Apa rasanya menonton lebih dari 800 film dalam setahun?
Oke, mari kita persempit lagi.
Apa rasanya menonton lebih dari 105 film dalam sebulan?
Kalau mau mengerucut lagi …
Apa rasanya menonton 8 film dalam sehari?
Langsung saja saya jawab. Untuk pertanyaan pertama, rasanya biasa saja. Untuk pertanyaan kedua, rasanya biasa saja. Untuk pertanyaaan ketiga, rasanya mau modyar.
Berhubung semua pertanyaan dan jawaban di atas adalah pengalaman pribadi, yang memang pernah terjadi, beberapa kali terjadi dan tidak hanya sesekali, maka saya mau cerita.
Jadi, dalam kurun waktu kurang lebih sebulan terakhir, tiba-tiba terlintas keinginan untuk merapikan database pribadi mengenai film-film yang sudah ditonton.
Kebetulan memang saya selalu mencatat setiap film yang sudah saya tonton. Kebiasaan ini pertama kali dilakukan waktu SMA. Waktu itu masih rajin mengoleksi sobekan tiket bioskop, yang setelah nonton akan saya lem tiap tiket di buku. Lalu di sebelahnya saya tulis kesan saya terhadap film itu.
Sayangnya, buku ini hilang waktu saya pindah ke asrama waktu kuliah di tahun ke-3.
Sejak saat itu, saya mencatat setiap film yang saya tonton di dokumen pribadi di laptop. Tentu saja, karena awal-awal abad ini harga harddisk masih mahal dan belum ada teknologi cloud storage yang memadai, catatan-catatan ini juga hilang seiring dengan beberapa kali pergantian laptop.
Akhirnya, kebiasaan ini sempat terhenti selama beberapa tahun. Bahkan setelah saya mulai serius menekuni dunia pemutaran film secara profesional, sering kali saya mencatat dengan tulisan tangan di buku catatan apa saja yang ada di dekat saya. Alhasil, selama beberapa tahun, catatan-catatan tersebut raib, apalagi saat harus pindah tempat tinggal. Sampai akhirnya, baru mulai tahun 2013, saya mulai mencatat di digital notes yang bisa tersinkronisasi otomatis di ponsel, tablet dan laptop.
Itu pun masih tercecer. Ada catatan khusus untuk film yang ditonton di bioskop dan di rumah. Lalu ada catatan yang dibuat per bulan. Kadang-kadang ada yang saya buat per 3 bulan, entah kenapa waktu itu sempat berpikir untuk membuat per kuartal, bukan per semester. Belum lagi catatan yang terpisah untuk film dan serial.

Lantas, mulai bulan lalu, saya memutuskan untuk merapikan catatan yang saya buat mulai dari tahun 2016, sepuluh tahun yang lalu dari tulisan ini dibuat. Tadinya mau saya buat dari tahun 2018, karena bisa dibilang, tahun 2018 adalah titik balik pertama saya bisa menonton film lebih banyak dari biasanya. Tahun ini adalah tahun saya memulai profesi penuh waktu sekarang sebagai ko-direktur sebuah festival film.
Tapi setelah dipikir-pikir, menarik juga untuk melihat rekam jejak menonton sebelum saya berada di posisi sekarang.
Kalau tahun 2018 adalah titik balik pertama, maka tahun 2020 adalah titik balik kedua saya.
Kenapa tahun 2020? Seperti kita tahu, pandemi membuat kita mengurangi mobilitas. Mau tidak mau, harus berdiam di rumah.
Buat saya, ini jadi kesempatan besar.
Saat banyak festival-festival film dunia tidak bisa berjalan penuh secara luring, mereka harus mengadakan pemutaran secara daring, atau paling tidak gabungan keduanya, alias hybrid. Ini kesempatan buat saya untuk ikut “hadir” secara virtual. Mulai tahun ini, saya rajin untuk ikut berpartisipasi di festival-festival film dan film markets yang diadakan secara daring. Tentu saja, semakin banyak film-film yang bisa saya tonton, sekaligus semakin besar kesempatan untuk berjejaring.
Dan seperti yang sudah saya duga, di tahun ini jumlah film yang saya tonton membludak.
Tahun 2020, saya menonton 570 film panjang dalam setahun, naik dari 391 film di tahun 2019.
Dan di tahun kedua pandemi, tahun 2021, ternyata jumlahnya naik lagi. Total film panjang yang saya tonton di tahun 2021 adalah 820 film. Di tahun ini, saya applied untuk akreditasi (atau akses khusus yang sangat terbatas untuk pekerja film profesional) ke lima festival film dunia, semua diterima secara virtual, yang menjelaskan kenapa bisa begitu banyak film yang ditonton. Maklum, rugi saja tidak menonton film-film baru dari akses akreditasi yang sudah kita bayar.
Sejauh ini, jumlah film yang ditonton di tahun 2021 ini adalah jumlah terbanyak yang pernah saya tonton dalam setahun, dalam jangka waktu satu dekade terakhir. Dan di tahun ini pula tiga pertanyaan di awal pembuka tulisan ini terjadi. Ya, ada beberapa hari saya menonton 8 film dalam sehari. Dan itu terjadi dalam dua hari dalam satu minggu yang sama.
Mata lelah? Pasti.
Apa masih bisa memikirkan hal yang lain setelah nonton banyak film? Hardly.
Senang? Oh, tentu.
Dan kesenangan ini yang terus mendorong saya untuk menonton.

