Ngidhidaba & Daku Yang Maha Patuh

Bulan depan Perdana Menteri Ngidhidaba merayakan ulang tahunnya yang ke-78. Ngidhidaba, sebuah negara tropis paling maju sejagadmaya dengan separuh penduduknya adalah waria.

Profil penduduk Ngidhidaba jelas: sebagian pria kewanita-wanitaan dan sebagian wanitanya keibuan. Sayangnya ibu-ibu di Ngidhidaba banyak yang kesepian. Ibu-ibu yang lelah berebut mencari calon suami hingga mati. Bersaing dengan ibu-ibu lain dan para waria kesetanan. Banyak juga Ibu-ibu yang berdoa sepanjang malam kapan suaminya lekas pulang.

IMG_0491
profil rumah penduduk Ngidhidaba

 

Eksistensi para waria ini begitu mencengkeram. Waria memenuhi parlemen, pemerintahan, dan lembaga pendidikan. Minggu lalu, Komisi X Parlemen Ngidhidaba berhasil membatalkan amandemen Undang-Undang mereka yang berencana mendirikan KPW, Komisi Pemberantasan Waria. Bukan soal cicak versus buaya. Ini soal kebebasan waria berkerudung tanpa perlu mencukur jenggot dan kumis.

Di jalanan, banyak laki-laki dan laki-laki lain bergandengan tangan. Sedangkan ibu-ibunya sibuk wara-wiri sembari menggenggam kenangan dan harapan. Ini belum seberapa. Jika cermat, sebagian ibu-ibu jyang alan-jalan di mal, di pasar, di kantor dengan tatapan kosong dan terkesan menggenggam dendam. Hih, Ngeri! 

Perdana Menteri Ngidhidaba bernama Aku. Iya, aku, pemimpin negera ini. Bulan depan aku memang ulang tahun. Yang paling heboh dan ingat atas hari ulang tahunku adalah Ibu Negara. Tentu saja. Selain karena di hari ulang tahunku kami akan makan mewah, main domino semalam suntuk, memanggil artis ibukota, pesta kembang api, ada satu hal yang membuat dirinya selalu ingat hari ulang tahunku.

Begini ceritanya.

Tepat seminggu sebelum hari ulang tahunku, biasanya Negara Api menyerang. Peristiwa dimana penduduk kami merasa sedih. Kami berperang mati-matian. Sebagian perempuan dengan mudahnya berganti profil. Ibu-ibu menjadi janda. Sebagian prianya juga bermasalah dengan status. Dari status in a relationship tiba-tiba menjadi it’s complicated. Serangan Negara Api, dilakukan sejak dini. Saat Perdana Menteri Ngididhaba masih dalam kandungan.

IMG_0454
sebagian besar sosok penduduk negara Ngidhidaba

Serangan Negara Api ndak seberapa dahsyat. Tapi trauma yang ditinggalkan dari serangan itu, jauh lebih dahsyat dan hampir-hampir saja menodai tahta suci Vatikan. Memang ndak nyambung. Tapi lagi kepingin saja bilang “tahta-suci-vatikan”

Negara api, negara yang kecil mungil. Jika Ngidhidaba sebesar batu akik, maka negara api sebesar upil. Jika Ngidhidaba didominasi waria, negara Api penuh dengan pandita. Slogan negerinya: “Panyu Nyumu Hire!”. Sebuah slogan maha dahsyat, yang jika kalimat itu diperdengarkan, maka setiap penduduk yang mendengarnya siap mati syahid. Bahkan tingkat kesyahidan Panyu Nyumu Hire ini melebihi tingkat loyalitas anak muda ISIS. Karena selain berani mati, Panyu Nyumu Hire berarti juga siap hidup syahid. Hidup di jalan Gupadh, nama dewa sembahan mereka.

Gupadh mengajarkan kebaikan bagi negara api. Dalam kitab suci mereka, Nyigas, terdapat 7 keutamaan larangan ajaran Gupadh: Pertama, Dilarang masturbasi di kamar mandi. Kedua, Dilarang menonton video porno saat bekerja, Ketiga, Dilarang menonton video porno di rumah. Keempat, Dilarang berlama-lama di kamar mandi, kecuali rela diduga sedang masturbasi. Kelima, Dilarang tertawa saat berkomunikasi, karena tertawa saat berkomunikasi dapat dipastikan sedang haha-hihi dengan lawan jenis. Dan ini adalah dosa terbesar versi Gupadh: Tertawa-bersama-yang-bukan-muhrimnya. Keenam, Dilarang membuat password dan kunci di seluruh properti, baik pintu rumah, sekolah, gawai, sampai surat elektronik. Semua harta adalah milik publik. Ketujuh, Dilarang berdoa tanpa menangis. Untuk yang terakhir, terus terang penulis juga tidak tahu alasannya. Tidak sempat mengetahui lebih lanjut karena saat akan dikonfirmasi, para pelaku yang memedomani sikap hidup ini masih sibuk menangis. 

