kalau dari segi angka, memang sepertinya jauh lebih susah untuk dinominasikan di Emmy Awards.
Kurang lebih perbandingannya seperti ini:
– saat ini ditaksir ada 400 serial televisi di Amerika setiap tahunnya. Empat ratus serial, katakanlah rata-rata per serial ada 10 episode, berarti setahun ada lebih dari 4.000 episode serial televisi. Ini baru serial televisi, belum termasuk dokumenter, reality show, dan lain-lain.
– sementara setiap tahun sekitar 300 film panjang yang masuk shortlist untuk Academy Awards.
– nominasi dan pemenang Emmy Awards dipilih oleh anggota Television Academy yang totalnya berjumlah lebih dari 20.000 anggota.
– nominasi dan pemenang Academy Awards dipilih oleh anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) yang totalnya berjumlah lebih dari 6.000 orang.

The Americans

The Americans

Meskipun begitu, Emmy Awards sendiri cukup sering dikritik. Ada kecenderungan menominasikan serial dan aktor/aktris yang sama setiap tahunnya. Mungkinkah karena terlalu banyak serial televisi yang harus ditonton para voters untuk dipilih? Bisa jadi. Dan sejatinya memang serial televisi bisa menjadi tontonan yang familiar buat kita setelah kita terbiasa menontonnnya dalam waktu lama, setelah beberapa episode. Alhasil, sense of familiarity juga lah yang menentukan apakah serial tersebut bisa masuk nominasinya?

Solusinya? Tentu saja campaign. Segala macam publisitas dan promosi dikerahkan untuk mendorong serial-serial ini mendapat perhatian. Apresiasi positif dan critical reaction menjadi senjata penting. Apalagi sekarang situs-situs seperti Rotten Tomatoes dan media-media prestisius semacam The New York Times juga memberikan ruang khusus untuk kritik program televisi.

The People VS OJ Simpson

The People VS OJ Simpson

Dan dengan banyaknya program serial televisi, akhirnya penilaian terhadap “program terbaik/aktor terbaik/aktris terbaik” pun berbeda-beda. Penilaian satu ajang penghargaan dengan ajang penghargaan lain terhadap kategori “the best in TV” pun berbeda. Selain wajar, ini juga memperkaya pilihan, dan lagi-lagi, membuktikan bahwa memang we are living at the age of too much good TV.

Berhubung yang paling dekat dari semua ajang penghargaan televisi itu adalah Primetime Emmy Awards yang digelar Minggu, 18 September (di sini disiarkan langsung oleh StarWorld hari Senin pagi, 19 September), maka berikut ini tebak-tebakan saya siapa yang akan menang. Daftar lengkap yang panjang dari nominasi Primetime Emmy Awards bisa dilihat di sini ya:

Master of None

Master of None

  • Best Comedy Series: Veep
  • Best Lead Actor, Comedy: Aziz Ansari – Master of None
  • Best Lead Actress, Comedy: Julia Louis-Dreyfus – Veep
  • Best Supporting Actor, Comedy: Tituss Burgess – Unbreakable Kimmy Schmidt
  • Best Supporting Actress, Comedy: Anna Chlumsky – Veep
  • Best Drama Series: (aduh, ini berat banget, karena banyak yang saya suka. Tapi, mau tidak mau, harus the most personal favorite kalau memiih. Jadi pilihan saya …) The Americans

  • Best Lead Actor, Drama: Rami Malek – Mr. Robot
  • Best Lead Actress, Drama: Robin Wright – House of Cards
  • Best Supporting Actor, Drama: Kit Harrington – Game of Thrones
  • Best Supporting Actress, Drama: Constance Zimmer – UnReal

  • Best Limited Series: The People vs OJ Simpson

  • Best TV Movie: (sebenarnya nggak ada yang terlalu suka, jadi ini pilihan yang sifatnya menebak pilihan voters, yaitu …) All the Way
  • Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Courtney B. Vance – The People vs OJ Simpson
  • Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Sarah Paulson – The People vs OJ Simpson
  • Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Hugh Laurie – The Night Manager
  • Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Jean Smart – Fargo season 2
House of Cards

House of Cards

Apakah saya menonton semua pilihan saya ini? Jawabannya: 85%.
Kenapa cuma segitu? Ya lihat saja video ini.

Ingat: too much of a good thing is not good after all.

😉

The Night Manager

The Night Manager