Saya pernah menulis di Linimasa juga, bahwa kesenangan saya untuk mengisi waktu dengan membaca buku dan menonton film, tak lain karena dorongan untuk bisa merasakan kehidupan yang lain. Kita cuma punya satu kehidupan yang kita jalani sekarang. Meskipun saya berusaha mencintai diri sendiri, tapi ya nggak segitunya juga sampai NPD (narcisstic personality disorder). Saya menyukai gambaran kehidupan lain yang tertutur dalam tulisan, dan terekam dalam gambar bersuara.
Tentu saja saya harus mengakui bahwa saya beruntung punya akses legal ke jenis tontonan yang beragam. Dan saya mensyukurinya dengan mengapresiasi beragam film yang telah dibuat dengan baik oleh para pembuatnya. Dalam sehari, saya bisa menjelajah dari Taiwan ke Meksiko ke Lithuania lalu ke North Macedonia sampai Azerbaijan dalam layar. Melihat bagaimana mereka bercerita, dan bagaimana mereka menggambarkannya.
Kalau sudah sedikit lelah dengan film-film baru, apalagi film-film yang sifatnya harus ditonton untuk kepentingan pekerjaan, maka saya beristirahat dengan menonton film-film yang masuk zona nyaman saya, yaitu film-film klasik Hollywood era 1930-an sampai 1960-an, dari sutradara George Cukor sampai Carol Reed, dari Billy Wilder sampai Fred L. Zinnemann.

Kalaupun dari film-film yang harus saya tonton itu termasuk dalam jenis film yang challenging to watch, biasanya saya bertahan untuk mencari satu momen saja. Pasti ada momen dari sebuah film yang menarik untuk dilihat, yang membuat perhatian kita tertuju pada film tersebut. Kalau menonton di rumah, pasti momen tersebut membuat kita tidak melihat gawai. Misalnya saja, meskipun saya bukan penggemar film Anora, tapi saya harus mengakui bahwa adegan di ruang tamu digarap dengan piawai oleh sutradaranya, Sean Baker. Atau saat menonton film Marriage Story dan melihat Scarlett Johansson dan Adam Driver mendorong pagar rumah tanpa saling melihat satu sama lain, saya tersenyum dan bilang dalam hati, “That’s the moment.”
Meskipun sudah menonton banyak film secara kuantitas, saya harus mengakui bahwa saya belum cukup mampu untuk “membaca” film. Sebagian besar film yang saya tonton harus saya tonton untuk kepentingan pekerjaan, yang berarti sambil nonton saya harus berpikir bagaimana cara mendapatkan filmnya, apalagi dengan peta distribusi film di Indonesia yang berubah secara masif untuk pemutaran non-reguler dalam beberapa tahun terakhir.

Saya sudah hampir tidak pernah lagi mengunggah ulasan singkat tentang film yang saya tonton di media sosial, termasuk Letterboxd. Saya senang dengan kehadiran Letterboxd, karena jadi tahu film-film apa yang ditonton penonton di seluruh dunia. Namun untuk mendata setiap film yang saya tonton dan menentukan rating untuk setiap film, buat saya jadi extra work tersendiri. Demikian pula mengikuti diskursus film di media sosial, sering kali berpikir bahwa saya lebih suka mengisi waktunya dengan nonton the next film, serial, atau membaca buku.
Sampai tulisan ini dibuat, sudah hampir 500 film panjang saya tonton selama tujuh bulan di tahun 2026. Entah berapa film lagi yang akan saya tonton sampai akhir tahun, wallahualam. Yang jelas, film-film ini membuat saya merasa hidup dalam menjalani kehidupan, dan tentu saja, setelah mencatat setiap film yang akan saya tonton nanti, saya akan bertanya, “So, what’s next?”


Tinggalkan komentar