Lagi Lagi Plastik

Setelah masa mengumandangkan perang ke plastik kresek untuk wadah belanja berlalu, kini saatnya fokus berpindah ke sedotan plastik. Sungguh positif, karena banyak teman di sekitar saya yang jadi secara sadar menolak menggunakannya lagi, dan mulai membeli sedotan yang bisa digunakan ulang, baik terbuat dari bambu atau baja tahan karat. Mudah-mudahan tidak musiman seperti kebijakan tas kresek tidak gratis di supermarket ya. Tapi apakah itu saja sudah cukup? Ternyata belum, loh!

sliver-gold-rose-gold-colour-stainless-steel.png_220x220

Karena seluruh bagian dari frapuccino, atau iced coffee, atau es kopi mantunya tetangga pak Polisi itu ternyata bisa jadi membunuh lingkungan kita perlahan. Jadi, maksudnya kita enggak boleh tanda tangan  petisi online anti reklamasi sambil menyeruput Tuku, gitu?

WhatsApp Image 2018-06-22 at 4.22.30 PM
Ini dari Guardian.com

Tentu tak ada yang melarang. Tapi mungkin ada baiknya kita tau faktanya. Memang gambar dari the Guardian ini ada beberapa yang tidak relevan untuk Indonesia, tetapi banyak yang ya. Seperti jumlah cangkir kopi sekali buang yang memenuhi laut, mungkin kita belum sebanyak Amerika Serikat atau Inggris, tetapi mungkin bisa jadi tidak jauh, dengan sedang trennya es kopi susu dengan gula aren yang memang biasa dibeli oleh layanan ojol dan dikemas dalam gelas plastik. Menyedotnya dengan apa? Tentu sedotan plastik.

Gulanya mungkin tidak setinggi jika kita menyesap minuman dari Starbucks yang bisa diberikan karamel, lalu ditambah sirup lagi, tetapi jika dikonsumsi hampir setiap hari dan tidak diimbangi pola makan sehat tentu tidak akan membuat risiko diabetes, dan teman-temannya (seperti penyakit jantung dan ganggunan ginjal) menurun.

Susu dan produknya juga di Amerika bermasalah citranya karena diidentikkan dengan praktik pertanian yang tidak etis terhadap hewan (kurang paham dengan di sini ya, ingin deh riset sendiri), juga penemuan-penemuan terakhir yang menyebutkan bahwa susu sebenarnya tidak sehat seperti yang diklaim produsennya selama ini. Sementara untuk yang berlomba-lomba pindah ke susu almon juga semoga sadar kalau almon itu tidak tumbuh di Indonesia, dan menanamnya membutuhkan sumber daya air yang berlebihan, tidak jarang membuat lahan jadi kekeringan. Kedelai yang jadi bahan susu kedelai juga tidak bebas dosa, karena banyak penebangan liar terjadi demi penanamannya dan isu Monsanto, tentunya.

LALU KITA MINUM APA DONG?

Air sih, sebaiknya. Tapi tentu sebagai manusia normal kita perlu kafein di dalam darah ya. Karena itu coba biasakan bawa wadah sendiri lengkap dengan sedotannya, agar bebas rasa bersalah. Lebih baik juga kalau kita buat sendiri kopi, dan membeli kopinya dari orang yang kita paham membeli biji kopi dari petani lokal dengan harga adil.

stojo
Cangkir lipat dari stojo.co ini sungguh mudah dibawa, sekarang ada yang lengkap dengan sedotan pun! #bukaniklan

Maaf ya, kalau mengurangi kenikmatan menyeruput kopi dingin Anda, tetapi sebelum saya dituduh SJW, harap ingat kalau ini hanya saran.

 

Advertisements

Karena yang Berjalan Sendiri, Membawa Keramaian di Dadanya *)

Asasi manusia pertama kali adalah bertahan hidup. Menangis karena haus. Menangis karena lapar. Menangis karena takut. Lalu kita belajar hal lain.

Menghindar dari bahaya. Berlari dari kejaran hewan buas. Menggerakkan seluruh tubuh saat tenggelam. Juga menghindari ancaman. Juga menghindari rasa kurang nyaman. Juga melupakan ingatan. Terlebih kenangan mantan. Terkadang, saking hebatnya, kita terpaksa menyangkal atas sesuatu yang ndak sesuai keinginan. Lari dari kenyataan. Tapi memang inilah sesuatu yang ada sejak mula. Jika ini dapat membuat hidup kita lebih nyaman, tentram dan terus bertahan, maka ndak cuma pertahanan fisik, melainkan juga mempertahankan kesehatan akal dan pikiran. Secara otomatis ingatan akan hilang, atau lambat laun berganti versi menjadi sesuai keinginan.

Bertahan hidup dengan menciptakan fantasi sendiri. Maka bersyukurlah kita yang pandai menghibur diri.

Ini semua sudah cukup.

 

Cukup. Semua kelebihan manusia, semua prestasi orang lain, semua rejeki milik siapapun juga, akan menjadi biasa dengan kata  ini: “cukup”. Bapak ndak mau nambah toko? Cukup. Bapak ndak nambah anak? Cukup. Bapak ndak mau naik pangkat? Cukup. Ndak mau diteruskan hubungan kita? Cukup. Kita lama ngobrol via sosmed, apa ndak mau ketemuan? Cukup.

