Dan Dunia Pun Semakin Kejam Kepada Orang-orang Jelek

YANG jelek wajahnya, terutama. Sebab itu yang bisa dilihat sejak pertama kali berjumpa. Bertemu langsung, atau melalui dunia maya. Bukan jelek pemikirannya, jelek hati dan kehendaknya, apalagi jelek keimanannya.

Bukan salahnya manusia pula memiliki mata yang berfungsi untuk melihat benda-benda kasatmata, mengetahui dan mengenali apa yang dilihat, lalu memiliki perasaan atau kesan terhadap sesuatu yang dilihat tersebut. Indah/jelek, menarik/biasa saja, suka/benci, gandrung/tak acuh, senang/jijik, dan lain-lain.

Berbekal perasaan dan kesan tadi, si manusia akan bertindak sesuai konteks maupun keinginannya. Mereka akan cenderung mendekati dan menyukai segala yang indah-indah dan menarik perhatian. Sebaliknya, mereka akan cenderung menjauhkan diri, bahkan membenci yang buruk dan jelek. Kecenderungan ini kita lakukan sejak masih bayi, dan biasanya bakal menguat seiring bertambahnya usia. Membentuk preferensi dan selera.

Cakep itu relatif, jelek itu mutlak.

Mekanisme di atas terjadi begitu saja, dan secara alamiah membuat kita takluk pada rupa. Tanpa kita sadari, sayangnya kita memberikan penilaian serta perlakuan berbeda berdasarkan pandangan mata, dan inilah yang membuat dunia seakan tidak adil bagi sebagian orang. Mendorong mereka untuk lebih mengejar hal-hal yang fana.

Dengan gampangnya, kita bisa memperolok-olok orang (yang dianggap berwajah) jelek sebagai polusi pemandangan. Seolah-olah tampilan wajah mereka memberi efek mengganggu ketertiban lingkungan setempat. Dalam posisi ini, si pengejek tentu merasa dirinya lebih cantik atau tampan ketimbang sasarannya.

Tak usahlah saya tampilkan cuplikan video komentar juri dalam ajang menyanyi yang viral belakangan ini.

Mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti itu, ada yang tak acuh dan bahkan yang tidak sadar tentang hal tersebut. Selebihnya, ada pula yang terdampak cukup keras. Mereka mengiyakan olok-olok tersebut, menganggap diri mereka memang jelek, kemudian mengusahakan berbagai cara untuk “menghilangkan” faktor-faktor yang membuat mereka jelek.

Kulit gelap? Maka jangan heran mengapa produk pemutih kulit dari berbagai rentang harga, termasuk layanan suntik putih selalu banyak peminatnya. Wajah berminyak dan berjerawat? Maka jangan heran mengapa produk perawatan wajah juga laris manis. Beraneka produk kosmetik dan riasan untuk perubahan total dan berlebihan. Sampai operasi plastik di luar negeri berbiaya fantastis.

Tak sedikit kasus ketika perubahan wajah juga menimbulkan perubahan perlakuan. Kala jelek dihina-hina dan disepelekan, setelah berubah (menjadi tidak jelek lagi), orang yang dahulunya mengejek malah berusaha mendekat.

Duh, sudah cakep, baik, wangi, pinter pula…

Bagi yang belum berpasangan, berharapnya bisa mendapat pacar yang rupawan. Karena itu, selalu ada anggapan bahwa yang cakep-cakep pasti sudah ada yang “punya”, kalaupun sendirian berarti baru habis putusan, atau malah bikin berpikir yang bukan-bukan. Buka Instagram, Tinder, dan beraneka media sosial lainnya pun, pasti tertarik dengan wajahnya terlebih dahulu. Setelah sekali dua kali jalan bareng, atau berkencan, baru mulai ketahuan kekurangannya, untuk dipertimbangkan berlanjut atau udahan.

Bagi yang sudah punya pasangan, dan merasakan sedikit ketidakpuasan atau rasa bosan, pasti bisa membandingkan sang pasangan dengan orang lain. Kebanyakan, para suami yang mengkritisi penampilan istri. Harus cantiklah, harus berdandanlah, harus seksilah, harus wangilah, harus langsinglah, dan seterusnya. Namun, sebaliknya, para suami-suami tersebut pun bukannya memiliki profil fisik yang menawan. Para pemuda tetap akan menjadi om-om, dan kakek-kakek pada waktunya. Masalah ini kadang makin pelik dengan keterlibatan orang tua dan orang-orang di sekelilingnya. Para orang tua berharap memiliki menantu yang rupawan. Demi kepantasan. Dalihnya.

Kenapa mesti diakhiri “… hati suami udah tertaut pada anda“? Lah, kalau suaminya jelek juga, bagaimana? Dicuplik dari twit: https://twitter.com/inganggita/status/1020314541580681217

Mundur, Mas. Kamu jele…”

Ada yang tidak tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang biasa-biasa saja setelah tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang tidak tahu bahwa mereka jelek.
Ada yang tahu bahwa mereka jelek.
Ada yang bisa menerima bahwa mereka jelek.
Ada yang tidak bisa menerima bahwa mereka jelek.

Ada yang lemah terhadap orang cakep.
Ada yang biasa saja terhadap orang cakep.
Ada yang risi terhadap orang jelek.
Ada yang biasa saja terhadap orang jelek.

