Woles Itu Perlu

Saya kaget. Twit yang saya tulis hari Minggu malam lalu, ternyata ditwit ulang lebih dari 5 ribu kali! Pura-pura sok cool, ternyata dalam hati saya merasa norak-norak bergembira. (Untung level noraknya masih belum pakai pertanyaan “Mau mutualan?” Wait. Should I?)

Maklum, sebagai seseorang yang bukan “selebtwit” atau pesohor media sosial, yang cuatannya tidak pernah ditwit ulang sebanyak ini, saya kaget, lho. Kok bisa banyak yang sependapat, sih?

Padahal twit di atas ditulis saat saya belum selesai packing. Tipikal kebiasaan sebelum pergi, terutama pergi di luar urusan pekerjaan, mau packing mulainya setengah mati. Demikian pula nanti saat pulang liburan, pasti unpacking juga akan malas setengah hidup.

Parahnya lagi, kalau pergi seorang diri, untuk liburan pula, maka saya malas membuat itinerary atau rencana kegiatan. Mau melakukan apa atau pergi ke mana saja di hari apa.

Beda sekali kalau traveling untuk pekerjaan. Kalender penuh dengan jadwal meetings, janji makan siang atau makan malam, dan kegiatan-kegiatan lain. Kalau perlu kegiatan yang bersifat rehat di sela-sela pekerjaan harus dimasukkan juga di kalender. Supaya ada reminder kalau istirahat itu perlu.

Di tengah kegamangan itulah, twit di atas saya tulis. Sudah pasrah, kalau ada barang ketinggalan, tinggal beli. Untung perginya ke kota besar. Sudah pasrah, itinerary disesuaikan dengan mood berikut cuaca setiap harinya. Prinsip dasar bepergian: yang penting sudah ada tiket, sudah reservasi tempat penginapan, dan ada identitas diri.

Di sini saya mulai merasa, apa jangan-jangan sikap “woles” saya dalam menyiapkan segala sesuatunya ini, sebenarnya cuma rasa malas in disguise?

Mungkin karena terlalu santai, maka saya sempat diperingatkan secara halus oleh universe atau Yang Maha Kuasa.

Beberapa belas jam kemudian, saya mendarat di tempat tujuan. Saat diminta aplikasi visa, saya menyerahkan lembaran bukti aplikasi visa online. Semua data benar … kecuali tanggal lahir. Tanggal lahir saya, 11 April (11/04), tercetak di aplikasi visa 4 November (04/11). Petugas imigrasi menolak, dan meminta saya membuat aplikasi visa yang baru.

Memang pembuatan visa awal terbilang cepat. Cuma karena saya masih shocked, belum sempat memproses kejadian ini, saya cuma bisa bengong. Lalu petugas imigrasi tadi memanggil temannya, dan membawa saya ke kantor petugas imigrasi. Aplikasi visa saya tadi sedang diperiksa lagi, katanya. Saya disuruh menunggu di luar kantor tersebut.

Apa yang saya lakukan? Duduk, menunggu, dan melanjutkan main game. Ya, main game. Lalu bosan. Belum ada panggilan. Baca buku di Kindle. Cuma bisa baca 2 chapters. Pikiran mulai tidak bisa berkonsentrasi.

Berhubung masih bisa dapat akses wifi bandara, saya cuma memberikan update singkat keadaan saya ke grup WA yang anggotanya bisa dihitung sebelah tangan.

Saya bercanda, “Doakan nggak dideportasi, ya. Bingung juga kalau dideportasi, gue ngambil koper gue gimana ya.”

Meskipun setengah bercanda, diam-diam saya mulai menghitung uang yang ada. Kalau harus beli tiket pulang, berarti harus pakai kartu kredit. Mengingat-ingat lagi limit kartu kredit yang saya bawa. Oke, cukup. Ada sedikit rasa aman.

Lalu saya main game lagi. Hitung-hitung menenangkan diri.

Sampai akhirnya setelah 90 menit menunggu, saya dipanggil lagi. Bersama petugas yang lain, saya menuju ke ruangan lain. Petugas ini membuatkan saya aplikasi baru. Setelah cek ulang lagi, memastikan data saya benar semua, maka saya menyerahkan lagi paspor dan aplikasi visa yang baru. Kali ini lolos.