Seseorang berkata soal cukup suatu ketika: Cukup. Tak perlu bertatap muka. Aku tahu kamu ada. Yang penting ada. Ada kamu. Itu sudah cukup. Jikapun kita selamanya begini, aku pasrah. Tak perlu dilawan. Berdamai dengan keadaan. Pasrah. Menerima keadaan tanpa melawan. Waktunya untuk menjatuhkan diri di hamparan rumput ilalang. Matahari hangat bersinar menerpa. Toh akhirnya kita sama-sama pulang. 

Benarkah kita harus pasrah? Apakah tepat jika kita menaruh masa depan dan menyandarkannya pada kata nasib. Atau takdir.

Saat susah, ini kehendak Tuhan. Saat senang, karena usahanya sendiri. Pasrah dilakukan saat dalam posisi yang sulit. Bagaimana saat merayakan keunggulan, apakah juga ada kata “pasrah” melintas dalam benak kita? Mengapa takdir dekat dengan cobaan? Mengapa pasrah muncul saat terjepit?

Bagaimana kalau kita biasakan bicara takdir saat penuh rejeki? Bagaimana kalau kita bicara pasrah saat semua orang di bawah kendali kita?

Jika saja Mark Zuckerberg atau Elon Musk berkata: “Namanya juga takdir Tuhan…“, saat ditanya wartawan mengapa mereka bisa kreatif dan menelorkan banyak inovasi. Sayangnya kalimat tadi lebih banyak muncul saat seseorang sedang kesulitan atau kesusahan. Ketika Lionel Messi menerima penghargaan sebagai pemain terbaik dunia, akankah dia berkata dalam kata sambutannya: “Saya hanya pasrah saat main bola. Lawan-lawan saya saja yang kurang beruntung..“.

Asasi manusia pertama kali adalah bertahan hidup.

Dan hidup kita bukan mimpi. Keberanian sesungguhnya adalah menghadapi dan bergulat dengan kenyataan hidup sehari-hari. Ada perih. Ada duka. Ada nelangsa. Ada sepi. Tapi setidaknya terselip tawa, binar mata dan dada yang bergemuruh.

Asasi manusia pertama kali adalah bertahan hidup.

Bertahan menuju pulang.

 

Salam anget,

Roy

 

 

 

 

*) Judul dan Youtube diperoleh dari Ria Fahriani.

Ludahku Ibadahku


Farhan bingung. Ludah di dalam rongga mulutnya semakin bertambah. Pak Haji yang sedang berkhotbah tak diindahkannya sama sekali.

“Telan. nggak. telan. nggak. telan? Kalau ditelan nanti aku batal. Tapi eh. Tapi ini kan ludah sendiri. Masa batal sih. Tapi eh tapi kalo jumatan mulut penuh gini, gimana aku konsen. Sial! Terus mau dibuang kemana coba?” 

Sepanjang duduk jelang sholat jumat pikiran Farhan tak tentu arah. Dia gelisah. Setidaknya berkecamuk dalam pikirannya apakah ludah sendiri dalam mulutnya boleh ditelan tanpa membatalkan puasa. Dia ragu. Apakah jika sepanjang sholat dalam kondisi mulut penuh ludah yang semakin banyak akan mengganggu konsentrasi dalam beribadah. Dia mengingat-ingat semua perkataan guru madrasahnya. Dia berusaha memastikan apakah ayahnya atau ibunya pernah bahas soal air ludah di bulan puasa. Dia hanya ingat perkataan ayahnya:

“Kalau mas Farhan lulus, tidak ada bolongnya, satu kalipun, Ayah nanti belikan Mas Farhan iWatch.”

BOOM! Saat itu Farhan bereaksi dengan tanpa reaksi berlebih. Kalem. Biasa saja. Wajahnya lurus. Tanpa mimik muka berlebihan. Padahal dalam hatinya, ada seekor tupai muda yang kesana-kemari menari, melompat-lompat, menyulut petasan, berlari keliling monas. Lalu membeli bensin. Menuangkan dalam botol kaca. Menyulut sumbu dari kaos dalam bekas, lalu melemparnya di antara ibu-ibu gendut pegawai BUMN yang berkeringat, berjilbab, menggerakkan pinggul mereka yang sebesar drum aspal, dan semerbak bau gorengan di antara basah ketiaknya. BOOM! Farhan melempar molotov. Ibu-ibu BUMN menjerit. Dia tertawa! Hahaha. Farhan melayang-layang membayangkan seluruh teman SMP-nya akan terkagum-kagum saat halal-bihalal di hari pertama masuk sekolah. Farhan, pria terkeren dengan iWatch hitam di pergelangan kirinya. 

Glek! Tanpa sadar. Diakui atau tidak, ada sepercik ludah yang terkumpul dalam rongga mulutnya tertelan saat membayangkan iWatch dan serpihan tubuh ibu-ibu BUMN. 

Gawat!”

Mulutnya sudah semakin menggelembung. Penuh ludah. 

“Duh apa ya kata Pak Mursid soal nelen ludah. Aku lupa. Sial. Bentar-bentar…”

Ludah kan produksi lidah sendiri. Eh bawah lidah sendiri. Eh kelenjar ludah dimana aja lah yang penting mulut. Terus keluar. Apakah wajib dikeluarkan? 

