Jaringan Kecil Saat Ngeblog

Pendiri wordpress, Matt Wullenweg, menautkan tulisan Tom Critchlow yang berjudul “small b blogging” pada awal bulan ini.  Apa yang menarik dari tulisan ringan Tom, seorang konsultan pemasaran digital dalam blognya tersebut, sehingga seorang pendiri aplikasi blogging yang menjelma platform yang mendominasi media digital dunia ini menyadur secara khusus tulisan Tom?

Tom menawarkan gagasan baru. Alih-alih ngeblog untuk mendapat pembaca yang banyak dan tersebar, Ia menawarkan ide dan telah dibuktikan sendiri bahwa ngeblog saat ini diawali dengan niat dibaca oleh audiens kecil dan fokus kepada memperkuat ide untuk dapat didiskusikan lebih dalam.

Blog sebaiknya dikembalikan menjadi sebuah percikan atau pancingan bagi sekelompok peminat untuk kemudian berlanjut menjadi pertemuan kecil sembari ngopi. Atau berbalas email untuk ditindaklanjuti dalam media lain misalnya menjadi podcast atau vlog.

Blog  menjadi lebih personal, atau setidaknya menjadi sebuah gagasan sebuah lingkaran pertemanan. Bisa jadi dari lingkaran diskusi tersebut menjelma ulasan mendalam dan dimuat di media masa yang lebih utama oleh salah satu pembaca.

Blog adalah think tank. Blog menjadi inti sebuah pergumulan ide dan gagasan yang membawa daya tarik untuk selanjutnya menjelma apa saja.

Tawaran blogging dengan b kecil dan  bukan Blogging dengan B besar.  Blog tidak harus ditujukan sebagai media massa atau sebagai alternatifnya. Gagasan menulis blog tidak ditujukan lagi untuk mencapai pageview yang berlimpah ruah. Atau menjalar ke semua kalangan. Blogger lama menyebutnya begitu niche.

Tom mencontohkan bahwa tulisannya dalam sebuah artikel yang ditulisnya “hanya” dibaca oleh 2000 orang. Tidak banyak bagi sebuah blog. Namun, efek dari tulisannya berlanjut menjadi sebuah diskusi hangat, dikupas dalam siaran tertentu dan menjadi sumber inspirasi dalam beberapa kesempatan acara bisnis. Dampaknya lebih kelihatan dan material.

Blog icons design

Secara pribadi, saya pun begitu tertarik dengan ide ini. Ide blog dengan b kecil. Ngeblog yang tidak tancap gas agar menjadi trending topic hari itu. Namun menarik minat dan bahkan mengikat komunitas tertentu untuk mengajak diskusi lebih lanjut.

Misalnya ketika Gandrasta menulis tentang My Family Tree yang kemudian entah bagaimana kisahnya dirinya diundang oleh sebuah salah satu sekolah untuk menyampaikan pengalamannya parenting. Atau ketika Glenn Marsalim menulis soal Sok Tau, sebuah tulisan berseri yang membahas analisis Glenn menerka tren yang akan hadir di tahun depan. Semacam prakiraan. Ndak tanggung-tanggung, yang mengundang adalah himpunan mahasiswa ITB entah dari fakultas apa yang mengajaknya memberikan kuliah umum dan diskusi dengan pendekatan yang sungguh akademik dan filosofis.

Kira-kira semacam itulah. Blog menjadi embrio dari banyak kesempatan bentuk lanjutan. Bisa diskusi kecil. Bisa menginspirasi sebuah filem pendek. Atau sebuah lagu. Blog tidak berakhir menjadi sebuah tulisan magna-opus yang dibaca jutaan kali dan menyebar diberbagai medsos, namun seminggu kemudian terhapus dalam memori warganet, ditimpa oleh tulisan lainnya yang lebih kekinian.

Blog lebih baik menjadi pijakan kecil atau pondasi yang tak kasat mata, namun nantinya menjadi sebuah bangunan utuh yang kaya akan pendapat dan merangsang bangunan tersebut untuk terus tumbuh dan berfungsi secara nyata.

Era tulisan dalam satu artikel menjadi bombastis, dibaca banyak orang, bersinar dan selesai adalah era yang akan mudah lapuk. Blog atau tulisan dalam media alternatif tidak perlu terus menerus bicara skala. Judul tulisan yang merangsang orang untuk mengklik memang menggiurkan dan menghasilkan optimalisasi tayangan iklan sebagai salah satu sumber penghasilan media digital. Mungkin ini masih berlaku bagi media yang memang ditujukan bukan menjadi apa-apa kecuali menghasilkan pemasukan uang dari iklan.

Namun, jika ingin lebih langgeng dan memberikan nilai tambah bukan saja pada citra blog, juga menjadikan penulis blog semakin mumpuni pada bidang tertentu dan gilirannya akan berimbas pada banyak hal yang tak berbatas. Diskusi yang membentuk jaringan pertemanan (dan atau bisnis). Lalu dibentuk pondasi perkumpulan. Atau ajakan diskusi. Atau menjadi sekumpulan buku yang inspiratif.

Tulisan yang lebih substansial dan relevan, akan menarik minat pembaca yang berkualitas. Akan tiba gilirannya tulisan tersebut dibahas oleh orang-orang ternama atau yang kita sendiri kagumi. Blog kita menjadi blog yang secukupnya.

Blog yang saat merangkai kata pertama sudah terbayang siapa audiensnya. Bagaimana kira-kira wajah pembacanya. Apa yang akan dilakukan pembaca setelah membaca blognya. Atau apa yang akan dibelanjakan setelah ulasannya tentang produk tertentu begitu dalam dan sampai kepada intinya.

Tentu saja ini tidak berlaku hanya untuk sebuah blog. Strategi untuk memperkuat niat bahwa karya yang dihasilkan memang bukan untuk semua orang. Proyek bikin vlog, atau proyek mading sekolah, atau proyek mural, akan lebih tepat sasaran jika diawali dengan kesadaran ini. Bukan mengutamakan membludaknya kuantitas ukuran pembaca atau berbagi. Melainkan memperkuat kualitas topik dan ide yang ditawarkan untuk sekelompok peminat. Dihangatkan dengan diskusi. Dan akan bergema sendiri jika memang hal itu menarik perhatian publik dengan skala yang lebih besar. Bedanya, kali ini besar dengan dasar gagasan yang telah dipahami secara mendalam namun tetap terasa personal.

Dari gagasan ini, saya mengucap syukur. Linimasa masih berada dalam lintasan yang benar. Dia tidak tergesa-gesa untuk menjadi tenar.  Lebih baik untuk terus hadir dengan porsi yang wajar. Dan dapat terus memantik hasrat masing-masing pembaca untuk berbuat hal lain usai menuntaskan membaca satu postingan.

Jaringan kecil. Audiens terbatas. Gagasan sederhana. Namun hidup.

Selamat merayakan.

 

salam anget,

Roy Sayur.

 

Advertisements

9 thoughts on “Jaringan Kecil Saat Ngeblog

  1. sepakat mas. saya setia baca linimasa karena merasa connect dan personal. tidak berasa sebagai tulisan fabrikasi. asik dah.

Leave a Reply