Walau bagaimanapun juga, perkara perbedaan perlakuan lantaran wajah cakep versus wajah jelek ini pasti tak akan berakhir dan hilang begitu saja sampai akhir zaman. Di tingkatan yang paling dasar sekalipun, selalu ada pengecualian untuk orang-orang cakep. Tak adil memang, hanya saja, lagi-lagi manusia sudah terkondisi secara alamiah untuk begitu: menggandrungi yang indah, dan menjauhi yang buruk.

Untung cakep…”

Para orang tua, guru dan lembaga pendidikan, maupun lingkungan keagamaan memang mengajarkan don’t judge the book by its cover kepada anak-anak mereka. Harapannya, agar anak-anak tersebut bisa berlaku baik kepada siapa saja, tanpa membeda-bedakan penampilan. Namun, pengajaran ini baru bersifat normatif, sesuatu yang dilakukan demi kepantasan sosial. Selanjutnya, anak-anak tersebut pun tetap akan tumbuh memiliki preferensi dan selera fisik masing-masing. Mulai menaksir seseorang lantaran wajah dan penampilannya, tingkat kekerenannya, dan lain-lain.

Jangan lupa, media dan suguhan-suguhan audiovisual pun mengumandangkan nuansa yang sama. Menonton televisi, ada acara yang menjadikan wajah orang lain sebagai objek kelakarnya, lalu memunculkan anggapan massa bahwa wajah si orang lain tersebut bisa disebut jelek. Dahulu ada Zainal Abidin Zetta, yang kemudian malah lebih terkenal sebagai Diding Boneng. Padahal boneng itu sendiri merujuk pada keadaan yang bisa dijadikan bahan olok-olok. Berlanjut ke sederetan nama-nama tokoh lainnya yang justru diidentikkan sebagai hinaan bersifat fisik. Tampilan muka, lebih tepatnya.

… dan dunia pun bersikap semakin kejam terhadap orang-orang yang dianggap kurang rupawan.

Tuh, baca caption-nya. Foto: Tribunnews

Dari sini, kita semestinya memahami bahwa setiap orang memiliki tingkat kedewasaan dan kebijaksanaan yang berbeda-beda, termasuk diri kita sendiri. Mustahil untuk dijadikan sama rata. Ada yang benar-benar mengerti bahwa wajah dan tampilan fisik hanya sebatas kulit. Namun, meski setipis-tipisnya kulit, tetap saja bisa membuat orang tergila-gila. Menyukai maupun membenci.

Kalau begitu, janganlah terburu-buru mencibir apalagi mengutuk kedangkalan pemikiran dan sikap orang lain. Lebih baik memerhatikan diri sendiri terlebih dahulu, dan memastikan agar kedewasaan sikap yang sudah kita punya tidak tergerus, dan malah terikut arus, merasakan keseruan dengan mengolok-olok wajah orang. Bila bertemu dengan orang lain, entah seperti apa pun tatanan wajahnya, ya sudah, biarkan saja dan tetap berharap yang terbaik untuk dia. Tetaplah bersikap layaknya manusia yang berbudi dan beradab. Andai tak tahan ingin tertawa, cobalah untuk mohon diri. Kamu barangkali memang tidak sekuat itu.

 

 

 

 

 

Tertanda,

Orang jelek.

[]

Advertisements

11 thoughts on “Dan Dunia Pun Semakin Kejam Kepada Orang-orang Jelek

  1. Aku kadang merasa cakep, kadang merasa jelek. Tapi manis sih. Tapi blm punya pacar. Gimana ya mas gon? Haha

    • Eh, memangnya wajah cuma signifikan soal dapat/belum dapat pacar? Banyak hal lainnya juga, kok. 😅

      Yuk, lah. Mudah-mudahan segera dapat yg terbaik. Apa pun kondisinya, terbaik ya terbaik.

  2. “Aduhhh sayang ya mati muda. Padahal cakep lho.”
    Itu yg sering saya dgr dari lingkungan saya. Apakah artinya kalau jelek mati muda ga apa2??

    • Hahaha! Ya, begitulah. Predikat “cakep” selalu identik dengan menarik untuk dilihat, menyenangkan untuk ditatap. Jadi, ketika seseorang berpulang, semua aspek positifnya dikemukakan sebagai tambahan.

      Jadi, “Padahal cakep, lho…” bisa juga berarti “Ya, sayang… Sudah enggak bisa lihat wajah cakepnya lagi…”

      Entahlah. 😅

  3. yap. yang ganteng/cantik fisik, akan jelek saat mereka kepedean dengan ganteng/cantiknya mereka. Screenshoot IG di atas yg bahas taaruf, bikin aku geram sekali. Bawa-bawa agama untuk njelekin/merendahkan seseorang. Semulia itu kan, mereka? Cih. Apalagi di sana, ada tulisan bahwa laki-lakilah yg berkuasa untuk memutuskan lanjut atau tidak dengan perempuan (apalagi dasar memilihnya soal fisik). Padahal, hubungan yg sehat terjalin atas dasar si cewek mau dan si cowok mau, bagaimanapun fisiknya. Cih!

    • Banyak hal “lucu” di kehidupan kita sehari-hari, dan terkadang beberapa di antaranya kita alami sendiri. Termasuk soal penampilan fisik ini. Kembali lagi, kedewasaan berpikir dan bersikap, tentu saja berbeda-beda kadarnya pada setiap orang. Hehe.

      Terima kasih sudah meninggalkan jejak, ya, Mbak.

Leave a Reply