“Kampret!”

“Gara-gara nyadar ada ludah jadi bingung mau ditelen apa gak nih. Coba gak sadar dan gak mikirin ini. Pasti gak sengaja dan gak nyadar sebagian juga ketelen. Kan gak sadar.”

“Kampret!”

Gak enak emang. Kayak mikirin napas. Tarik. Buang. Tarik. Buang. Coba pas lupa. Coba pas lagi gak inget atau bahas soal nafas. Gak disuruh dan gak pake tenaga juga napas dengan sendirinya. Gak enak banget pas inget. Tarik napas kayak disuruh. Buang napas juga.”

“Hih!

Sial

Farhan masih berpikir dan terus mengingat-ingat. Pak Haji sedang menengadahkan tangan di atas mimbar dan memimpin doa pada khotbah yang kedua.

“Busyet dah. Sial dah. Aku mau bilang amin aja kagak bisa. mulut dah penuh ludah gini.” 

“Ini kan ludah aku sendiri. Harusnya gak papa dong ditelen. Gak bikin ilang haus juga. Eh agak mendingan sih. Basah-basah dikit. Toh gak minum dari aer keran kayak jaman SD dulu. Toh gak diem-diem minum segelas aer dingin dari botol di dalam kulkas”. 

“Tuhan kan maha pemurah. Masih aci lah. Sama malekat masih itungan dong walau nelen.”

“Sial!”

Kondisi mulutnya sungguh memprihatinkan. Menggelembung. 

Udah kayak ikan mas koki kali ya”.

Lalu petaka itu datang. Muadzin sudah mengumandangkan Iqomah. Seruan agar jamaah siap-siap untuk sholat. Sebelah Farhan, seorang anak muda dengan mengenakan sarung aroma molto sudah berdiri. Farhan gelisah. Farhan ragu. Dia berpikir apakah kopiahnya saja yang dia tanggalkan dan dijadikan wadah sementara membuang ludahnya. Di saat terjepit malah pikirannya semakin menjadi-jadi. 

Masih untung sih ya. Coba tadi pas sahur jadi makan ikan asin. Terus eh ikan asinnya ada yang nyelip di gigi. Terus gak sengaja kejilat lidah. Pasti batal. Iya  kan batal kan?” Sembari menerawang, lidah Farhan ikut menjelajahi geliginya. Sadar atau entah tak sadar. Mendadak iya dapat membaui aroma ludahnya sendiri. 

Bah! Bau pesing.”

Dia membatin penuh kesal. Ludah dalam kondisi penuh dan dia harus berjalan karen diminta seorang bapak-bapak untuk maju ke depan. Merapatkan barisan. Dia maju. Mulutnya penuh. Farhan memelihara gunung Semeru. Lava dan ludah. Amarah dan sebal. Tapi berharap tidak mau batal puasa. 

iWatch, tunggu aku. Kubereskan dulu urusanku ya. Aku pasti ak…”

ALLAHU….AKBAR“, suara Pak Haji menandakan sholat jumat dimulai. 

Farhan kaget. Dengan latah dia pun menarik tangannya untuk melakukan gerakan takbirotul iqrom dan dengan lantang menyeru: “ALLAHU..

BYAR! Semua ludah dalam mulutnya tumpah. Bagai lava yang muncrat dari bibir kawah candradimuka. Farhan kaget. Farhan malu. Farhan merasa semua ludah membasahi dada, muka, mata, hidung, dan..

“Han.. han, ayo sahur. Ahahaha. Kamu ngeludah sambil tidur ya?” Fikar, kakaknya tertawa melihat seluruh wajah Farhan penuh dengan air ludah yang dimuncratkan ke atas. Lalu kembali lagi ke mukanya. Farhan bingung. Lalu tersenyum. Ada perasaan, entah apa, dalam dirinya, justru merasa bahagia. 

Han, ibu bikin sambal terasi dan goreng ikan asin nih. Ayo nak lekas kemari”. Suara ibunya memanggil dari ruang makan. 

Untuk beberapa saat Farhan sepertinya berhasil melupakan iWatch…

..dan ludahnya.

[]

Jakarta, 18 Juni 2016

Pesan Liem Sioe Liong Tentang Path-casila

Sila Peltama:

Jangan pernah sklinkep.   

Apalagi yang lu gituin adalah akun-akun yang haus lope-lope, sok cali sensasi pembobol lahasia negala, atau genelasi jadul. Lu kagak pelu nyebal-nyebalin HOAX. Dalipada nyebalin hoax, mending jadi temen ahox.

 

Sila Kedua:

Jangan pelnah pamel tanpa sadal.

 

Sila Ketiga:

Jangan pernah ngiklanin kantor lama

Walaupun maksudnya baik. Celita bagus-bagusnya kantol atau tempat kelja lama,  Lu olang ntal dikila muna. Ngapain ngiklanin lowongan kelja kantol lama, padahal lu olang sendili malah pelgi.

Duit gajian kantol lama lu olang udah jadi makanan dan sekalang malah uda jadi tai. Jangan dong ah pamelin tai sendili dan bilang masih enak. Bukan dikila lu blom muv-on. Bukan! Tapi lu bakalan dikila so’ baeq.