Saya ambil koper di tempat bagasi khusus karena sudah lewat dari putaran di conveyor belt, lalu membeli SIM card, kartu transportasi, dan di perjalanan menuju hotel, saya cuma memberikan update singkat di grup tadi, “On my way to hotel now.” Sambil main game.

Sampai di hotel, urusan check-in berjalan lancar. Sampai di kamar, merasa lapar sekali. Apalagi setelah kejadian tadi. Jadi saya putuskan mencari makanan apa saja di dekat hotel. Adanya franchise fast food yang bukan khas kota atau negara ini. Ya sudah, nggak masalah. Yang penting perut terisi. Tidak mahal pula. Lalu setelah melihat-lihat area sekeliling hotel, saya kembali ke kamar, dan tidur.

Bangun pagi, baru membuat rencana-rencana kecil untuk aktivitas beberapa hari ke depan. Tentu saja tidak semua rencana ini pasti terjadi. Kalau ada perubahan, just go along with it. Masih banyak aktivitas yang bisa dilakukan, dan tempat yang bisa dikunjungi. Kalaupun tidak banyak, paling nggak masih ada.

Saat fisik mulai lelah pun, bisa duduk dan minum sekedarnya. Sambil menulis di blog, seperti yang saya lakukan untuk anda baca kali ini.

Namanya juga hidup, kadang-kadang memang kita harus menerima apa adanya.

Ya udahlah.

Cheers!

Advertisements

Menjadi “Perfeksionis” Itu Melelahkan

APALAGI yang terjadi di luar kendali dalam kehidupan sehari-hari, dan terasa amat sukar untuk diatasi.

Misalnya seperti beberapa kejadian berikut ini.

Pernahkah kamu mengalami ini? Sebelum berangkat pergi, kamu mengunci pintu kamar kos, pintu rumah atau apartemen dengan secermat mungkin. Kamu sudah tahu bahwa kunci pintu tersebut bisa diputar searah jarum jam maksimal dua kali.

Ctak! Ctak!” Penguncinya sudah mentok, dan anak kunci sudah tidak bisa diputar lagi.

Namun, untuk lebih memastikan lagi, kamu mencoba menekan-putar anak kunci, seolah-olah ingin memastikan kunciannya sudah betul-betul rapat.

Sekali, mentok.
Dua kali, mentok.
Tiga kali, mentok.
Oke, ini pasti sudah terkunci.

Kamu pun mulai berjalan. Entah ke garasi, ke tempat parkir, ke muka gang, atau ke ambang pintu eskalator. Siap bepergian, menjalankan agenda dan rencana yang sudah disusun sebelumnya.

Anehnya, belum seberapa jauh, mendadak sebuah keraguan menyeruak dalam benakmu. Seakan-akan ada yang mempertanyakan:

Eh, itu pintu tadi sudah dikunci belum, sih?

Tanpa memiliki masalah dengan ingatan atau kesadaran saat melakukan sesuatu, pertanyaan ini terus mengusik pikiran. Membuat perasaan tidak nyaman.

Benar, enggak, sih, tadi sudah dikunci rapat?”

Sungguh beruntung mereka yang tidak pernah mengalami keadaan seperti ini. Ketenangan dan ketenteraman sebagai berkah. Mereka tahu apa yang telah mereka alami, apa yang telah mereka lakukan, dan yakin bahwa semuanya sudah berjalan seperti yang telah terjadi.

Sedangkan bagi yang akhirnya kalah dengan kekhawatiran dan keragu-raguan–seringnya terkombinasi dengan rasa takut–tersebut, bisa bela-belain untuk putar balik, kembali ke depan pintu yang sama, dan mengulang ritual penguncian pintu tersebut. Bahkan seringkali ditambah dengan beberapa gerakan lainnya, yang bisa menyisakan sensasi fisik, yang niat awalnya berfungsi sebagai penanda bahwa apa yang telah terjadi memang benar-benar terjadi, bukan mimpi, atau halusinasi. Jika pintu telah dikunci, maka telah dikuncilah pintu itu. Tak perlu takut mendapatkan gambaran fiksi.

