Ludahku Ibadahku


Farhan bingung. Ludah di dalam rongga mulutnya semakin bertambah. Pak Haji yang sedang berkhotbah tak diindahkannya sama sekali.

“Telan. nggak. telan. nggak. telan? Kalau ditelan nanti aku batal. Tapi eh. Tapi ini kan ludah sendiri. Masa batal sih. Tapi eh tapi kalo jumatan mulut penuh gini, gimana aku konsen. Sial! Terus mau dibuang kemana coba?” 

Sepanjang duduk jelang sholat jumat pikiran Farhan tak tentu arah. Dia gelisah. Setidaknya berkecamuk dalam pikirannya apakah ludah sendiri dalam mulutnya boleh ditelan tanpa membatalkan puasa. Dia ragu. Apakah jika sepanjang sholat dalam kondisi mulut penuh ludah yang semakin banyak akan mengganggu konsentrasi dalam beribadah. Dia mengingat-ingat semua perkataan guru madrasahnya. Dia berusaha memastikan apakah ayahnya atau ibunya pernah bahas soal air ludah di bulan puasa. Dia hanya ingat perkataan ayahnya:

“Kalau mas Farhan lulus, tidak ada bolongnya, satu kalipun, Ayah nanti belikan Mas Farhan iWatch.”

BOOM! Saat itu Farhan bereaksi dengan tanpa reaksi berlebih. Kalem. Biasa saja. Wajahnya lurus. Tanpa mimik muka berlebihan. Padahal dalam hatinya, ada seekor tupai muda yang kesana-kemari menari, melompat-lompat, menyulut petasan, berlari keliling monas. Lalu membeli bensin. Menuangkan dalam botol kaca. Menyulut sumbu dari kaos dalam bekas, lalu melemparnya di antara ibu-ibu gendut pegawai BUMN yang berkeringat, berjilbab, menggerakkan pinggul mereka yang sebesar drum aspal, dan semerbak bau gorengan di antara basah ketiaknya. BOOM! Farhan melempar molotov. Ibu-ibu BUMN menjerit. Dia tertawa! Hahaha. Farhan melayang-layang membayangkan seluruh teman SMP-nya akan terkagum-kagum saat halal-bihalal di hari pertama masuk sekolah. Farhan, pria terkeren dengan iWatch hitam di pergelangan kirinya. 

Glek! Tanpa sadar. Diakui atau tidak, ada sepercik ludah yang terkumpul dalam rongga mulutnya tertelan saat membayangkan iWatch dan serpihan tubuh ibu-ibu BUMN. 

Gawat!”

Mulutnya sudah semakin menggelembung. Penuh ludah. 

“Duh apa ya kata Pak Mursid soal nelen ludah. Aku lupa. Sial. Bentar-bentar…”

Ludah kan produksi lidah sendiri. Eh bawah lidah sendiri. Eh kelenjar ludah dimana aja lah yang penting mulut. Terus keluar. Apakah wajib dikeluarkan? 

“Kampret!”

“Gara-gara nyadar ada ludah jadi bingung mau ditelen apa gak nih. Coba gak sadar dan gak mikirin ini. Pasti gak sengaja dan gak nyadar sebagian juga ketelen. Kan gak sadar.”

“Kampret!”

Gak enak emang. Kayak mikirin napas. Tarik. Buang. Tarik. Buang. Coba pas lupa. Coba pas lagi gak inget atau bahas soal nafas. Gak disuruh dan gak pake tenaga juga napas dengan sendirinya. Gak enak banget pas inget. Tarik napas kayak disuruh. Buang napas juga.”

“Hih!

Sial

Farhan masih berpikir dan terus mengingat-ingat. Pak Haji sedang menengadahkan tangan di atas mimbar dan memimpin doa pada khotbah yang kedua.

“Busyet dah. Sial dah. Aku mau bilang amin aja kagak bisa. mulut dah penuh ludah gini.” 

“Ini kan ludah aku sendiri. Harusnya gak papa dong ditelen. Gak bikin ilang haus juga. Eh agak mendingan sih. Basah-basah dikit. Toh gak minum dari aer keran kayak jaman SD dulu. Toh gak diem-diem minum segelas aer dingin dari botol di dalam kulkas”. 

“Tuhan kan maha pemurah. Masih aci lah. Sama malekat masih itungan dong walau nelen.”

“Sial!”

Kondisi mulutnya sungguh memprihatinkan. Menggelembung. 

Udah kayak ikan mas koki kali ya”.

Lalu petaka itu datang. Muadzin sudah mengumandangkan Iqomah. Seruan agar jamaah siap-siap untuk sholat. Sebelah Farhan, seorang anak muda dengan mengenakan sarung aroma molto sudah berdiri. Farhan gelisah. Farhan ragu. Dia berpikir apakah kopiahnya saja yang dia tanggalkan dan dijadikan wadah sementara membuang ludahnya. Di saat terjepit malah pikirannya semakin menjadi-jadi. 

Masih untung sih ya. Coba tadi pas sahur jadi makan ikan asin. Terus eh ikan asinnya ada yang nyelip di gigi. Terus gak sengaja kejilat lidah. Pasti batal. Iya  kan batal kan?” Sembari menerawang, lidah Farhan ikut menjelajahi geliginya. Sadar atau entah tak sadar. Mendadak iya dapat membaui aroma ludahnya sendiri. 

Bah! Bau pesing.”

Dia membatin penuh kesal. Ludah dalam kondisi penuh dan dia harus berjalan karen diminta seorang bapak-bapak untuk maju ke depan. Merapatkan barisan. Dia maju. Mulutnya penuh. Farhan memelihara gunung Semeru. Lava dan ludah. Amarah dan sebal. Tapi berharap tidak mau batal puasa. 

iWatch, tunggu aku. Kubereskan dulu urusanku ya. Aku pasti ak…”

ALLAHU….AKBAR“, suara Pak Haji menandakan sholat jumat dimulai. 

Farhan kaget. Dengan latah dia pun menarik tangannya untuk melakukan gerakan takbirotul iqrom dan dengan lantang menyeru: “ALLAHU..

BYAR! Semua ludah dalam mulutnya tumpah. Bagai lava yang muncrat dari bibir kawah candradimuka. Farhan kaget. Farhan malu. Farhan merasa semua ludah membasahi dada, muka, mata, hidung, dan..

“Han.. han, ayo sahur. Ahahaha. Kamu ngeludah sambil tidur ya?” Fikar, kakaknya tertawa melihat seluruh wajah Farhan penuh dengan air ludah yang dimuncratkan ke atas. Lalu kembali lagi ke mukanya. Farhan bingung. Lalu tersenyum. Ada perasaan, entah apa, dalam dirinya, justru merasa bahagia. 

Han, ibu bikin sambal terasi dan goreng ikan asin nih. Ayo nak lekas kemari”. Suara ibunya memanggil dari ruang makan. 

Untuk beberapa saat Farhan sepertinya berhasil melupakan iWatch…

..dan ludahnya.

[]

Jakarta, 18 Juni 2016

Iklan

7 thoughts on “Ludahku Ibadahku

        1. ndak sejauh dan sepenting itu. misalnya, sedang pergi jauh. eh lupa kompor gas sudah dimatikan dengan benar belum. air keran di dapur sudah ditutup kencang, kamar belakang apakah pintunya sudah dikunci. semacam ini. kerisauan kecil tapi lancar menggerutu.

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s