 

Sila Keempat:

Jangan  ngomongin kantor sekarang mulu.

Ngomongin kantol soal jelek-jeleknya tuh ndak baeq. Banyak godaan untuk ngomongin ginian. Ndak mesti soal kebijakan tempat kelja, tapi juga ngomongin bos, temen sendili, bawahan, keluh kesah soal kondisi kelja. Lu kan lagi cali mamam disono, telus tempat mamam situ diludahin, telus dimamam lagi gitu.

Ya kali.

 

Sila Kelima:

Jangan pelnah belteman dengan bukan teman

Path itu kudunya buat hopeng lu aja. Kagak pellu lu temenan sama banyak olang. We kasih tau lagi: Boosss, path bukan kayak twittel Bos sampe pabanyak-banyak followel. Tapi path buat hubungan intim aje. Bahkan kalo ada temen lama tapi keljaannya ngutukin, cela, sok paling benel, undfliend ajalah. Atau yang suka gengges. Lu olang kagak usah lagu-lagu, apalagi malu. Dalipada nyusahin idup lu. Kan hidup benelan uda susah, masa dunia maya bikin susah lagi. Itu namanya lu olang “ogeb.”

Udah ah. Menurut we sih, lu olang lajin kelja aja kayak ponakan we, Ahok. Demen banget we liatnya.

Salam cuan.

Liem

 

Cuplik Sana Sini

Saya bisa menikmati musik Jazz atau komposisi Mozart atau Beethoven, tetapi apabila saya mendengarnya saya tidak pernah merasa melihat diri saya sendiri dan berada di rumah sendiri. Saya bisa berjingkrak-jingkrak mendengarkan musik rock atau reggae, tetapi tetap merasa tidak di rumah sendiri. Ini berlainan dengan apabila saya mendengar lagu keroncong, gending-gending Jawa dan Madura, degung dan kecapi Sunda, atau gamelan Bali. Di sana saya merasa di rumah dan melihat diri sendiri. Suatu jenis musik bisa dikatakan sebagai hasil kebudayaan bangsa, apabila ia lahir dan tumbuh, serta dicipta oleh seniman yang hidup di negeri tempat bangsa itu besar dan tumbuh. Unsur-unsurnya mungkin dipengaruhi oleh kebudayaan lain di luarnya, tetapi ia bukan hasil tiruan dan jiplakan, bukan karena di-xerox. Tumbuhnya pula bukan disebabkan oleh adanya industri hiburan, melainkan disebabkan oleh kreativitas dan keperluan masyarakat pendukungnya itu sendiri –Abdul Hadi WM, Islam, Tradisi Estetika dan Sastranya di Indonesia 2006

Kira-kira dua kilogram lebih dua ons tahi sabar mengantri saat saya menulis ini. Mereka kena PHP karena saya ndak lantas segera ke kakus.  Jadual hari sabtu saya untuk menulis hampir terancam tak dipergunakan. Saya ketiduran. Semalam saya rapat hingga dini hari. Menghasilkan risalah dini hari. Lalu tiba-tiba terbangun karena ngidam nonton The Revenant. Tapi saya urungkan niat. Saya belum bayar tagihan macam-macam. Saya harus giat bekerja. Termasuk menulis. Termasuk menyapa Anda.

“Hai…”

Perlu sebuah ide besar untuk menulis di linimasa. Ide kecil ndak bakalan diterima. Mengapa? Karena ini adalah blog terbaik yang pernah dan masih dan akan dimiliki bangsa manusia. Saya sangat meyakini soal ini.
Bagi masyarakat Indonesia, filsafat bukan sekadar pengetahuan rasional, tetapi harus dibuktikan dapat dipraktikkan dalam hidup sehari-hari. Filsafat sebagai wacana kurang dilakukan, tetapi filsafat sebagai ‘pegangan hidup’ sejak dulu dipraktikkan. Inilah sebabnya, untuk mengetahui ‘filsafat’ orang Indonesia, kita perlu membacanya dalam berkas-berkas hasil tindakannya. Filsafat masyarakat Indonesia adalah praktik hidupnya sehari-hari. Filsafat Indonesia tidak berwujud diskusi-diskusi verbal yang abstrak rasional seperti biasa kita baca dalam sejarah Barat (Eropa-Amerika)–Jakob Sumardjo, Mencari Sukma Indonesia 2003.
Filsafat itu apa? Saya tahunya jalan Sabang banyak orang jualan dan tukang parkir yang semuanya warga Madura. Diskusi verbal itu apa? Saya tahunya bahwa twitter dipenuhi “Noam Chomsky- wannabe“.
True terror is to wake up one morning and discover that your high school class is running the country.  kata, Kurt Vonnegut lagi. Bagi warga sini, berarti itu kesempatan untuk melakukan reuni. Kali aja dapat sekerat roti. Teman sekolah sedang berkuasa. Saatnya kita boleh ikutan juga.
“Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.” ― Emha Ainun Nadjib, OPLeS: Opini Plesetan.
Semalam saya bermimpi negeri ini ndak pakai parpol segala. Tahi kucing dengan partai penguasa, tahi kucing dengan Pemilu, tahi kucing dengan demokrasi. Terlalu banyak benalu yang kita pelihara dengan penuh sukacita. Itu mimpi saya semalam. Eh tadi pagi.  Saya lihat banyak gedung runtuh kena ketapel para penjual asongan. Dan entah kenapa  saya ingat Romo.
Negeri ini sungguh-sungguh membutuhkan pemberani-pemberani yang gila, asal cerdas. Bukan yang tahu adat, yang berkepribadian pribumi, yang suka harmoni, yang saleh alim, yang nurut model kuli dan babu.”
― Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Rantau
Juga ingat yang ini.
“Tanah air ada disana, dimana ada cinta dan kedekatan hati, dimana tidak ada manusia menginjak manusia lain.”
― Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar

