#KisahCintaRamadan LELAKI TERAKHIR YANG MEMELUK AL-QURAN DI BULAN RAMADAN #KisahPulkam

oleh: Dede Soepriatna

“Barangkali benar bahwa, takkan pernah adil bila secarik cinta dan sekeping dinar di satukan dalam kalimat tanya. Karena, cinta ibarat sujud dan do’a. Kesatuanya akan meyapa megah dan berhias tahta. DIA-tahu akan hal itu.”

Mungkin aku adalah lelaki terakhir yang memeluk Al-quran di Ramadan kali ini. Setelah cobaan yang menimpaku kemarin, hanya Al-quran-lah singgasana terakhirku.

“Sudahlah, Pak, ulah di teuing pikirkeun. Aya keneh dinten enjing. Gusti Allah tidak tidur, Pak.”

Berulang kali Syalimah     istriku   mencoba mengeluarkan kata-kata yang ia maksudkan untuk menenangkanku. Namun, itu justru membuatku semakin rapuh. Sebagai seorang suami dan kepala keluarga dengan tiga anak, aku merasa gagal. Sangat gagal.

Baru kemarin      selepas sahur       aku menghias gerobak takjil itu. Tapi, tadi sore aku harus ikhlas gerobak itu di angkut paksa oleh para aparat negeri ini. Betapa miris hatiku. Baru saja aku menyusun rencana yang luar biasa di Ramadan tahun ini. Menjadi pedagang takjil agar bisa mengajak Syalimah dan ketiga buah hatiku pulang kampung. Itu mimpi besarku selama lima tahun terakhir. Dan mungkin akan kembali punah di tahun ini. Aku memang kepala rumah tangga yang tak dapat di banggakan.

“Uang kita sudah ludes! Bahkan tabungan untuk hari raya sudah tidak ada sepeser pun. Bagaimana kita bisa menyambung hidup, Bu?”

Aku kembali bergumam kesal.

“Bapak masih percaya kan sama Gusti Allah? Bapak juga masih percaya kan sama cinta-Nya? Tenang saja, Pak, Allah itu Mahatahu. Cinta-Nya pun luas tak terbatas. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Masalah pulang kampung, bukankah kita sudah terbiasa merayakan hari raya di tanah rantau ini, Pak?

Aku bergeming. Syalimah memang wanita yang luar biasa. Ia bukan hanya seorang ibu yang baik dan sholehah, tapi juga seorang istri yang memilki cinta menakjubkan. Namun, aku justru kasihan melihatnya. Lagi-lagi ia menjadi korban dari nasib burukku.

“Perbanyak istighfar, sholat dan mengaji. Mencari harta bisa kita bicarakan besok, yang penting bapak selalu mendapatkan ridho-Nya. Itu sudah lebih dari cukup!”

Lagi-lagi aku terpaku oleh setiap kata yang keluar dari mulutnya yang tak berdosa. Kau benar Syalimah, yang kita perlukan sekarang adalah mengharapkan cinta dan ridho-Nya. Karena dengan begitu, hidup kita akan jauh lebih tentram. Insya Allah.

“Duhai istriku, jika memang kau tidak keberatan untuk kembali merayakan hari raya di Ibu kota, itu artinya kau lebih memilih cinta ketimbang harta. Bukankah begitu?”

“Sungguh tak adil, Pak, jika kau menyandingkan cinta dan harta dalam sebait tanya. Itu tak adil. Bukan berarti karena aku sangat mencintaimu, aku tidak memerlukan harta. Berusahalah! Aku ingin hidup senang, pun pulang kampung suatu saat nanti.”

Ah, aku memang pria bodoh. Betapa munafiknya aku menanyakan dua hal yang jelas tak patut kutanyakan. Maafkan aku Syalimah!

Aku mengangguk dengan mantap. Kan kubuktikan padamu, juga ketiga buah hati kita, aku lelaki yang pantas di sebut suami pun seorang bapak. Insya Allah, jika Ia mengijinkan, tahun depan kita akan pulang kampung.

Aku kembali memeluk Al-quran yang sendari tadi masih kugenggam. Kulontarkan beberapa asma Allah seraya tersenyum puas. Setidaknya ada pelajaran untuk hari ini, mencoba ikhlas atas segala kehendak-Nya. Seperti daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dan seperti hujan yang tak pernah membenci awan sekalipun mereka tahu hanya akan menjadi air kotor. Urusan pulang kampung dan untuk makan besok, bisa di bicarakan lagi nanti. Setidaknya kini aku juga tahu bahwa begitu besar cinta Syalimah di Ramadan kali ini. Subhanallah!

[]

 

 

..

Assalamualaikum wr.wb

Dengan ini saya lampirkan naskah cerpen saya yang berjudul “Lelaki Terakhir Yang Memeluk Al-quran Di Bulan Ramadan” untuk diikut sertakan dalam lomba menulis #KisahCintaRamadan bersama @pulkam @linimasa dan @twitterID.

Saya adalah Dede Supriatna. Lahir di Bogor, lebih tepatnya pada tanggal 27 Oktober 1998. Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Bersama keluarga saya sekarang saya tinggal di Kampung Cipenjo Rt/Rw 10/05 Desa Cipenjo Kecamatan Cileungsi Kabupaten Bogor. Status saya sekarang adalah sebagai pelajar kelas XII di SMK PGRI Karisma Bangsa. Berbeda dengan remaja lelaki lain, saya lebih suka menghabiskan waktu di rumah, bergelut dengan buku dan dunia literasi. Membawa emak dan abah ke Tanah Suci adalah mimpi terbesar saya.

Saya dapat dihubungi di:
Twitter: @dhegol27
Facebook: Dede Soepriatna
Nomor handphone: 089878207xx

Terimakasih.

Wassalamualaikum wr.wb

Tinggalkan Balasan