Inovasi untuk Mencegah Pencopetan, atau Menemukan Dompet yang Dicopet

SEBAGAI seseorang yang kerap bicara (dan menulis) tentang detachment atau ketidakmelekatan pada banyak hal, perasaan tidak menyenangkan yang muncul setelah mengalami kecopetan untuk pertama kalinya ternyata memang sukar diabaikan begitu saja. Dimulai ketika menghadapi keterkejutannya, mengurus kerugiannya, dan menghadapi kerepotan-kerepotan yang mesti dijalani sesudahnya.

● Menghubungi satu demi satu call center bank untuk memblokir kartu ATM dan kartu kredit. Bisa dibayangkan, jika satu sesi telepon pelaporan ke call center bank untuk proses blokir membutuhkan 10 sampai 15 menit lengkap dengan prosedur pencocokan data dan sebagainya, maka dibutuhkan 40 sampai 60 menit apabila memiliki empat kartu berbeda. Seperti berjudi dan berpacu dengan waktu, tetap ada peluang bagi si pencopet menyalahgunakan kartu yang dicurinya.

Langkah pencegahan: Cara terbaik untuk menghindari pencopetan adalah jangan bawa dompet. Apanya yang mau dicopet, kalau dompet pun tidak bisa ditemukan? Cuma, kan mustahil tidak membawa dompet, ya. Sebab sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), selalu ada kesempatan tak terduga saat kita diminta menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), dan berbagai kartu identitas lain. Bedanya, kartu-kartu tersebut tidak bisa diuangkan, tak berguna bagi para pencopet.

Sayangnya, pencopet mengambil dompet beserta seluruh isinya. Kartu-kartu identitas tadi akan dibuang, sementara kartu-kartu pengganti uang tunai lainnya yang akan mereka coba manfaatkan (dalam kasus saya, mereka berhasil melakukan sepuluh kali transaksi pembelian rokok, tanpa filter pengecekan kesamaan tanda tangan oleh kasir). Jadi, alangkah baiknya bila tidak perlu membawa semua jenis kartu perbankan. Cukup satu ATM, dan satu kartu kredit kalau diperlukan. Selebihnya, tinggalkan saja di rumah.

Namun, percayalah, mengurus pencetakan ulang kartu-kartu identitas di negara ini jauh lebih meletihkan dan merendahkan semangat hidup dibanding urusan perbankan.

● Melakukan klaim kehilangan, dan mengganti kartu-kartu identitas yang diperlukan di semua kantor terkait. KTP yang hilang, urusannya mulai dari pengurus apartemen, ketua RT, sampai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) tingkat provinsi. SIM yang hilang, urusannya tentu ke kantor Satuan Pelayanan Administrasi (Satpas) setempat dengan liku-likunya. Beruntung kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bisa dicetak di mana saja, dan kartu penanda keanggotaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan sudah berbasis digital dengan kode QR.

Langkah mempermudah: Tak semua orang mampu menghafal Nomor Induk Kependudukan (NIK) di KTP, apalagi ditambah nomor SIM. Pindai atau foto semua kartu-kartu administrasi, agar saat terjadi kehilangan tetap dapat melampirkan salinannya. Pengurusan pun dimungkinkan lebih lancar (dalam kasus saya, SIM tak berhasil dicetak di Jakarta, sehingga menjadwalkan diri pulang ke Samarinda pertengahan September mendatang. Daripada membayar dan berpeluang gagal dalam ujian-ujian pengurusan SIM baru, atau pun membayar Rp1,3 juta untuk dua SIM yang ditawarkan oleh calo di sekitar kantor).

Tidak berkendaraan pribadi di Jakarta, idealnya SIM A dan SIM C bisa ditinggal saja di rumah. Namanya juga kebiasaan, semua kartu dibawa. Untungnya, selama berkeliling mengurus surat-surat tersebut dengan meminjam kendaraan teman (terima kasih!), tak ada pemeriksaan lalu lintas.