 

Sebagian kecil dari kita memang dilahirkan untuk menjadi serius. Amat sangat serius sekali.  Juga lebay, seperti kalimat tepat sebelum ini.  Sebagian dari kita dilahirkan untuk berkata-kata dengan suara serak, melebihi seraknya Karni Ilyas. Menjadi orang sok tahu, melebihi sok tahunya Benhan. Menjadi oportunis hoki, melebihi oportunis hokinya golongan tua semacam Ndorokakung. Sebagian lagi jauh lebih terkenal dari seorang Aulia Masna. Atau lebih garing dari lawakannya Raditya Dika. Lebih cina dari Ernest Prakasa. Lebih bawel dari cerewetnya Joko Anwar.

Menjadi manusia sosial media, adalah menjadi seolah-olah menjadi warga biasa yang kemampuan analisisnya melebihi google. Petualangannya keliling dunia melebihi Ngabdul.

 

Semua orang, hidup atau mati, murni kebetulan,

kata seorang pria suatu ketika sebelum ia mati pada 11 April 2007. Pria yang kebetulan bernama Kurt Vonnegut.

 

Tapi sudahlah. Telah tumbuhlah benih-benih pengakuan, bahwa yang benar-benar penting dalam sejarah justru adalah hidup sehari-hari, yang normal yang biasa, dan bukan pertama-tama kehidupan serba luar biasa dari kaum ekstravagan serba mewah tapi kosong konsumtif. Dengan kata lain, kita mulai belajar, bahwa tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali di antara kaum rakyat biasa yang sehari-hari, yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan. [Impian dari Yogyakarta, hlm. 38]”― Y.B. Mangunwijaya

Maka saya ndak bakalan kagum sama Jokowi. Apalagi Ahok. Apalagi Ridwan Kamil. Apalagi para menteri titipan para penyokong parpol dan sejumlah sosok boneka politik yang diongkosi tengkulak.
IMG_3063
Saya akan mulai ngefan sama tukang parkir yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Saya akan coba mengakrabi para polisi yang doyan menilang. Saya akan coba follow banyak akun penulis yang bikin buku sampah tak berisi. Saya akan belajar gertak orang batak. Tipu melayu. Lagak orang padang dan bualan warga Aceh. Saya juga akan belajar mengagumi halus hipokrit budaya jawa. Boleh tekor asal kesohor anak sunda. Dan kemalasan warga betawi asli.
Akhir kata,
Saatnya saya mengakhiri antrian mengular sebagaimana  tertuang pada alinea kedua.
Salam anget,
Roy.

Tuan Uang, Bukan? Tunggu Sebentar, Saya Sedang ke ATM. *)

Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people.

Carl Sagan

Jika rentang waktu jangka pendek yang dikejar, maka NASA, sebuah lembaga riset antariksa milik Amerika adalah lembaga yang sangat boros dan patut dipersalahkan sebagai salah satu sumber defisit anggaran negara tersebut.  Apakah ini semata-mata soal uang? Soal perhitungan untung rugi?

Dan prasangka ini justru dialami oleh IPTN / Dirgantara Indonesia. Sebuah industri pesawat terbang dari negara berkembang yang akhirnya layu sebelum berlayar menjelajah angkasa raya. Dianggap sebagai proyek menara gading bagi sebagian pengambil putusan negeri ini pasca Krismon 1997.

Tapi langkah kecil mereka akan dilihat di kemudian hari.

Manusia dan pemikiran  semacam ini masih banyak. Manusia yang berdiri di ruang sempit. Dalam hening. Berkutat dengan gelas kimia. Berkutat di depan layar komputer. Sebagian dengan mesin tik. Sebagian di tengah hutan. Sebagian menyelam ke dasar samudra.

Apa yang diperoleh sains dengan teori dan eksperimennya, adalah himpunan dari pengetahuan tentang hal-hal yang relatif benar, yang ditapis dan dipisahkan dari pengetahuan tentang yang mutlak salah. Itu sebabnya Stephen Hawking misalnya menganjurkan agar seluruh ilmuwan mengumumkan seluruh kesalahan yang mereka tangani, bukan hanya kebenaran yang mereka temui. Kesalahan yang diumumkan membantu ilmuwan lain bertanya jawab secara lebih efisien dan lebih cerdas dengan kenyataan semesta—kenyataan besar yang jawabannya mungkin tak mudah dibuka dan tampak tak peduli pada kesulitan manusia, namun sungguh tak pernah berdusta.