Negara Api memang aneh. …atau bisa jadi hanya lelah.

Hingga  saat ini Ibu Negara masih sibuk dan panik mencari tahu mengapa negara api rutin menyerang negerinya tepat seminggu sebelum baginda perdana menteri berulang tahun. Ibu negara Ngidhidaba sampai harus membentuk tim task force yang diberi judul Tim Khusus Waspada Serangan Negara Api, disingkat menjadi JKW4DWP. Ketidaknyambungan ini membuktikan Ibu negara begitu sibuk panik.

Jika ada teknologi yang berkenan melompati waktu, maka teknologi itu pasti telah dibeli oleh seluruh penduduk Ngidhidaba. Sayangnya kemajuan teknologi informasi sejagadmaya belum dapat memenuhi keinginan ini. Januari, Februari, Maret, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Ini cita-cita dalam kalender mereka. Alasannya: Negara api tidak menyerang. Kedua, Pemimpin mereka awet muda.

Sayang seribu sayang, teknologi Ngidhidaba baru sebatas layanan komunikasi menonton gratis Nicholas Saputra lagi masak, Nicholas Saputra lagi mandi, dan Nicholas Saputra jatuh cinta lagi.

Seberapa besar korban serangan Negara Api? Dahsyat lah pokoknya. Berapa lama serangan Negara Api? Hanya satu hari, tapi dampaknya sepanjang tahun, setiap malam, setiap desahan nafas penduduk kedua belah negera bersengketa. Biasanya menelan berapa korban jiwa? Ini anehnya, hanya tiga. Perdana Menteri, Ibu Negara dan Pemimpin Negara Api. Maksudnya? Iya, hanya jiwa yang jadi korban. Fisik mereka baik-baik saja. Bagaimana dengan para waria? Apakah mereka ikut bertempur di medan laga? Oh iya tentu saja. Waria sibuk membela harga diri pemimpinnya.  Lalu masalahnya apa? Di situlah masalahnya, sebetulnya tak ada masalah. Serangan Negara api kepada Negara Ngidhidaba sejatinya adalah serangan ingatan dan kenangan. Pertanyaan terakhir: Kenapa kok model tulisannya jadi semacam Frequently Asked Questions gini *bengong*? Biar keren. Asal kamu tahu aja ya, postingan FAQ lagi ngetren, tauuuuk.  

Sudah saatnya Negara Api dan Ngididhaba menempuh jalan damai. Sengketa yang diakhiri. Tanpa perlu menambah korban jiwa lagi. Perlu ada pertukaran budaya. Negara api mulai menerima keberadaan waria, dan warga Ngidhidaba belajar untuk tidak lagi masturbasi di kamar mandi.

Tiba saatnya menata hubungan diplomatik, bukan hanya bilateral. Namun juga dengan negara lain. Agar hidup rukun dan damai. Agar Adem Ayem. Tentrem. Sederhana. Baik memilih Pondok Djaya atau Simpang Raya. Medan Baru atau Andra Wina. Dekat Tangga atau Lantai Tiga. Baik Garuda versi Nasi padang atau Garuda versi pempek. Dari Sabang hingga Pasar Santa.

Oh iya, Pemimpin Negara api itu bernama Daku. Nama lengkapnya Daku Yang Maha Patuh. Nama yang hampir sama dengan Pemimpin Negara Ngidhidaba.

Lengkapnya: Da Aku Mah Apa Atuh.

 

..

..

Selamat pagi,  salam anget dari hati..

Roy, pria dengan sejuta pesona.

 

 

keep-calm-and-say-da-aku-mah-apa-atuh

12 thoughts on “Ngidhidaba & Daku Yang Maha Patuh Leave a comment

      1. Panyu Nyumu Hire = Aku Kudu Piyee, Ngidhihaba = Linimasa
        Begitu kah? Hwahahahah ngakak sendiri baca aslinya!
        Sok lah, bikin gituan buat pacar wkwkwk

  1. Penduduk Ngidhidaba semuanya kayak di foto itu?
    Pak pemimpin Ngidhidaba, aku boleh minta permanent resident? Gpp, mereka suka gandengan sama laki-laki lain gpp…aku cuma perlu pemandangan aja

Leave a Reply