Tak hanya itu, dalam beberapa kasus “ritual” tambahan tadi harus berjalan dengan “sempurna”. Gerakannya harus mulus, tanpa interupsi yang menyela. Contohnya, pada saat pintu diayunkan menutup, tetapi tiba-tiba sempat tersandung sandal yang kebetulan diletakkan di dekat pintu, maka pintu akan kembali diayun membuka, dan “prosesi” mengayun menutup diulang sekali lagi. Lalu, setelah bunyi “klik“, anak kunci kembali diputar dua kali, dan lagi-lagi, mencoba untuk diputar mentok sampai tiga kali. Bisa juga diakhiri dengan menjentikkan jari, layaknya sebuah sentuhan penutup.

Aduh. Capek.

Mengganggu, melelahkan, dan terkadang bikin frustasi. Mengapa harus seperfeksionis itu?

Dengan termakan umpan rasa takut tersebut, ada waktu, tenaga, perhatian yang terbuang percuma. Menyita beberapa belas menit, ketika seharusnya sudah berada di tengah-tengah jalan raya, malah dihabiskan untuk kembali ke tempat semula, sebelum perjalanan dimulakan.

Itu baru pintu depan. Bagian paling akhir yang disentuh sebelum bepergian. Perasaan ragu, khawatir, dan takut serupa juga bisa menimpa pada segala aspek di dalam rumah atau tempat kerja.

Jendela kamar, pintu balkon, steker lampu, kompor (untuk yang satu ini memang harus ekstra hati-hati, sih), bahkan sampai posisi bantal dan guling setelah ditinggal bangun.

(GIF: Petra Švajger)
Kurang lebih seperti ini, dengan tempo lebih lamban. Foto: Konbini

Pada contoh lainnya–dan saya alami sendiri–ialah ketika mengetik. Termasuk saat menulis buat Linimasa kali ini.

Manakala salah mengetik, apakah itu kurang huruf, posisi huruf terbalik, terpencet, kesalahan karena mengetik terlalu cepat, atau sekalian ingin membalik posisi kata dalam sebuah kalimat, seseorang normalnya akan mengarahkan tanda kursor berkedip-kedip ke bagian yang ingin diperbaiki. Sementara saya, menghapus (menekan tuts backspace) kata yang salah tersebut beserta satu kata sebelumnya. Alih-alih memperbaiki huruf yang salah, saya justru mengetik ulang dua kata tersebut. Berulang-ulang di bagian yang sama. Merasa kurang pas sedikit saja, langsung hapus dua kata atau lebih dan mengetiknya ulang, persis sama kata demi kata. Begitu terus sambil diulangi, dan diulangi, bunyi susunan kata-kata tersebut pun kehilangan makna dan strukturnya.

Tak percaya? Coba saja cari kalimat pendek, dan baca terus menerus. Bunyinya, meskipun hanya dalam hati, lama-kelamaan akan memudarkan makna. Menjadikan mereka tidak lagi relevan dalam konteks apa pun.

Iya, saya sangat paham bahwa tindakan itu cukup membuang-buang waktu, apalagi saat dikejar tenggat. Hanya saja, kebiasaan itu sulit hilang. Juga termasuk saat menulis ini.

Bukan baru sadar belakangan ini, tetapi sudah berlangsung lama, lebih dari enam atau tujuh tahun lalu, waktu masih berprofesi sebagai wartawan dan redaktur harian di Samarinda. Lantaran acap kali teramat mengganggu, beberapa cara telah dicoba secara sporadis.

Mulai dari mencoba fokus, menempatkan kegiatan mengetik secara sadar (mindful), tetapi malah tercerap mengamati gejolak batin yang timbul; mencoba mengetik lebih perlahan, tetapi ide dan gagasan malah buyar tak beraturan; mencoba mengabaikan kesalahan-kesalahan yang terjadi, dengan pertimbangan nantinya akan melewati proses penyuntingan, tetapi tak bertahan lama. Sikap yang (sok) perfeksionis ini membandel, bertahan sampai sekarang,

Momen-momen bisa mengetik dengan lancar, cepat, dan relatif tepat kian jarang terjadi. Biasanya, setelah berganti tekstur dan keempukan papan kibor; mendapati meja dan kursi dengan sudut yang terasa pas; atau ketika semangat dan inspirasi menulis sedang deras-derasnya.