Bisa jadi dalam hidupnya mereka tak menemukan sesuatu. Mereka mencoba banyak cara untuk satu hal. Mencipta. Melakukan cara baru. Mencari jalan paling mutakhir agar kualitas hidup menjadi lebih baik. Pun jika dalam hidupnya selalu gagal, tapi bisa jadi kegagalannya adalah jalan bagi peneliti dan generasi penerus berikutnya menjadi lebih mudah untuk membuat lompatan ilmu. (Nirwan A. Arsuka).

Ini juga yang dinarasikan dengan baik oleh Peter Thiel, salah satu mafia PayPal, investor pertama facebook dan pendiri Palantir, sebuah perusahaan periset big data yang mendapat gelontoran dana Amerika dan disinyalir membantu pemerintah AS untuk mencari  Osama Bin Laden. Peter Thiel menceritakan soal pentingnya lompatan bagi para Penemu lewat bukunya “Zero to One”.

Walau pada akhirnya langkah dari “tiada-menjadi-ada” ini yang diistilahkan “dari-nol-menjadi-satu” olehnya dikawinkan demi kepentingan ekonomi, yaitu teori kompetisi baik pasar sempurna atau monopoli, namun yang menarik dari uraian dalam bukunya adalah soal daya upaya untuk mencipta.

Peter Thiel tidak bicara rentang waktu, bagaimana ilmu dapat diketemukan secara beramai-ramai walau beda waktu. Saling menyumbangkan teori dan praktek secara turun-temurun. Melampaui jurang zaman. Dan pada akhirnya mendekatkan diri manusia kepada alam semesta.  Peter lebih menekankan nilai sebuah “temuan baru-menjauhkan-dari-kompetisi-lalu-bisa-monopoli”.

Namun pada pokoknya, ada sifat ilahiah yang ditiru anak manusia. Mencipta sesuatu. Apakah akan menjadi ilmu. Apakah dalam konsep Islam ini yang dinamakan kebaikan Jariyah?

Pelan-pelan saya belajar. Di dalam tubuh saya, di antara sel-selnya yang renik terdapat materi yang sama dengan yang terdapat di ruang-ruang senyap antar bintang. Saya adalah alam. Tubuh saya patuh kepada hukum gravitasi sama seperti benda-benda langit. Tubuh saya akan hancur terurai menjadi tanah dan debu. Suatu hari tubuh saya akan kembali ke alam. Namun, saya juga belajar mengatasi hukum-hukum alam yang deterministik sekaligus memanfaatkannya, dimulai dengan belajar berenang lalu naik pesawat terbang. (“Kebudayaan dan Kegagapan Kita” – Karlina Supelli, Pidato Kebudayaan tahun 2013).

Apakah soal mencipta adalah melulu dilakukan oleh para ilmuwan. Pelaku dunia sains? Seharusnya sih ndak mesti.

Walaupun Carl Sagan menulis novel tentang dunia astronomi yang digelutinya, namun dari novelnya kita bisa memahami, walau sebuah tulisan bisa jadi justru mengilhami ilmuwan untuk mencipta dan menekuni tentang suatu hal. Pemikiran futuristik yang dituangkan dalam tulisan bisa jadi mempengaruhi percepatan kemajuan ilmu dan teknologi. Memberikan inspirasi. Hal ini dapat kita temui dari banyak karangan fiksi ilmiah Jules Verne. Kisah-kisah petualangan dengan banyak piranti dan perabot yang melampaui zamannya.

This slideshow requires JavaScript.

Di luar itu penulis sendiri sebetulnya memiliki tugas yang sama dengan para saintis. Penulis sama dengan para pelaku kebudayaan lainnya.

Keselarasan ilmu. Seiring sejalan. Beriringan menuju altar kemajuan peradaban umat manusia.

Dalam Pidato kebudayaan Karlina mengingatkan perlunya keseimbangan dunia sains dan humaniora.

Dari salah satu sisi jurang itulah terdengar sindiran penyair William Blake kepada Newton sang begawan fisika jauh di seberang,

“May God us keep/From Single vision and Newton’s sleep!”

Blake menganggap Newton telah memicu cara pandang materialistik yang menciutkan dunia ke visi tunggal. Sungguh berbahaya jurang itu, kata Snow di bagian akhir kuliahnya. Ilmu dan teknologi akan melesat tanpa dibarengi dengan perkembangan kebudayaan dan moral yang memadai, padahal keduanya merupakan landasan material bagi hidup kita. Snow menutup kuliahnya dengan sebuah himbauan,

“Demi kehidupan intelektual … demi masyarakat Barat yang hidup kaya raya namun rapuh di tengah-tengah kemiskinan dunia, demi kaum miskin yang tidak perlu hidup miskin seandainya dunia cukup cerdas … Menjembatani dua budaya itu adalah sebuah keharusan, baik dalam arti intelektual maupun praktis. Ketika keduanya terpisah, masyarakat tidak lagi dapat berpikir dengan bijak.”

Dari sinilah amanat lain itu harus dipikul. Moral dan budaya yang dibangun dari sebuah keadaan tak kasat mata. Tidak berbau. Tidak berwarna. Dilakukan oleh budayawan. Dilakukan oleh Penyanyi. Dilakukan oleh Penari. Dilakukan oleh Artis jalanan. Dilakukan juga secara intelek oleh sastrawan. Misalnya bagi penulis, maka tugas kepengarangan itu muncul.