Dalam mengurus pencetakan ulang kartu-kartu tersebut, semuanya pasti dimulai dengan pengetahuan yang minim tentang apa yang harus diajukan, ke mana harus pergi, dan seterusnya. Pastikan bertanya dan mendapatkan informasi sejelas-jelasnya sebelum meninggalkan sebuah kantor, yang petugasnya berkata: “Oh, kalau mengurus ini bukan di sini, tetapi di sana…” supaya tidak buang-buang waktu di jalan (dalam kasus saya, tempat-tempat yang didatangi adalah kantor kelurahan, kantor Suku Dinas Dukcapil kota, diarahkan ke Disdukcapil provinsi. Data KTP elektronik sudah ada dan sama persis, tetapi harus melengkapi syarat di kantor kecamatan, lanjut ke pengurus apartemen, mencari ketua RT yang tinggal di kawasan berbeda termasuk memberikan “sumbangan” Agustusan, dan begitu seterusnya).

Apa fungsinya kartu ini?

Saya #penasaran, mengapa mereka cenderung suka memberikan informasi yang sepotong-sepotong? Apa karena “Ya, situ tidak tanya, sih…” begitu?

Hanya dua hal di atas, cukup membuat saya lumayan dysfunctional atau tak berfungsi sebagaimana mestinya dalam sepekan terakhir kecuali terkait urusan kantor, termasuk bolos menulis pekan lalu kendati tulisannya sudah hampir jadi (kecopetannya pun terjadi saat ingin pulang dari kafe tempat mengetik 😅). Berbagai aktivitas dijalani dengan penuh godaan untuk mengeluh, meratap, dan suasana hati yang tidak menyenangkan … sesuatu yang semestinya bisa saya lalui dengan lebih ringan, lantaran sekeras dan sesering apa pun keluhan dilontarkan, tak mengubah fakta bahwa saya harus menyelesaikannya. Berat? Bring it on! Sampai selesai, pokoknya.

Dari pengalaman tidak menyenangkan tersebut, ada beberapa hal yang saya sadari. Pertama, saya menjadi seseorang yang jauh lebih selfish dan relatif buta-tuli dengan kondisi di sekitar. Fokus hanya pada ketidaknyamanan dan kemalangan pribadi; agak tidak peduli dengan bencana gempa bumi yang terjadi, lumayan bodoamat dengan riuh soal calon presiden dan siapa calon wakil presiden masing-masing, serta terlampau sering melontarkan keluhan kepada siapa saja yang diinginkan. Entah apa dampaknya terhadap kenyamanan diri, tetapi ya tetap saja dilakukan. Mungkin sampai lawan bicara berganti perasaan, dari kasihan, jadi bosan.

Terlepas dari itu, saya terpikir beberapa hal yang tampaknya menarik dan cukup oke mengantisipasi tindak pencopetan, serta mengurangi kerepotan yang dapat terjadi setelahnya.

Pemantauan Belakang
Bisa berupa kamera pantau, bisa juga berupa sinyal pendeteksi gerakan yang memenuhi kondisi tertentu. Kurang lebih seperti memiliki mata di belakang kepala, bisa berupa topi, liontin yang menghadap ke belakang, atau komponen tertentu di tas ransel. Agar si pemilik dompet bisa mendapatkan peringatan, dan punya kesempatan mengecek atau memindahkan dompetnya ke posisi yang lebih aman. Akan lebih keren lagi bila ditambahkan fitur memotret wajah pelaku, dan langsung mengirimkannya ke pihak berwenang terdekat sebagai langkah pengamanan.

Tas atau Dompet Beralarm
Bagaimana pun mekanismenya, dompet dan tas akan mengeluarkan bunyi nyaring saat dipegang atau dibuka paksa oleh orang asing. Tujuannya, kan, pengamanan. Bunyi yang nyaring, seberapa pun mengganggunya, berfungsi dengan baik mencegah terjadinya tindak pencopetan. Bahkan membuat orang lain di sekeliling turut waspada. Tak lebih repot daripada tak atau dompet berkunci gembok, yang lebih merepotkan saat digunakan.