Saya menyerah sajalah. Yang pasti masih banyak hal-hal penting lain, yang lebih patut diperhatikan dalam menjalani hidup saat ini. Segala ketidaknyamanan dalam berkegiatan tetap bercokol di sana, menjadi benalu tanpa keterangan dan penjelasan. Sampai tanpa sengaja terpapar dengan artikel ini.

Image result for OCD typing animated gif
OCD typing. Foto: articles.aplus.com

Setelah membacanya, saya berusaha tidak ingin gegabah menyebut kebiasaan tersebut adalah gejala Obsessive Compulsive Disorder (OCD) Perfectionism. Kendati, tanda-tandanya kok ada yang bersinggungan?

Sebelumnya, sepertinya ada perbedaan cukup besar antara bersikap perfeksionis dalam konteks aktivitas keseharian ini, dengan bersikap perfeksionis dalam upaya menghasilkan sesuatu.

Bersikap perfeksionis saat memastikan pintu sudah terkunci dengan serapat-rapatnya sebelum pergi, ialah isyarat kepada diri sendiri bahwa: “Semuanya sudah berjalan dengan lancar.” Sedikit atau sesepele apa pun gangguan yang muncul, bisa menjadi pengacau kondisi “lancar” tadi. Begitu pula saat mengetik, yang entah bagaimana, menandakan bahwa otak dan pikiran kita “tidak mau” mempercayai apa yang dilihat mata, dan terbaca dalam hati.

Mengutip artikel tadi.

Unhealthy perfectionism tends to be high if your OCD symptoms revolve around checking. Specifically, if you do not feel you have perfect certainty that you have locked the door or turned off the stove, you might return to check these items over and over again. Tied to this is the excessive fear of making a catastrophic mistake, such as leaving the door open all day or burning down the house by leaving the stove on. Ironically, checking over and over again reinforces the idea that you are not perfect or possibly even “losing your mind.” This can make you feel even worse and less self-confident which, of course, sets you up to do more checking.

Jika kamu juga mengalami situasi yang sama, dan sudah di tingkat mengganggu, satu-satunya cara terbaik adalah dengan memeriksakannya secara proper. Pencarian artikel sebanyak apa pun, baru sebatas memberi pengetahuan baru, atau bias informasi.

Apalagi sejauh ini, penyebab utamanya belum bisa dijelaskan. Pendapat yang disarikan dari riset-riset baru mengklasifikasi faktor pemengaruh OCD. Yakni:

  • faktor genetik,
  • faktor autoimun,
  • faktor hormonal,
  • faktor neurologis atau saraf,
  • faktor kognitif
  • faktor lingkungan dan perilaku

Kalau sudah begini, kembali teringat ungkapan “tak ada yang sempurna“, sebab seberat-beratnya upaya yang dilakukan demi mencapai kesempurnaan tersebut, tetap saja merupakan hal yang rentan. Dicolek sedikit, bubar jalan, mesti diulangi kembali. Padahal, kehidupan ini tidak selalu ringan, lancar, dan mudah untuk dijalani. Jangan menambahkan siksaan.

Semoga kamu tidak mengalaminya, ya.

… dan mudah-mudahan, bisa dipatahkan semudah penjelasan di video ini.

“Debunking the myths of OCD”

[]

Pilihan Pertama

Perbincangan ini terjadi kurang lebih hampir satu dekade yang lalu. Saat itu teman saya baru menyelesaikan studi tingkat pasca sarjana di luar negeri. Lalu dia kembali untuk mencari kerja. Di sela-sela rangkaian beberapa wawancara kerja, kami menyempatkan bertemu untuk makan siang. Sambil setengah berkeluh kesah, dia berkata sambil bercanda, “Gile, saingan gue mbak-mbak yang dateng interview pake belahan dada rendah! Gue sampe bilang ke bapak gue pas pulang ke rumah, “Tau gitu instead of bantu biaya hidup pas kuliah kemarin, uangnya buat boob jobs aja!””

Kami tertawa sampai tersedak. Mind you, teman ini saya cerdasnya luar biasa. Kuliah pasca sarjananya pun relatif gratis, karena dia mendapat beasiswa. Toh dia mendapat tamparan halus saat realita hidup berbicara: bahwa yang namanya penampilan fisik acap kali mendapat perhatian lebih.