Namun bukan berarti mengarang pun harus dengan tujuan utama yaitu menjaga moral masyarakat dimana dirinya hinggap. Bukan.  Buatlah sebebas mungkin. Bahkan setelah teks lahir pun bukan lagi milik pengarangnya. Dia lepas. Seperti anak yang telah dilahirkan. Pemahaman konteks atas teks bahkan bukan monopoli penulisnya. Dia bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Teks yang bermolek-molek di pikiran pembaca.

Apalagi soal moral. Pengarang tidak pernah mendapat disposisi dari siapapun juga untuk menitip pesan kebaikan moral dalam tulisannya.

Dan bahkan jikapun ada hal-hal berbau “chicken soup“, atau moralizing-wasaizing, tetap bukan semata-mata tugas pengarang untuk menjaga sesuatu hal luhur dipertahankan dalam masyarakat. Karena mengarang sebatas menyajikan. Tak ada paksaan untuk menyantapnya. Keinginan untuk membaca, keinginan untuk santap siang lahir dari masing-masing calon pembaca (atau calon bukan pembaca).

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan” – (Bumi Manusia, Pram)

Berterima kasih kepada Minke dan Bumi Manusia atau berterima kasih pada Pramoedya Ananta Toer?  Berterima kasih kepada penambang tembaga, pencipta dioda, transistor, kepada Alexander Graham Bell, atau pendiri Nokia?

Berterima kasihlah kepada diri sendiri. Karena dengan terus berkehendak hidup maju dan mulia, adalah langkah awal kita menikmati hidup dan saling tolong-menolong sesama manusia. Lalu kita dapat melakukan banyak hal dengan ketulusan niat dan senyum hingga akhir hayat.

Lalu  “keberadaan” kita akan melampaui tahun, abad dan zaman.

 

Akhir kata, selamat hari Sabtu. Selamat menikmati tanggal muda.

Roy.

 

 

 

 

*) dari puisi Sapardi Djoko Damono. teks aslinya:

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.

Ngidhidaba & Daku Yang Maha Patuh

Bulan depan Perdana Menteri Ngidhidaba merayakan ulang tahunnya yang ke-78. Ngidhidaba, sebuah negara tropis paling maju sejagadmaya dengan separuh penduduknya adalah waria.

Profil penduduk Ngidhidaba jelas: sebagian pria kewanita-wanitaan dan sebagian wanitanya keibuan. Sayangnya ibu-ibu di Ngidhidaba banyak yang kesepian. Ibu-ibu yang lelah berebut mencari calon suami hingga mati. Bersaing dengan ibu-ibu lain dan para waria kesetanan. Banyak juga Ibu-ibu yang berdoa sepanjang malam kapan suaminya lekas pulang.

IMG_0491
profil rumah penduduk Ngidhidaba

 

Eksistensi para waria ini begitu mencengkeram. Waria memenuhi parlemen, pemerintahan, dan lembaga pendidikan. Minggu lalu, Komisi X Parlemen Ngidhidaba berhasil membatalkan amandemen Undang-Undang mereka yang berencana mendirikan KPW, Komisi Pemberantasan Waria. Bukan soal cicak versus buaya. Ini soal kebebasan waria berkerudung tanpa perlu mencukur jenggot dan kumis.

Di jalanan, banyak laki-laki dan laki-laki lain bergandengan tangan. Sedangkan ibu-ibunya sibuk wara-wiri sembari menggenggam kenangan dan harapan. Ini belum seberapa. Jika cermat, sebagian ibu-ibu jyang alan-jalan di mal, di pasar, di kantor dengan tatapan kosong dan terkesan menggenggam dendam. Hih, Ngeri! 

Perdana Menteri Ngidhidaba bernama Aku. Iya, aku, pemimpin negera ini. Bulan depan aku memang ulang tahun. Yang paling heboh dan ingat atas hari ulang tahunku adalah Ibu Negara. Tentu saja. Selain karena di hari ulang tahunku kami akan makan mewah, main domino semalam suntuk, memanggil artis ibukota, pesta kembang api, ada satu hal yang membuat dirinya selalu ingat hari ulang tahunku.

Begini ceritanya.

Tepat seminggu sebelum hari ulang tahunku, biasanya Negara Api menyerang. Peristiwa dimana penduduk kami merasa sedih. Kami berperang mati-matian. Sebagian perempuan dengan mudahnya berganti profil. Ibu-ibu menjadi janda. Sebagian prianya juga bermasalah dengan status. Dari status in a relationship tiba-tiba menjadi it’s complicated. Serangan Negara Api, dilakukan sejak dini. Saat Perdana Menteri Ngididhaba masih dalam kandungan.

IMG_0454
sebagian besar sosok penduduk negara Ngidhidaba

Serangan Negara Api ndak seberapa dahsyat. Tapi trauma yang ditinggalkan dari serangan itu, jauh lebih dahsyat dan hampir-hampir saja menodai tahta suci Vatikan. Memang ndak nyambung. Tapi lagi kepingin saja bilang “tahta-suci-vatikan”

Negara api, negara yang kecil mungil. Jika Ngidhidaba sebesar batu akik, maka negara api sebesar upil. Jika Ngidhidaba didominasi waria, negara Api penuh dengan pandita. Slogan negerinya: “Panyu Nyumu Hire!”. Sebuah slogan maha dahsyat, yang jika kalimat itu diperdengarkan, maka setiap penduduk yang mendengarnya siap mati syahid. Bahkan tingkat kesyahidan Panyu Nyumu Hire ini melebihi tingkat loyalitas anak muda ISIS. Karena selain berani mati, Panyu Nyumu Hire berarti juga siap hidup syahid. Hidup di jalan Gupadh, nama dewa sembahan mereka.

