Harusnya Aku Menikah Hari Ini

HARUSNYA, sih. Sesuai tanggal yang sudah dibahas sejak setahun sebelumnya; tanggal yang diajukan ke Births, Deaths, Marriages (BDM) Victoria–iya, memang sengaja direncanakan dilangsungkan di sana, nanti bakal diceritakan sedikit soal kenapanya; tanggal yang akhirnya ditulis di kertas pengumuman dan disebarkan secara digital di awal Maret kemarin.

Pengumuman yang mungkin juga bisa dianggap sebagai undangan, tulisan tangan sendiri.

Cuma, ya … begitulah. Australian border masih ditutup sampai hari ini. Kami masih berada di kota masing-masing, pernikahan pun terpaksa ditunda setidaknya hingga beberapa bulan mendatang. Entah bakal seperti apa nantinya, yang jelas akan jauh lebih minimalis dan benar-benar mempertimbangkan aspek keselamatan. Sayangnya pilihan peresmian pernikahan jarak jauh belum tersedia, kami pun terpaksa harus menikmati status lajang lebih lama.

Menyebalkan? Tentu saja.

Setelah sama-sama sepakat berani meneruskan hubungan ke level komitmen berikutnya, semua persiapan kami cicil sendiri satu demi satu. Termasuk metode pencatatannya, aspek-aspek legalitas dan administrasinya, pemeriksaan kesehatan serta aspek perjanjian pranikah, biaya dan untuk apa saja biaya tersebut seharusnya digunakan, hingga persoalan bagaimana kami melobi orang tua masing-masing agar segalanya bisa berjalan sesuai rencana versi kami yang #nikahtanparesepsi lantaran pakai uang sendiri (kecuali dikasih hadiah 😄).

Pada akhir Maret barulah kami mulai bisa menerima keadaan, gusar sewajarnya, meski tetap tercabik-cabik rasa rindu dan rasa khawatir. Kami urus semua pengembalian dana yang memungkinkan. Untuk yang tidak bisa, kami atur ulang tanggalnya. Syukurnya hampir semua sudah kembali, kecuali tiket Jakarta ke Melbourne dari AirAsia yang permintaan pengembalian dalam bentuk kreditnya sudah disampaikan sejak 2 April tempo hari. Soalnya, kalau sudah begini mending penerbangan langsung saja, walaupun selisihnya bisa sampai Rp2 jutaan. Biarlah kredit penerbangannya nanti dipakai untuk jalan-jalan, atau liburan sekalian.

Di titik ini, meminjam narasi Mas Roy dari tulisannya yang teranyar: “Terima kasih Corona” kami bisa memiliki pengalaman dan excitement menjelang pernikahan agak berbeda dibanding kebanyakan orang. Dalam senyap, saya merasa agak berbahagia. Sebab penantian yang dipanjangkan keadaan bisa membuat sesuatu menjadi lebih idaman, lebih dieman-eman, sesuatu yang nantinya akan dijaga erat-erat, bukan untuk diremehkan. Kami juga turut bergembira kepada para pasangan yang tetap bisa melangsungkan pernikahan walau dalam segala keterbatasannya. Semoga selalu berbahagia.

Karena situasi ini pula, saya (kami) belajar bersabar untuk ihwal yang berbeda dari biasanya. Sehingga tatkala menghadapi masalah bersama, kami bisa sama-sama saling menguatkan; “Masalah begini doang kok susah?

Sementara di sisi lain, “terima kasih Corona” juga, saya berkesempatan untuk mengenal, bergaul, dan memahami calon mertua lebih dalam. Untungnya, mereka tidak seperti contoh yang ditulis Mas Roy, kendati tes-tes calon menantu itu, tampaknya, tetap ada, dan bisa diatasi dengan baik. 😝

Namun, tetap saja, tidak “terima kasih Corona” karena kemungkinan setelah new normal berlaku, saya harus tiba di Melbourne 14 hari sebelum tanggal pernikahan untuk menjalani karantina mandiri. Begitu pula sepulangnya ke Indonesia, harus kembali mengisolasi diri sebelum bisa berkegiatan lagi.

Tidak “terima kasih Corona”, karena kemungkinan besar nanti pernikahan kami tidak akan dihadiri orang tua kedua belah pihak demi memastikan kesehatan kelompok usia rentan. Ya, tidak apa-apa juga, yang penting setelah menikah kami tetap menjadi anak mereka, kami tetap berusaha memerhatikan, merawat, dan menjaga mereka. Biarlah urusan sentimental dan seremonial di hadapan petugas pernikahan tanpa perlu risiko tambahan.

Terakhir, “terima kasih Corona” karena sekali lagi membuktikan bahwa rencana dan pertimbangan awal kami soal menikah di Australia masih jauh lebih efektif dan efisien dibanding mengurus pernikahan di dalam negeri, yang sedemikian jumpalitan.

Pertama, kami berbeda agama. Kantor Catatan Sipil hanya bersedia mencatatkan pernikahan yang disahkan tempat ibadah atau lembaga keagamaan.

Okelah, pernikahan beda agama bisa diatur. Sayangnya, kedua, kami adalah penduduk beda provinsi. Saya pemegang KTP Samarinda, tinggal di Jakarta. Dia pemegang KTP Jakarta Utara, tinggal di Melbourne. Biarpun ada teman SMA yang menjadi lurah di alamat rumah Samarinda, kami sebagai calon pengantin harus tetap mengurus dokumen N1 sampai N4 untuk surat keterangan ingin menikah. Prosesnya otomatis dari surat pengantar Ketua RT sampai seterusnya. Kami harus pulang ke kota masing-masing untuk mengurusnya, dan tak cukup sehari.

Kenapa tidak pindah domisili saja?” Prosedur dasarnya relatif sama, dan sejujurnya, sejak awal pindah saya tidak yakin apakah bakal menetap di Jakarta selamanya, sedangkan orang tua masih di Samarinda. Nasib orang siapa yang tahu?

Memangnya bisa menikah begitu saja di Australia?” Ya … kalau tidak ada Corona, mestinya itu yang saya jalani nanti siang pukul 14.00 waktu setempat atau pukul 11.00 WIB. Bukan pemegang status Permanent Resident (PR) sekalipun, cukup hanya dengan mendaftar secara daring, melengkapinya dengan tanda tangan pihak berwenang, dan membayar tarif sebesar sekitar Upah Minimum Kabupaten (UMK) Karawang. Cukup worth it, lah, selayaknya menyewa gedung bersejarah di Melbourne sebagai lokasi menikah. Instagrammable pastinya, jika itu kamu anggap penting banget.

Baiklah. Semoga kurvanya segera melandai, new normal juga enggak susah-susah amat, dan kita semua selalu sehat, memiliki keleluasaan, sehingga apa pun yang terjadi ke depannya, tetap bisa kita hadapi dengan baik.

Untuk kamu-kamu yang mengalami nasib serupa, tetap semangat sampai waktunya, ya.

Tunggu sebentaaar lagi…

[]

Untuk versi tulisan yang lebih personal dan perkembangannya, bisa disimak di blog pribadi.

3 thoughts on “Harusnya Aku Menikah Hari Ini

    1. Iya, Mas. Terima kasih. Lebih ke perkara administrasi, dan harus bagaimana ke depannya. Hehe.

Leave a Reply