Tas atau Dompet Berpelacak
Kayaknya sudah ada yang menjual produk ini. Memanfaatkan koneksi Bluetooth, pemilik bisa mengecek di mana posisi dompet mereka. Tantangannya tentu saja ketersediaan daya pada dompet, agar sanggup memancarkan sinyal Bluetooth selama digunakan. Jadi, walaupun isi dompet sudah dikuras pencopet, setidaknya bisa berharap supaya KTP dan SIM tetap ditinggalkan di slotnya.

Bisa juga memadukan pelacak dengan alarm. Pada saat dompet terpisah dari pemiliknya sampai jarak tertentu, alarm berbunyi. Layar ponsel juga menunjukkan notifikasi serta lokasi terkini dompet tersebut. Pencopet bisa dikejar.

Tombol Panik
Aktivitas perbankan yang kian digital saat ini, memungkinkan adanya keterkoneksian secara langsung. Akun-akun bank dan kepemilikan kartu kredit terpantau serta bisa dipantau melalui ponsel. Dengan verifikasi sedemikian rupa, pemilik bisa langsung menekan tombol darurat memblokir status aktif kartu. Selepas itu, barulah tim bank menghubungi dan mengkonfirmasi tindakan pemblokiran itu. Toh, dalam kondisi diblokir sekalipun, pemilik kartu tetap mendapatkan pernyataan tagihan, kan? Pemilik pun bisa meminta pembukaan blokir setelahnya, baik dengan nomor kartu yang sama atau berbeda. Intinya, langkah sigap mencegah terjadinya kerugian lebih lanjut.

Dari sisi teknologi KTP elektronik—yang katanya sudah dipasangi cip tertentu itu—sudah mentok. Tak mungkin dilengkapi pelacak lokasi. Begitu hilang, tentu harus menyediakan tenaga, waktu, dan biaya untuk mengurusnya kembali. Terlebih lagi SIM, yang memang hanya berupa kartu penanda identitas pengendara.

Sementara itu, belum semua mesin Electronic Data Capture (EDC) di kasir-kasir toko dikhususkan hanya untuk menerima Personal Identification Number (PIN) atau kode One-Time Password (OTP) saat digunakan berbelanja. Ketika tanda tangan tidak dicocokkan kasir, selesailah sudah. Notifikasi pembelanjaan yang biasanya dikirim lewat SMS pun baru masuk setengah jam setelah kejadian. Bisa dipastikan, kartunya pasti sudah dibuang. Menyisakan pemilik sah kartu harus berurusan dengan bank, pun dengan peluang tetap diwajibkan membayar tagihan yang timbul.

Padahal transaksi-transaksinya terjadi sekitar pukul 20.45 Wib.

Ya, apa pun itu, semoga saya, dan kita semua tidak mengalami hal seperti ini (lagi). Lebih penting lagi, semoga makin banyak orang yang menyadari bahwa mencopet atau menjadi pencopet bukanlah hal yang patut dilakukan. Dampaknya pun tidak menyenangkan.

Cepat atau lambat, ya … bakal mati juga, sih.

[]

Advertisements

3 thoughts on “Inovasi untuk Mencegah Pencopetan, atau Menemukan Dompet yang Dicopet

  1. Pingback: Sebuah Tujuan? | linimasa

  2. “Saya #penasaran, mengapa mereka cenderung suka memberikan informasi yang sepotong-sepotong? Apa karena “Ya, situ tidak tanya, sih…” begitu?”

    IMHO ini karena pola pikir mereka bukan pola pikir pelayanan, melainkan pola pikir “ya kamu yang membutuhkan saya”. Jadi, mereka tak mau repot untuk menjelaskan sejelas-jelasnya.

Leave a Reply