Gupadh mengajarkan kebaikan bagi negara api. Dalam kitab suci mereka, Nyigas, terdapat 7 keutamaan larangan ajaran Gupadh: Pertama, Dilarang masturbasi di kamar mandi. Kedua, Dilarang menonton video porno saat bekerja, Ketiga, Dilarang menonton video porno di rumah. Keempat, Dilarang berlama-lama di kamar mandi, kecuali rela diduga sedang masturbasi. Kelima, Dilarang tertawa saat berkomunikasi, karena tertawa saat berkomunikasi dapat dipastikan sedang haha-hihi dengan lawan jenis. Dan ini adalah dosa terbesar versi Gupadh: Tertawa-bersama-yang-bukan-muhrimnya. Keenam, Dilarang membuat password dan kunci di seluruh properti, baik pintu rumah, sekolah, gawai, sampai surat elektronik. Semua harta adalah milik publik. Ketujuh, Dilarang berdoa tanpa menangis. Untuk yang terakhir, terus terang penulis juga tidak tahu alasannya. Tidak sempat mengetahui lebih lanjut karena saat akan dikonfirmasi, para pelaku yang memedomani sikap hidup ini masih sibuk menangis. 

Negara Api memang aneh. …atau bisa jadi hanya lelah.

Hingga  saat ini Ibu Negara masih sibuk dan panik mencari tahu mengapa negara api rutin menyerang negerinya tepat seminggu sebelum baginda perdana menteri berulang tahun. Ibu negara Ngidhidaba sampai harus membentuk tim task force yang diberi judul Tim Khusus Waspada Serangan Negara Api, disingkat menjadi JKW4DWP. Ketidaknyambungan ini membuktikan Ibu negara begitu sibuk panik.

Jika ada teknologi yang berkenan melompati waktu, maka teknologi itu pasti telah dibeli oleh seluruh penduduk Ngidhidaba. Sayangnya kemajuan teknologi informasi sejagadmaya belum dapat memenuhi keinginan ini. Januari, Februari, Maret, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Ini cita-cita dalam kalender mereka. Alasannya: Negara api tidak menyerang. Kedua, Pemimpin mereka awet muda.

Sayang seribu sayang, teknologi Ngidhidaba baru sebatas layanan komunikasi menonton gratis Nicholas Saputra lagi masak, Nicholas Saputra lagi mandi, dan Nicholas Saputra jatuh cinta lagi.

Seberapa besar korban serangan Negara Api? Dahsyat lah pokoknya. Berapa lama serangan Negara Api? Hanya satu hari, tapi dampaknya sepanjang tahun, setiap malam, setiap desahan nafas penduduk kedua belah negera bersengketa. Biasanya menelan berapa korban jiwa? Ini anehnya, hanya tiga. Perdana Menteri, Ibu Negara dan Pemimpin Negara Api. Maksudnya? Iya, hanya jiwa yang jadi korban. Fisik mereka baik-baik saja. Bagaimana dengan para waria? Apakah mereka ikut bertempur di medan laga? Oh iya tentu saja. Waria sibuk membela harga diri pemimpinnya.  Lalu masalahnya apa? Di situlah masalahnya, sebetulnya tak ada masalah. Serangan Negara api kepada Negara Ngidhidaba sejatinya adalah serangan ingatan dan kenangan. Pertanyaan terakhir: Kenapa kok model tulisannya jadi semacam Frequently Asked Questions gini *bengong*? Biar keren. Asal kamu tahu aja ya, postingan FAQ lagi ngetren, tauuuuk.  

Sudah saatnya Negara Api dan Ngididhaba menempuh jalan damai. Sengketa yang diakhiri. Tanpa perlu menambah korban jiwa lagi. Perlu ada pertukaran budaya. Negara api mulai menerima keberadaan waria, dan warga Ngidhidaba belajar untuk tidak lagi masturbasi di kamar mandi.

Tiba saatnya menata hubungan diplomatik, bukan hanya bilateral. Namun juga dengan negara lain. Agar hidup rukun dan damai. Agar Adem Ayem. Tentrem. Sederhana. Baik memilih Pondok Djaya atau Simpang Raya. Medan Baru atau Andra Wina. Dekat Tangga atau Lantai Tiga. Baik Garuda versi Nasi padang atau Garuda versi pempek. Dari Sabang hingga Pasar Santa.

Oh iya, Pemimpin Negara api itu bernama Daku. Nama lengkapnya Daku Yang Maha Patuh. Nama yang hampir sama dengan Pemimpin Negara Ngidhidaba.

Lengkapnya: Da Aku Mah Apa Atuh.

 

..

..

Selamat pagi,  salam anget dari hati..

Roy, pria dengan sejuta pesona.

 

 

keep-calm-and-say-da-aku-mah-apa-atuh