Tulisan Dragono soal kejamnya dunia terhadap orang jelek masih menjadi salah satu tulisan yang paling sering dibaca di Linimasa ini. (Padahal yang baca Linimasa konon terus menurun. Hihihi.) Tentu saja tulisan ini selalu relevan, karena begitu mudahnya kita terbuai rasa insecurity kita soal hal tampilan fisik ini. We are never good looking enough. We are never pretty enough. We are never ugly enough. We are never enough.

Banyak yang mengatakan bahwa ketika seseorang mempunyai wajah yang rupawan, maka paling tidak sepertiga atau separuh persoalan hidupnya teratasi. Mungkin saja. Tapi yang kita tidak pernah tahu adalah dua pertiga atau separuh lain dari persoalan hidupnya yang lain bisa jadi sangat besar buat dia, sehingga dia tidak bisa melihat sisi lain dari kehidupan yang dia jalani. Bisa saja ‘kan?

Tak bisa dipungkiri, wajah rupawan adalah sebuah privilege, terutama yang memang sudah diberkahi dengan kualitas ini dari lahir. Sementara yang lain berusaha mati-matian meraih ini. Kalau nggak, produk perawatan muka dan kosmetik tidak akan laku, dong?

1_1r41lfYuNwShN4fjqAeb5w

 

Meskipun begitu, ada satu hal selain tampilan yang menawan ini yang membuat kita terus diingat. Apalagi kalau bukan reputasi.

Reputasi ini bisa juga dibilang sebagai kemampuan kita yang membuat kita jadi pilihan utama saat dicari orang.

Misalnya begini. Waktu dulu di bangku SMA, saat ulangan atau tes bahasa Inggris, sontak teman-teman berebut duduk di bangku sebelah saya. Kenapa? Supaya bisa mencontek. Sementara saat ulangan atau tes pelajaran Biologi, giliran saya yang berebut supaya bisa duduk di sebelah teman saya yang memang jago pelajaran ini. Hehehe …

Ternyata kebiasaan ini pun terus bergulir sampai kita beranjak dewasa. Kalau tiba-tiba kita ditanya, “Eh punya rekomendasi atau kenalan teman yang jago desain gak?”, maka mau tidak mau pikiran dan pilihan kita akan melayang ke beberapa orang yang pernah kerja bersama kita. Kita puas akan hasil yang mereka kerjakan. Maka kita pun tak segan-segan merekomendasikan mereka ke orang-orang lain yang membutuhkan.

Demikian juga kalau saya perlu tanya, “Punya rekomendasi tukang kayu buat bikin dipan, nggak?” ke teman-teman saya, maka mereka pasti akan merekomendasikan tukang kayu yang pernah mereka pakai jasanya, dan hasilnya memuaskan.

Dan tentu saja, tidak ada satu pun dari rekomendasi-rekomendasi tersebut yang dimulai dengan pertanyaan, “Eh tampang orangnya gimana?” Kalau tampilan fisik menarik, itu hanya kebetulan semata. Namanya juga kebetulan, berarti tidak pernah jadi faktor utama dalam hal merekomendasikan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan. Malah faktor fisik ini bisa jadi bumerang, kalau hasilnya tidak bagus, maka akan tercuat pernyataan, “Cakep-cakep tapi gak bisa kerja.”

Tentu saja butuh waktu lama untuk menjadi top of the mind dalam hal yang kita kerjakan sekarang. Kuncinya ada di konsistensi. Selama kita konsisten melakukan pekerjaan kita, dan mengasah kemampuan diri, sambil terus mengembangkan jaringan, pelan-pelan rekomendasi akan mampir ke kita juga. It takes time, but we may as well take the bloody time.

Kenapa?

Beauty fades, but knowledge and skill do not.

 

 

5 Kemampuan Dasar Ketahanan Pangan Tanpa Listrik

Gelap. Sumber: Google

  1. Masak nasi tanpa Rice Cooker.
  2. Memilih jenis bahan makanan yang mudah rusak tanpa freezer.
  3. Memilih jenis masakan yang menggunakan sedikit air.
  4. Makan dalam gelap (khusus makan malam).
  5. Tetap bersabar dan hindari mengumpat setelah makan dalam gelap.