Kebiasaan Lama, Kebiasaan Baru

DUA pekan menjelang tahun 2022, dan kita barangkali sudah mulai mengingat-ingat kembali apa yang terjadi di sepanjang tahun ini, sambil mencoba membayang-bayangkan bagaimana tahun depan akan berjalan. Kadang bisa menjadi semacam guilty pleasure kalau sambil ngayal babu.

Kita tentu sudah berubah, bukan orang yang sama lagi. Pengalaman hidup yang terjadi sepanjang 2021 pasti berdampak pada jasmani dan batin. Baik yang kita sadari, yang tidak kita sadari, atau justru yang kita ingkari, dan bikin kita tidak mau peduli. Minimal, usia bertambah, pengalaman dan pelajaran juga bertambah. Bagi yang tahun lalu sempat terinfeksi COVID-19, saat ini mestinya sudah menjalani vaksinasi, atau justru tidak sempat sama sekali. Kita pun seakan-akan terus diingatkan betapa pentingnya kesehatan jasmani dan batin, sehingga dengan melakukan berbagai upaya untuk menjaganya, adalah keputusan yang paling logis untuk diambil.

Bagi saya sendiri, 2021 adalah tahun ketika saya punya uban untuk pertama kalinya. Itu pun cuma sehelai, dari rambut yang sudah jarang-jarang dan lebih cocok disebut berada dalam fase kebotakan dini. Yaelah… 😅 Seiring dengan berbagai perubahan-perubahan lainnya. Namun, terlepas dari itu semua, ternyata perubahan-perubahan tersebut juga bisa membentuk perilaku tertentu. Ada kebiasaan-kebiasaan baru yang terus dijalankan di sepanjang 2021, membuat “dragono halim” menjadi “dragono halim” yang detik ini sedang mengetik tulisan untuk Linimasa.

Meski demikian, kebiasaan-kebiasaan baru tersebut tidak serta-merta menghilangkan kebiasaan-kebiasaan lama. Ada yang masih berjalan beriringan, dan ada yang tetap dilakukan secara bergantian.

Meditasi Pagi

Rata-rata berlangsung sepuluh menit setiap hari selepas bangun tidur, ini menjadi kebiasaan yang telah dilakukan dan bertahan sejak beberapa tahun terakhir. Benar-benar dilakukan setelah membuka mata, seringkali sebelum pipis pertama (kecuali kalau kebelet), atau sebelum minum air hangat sebagai asupan pertama.

Bukan untuk mengejar pencapaian spiritual; untuk membangun mood untuk beraktivitas di sepanjang hari; maupun untuk charging kesabaran dan ketenangan hati, saya bermeditasi pagi, ya… untuk bermeditasi pagi. Makanya menjadi sebuah kebiasaan. Mengawasi dan mengamati batin, setenang, sekacau, sebingung, seterang, atau setidak jelas apa pun.

Baru sejak akhir Maret, meditasi pagi menjadi tidak sesering biasanya. Tetap menjadi kebiasaan, hanya berubah frekuensi dan situasi. Bukan sesuatu yang diinginkan, bukan pula sesuatu yang ditolak. Biasa-biasa saja, dan masih tetap dilakukan tanpa berusaha mengejar apa-apa.

Kenapa mesti pagi? Kalau malam, sebelum tidur, sudah ngantuk.

Jalan Kaki

Kebiasaan satu ini dilakukan karena berbagai alasan. Selain pikiran: “Lah, dekat begini,” juga karena sambil main Pokemon Go, sekaligus lantaran memang sengaja tidak ingin beli kendaraan pribadi, setidaknya sampai saat ini. Bedanya, jalan kakinya sudah enggak sendirian lagi. Masih, sih, cuma jarang.

Satu hal yang saya sadari dengan sering atau selalu berjalan kaki, ternyata kita bisa mengatur waktu, bukan kita yang diatur waktu. Kita tidak mengejar, atau pun dikejar. Semua berada pada tempat dan waktunya masing-masing. Cukuplah kita lelah menjalankan hidup, tidak perlu menambah kelelahan yang datangnya dari dalam diri sendiri.

Kaki.

Bersyukur dan Berterima Kasih

Kepada tuhan, kepada Tuhan, kepada semesta, kepada karma, kepada diri sendiri, kepada entah apa yang tidak bernama, terserah saja.

Dahulu, sebelum pandemi, kita mungkin berterima kasih sekadar berterima kasih. Entah sebagai sebuah bentuk kesopanan, tanggapan yang wajar yang diharapkan, atau untuk menyegerakan beranjak. Setelah pandemi, ucapan syukur dan terima kasih akan selalu terasa berbeda. Syukur atas apa yang dimiliki dan terjadi pada diri ini, serta berterima kasih karena itulah yang sepatutnya kita lakukan.

Berolahraga

Di satu sisi, bisa agak sebelas-dua belas dengan berjalan kaki. Akan tetapi, dalam kasus saya, berolahraga justru menjadi salah satu upaya untuk menghargai dan merawat kendaraan wadak yang digunakan menjalani hidup saat ini. Apa pun bentuknya, yang penting tetap berusaha berolahraga. Mengolah raga, sebelum waktunya sirna. Enggak usah ngoyo ngejar six pack. Susah! 😅

Beberapa tindakan di atas merupakan kebiasaan lama sekaligus kebiasaan baru. Tindakan-tindakan yang telah dilakukan sejak lama, tetapi dengan perspektif yang baru. Yang bisa jadi akan terus berubah di tahun yang baru.

Siapa yang tahu.

[]

One thought on “Kebiasaan Lama, Kebiasaan Baru

Leave a Reply