Masih Ada Waktu Tahun Depan … Mudah-mudahan

BARU nyadar, lagi, selepas menulis “Kebiasaan Lama, Kebiasaan Baru” Rabu pekan lalu, bahwa saya sebenarnya adalah seorang penunda-nunda (isu lama, sih, tapi denial aja 🥲). Yang meskipun pada akhirnya berhasil menyelesaikan, atau menunaikan tanggung jawab yang harus dijalankan, tetapi tetap saja terus tergoda untuk menikmati rentang waktu yang tersedia relatif lebih lama. Seolah-olah menunjukkan bahwa akan selalu ada ekstra waktu untuk dihabiskan.

Namun, setiap orang memiliki irama dan kecepatannya masing-masing, yang akan berubah menjadi lebih cepat atau justru melambat juga karena alasan atau kondisinya masing-masing. Kita semua sama-sama terikat, tetapi pada prioritas dan tujuan yang berbeda. Sehingga apa yang dianggap terbaik bagi seseorang, belum tentu terbaik bagi orang lain.

Begitu pun perkara menunda-nunda tadi. Ada yang menunda-nunda karena terdistraksi, ada pula yang menunda-nunda karena memang mageran. Akan tetapi, ada pula yang terpaksa menunda-nunda karena mendapat kejutan, tidak bisa diantisipasi. Dan kita tidak perlu menunggu tahun depan untuk mendapatkan kejutan.

Foto: Randy Jacob

Berkaca pada 2021 versi kita masing-masing, silakan ingat dan catat kejutan-kejutan apa saja yang sudah kita peroleh, baik kejutan menyenangkan maupun yang tidak diinginkan. Sembari itu, kita pasti juga akan terpapar kembali dengan hal-hal yang telah diselesaikan, yang masih dalam proses, dan yang sedang kita tunda penyelesaiannya.

Untuk hal-hal yang berhasil kita tuntaskan, hampir semuanya memberikan kelegaan sebagai aftertaste-nya. Apabila hasilnya menyenangkan, ada yang bahkan bikin nagih, membuat kita ingin dan ingin lagi melakukannya sampai selesai, sampai kapok. Selama masih bisa bikin senang, kemungkinan besar hal-hal tersebut akan terus dilakukan di tahun depan yang sisa beberapa hari mendatang.

Sementara untuk hal-hal yang kita tunda, dan mungkin masih ingin kita selesaikan di waktu ke depan, 2022 mungkin tahunnya. Saat kita pada akhirnya mampu, berkemampuan, dan terkondisi untuk menuntaskannya. Asal tetap terampil mengelola hati dan ekspektasi, agar apa pun situasinya nanti, berhasil melanjutkan atau tetap memilih untuk bertahan di tempat, sama-sama tidak memberatkan.

Dalam banyak kondisi, berhasil menyelesaikan itu lebih terasa menyenangkan, terlepas dari apa pun hasil yang diperoleh. Cuma, jangan lupa, ada juga yang justru berujung sia-sia. It doesn’t worth our time, our thought, or our heart. Kelegaan dan kenyamanan bukan didapatkan dari berhasil mendapatkan, melainkan justru karena bisa melepaskan. Benar-benar melepaskan.

Setelah sekian lama menunda-nunda, mungkin 2022 adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikannya. Apakah itu menuntaskan sampai selesai, atau menuntaskan agar usai.

Untuk segala masalah dan musibah yang terjadi di sepanjang 2021, kita tetap mampu bertahan. Sesusah apa pun yang dihadapi, saat ini kita masih ada, masih bisa melanjutkan hidup. Setidaknya, saya masih bisa menulis ini, dan Anda masih sempat membacanya.

Untuk segala kegembiraan dan keberhasilan yang terjadi di sepanjang 2021, kita tetap berada di momen “sekarang”. Sebesar apa pun kesenangan yang telah kita rasakan, semuanya sudah berlalu, menyisakan ingatan. Bukan lagi move on, saatnya move forward.

Lantaran, masih akan ada waktu tahun depan.

Mudah-mudahan.

[]

Leave a Reply